Judul : Listen to Me, Baby
Chapter : 4
Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan absurd readers
Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v
Rating : T mungkin, tergantung suasana hati Kyuu.
A/N :
Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v
Selamat menikmati! ;)
.
.
.
.
.
Sekarang ini aku bahagia dengan Mangaku yang memenangkan kompetisi, terlihat jelas dalam lembar pengumuman yang ada di majalah Manga bulanan, aku juga mendapat kabar dari telpon beberapa waktu lalu atas kemenanganku, lebih mencengangkan lagi aku akan dikirimin hadiah berupa uang pada rekening pelajarku.
Aku berlari menuju atap sekolah tempat yang biasanya menjadi tongkrongan Hiro-chan. memeluk majalah Manga bulan ini seraya tersenyum lebar, perasaan berdebar-debar muncul ketika aku sampai tepat di depan pintu atap. Aku membukannya tanpa permisi, tidak sabar dengan kabar bahagia yang akan aku sampaikan pada sahabat masa kecilku. Alias pamer :v
"Hiro-chan~!" panggilku dengan nada riang.
Biasanya perilakuku yang tak sopan itu akan membuatnya menggerutu keras dengan wajah garang, tapi kali ini berbeda. Aku dapat melihat Hiro-chan tertidur pulas bersandar pada pembatas atap dengan Light Novel bercover gadis anime yang moe.
Benar juga, setelah ujian akhir semester tentu saja dia akan tertidur. Dia kan sekarang sudah kelas 3, sudah penuh tekanan dengan banyak ujian. Belum lagi beberapa waktu lalu, Rakuzan kalah dalam kompetisi basket Winter Cup.
Padahal aku sudah berteriak memakai toa dan membuat kipas berukuran besar dengan tersemat tulisan "Fight, I Love Hiro-chan", aku heboh sendiri seperti nonton konser EXO—tapi pada akhirnya kami hanya mendapat juara 2.
Setidaknya Rakuzan juara 2.
Perlahan aku mengambil buku yang ada di wajah Hiro-chan, terlihat matanya yang tertutup pasrah. Terlintas pikiran iblis dalam otakku. Aku mentoel pipinya, dia tidak terganggu dan masih tertidur. Sekali lagi, aku memencet hidungnya dengan lebih kencang. Dia mulai merasa terganggu, lalu memindahkan posisi wajahnya.
Hyahahahahahahahaha! Tiba-tiba jiwa terpendamku tertawa jahat.
Dengan jiwa iblis jahil yang masih bersemayam untuk mengganggu Hiro-chan, aku langsung mencubit kencang pipinya gemas.
Hyahahahahahahahaha! Rasakan ini dasar kau pria sombong!
Entah bagaimana aku memiliki dendam terpendam padanya karena dia telah membuatku bergadang semalaman mengerjakan soal Fisika yang tidak aku sukai, meskipun itu semua berkat paksaan Ibuku.
Tiba-tiba tanganku merasakan pergerakan Hiro-chan.
Gawat! Dia akan bangun!
Hal itu membuatku langsung bangun dan menjauh darinya, aku bersembunyi di balik bangunan pintu atap. Syukurlah dia tidak bangun, hanya mengubah posisi duduknya dengan kepala yang bersimpuh dengan lututnya dan tangan yang memeluk kakinya.
Perlahan aku mendekatinya, melihatnya membuatku tersenyum. Hiro-chan ternyata terlihat manis saat tertidur ya~ tanganku mulai mendekati puncak kepalanya, tapi tanganku tertahan karena genggaman seseorang. Itu adalah tangan Hiro-chan sendiri, ternyata benar dia sudah bangun.
"Hiro-chan?"
Dia tak mengatakan apapun, hanya menatapku dalam diam. Dia menarikku membuatku mendekati wajahnya dan bibir kami bersentuhan.
Kami berciuman.
.
.
.
.
.
"HYAAAAAAAAAAAAH?!"
Aku berteriak gak slow dan terbangun dari kasurku dengan syok. Aku tersadar bahwa jam alarm handphoneku berbunyi, aku mengambilnya lalu mematikan alarm.
Aku terduduk di kasur dengan selimut yang aku jadikan kerudung, menutupi seluruh tubuhku. Aku berpikir dengan jernih kali ini, sepertinya aku baru saja memimpikan masa lalu yang aneh.
Aku berjalan lemas ke arah dapur, menuangkan air di keran ke dalam teko listrik untuk membuat air panas. Lalu aku berjalan ke arah westafel mencuci muka, setelahnya aku melihat bayanganku di cermin tepatnya pada bibirku yang basah.
