Judul : Listen to Me, Baby

Chapter : 3

Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan absurd readers

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v

Rating : T mungkin, tergantung suasana hati Kyuu.

A/N :

Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v

Selamat menikmati! ;)

.

.

.

.

.

Aku menggambar Manga dalam diam, tokoh heroin kugambar dengan rambutnya yang sedang berkibar-kibar karena berlari. 5 hari lagi adalah deadlinenya, aku masih memiliki 20 halaman yang belum ku gambar. Dengan itu aku sama sekali tak memiliki waktu bersantai. Itu amat menyedihkan! Aku ingin liburan~

Hiro-chan membantu dengan menempelkan tone, sampai pandanganku teralihkan pada Miyazaki yang menghampiri Hiro-chan—dia terlihat berbincang meminta pendapat Hiro-chan. Indah sekali masa PDKT, seperti anak SMA saja.

Tanpa sadar bibirku membentuk lengkungan kurva, melihat Hiro-chan dan Miyazaki membuatku jadi ikut gemas. Apakah ini perasaan orangtua yang melihat anaknya didekati seorang gadis? Ah~ betapa bahagianya jadi orangtua.

Miyazaki gadis yang baik, dia juga cantik. Aku sudah mengenalnya sejak setahun lalu sejak Hiro-chan memperkenalkannya padaku. Dia sudah banyak membantuku, bahkan pekerjaan rumah sekalipun sampai membawakanku Makanan disaat aku membutuhkannya! Dia orang yang baik.

Tentu saja, aku restui..

Hiro-chan menoleh padaku yang menatapnya dengan tersenyum nakal, matanya memincing tak suka melihat raut wajahku yang mungkin terlihat menyebalkan di matanya.

"Apa? Kenapa menatapku begitu?" tanyanya yang membuatku mengalihkan wajahku yang masih tersenyum jahil padanya.

"Tidak ada" jawabku yang mendapatkannya menatap tajam, sudah biasa dia melakukan itu ketika jengkel terhadap tingkahku.

"Sensei, apa ada yang harus aku kerjakan lagi?" tanya Kaoru padaku yang masih melamun bodoh, aku melihat gambar di mejaku yang baru selesai setengahnya.

"Tidak ada, kalian bisa pulang.."

Setelah mengatakan itu para asistant itu mengambil barang-barang mereka bersiap pulang, sementara aku membereskan barang-barangku ke tempatnya semula.

Omong-omong, hari ini Kotarou tidak datang sepertinya dia memiliki proyek yang harus diselesaikannya, padahal aku memiliki banyak background yang harus di gambar~ dia itu bagaimana malaikat karena bantuannya membuatku lebih cepat menyelesaikan Mangaku. Tapi, aku tidak boleh terus bergantung padanya—aku harus bisa mengerjakannya sendiri.

"Mayuzumi-san.." panggilan Miyazaki pada Hiro-chan membuatku mencuri dengar sambil terkikik-kikik menahan malu, "..Apa lain kali kita bisa membicarakannya sambil minum teh di luar?"

Kyaaaaaa! Apa ini ajakan kencan? Sungguh berani!

"Baiklah, jika aku tidak sibuk" jawab Hiro-chan datar, ayolah~ bersikap lebih manis dong~

Namun hanya dengan menerima tawarannya, itu sudah membuat Miyazaki sangat senang. Terlihat sekali dari wajahnya yang berbinar-binar, entah bagaimana aku juga merasa gugup.

Setelah itu Hiro-chan pergi ke arah dapur, sepertinya dia mencuci piring di westafel. Cucian piringku memang banyak, karena aku tak mencucinya sejak 3 hari yang lalu. Bukannya aku malas, ini karena aku sibuk! Serius!

Sebelum pergi Miyazaki mengacungkan jempolnya padaku sebagai tanda sukses atas PDKTnya, aku membalasnya dengan mengacungkan jempolku juga. Semuanya tergantung padamu sekarang untuk menyatakannya.

Kini apartemenku benar-benar sepi, tak ada seorang pun selain aku dan Hiro-chan yang sedang mencuci piring. Saking sepinya hanya terdengar suara mengucur air dan bentrokan piring saat di letakan di rak. Aku terduduk di meja makan, memakan Gyoza yang sebelumnya dibuat Hiro-chan.

