Judul : Listen to Me, Baby

Chapter : 6

Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan absurd readers

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v

Rating : T mungkin, tergantung suasana hati Kyuu.

A/N :

Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v

Selamat menikmati! ;)

.

.

.

.

.

3 minggu sejak malam aku mencium [f/n] secara membabi buta, aku sama sekali tak menemuinya. Masalah pekerjaan hanya kami diskusikan lewat email dan fax—itupun terasa sangat canggung.

"Mayuzumi-san!" seseorang memanggilku, membuatku mendelik tajam padanya.

Sakurai Ryou dari bagian percetakan langsung terjengit ketakutan, dia berulang kali meminta maaf tanpa henti, sampai aku bertanya dia baru menutup mulutnya.

"Aku hanya mengantar Manga [Your Nickname]-sensei yang sudah di jilid, siapa tahu kau ingin melihatnya.."

"Oh begitu, taruh saja di meja.." Sakurai-san langsung meletakkannya di atas mejaku tepatnya di samping laptopku, lalu dia langsung melesat pergi.

Aku memperhatikan Manga itu sebentar lalu mengambilnya satu, rupanya Manga [f/n] sudah dibuat per buku. Aku buka Manga itu langsung ke halaman tengah, melihat adegan dimana tokoh heroin menyatakan perasaan pada tokoh hero yang dia sukai.

Urat kekesalan di keningku bermunculan, aku merasa iri dengan adegan Manga—sungguh miris—dia bisa membuat adegan yang begitu romantis untuk karya fiksi.

Tapi pada kenyataannya dia hanya seorang gadis yang selalu gagal dalam menangani masalah cinta, biar aku ulas kembali bagaimana itu terjadi. Semua itu pertama kali terjadi saat dia masih kelas 5 SD dan aku 6 SD.

Flashback mode on*

"Hiro-chan!"

Seorang anak manusia bergender perempuan yang menyebalkan memasuki kamarku melalui jendela balkon, karena balkon kamar kami bersebelahan dan hanya berjarak cukup dekat membuatnya seringkali keluar-masuk kamarku sembarangan—menggeratakin semua barang-barang privasiku—bahkan, saat aku tidak di kamarku!

Nyebelin banget, 'kan?

"Hiro-chan!" panggilnya lagi.

Sementara aku pura-pura tidur dengan earphone yang menyangkut di telingahku—biasanya cara ini ampuh untuk menghindarinya—di luar dugaan dia malah melepaskan salah satu earphoneku. Aku tidak peduli, biarkan aku menyendiri untuk sebentar saja dari gangguan makhluk ini.

"HIROOOOO-CHAAAAN!" dia berteriak dengan suara cemprengnya tepat di telingahku, hampir membuat gendang telingahku pecah.

Serius, dia nyebelin banget!

Aku mencoba tetap staycool, menahan gendang telingahku yang ngilu. Menatapnya datar, dia malah menyengir seperti orang bodoh.

"Apa?"

"Sekarang ini aku sedang senang, mau tahu gak?"

"Nggak"

"Kenapa begitu~? Harusnya kau bilang ingin tahu, dong~ Hiro-chan kejam, nanti kau kuadukan pada Ayahmu kalau kamu gak mau bermain denganku!"

Aku menyerah soal itu, entah bagaimana ayahku sangat mempercayai anak ini seperti putrinya sendiri—mungkin itu dikarenakan ayahku ingin punya anak perempuan tapi gak kesampaian.

Ayah, seandainya kau tahu bagaimana penderitaan anakmu menghadapi makhluk ini?

"Jadi, ada apa?"

"Mau tahu ajha, atau mau tahu banget~?"

Mendengar candaan menyebalkan itu, aku memutuskan untuk kembali tidur. Dia langsung menarik bajuku, merengek seperti anak balita.

"Iya-iya, saat ini aku akan serius~ jadi temani aku mengobrol!"

Aku mulai mengubah posisiku menjadi duduk di pinggir kasur dan dia di bangku dekat meja belajarku. Dia mulai ingin bercerita, tapi wajahnya terlihat-lihat malu-malu.

"Sebenarnya saat ini aku sedang jatuh cinta.."

Huh~ dia sedang jatuh cinta, sulit dipercaya anak perempuan yang suka ngebolang di sekitar pinggiran sungai mencari kepiting bisa jatuh cinta.

"Lalu?" tanyaku.

