"-kau tidak akan bisa mengalahkanku!"

"Kau benar-benar tak paham dengan situasiku. Aku iri denganmu yang terlahir sebagai anak laki-laki-"

"-tapi wanita akan menjadi lemah ketika mereka dewasa. Kau pasti akan bisa mengalahkanku kelak."

"-kalau begitu kita buktikan siapa yang akan menjadi pendekar pedang terkuat di dunia!"

...

[CHAPTER 3]

[Normal version]

Mata yang semula terpejam akhirnya terbuka. Gambaran akan sosok sebelumnya luntur seketika. Biru langit berhias gumpalan putih awan yang pertama menyapa penglihatan. Di sisi lain matahari menggantung, menyorot lembut sehingga ia memilih menutupi matanya yang hanya terbuka sebelah dengan bayangan dari tangannya.

"Sudah pagi huh?" Gumamnya. Hanya sekedar monolog pendek tanpa tujuan. Tak ada niatan untuk beranjak atau sejenisnya, atau hanya merubah posisi rebahan. Tiduran di atas dek berumput hijau dan menjadikan sebelah tangan sebagai bantal tampaknya sudah cukup membuatnya nyaman dan merasakan kantuk. Tak perlu kasur empuk atau bantal yang terkesan muluk, namun normal di mata orang yang memang 'normal'.

Dan memang sedari semalam, sosok Pengguna Tiga Pedang itu tertidur di dek kapal tanpa alas atau selimut.

Yah, banyak yang bilang orang bodoh tak akan terkena masuk angin kan? Jadi tampaknya wajar jika Marimo satu ini santui saja tidur di tempat terbuka seperti itu bahkan tanpa selembar selimut.

Angin berhembus tenang, membuat laju kapal dengan bendera tengkorak mengenakan topi jerami tetap pada jalur yang benar. Kapal milik kelompok Straw Hat Pirates itu melaju normal di tengah-tengah lautan Greenland sisi akhir- atau sebut saja Shin Sekai. Tanpa perlu pengawasan khusus sang Navigator cantik agar tidak tersasar seperti sosok yang rebahan itu. Toh hari baru menjelang pagi, cuaca sepertinya akan cerah, udara lebih hangat, suasana masih damai karena para biang keributan masih nyaman bergelung di kamar Pria. Berbeda dengan kamar Wanita yang sudah kosong tak berpenghuni- karena dua penghuninya telah beranjak dan memulai aktivitas pagi. Dan tampaknya Sang Koki Kapal juga telah berada di dapur- terbukti dengan harum masakan yang mulai dapat tercium hingga keluar dek.

Mendudukkan diri. Sosok lelaki berambut hijau dengan luka sayatan di mata kirinya itu menguap lebar. Melepas sisa-sisa kantuk yang ada. Semalam tanpa disadari ia ternyata ketiduran di luar seperti ini.

Mungkin efek kebanyakan mikir.

Angin sepoi-sepoi yang menerpanya seakan menambah kesan sunyi mengandung muram yang tak tersampai dengan jelas.

Bukan karena sake di kapal habis tandas, atau tiga katana andalan tak di tangan, apa lagi perihal hutang-pihutang pada Navigator sadis yang tak kunjung lunas. Melainkan karena hal 'kecil' namun berhasil dengan sukses menggali kembali ingatan yang sejak lama telah tenang di dasar angan.

Namun gara-gara kejadian kemarin ingatan itu kembali lagi, menggema, terbayang bagai video yang terus berputar di kepala. Gambaran sosok yang telah lama 'hilang' seakan 'bangkit' di depan matanya.

Ia berusaha keras menyangkal segala pemikiran 'ANEH' yang belakangan mengganggunya. Menepis segala pertanyaan yang bagai ingin dilontarkan. Akan tetapi rupa dari sosok yang terbayang dalam kepala membuat sesuatu di dalam dadanya terasa panas. Terpikir kembali, pertanyaan itu-

"Kenapa begitu mirip dengannya?"

Ya. Itu MASALAH UTAMANYA- Untuk dirinya.

Waktu mungkin sudah berlalu 10 tahun lebih, namun Roronoa Zoro yakin ia takkan mungkin salah mengenali rupa sahabat masa kecilnya. Perempuan berkacamata bawahan Smoker mungkin memang mirip. Tapi sosok yang ditolongnya kemarin itu jauh lebih mirip lagi.

Seakan-akan ia benar-benar melihat sahabat masa kecilnya hidup lagi. Dalam sosok anak-anaknya.

Kuina.

Roronoa Zoro bukanlah orang yang percaya akan adanya Dewa- malahan ia sudah pernah baku hantam langsung dengan sosok macam itu. Akan tetapi, ada sedikit rasa penasaran lebih kepada harapan kecil di dadanya.