Rasanya yang pedas membuatku haus, aku memutuskan mengambil segelas air di kulkas. Aku menghela nafas lega, begitu selesai meminumnya. Aku melangkah beberapa langkah lalu menatap lekat-lekat wajah Hiro-chan sambil tersenyum malu.

Wajahnya cemberut terlihat mulai terganggu, meski tanpa menatapku akhirnya dia bertanya, "Kenapa sih?"

Ayolah~ kita ini sudah 18 tahun berteman, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Karena aku yakin dia bukan tipe cowok yang suka curhat, aku akhirnya yang memulai duluan.

Memberikan kode sedikit sebagai biro jodoh tak masalah, 'bukan?

"Hiro-chan, kau tahu gak? Salah satu asistant ada yang suka padamu, 'lho~" godaku tertawa jahil, "Hey, kenapa diam saja? Katakan sesuatu dong~"

"Aku sudah tahu, kok.."

"Eh?! Kau sudah tahu? Bagaimana bisa..!" aku heboh sendiri karena reaksi Hiro-chan terlihat tidak tertarik sama sekali.

"Entahlah, perasaanku bilang begitu"

Kalau memang menyadarinya, kenapa gak bilang? Aku rela mendengar keluh kesahmu, 'lho~ aku jadi penasaran bagaimana tanggapannya.

"Kalau begitu bagaimana menurutmu, Miyazaki-san? Dia gadis cantik bukan? Kurasa kalian akan sangat cocok!"

Hiro-chan menghentikan kegiatan mencuci piringnya, wajahnya menunduk jadi tak terlihat begitu jelas bagaimana dia berekspresi sekarang.

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Kupikir akan lebih baik kalau kau cepat punya pacar"

Hiro-chan menghentikan kegiatannya lalu membanting piring yang dia cuci pada westafel, untung saja itu piring plastik. Matanya menatapku garang membuatku membisu tak sanggup mengucapkan kata-kata. Entah bagaimana aku seperti masuk ke dalam delusi yang buruk saat ini.

Hiro-chan memukul westafel di dekatnya sampai menimbulkan suara gedebrak yang cukup kuat, "Kau ini sama sekali tidak peka.."

"Eh?" Aku menatap wajahnya yang terlihat marah, dia memang sering marah namun tetap mencoba sabar tapi kali ini berbeda dia sangat marah—itu membuatku ragu untuk menghadapinya.

"Aku menyukai sifatmu yang seperti itu, tapi kali ini kau keterlaluan..!"

"Apa mak—"

"Aku pulang.."

Hiro-chan langsung melewatiku begitu saja, dia mengambil tas kerja dan jaketnya, aku tidak diam saja lalu mengejar langkahnya yang lebar dan cepat menuju pintu keluar apartemen.

"Apa kau marah padaku?" tanyaku yang dihiraukannya, "Kalau ada sesuatu yang membuatmu marah, aku minta maaf.."

"Aku tidak marah.."

"Bohong! Kau bahkan tidak menatap wajahku! Sebenarnya kau ini kenapa?!"

"Aku sibuk, kau lanjutkan saja cucian piringnya sendiri.."

Kata-katanya terkesan mengalihkan pembicaraan, setelahnya dia menutup pintu membuat pembicaraan kami terputus. Aku terdiam di depan pintu itu kesal, dia itu marah kenapa sih membuatku kesal saja.

Aku menyukai sifatmu yang seperti itu, tapi kali ini kau keterlaluan..!

Ah.. aku jadi teringat saat dia mengucapkannya.. dia terlihat seperti orang yang tersakiti..

Apa itu berarti dia tak menyukai Miya-chan? ah~ kalau begitu aku telah memantik api! Bagaimana jika Hiro-chan menolaknya? Dia pasti akan sedih sekali~

Ini aneh, semasa di kampus tiap kali aku menjadi biro jodohnya. Hiro-chan tidak menolak justru dia menerima tawaran kencan cewek-cewek yang sudah menjadi mantannya sekarang, kalau kuingat lagi belum setahun dia memang selalu putus dengan pacarnya.

Setelah itu aku mendengar keluhan mantannya.

Mantan pertama bernama Haruko-senpai, dia wanita dewasa dan elegan. Keluhannya adalah..