"Dia orang yang terlihat tampan, baik hati, dan suaranya terdengar sangat berat seperti pria dewasa.."

Biar kutebak, anak laki-laki yang memiliki ciri-ciri seperti itu di sekolah. Ciri-cirinya mirip dengan ketua kelas di kelas 5-A. Namanya kalau tidak salah Asahina.

"Jaaaaaaang!" sambil menyerukannya dia menunjukkan sebuah DVD game.

"Sebuah game simulasi cinta?" tanyaku datar.

Dia menunjukkan salah satu gambar pria anime yang memang terlihat tampan, oke, sekarang aku mengerti apa yang dia maksud. Dan itu bukan Asahina seperti yang aku duga.

"Dia cinta pertamaku" ucapnya.

Entah bagaimana saat itu aku harus mendengarkan ocehan cinta pertamanya yang sangat tidak penting.

Beralih lagi pada kilas balik saat dia menemukan cinta keduanya—saat itu dia menginjak kelas 1 SMP dan aku kelas 2 SMP, kami berada di sekolah yang berbeda namun dia tetap menggangguku.

"Hiro-chan! Ajari aku Fisika, dong~" ucapnya di pagi hari yang cerah, mengganggu sarapan pagiku yang normal.

Orangtuaku memang sungguh baik hati membiarkan dia masuk dan ikut sarapan pagi bersama keluargaku. Dia terus memohon padaku untuk di ajari Fisika. Bukankah ini aneh? Dia sejak dulu selalu bilang membenci pelajaran hitung-hitungan itu. Setiap tahun selalu mengikuti pelajaran tambahan karena nilainya yang buruk di pelajaran hitung-hitungan.

Tapi tiba-tiba dia ingin mempelajarinya? Jangan bercanda! Aku yakin otakmu tidak akan kuat mempelajarinya.

"Aku mohon~ bukankah kau sangat pintar di pelajaran Fisika?"

Tentu saja, itu pelajaran favoritku.

"Apa salahnya, Chihiro? Kalian jadi bisa belajar meningkatkan nilai kalian~"

Ibu jangan ikut-ikut, kau terlalu memanjakan manusia di sampingku ini.

"Kau terlalu bodoh untuk mempelajarinya.." komenku yang membuatnya langsung mengadu pada Ibuku.

"Oba-chan~ Hiro-chan baru saja bilang aku bodoh.."

"Kau tidak bodoh, [f/n]-chan. hanya kurang pintar.."

Dia langsung memeluk Ibuku dengan wajah sumringah, aku hanya menatap mereka datar.

"Itu sama saja, Baka.."

Aku mengambil tasku bergegas untuk berangkat ke sekolah, tapi ternyata dia terus mengikutiku. Menghela nafas lelah, akhirnya kuladeni dia. Dia terlihat senang dan ingin memelukku—aku langsung menghindarinya.

"Apa alasanmu ingin belajar Fisika?"

Dia meremas rok seragamnya malu-malu, aku hanya menunggu jawabannya. Reaksinya membuatku dapat menebak apa yang terjadi, dia sedang jatuh cinta dengan pria game simulasi cinta lagi?

"Se—sebenarnya ada seorang guru muda di sekolahku, dia sangat tampan dan ramah.. kupikir aku jatuh cinta padanya.."

Dia mengatakannya tanpa keraguan sedikit pun, kali ini aku salah dia jatuh cinta oleh pria dunia nyata. Dia jatuh hati pada pria yang umurnya terpaut jauh, entah itu kemajuan atau bukan. Yah, soalnya dia kan bodoh.

"Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan mengajarimu setiap jam tujuh malam di rumah, tapi jangan pernah menggangguku lagi, 'okay?"

"Baiklah!"

Setelah itu dia memang benar-benar belajar giat, membuat nilai sekolahnya meningkat—dan juga membuatku stress—sampai akhirnya hari dimana itu semua sia-sia pun datang.

Ternyata guru muda yang disukainya adalah seorang pedofil yang melecehkan anak kelas 2 SMP—untungnya [f/n] tidak menjadi korban guru mesum itu—guru itu akhirnya masuk penjara karena kasus mngerikan itu.

Anehnya, [f/n] sama sekali tak sedih atau patah hati.

Justru dia terlihat sangat marah, "Dasar! Ternyata dia hanya orang mesum, menjijikan~" ucapnya.

