SATU

"Ini sudah cukup lama. Mungkin aku akan pulang."

Angin laut bertiup kencang. Sosok berambut hitam itu melipat kertas yang ia pegang. Menyimpannya di balik jubahnya. Langkahnya pelan namun pasti, menjauh dari bibir laut. Menyisahkan jejak kakinya di atas pasir. Angin seolah menuntunnya dalam perjalanan pulang dan menyambut datangnya musim yang baru.

.

.

.

Beberapa waktu yang lalu terjadi insiden manusia peledak yang mengancam keamanan di beberapa tempat. Kejadian itu meresahkan dan membuat tiga desa shinobi campur tangan: Konoha, Kumo dan Kiri. Walau pada akhirnya yang berhasil menghentikannya adalah sosok pahlawan yang berada di belakang layar. Seseorang yang pergi mengembara sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosanya di masa lalu.

Keadaan Desa Konoha sendiri sudah tampak stabil dan berjalan dengan baik. Kakashi kembali melanjutkan tugasnya sebagai Hokage, mengurus dan sebagai penanggung jawab Desa Konoha. Terutama mengenai perkembangan teknologi yang sudah semakin maju. Kakashi menjadi sangat sibuk, ada banyak pertemuan-pertemuan penting di luar desa yang harus dia hadiri. Walau terkadang jarak tempuhnya lumayan jauh dan mengharuskannya meninjau tempat yang terpencil.

Langit mulai berubah warna menjadi jingga, jalanan kota dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang baru saja pulang dari kerja, kembali dari misi, serta orang-orang yang sekadar menghabiskan waktunya bersama-sama.

Konohamaru menyantap ramen dihadapannya dengan lahap, ia baru saja kembali dari misi bersama dua rekan sebayanya. Masih berada dalam desa, Iruka terlihat tengah sibuk dengan berkas anak-anak akademi di tangannya. Di sisi lain, Ino dan Sai tengah menghibur Choji yang mengeluh karena ingin lebih lama lagi menjalankan misi di Kumogakure.

Perlahan-lahan keadaan semakin tenteram, setelah perang berakhir dan negara besar terikat dalam perdamaian. Walau belum sepenuhnya pulih dari perang, para penduduk mulai beradaptasi dengan keadaan sekarang dan tingkat kewaspadaan terhadap ancaman penyerangan mulai menurun. Misi yang diberikan kepada Shinobi pun tidak sebanyak di masa sebelum perdamaian ada.

Walau begitu shinobi tetaplah seseorang yang mempunyai kewajiban melindungi desa. Mereka harus tetap mempertahankan perdamaian dengan tekad yang kuat. Kerja sama dan ketekunan yang merupakan hal paling penting harus selalu ditanamkan dalam hati. Karena hal itu tidak akan berubah meski era baru telah dimulai.

Keadaan di Rumah Sakit Konoha juga begitu tenteram. Suasananya begitu tenang. Pasien di ruang tunggu mulai berkurang, mengingat hari sudah petang. Beberapa perawat mulai berganti shift dan pulang. Pasien yang dirawat terlihat sedang menikmati perbincangan di taman rumah sakit.

Sosok berambut merah muda terlihat keluar dari ruangan operasi. Dia dengan cekatan membersihkan diri, mengganti pakaian, dan kemudian bersiap untuk melayani pasien yang ada di ruang tunggu. Baju operasi kini berganti dengan jas dokter berwarna putih yang membuat rambut warna merah mudanya terlihat sangat mencolok.

Dia mengeratkan ikatan rambutnya sebelum kembali memeriksa pasien. Beberapa dari mereka adalah anak kecil. Mereka semua terlihat senang dengan tingkah ramah Sakura. Saat memeriksa, suara Sakura selalu lembut dan berhati-hati saat mengobati luka. Tidak heran, jika dia menjadi sosok yang dikagumi. Baik oleh para pasien maupun rekannya di rumah sakit, mereka menaruh rasa hormat yang tinggi kepada Sakura.

