Judul : Listen to Me, Baby
Chapter : 5
Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan absurd readers
Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v
Rating : T mungkin, tergantung suasana hati Kyuu.
A/N :
Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v
Selamat menikmati! ;)
.
.
.
.
.
Kali ini untuk pertama kalinya aku benar-benar marah. Tentu saja, setiap pria pasti akan marah ketika gadis yang kau sukai mencomblangimu dengan gadis lain. Aku membuka pintu apartemenku gusar seraya mengendurkan ikatan dasi pada kerah kemejaku.
Aku menghempaskan diriku di sofa yang empuk, menutup mataku yang mengantuk.
Kupikir akan lebih baik kalau kau cepat punya pacar..
Perkataannya dan wajah polosnya ketika mengucapkan kalimat itu terngiang dibenakku, sampai sekarang pun [f/n] tidak menyadarinya—dan untuk seterusnya akan selalu sama.
Aku terbangun untuk mengambil minum di teko kaca yang berada di atas meja dapur, melihat ikan di aquarium yang aku pelihara membuatku teringat bahwa aku belum memberi mereka makan. Aku mengambil butiran kecil-kecil berwarna merah lalu menaburkannya di atas aquarium.
Ikan-ikan langsung menghampiri apa yang aku tabur, salah satu ikan koi yang berwarna putih menjadi perhatianku. Aku teringat jelas, musim panas tahun lalu [f/n] yang menangkap ikan itu saat aku pergi ke festival kembang api—atau lebih tepatnya dia yang memaksaku.
Jari telunjukku menyentuh cermin pada ikan koi berwarna putih itu berenang, bahkan mungkin pemilikmu sama sekali tak ingat padamu.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku bergegas ke kamar mandi untuk membasuh tubuhku yang terasa gerah. Aku membuka pakaianku satu persatu, pergi ke bilik dan menyalakan shower. Dinginnya air membuatku menikmatinya dalam diam, seketika aku teringat kenangan masa kecil kami.
Biarpun aku lebih tua setahun darinya, dia itu tak pernah memanggilku dengan sebutan kakak. Dia menjengkelkan dan berisik. Meski aku sudah memarahinya dengan perkataan kasar dia tetap mengikutiku.
Sampai akhirnya aku terbiasa dengan panggilan Hiro-chan dan kehadirannya setiap saat.
Sejak awal aku tahu, kami sama sekali tak cocok.
.
.
.
.
.
Aku keluar dari stasiun kereta, berjalan sebentar melewati pertokoan sampai menemukan kantor penerbitan tempatku bekerja. Aku memasuki kantor dengan melewati orang-orang yang memandangku aneh bahkan ada yang sampai tak ingin menatapku. Aku tidak peduli, tetap berjalan menuju lift.
Saat aku memasuki lift, tak ada seorangpun yang ingin menaiki lift yang sama denganku. Aku bertanya pada mereka yang hanya menggeleng. Tidak ambil pusing aku akhirnya menekan tombol ke lantai 4.
Sesampainya pada ruangan Editor Manga yang di bagi 4 divisi, aku memasuki bilik divisi yang disebut kelompok otomebu. Entah kenapa disebut begitu, banyak yang bilang karena divisi ini di huni oleh pria yang super tampan.
"Ohayou.." sapaku pada rekan kerja yang lain.
"Ohayou, Mayuzumi-san—uagh!" pria cantik bernama Mibuchi Reo itu tersedak ketika meminum kopinya, dia menatapku seperti menatap setan—meski hal itu biasa saja untukku karena aku sudah biasa terlupakan oleh orang banyak.
Mibuchi-san yang dulunya adalah adik kelas, langsung menangkup wajahku panik. Sebenarnya itu membuatku risih, perhatiannya yang berlebihan itu memang selalu membuatku risih.
"Mayuzumi-san, ada apa dengan wajahmu?! Wajah tampanmu itu aset penting untuk divisi kita, harusnya kau jaga baik-baik dong!"
Jadi itu masalahmu, sialan?
Aku langsung menepis tangannya dari wajahku, "Aku tidak apa-apa, aku hanya begadang menyelesaikan pekerjaanku memeriksa name.."
"Begadang itu tidak baik! Matamu mudah sekali menghitam lho~"
"Ini semua gak ada hubungannya denganmu.."
Setelah aku mengucapkan kalimat, Mibuchi-san hanya menghela nafas pasrah. Dia kembali duduk di kursi kerjanya, sepertinya dia sudah mulai menyerah untuk menasehatiku.
Sebenarnya aku sudah 5 hari tidak bertemu [f/n], bagaimana kabarnyanya ya? Pasti rumahnya sudah seperti kapal pecah, bahkan dia tidak mengerti cara menggunakan mesin cuci.
Biar saja, dia sudah cukup dewasa mengurus kebutuhannya sendiri. Kalau terus dimanjakan dia hanya akan jadi manusia tak berguna yang hanya bisa menggambar Manga. Pasti saat ini dia sedang sibuk membaca buku panduan mesin cuci karena tidak tahu cara menggunakannya.