Sebenarnya saat itu aku sangat bersyukur dia tidak menjadi target pelecehan guru mesum itu. beralih lagi pada cinta ketiganya—

Cinta ketiga [f/n] adalah pemuda yang seorang Yanke, dia bilang Yanke terlihat keren. Belum sampai mereka jadian, pria itu terkena kasus Narkoba—dan ditahan ke kantor polisi.

Cinta keempat [f/n] adalah yang paling normal, dia jatuh hari pada pemuda dari klub sepak bola yang keren. Awalnya mereka terlihat dekat, tapi begitu tahu [f/n] adalah Fujoshi dan Otaku pria itu meninggalkannya.

Flashback mode off*

Yang dapat kusimpulkan dia selalu jatuh cinta pada pria brengsek, kurasa [f/n] hanyalah perempuan yang tidak bisa menilai mana pria yang baik dan tidak. Itulah yang membuatnya kesulitan mencari cinta, meskipun tanpa dia sadari banyak pria baik yang menyukainya.

Tentu saja, pria baik itu adalah aku.

Entah dia sudah menyadari perasaanku atau tidak, meskipun aku sudah menciumnya.

Kemudian dering Handphoneku berbunyi, kuraih untuk melihat siapa yang menghubungiku disaat diriku sedang galau begini.

Miyazaki-san Call

Lagi-lagi perempuan ini menggangguku, Miyazaki-san orang yang cukup tangguh rupanya. Hampir setiap hari dia menelponku, contoh perempuan yang perhatian ya? Tidak seperti [f/n], dia bahkan sama sekali tak menelponku.

Kalau boleh jujur, aku merasa perempuan seperti Miyazaki-san cukup menyeramkan. Kau bayangkan saja, dia terus menelponku tanpa tahu rasa malu—padahal dari tindakanku, sudah terlihat jelas aku tidak menyukainya—aku ingin secepatnya menolak perasaannya.

Aku tetap mengabaikan telpon darinya, tetap mengerjakan pekerjaanku.

"Mayuzumi-san, bukannya kau ada pertemuan dengan bagian penjualan? Karena itu aku harus kemari dan mengingatkanmu.." ucap Miyaji Kiyoshi yang membawa semacam beberapa berkas di tangannya, dia salah satu rekan kerjaku yang duduk tepat di depanku.

"Eh? Memang sudah jam 10?"

"Serius?! Kau ini benar-benar gila kerja sampai lupa waktu, ya?" ucapannya membuatku sadar bahwa ternyata aku memiliki meeting perencanaan dengan bagian penjualan hari ini.

"Maaf, sekarang aku sudah siap.." ucapku yang menutup laptop dan bangkit dari kursi dengan beberapa laporan yang aku bawa.

Dalam perjalanan di koridor kantor bersama Miyaji-san, aku teringat bahwa hari ini aku harus mengambil naskah Manga [f/n]. Kurasa aku tak akan sempat, jadi aku menelponnya saja agar dia yang mengantarkan naskahnya.

Suara sambungan mulai terdengar di telingahku, aku menempelkannya pada telingahku hingga aku mendengar suaranya dari seberang sambungan telpon.

"Mo—moshi-moshi.."

"Kenapa bahasamu jadi formal begitu?"

"Ah, ng—nggak.. ada apa?"

Sudah lama aku tidak mendengar suaranya, dia terdengar gugup—apa itu efek sejak kejadian itu ya?

"Gomen, aku tidak bisa mengambil naskahnya—karena harus mengikuti pertemuan rapat dengan bagian penjualan. Bisa kau antarkan naskahnya ke kantor?"

Meski begitu, sebenarnya aku sangat ingin bertemu dengannya walau itu hanya sebatas pekerjaan.

"Baiklah, akan aku antarkan sendiri.."

"Hn, makasih.."

Tumben sekali, dia terasa lebih kalem dari biasanya. Entah bagaimana jika dia jadi kalem itu membuatku jadi semakin tak enak, aku harus memikirkan cara untuk berbaikan lagi dengannya.

Akhirnya aku dan Miyaji-san sampai di ruang rapat, terlihat di dalam sana sudah banyak orang yang menunggu kami. Terutama perwakilan manajer penjualan sudah terlihat sangat marah menunggu keterlambatan kami, dia memang orang yang sangat keras soal masalah waktu—orang itu bernama Kasamatsu Yukio.

"Kalian terlambat!" ucap Kasamatsu-san, "Sudah kubilang untuk tepat waktu! Jangan seenaknya kalian datang lebih lambat dari atasan kalian!"