Di usia yang masih muda, Sakura berhasil membuka Klinik Kesehatan Mental Anak yang dia dedikasikan untuk anak-anak yang mengalami trauma akibat perang. Tujuan membuka klinik tersebut juga di dorong karena Sakura tidak ingin lagi ada anak-anak yang menderita dan diasingkan sama seperti yang terjadi kepada Naruto dan Sasuke dahulu. Di samping itu ia juga memiliki peran penting dalam pengembangan ninjutsu maupun obat-obatan medis yang ada di Rumah Sakit Konoha.

"Sakura, jadwal piketmu sudah selesai. Sudah tidak ada pasien lagi."

Kepala Sakura mendongak, mendapati seorang perawat tengah berdiri sambil memegang gagang pintu ruangannya. Senyum tipis merambat di bibirnya. "Ah, aku mengerti. Aku akan segera pulang setelah selesai menyusun laporan ini." .

"Jangan terlalu memaksakan diri, Sakura. Hari ini kau seharusnya pulang setelah melakukan operasi. Namun, malah bersikeras menggantikan jadwal pemeriksaan dokter lain yang berhalangan hadir." Perawat itu menghembuskan napas panjang, wajahnya terlihat khawatir.

Sakura terdiam, dalam benaknya dia juga berpikir kalau dia terlalu bekerja keras akhir-akhir ini. Tetapi kemudian dia hanya mengulas senyum. "Terima kasih. Aku hanya ingin membantu dengan apa yang aku bisa." Senyuman di wajahnya melebar. "Kau juga segera pulanglah, bukankah kau memiliki putra tampan yang menunggumu di rumah?"

Perawat yang lebih tua empat tahun dari Sakura itu tertawa kecil, dia memperbaiki letak kacamatanya lalu berkata, "Kau selalu saja ceria seperti biasa. Baiklah, aku pamit duluan."

Sebelum menutup pintu, Perawat itu menolehkan kepalanya kembali ke arah Sakura. Sakura menautkan alisnya, bingung.

"Oh ya, apakah kau sudah membalas surat yang kau terima kemarin?"

"Ah, aku sudah bertemu dengan orangnya. Seperti biasa, aku meminta maaf dan mengatakan yang sebenarnya."

Perawat itu mendengus lalu terkekeh. "Ya, kau selalu menolak mereka dengan cara yang benar-benar halus."

Sakura tersenyum simpul, menaikkan kedua bahu. "Mau bagaimana lagi." Dalam hati berkata, aku memang sedang menunggu seseorang.

Perawat itu mengangguk paham, seolah mengerti perasaan Sakura dia segera menutup penuh pintu ruangan itu. Walau sudah diberi tahu, kalau dia cukup populer bukan hanya karena kehebatannya dalam dunia medis, tetapi juga karena kecantikan yang dia miliki, Sakura selalu menanggapi seolah hal itu hanya gurauan, dia hanya tidak ingin terlihat terlalu membanggakan diri sendiri.

Sakura mengelap keringat di lehernya. Perawat itu benar, Sakura memang terlalu memaksakan dirinya. Hari ini ia melakukan dua operasi, saat dini dan sore hari. Dimana di tengah-tengah istirahatnya, dia juga mengawasi Klinik Kesehatan Mental Anak. Sakura yang memang pada dasarnya rajin bekerja, bisa mengatur jadwal pekerjaannya se-fleksibel mungkin. Bahkan, beberapa waktu yang lalu dia diikutsertakan dalam sebuah misi. Selain karena Sakura adalah seorang ninja medis elit yang hebat, dia juga seorang petarung yang kuat.

Dibalik itu semua, Sakura adalah pribadi yang keras kepala dan suka memaksa diri sendiri untuk bekerja terlalu keras. Walaupun, dia juga sadar semua itu ada pemicunya. Dalam lubuk hati Sakura, dia terkadang merasa kesepian disaat teman-temannya mulai menjalin hubungan dan melihat mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Dibanding tenggelam bersama rasa kesepiannya, dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan melakukan pekerjaannya.