Aku teringat kejadian 3 minggu lalu, wajahku langsung memerah mengingatnya. Aku menggeleng kencang menolak kejadian itu, tidak mungkin pasti Hiro-chan hanya bercanda.
Aku mengelap wajahku dengan handuk yang tergantung di samping cermin, lalu mengambil sikat gigi dan memoles odol di atasnya. Aku menggosok gigi keras, berharap bekas ciuman itu akan lenyap.
Percuma saja, aku tetap mengingat kejadian itu—tentu saja, itu kan ciuman pertamaku.
Selesai menggosok gigi, aku melihat teko listrikku dengan air yang sudah mendidih di dalamnya. Menekan tombol off dan mencabut colokannya. Aku mencari coklat instan di lemari dapurku, tapi tidak ada. Aku lupa sudah sejak 3 minggu berlalu aku tidak ke supermarket untuk membeli persediaan makananku.
Aku menuju kulkas dan mengambil minuman berenergi, jangan tanya kenapa pola hidupku sangat tidak sehat.
Sudah sejak 3 minggu lalu, Hiro-chan tidak menghubungiku. Dia juga tidak pernah memasakkan makanan untukku lagi, jangankan memasak dia sama sekali tidak memperlihatkan batang hidungnya.
Para asistant juga merasakan hal yang aneh dengan Hiro-chan, tentu saja itu membuat Miyazaki sedih. Dia berpikir itu salahnya, bahkan Hiro-chan juga tak mengangkat telpon darinya.
Itu semua salahku.
Seandainya saat itu aku tidak mencomblanginya, dia tidak akan marah—ciuman itu juga tak akan terjadi.
Sekarang ini untuk pertama kalinya, aku tidak melihatnya dalam waktu yang begitu lama.
Ringtone handphoneku berdering, aku langsung melihat nama yang tertera di layar handphoneku.
Hiro-chan Call
Mataku langsung terbelalak dan tanpa sadar aku hampir menjatuhkan handphoneku, apa dia tahu aku memikirkannya?!
Dia memang pria yang menakutkan!
Aku memencet ikon berbentuk gagang telpon berwarna hijau dengan tangan bergetar, "Mo—moshi-moshi.."
"Kenapa bahasamu jadi formal begitu?"
"Ah, ng—nggak.. ada apa?"
Sudah lama aku tidak mendengar suaranya, apa suaranya selalu terdengar ringan seperti ini? Dia terlihat baik-baik saja..
"Gomen, aku tidak bisa mengambil naskahnya—karena harus mengikuti pertemuan rapat dengan bagian penjualan. Bisa kau antarkan naskahnya ke kantor?"
Bilangnya begitu, tapi kau hanya tidak ingin bertemu denganku, 'kan?
"Baiklah, akan aku antarkan sendiri.." jawabku.
"Hn, makasih.."
Dia sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku.
.
.
.
.
.
Aku menunggu di ruang tunggu, kulihat Reo-nee keluar dari lift tersenyum menawan ke arahku. Aku membalasnya, dia duduk di depanku yang dibatasi oleh meja di tengah kami. Aku menyerahkan naskah Mangaku yang sudah terbungkus amplop coklat.
"Gomen [f/n]-chan, kau sampai harus repot-repot mengantar naskahnya padahal ini pekerjaan kami sebagai editor.."
"Ah, tidak kok. Aku juga ingin belanja nanti, jadi sekalian saja.."
Reo-nee memangku wajahnya dengan tangannya yang lentik meskipun dia adalah laki-laki, "Jadi apa yang sedang terjadi? Kau bisa curhat padaku~"
"Eh? Ti—tidak ada kok.."
"Beberapa hari ini, Mayuzumi-san terlihat sering melamun saat bekerja—bahkan dia sampai lupa waktu, dia lembur tanpa memikirkan kesehatan. Kupikir mungkin kau tahu masalahnya?"
"Be—begitu ya? Aku tidak tahu.."
"Tidak apa, kalau kau belum ingin terbuka menceritakannya. Mungkin lain kali, kita bisa membicarakannya sambil minum-minum"
Perbincangan kami hanya sebatas itu, Reo-nee kemudian pergi membawa naskahku. Dan aku berjalan keluar kantor dengan lesu, mendengar apa yang dikatakan oleh Reo-nee mengenai Hiro-chan membuatku mengkhawatirkannya.
