Judul : Listen to Me, Baby
Chapter : 2
Genre : Romance, humor, fluffy, dan absurd readers
Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v
Rating : T mungkin semi M, tergantung suasana hati Kyuu.
A/N :
Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v
Selamat menikmati! ;)
.
.
.
.
.
Aku berjalan masuk ke ruang tamu apartemenku setelah kepergian Hiro-chan dan Kotarou sambil memandangi Manga Patalliro. Manga dengan Style tahun 80-an memang paling mantap. Banyak yang berbeda dari seni Manga jaman dulu dan sekarang.
Sepertinya tokoh hero Manga jadul itu lebih terlihat setianya, belum lagi kesan misterius dari tokohnya. Kalau tokoh hero Manga jaman now sepertinya banyak yang playboy dan mengandung unsur harem. Ah, kalau bisa aku ingin lahir di tahun 60-an -,-
Yah, walaupun unsur seperti itu berkaitan erat dengan menurunnya angka kelahiran anak di Jepang :v
Mungkin Manganya aku baca nanti saja, aku juga harus membuat name untuk Mangaku. Aku mengambil kertas dan pensil mekanik, aku hanya mengetuk pensilku di kertas. Sebenarnya hari ini aku sangat lelah karena deadline aku menggambar Manga tanpa tidur sama sekali, salahkan Hiro-chan yang terlalu tegas soal pekerjaan. Dia sama sekali tidak membiarkanku tidur meski hanya 5 menit.
Yah, meski begitu dia membantu memasang tone dan lainnya, belum lagi dia langsung mengantar Mangaku ke bagian percetakan. Hiro-chan pasti juga dimarahi pihak percetakan dan.. itu salahku.
Itu kan pekerjaannya, mau bagaimana lagi?
Meski lingkaran hitam di matanya sangat terlihat buruk sampai mengurangi ketampanannya, bahkan dia bersedia tidak tidur semalaman untuk membantuku karena aku terlalu meremehkan pekerjaanku yang malah sibuk nonton film komedi selama seminggu..oke, aku akui itu memang salahku.
Apa itu yang membuatnya terlihat kesal tadi?
Yah, aku sudah kenal Hiro-chan dari kecil jadi aku tahu kalau dia sedang marah, dia punya kebiasaan tidak mau menatap wajah orang lain ketika marah.
Tapi bisa saja dia marah karena aku membahas pernikahan?
Tunggu, kan dia sendiri yang duluan membahasnya.. Mana aku tahu!
Haaaaaah! Masa bodo! Dia itu memang sulit dimengerti!
Meski kami sudah kenal sejak kecil dia itu selalu menutup diri, dia juga tak pernah mengatakan perasaannya bagaimana—jadi mana aku tahu, kalau dia tidak mencoba mengatakannya.
Apa sememalukan itu untuk mengutarakannya?
Aku tahu dia itu tipe orang yang pendiam dan penyendiri, tapi bukannya bersikap begitu dengan sahabat masa kecilnya itu sudah keterlaluan?
Aku meletakkan kertas dan pensil di meja kecil yang ada di tengah ruang tamu, dengan masih badmood aku masuk ke kamar tidurku dan menghempaskan tubuhku di kasur yang empuk. Hah~ enaknya~ sudah berapa lama aku tidak merebahkan diri? sampai kasur terasa begitu enak..
Aku mencari posisi kepala yang nyaman di bantal, juga meraih dakimakura yang gambarnya Levi Ackerman menyenderkan kepala lalu dengan perlahan mulai menutup mata untuk tidur dengan tenang.
Denwa da yo, butayarou~ Denwa da yo, butayarou~ Denwa da yo, butayarou~
Sampai ringtone Smartphoneku yang menyebalkan berdering dan mengganggu semuanya.
Apaan sih! Mengganggu saja!
Dengan sangat terpaksa aku membuka mataku lagi, mengambil Smartphone yang terletak di lemari sebelah kasur. Menekan tombol call berwarna hijau, menempelkan Smartphone itu ketelingahku.
"Moshi-moshi, ada apa?"
"Bagaimana? Namemu sudah selesai?"
"Hiro-chan, menelpon hanya untuk itu? Maaf, aku terlalu lelah jadi tidak aku buat.."
"Oh, baiklah.. kau istirahat saja, tidak perlu memaksakan diri, sebagai gantinya kita diskusikan di tempat biasa hari kamis nanti.."
"Un..."
"Apa?"