Sakura melepas jas dokternya. Menyisahkan dirinya dengan rok pendek diatas lutut dan atasan berwarna merah yang kerahnya menutupi bagian lehernya. Ia lalu melepas ikatan rambutnya yang sedari tadi ia kuncir. Membuat helaian berwarna merah muda itu tergerai. Dia menggerak-gerakkan lengan kanan dan kirinya agar tidak tegang. "Capeknya ..."

Untuk menghindari keramaian yang ada, Sakura memilih untuk melewati jalanan yang jarang dilalui orang. Saat ini dia membawa beberapa dokumen di tangannya, dan akan merepotkan jika ada yang menyenggol atau menabrak dirinya di jalanan. Selain itu, Sakura butuh ketenangan setelah seharian penuh menghabiskan waktunya untuk bekerja. Berjalan di tempat ramai hanya akan membuatnya semakin kesepian.

Sakura melemparkan pandangannya ke arah sungai dibawah jembatan yang dia lewati. Untuk sejenak dia berhenti. Mengalihkan pandangannya dari air sungai ke atas langit. Dia menatap awan dengan penuh harap. Seketika dia merasa dadanya dipenuhi perasaan rindu. Perasaan yang menyelimutinya tiap hari. Dia lalu memejamkan matanya.

Apakah dia pernah merindukanku?

"Ah, aku membuang-buang waktu." Sakura menggeleng-geleng, tersadar. Dia terlalu lama berdiam diri disana. Beruntung sekelilingnya sepi, mengingat jembatan ini memang jarang dilewati karena cukup jauh dari pusat desa.

Dengan langkah kecil, Sakura mengeratkan dokumen yang dia pegang. Pandangannya lurus kedepan. Senyum kecut terukir di bibirnya.

"Hari yang melelahkan, bukan?" Sebuah suara terdengar dari arah belakangnya.

Suara ini.

Sakura sangat mengenali suara ini. Matanya terbuka lebar ... dan terasa panas. Entah bagaimana, lututnya seketika lemas. Sakura menjadi sangat emosional untuk kehadiran tiba-tiba ini. Dia bahagia, tetapi dia juga ingin menangis.

Ia masih terpatung, tidak sanggup membalikkan badan. Pandangannya mulai kabur, namun dia menahan dengan mati-matian agar air matanya tidak jatuh. Dia bisa merasakan bibirnya bergetar, kemudian sekujur tubuhnya juga.

Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Degupan jantung Sakura semakin kencang. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis tanpa suara.

"Sakura." Suara yang sangat familiar di telinganya. Suara yang paling dia rindukan dan ingin dia dengar setiap malam. Suara dari seseorang yang membuatnya menunggu selama ini.

Sakura menggigit bibir bawahnya yang terus bergetar. Memeluk dokumen yang dia bawa dengan erat. Dengan perlahan Sakura membalikkan badannya. Dia tidak berani menatap langsung wajah orang yang berdiri di hadapannya.

"Sasuke-kun ... " Suara Sakura bergetar saat dia mengucapkannya. Dia dapat merasakan degupan jantungnya berdetak semakin cepat. "Okaeri," ucapnya begitu pelan, dia sendiri tidak yakin Sasuke bisa mendengarnya.

Ada keheningan sebentar, lalu terdengar embusan napas dan suara familiar itu terdengar lagi.

"Tadaima, Sakura."

Sakura membulatkan matanya, dia menggeleng samar. Berpikir bahwa dia pasti salah dengar. Air mata yang sedari tadi mengalir kini semakin deras jatuh ke tanah. Walau napasnya masih naik turun, dia berusaha menenangkan dirinya secepat mungkin.

Aku berlebihan.

Air mata Sakura berhenti mengalir. Mengusap wajah dengan telapak tangannya. Iris mata Sakura menangkap wajah Sasuke yang terlihat seperti kebingungan ... entahlah Sakura juga tidak bisa memahami raut wajah itu. Sakura menyesali dirinya yang menangis dan membuat lelaki didepannya tidak tahu harus melakukan apa. Padahal dia baru saja kembali dari perjalanan yang panjang.

Betapa menyebalkannya diriku ini!