Aku tidak pernah mengerti dirinya, dia selalu saja menahan apa yang dirasakannya. Mau aku mencoba membuat dia lebih terbuka, tapi biasanya itu hanya akan membuat masalah menjadi rumit.
Sebelumnya kami tidak pernah bertengkar seperti ini, eh? Apa saat ini kami sedang bertengkar? Daripada bertengkar bukankah ini lebih rumit?
Maksudku setelah menciumku waktu itu dia hanya bilang maaf, lalu pergi begitu saja. Itu tidak bisa disebut pertengkaran, dia juga tak muncul sama sekali sejak saat itu.
Apa dia malu? Kalau memang malu, dia tak perlu memikirkannya. Bagi orang eropa ciuman itu seperti berupa sapaan dan candaan, 'kan? Seharusnya dia tak perlu memikirkannya. Walaupun aku sedikit marah sih, soalnya itu kan ciuman pertamaku.
Ciuman pertamaku yang berharga sudah menjadi berantakan, huhu~
Bukan saatnya memikirkan itu, saat ini aku kan sedang senggang. Kenapa aku tidak bersenang-senang saja? Memanjakan diriku yang sudah bekerja keras..
Tanpa pikir panjang aku pergi ke pusat perbelanjaan, lebih tepatnya pada super market karena persediaan kehidupanku sudah habis. Aku memasukan banyak makanan instant dan jajanan ringan.
Selesai dengan itu, aku menuju ke arah rak persediaan obat-obatan. Untuk ganti suasana aku membeli masker wajah dan masker mata, karena belakangan ini aku kurang tidur berkat deadline yang membuat mataku agak menghitam.
Aku membayar di kasir, awalnya kasir perempuan namun saat giliranku berubah menjadi laki-laki. Begitu melihat wajahnya aku terperangah, orang ini tampan sekali! Mungkin lain kali kujadikan tokoh utama di Mangaku selanjutnya!
"Maaf, boleh saya minta foto anda?"
"Ha—hah?!"
Meskipun pria kasir itu agak bingung, akhirnya aku mendapatkan fotonya.
Aku membeli minuman Teh Thailand dengan eskrim di atasnya, lalu duduk di cafe kopi pinggir jalan. Ternyata merilekskan kepala setelah begitu banyak pikiran yang membuatku pusing itu ide bagus.
Aku melihat-lihat kondisi jalanan yang dipenuhi mobil yang berhenti akibat lampu merah, sesaat lampu berubah hijau dan mobil-mobil berjalan aku melihat keganjalan di seberang jalan.
Mataku terbelalak melihat Hiro-chan dan Kotarou terlihat berbincang-bincang sambil meminum kopi, tunggu, sejak kapan mereka terlihat akrab? Setahuku yang mereka bicarakan selama ini hanya masalah pekerjaan, hobi mereka juga berlawanan. Lalu—
bagaimana bisa?!
Aku akhirnya memutuskan membawa belanjaanku untuk menghampiri mereka, aku menyeberang jalan yang lampunya sedang merah. Aku mendekati mereka dengan perasaan senang, siapa tahu mereka bisa menemaniku nonton bioskop hari ini? Dan memperbaiki suasana buruk yang terjadi antara aku dan Hiro-chan?
"Jangan bercanda!"
Tapi sebelum mendekati mereka aku mendengar geraman Hiro-chan yang terlihat sangat marah, membuatku berhenti lalu bersembunyi di balik semak-semak.
A—apa mereka sedang bertengkar?
Tunggu, kenapa aku bersembunyi?
Mereka saling memandang dengan pandangan tajam, suasana di antara mereka juga terasa kaku dan buruk. Membuat orang-orang yang melewati mereka waswas tak ingin ikut-ikutan dalam pertengkaran mereka.
Apa yang mereka perdebatkan?
Yah, mereka memang tidak akrab tapi mereka tidak pernah bertengkar untuk hal sepele. Itu membuatku semakin penasaran. Hiro-chan terbangun dari duduknya, terlihat dia tak ingin meneruskan pertengkaran mereka—namun Kotarou menahan lengan Hiro-chan dengan tak kalah geramnya.
"Kau memang pengecut, Mayuzumi-san!"
Hiro-chan mencengkram kerah baju Kotarou, memandangnya galak.
Ah, gawat! Kalau ini berlanjut mereka pasti akan saling berkelahi, karena tak ingin itu terjadi aku akhirnya keluar dari persembunyianku untuk menghentikan mereka. Namun—
Hiro-chan menarik wajah Kotarou mendekati wajahnya, aku tidak melihatnya lebih jelas sih—tapi aku syok.. SANGAT SYOK!