Apakah reinkarnasi itu benar-benar ada?Kalau benar ada... Mungkinkah gadis itu memanglah sosok Kuina?

Dengan tubuh kecil sepantaran Kuina yang terakhir ia ingat. Rambut hitam legamnya yang- dia memiliki rambut yang jauh lebih panjang ketimbang Kuina- namun masih terasa mirip. Wajahnya yang memiliki base oriental seperti Kuina- hidung, sepasang mata dan alisnya, dengan warna kulit jauh lebih terang-

Kemudian bibirnya-

Sesuatu bagai meletup di dada sosok yang dijuluki "Pemburu Bajak Laut" itu,

"Bisa-bisanya aku memikirkan yang terjadi waktu itu-"

"Memikirkan apa eh?"

Terlonjak kecil. Zoro dikejutkan dengan suara seseorang yang begitu dekat dengannya. Ketika menoleh yang ia lihat adalah sosok tengkorak dengan gaya afro nyentrik yang sanggup membuat orang lari sekonyong-konyong ketika melihatnya-

DUAKK-

Tapi tentu saja tidak untuk Pendekar Pedang yang satu ini.

"ITTEE! Zoro-san, apa yang kau lakukan?!" Si Tengkorak dengan julukan Soul King, Brook menyemburkan protes ketika Zoro tiba-tiba memukulnya dengan punggung pedang.

"Kau itu yang apa-apaan! Jangan membuatku jantungan dengan mendekatkan wajahmu seperti tadi dasar tengkorak bodoh!"

"Huhuhu... Zoro-san hidoii!" Si tengkorak pura-pura menangis. "Padahal aku khawatir dengan Zoro-san yang sejak semalam tidur di luar! Apa Zoro-san tidak masuk angin?"

"Tidak. Jadi berhenti bersikap heboh begitu!" Jawab Roronoa Zoro ketus.

"Yohohohoho~ Lalu kenapa Zoro-san sedari tadi melamun?"

Zoro dibuat terdiam. Tampak tak menyadarinya,

"Aku melamun?"

Brook yang melihat Sang Pendekar Pedang hanya diam mencoba untuk membuka suara lagi. Akan tetapi suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian keduanya.

"Oi kalian berdua, tolong bangunkan Luffy dan yang lainnya. Sarapan sudah kusiapkan." Ujar Kuroashi no Sanji yang memakai upron pink dari dapur. Memegang spatula karena sedang menggoreng sesuatu. Brook mengangguk dan segera berjalan menuju kamar Pria untuk membangunkan teman-temannya yang tersisa.

Melihat Zoro yang masih duduk anteng di tempatnya, Sanji lantas bersuara, "Oi Marimo, kau juga panggilkan Chopper, Robin-Cwann dan Nami-Swann di Ruang Kesehatan."

Zoro mengernyit, "Hah? Kenapa harus aku?!"

Perempat siku muncul di dekat alis melingkar sosok berambut pirang, "Kau itu nganggur bukan?! Jadi cepat angkat bokongmu dari sana dan panggil mereka, dasar Aho-Marimo! Atau aku takkan sudi menyediakan makanan untukmu!"

Zoro mendecih. Ingin mengeluarkan protes yang akan berakhir menjadi adu bacot berlatar adegan baku hantam seperti biasanya. Namun entah kenapa mood nya tiba-tiba hilang. Pemuda dengan tiga anting ditelinga kiri itu lantas bangkit dan berjalan sembari bersedekap ke arah ruang medis,

"Baiklah."

Mungkin ia tak sadar bahwa rekannya mengernyit dari lantai dua. Berpikir bahwa dirinya salah dengar atau si Marimo salah tanggap?

Roronoa Zoro tampak kehilangan banyak mood nya ketika mendekat ke arah ruang medis. Sebenarnya bukan masalah malas atau dirinya masih ingin ngesantui di dek. Tapi ia sungguh kehilangan mood nya gara-gara gadis yang pingsan sejak kemarin itu dan saat ini tengah dirawat oleh ketiga orang yg disebut oleh Sanji di ruangan yg ia tuju.

Kaki terasa berat, pikirannya tak terarah benar. Memikirkan kejadian kemarin kala ia bertatap muka langsung dengan gadis itu untuk kedua kalinya.

Menggeleng pelan. Napas ditarik lebih keras, kemudian dihembuskan dengan lebih pelan. Pemuda dengan bekas luka sayatan di mata kirinya itu berkata pada dirinya,

"Sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya." Ujarnya. Memantapkan diri. Namun baru juga meredakan rasa gelisah yang sejak kemarin mengganggunya, pemuda ini dibuat terlonjak tiba-tiba.

