Judul : Listen to Me, Baby

Chapter : 8

Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan absurd readers

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, Saya hanya pinjam Chara untuk dipasangkan dengan readers sekalian njay :v

Rating : T mungkin, tergantung suasana hati Kyuu.

A/N :

Mungkin fict ini akan sering berganti sudut pandang setiap chapternya :v

Selamat menikmati! ;)

.

.

.

.

.

Hari ini aku bebas. Semua pekerjaanku sudah selesai. Setelah sekian lama aku akhirnya mendapatkan hari libur juga. Aku sudah berjanji akan mentraktir Kotarou hari ini. Aku melihat keluar jendela, matahari berada di puncak langit. Betapa teriknya musim panas tahun ini.

Jadi malas :v

Tapi aku yang berjanji, jadi tidak mungkin membatalkannya.

Aku kembali pada meja rias untuk merias wajahku untuk keluar rumah, aku memakai kemeja putih dengan motif garis kotak-kotak berwarna hitam, di bagian bawahnya aku memakai rok berwarna hitam sebatas lutut.

BIIP~

Aku mendengar pintu apartemenku yang terbuka, tadinya aku kira itu adalah Kotarou. Ternyata aku salah itu Hiro-chan yang membawa bungkusan. Sepertinya dia habis berbelanja. Sekarang aku mulai yakin, dia terlihat seperti Ibuku saja.

Matanya melirik padaku, Hiro-chan terlihat heran dengan penampilanku yang terkesan rapih.

"Kau mau pergi?" tanyanya yang berjalan melewatiku menuju dapur, "Kalau seperti ini lebih baik aku menikmati hari liburku di rumah.."

"Maaf, aku tidak tahu kau akan datang. Lagipula, kau tidak perlu berbelanja dan memasak untukku setiap waktu" ucapku padanya yang hanya terdiam.

Apa dia marah?

"Aku melakukan ini karena aku peduli padamu.." ucapnya yang memasukan belanjaannya ke dalam kulkasku. "Kau akan pergi sampai jam berapa?"

"Aku hanya pergi nonton dan mungkin jalan-jalan sebentar, memangnya kenapa?"

"Hmm.. sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu pergi ke festival kembang api malam ini.." ucapnya yang selesai memasukkan semua belanjaannya ke dalam kulkas dan menutupnya.

Aku yang mendengar festival kembang api langsung beraksi. Maksudku kenapa dia tak mengatakannya sejak kemarin?! Tentu saja aku mau, acara mentraktir Kotarou dan nonton tak akan lama. Lagipula, pergi ke festival bersama Hiro-chan sudah seperti rutinitas tahunan.

"Aku mau ikut!" ucapku yang menghadang tepat di depan Hiro-chan.

"Bukannya kau ingin pergi?"

"Ya, tapi kurasa nonton bioskop bersama Kotarou tak akan lama.." jelasku padanya yang menampakan ekspresi yang menakutkan seperti saat dia menagih naskahku saat deadline. Wajahku memucat melihatnya.

Tunggu, apa yang membuatnya terlihat sangat marah sampai seperti itu?

"Kau pergi dengannya? Batalkan saja.."

"Heh? Mana mungkin aku sudah janji dengannya! Memangnya apa itu masalah bagi Hiro-chan?"

Hiro-chan memang teman masa kecilku tapi bukan berarti dia bisa memutuskan apa yang akan aku lakukan, lagipula Kotarou juga temanku. Mana mungkin aku menolak ajakan temanku. Meskipun, hubungan mereka tidak dekat. Apa tak bisa dia bersikap dengan lembut? Bukankah Kotarou juga rekan kerjanya?

"Aku tak menyukainya, itu masalahnya"

"Hah? Aku tidak mengerti sama sekali, Hiro-chan selalu saja bersikap kekanakan! Pokoknya aku akan tetap pergi dengannya.."

"Apa kau menyukainya?"

Pertanyaannya membuatku terdiam. Menyukainya? Tentu saja, kita kan berteman. Aku menyukai semua teman-temanku. Apa itu hal yang salah? Bukannya kau juga pergi bersama wanita lain?

"Terus apa bedanya dengan Hiro-chan? kau juga sama saja, 'kan?"

"Hey, aku yang sedang bertanya di sini.."

"Aku juga!"

Aku tidak mau kalah dengannya. Jujur saja, kejadian dibar saat itu masih menggangguku. Hiro-chan tak pernah mengatakan apapun ketika dia dekat dengan seorang wanita. Aku juga tak pernah melarangnya bermain dengan siapapun, lalu apa salahku jika aku ingin pergi main dengan Kotarou.

"Lupakan saja.." ucapnya yang langsung pergi seperti biasanya, aku tak pernah mengerti tentang dirinya. Dia selalu akan langsung pergi begitu semuanya berakhir seperti ini.

Kenapa akhir-akhir ini kami selalu bertengkar?

.

.

.

.

.

Setelah menemani Kotarou nonton bioskop, akhirnya kami datang ke restaurant seafood dekat laut. Suasananya gemerbak oleh angin dari berbagai arah. Dari balkon di samping terlihat pemandangan laut yang indah. Entah bagaimana Kotarou mengajakku kemari.