/tiba-tiba [f/n] yang sedang membaca buku panduan mesin cuci di rumahnya terbatuk-batuk tersedak debu/
Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa saat ini aku sangat merindukannya.
Mungkin nanti aku akan pergi menjenguknya sebentar, lagipula aku harus mengambil naskah yang harusnya dia selesaikan hari ini—aku agak khawatir dia akan memecahkan piring saat mencuci piring atau terpeleset saat mengepel.
.
.
.
.
.
"Selamat datang.." ucapan selamat datang aku dapatkan dari pegawai supermarket. Aku mengabaikannya, lalu mengambil keranjang belanjaan yang tersedia dekat pintu masuk.
Aku melihat-lihat beberapa bahan makanan mentah yang tersedia, aku mengambil satu set telur, memilih sayuran yang sekiranya masih segar, dan daging ayam. aku berpikir akan memasak untuknya kali ini. Aku pikir sudah saatnya berbaikan dengannya.
Pasti dia akan meminta maaf duluan sambil nangis buaya setelah menyadari kesalahannya.
Setelah selesai berbelanja, aku segera menuju kasir yang langsung menghitung belanjaanku menggunakan komputer. Kasir itu memberitahu harga belanjaanku, aku mengambil dompet yang ada di saku celanaku, mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada kasir tersebut. Aku menerima bungkusan belanjaanku seraya berucap terima kasih.
Aku keluar dari supermarket, dari supermarket ini tak perlu berjalan jauh menuju apartemen [f/n]. Aku melihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 8 malam. Jam segini, pasti dia sudah tidur. Tanpa terpaku lebih lama lagi aku berjalan kaki menuju apartemennya.
.
.
.
.
.
Aku sampai di depan pintu apartemennya yang bertuliskan angka 205, menekan password rumahnya seperti biasa dan menekan ke bawah gagang pintunya. Aku melihat lorong apartemennya yang sudah 5 hari lalu tak aku lihat.
Di luar dugaan, lebih bersih dari yang aku duga. Sepertinya dia membersihkan sendiri rumahnya. Baguslah, kalau dia intropeksi diri untuk lebih rajin mengurus keadaan rumahnya. aku masuk lebih dalam melihat dapur rumahnya yang ternyata sudah rapi terutama di westafel, aku melihat ke tong sampah di sana terdapat pecahan piring dan gelas—aku mendengus—sudah kuduga itu akan terjadi.
Aku menaruh belanjaan di atas patri dapur, aku sedikit penasaran karena apartemen ini terasa sangat sepi akhirnya aku mengecek ke dalam kamar [f/n]—dia tidak ada di sini.
Kemudian aku mendengar dengkuran cukup keras dari arah ruang tamu, langsung saja aku menghampiri sumber suara itu. Benar saja, dia berada di sana—terbaring di sofa dengan pulasnya sambil mendengkur.
Hey, kau itu perempuan. Jangan mendengkur, bodoh..
Aku mendekatinya secara perlahan agar dia tak bangun, aku bersimpuh memperhatikan wajahnya. Meski sudah 5 hari aku tinggal, nampaknya dia terlihat baik-baik saja.
Tanganku terangkat menyentuh kepalanya seraya mengusapnya lembut, sesaat dia terlihat terganggu dan mengubah posisinya menjadi telentang. Aku dapat mendengar gumaman tak jelasnya mengenai daifuku strawberry, sepertinya dia sedang bermimpi indah mengenai buah asam berwarna merah itu.
Wajahnya terlihat manis saat tidur, padahal kalau sudah bangun dia tidak bisa diam. Tanpa sadar aku tersenyum memperhatikannya.
Huh~ ternyata aku begitu merindukannya, padahal hanya 5 hari saja.
Kira-kira, apa dia merindukanku ya?
Apa dia setidaknya pernah memikirkanku?
Sambil memikirkan itu, perhatianku beralih pada bibirnya. Aku rasa ini sama sekali bukan diriku, baru saja aku memikirkan hal kotor. Tapi entah bagaimana kepalaku tergerak mendekati wajahnya—pikiranku terasa kosong—yang aku lihat hanya wajah manisnya yang kian semakin dekat.
Sampai akhirnya bibir kami bertemu sekilas.
Aku langsung bangkit, sayangnya kakiku tersandung oleh meja membuatku tersungkur. Aku menjerit dalam hati, meringis oleh kakiku yang terbentur cukup keras. Aku amat terkejut oleh tindakanku sendiri, membuat syok setengah mati. Beruntungnya, Mangaka bodoh itu masih tertidur pulas di sofa.
Dasar! Dia itu sama sekali tidak waspada.. suara hatiku mengomel padanya, percuma saja dia tidak akan dengar.
Lagi, aku memikir sesuatu yang tidak wajar. Dia sangat bodoh tertidur pulas tanpa menyadari keberadaanku, bagaimana jika seandainya laki-laki itu bukan aku? Itu membuatku cemburu, meskipun itu hasil pemikiranku sendiri.