Dia memang baik dan cukup dewasa jadi kami lumayan cocok, tapi dia terkesan cuek seperti ada oranglain yang dipikirkannya saat kami sedang kencan~

Mantan kedua bernama Natsumi aku memanggilnya Natsu-chan, dia gadis periang dan suka baseball. Keluhannya adalah..

Aku mencoba mengerti tentangnya tapi seperti ada sesuatu yang selalu disembunyikannya, aku sudah lelah dengan itu semua.. hiks.. hiks..

Mantan ketiga bernama Akira, dia gadis pendiam dan cool yang kupikir dia adalah tipe yang diinginkan Hiro-chan tapi..

Dia menyebalkan, kupikir lebih baik kita putus.

Mantan keempatnya bernama Olivia, gadis keturunan Amerika-Jepang dan kalian tahulah apa yang terjadi.

Saat itu aku berpikir nista seandainya dia berpacaran dengan cewek bernama Fuyumi, dia akan memiliki mantan lengkap empat musim, Haru-Natsu-Aki-Fuyu. Tapi nyatanya dia berpacaran dengan Olivia.

Itu dia! Ada oranglain yang disukai oleh Hiro-chan! tapi siapa? Mungkin karena itu Hiro-chan ingin aku menyadarinya. Ah~ aku merasa kasihan pada Miya-chan. bagaimana aku mengatakannya?

.

.

.

.

.

Ini sudah 5 hari, Hiro-chan sama sekali tidak datang berkunjung. Dia mungkin masih marah, memangnya dia anak kecil yang mogok bicara dengan Ibunya karena tidak dibelikan Konsol Game. Dia itu cowok dewasa yang sudah berumur pertengahan 20 tahun, tidak sepantasnya dia bersikap begitu.

"Omong-omong, Mayuzumi-san jarang berkunjung ya?"

"Apa dia sibuk ya?"

Aku mencuri dengar percakapan para asistantku yang kini bersiap pulang, aku melihat wajah Miya-chan yang terlihat sendu. Miyazaki-san! Tolong jangan berpikir Hiro-chan menjauh karena dirimu itu semua salahku, kok! Ingin sekali aku mengatakannya tapi kondisinya sangat sulit, aku takut menyakiti hatinya~

"Otsukare.."

"O—otsukare~"

Sekarang asistantku sudah pergi semua, menyisakan diriku yang berduaan dengan Kotarou di Studio Mangaku. Kotarou lagi-lagi membuat goresan di kanvas, belakangan ini dia suka menggambarku.

"Selesai~"

"Lagi? Kau menggambarku? Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan?"

"Ini hanya hobi, kok.."

"Huh..?"

"Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Ng—nggak ada kok.."

Pertanyaan Kotarou membuatku gelagapan, aku hanya tersenyum canggung menyembunyikan masalahku dengan Hiro-chan. Kotarou memincingkan matanya padaku dengan curiga. Aku seperti penjudi yang tertangkap basah main curang.

"Apa kau punya masalah dengan Mayuzumi-san?"

Checkmate! Kenapa dia dapat menebaknya dengan begitu tepat?! Apa kebohonganku terlihat begitu jelas?! Sejak kecil aku tak pernah diajarkan berbohong, karena itu aku tidak tahu bagaimana caranya berbohong yang benar.

"Se—sebenarnya.."

Karena merasa terpojokan seperti pada permainan catur, dimana raja terhalang oleh benteng yang didukung kuda, dengan raja berada area pojok. Wah, tak kalah tragis bentuk checkmate satu itu. Makanya kadang kita harus berhati-hati dengan benteng baris 2 atau 7, terutama bagi pemula!

Akhirnya aku menceritakan semua masalahku, mulai dari saat aku menggoda Hiro-chan yang kemudian dia marah—sampai hal yang tak kumengerti tentang hal yang membuatnya sangat marah.

"Hmm.. begitu ya? Sudah kuduga.."

"Apa kau tahu apa yang membuatnya marah?"

"Tentu saja~"

"Kalau begitu apa?"

"Kasih tahu gak ya~"

Sebenarnya candaannya sedikit membuatku kesal, aku mencoba sabar dengan membalas candaan garingnya.

"Kasih tahu dong~"

"Tidak akan kuberitahu~"

"Heh?!"

