.

.

Seandainya

by

dindingdanlangit

.

Disclaimer: I own nothing. Masashi Kishimoto has everything


Suatu kali dalam hidupnya, Naruko menyadari sesuatu.

Jika boleh, ia ingin mendekat. Bertemu tatap tanpa kecanggungan di tengah mereka. Meresapi kekuatan magis yang berkontraksi pada degup jantungnya yang menggila. Jika boleh... Jika ia bisa.

Tapi Naruko tak beranjak. Ia hanya melihat dari kejauhan. Dimana seseorang yang menarik pusanya berdiri, bersisian, bersama seorang gadis. Matanya sendu, tangannya terkepal erat. Bisakah ia menghampirinya? Bisakah ia menyelipkan diri diantara cerita mereka?

Dan sekali juga tahu, tidak bisa.

Mungkin bisa, tapi ia tidak mampu.

Tanpa sadar sebuah dengusan terdengar. Ia merutuk dalam hati. Seandainya aku mampu, aku akan mengatakannya.

Sayangnya, Naruko tetaplah Naruko. Dia tidak seperti Haruno Sakura yang begitu terbuka pada emosinya. Bukan juga seperti kakaknya Naruto yang impulsif ditiap tindakannya. Ia hanyalah Naruko. Naruko yang pendiam, terlalu banyak berpikir, dan pecundang. Untuk yang terakhir itu, didapatkannya dari Tayuya -sahabatnya yang tomboi, urakan, dan biangnya masalah.

Memandang orang yang disukainya tanpa berani mendekat adalah keputusannya. Ia memilih menikmati kesukaan sekaligus kesakitan yang dimilikinya. Fakta bahwa menyukai sahabat kakakmu sudah cukup aneh, ditambah cowok itu telah memiliki seseorang justru membuatnya tampak salah.

Tapi tidak ada cinta yang salah, begitu kata Tayuya, yang jomblo akut bertingkah seperti pujangga.

Naruko mengamini dalam diam. Namun enggan melakukan apapun.

"Apa kau hanya akan melihatnya dari jauh? Seterusnya? Sampai kau mati?"

Naruko selalu bertanya-tanya bagaimana kepribadian sahabatnya ini begitu unik. Terkadang begitu realistis, kadang juga nyentrik, dan lebih aneh lagi saat ia bertingkah visioner.

"Kau berpikir terlalu jauh."

Tayuya mendecak tidak percaya. "Jadi perasaan sukamu pada Sasuke tidak sejauh itu?"

"Entahlah."

Tayuya mendengar Naruko mendesah kecil. "Jangan khawatir, kau akan punya cinta yang lain. Lagi pula kita masih lima belas tahun, masih terlalu awal untuk memikirkan percintaan."

Lalu topik itu kembali menghilang, secepat angin yang berhembus kencang.

Saat itu musim gugur, ketika Naruko pertama kali bertemu dengan orang yang disukainya. Naruto membawa Sasuke ke rumah untuk bermain PS. Rumah cowok itu hanya beda satu blok dari rumah mereka, membuat kebiasaan sering bertandang kerumahnya setiap waktu. Dan Naruko hanya mampu mengintip dari balik dinding untuk memandang sosoknya.

Cowok berambut dan bermata sekelam arang dan memiliki wajah dingin yang cantik. Itu tampilan Sasuke versi delapan tahun yang pertama kali dijumpai Naruko. Sifatnya yang cenderung ketus dan bertampang datar awalnya membuat Naruko ragu-ragu untuk mengenal teman kakaknya itu. Namun lambat laun, semuanya berubah. Sejak saat itu.

Di saat matahari mulai menguning dan Naruko tidak mengenali tempatnya berdiri. Jalanan begitu ramai di akhir pekan membuatnya pusing dan cemas berada di keramaian. Sebetulnya itu salahnya. Ia terpisah dari Naruto saat mereka akan ke kedai es krim. Usianya sudah sepuluh tahun, tapi Naruko selalu punya ketakutan berada di keramaian.

Tak ayal ia pun menangis. Memanggil-manggil nama Naruto agar kakaknya bisa menemukannya. Kemudian disaat hujan mulai turun saat petang, penyelamat itu datang.

Sasuke menemukannya berjongkok di salah satu gang sepi dan gelap. Sedangkan Naruko sudah menangis sesenggukan dengan napas tak beraturan. Tangannya mengepal karena denyut jantungnya yang kencang. Sayup-sayup ia mendengar suara yang menenangkannya. Kepalanya ditekan lebih dalam sampai terantuk pada lututnya.

"Bernapaslah. Kau baik-baik saja sekarang. Ikuti kata-kataku," suara itu berdengung di tengah kesunyian indranya. Ia mengikutinya intruksi itu.

"Tarik napasmu secara perlahan, lalu keluarkan. Lakukan lagi, berulang-ulang sampai kau tidak sesak napas lagi."

Rupanya serangan panik itu datang tiba-tiba dan Sasuke menolongnya. Naruko tidak lagi menangis, napasnya beraturan. "Terima kasih," Naruko berujar setelah ia mampu bersuara. Kepalanya mendongak ke arah Sasuke yang berlutut di depannya dan memayunginya. Ia tersenyum kecil, menyadari, babak kecil saat itu menjadi perubahan konstan pada dirinya dikemudian hari.

Naruko tidak lagi merasa takut pada Sasuke, tidak juga ragu-ragu lagi. Ia terus mendekat, mendekat, dan semakin dekat. Hingga kedekatan itu lambat laun menumbuhkan sesuatu yang lain hatinya.

