Judul : Listen to Me, Baby

Chapter : 7

Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan absurd readers

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v

Rating : T mungkin, tergantung suasana hati Kyuu.

A/N :

Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v

Selamat menikmati! ;)

.

.

.

.

.

Sore hari di musim panas yang cerah dengan awan yang menggumpal di langit jingga, aku membuka hordeng di Studio Mangaku lalu membuka jendelanya. Oh, betapa indahnya perkotaan dengan hiruk pikuk manusia di bawah sana. Aku meminum teh yang aku buat.

Bersantai sedikit ditengah pekerjaan tak masalah, 'bukan?

"Aku baru menyadarinya ternyata langit terlihat agak bulat, itu menandakan bahwa bumi ini bulat.." ucapku asal bicara.

"Sensei, berhenti berkhayal. Bukankah kau masih memiliki banyak halaman yang belum digambar?" selak Kaoru yang membawa segelas coklat panas.

Aku kembali pada tempatku menggambar. Mulai memegang pensil lalu menggambar tokoh hero yang sangat aku sukai, beberapa saat aku menggambar entah bagaimana itu tidak terlihat seperti tokoh hero yang biasa aku gambar malah terlihat mirip seperti Hiro-chan.

GYAAAAAAAAAAAA! APA ITU?!

Aku langsung mencoret-coret kertas manuscript saking syoknya, setelah wajah dari gambar itu tak terlihat aku menghapusnya. Pikiranku melayang entah kemana pada kejadian ketika Hiro-chan menciumku, dilanjutkan dengan pertengkarannya dengan Kotarou, lalu wanita keren yang ada di bar.

Kenapa hatiku terasa campur aduk sekarang?

Itu hal yang biasa karena Hiro-chan memang populer di kalangan perempuan, meskipun aku masih penasaran oleh hubungannya dengan Kotarou.

Aku melirik pada Kotarou yang sedang menggambar background pada manuscript di mejanya dengan serius, aku menutup mataku untuk berpikir. Mungkin saat itu aku yang salah lihat, seperti yang dikatakan Reo-nee.

Aku menggeleng keras tak bisa memahaminya. Isi pikiranku sudah terpenuhi oleh banyak argumen yang aku tebak sendiri. Bagaimana pun, saat itu benar-benar terlihat seperti sebuah ciuman. Itulah yang aku pikirkan di dalam otak Fujoshiku.

Jadi, mungkinkah Hiro-chan sangat marah saat aku membahas tentang Miyazaki-san itu karena Kotarou?

Tapi masalahnya! Mereka berdua itu.. err.. laki-laki.. Apa itu tak apa? meskipun di jaman sekarang itu banyak pernikahan sesama jenis, tapi tetap saja..

Memikirkannya membuatku ingin menggambarnya. Aku mengambil kertas di tumpukan manuscript yang masih baru, lalu membuat sebuah goresan sketsa kedua laki-laki teman baikku itu. entah bagaimana mempertegas gambar itu membuat wajahku memanas, beberapa goresannya membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.

Siluet pada sketsanya sudah terlihat jelas, dimana di gambar itu terlihat Hiro-chan yang menyudutkan Kotarou di pojok tembok yang wajahnya sudah memerah tapi menolak malu.

Kyaaaaaaaaaaaa~~! Godaan macam apa ini?! Asdfghjkl.. ugh!

"Sensei?"

Kita sebut apa ini?

"Sensei..?"

MayuHaya? HayaMayu? Atau..

"Sensei..!" seketika jantungku hampir copot mendengar panggilan Yuki-chan.

"Ya?!" jawabku spontan lalu menatap kertas yang berisi gambar MayuHaya yang langsung aku remuk-remuk di kepalan tanganku dengan panik, Yuki-chan hanya menatapku sabar.

Dia tidak melihatnya, 'kan?

"Apa ada lagi yang harus aku kerjakan?" tanya Yuki-chan yang membuatku melempar buntelan kertas yang berisi konten boyslove itu ke tempat sampah, aku yang masih panik mencari kertas manuscriptku, memilah halamannya yang ternyata masih kosong hanya terdapat balon dialog yang belum di tulis kata-kata.

"Gomen, sepertinya mulai besok baru ada pekerjaan untukmu. Kau sudah boleh pulang, kok.."