"HIEEEEHH?!"

"?!" Zoro berjengit. Mendengar suara teriakan keras yang berasal dari ruang Kesehatan. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera berlari menaiki tangga dan mendekat ke arah pintu bercat putih sembari bersiap menarik salah satu pedang yang berada di pinggangnya.

BRAKK!

"Oi, ada apa?!" Tanya Zoro tepat setelah mendobrak pintu bercat putih itu. Namun kemudian ia mengernyit.

Ia pikir bakal melihat adanya bahaya atau penyusup, atau mungkin hal yang dapat membuat seseorang berteriak sekeras itu di pagi hari yang cerah ini. Namun yang ia lihat justru kebalikannya.

Ketiga sosok temannya, dua gadis dan seekor rusa kutub tampak tengah mengerubungi sebuah ranjang bersprai putih yang kondisinya sudah tak karuan. Seonggok (?) selimut tebal berwarna kecoklatan tampak menggulung di pojokan.

"He-hey tenanglah... Tidak apa-apa. Kami disini tidak akan menyakitimu." Rusa kutub mungil berhidung biru yang merupakan dokter di Kapal Mugiwara tampak mencoba menenangkannya.

"Gadis itu sudah bangun?" Batin Zoro, menyadari apa yang sedang terjadi dan memastikan suara teriakan itu berasal dari sosok yang meringkuk bersembunyi di balik selimut itu. Pemuda dengan luka di mata kirinya itu lantas menyingkir ketika rombongan teman-temannya yang sebelumnya di lantai bawah berbondong-bondong masuk ke ruang perawatan dengansuper heboh.

"Nami-swaaann! Apa kau tidak apa-apa?!" Tanya Sang Koki, Sanji yang pertama kali sampai dan berdiri paling depan. Mematri dua sosok gadis cantik yang menurutnya memerlukan bantuannya.

"Oi Chopper, doushita?!" Sang Kapten, Mugiwara no Luffy ikut bertanya. Kepalan tinju telah disiapkan. Dilihat dari rambutnya yang awut-awutan dan wajah kucel belum tersentuh air, juga mata yang masih setengah terbuka, sudah dapat dipastikan bahwa ia langsung bergegas kemari.

"Aku mendengar suara teriakan yang supeeerr keras. Apa yang terjadi minna?" Tanya Sang Cybrog Franky dengan gaya rambut kepang anehnya. Sosok lain yang berhidung panjang dan tengkorak setinggi dua setengah meter muncul dari balik tubuh besar Si Cybrog.

"Eh? Dimana musuhnya?" Tanya Usopp, setengah takut dan berhati-hati.

Nami, Robin, dan Chopper teralihkan perhatiannya ketika melihat bahwa kru lain telah masuk di ruang Kesehatab. Robin, sosok wanita berambut hitam cantik itu memberi penjelasan,

"Ah, gomen minna disini tidak ada musuh. Tadi-" Ia beralih pada gumpalan selimut dihadapannya, "-anak ini baru saja berteriak."

Mendengar hal itu, sontak keenam laki-laki yang baru saja mendobrak masuk turut mematri pada satu objek. Di atas ranjang putih, dimana selimut tebal menggulung. Dapat mereka lihat sedikit kepala hitam yang menyembul dari disana.

"Hee... Dia sudah bangun?" Tanya Luffy yang kemudian ikut mendekat bersama teman-temannya. Chopper mengangguk,

"Ya. Dia baru saja bangun dan tiba-tiba berteriak setelah melihat kami." Terang si rusa kutub kecil.

"Mungkin saja dia takut dengan Nami-san, yohohoho~"

DUAKK!

"JANGAN SEMBARANGAN KAU!" Amuk gadis berambut oranye setelah memberi bogem mentah pada tengkorak di dekatnya. Si tengkorak jatuh tersungkur di dekat ranjang yang kemudian ditertawakan oleh Luffy.

"...Na..Na...mi...?"

Suara itu terdengar lirih, kecil, namun dapat ditangkap oleh orang-orang yang berkerubung di sana dan seketika mereka hening. Roronoa Zoro tak dapat mendengarnya karena ia masih tetap berada di ambang pintu, namun ia dapat melihat pergerakan kecil dari gumpalan selimut coklat.

Sosok itu mulai menampakkan dirinya. Delapan orang kru Mugiwara yang berkerubut di dekat ranjang memperhatikan dengan saksama ketika sosok itu mulai menunjukkan wajahnya.

Rambut hitam tampak awut-awutan, membingkai kepala kecil yang menyembul keluar. Mata terlihat berdenyar, antara takut dan hal lainnya ketika memantulkan sosok-sosok yang berada di hadapannya. Menatap mereka satu persatu dengan wajah polos setengah pucat namun masih menampakkan semburat hangat. Ada keluguan dari tatapannya, juga rasa kagum, tak percaya yang berhasil ditangkap oleh para Nakama Luffy. Bibir yang membuka celah seakan ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan di tenggorokan.