Perasaan itu yang disebut suka -yang berhasil disadarinya saat dirinya berumur tiga belas tahun.

Kala itu ia dan Sasuke sedang berkebun di pekarangan belakang rumahnya. Naruto tidak berada di rumah karena menghadiri latihan sepak bola. Kedatangan Sasuke seringkali bukan hanya untuk bermain dengan Naruto, melainkan juga dengan Naruko. Dan di waktu itu, mereka telah berencana untuk berkebun.

Sasuke membawa bibit bunga fresia untuknya dan beberapa kaktus mungil. Mereka menanamnya di pekarangan dan memetik beberapa tangkai bunga yang akan diberikan Sasuke untuk ibunya.

"Sasuke-kun," panggilnya.

"Hm." Naruko mendengar Sasuke bergumam. Ia tidak pernah tersinggung, mengetahui memang seperti itu cara Sasuke mengobrol dengan semua orang.

"Menurutmu aku akan menjadi wanita yang seperti apa saat dewasa nanti?"

Naruko memunggungi Sasuke, ia tidak bisa melihat Sasuke yang tengah memandang punggungnya dengan aneh. "Kenapa kau menanyakannya?"

"Aku hanya ingin mengetahuinya."

Namun Sasuke tidak menjawabnya. Lantas Naruko berbalik menatap Sasuke yang menekuri pot bunga dalam diam. Naruko tidak lagi bersuara, ia merutuki diri karena bertanya hal aneh pada Sasuke. Sudah tahu Sasuke bukan orang yang mudah diajak bicara, ia malah melontarkan pertanyaan absurd disaat mereka sedang berkebun! Jangan abaikan tangan penuh tanah dan keringat karena terik.

"Bukankah masih terlalu jauh memikirkan itu?" Tanpa diduga Sasuke bersuara. "Lagipula seseorang masih bisa berubah."

Sebenarnya, itu bukan pertanyaan acak. Naruko hanya ingin tahu bagaimana dirinya dimata Sasuke. Ia telah menyukai Sasuke, tapi ia tidak memiliki nyali untuk mengatakannya.

"Aku rasa, aku tidak berubah nantinya," kata Naruko menerawang.

Sasuke mengernyit bingung. "Apa yang tidak berubah?"

Perasaanku padamu. Tidak akan berubah.

Naruko tersenyum, menggantikan jawaban yang ingin ia lontarkan. Namun Sasuke hanya terkekeh kecil. Ia balas terkekeh, kemudian menelan ludah kasar. Bukannya Naruko tidak melihat, tentu ia tahu Sasuke cukup dekat. Cara cowok itu memandangnya, memperlakukannya, bahkan bicara padanya, tidak pernah lebih dari seperti Naruto padanya.

Sasuke hanya menganggapnya adik kecil yang tidak pernah dimilikinya.

Selalu seperti itu. Dan bahkan ketika dua tahun telah berlalu, disaat dirinya akan lulus sekolah menengah pertama, perasaanya pada Sasuke masih tidak berubah.

Seandainya ia bisa berhenti. Seandainya ia dengan mudah melupakan perasaannya ini. Seandainya ia dengan mudah beralih pusa pada sosok Inuzuka yang mengejar-ngejarnya, mungkin Naruko tidak mengalami kesakitan ini.

Bagaimana ia bisa tahan melihat kedekatan Sasuke dengan kekasihnya? Bagaimana ia bisa menerima bahwa kedekatannya dengan Sasuke mulai memudar? Mereka tidak lagi berkebun maupun bertukar sapa. Sulit rasanya mencuri waktu bersama Sasuke ketika cowok itu main ke rumahnya membawa serta kekasihnya, yang dekat dengan lingkup pertemanannya dan Naruto sejak SMA.

Mereka tidak lagi akrab. Hubungannya dengan Sasuke seolah hanya mimpi di musim panas. Begitu berkilauan akibat deburan ombak dan menghilang secepat pelangi di langit sana.

Sayangnya, Naruko mencintai kakaknya. Ia dan Sasuke sudah bagaikan orang tak kenal. Ia tidak harus menambahi masalah dengan mengemis cinta. Lagipula, Tayuya bukan satu-satunya orang yang ucapannya paling benar di dunia.

Katanya, tidak ada cinta yang salah.

Tapi, itu pilihan Naruko jika ia berpikir cintanya tidak pernah benar.

Kemudian, Naruko melewati hari-hari sepinya sendirian. Menjadi latar tak dikenal ketika Sasuke di sekitar. Melihat senyum Sasuke membuatnya merasakan kebahagiaan. Kendati rasa sakit itu terkadang datang secara konstan.

Tapi, hidup terus berjalan.

Tapi, hidup tidak pernah berjalan atas nama seandainya.

Naruko punya banyak sekali keinginan akan seandainya.

Seandainya,

Seandainya,

Begitu banyak keinginan untuk seandainya yang membuat Naruko tidak juga maju. Dirinya akan terus berdiri di tempat yang sama. Mengarahkan pusanya pada orang yang sama.

Dan akan selalu seperti itu.

Bahkan ketika dirinya tidak tahu, ada seseorang yang sepertinya.

Ada seseorang yang selalu menciptakan keinginan seandainya atas dirinya.

Ada seseorang yang bergumam untuk seandainya pada dirinya.

Dan Naruko hanya perlu membalikkan bias.

Naruko hanya perlu membalikkan pusa.

Pada orang itu,

Yang terus mengantungkan harap pada seandainya untuk dirinya.