Aku kembali mendekatinya yang masih terlelap—dia terlihat manis—mungkin ini efek dari rasa rinduku. Bukannya kapok dengan kejadian tadi, aku malah ikut naik ke sofa. Kali ini aku berada di atasnya, melihat wajahnya dengan lebih jelas.
Wajahku mulai mendekati wajahnya lagi seraya tanganku menyentuh bibir bawahnya yang agak basah, memperhatikan wajahnya yang tertidur. Dia begitu terlihat lugu, dengan rambutnya yang agak bergelombang dan poninya yang di jepit ke atas.
Aku tak dapat menahan perasaanku lagi, aku kembali menciumnya tanpa ijin. Kali ini lebih lama dan terasa intens. Aku merasakan pergerakan pada dirinya, matanya mengedip-ngedip untuk terbuka. Aku tahu itu, tapi aku tidak menghindarinya—jika itu bisa membuatnya mengerti akan perasaanku.
Maka akan aku lakukan dan menerima konsikuensinya.
Matanya sudah terbuka sempurna, dapat kulihat kilatan terkejut darinya—aku memejamkan mataku menikmati momen langka yang terjadi. Tangan sebelah kiriku menangkup pipinya—dia melemas—entah karena terbuai atau tak bisa melawan.
Aku melepaskan tautan pada bibir kami yang menempel, wajahnya nampak terkejut dan memerah—itu terlihat lucu di mataku—aku mulai mendekati wajahnya lagi.
"Tunggu.." namun dia menahanku dengan tangannya yang mendorong tubuhku.
Aku mencengkram kedua tangannya dengan kedua tanganku, menahan tangannya di samping tubuhnya, menyelipkan jari-jariku pada sela jarinya. Tangannya yang handal dalam menggambar begitu kecil di tanganku, membuatku teringat oleh genggamannya saat kami kanak-kanak dulu. Aku menatap lurus padanya, membuat wajahnya semakin memerah.
Oh, terkadang dia bisa bersikap manis juga.
Aku kembali menciumnya, dia tidak terlihat melawan. Aku mulai melebih-lebihkan dengan mengubahkan ciuman yang sebatas menempelkan bibir itu menjadi pagutan yang menggebu-gebu. Pasokan oksigen yang hampir habis membuatku melepaskan tautan bibir kami, dia nampak kehabisan nafas sampai terengah-rengah dengan wajah meronanya.
Aku tak mampu menatap wajahnya yang terlihat sangat manis saat ini, akhirnya aku menyembunyikan wajahku pada perpotongan lehernya. Baunya yang manis kuhirup perlahan, membuatnya merinding.
Aku akhirnya tersadar atas apa yang aku lakukan, menciumnya tanpa ijin—bukankah itu sama saja seperti pelecehan? Dia mungkin akan membenciku mulai sekarang.
Perlahan aku melepaskan tautan jariku pada sela jarinya, aku terbangun melepaskannya dari kengkanganku. Aku kali ini terduduk di sofa, menunduk menutupi wajahku seraya tanganku menyentuh keningku—menutupi rasa bersalahku.
"Maaf.." ucapku sedikit serak karena aku merasa hina di depannya kali ini.
[f/n] ikut terbangun dan terduduk di sofa. Dia menatapku dengan wajah lugunya yang terlihat kebingungan akan apa yang telah terjadi di antara kita. Itu membuatku semakin merasa bersalah.
Aku langsung mengambil tas dan bergegas pergi, meninggalkan [f/n] yang masih terpaku di tempat. Aku ingin dia mengerti akan perasaanku, tapi bukan berarti aku juga akan menyakitinya.
Saat itu untuk pertama kalinya aku melakukan hal yang bodoh.
.
.
.
.
.
TBC
Balasan Review buat Larasseu :
Ente yang pertama reviews wkwk, wajar ajha KnB udah lama tenggelam oleh waktu jadi Fanfiction di Fandom KnB sudah tidak ramai lagi :v
Makasih yang sudah membaca fict abal ini, wkwk..
Sebenarnya Kyuu hanya nonton Wotakoi episode 1 karena Kyuu udah gede jdi udah males nonton anime, tapi klo ada kesempatan Kyuu mau download sih full ntuh anime..
Jadi fict ini gak terinspirasi ama ntuh anime doang wkwk.. inspirasi Kyuu itu campur-campur, bahkan bisa juga drakor atau sinetron fTV..biasanya malah karena Kyuu baca Manga Yaoi yang semenya itu seorang pria tua kantoran.. :'v
Btw, Kyuu juga gak terlalu suka genre School Life karena Kyuu udah jadi Mahasiswi (-_-)
Jadi entah bagaimana, klo nonton drakor, anime, atau baca manga demennya pasti sama cewek yang udah dewasa..(genre Josei) kalo drakor itu misalnya kayak Introverted Boss atau Radiant Office.. Kalo Jdrama kayak Suki na Hito ga Iru Koto atau 5 ji kara 9 ji made..
Pokoknya yang ceritanya tentang cewek karir yang nggak nyerah sama cita-cita plus disayang oppa ganteng wkwk :v
Bagi semuanya silakan vote, reviews, and follow Kyuu..