Semua asistantku hanya terdiam karena tidak biasanya aku menundakan pekerjaanku, "Baiklah.." ucap Yuki-chan.

Pekerjaanku yang belum selesai membuat para asistant pulang lebih awal dari biasanya.

Setelah itu aku hanya duduk gusar di kursi tempatku menggambar Manga, aku sudah berulang kali mengubah posisi dudukku seperti cacing kepanasan. Sampai sebuah gambar yang tiba-tiba muncul di depanku membuatku berteriak, "Woaah!"

"Hm? Jangan woaah begitu.." ternyata gambar itu adalah salah satu manuscript yang baru saja Kotarou kerjakan, kini dia sedang berdiri di sampingku memperlihatkan hasil gambarnya.

"Kotarou, kau membuatku kaget saja.."

"Itu karena kau banyak melamun, [f/n]-chan. aku sudah memanggilmu berulang kali tadi.."

"Eh, benarkah?" aku hanya tertawa bodoh setelahnya.

"Apa backgroundnya sudah cukup bagus?" tanya Kotarou yang membuatku mengambil manuscript itu untuk menatapnya lebih dekat, tidak lupa memakai kacamata minusku terlebih dahulu.

"Oh, ini sudah bagus kok!" ucapku penuh semangat padanya, Kotarou terlihat sedang tersenyum lembut padaku—aku mengalihkan perhatianku pada gambar background yang dia buat—aku tidak bisa menatap matanya!

"Lalu apa lagi yang harus aku kerjakan?"

"Umm, bisa kau buat latar waktunya jadi siang hari?"

"Dasar, kau ini selalu saja plinplan saat bekerja.."

"Ng—nggak kok, aku tidak begitu pada oranglain.. hanya saja kalau dengan Kotarou aku.. yah.. itu.." Aku tak mampu menatapnya lalu kuputuskan untuk menghampiri jendela yang terbuka, melihat keluar jendela.

"Jadi maksudmu, kau menyukaiku?"

"Tentu saja, 'kan? Kau kan temanku.."

"Ahahaha, benar juga.." aku mendengar tawanya sejenak, dia kelihatannya ingin berada di sini lebih lama lagi untuk membantuku. Tapi, jujur saja. Saat ini aku tak sanggup untuk itu.

"Aku tidak memerlukan backgroundnya hari ini, kok. Kau bisa mengerjakannya besok.." ucapku yang masih memandang keluar jendela, mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan.

"Ada apa denganmu, [f/n]-chan?" ternyata dia menyadarinya!

Apa aku ini memang tidak bisa berbohong?

Aku melihat ke atas dimana langit sudah terlihat berwarna keunguan, "A—apanya?"

"Kau bertingkah aneh lagi, apa Mayuzumi-san mengatakan sesuatu yang aneh tentangku?"

Sesuatu yang aneh? Apa maksudnya?

"Umm.. itu.." aku tidak tahu harus bilang apa..

"Lupakan saja, aku akan pulang sekarang..."

"Oh, ya... um.. hati-hati ya..."

Setelah itu yang aku lihat hanya punggung Kotarou yang menghilang di balik pintu, aku kembali terduduk di kursi dengan kepala yang menyender di meja. Aku menangisi kebodohanku sendiri. Aku memang bodoh.

Aku tidak bisa mengatakan hal bodoh yang kupikirkan, kalau itu terjadi pasti dia akan marah padaku.

Apa mungkin mereka berdua menyembunyikan sesuatu dariku? Kalau tidak, dia tidak akan bertanya hal seperti itu padaku. Mereka itu memang suka main rahasia-rahasiaan.

Kenapa mereka harus menyembunyikannya dariku? Apa ada alasan yang membuat mereka tidak bisa mengatakannya?

Aku mulai mengacak rambutku sendiri.

Hentikan! Hentikan! Aku sekarang ini harus berkonsentrasi dengan pekerjaanku, menyelesaikan naskah ini secepatnya sebelum deadline. Aku memegang pensil untuk menggambar sampai dering telpon yang keras menggangguku, membuatku meraihnya yang berada di dalam kantong switerku. Melihat nama Hiro-chan di layarnya, langsung saja aku memencet tombol terima di layarnya.

"Moshi-moshi, ini dengan [f/n]. Ada yang bisa dibantu?"