"Maaf ya, karena aku telat deadline. Hiro-chan pasti capek, selain itu kau juga dimarahi pihak percetakan.."
Aku mendengar suara tertawa yang menyebalkan di seberang sana.
"Kau baru memikirkannya sekarang? Tidak perlu khawatir, pihak percetakan juga sudah menduganya.. kalau kau bodoh.."
"Apa itu? jadi mereka membicarakanku di belakang? Dan juga, aku tidak bodoh~"
"Sudah dulu ya, aku harus membuat proposal.."
"Kau masih bekerja?"
"Yah, begitulah"
"Kalau begitu aku janji, deadline selanjutnya aku tidak akan telat!"
"Tidak perlu memaksakan diri, lakukan semampumu saja.."
"Barusan kau terdengar menyebalkan~ Oyasumi! Huh!"
Lagi Hiro-chan tertawa di seberang sana.
"Oyasumi.."
Sambungan telpon pun terputus. Hah~ Hiro-chan bahkan masih bekerja di saat seperti ini. Aku tahu, dia itu rajin. Sekarang siapa yang terlihat memaksakan diri, huh?
.
.
.
.
.
Dan hari kamis pun tiba, aku memandang Jus Strawberry yang berisi ice di atasnya. Mengaduknya pelan memainkan minuman itu karena bosan. Pria bersurai kelabu di depanku membaca name yang aku buat dalam diam, hanya terdengar suara gesekan kertas yang berganti halaman satu ke halaman selanjutnya.
Sekarang ini, aku dan Hiro-chan sedang berada di restaurant keluarga tempat biasanya kami mendiskusi pekerjaan.
Setelah mengaduk-ngaduk jus strawberry aku meminumnya. Rasanya yang asam-manis menyeruak di lidahku.
"Ini tidak menarik.."
Mendengar komentar cowok yang ada di depanku ini membuatku tersedak seketika.
"Isinya terlalu padat, itu akan membuat pembaca jadi bosan. Lalu juga banyak humor garing yang tidak diperlukan, padahal itu adegan yang penting tapi kamu menghancurkannya dengan adegan ngetroll. Kalau ini Shounen Manga tidak masalah, tapi yang kau buat ini Shoujo Manga, 'kau tahu?"
Rasanya komentar itu telah menusuk uluh hatiku yang rapuh :'v
Perasaan menurutku ceritanya tidak terlalu buruk.
"Tapi itu gak mungkin! Aku sudah membuatnya dengan sungguh-sungguh.."
Hiro-chan menilik tajam padaku, raut dari wajahnya terlihat kesal.
"Seorang Mangaka yang pernah memenangkan ajang Madokawa Manga Award karena telah menjual 12 juta ekslempar bukunya, tidak mungkin akan membuat name Manga murahan seperti itu. Itulah [l/n][f/n]-sensei yang hebat dan tidak main-main soal profesinya.. Apa kau ini bodoh?"
Aku naik pitam, tentu saja aku tidak terima dengan kata-katanya. Aku langsung menggebrak meja di depanku menimbulkan suara yang keras sampai orang-orang di sekitar melihat ke arah kami penasaran.
"Aku tidak bodoh, kau saja yang tidak mengerti jalan ceritanya! Yang bodoh itu Hiro-chan!"
Aku perhatikan dia terlihat mengehela nafas lelah, "Hanya karena pernah dapat sekali serialisasi dan anime, kau jadi berlagak. Jangan sombong hanya karena hal sekecil itu.."
"Se—sekarang kau bilang aku sombong?! Cara bicaramu yang tidak sopan pada seorang sensei itu yang sombong!"
"Keluhan seperti itu yang aku sebut sombong!"
Entah bagaimana bentakan Hiro-chan membuatku bungkam, seperti ada panah imaginer yang menusuk di kepalaku. Meski ini bukan pertama kalinya dia membentakku, hanya saja tatapan tajamnya benar-benar bisa membunuhku. Aku langsung duduk dengan mulut mengerucut. Ngambek.
Mau bagaimana lagi, 'kan? Aku memikirkan deadlinenya, jadi aku menyerahkan name ini seadanya.
Kami hening untuk beberapa saat, sampai jari telunjuk tangannya yang putih menunjuk salah satu gambar di nameku. Aku melirik mataku padanya, dia menampakkan ekspresi datarnya padaku.