"Maaf, kalau saja orang ini tidak lupa soal rapat.."

"Gak usah alasan!"

"Yang penting direktur belum datang, 'kan?"

"Sumimasen, itu semua salahku Kasamatsu-san.." ucapku yang menunduk sebagai rasa bersalah, di saat itulah muncul direktur yang baru saja datang.

"Ohayou.." katanya sambil menguap, direktur penerbitan ini bernama Imayoshi Shoichi—dialah yang memiliki kekuasaan di perusahaan ini—dia memang direktur tapi sering kali datang terlambat saat rapat.

"Ohayou.." jawab semua orang begitu orang ini masuk dan duduk di singgah sananya dengan wajah mengantuk, "Gomen, aku ketiduran tadi.. entah kenapa, semakin tua semakin sulit bangun pagi.." alasannya sambil tertawa licik.

"Biasanya malah sebaliknya, 'kan?" gerutu Kasamatsu-san mendelik tajam pada pria itu yang melet sok manis.

"Tee-hee.."

"Tee-hee, ndasmu!"

Setiap bulannya perwakilan dari bagian editorial berganti-gantian dalam rapat perencaan, kali ini aku dan Miyaji-san yang rapat. Ini semua agar editor belajar sistem penjualan agar bisa meningkatkan kualitas penulis, karena itu sekali-kali aku harus mengamati bagaimana rapat ini berlangsung dan juga memberi masukan yang bermutu.

Walaupun kegiatan kelompok seperti sangat kubenci.

Rapat perencanaan adalah dimana Manajer dari setiap departemen dalam perusahaan bertemu dan menentukan berapa eksemplar yang dicetak dari suatu Manga.

Dari semua pihak itu yang hadir adalah departemen pusat penerimaan yang menangani persediaan buku, departemen pemasaran yang menangani penjualan buku, departemen penjualan yang menangani harga sebuah buku, departemen editorial yang membuat buku, serta orang yang memiliki kekuasaan dalam perusahaan penerbitan ini.

Araki Masako dari departemen pusat penerimaan mulai berdiri, "Baiklah, mari kita mulai rapatnya.." ucapnya dengan tegas, namun ucapannya dipotong oleh manusia yang memiliki kekuasaan di perusahaan ini.

Araki-san terlihat mendelik tajam pada Imayoshi-san yang terduduk santai bersender di kursinya, "Gomen, aku sangat sibuk, jadi aku belum membaca semua laporannya. Aku akan membacanya sekarang, jadi jangan pedulikan aku dan teruskan saja rapatnya~" katanya membuat semua orang di ruangan ini merasa kesal, termasuk diriku.

"Imayoshi-san, Anda melakukannya lagi?" geram Kasamatsu-san yang terlihat sangat kesal.

"Pekerjaan seorang direktur itu banyak sekali, tahu.." alasannya yang amat menyebalkan, aku hanya menghela nafas mencoba sabar.

"Kalau begitu, langsung saja kita mulai rapatnya tanpa direktur.." selak Araki-san yang tidak ingin menunggu lama, "Kami dari pihak departemen pusat penerimaan merasa cetakan pertama untuk bulan ini, 200.000 eksemplar sudah cukup.."

"Itu tidak cukup.." ucap Kasamatsu-san tegas dengan melihat berkas laporan yang ada di tangannya, "Jika dilihat dari penjualan yang dihasilkan pengarang sampai sekarang, kita bisa mulai dari 240.000 atau 250.000 eksemplar"

Mendengar penjelasan Kasamatsu-san membuat Araki-san mendengus, "Huh? Itu alasan yang bodoh! Ini adalah seri pertama dari seri baru pengarangnya, 'bukan?" tanya Araki-san seraya mengetuk hasil laporannya dengan tangannya, "Tidak ada alasan untuk mengambil resiko sebesar itu hanya untuk karya yang belum pasti menghasilkan keuntungan!"

"Seperti biasa, kau selalu berpikiran sempit, Araki-san.." ejek Kasamatsu-san membuat Araki-san menatap tajam padanya.

"Kau juga sama saja, Kasamatsu-san.." ucap Miyaji-san yang berada di sampingku, membuat kedua orang yang sedang berdebat itu menatap tajam ke arahnya.

"Kalau begitu menurutmu berapa yang lebih baik?" tanya Kasamatsu-san.