"Bagaimana keadaanmu?"

"Eh?! Ke—keadaan?! Ya, aku baik kok. Tentu saja!"

Sudah lama sekali aku tidak mengobrol dengannya, lagian untuk apa aku merasa gugup hanya dengan telponnya? Sudah begitu aku berbohong, padahal aku sedang tidak baik-baik saja saat ini.

"Oh syukurlah, pokoknya teruslah bekerja jika kau tidak ingin telat menyerahkan naskah saat deadline seperti biasanya.."

"Ugh.. aku tahu, sekarang aku sedang mengerjakannya!"

"Kau terlalu yakin.."

"Apaan sih? Kan sudah kubilang aku baik-baik saja!"

"Jangan terlalu yakin! Produktifitasmu itu suka naik-turun, aku tahu belakangan ini kau suka mengacaukan pekerjaanmu.." Aku hanya merengut mendengar ceramahannya yang menyebalkan, "Pada awalnya memang bagus, tapi tidak ada yang tahu kapan kau akan terjatuh.. Jika itu terjadi jangan bertingkah sombong untuk mengeluh padaku.." Kalau dipikir-pikir ceramahannya ada benarnya juga, itu membuatku sedikit sudah merasa terjatuh sebelum benar-benar terjatuh (-_-")

"Oh, aku mengerti.." entah bagaimana seperti ada aura suram yang mengerubungiku.

"Semangat ya.."

Mendengar kata-katanya ketika mengucapkan itu membuatku sedikit senang, dia selalu mengatakan hal yang membuatku sakit hati jika membicarakan soal pekerjaannya, hanya saja setelah itu dia akan mengatakan sesuatu yang membangunku untuk bekerja lebih baik lagi.

"Oh! Serahkan saja padaku!" membuatku mengucapkan kata-kata itu dengan penuh semangat.

Tunggu dulu, aku berbicara seperti biasa dengannya. Padahal suasana diantara kita sedang buruk saat ini. Itu membuatku berpikir bahwa aku merindukannya, eh, kenapa begitu? Yah, soalnya aku sudah terbiasa dengannya selama ini. Tapi kali ini terasa berbeda, aku ingin bertemu dengannya.

Aku terus menggenggam Handphoneku dalam diam menunggunya berbicara lebih dulu, namun suaranya tidak kunjung terdengar.

"Hiro-chan? Ada apa? Apa ada yang salah dengan name yang aku buat?"

"Gomen, bukan itu. Sebenarnya, Hayama menelponku tadi. Dia bilang kau bertingkah aneh, itu membuatku khawatir"

Kotarou menelponnya?

Pertanyaan Hiro-chan membuatku terpaku, aku tak tahu harus bilang apa? apa yang mereka bicarakan di telpon tentang tingkahku?

"Tidak ada apa-apa, kok. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya bertingkah aneh seperti biasanya, yah kau tahu bukan? Ahahaha~"

"Apa dia mengatakan sesuatu yang aneh tentangku?"

Pertanyaannya bagai petir yang menyambarku, membuatku teringat akan pertanyaan Kotarou sebelumnya.

Kau bertingkah aneh lagi, apa Mayuzumi-san mengatakan sesuatu yang aneh tentangku?

Bukankah kalian yang bertingkah aneh?

"Ti—tidak, apanya? Dia tidak berkata apa-apa kok, kami bekerja seperti biasanya"

"Benarkah?"

"Gomen, aku ingin mandi dulu—"

"[f/n]"

"Kututup telponnya ya!" ucapku yang langsung menutup telponnya.

Aku terdiam beberapa saat menatap Handphone yang ada di genggaman tanganku. Segalanya yang terjadi diantara mereka, ternyata begitu membuatku kepikiran. Aku pergi keluar dari studio. Menuju ruang tamu, menghempaskan tubuhku ke sofa. Menutup wajahku dengan bantal lalu berteriak sekencang-kencangnya, kehabisan nafas membuatku melepaskan bantal itu, mengubah posisi tidurku menjadi tengkurap.

Semua kejadian ini membuatku kesal..

.

.

.

.

.

"Hah.. Menggambar Manga sambil menjalani kuliah itu sangat melelahkan~" keluhku berjalan-jalan di sekitar halaman kampus dengan Hiro-chan di sampingku, dia melirikku dengan wajah datarnya.