"Menurutku lebih baik kau tanyakan saja sendiri pada Mayuzumi-san langsung.."

Seandainya Kotarou belum melesat saat itu juga, jitakanku padanya pasti tidak meleset. "Hey, jangan lari kau!" kataku yang penuh emosi karena dijahili. Kotarou hanya tertawa mengejek dan berlari keluar apartemenku.

Aku yang malas hanya berdiri di depan pintu apartemen dengan mengembungkan kedua pipiku kesal, yang kini amarah membuat wajahku jadi agak memerah.

Aku kembali ke dalam apartemenku, memasuki ruang tamu yang keadaannya mengenaskan. Sampah jajanan ringan, ramen cup, kertas-kertas untuk membuat karakter baru berceceran di lantai. Bukan hanya itu baju kotor dan remah-remah makanan, semuanya membuat rumahku terlihat menjijikan.

Yah, aku tahu itu salahku juga -_-

Kemudian aku melihat ke arah dapur yang sama mengerikannya, bedanya cucian piring di sana menumpuk bahkan aku tidak punya stok piring dan gelas yang bersih.

Umurku sudah 24 tahun, aku tahu kehidupanku sebagai wanita dewasa benar-benar buruk.

Bukan saatnya patah semangat, tanpa Hiro-chan pun aku bisa mengurus diriku sendiri. Akan aku buktikan, lihat saja!

Aku mulai mengumpulkan semua sampah ke dalam kantong plastik, tidak lupa memisahkan sampah kering, basah, dan B3. Setelah itu aku mengambil baju kotorku untuk mencucinya, aku memasukan baju kotorku ke dalam mesin cuci beserta sabun deterjen. Saat aku ingin memencet tombol untuk membuatnya berputar, aku terdiam melihat betapa banyaknya tombol di sana.

Ini mesin cuci atau keyboard komputer? Kenapa tombolnya begitu banyak? Selain itu juga pakai bahasa inggris semua lagi, lalu aku teringat hasil ulangan bahasa inggrisku yang tersemat angka 16 di bagian pojok kertas saat SMA dulu.

HAAAAAAA! KENAPA AKU HARUS TERINGAT ANGKA TERBURUK ITU?!

Oke, tenang! Aku tinggal mengingat bagaimana Hiro-chan menggunakan mesin ini. Pasti pencet yang ini dulu, tanganku menekan tombol yang bertuliskan air dry. Seketika mesin cuciku langsung bergelutuk dengan mengerikan, aku langsung mencabut stop kontak mesin cucinya dengan panik. Mesin cuciku kemudian mati dengan tenang, membuatku bernafas lega.

Karena tak ingin terjadi hal buruk lagi, aku mengobok-ngobok lemari kamar mandiku yang untungnya di sana ada buku panduan menggunakan mesin cuciku. Aku bersyukur karena tidak membuang buku panduan ini sambil menangis terhura, karena biasanya aku membuang buku panduan dari barang elektronik yang aku beli.

Aku membuka buku panduan mesin cuciku dengan tidak sabar langsung ke halaman tengah, senyumku yang merekah sirna begitu melihat tulisan di buku itu yang menggunakan bahasa inggris. Aku melempar kesal buku itu, terdiam sejenak, lalu kuambil lagi buku itu seperti orang bodoh saja.

Ah, ternyata di halaman awalnya adalah terjemahannya. Ada yang bilang jangan membaca buku dari halaman tengahnya, karena kau tidak akan mengerti jalan ceritanya meskipun pembuka ceritanya sangat membosankan.

Kali ini mesin cuciku berputar secara normal setelah aku mengikuti intruksi di buku, aku masih merasa jengkel—bagaimana bisa aku tidak bisa menggunakan mesin cuciku sendiri?

Sembari menunggu cucian, aku kembali ke ruang tamu yang ngeres. Aku mencari-cari mesin penyedot debuku tapi sulit ditemukan.

Sebenarnya bagaimana Hiro-chan mengatur barang-barangku di rumah? Dia seperti Ibuku saja, dia tahu segala seluk beluk yang ada di rumahku.