"Gak usah ngambek, ini karena aku tahu kau bisa melakukan yang lebih baik. Contohnya gambar yang ini, kau bisa menghapusnya. Sejujurnya temanya tidak terlalu buruk, aku juga tahu kau ingin menggambar banyak hal, tapi cobalah pikirkan pembaca terlebih dahulu. Kalau kau bisa melakukan yang lebih bagus, kenapa tidak?"
Aku mulai mengambil penghapus dan pensil di tempat pensil, dengan cekatan aku mulai mengikuti saran Hiro-chan. I..i—ini aku lakukan bukan berarti aku senang dengan apa yang dia katakan barusan. Ini karena pekerjaan! Yah, walau aku agak sedikit senang sih..tapi tetap saja aku masih sangat kesal!
Sementara aku membuat ulang nameku Hiro-chan mulai mengambil Light Novel di tasnya lalu membacanya, dia masih saja membaca buku seperti itu, huh? Tanpa sadar aku jadi memperhatikannya.
"Ada apa? kau masih belum mengerti yang aku maksud?"
"Aku ngerti kok!"
Sebenarnya aku masih sangat jengkel, bahkan aku menggambar dengan pelampiasan amarah ku.
"Salah satu toko buku ada yang memintamu melakukan sesi tanda tangan, menurutmu bagaimana?"
"Aku menolak"
"Sudah kuduga, aku akan menyampaikannya. Tapi, kenapa kau selalu menolak? Bukankah kau ingin bertemu fansmu?"
"Tentu saja, tapi tidak sekarang. Aku ingin identitasku jadi rahasia karena itu keren!"
"Kau ini kebanyakan baca Manga.."
"Aku juga pakai pen name cowok, jika para pembaca tahu aku cewek—mungkin mereka akan sangat kecewa~ aku tidak bisa membayangkan reaksinya, ehehehe~"
"Salah sendiri, pakai nama cowok.."
"Kalau ada pembaca cowok yang tahu aku cewek, apa mungkin mereka akan jatuh cinta padaku ya? Yah, sepertinya itu gak mungkin sih~ ahahahaha!"
"Karena itulah hal yang juga aku khawatirkan.."
"Eh?" Aku berhenti tertawa, sepertinya tadi Hiro-chan mengatakan sesuatu yang aneh tanpa aku sadari. "Tadi kau bilang apa?" tanyaku.
"Nggak, bukan apa-apa. kau lanjutkan saja gambarnya.."
A—apaan sih, dia membuatku penasaran saja. Sikapnya yang misterius itu kadang agak menyebalkan. Aku lanjut mulai menggambar lagi dengan masih memikirkan seribu pertanyaan yang membuatku penasaran tentang Hiro-chan.
.
.
.
.
.
"Yey! Halaman terakhir selesai juga!" teriakku sambil menggerakan persendianku yang terasa pegal, duduk berjam-jam untuk menggambar Manga itu melelahkan.
"Aku membeli Cappucino panas untukmu.." ucap Hiro-chan memberikan segelas Cappucino. "Ah, untuk para asistant ada di atas meja dapur—aku juga membeli strawberry shortcake untuk cemilan.." ucap Hiro-chan.
"Makasih Mayuzumi-san, kau sungguh murah hati~"
Seketika para asistant wajahnya berbinar-binar, lalu menuju dapur untuk memotong kue yang dibeli Hiro-chan. Hiro-chan melihat-lihat hasil manuscript dalam diam, aku meminum Cappucino pemberiannya—sampai aku menyadari Kotarou masih menggores-gores pensil di mejanya.
"Kotarou, kau tidak minum?"
"Ah, sebentar lagi selesai.."
Aku menghampirinya dengan menggunakan bangku beroda, aku berada di sampingnya terpana dengan apa yang dibuat oleh Kotarou. Di kanvas ukuran 3A terdapat sketsa diriku yang sedang terduduk serius menggambar Manga.
"Aku tidak tahu kau bisa melukis?" Kotarou hanya tertawa renyah lalu menatapku.
"Aku mempelajarinya lewat internet.."
"Woaaah~ hebat~ tapi, kenapa aku yang jadi objeknya?"
"Kenapa ya? Kupikir [f/n] itu objek yang cantik.." serunya yang membuatku tersipu.
"Kau baru sekarang menyadari pesonaku ya~" kataku menyibakan rambut, melakukan pose eksotik bak model iklan shampo.
"Jarang terlalu percaya diri.." aku merasakan cengkraman di kepalaku, yang pelakunya tentu saja Hiro-chan.
"Apaan sih, Hiro-chan! Aku ini cewek, tentu saja cantik.."