"Lalu kenapa tidak berhenti kuliah saja?" tanya Hiro-chan.

"Aku tidak bisa, aku membutuhkan lisensi keahlian untuk jaga-jaga jika aku gagal dengan Manga.."

"Aku akan bertanggung jawab soal itu, lagipula gambarmu bagus, aku yakin kau akan berhasil.."

"Hiro-chan~"

"Jangan menatapku dengan wajah bodohmu itu" ucapnya seraya menepuk kepalaku dengan Light Novel yang di pegangnya, namun mataku beralih dengan gadis cantik yang berjalan di belakang Hiro-chan sambil bergandengan tangan dengan pria lain.

Gadis itu adalah Haruko-senpai, setahuku dia dan Hiro-chan menjalin hubungan.

Lalu kenapa?

"Hiro-chan, itu Haruko-senpai! Dia selingkuh lho~ cepat, kau tidak akan membiarkannya, 'kan?!" ucapku yang ingin menghampiri Haruko-senpai, hanya saja aku merasa Hiro-chan menahanku dengan menarik tas ranselku.

"Biarkan saja, lagipula kami sudah putus.."

"Eh? Kenapa?! Apa dia menyakitimu?"

"Tidak, justru kalau berlanjut aku yang akan menyakitinya. Karena itu, aku setuju saat dia minta putus"

"Kenapa? Padahal Haruko-senpai gadis yang baik"

"Aku juga berpikir begitu, hanya saja terkadang segala hal pasti ada saja yang tidak sesuai keinginanmu.."

.

.

.

.

.

Aku membuka mataku perlahan, yang kulihat adalah langit-langit kamarku. Ini aneh, perasaan aku tidak tidur di sini kemarin. Aku melihat di dahiku terpasang kain yang agak basah yang kuambil lalu berusaha duduk. Entah bagaimana, aku juga merasa sudah tidur dalam waktu yang cukup lama.

Kriieeet~

"Kamu sudah bangun?"

Aku melihat pintu kamarku yang terbuka, menampakkan siluet seseorang yang memasuki kamarku. Tercium juga bau sedap yang menguar dari nampan yang dibawanya. Wajahnya menatapku datar, menghampiriku dan menaruh nampan berisi makanan itu di atas lemari laciku.

"Hiro-chan? Kenapa kau ada di sini?"

"Kau pingsan karena demam tinggi" ucapnya yang duduk di pinggir kasurku.

"Benarkah?" tanyaku.

"Sudah 2 hari kau tertidur.."

"BENARKAH?!" mendengar kata dua hari itu mengingatkanku akan pekerjaanku yang belum selesai, Hiro-chan menyentil dahiku.

"Tidak usah lebay begitu" ucapnya yang kemudian berdiri dari kasur, "Aku tak bisa lama, aku harus bekerja sekarang. Jangan lupa makan buburnya dan minum obat, kadang kau suka mengabaikan kesehatanmu,'kan?"

Aku hanya melakukan gerakan hormat gerak padanya sambil bilang, "Siap Kapten!" setelah itu dia tersenyum lembut padaku yang membuatku mengalihkan pandanganku darinya, aku tidak bisa menatapnya!

Hiro-chan akhirnya pergi meninggalkan aku sendirian di sini, aku kembali tiduran di kasur karena masih merasa mengantuk. Aku memakai selimutku sampai sebatas hidungku. Bayang-bayang Hiro-chan yang tersenyum kembali terngiang di kepalaku dengan bunga-bunga dan efek angin-angin yang membuat rambutnya berterbangan, aku tersenyum membayangkannya.

Eh?

...

...

...

...

BAYANGAN MACAM APA ITU?!

Aku terduduk di kasur mencoba menyadarkan diri dengan mengacak rambutku.

Tidak mungkin,'kan? Saat Hiro-chan tersenyum entah bagaimana aku merasa malu dan hatiku berdebar-debar?! Tunggu, ini benar-benar aneh! Maksudku aku tidak pernah punya pacar sebelumnya, nah itu dia! Aku hanya terbawa suasana saja, ya pasti begitu..

Terbayang lagi wajahnya yang tersenyum lembut, aku tersenyum kembali membayangkannya. Aku terbangun dan berdiri di atas kasurku sambil mengacak rambutku lagi.