Bukankah itu berarti mereka berciuman?!
Sahabat masa kecilku dan teman sekelasku waktu SMA?
Seketika tubuhku tak bisa bergerak, teh thailandku terjatuh di tanah dengan mengenaskan. Wajahku memerah melihat pemandangan yang.. err.. ambigay?
Tunggu, jadi selama ini mereka—lalu bagaimana dengan ciuman yang terjadi padaku saat itu?!
Ah, aku mengerti. Malam itu kemungkinan Hiro-chan memiliki masalah dengan hubungan mereka karena itu dia menciumku karena mengira aku Kotarou. Makanya dia juga sangat marah saat aku mencomblanginya dengan Miyazaki.
Aku tak kuat menghadapi kenyataan langsung meninggalkan tempat itu dengan masih syok akan apa yang aku lihat, barusan aku melihat adegan yang sering aku baca di komik BL menjadi kenyataan.
Mereka selama ini memang tak pernah mengatakan apapun, mungkin karena mereka sesama lelaki?
Tapi kenapa? Kenapa mereka harus menyembunyikannya?
Meskipun aku perempuan, aku tidak rasis terhadap hal berbau homonitas. Mereka juga tahu bahwa aku Fujoshi.
Lalu kenapa?
"Hyaaaaaaaaaaaaaaah?!" seketika aku berteriak membuat orang di sekitarku terperanjat, aku berlari dengan membawa belanjaanku guna menghilangkan perasaan aneh yang menerpa pikiranku.
Meski begitu, entah bagaimana aku tidak rela! Aku tidak rela! Tapi aku juga menyukainya! Kenapa kau lakukan semua ini padaku, oh tuhan?!
.
.
.
.
.
Sekarang sudah jam 7 malam, aku yang sangat syok menghadapi kenyataan akhirnya bermain di game center berjam-jam, aku juga akhirnya meluapkan emosiku bernyanyi karaoke sendirian—ah tidak, kalau tidak salah tadi aku mengajak sekelompok murid SMA di game center.
Aku memandang secangkir Parfait Strawberry di bar, dengan seorang pria gemulai di sebelahku saat ini. Dia tentu saja Reo-nee, mungkin terlalu cepat menghubunginya sekarang padahal dia baru saja bertemu denganku tadi siang.
"Ahahahahahaha~ Itu tidak mungkin.." tawanya renyah setelah aku bercerita hal yang terjadi antara Hiro-chan dan Kotarou.
"Itu benar! Aku melihatnya, yah, meskipun tidak begitu jelas sih~"
"Tidak mungkin, kau pasti salah mengerti"
"Kenapa Reo-nee bisa seyakin itu?"
"Terkadang sifatmu yang lugu memang lucu [f/n]-chan, tapi karena itulah aku tidak bisa mengatakan apapun.."
"Aku tidak begitu mengerti, terkadang aku merasa hanya aku yang tidak tahu apapun. Bahkan, Reo-nee juga tidak memberitahuku~"
Aku merasakan tangan besar Reo-nee menepuk puncak kepalaku, aku memandangnya yang tersenyum lembut padaku. Dari dulu meski seumuran, dia memang terlihat seperti sesosok kakak perempuan yang perhatian bagiku, padahal dia laki-laki.
"Aku lebih senang jika [f/n]-chan mencoba mencari jawabannya sendiri, karena begitulah cara manusia menjadi dewasa.."
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, sebenarnya aku juga sedikit stress karena pekerjaan~ jadi, ayo kita minum-minum sampai puas!" katanya yang kemudian kami berdua memesan bir sebanyak-banyaknya.
15 menit kemudian.
"Hahhahah~ pekerjaanku sangat sulit, hiks! Bahkan, aku terkadang harus lembur~ pacarku marah, dan kami bertengkar~ hiks!"
"Reo-nee kau bilang kita akan minum sepuasnya, tapi kau sudah mabuk duluan.."
Ternyata dia tidak tahan dengan alkohol -_-
Aku mengangkat badan Reo-nee yang cukup berat, sudah cukup aku harus mengantarnya ke taksi. Aku menaruh sejumlah uang di meja bar, aku agak kesulitan berjalan dengan merangkul tubuh Reo-nee. Kepalaku bertabrakan dengan seseorang, karena langkahku yang oleng membuatku hampir terjatuh namun orang yang kutabrak membantu menahan tubuh Reo-nee.
"[f/n]?"