Sakura mengangkat kepalanya perlahan, memerhatikan wajah Sasuke, memindai setiap sudut di wajah itu. Tentu saja banyak yang berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Tubuh tegap Sasuke yang sudah semakin tinggi, bagian rambut depannya dibiarkan tumbuh panjang agar bisa menutupi mata kirinya. Garis mata yang tegas, tajam, sekaligus indah. Sasuke memang sosok yang terlahir dengan fisik yang enak dipandang. Dan Sakura mengakui kalau dia selalu terpesona setiap kali melihatnya.

Dia terlihat sangat kuat, juga sangat keren dan ... tampan.

Tanpa Sakura duga, Sasuke mengunci pandangan mereka berdua, membuat mereka saling menatap untuk waktu yang lama. Sakura merasa seolah ditarik oleh mata tajamnya. Tatapan yang membuat Sakura tenang dan nyaman. Tatapan yang ... entah sejak kapan berubah menjadi sangat teduh. Tidak ada lagi tatapan penuh dendam seperti dahulu.

Sakura kemudian menyadari sesuatu, mengalihkan pandangannya ke bawah. "Ah, maafkan aku. Aku malah menangis saat kau datang."

"Apa itu mengejutkanmu?"

"Tentu saja!" Sakura mendengus, terkekeh. "Aku sangat terkejut, tahu!"

"Tapi, aku benar-benar senang kau sudah kembali." Segaris senyum tersungging di bibirnya. Sebuah senyum yang sangat tulus.

Sasuke membalas senyuman itu.

Sakura tersipu malu, hingga pipinya merona. Dengan cepat menutupinya dengan tertawa kecil. Setelah itu tidak ada suara lagi yang keluar dari bibir mereka berdua, seolah ikut terbawa aliran air sungai yang berada di bawah jembatan.

Matahari mulai terbenam, dengan perlahan semburat berwarna emas berubah menjadi merah dan gelap. Mereka berdua tetap membisu, tidak ada yang memulai percakapan. Karena tanpa ada kata-kata sekalipun, tubuh mereka yang saling berdampingan sudah sangat cukup untuk mengisi kekosongan suatu tempat di hati masing-masing.

"Apa-" secara tidak sengaja, mereka berdua mengatakan hal itu secara bersamaan. Sakura dan Sasuke pun saling pandang sejenak. Kemudian Sasuke berdeham, "Kau duluan."

Sakura melirik Sasuke dari samping. Ragu-ragu bertanya. "Emm ... apa kau lapar? Jika iya, aku ingin mengajak Sasuke-kun makan malam bersama."

Sakura menatap Sasuke yang masih terdiam. "Ada apa Sasuke-kun? Jika tidak mau, tidak apa-apa. Kau bisa menolaknya," ujar Sakura tenang.

Sasuke melirik Sakura sekilas dari ujung matanya, lalu kembali mengalihkan pandangan. "Aku punya urusan dengan Kakashi." Saat mengatakan itu entah mengapa Sasuke merasa tidak enak, dia menatap Sakura, "Maaf."

Sakura tersenyum geli. "Hei, kenapa kau meminta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan, Sasuke-kun."

"Pergilah menemui Kakashi-sensei sekarang, dan Naruto juga. Mereka pasti senang sekaligus kaget melihatmu." Walau mengatakannya dengan nada riang dia tetap menyadari ada getaran di suaranya. "Aku pikir kau sudah menemui mereka, lho."

Tiga puluh detik berlalu dan tidak ada tanggapan. Sasuke hanya membalikkan badannya, tanda bersiap untuk pergi.

"Sudah kukatakan, aku akan menemuimu saat aku kembali."

Sakura merasa oksigen di sekitarnya menipis. Matanya terasa panas kembali. Sosok Sasuke telah pergi. Tetapi ucapannya barusan meninggalkan Sakura dengan gejolak di hatinya. Air mata Sakura mengalir, seperti tidak ingin berhenti, tetapi di bibirnya terukir senyum yang begitu lebar. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia bisa menangis bahagia seperti saat ini.