Tapi tampaknya ada sesuatu yang 'salah'. Kala sosok itu mulai bergerak. Menampakkan dirinya sepenuhnya. Binar di mata tak juga hilang, justru bertambah hingga Luffy dan teman-temannya kebingungan untuk berkata.

"Kalian... Nyata..? ... hidup...?"

"...?"

Ada kebingungan yang tampak jelas di wajah manis si gadis kecil kala bertatapan langsung dengan Sang Baka-Senchou dan para Nakamanya. Namun Luffy dan teman-temannya dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu selanjutnya.

"Kenapa... Aku 'bisa' disini? Kenapa aku bisa bertemu kalian? Dan... Dan kalian masih hidup?"

"Eh apa maksudmu?"

Luffy agak berjengit ketika gadis kecil itu menyentuh pipinya dan menarik-nariknya hingga melar seperti karet- tentu saja karena dia manusia karet. Ia berhenti kemudian menatap telapak tangannya yang dingin gemetar sembari berkata,

"...nyata..."

Semuanya tentu dibuat makin bertanya-tanya.

"Oi, gaki. Apa yang kau pikirkan? Tentu saja kan kami nyata?" Franky bersuara, ditatap dengan masih tak percaya oleh si gadis kecil. Kemudian ia beralih pada Luffy yang masih mejeng di depannya dengan wajah penasarannya yang polos. Menunjuk sosok itu dengan gemetar,

"Lu...ffy..? Lalu..." Beralih pada yang lainnya, "Nami.. Robin... Chopper... Brook... Franky... Sanji... Usopp..." Mengeja nama setiap orang yang dilihatnya satu persatu.

"Ehm... Kau mengenal kami?" Mungkin agak salah Nami bertanya seperti ini, namun ada hal aneh yang dirasakan Navigator cantik itu. Tatkala si gadis kecil dengan aksen seperti oriental itu bergerak. Kala mata itu membola, menatap lurus melewatinya, di antara celah sosok Cybrog dan Sang Koki Kapal.

Dan Roronoa Zoro menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari bahwa dirinya lah yang kini menjadi pusat perhatian.

Dan gadis itu tampak makin terkejut.

"Zo...ro...?"

Tap!

"E-yy, kau mau kema-" Chopper berusaha menghentikannya ketika gadis itu turun dari ranjang. Namun Nami menahannya. Membiarkan gadis itu pergi tanpa mengalihkan pandang dari sosoknya yang kecil. Ada rasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan sosok itu. Kaki kecil yang masih tampak gontai berjalan, tergesa, mendekat pada sosok Samurai berpakaian hijau yang masih berdiri di ambang pintu dan sempat mundur selangkah.

Tap-

DEG!

Langkah terhenti. Roronoa Zoro amat terkejut tatkala gadis itu tiba-tiba berdiri di hadapannya dan menyentuh dadanya.

Ya. Menyentuh tempat di mana jantungnya berada.

"..berdetak..."

Sedikit lama, terpaku ketika merasakan debaran jantung Sang Kenshi yang mulai tidak santui. Kemudian sosok yang hanya setinggi dada itu mengangkat kepalanya.

"...syukurlah..."

Napas Zoro tertahan. Tampak sekali tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu. Ia kehilangan kalimat. Terpaku, kelu.

"Kau nyata... Hidup..."

Suara itu begitu lirih, terdengar mencekik dan gemetar. Ada kesan muram lebih kepada takut yang terselubung. Namun Zoro juga dapat merasakan adanya kelegaan yang terkesan menyakitkan. Kala wajah itu sepenuhnya menghadap padanya. Kala mata hitam itu tetap menatapnya. Mematri hanya sosoknya dan memantulkan dirinya yang masih terpaku dengan perlakuan tiba-tiba si gadis. Wajah itu... Kenapa wajah itu tampak begitu menderita di balik senyum penuh kelegaan pada wajah kecilnya itu?

Kenapa tangan yang menyentuh dadanya ini terasa dingin dan gemetar?

Dan kenapa pula...hanya dirinya yang diperlakukan seperti ini?

Kejadian itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat Kru Bajak Laut Mugiwara diam senyap bertanya-tanya. Menahan suara demi mendengar maupun melihat lebih jauh apa yang akan terjadi selanjutnya.

"O-oi, sebenarnya ada apa dengan gadis itu?" Tanya Usopp yang langsung disikut oleh Nami dengan keras,

"Diamlah! Kau ini benar-benar tak bisa membaca situasi! Kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya!"