"Tentu saja, 300.000 eksemplar" mendengar pernyataan itu membuat semua orang di ruangan itu terdiam, dilanjutkan dengan tawaan Araki-san yang terkesan mengejek Miyaji-san.

"Hahahaha~ Coba kau cuci matamu, Miyaji!" ejek Araki-san.

"Atas dasar apa?! jangan bercanda kau ini.." Omel Kasamatsu-san.

Inilah salah satu hal yang membuatku benci ikut rapat perencanaan, mereka yang berisik berdebat tentang keuntungan perusahaan.

"Justru kau itu yang aneh! Atas dasar hasil survei yang kulihat dari awal serialisasi, jumlah yang terjual sampai saat ini, dan—" Miyaji-san menggangtungkan kata-katanya, "—intuisiku! Dibawah 300.000 eksemplar itu mustahil!"

"Intuisi? Bodoh sekali!"

"Aku tidak akan mendengarkan pendapat apapun dari orang yang tidak punya intuisi!"

Perdebatan mereka semakin memanas, terlihat dari Kasamatsu-san yang mulai menggebrak meja dengan sangat keras.

"Maumu itu apa?!"

Kali ini gantian Miyaji-san juga ikut menggebrak meja.

"Hah?! Kau mau protes? Apa kau lupa 2 bulan yang lalu kau salah memprediksi?! Bukankah itu seharusnya pekerjaanmu?"

Mereka berdua saling menatap tajam, lalu kembali duduk mencoba sabar. Miyaji-san menunjuk hasil laporan itu dengan pulpen menimbulkan suara ketukan di atas meja, "Pokoknya 300.000 eksemplar, kurang dari itu akan jadi masalah.."

"Tidak, tentu saja harus 260.000!" Ucap Kasamatsu-san yang menyilangkan tangannya angkuh.

"230.000 eksemplar. Di atas itu akan beresiko!" Araki-san memegangi kepalanya mencoba sabar.

Imayoshi-san terlihat lelah melihat perdebatan mereka hanya menangkup wajahnya, "Kalau begitu, kita ambil tengahnya saja, 270.000 atau 280.000 eksemplar?" ucapnya santai yang langsung mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang berdebat.

"Itu terlalu plinplan!" omel mereka pada Imayoshi-san, tidak peduli meskipun dia yang paling berkuasa di sini.

"Ahahaha~ memang, aku juga berpikir begitu.."

Aku hanya diam tak ingin ikut campur dengan perdebatan mereka, ini hal yang biasa terjadi saat rapat perencanaan. Sejujurnya perdebatan mereka hanya membuat kepalaku sakit saja, hal itulah yang membuatku tetap diam. Namun, sayangnya itu bukan keputusan yang bagus ketika Imayoshi-san melemparkan pertanyaan padaku.

"Bagaimana menurut pendapatmu, Mayuzumi-san?"

Mendengar pertanyaannya aku mulai memilah kata-kata untuk diucapkan, "Yah, aku pikir buku ini akan terjual berapa pun banyaknya—" belum selesai mengucapkannya mereka langsung menyerangku.

"Tentu saja ini akan terjual!" ucap mereka membuatku agak kesal.

Kalau memang akan terjual, kenapa kalian harus sampai berkelahi hanya untuk jumlah buku yang dicetak begitu? Dan kenapa kalian harus meminta pendapatku?

Setelah 3 jam, waktu yang dihabiskan untuk meeting—lebih tepat disebut perdebatan itu—aku ke luar ruangan meeting sambil memegangi kepalaku yang terasa berputar-putar. Benar saja, semua perdebatan itu berakhir dengan pengambilan jalan tengah karena diantara mereka bertiga tidak ada yang ingin mengalah. Di sampingku Miyaji-san masih menggerutu soal pendapatnya yang merasa lebih benar.

Aku mengabaikannya, sampai dia pergi sendiri ke tempat patri untuk mengambil segelas kopi di mesin kopi. Segera saja, aku duduk di mejaku dan menaruh hasil laporan yang tadi aku bawa, mataku melirik di atas mejaku yang sudah terletak amplop coklat. Tidak salah lagi, itu punya [f/n]. Mungkin beberapa saat lalu dia baru saja sampai kemari.

"Oh, Mayuzumi-san! Kau sudah selesai?" tanya Mibuchi-san yang sepertinya baru saja kembali entah darimana, "Tadi [f/n]-chan baru saja kemari lho~"

"Oh, terima kasih karena sudah mengambil naskahnya.." ucapku yang melirik jam yang sudah menunjukkan angka 12 siang, sudah waktunya istirahat.