Aku mendengar suara yang biasanya aku dengar, aku mendongak melihat Hiro-chan di hadapanku membuatku seketika menjadi gugup. Hiro-chan melihat Reo-nee yang mabuk sedang kurangkul, Reo-nee bergurau dari mabuknya begitu melihat Hiro-chan.
Reo-nee berdiri lebih tegak, tersenyum-senyum ke arah Hiro-chan.
"Ah~ Mayuzumi-san~ kau di sini, kau tahu tidak? [f/n]-chan bilang padaku bahwa—mmmpph.." aku langsung membekap mulut Reo-nee untuk tidak berbicara, ternyata keadaaannya yang mabuk cukup merepotkan.
"Ada apa ini?" Hiro-chan langsung berbicara dengan tampang serius.
"Bukan apa-apa! kami hanya mengobrol tentang masa lalu, benar juga, menghadapi orang mabuk agak merepotkan—bisa kau membantuku?"
Saat bibirku terbuka untuk mengatakan alasan lain, dari kejauhan ada seorang gadis yang terlihat cantik dan dewasa memanggil Hiro-chan bahkan dia tanpa malu menyentuh lengan Hiro-chan. Hiro-chan langsung memberi isyarat padanya, gadis itu tersenyum dan mencari tempat duduk untuk mereka.
Aku baru tahu Hiro-chan punya kencan dengan gadis secantik itu? bukannya dia homo? :v
"Maaf, aku tidak bisa membantumu.." katanya yang terkesan cuek, dia langsung pergi menghampiri gadis itu.
Apa itu? menyebalkan!
Padahal ada masalah dengan Kotarou, tapi dia malah kencan dengan gadis lain! Dasar pria gak konsisten!
Ke—kenapa aku jadi ikutan marah? Sudahlah, yang penting aku harus mencari taksi untuk Reo-nee dulu.
Supir taksi membantuku memasukan Reo-nee ke dalam taksi, lalu aku memberi alamat rumah Reo-nee yang kulihat di kartu namanya pada taksi. Supir taksi yang mengerti kemudian mulai menyalakan mesin dan mengantar Reo-nee.
Meskipun sudah malam, ternyata musim panas di Tokyo selalu membuatku gerah. Aku menuju stasiun kereta, memastikan saldo pada kartu keretaku. Setelah mengetahuinya aku langsung berjalan ke mesin pintu masuk stasiun yang terbuka otomatis ketika aku menempelkan kartuku.
Aku menunggu kereta yang aku tunggu, sekilas aku teringat dengan Hiro-chan dan gadis tadi. Sepetinya mereka terlihat sangat dekat, Hiro-chan juga diam saja saat gadis itu merangkul lengannya. Itu membuatku kesal saat mengingatnya.
Padahal dia homo, oh, atau dia ingin taubat?
Entah bagaimana aku merasa kesal, dia cuek sekali tadi bahkan tidak membantuku. Padahal sudah lama tidak bertemu, apa dia tidak merindukanku?
Eh? Barusan sepertinya aku memikirkan sesuatu yang sangat gawat (T_T)
Kereta akhirnya tiba, aku memasuki pintu masuk yang sudah terbuka. Meskipun jam 8, gerbong kereta masih saja ramai. Akhirnya aku memilih berdiri di dekat pintu kereta, awalnya aku melihat pantulan wajahku di jendela kereta.
Tapi kemudian pemandanganku teralihkan oleh poster yang tertempel di kaca jendela. Poster itu memperlihatkan gambar kembang api yang cantik, tertera tanggal, tempat dan acara yang di adakan. Itu acara festival kembang api.
Acaranya dekat kuil di daerah perkomplekan apartemenku. Aku ingin datang~
Tunggu, aku kan sudah dewasa! Kenapa aku masih ingin datang ke acara seperti itu? Yah, seandainya hubunganku dengan Hiro-chan sedang baik pasti aku akan memaksanya ikut juga sih~
Tidak butuh waktu lama, pemberitahuan stasiun yang aku tuju terdengar dan pintu terbuka begitu sampai di stasiun.
Entah bagaimana aku masih memikirkan festival kembang api dalam perjalanan pulang, aku ingin datang bersama Hiro-chan. Padahal biasanya dia akan mengajakku duluan, lalu mentraktirku banyak makanan sebagai ganti kerja kerasku.
Aku memegang belanjaanku dengan erat, untuk pertama kalinya aku begitu ingin menghabiskan waktu bersamanya.
.
.
.
.
.
TBC dengan gantungnya :v