Hanya perasaannya saja atau ada sedikit rasa antusias yang dapat penembak jitu itu rasakan dari nada bicara Si Navigator cantik itu?

Mungkin karena Zoro tak juga bereaksi, gadis itu akhirnya tersadar dengan apa yang ia lakukan. Wajah itu berubah gelagapan. Berkedip lucu setengah malu sembari menggigit bibir. Kemudian tangan itu akhirnya terlepas, bersamaan dengan sadarnya Sang Kenshi dari situasi diatas. Gadis itu berhenti berjinjit dan ekspresinya turut berubah sebelum akhirnya ia menundukkan kepala, menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangan dan poni rambut yang menjuntai panjang. Menjauhkan dirinya perlahan dari sosok Roronoa Zoro yang tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ditelannya ketika gadis itu tiba-tiba membuka suara kembali.

"..ma-maaf..." Ujarnya lirih. Zoro tak bersuara. Hanya memperhatikan sosok setinggi di bawah dadanya yang tengah meremas serat kemeja kebesaran. Sosok itu akhirnya kembali membuka suara.

"Bisa... Bisa tolong tinggalkan aku... Sebentar..?"

Keheingan terpecah. Semuanya mencoba mengutarakan pertanyaan karena permintaan tiba-tiba si gadis yang terkesan aneh itu.

"Eh? Kena-"

"Kumohon..." Pintanya lirih.

Seakan menyadari akan sesuatu, Kuroashi no Sanji yang semula juga dibuat terpaku akhirnya menghela napas. Ia menepuk bahu Nami yang ingin kembali melontarkan pertanyaan beribu kebingungan, "Saa minna, ayo kita keluar dulu. Sarapan sudah siap dan aku tak mau makanannya jadi dingin. Nanti biar kami bawakan makanan juga untukmu, bagaimana gadis kecil yang manis?"

Gadis itu mengangguk di sela menunduk. Tak berkata lagi dan masih berdiri di tempatnya menunggu semua keluar. Nami, Chopper, dan yang lainnya tampaknya memahami apa yang harus dilakukan. Mereka semua mencoba tersenyum maklum walau sebenarnya khawatir sebelum akhirnya Nami berkata,

"Baiklah, kau beristirahat dulu ya? Nanti biar aku bawakan sarapan untukmu. Masakan Sanji sangat enak lho!"

Sembari menyeret Sang Baka-Senchou yang menjadi satu-satunya orang tak peka tak paham situasi, semua Kru Mugiwara akhirnya meninggalkan gadis kecil itu di ruang perawatan sendirian, seperti yang dimintanya.

Begitu pula dengan Zoro. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan dan berputar-putar di kepalanya. Akan tetapi ketika melihat gadis setinggi dadanya itu masih menunggu dirinya keluar dari ruangan, semuanya ia simpan kembali.

Seseorang menepuk bahunya, Zoro menoleh dan menemukan sosok gadis yang lebih tinggi darinya berada di belakangnya.

"Zoro, ayo kita sarapan. Luffy takkan membagimu daging jika terlalu lama berada disini." Ajak Nico Robin. Zoro menatapnya, kemudian melirik kembali si gadis kecil di hadapannya.

"Baiklah..."

Membalikkan badan, Roronoa Zoro akhirnya memilih angkat kaki dan meninggalkan gadis itu seperti permintaanya. Mendengar ucapan 'terimakasih' lirih sembari berlalu. Menetralkan kembali debaran jantungnya yang sebelumnya terasa tak tenang.

Dan Nico Robin menjadi satu-satunya orang yang melihat sedikit kekecewaan pada wajah tegas sang Kenshi yang tengah menyentuh dadanya.

...

Diam.

Meringkukkan tubuh di atas ranjang bersprai putih dan memojokkan diri ke dindingnya. Memeluk selimut coklat tebal yang masih setia melingkupi tubuh kecil. Bantal kugunakan sebagai penopang punggung yang terasa pegal akibat duduk sedari tadi.

Ya. Sejak tadi pagi, dan entah sudah pukul berapa sekarang. Tapi yang kutahu hari sudah menjelang petang karena itu suasana juga menjadi lebih tenang.

Memegangi kepala yang terasa pening pusing, aku masih tetap tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

Semua yang kulihat hari ini. Lautan ini, Kapal, dan... Mereka semua...

Lalu sosok itu...?

Sungguhkah aku melihat mereka semua secara nyata? Yang dipanggil orang-orang sebagai Kru Bajak Laut Topi Jerami? Kapal sama yang mereka tumpangi? Dan lautan... Greenland?