Aku baru ingat, pagi ini aku tidak membuat bekal karena bangun kesiangan. Terlihat juga ruangan departemen editorial sudah sepi karena karyawan yang pergi mencari makan siang.

Tidak ingin membuang waktu, aku bergegas keluar untuk mencari tempat makan. Aku berjalan-jalan di sekitar pusat berbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari kantor.

Aku masuk ke dalam salah satu restaurant pasta, betapa sialnya aku hari ini—dengan rapat perencanaan yang melelahkan—dan sekarang aku di hadapkan dengan orang yang sama sekali tak ingin aku temui, Hayama Kotarou yang sedang menyender di kursi sambil melihat buku menu.

Seperti menyadari keberadaanku, dia menoleh menatapku.

"Kebetulan sekali, Mayuzumi-san~" ucapnya tersenyum padaku yang hanya sebatas kutatap datar, tak ingin ini semakin menjadi masalah yang merepotkan aku berbalik hendak keluar.

Namun, orang ini mengatakan sesuatu yang membuatku terhenti.

"Belakangan ini, kelakuan [f/n]-chan terlihat aneh.."

Aku menoleh padanya, "Apa maksudmu?"

"Berbicara sambil berdiri kurang sopan, bagaimana kalau kita minum kopi di luar?"

.

.

.

.

.

Akhirnya aku berakhir minum kopi bersamanya di sekitar jalan dekat lampu merah karena kami memilih minum di bangku restaurant bagian Outdoor, nafsu makanku sudah hilang saat melihatnya tadi. Seorang pelayan wanita mengantarkan kopi yang kami pesan dengan senyuman, meletakkan secangkir kopi itu dan berlalu pergi.

Aku mengambil sendok kecil, menaruh beberapa dua gula berbentuk kotak kecil lalu mengaduknya. Orang di hadapanku menyesap kopinya yang sudah duluan diberi gula dan susu.

"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" tanyaku yang ingin cepat mengakhiri semua ini.

"Kau terburu-buru sekali, jam makan siang masih lama, 'kan?"

Kau pikir aku ingin berlama-lama denganmu? Yang benar saja..

Dia meletakkan kembali kopinya di meja, "Yah, kau tahu? Sudah selama 3 minggu ini kau tidak datang menemui [f/n]-chan, dia bertingkah seperti rusa baru lahir dan mengacaukan semua pekerjaannya. Itu aneh, 'bukan?"

"Itu karena dia tak becus mengerjakan pekerjaannya.."

"Tidak aneh memang, hanya saja itu menggangguku" ucapnya yang menatap nyalang padaku, "Aku tidak suka melihat dia bertingkah aneh karena dirimu, itu membuatku kesal. Kupikir selama tidak ada kau itu adalah kesempatanku, tapi yang selalu dia bicarakan selalu saja kau, Mayuzumi-san"

"Aku kaget kau takut akan hal itu? Baginya aku adalah teman masa kecilnya, lantas apa yang salah?"

"Itu sangat salah, kau selalu saja mengganggu. Padahal kau juga menyukainya, kau lebih lama berada di dekatnya, tapi kau selalu menahan untuk mengatakan itu padanya. Itu sangat menggangguku, kalau memang kau tidak serius lebih baik kau jauhi saja dia!"

"Jangan bercanda!"

Sialan, perkataannya membuatku sangat kesal. Kami saling memandang dengan tatapan tajam, ini untuk pertama kalinya aku dan orang ini memperlihatkan sifat asli kami.

Menjauh dia bilang? Kau pikir bisa semudah itu, huh?

Jika bisa aku ingin mengatakan perasaanku padanya, hanya saja aku tahu bagaimana yang akan terjadi. Itu akan menimbulkan jarak emosi antara aku dan [f/n].

Karena perasaan ini hanyalah cinta sepihak.

Aku tak ingin pertengkaran tidak berguna ini berlanjut, itu hanya akan membuang waktu istirahatku. Tanpa menghabiskan sisa kopiku yang masih utuh, aku bangkit dari kursi itu. Aku memutuskan untuk mengalah darinya dan pergi dari tempat ini sekarang juga. Sayangnya, orang ini masih tak mau mengalah dan menahan lenganku keras.

"Kau memang pengecut, Mayuzumi-san!"