"Benarkah?"
"Benaran~" kataku yang mengembungkan pipiku kesal.
Seketika itu Hiro-chan tersenyum meremehkan, apa maksudnya? Jadi dia tidak berpikir aku cantik? Baiklah, aku tidak peduli.
Tapi, apa-apaan itu! dia seharusnya bersikap sedikit lucu, dia sama sekali tidak ada manis-manisnya. Padahal, aku juga ingin dibilang cantik olehnya!
Eh? Tapi kenapa ya?
"A—ano, Mayuzumi-san!" panggil salah satu asistant membuatku dan Hiro-chan menoleh padanya, disana dia terlihat memegang amplop berwarna coklat. "Ma—maukah kau menilai Mangaku?"
Ah, begitu. Dia ingin Hiro-chan menilai Manganya, aku sangat mengerti perasaan saat pertama kali karyamu dilihat editor.
Itu sangat menegangkan karena pertama kalinya ada orang luar yang melihat karyamu, apalagi editor itu memiliki skill membaca yang sangat cepat, tatapannya yang tajam ketika mulai menilai karyamu itu seperti akan mengulitimu hidup-hidup.
Itu hal yang menyeramkan, setidaknya itu karena yang menilai karyaku adalah Hiro-chan.
Hiro-chan mulai melihat-lihat karya asistantku yang bernama Miyazaki itu, setelah selesai membacanya dia mulai berkomentar dan memberi pengarahan pada Miyazaki. Miyazaki terlihat mengangguk-ngangguk, lalu tersenyum manis pada Hiro-chan.
"Terima kasih, Mayuzumi-san. Itu sangat membantu, aku tahu kau orang yang tepat untuk masalah ini.."
"Oh, itu bukan masalah besar" seru Hiro-chan yang sekarang mulai membawa tas tentengnya, sepertinya dia bersiap pergi untuk mengedit naskah Mangaku di kantornya.
"Kau sudah mau pergi?" tanyaku.
"Iya, aku harus mengedit naskahmu dan diskusi dengan Mangaka lainnya.."
Hiro-chan hendak pergi sampai Miyazaki menahan lengannya, Hiro-chan menoleh pada Miyazaki yang terlihat kikuk—entah bagaimana wajahnya juga mulai memerah.
"Ada apa?"
"Ah, maaf, itu.. aku hanya ingin bertanya, kalau aku selesai membuat Manganya—maukah Mayuzumi-san membimbingku dengan menjadi editorku?"
"Oh baiklah, kau bisa menyerahkan naskahnya padaku.. sekarang, bisakah kau lepaskan tanganmu dari lenganku?"
"Ah, Maaf!" Miyazaki terlihat sangat tersipu malu langsung melepaskan genggaman tangannya dari Hiro-chan.
Setelah itu, Hiro-chan pergi dari ruangan studio Manga yang ada di apartemenku. Para asistant yang lainnya mulai mengerubungi Miyazaki dengan berteriak-teriak gaje, membuatku kebingungan dengan situasi yang terjadi.
"Kau berhasil Miyazaki -san!"
"Tinggal selangkah lagi.."
"Aku gemas melihatmu, aku jadi penasaran kalau kalian nanti jadian~"
Mendengar pembicaraan ketiga asistantku, aku mulai menyadari hal ini sama seperti adegan Manga yang pernah kugambar sebelumnya! Ini adalah adegan dimana seorang gadis SMA yang berhasil melakukan PDKT dengan pemuda yang disukainya atas bantuan sahabat baiknya yang perhatian! Kira-kira itu yang aku pikirkan :v
Tapi biasanya adegan dari komik cewek seperti ini akan berakhir tanpa diketahui tokoh utama, salah satu sahabatnya juga mencintai pemuda yang sama—lalu sang sahabat yang disayanginya mengkhianatinya dan terjadilah perang memperebutkan hati doi :v
Kemudian sebenarnya pemuda itu sama sekali tak tertarik pada kedua gadis itu karena...dia homo. Tamat :v
Ehehehehehehe... sepertinya itu bagus juga~ tanpa sadar aku mulai tersenyum aneh membayangkannya.
Tunggu, bukan saatnya berkhayal seperti itu!
"Eh? Miyazaki-san menyukai Hiro-chan?"
Pertanyaanku yang epik itu membuat semua orang menatapku dengan pandangan tak percaya, mereka tercengang padaku yang masih setia dengan menyedot Cappucino.