Tidak-tidak-tidak..

Tidak mungkin aku mengidap sindrom seorang gadis yang jatuh cinta pada Hiro-chan!

Aku melihat semangkuk bubur yang masih mengepul dengan asap di atasnya, untuk menjernihkan kepala aku makan saja dulu. Aku mengambil semangkok bubur itu lalu terduduk di pinggir kasurku, aku melihat bubur itu lalu teringat Hiro-chan lagi.

HAAAAAAAAAAAA! GAK NGEFEK SAMA SEKALI!

Akhirnya aku memutuskan melupakan bubur itu, aku bisa memakannya nanti. Sekarang kita lihat dulu isi dapurku tepatnya pada kulkasku, ini dia apa yang aku punya. Benar juga, bagi orang dewasa untuk menjernihkan kepala adalah dengan meminum sekaleng bir.

Ketika aku membuka kulkas, semua bir itu hilang. Pasti Hiro-chan membawanya karena tahu aku pasti akan meminumnya meski dalam kondisi sedang sakit. Aku beralih pada sosis siap makan yang ada di kulkas, mengambilnya sebungkus besar itu.

Aku meletakkannya di atas meja tamu lalu mengaktifkan TV, aku memegang sosis itu dan membuka segel pembungkus yang ada di tengah. Kau tahu? Sekarang ini banyak makanan yang serba instan termasuk sosis, bagiku sosis ini terasa palsu.

.

.

.

.

.

Aku mengeringkan rambutku dengan hairdryer setelah mandi, badanku yang awalnya lengket terasa enakan setelah mandi. Setelah ini aku akan mengerjakan pekerjaanku sebelum deadline, saat sudah benar-benar kering aku menyisir rambutku yang tergerai dan memakai cepitan pada poniku yang mengganggu.

Aku memasuki studioku. Menyiapkan peralatan seperti kertas-kertas dan pensil. Aku duduk di kursi dengan tanganku yang memegang pensil dan mulai menekannya di kanvas.

TINGTONG TINGTONG!TINGTONG!

Siapa sih sore-sore begini datang? Mengganggu saja!

Aku keluar dari studio, berjalan sebentar di lorong rumahku yang mengarah ke pintu depan. Aku menekan ke bawah kenop pintu yang mulai terbuka. Menatap ke bawah melihat siluet kaki seorang gadis yang aku kenal. Pandanganku beralih ke atas, itu Miyazaki-san.

"Kon'nichi wa, sensei.."

"Miyazaki-san? Apa kau datang untuk pekerjaan? Gomen, aku belum menyelesaikan naskahku.. ehehe.." ucapku menggaruk belakang kepalaku, "Bagaimana kalau masuk dulu?" tawarku padanya, dia hanya tersenyum lalu masuk ke dalam rumahku.

Aku mengajaknya ke ruang tamu, lalu menyuruhnya duduk sementara aku membuat segelas sirup jeruk, jarang-jarang ada asistant yang mengunjungiku di luar jam kerja—walau itu juga membuatku senang sih~

Oh atau.. dia mau curhat padaku?! Bagaimana cara menangani hal seperti ini?!

Aku panik sendiri dengan apa yang aku pikirkan, sampai membuat sirup yang aku tuang kebanyakan hampir mencapai segelasnya. Akhirnya aku membuatnya ulang, sisa sirup yang masih ada di gelas itu aku taruh di kulkas.

Aku membawa sirup itu ke meja tamu, "Jarang sekali ada asistant yang mengunjungiku di luar jam kerja, tapi aku senang!" ucapku sambil menyiapkan beberapa cemilan, "Oh! Atau Miyazaki-san menjengukku? Aku memang demam tinggi, tapi karena bekerja denganku sebenarnya kau tidak perlu sampai melakukannya.. Aku juga sudah sembuh kok!" Aku terus mengoceh banyak hal, tapi Miyazaki-san hanya diam saja membuatku jadi bingung harus melakukan apa.

"Mmh, Miyazaki-san—"

"Sensei, apa ada seseorang yang kau sukai?"

"Eh?! Ke—kenapa bertanya begitu?"

"Apa orang itu Mayuzumi-san?"

"Ki—kita hanya teman masa kecil, a—apa kau cemburu padaku? Tentang itu kau tidak perlu.."