Untuk kali ini aku benar-benar kesal padanya, kucengkram bajunya kasar—yang menimbulkan pekikkan pada orang-orang yang ada di sekitar—Memandang wajahnya yang menantangku, aku mendekati wajahnya seraya berkata—

"Apa yang kau tahu tentang aku, huh?" Aku melepaskan cengkramanku perlahan darinya, "Kita hanya akan mengganggu publik, aku tidak ingin membuat keributan.." ucapku padanya yang hanya terdiam.

Aku meninggalkannya, menghiraukan orang-orang yang menatapku penasaran.

.

.

.

.

.

Sekarang ini, aku benar-benar kesal. Aku tidak tahu pastinya, aku merasa aura yang buruk menguar dari sekujur tubuhku. Sebab semua orang terlihat menghindari koneksi terhadapku, padahal menurutku apa yang aku lakukan itu terlihat normal.

Aku hanya memasang typesetting dengan pandangan kosong, sehingga typesettingnya miring.

"Ada apa dengannya?" tanya salah satu editor wanita pada Mibuchi-san.

"Masalah seorang pria lajang itu terkadang memang sulit~" ucap Mibuchi-san asal menyimpulkan.

Hey, aku dengar apa yang kalian bicarakan. Jangan seenaknya membicarakan oranglain di belakang, dasar penggosip.

Aku merasakan sesuatu hantaman keras di atas kepalaku, sebenarnya itu sangat terasa menyakitkan tapi aku mencoba tetap tenang. Aku menoleh kepada orang yang memukulku dengan setumpuk kertas yang digulungnya.

"Kerja yang benar, jangan buat typesettingnya miring.." ucap Miyaji-san dengan tatapan galaknya.

"Sumimasen.." ucapku yang tidak ingin semakin ribet dan membetulkan posisi typesettingnya.

"Itu tidak bagus lho, Mayuzumi-san. Katanya kalau kau memasang typesettingnya miring, itu artinya kau tidak memiliki keteguhan hati.." ucap Mibuchi-san yang kepalanya juga kena pukulan kertas gulung Miyaji-san, "Kau juga memasang typesettingnya miring, Mibuchi-kun!" omel Miyaji-san.

"Eh, benarkah?! Dimana?!"

"Kalau tidak salah itu karya Mizuno-sensei yang berjudul Handsome My Boy, halaman 32 di panel ketiga" Jelas Miyaji-san yang membuat Mibuchi-san membuka Manga yang dimaksud sesuai dengan arahan Miyaji-san.

"Eh. ternyata benar! Aku memasangnya miring, pria yang ada masalah percintaan memang selalu ceroboh ya~"

"Seharusnya bukan itu yang kau renungkan.."

"Gomen, Miyaji-san. Aku dapat Email dari cewek yang mengajakku minum di luar.." Mibuchi terlihat membawa tas kerjanya dan berpamitan pergi.

"Cih, dasar playboy"

Aku berusaha membetulkan typesettingnya dengan benar kali ini mengabaikan rekan kerjaku yang mengobrolkan sesuatu yang tidak berguna, sampai ada telpon berdering di meja kantor yang diangkat oleh Miyaji-san.

Telpon itu entah bagaimana diacungkan padaku oleh Miyaji-san, "Dari Guren-sensei, dia ingin bicara denganmu.." ucapnya yang langsung aku terima telpon itu.

"Moshi-moshi?" Aku memulai telpon itu yang dilanjutkan dengan mendengar masalah Guren-sensei pada Manganya, "Baiklah, bagimana kalau kita bertemu sekarang? Hn, kita akan bertemu di tempat biasanya jam 7.." setelah itu aku menutup telponnya lalu bersiap untuk pergi menemui Guren -sensei, aku bisa meneruskan memasang typesetting besok.

Aku berpamitan pada Miyaji-san yang masih sibuk dengan laptopnya. Aku berjalan sebentar menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Sesampainya di lantai dasar, beberapa karyawan menyapaku yang hanya kubalas menunduk dan tersenyum.

Sesaat aku keluar dari kantor sudah terlihat mobil hitam yang terlihat mengkilap dengan seorang wanita dewasa yang terlihat anggun di dalamnya. Wanita itu adalah Guren-sensei, salah satu Mangaka yang aku tangani. Dia salah satu Mangaka yang sudah cukup sukses, karena di samping pekerjaan Mangakanya dia adalah seorang desainer Fashion.