Aku lihat Kotarou hanya tersenyum jahil menatapku, jangan bilang hanya aku yang tidak menyadari soal kisah cinta dari bawahanku sendiri?!
"Sensei, kau baru menyadarinya?" tanya Kaoru salah satu asistantku yang sudah menikah.
"Eh?"
"Padahal sudah terlihat sangat jelas!" kata Yuki salah satu asistantku yang seorang Mahasiswa.
"Eh?"
"Sensei orangnya gak peka ya~"
"Eh?"
"Pantas saja, sekarang masih jomblo.."
Jleb!
Itu sangat menyakitkan! Diriku yang rapuh bertahanlah! Aku tahu kau bisa melakukannya!
"Soalnya kalian gak pernah cerita sih.."
"Kau kan bisa melihat situasinya, Miyazaki -san selalu menatap diam-diam pada Mayuzumi-san—dilihat saja sudah mudah ditebak.."
"Tapi, kalau memang suka kenapa gak bilang saja?" tanyaku.
"Itu gak mungkin!" ucap Miyazaki.
"Kenapa?"
"Soalnya, Mayuzumi-san itu manusia yang memiliki semacam aura yang sulit di dekati. Dalam sekali lihat saja, meski dia tidak berbicara seakan-akan ada suara jangan dekati aku" jelas Kaoru.
"Meski begitu, wajah tanpa ekspresinya itu membuat dia terlihat manis~" ucap Miyazaki yang mulai ber-fangirls-ria.
"Iya-iya, aku juga berpikir begitu senpai!" komen Yuki.
"Sensei, kau teman semasa kecilnya—pasti kau tahu apa dia sudah pacar atau belum?"
Aku memiringkan kepalaku berpikir, "Dia bilang sih tidak ada.."
"Kalau cewek yang dekat dengannya?"
"Gak ada kok..."
"Bagus, Miyazaki-san ini kesempatanmu!"
Mereka mulai bersorak gembira bersama, membuatku tertawa tanpa sadar. Aku tidak menyangka ternyata salah satu dari asistantku menyukai Hiro-chan, dia ternyata benar-benar populer ya~
Yah, aku jadi penasaran kalau mereka jadian, kurasa itu akan menyenangkan. Kira-kira, bagaimana kalau Hiro-chan tahu ya?
"Kalau begitu, aku akan membantu! Aku akan buat Hiro-chan menyadari perasaanmu.."
"Benarkah? Sensei, kau baik sekali~"
Yah, kupikir Miyazaki gadis yang baik. Kalau mereka saling suka, tentu saja aku akan mendukungnya. Jangan pernah remehkan aku, selama ini gadis-gadis yang menjadi mantan Hiro-chan dapat jadian dengannya berkat bantuanku! Aku ini biro jodoh yang hebat~
Tapi kenapa aku biasa saja ya? Aku tidak merasa senang sedikitpun?
Aku beralih pada Kotarou yang sudah membereskan barang-barangnya, dia sudah mau pulang ya?
"Aku pulang dulu ya, ada proyek yang harus aku kerjakan.."
"Maaf, karena membantuku pasti kau kerepotan"
"Tidak kok, aku senang" ucapnya yang berjalan keluar studio dengan aku yang mengekorinya sampai pintu depan, dia berbalik menatapku dengan wajah datar yang baru pertama kali aku lihat.
"Bersikap baik itu bagus, pastikan itu tidak membuatmu menyesal, 'oke?"
"Apa mak—"
Kemudian dia tersenyum lebar kembali, menjadi cowok hangat yang manis, mengusap kepalaku hingga rambutku berantakan yang membuatku menepis tangannya.
"Yah, tapi itu membuatku senang sih~ kalau bisa aku tidak ingin kau menyadarinya. Sampai jumpa!"
Dia meninggalkanku dengan masih bertanya-tanya di sana. Cuma perasaanku saja? Atau cowok yang kukenal selalu saja mengatakan hal yang membingungkan?
Apa yang dikatakan Hiro-chan bahwa aku bodoh itu jangan-jangan benar?
Mana mungkin! Aku tidak mengerti bukan berarti aku bodoh, itu karena mereka selalu mengatakan hal yang membingungkan. Kalau aku bodoh, mana mungkin aku jadi seorang sensei.
Dan aku bersikap baik, karena itu hal baik.
.
.
.
.
.
TBC dengan sendirinya (?)
Jangan lupa Review, vote, follow, and comment~ :v