Apa aku sungguh berada di dunia ONE PIECE?!Dunia yang bahkan TAK PERNAH ADA DAN HANYA TERCIPTA DARI KHAYALAN! Dunia yang HANYA ADA DALAM ANIME DAN KOMIK BERGAMBAR! Menaiki kapal dari sosok bajak laut dalam komik favoritku yang selama ini selalu kuikuti kisah perjalanannya. Selalu kukagumi setiap aksi-aksinya. Selalu kunanti setiap chapter dan episode nya.

Kupikir akh mengalami halusinasi akut. Sampai-sampai aku memutuskan untuk memejamkan mata dan terlelap hingga bangun beberapa kali hanya karena ingin 'terbangun' dari 'mimpi ini'. Namun hingga detik ini, setiap membuka mata kembali, yang ku lihat bukanlah atap kamarku. Bukan ruangan atau tempat yang benar-benar kukenali. Aku tetap berada di ruangan yang sama dengan ruang ketika pertama kali membuka mata pagi ini. Dengan dinding dan atap kayu yang sama, juga segala perabotan yang terkesan asing. Goyangan tetap kurasakan hingga saat ini.

Dan jika memang benar aku telah masuk ke dunia ini, bukankah itu artinya... Aku telah berpindah dimensi?

Meremas surai yang sudah gembel sedari tadi, aku kembali disibukkan dengan ribuan pertanyaan dan segala kemungkinan tentang 'kenapa diriku bisa berada di sini.' Tak percaya, jelas. Bingung, sudah pasti. Perpindahan dimensi... Segala hal yang berhubungan dengan halusianasi dan mimpi...

Dan sesuatu teringat kembali... Perlahan-lahan dan bertahap.

Ingatanku... Apa yang terjadi sebelumnya...

"...Masuklah ke dunia mereka..."

Sempat menahan napas, "Jadi... Ini yang dia maksud? Aku... Aku benar-benar telah masuk dalam cerita ini? Ini sungguh nggak mungkin..." Gumamku masih tak percaya.

Semuanya memenuhi kepala. Ingatan-ingatan bagai video usang bergabung menjadi satu hingga mendesak perut dan terasa sesak. Dan kalimat itu terngiang terus bagai berdenging di telingaku,

"... Ingatlah... Tugasmu..."

"Tugas... Huh?" Gumamku serak. Merasa bagai dicekik. Kegelisahan makin mengganggu, bahkan lebih parah. Menyadari sesuatu ketika mulai memahami apa yang sebanarnya terjadi.

Tugas. Dimensi lain. Jalur yang bercabang. Sosok-sosok bersimbah darah. Panggung eksekusi mati. Lalu...

Kepala yang terpenggal oleh katana hitam-

"Semua itu... Memang benar..." Gumamku. "Semua masih disini. Dan jika memang mengikuti alur, bukankah itu artinya-" Napas tertahan di tenggorokan.

"-Aku sungguh dikirim jauh sebelum peristiwa itu terjadi."

Ku tatap kedua tanganku yang terasa begitu dingin, mengingat sesuatu yang membuat dada berdenyar makin gelisah.

Ketika tangan ini menyentuhnya. Menyentuh dada bidang yang tergores oleh luka sayatan. Merasakan secara nyata dan langsung debaran jantung dibalik tubuh hangat itu. Atau melihatnya yang turut menatap kearahku...

Tatapannya padaku-

Semuanya nyata, dan dia... Masih hidup.

Ada rasa lega yang melingkupi relung dada. Ketika tahu bahwa sosoknya yang paling kukagumi berada tepat dihadapanku, masih disini. Dengan jantung yang berdetak sehingga aku dapat menyentuhnya ...

Kalau begitu apakah itu artinya aku harus berada di sini terus? Tapi... sampai kapan? Dan bagaimana bisa ketika membuka mata aku sudah berada di Kapal Sunny Go?

Tunggu. Sepertinya masih ada ingatanku yg belum kembali-

Suara ketukan pelan terdengar, mengalihkan perhatianku ke arah pintu putih di depan. Bayangan seseorang muncul dari balik kaca.

"Ano, maaf aku membawakan makanan untukmu. Bisakah kau membukakan pintunya?"

Suara ini... Nami?

Ketukan kembali terdengar, sosok itu kembali bersuara.

"Luffy dan yang lainnya sedang makan, dan aku kesini bersama Choppee yang inhin memeriksa keadaanmu. Kamu juga harus makan kan? Masakan Sanji enak sekali lhoo...

Menekan perut yang terasa mual. Benar juga, saking gelisahnya memikirkan soal apa yang menimpaku ini, aku jadi lupa untuk mengisi perutku yang sudah memprotes sedari tadi. Dan rasa mual juga pahit di lidahku sepertinya bukan hanya akibat dari mabuk laut.