Aku menghampirinya yang membuat dia menoleh padaku. Guren-sensei tersenyum menawan, aku agak canggung dengannya karena dia lebih tua 3 tahun dariku. Dia mengisyaratkanku masuk mobil, aku mematuhinya. Aku duduk di sampingnya, kami hanya berbincang seadanya tentang masalah yang dia hadapi dalam Manganya.

Karena menggunakan mobil tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di salah satu bar—tempat kami biasa mengadakan pertemuan—Guren-sensei memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, kemudian kami berjalan bersama ke dalam bar.

Sesaat kami masuk banyak hiruk pikuk dari manusia yang bercengkramah setelah pulang kerja. Perhatianku teralihkan karena itu sampai aku melihat seorang perempuan yang sedang mengangkat pria yang sedang mabuk hampir terjatuh, refleks membuatku membantunya.

Melihat wajah perempuan itu membuatku terkejut, karena itu adalah [f/n].

"[f/n]?"

Dia mendongakkan wajahnya membuatku dapat melihatnya lebih jelas, dia terlihat salah tingkah. Aku melirik pada pria yang dia rangkul itu yang ternyata adalah Mibuchi-san, seribu pertanyaan muncul dipikiranku.

Kenapa [f/n] bisa bersama pria ini minum di bar?

Jadi perempuan yang dimaksud Mibuchi-san itu [f/n]?

Mibuchi-san yang mabuk bergurau begitu melihatku, dia terlihat berdiri tegak tersenyum-senyum ke arahku lalu mengucapkan kata-kata aneh, "Ah~ Mayuzumi-san~ kau di sini, kau tahu tidak? [f/n]-chan bilang padaku bahwa—mmmpph.." [f/n] langsung membekap mulut Mibuchi-san, terlihat jelas bahwa dia menyembunyikan sesuatu dariku.

Aku langsung menatapnya meminta penjelasan, "Ada apa ini?" tanyaku.

Sejujurnya melihat dia menghabiskan waktu dengan pria lain agak membuatku cemburu, terutama dengan pria yang mudah dekat dengan banyak gadis seperti Mibuchi-san, meskipun mereka hanya teman semasa SMA.

"Bukan apa-apa! kami hanya mengobrol tentang masa lalu, benar juga, menghadapi orang mabuk agak merepotkan—bisa kau membantuku?" tanyanya dengan aku yang masih berdiri di sana untuk mendengar alasannya, sampai suara Guren-sensei yang memanggilku membuatku teringat bahwa saat ini aku sedang dalam pekerjaan.

Guren-sensei datang mendekat lalu merangkul lenganku mesra—sebenarnya itu sangat menggangguku tapi aku tak dapat melakukan apapun—aku memberi isyarat padanya untuk mencari tempat duduk perihal maksud pertemuan kami.

Aku melirik pada [f/n] yang masih berdiri di sana memandang Guren-sensei takjub, "Maaf, aku tidak bisa membantumu.." ucapku yang teringat akan pekerjaan, meninggalkannya mengikuti Guren-sensei.

Sebenarnya aku bisa saja membantunya, hanya saja posisiku saat ini sedang dalam pekerjaan.

Aku duduk dengan Guren-sensei yang duduk tepat di depanku yang tersenyum menyebalkan, alisku terangkat melihat tingkah Mangaka yang ada di depanku ini.

"Bagaimana?" tanya Guren-sensei.

"Apanya?"

"Apa tingkahku tadi sudah membuat pacarmu cemburu?"

"Dia bukan pacarku, dia hanya teman masa kecilku.."

"Heh? Sayang sekali, usahaku sia-sia~"

"Apa pertemuan kita agar kau bisa menggodaku? Lebih baik kita mulai saja untuk membahas pekerjaanmu.."

"Itu salah satunya, tapi apa benar dia hanya teman masa kecilmu? Kau terlihat menyukainya.."

"Memang begitu" jawabanku membuat Guren-sensei terdiam dengan ekspresi terkejut, dia hanya tersenyum canggung karena merasa aku tidak bercanda.

"Kalau begitu, apa kau sudah mengatakannya?"

"Belum, lagipula ini hanya perasaan sepihak.."

Guren-sensei terdiam memperhatikanku dengan ekspresi yang sulit diartikan, membuatku juga merasa terganggu.

"Bisa kita mulai diskusinya?"

.

.

.

.

.

TBC :)

Mohon Reviews, vote, dan follow ye~ kalian juga boleh bertanya-tanya wkwk