"Bohong.." aku terdiam mendengar ucapannya, pandangannya padaku, matanya terasa sangat kosong ketika menatapku.

"Aku tidak bohong"

"Kau bohong.." Miyazaki-san mengepalkan tangannya, "Semua orang bisanya hanya berbohong.." tubuh Miyazaki-san bergetar seperti menahan amarah.

"Mi—miyazaki-san?" tanyaku pelan.

"Kenapa harus kau? Apa karena kau teman masa kecilnya? Bukankah ini tidak adil? Kenapa harus sensei yang menjadi pengganggu?"

"Pengganggu? Aku tidak mengerti, apa aku berbuat salah?"

Miyazaki-san menunduk dengan mencengkram erat roknya sampai kusut, "Aku.. aku juga mencintainya, hanya mencintainya.."

"Tapi aku tidak berbohong, Miyazaki-san"

"KAU BERBOHONG!" Miyazaki-san membanting gelas dan cemilan yang ada di atas meja dan menatapku nyalang, dia terlihat sangat marah. Aku bertanya-tanya apa yang sudah terjadi padanya? Aku hanya menatapnya dengan khawatir, aku ingin mendekatinya tapi dia menatapku marah membuatku tak berani melakukan apapun.

"Apa-apaan tatapanmu itu, sensei? Kurang ajar.." aku mengalihkan perhatianku darinya, "Kau pikir aku gila,'bukan?" bibirku bergetar dengan kata yang ingin aku ucapkan padanya, Miyazaki-san kemudian terjatuh dan menangis di lantai.

"Aku kasihan pada Mayuzumi-san.. hiks.. Dia begitu menyukaimu meski kau tidak pernah membalasnya.. hiks.. Aku tahu perasaannya.. karena aku sendiri pernah merasakannya.. Kami berdua itu sama.. hiks.. huhu.. huaha.. ahahahaha~"

Aku kasihan padanya, tapi saat ini Miyazaki-san berbeda. Dia terlihat menakutkan, aku juga berpikir dia sudah mulai gila.

"Hiro-chan bukan orang sepertimu.." ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku.

Hiro-chan adalah orang yang selalu tegar ketika dia tertolak, jangan samakan dia dengan orang-orang sepertimu. Hanya aku yang tahu seperti apa dia. Kali ini untuk pertama kalinya, aku marah dengan salah satu asistant yang aku pekerjakan sendiri.

"KITA SAMA!" teriaknya dengan melempar majalah yang ada di bawah meja tamu padaku, salah satu majalah mengenai wajahku membuat luka gores dan menimbulkan rasa perih.

"Kenapa aku harus sakit hati menunggu orang yang menyakitiku?!" Miyazaki-san mendekatiku dan mencengkram erat kedua pundakku, pandangan matanya yang kosong menatapku tajam, "Hey?! Kenapa?! Katakan padaku?! Ayo!" ucapnya penuh emosi, dorongan darinya membuatku terjatuh.

Aku berada di bawahnya tak dapat melakukan apapun, dia mencengkram leherku kuat membuatku tak bisa bernafas. Aku mencoba melawannya. Tanganku juga mencengkram tangannya untuk menghentikannya. Tapi percuma saja, nafasku sudah hampir habis dan leherku juga terasa sakit—aku sudah tak memiliki tenaga lagi.

BIP..

Itu suara kode password pintu rumahku.. siapa? Mataku sudah mulai berkunang-kunang..

"[f/n]-chan! aku datang menjengukmu, ada apa ini? Kau berisik sekali—"

Itu Kotarou kedengarannya dia terkejut, tak butuh waktu lama Kotarou langsung berteriak, "Hey, kau! apa yang kau lakukan padanya?!" ucapan Kotarou seperti menyadarkan Miyazaki-san yang langsung melepaskan cekikannya dari leherku. Kotarou berlari ke arahku yang terbatuk-batuk mengelus punggungku dengan wajah khawatirnya.

"[f/n]-chan, kau baik-baik saja?"

"Uhuk! Uhuk-uhuk.." Aku memegang leherku yang masih terasa sakit.

"A—aku tidak bermaksud.." Miyazaki-san mencoba menjelaskan dengan wajah ketakutan.