Setelah menghapus jejak air mata, kuputuskan untuk beranjak turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu ruangan. Mengintip terlebih dahulu dari celah pintu yang kubuka. Dua sosok yang sangat kukenali tampak di depan mata. Sosok gadis berambut oranye dan rusa kutub berhidung biru yang mengenakan topi pink.

Nami dan Chopper. Dua orang Kru Bajak Laut Topi Jerami.

"Mou, akhirnya kau mau membukakan pintunya juga. Aku sudah membawakan makanan untukmu." Ujar sosok gadis berambut oranye dengan pakaian seksi berupa bikini dan celana jeans ketat. Melempar senyum terlampau ramah yang sanggup membuatku merasa gugup seketika. Di tangannya sebuah nampan dipegang dan tampak menggoda dilihat. Sosok yang jauh lebih kecil dan berbulu tampak menyapa di depan mataku.

"Halo~ aku akan memeriksamu jadi biarkan kami masuk ya?"

Mengangguk kecil, kubuka pintu dengan lebih lebar. Keduanya masuk dan segera menutup kembali pintunya sebelum kuminta. Tepat setelah pintu tertutup, Si Rusa lantas terkejut melihatku,

"Astaga, lihatlah dirimu pucat sekali! Dokter! Kita butuh dok- eh aku kan dokter. Kalau begitu biarkan aku memeriksamu!" Chopper dengan segera menarikku. Aku tak memprotes dan hanya menurut ditarik olehnya ketika ia menyuruhku untuk duduk di ranjang kembali. Alat-alat medis ia keluarkan dari tas biru dan ia mulai memeriksaku dengan saksama.

"Apa kau merasa mual dan pusing? Apa pandanganmu kabur? Bagaimana dengan kepalamu, apakah terasa pening? Napasmu berat? Tenggorokanmu sakit?" Pertanyaan beruntun dilontarkan, membuatku kebungungan untuk menjawab sehingga aku memilih untuk mengangguk. Mengiyakan karena semua yang dikatakan si Dokter Kapal ini memang benar terjadi dan tengah kurasakan.

Dia menarik diri setelah mengecek keningku dengan tangan rusa nya yang mungil, "Kau masih demam dan mabuk lautmu sepertinya cukup parah. Ditambah kau juga belum makan sedari pagi karena itu asam lambungmu menjadi naik. Dan kau juga tidak minum kan sejak sadar? Kau sampai dehidrasi begini! Aku akan meracikkan obat untukmu!"

Aku menunduk. Sedikit malu namun tak dapat membantah perihal yang terjadi pada diriku.

Keadaanku pasti terlihat menyedihkan sekali.

Tony Tony Chopper melompat turun dan tampak mulai sibuk menyiapkan sesuatu di meja depan. Sosok berambut oranye yang turut masuk tadi akhirnya duduk di ranjang yang sama denganku. Meletakkan nampan yang sejak tadi dipegangnya ke pangkuanku. Aku berkedip beberapa kali melihat mangkuk berisi bubur dan minuman hangat yang mengepul-ngepuk halus di depanku bersama segelas air putih tawar, kemudian menatapnya

"Nah, sembari menunggu obatnya cobalah untuk mengisi perutmu dengan bubur buatan Koki Kapal Kami." Ujar Nami, membujukku. Aku mengangguk kecil dan meminum teh di dalam gelas sebelum akhirnya beralih meraih sendok dan menyuap benda lembek itu ke dalam mulutku.

Rasa gurih dan manis yang hangat seketika memenuhi indera perasa. Aku sedikit takjub dengan rasanya yang benar-benar berbeda. Tak menyangka bubur bisa memiliki rasa seperti ini. Seperti ada candu hingga aku memutuskan untuk menyuap kembali demi memuaskan perut yang tiba-tiba terasa lapar.

Mungkin karena terlalu asik dan sibuk menghabiskan bubur, aku sampai mengabaikan sosok gadis cantik berambut oranye yang sejak tadi memperhatikanku. Menatapku penuh minat sembari tersenyum ramah dan tampak menahan kikikan. Seketika aku jadi sangat malu ketika bubur di dalam mangkuk telah habis tandas tanpa sisa.

"Te... Terimakasih..." Ungkapku malu.

Aku terhenyak ketika Nami tiba-tiba mendekat dan mengelap bibirku. Ada rasa hangat yang dapat kurasakan dari sikap dan tindakannya. Juga senyum manis yang tulus ketika sudut bibirnya tertarik. Juga mata yang memandang penuh kasih dan perhatian itu-

Dia benar-benar seperti seorang kakak yang baik hati...

"Pasti enak sekali ya? Kau makan dengan lahap sampai belepotan begini hihihi~" Dia terkikik, aku menggaruk tengkuk. Namun tak dapat kupungkiri bahwa Bubur tadi benar-benar bubur terenak yang pernah kumakan.