Akhirnya aku menemukannya, ternyata dia meletakkannya di samping rak bukuku yang tertutupi horden. Aku menyalakan mesin penyedot debuku, menaikan lengan bajuku lalu berjalan ke arah remah-remah makanan yang berceceran. Untungnya, aku pernah menggunakan mesin penyedot ini jadi aku tidak perlu repot seperti saat menggunakan mesin cuci tadi.

Setelah selesai aku mengepel lantai, merapikan barang-barangku, menjemur baju, lalu mencuci piring. Meskipun, ada dua piring dan satu gelas yang aku pecahkan.

Aku tersenyum bangga melihat rumahku yang sudah kinclong, lihat saja aku bisa melakukannya tanpa bantuan Hiro-chan. Aku ini jenius!

Krek!

Tiba-tiba aku merasakan pinggangku yang terasa encok, dengan susah payah aku berjalan ke arah sofa dan merebahkan diri di atasnya. Sudah kuduga, pekerjaan rumah itu menyakitkan! Aduh sakit sekali, ini membuatku menderita.

Mungkin lebih baik aku tiduran dulu..

Untuk meminimalisir rasa sakitnya aku menutup mata, karena saking lelahnya berulang kali mataku mencoba tertutup namun aku menahannya karena ada Talkshow komedi yang harus kutonton. Setidaknya aku harus merekamnya dulu, oh tidak, pertahananku runtuh.. aku tidak bisa menahannya lagi..

Dan tanpa sadar saat itu pun aku tertidur pulas.

.

.

.

.

.

Gelap, oh benar juga, aku kan ketiduran. Aku mencoba membuka mataku meskipun terasa sulit. Ugh, berat~ apa ini Dakimakura Levi-san? Perasaan aku tidak memakainya saat tidur. Indra perasaku mulai merasakan adanya benda kenyal yang menempel di bibirku.

Aku telah membuka mataku seluruhnya untuk melihat apa yang terjadi, rambut perak lembut memasuki area penglihatanku membuatku sedikit kelilipan. Sampai aku merasakan aroma khas yang biasanya tercium, bau ini seperti Hiro-chan.

Mataku terbelalak begitu menyadari wajah Hiro-chan begitu dekat dengan wajahku, aku merasakan bibirnya yang bertautan dengan bibirku, matanya terpejam. Tubuhku melemas, aku tidak kuasa melawan, aku terlalu terkejut untuk itu.

Eh?

Hiro-chan melepaskan tautan antara bibir kami, matanya yang kosong menatapku sendu sementara aku menatapnya nanar.

Apa maksudnya ini? Kenapa kau menatapku begitu?

Dia mulai mendekatkan wajahnya lagi.

"Tunggu.." aku menahan tubuhnya dengan mendorong dada bidangnya dengan tangan bergetar.

Dia malah mencengkram tanganku, menyelipkan jari-jarinya pada sela jariku, menahan tanganku di samping wajahku, menindih tubuhku yang berada di bawahnya. Hiro-chan menatap lurus padaku, membuat jantungku berdegup kencang. Jangan bilang wajahku memerah saat ini, kumohon berhenti menatapku.

Hiro-chan untuk kedua kalinya dia menciumku tepat di bibir, awalnya hanya menempel semata namun semakin lama tautannya berubah menjadi pagutan yang menggebu-gebu. Hal itu membuat aku tak bisa bernafas dengan baik, dia melepaskan pagutannya begitu kehabisan nafas. Kami mengambil nafas sebanyak-banyaknya, dapat kulihat dengan jelas wajahnya yang terengah-rengah.

Kepala Hiro-chan turun pada perpotongan leherku, membuatku merasakan deru nafas hangatnya. Dia tak melakukan apapun hanya terdiam saja beberapa saat sampai dia melepaskan tautan jarinya pada sela jariku, terbangun dari posisinya yang memperangkapkan diriku.

"Maaf.." bisiknya dengan suara serak.

Aku juga terbangun, mengubah posisiku menjadi duduk. Aku tak dapat melihat wajahnya yang tertunduk dengan tangan yang menutupi wajahnya, aku ingin mengatakan sesuatu tapi entah bagaimana bibirku tak dapat terbuka.

Malam itu adalah awal mula kecanggungan yang semakin menjadi antara kami berdua.

.

.

.

.

.

TBC dengan canggungnya :v

Maafkan Kyuu yang bodoh