Kotarou menatapnya bengis, "Aku akan melaporkanmu pada polisi.." ucap Kotarou membuat Miyazaki-san ketakutan sampai hampir mengeluarkan air mata, Kotarou kelihatan ingin menyeret Miyazaki-san ke kantor polisi. Aku menahan lengan Kotarou untuk tidak melakukannya.

"Jangan, biarkan saja dia.." ucapku yang membuat Kotarou tidak menerimanya.

"Jangan bercanda! Dia akan membunuhmu tadi, aku tidak bisa menerimanya!" Aku meremas lengan Kotarou dengan tangan bergetar, jangan salah kira aku merasa takut juga saat ini. Kotarou sudah mulai melunak, Kotarou menatap Miyazaki-san yang masih bergetar ketakutan di tempatnya. "Kau pergi sana dari sini, asal kau berjanji jangan dekati [f/n]-chan lagi. Maka kasus ini tak akan aku laporkan pada polisi. Kau ini perempuan menjijikan, jangan pernah kau menampakkan diri lagi di sini.." Mendengar ucapan Kotarou yang kejam itu membuat Miyazaki-san berlari keluar dari apartemenku.

"Ucapanmu padanya terlalu kejam" ucapku yang merasa itu memang terlalu kejam.

"Itu setimpal dengan perbuatannya, selain itu apa tak masalah kau tidak melaporkannya ke polisi?" tanya Kotarou yang membantuku duduk di sofa.

"Tidak akan, aku yakin dia tidak akan kembali lagi"

"Seandainya aku tidak datang kau pasti sudah mati tercekik.. dimana kau menyimpan kotak P3K?" tanya Kotarou.

"Itu ada di lemari obat di kamar mandi.." ucapku yang membuatnya mencari kotak P3K, sepertinya karena terjatuh membuat goresan di sekitar siku tanganku yang terkena pojokkan meja, pendarahan mulai terjadi di luka itu. Aku bersyukur, bukan tangan kananku yang terluka. Aku masih bisa mengerjakan naskahku.

Kemudian pikiranku berkecamuk ke arah lain. Aku memang lega saat Kotarou datang, aku tahu pasti aku akan mati saat itu juga. Aku merasa kasihan pada Miyazaki-san. Awalnya dia gadis yang baik tapi karena aku—

"Apa yang kau lamunkan?" tanya Kotarou yang sudah membawa kotak P3K, dia duduk di sampingku dengan antibiotik dan kapas yang dikeluarkannya.

"Aku hanya berpikir, betapa menyedihkannya hal ini. Padahal awalnya kami berteman—" Aku menunjukkan luka gores pada sikuku pada Kotarou yang menempelkan kapas yang sudah dibasahi antibiotik. Sebenarnya terasa perih, tapi kau tetap menahannya.

"Seorang teman tidak akan melukaimu meski ada kesalahan kecil yang terjadi, jadi kau tidak perlu memikirkannya karena dia tak pantas kau sebut teman.." untuk pertama kalinya aku terpukau dengan kata-kata Kotarou, biasanya dia hanya melawak atau iseng jadi aku tidak terlalu menganggapnya serius.

"Kau bisa bijak juga, Kotarou.." komentarku akhirnya terlontar.

"Memang selama ini kau anggap aku apa? (-_-")"

Aku hanya tersenyum padanya, "Terima kasih ya, kau sudah menyelamatkanku"

Seperti biasa pria ini hanya tersenyum lima jari, "Sebagai gantinya kau harus mentraktirku besok~"

"Heeeee? Curang! Kau juga bukan temanku, hmmp!"

"Aku bercanda kok, jangan ngambek dong!"

"Baiklah, tapi jangan yang mahal-mahal lho~"

"Baiklah, sensei~ tapi setelah itu kau harus menemaniku nonton"

"Oke!"

Kupikir aku juga menyukai kebaikan Kotarou, dia selalu tahu apa yang harus dilakukan ketika aku terpuruk. Jadi aku pikir tidak ada salahnya mentraktir dia kali ini.

.

.

.

.

.

Hayooo~ jadi bingung kan mau milih Mayuzumi atau Kotarou? ahahaha :'v

Jangan lupa vote, fav, and follow kyuu! Please, jangan jadi silent reader.. kyuu juga butuh dukungan dan masukan gaes~ (;_;) Huhu~