"Ngomong-ngomong aku Nami. Dan rusa yang tengah membuatkan obat untukmu ini Chopper. Yoroshiku~"

"Yo-yoroshiku..." Balasku, kemudian membatin, "Mana mungkin aku nggak mengenal kalian."

"Nah, kau sudah makan kan? Sekarang waktunya minum obat."

Aku tak menolak ketika Chopper memberiku obat yang- sungguh super pahit sehingga aku harus menandaskan teh di dalam gelas setelah air putih habis. Ada rasa lega, namun juga tak enak hati ketika mengingat bahwa aku sempat menolak beberapa kali kebaikan mereka dan malah mengunci diri di ruangan ini.

"Anu.." Sedikit gugup ketika kedua sosok itu beralih padaku, "Terima kasih untuk semuanya. Ma-maaf aku malah merepotkan kalian dengan mengunci ruangannya." Ujarku, melirih di akhir.

"Tak perlu dipikirkan. Wajar saja jika kau ingin menyendiri sejenak. Apa lagi kau baru saja tertimpa musibah dan hampir tenggelam di lautan." Balas Nami. Aku mengernyit,

"Eh? Tenggelam?"

Gadis cantik itu mengangguk, "Iya. Kau tenggelam tepat setelah badai aneh datang. Kemudian tiga orang Nakama kami menolongmu."

Sedikit samar-samar aku seperti dapat mengingatnya. Lubang hitam... Kemudian biru laut dan...

Sosok yang datang mendekapku-

Tunggu. Jadi aku memang tenggelam sebelumnya dan-

"Oh iya, ngomong-ngomong boleh kutahu apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau bisa tenggelam di laut lima hari lalu?"

Terhenyak, "Eh? Lima hari..?"

Nami, gadis berambut oranye itu mengangguk, "Ya. Ini sudah lima hari sejak kau pingsan karena tenggelam waktu itu."

Terperangah mendengarnya, aku berteriak dalam hati.

YANG BENAR SAJA! INI PERTAMA KALINYA AKU PINGSAN DAN BAHKAN SAMPAI LIMA HARI?! HEBAT SEKALI-

"Perihal diriku yang bisa tenggelam waktu itu... Aku sendiri...tidak yakin..." Ujarku sembari memikirkan berbagai hal yang terngiang-ngiang di kepala.

"Tapi-" Aku melanjutkan. Mengangkat kepala dan menatap dua sosok nakama Bajak Laut Mugiwara yang berada di hadapanku.

"Bolehkah aku bertanya, kalian dari mana dan akan ke pulau mana?"

Ada sedikit rasa takut yang menghantuiku. Jantung berdebar tak mengenakkan. Nami dan Chopper saling pandang, sebelum akhirnya Navigator cantik itu menjelaskan,

"Belum lama ini kami baru saja singgah di pulau manusia Ikan. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju pulau selanjutnya."

"..Punk Hazard.."

Tanpa sadar aku mengucapkan itu. Keheningan melanda. Segera saja ku tutup mulutku, menatap kosong ke arah lantai dan bergelut dengan bermacam pikiran yang bertambah kusut di dalam kepala ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh si navigator cantik.

Kalau mereka dari pulau manusia ikan, jika mengikuti alur di series nya, mereka sudah pasti akan menuju ke Punk Hazard!

Punk Hazard... Dressrossa... Zou... Berpisah di Whole Cake... Kemudian...

WANO KUNI-

Napas tertahan. Kurasakan gelanyar tak mengenakkan menyerang. Leher sakit bagai tercekik.

Alurnya... begitu.

Jika hipotesisku benar dan mereka akan ke Punk Hazard... Berarti aku benar-benar dikirim jauh sebelum kekacauan itu terjadi!

Mata membola ketika memahami hal terpenting-

Ini... INI TUGASKU?!

"Ano... Kau tidak-"

"Apakah kalian baru saja berkumpul dan melanjutkan perjalanan dari Sabaody ke pulau manusia ikan, kemudian sekarang tengah menuju ke pulau selanjutnya?" Tanyaku pada Nami dan Chopper. Chopper mengangguk ragu,

"Ya... Kira-kira begitu. Kami belum lama ini berkumpul setelah berpisah selama dua tahun." Terangnya. Seketika aku bagai dihantam kenyataan yang luar biasa.,

"Bisa-"

Tanpa sadar mataku kembali tergenang. Membuat dua sosok di depanku berubah kebingungan.

Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan di sini. Tujuanku... Dikirim ke dunia ini-

"Nami-san.. Chopper... Ada hal yang ingin kukatakan-"

...

[BERSAMBUNG]