Aku makan dengan cepat dan banyak karena sangat kesal dengan kelakuan Hiro-chan yang sangat tidak aku mengerti, Kotarou yang berada di depanku hanya tersenyum memperhatikanku. Aku menjadi merasa tak enak karena aku yang menawarkan traktiran tapi aku sendiri yang makan lebih banyak. Aku meletakkan kaki kepiting yang sedang aku korek dagingnya dengan garpu kecil.

"Gomen Kotarou, padahal aku yang akan mentraktirmu tapi aku—"

"Tak apa, lagipula aku lebih suka melihatmu makan.." ucapnya yang membuatku agak malu, "Ada apa? apa kau sedang kesal, [f/n]-chan?"

"Aku hanya sedikit bertengkar dengan Hiro-chan.."

"Ahahahaha~ kau sering sekali bertengkar dengannya.."

Aku mengpoutkan bibirku, "Habisnya dia tidak suka aku bersamamu.." sejenak aku melihat wajah Kotarou yang menegang lalu dia tersenyum.

"Begitu ya? Hubunganku dengannya memang sudah kaku sejak awal.." ucapnya yang kembali menikmati makanannya.

Suasananya yang menegang membuatku mengalihkan topik pembicaraan, "Oh iya, bukankah film tadi sangat lucu? Aku suka saat bagian si pria melakukan senam aneh" jelasku yang tertawa mereview film yang beberapa saat lalu kami tonton.

Kotarou juga tertawa mengingatnya, "Iya lucu, dari dulu kau memang suka film lawak"

Seorang pria yang menggunakan seragam pelayan datang ke arah kami membawa sebotol anggur yang terlihat mahal dan dua gelas yang langsung di taruh di atas meja, aku yang melihatnya hanya memandang bingung karena aku tidak memesannya.

"Ini traktiranku.." ucap Kotarou seakan tahu apa yang aku pikirkan.

"Kenapa? Itu kan mahal.." ucapku dengan Kotarou yang menuangkan anggur itu ke gelas,

"Aku suka minum ini"

"Aku baru tahu~"

"Banyak hal yang tidak kau ketahui tentangku, apa kau ingin tahu lebih?" tanyanya yang hanya aku tanggap dengan pertanyaan yang diselingi candaan, "Aku suka Kappamaki, aku suka sejarah, aku buruk dalam menangani waktu dan sering kali tertinggal, Aku mulai bermain basket ketika seseorang dari mini basket mengajakku, aku tak suka gadis munafik dan—" dia menggantungkan kata-katanya menatapku yang aku balas dengan menatapnya, "—Aku menyukaimu.."

"Ya?" tanyaku meyakinkan, karena sepertinya aku salah dengar.

"Aku menyukaimu"

Aku mematung seketika, aku mencoba kembali bertanya karena mungkin aku sedang mabuk laut sehingga pendengaranku agak error.

"Umm.. maksudmu sebagai teman?" tanyaku padanya.

"Bukan, sebagai lawan jenis.." ucapnya yang tersenyum dan menatapku intens.

Sekarang aku tidak mematung melainkan membeku karena saking syoknya. Rasanya saat ini aku ingin menabok diriku sendiri. Udara pegunungan bersalju seketika menjadi background dari pembekuan yang terjadi. Aku sampai tak sanggup untuk menyuap makananku yang garpunya sudah tertusuk daging kepiting.

Kotarou yang mengalihkan pandangannya dari depanku seperti merasa canggung. Tidak, suasananya memang canggung. Aku merasakan feromon lelaki jatuh cinta pada Kotarou, hanya saja bagaimana bisa itu adalah aku.

"Aku khawatir hal ini akan menjadi canggung bagimu, terutama saat kita akan bekerja, tapi sesungguhnya aku sudah menyukaimu sejak SMA.." lanjutnya yang mendengus memainkan makanannya dengan garpu, "Sepertinya kau sama sekali tidak menyadarinya.."

Perkataannya membuatku tersadar akan yang terjadi pada kami selama ini, wajahku langsung terasa memanas karena efek malu yang menyebar. Aku menunduk memperhatikan cangkang kepiting yang dagingnya sudah aku makan dengan tersenyum canggung.

KENAPA PERKEMBANGANNYA JADI SEPERTI SHOJOU MANGA?! Ucapku dalam hati, ngenes.

Oke, aku benar-benar frustasi harus melakukan apa!

Masalahnya yang mengatakannya adalah Kotarou, aku bahkan tidak mengerti bagaimana dengan perasaanku sendiri.

"Tapi kenapa?"

"Apa?"

"Kenapa kau menyukaiku?" mata Kotarou tergerak seperti mencari sebuah jawaban sampai kembali menatapku.

"Karena kau cantik"

"Eh?"

"Selama ini aku selalu menyukaimu.." Aku terus mendengar kelanjutan ucapannya, "Saat kelas 2 SMA, di hari pertama masuk kau duduk di sampingku dan tersenyum menyambutku. Hal pertama yang kusadari kau itu cantik, struktur wajah yang sempurna. Benar-benar tipeku. Aku kemudian tahu kau orang yang begitu polos, kau tahu sendiri kan aku tak suka gadis munafik? Setelah itu, aku tidak bisa beralih ke lain selain dirimu" jelasnya yang membuatku terperangah antara merasa malu dan bingung, aku menutup mataku dan menghela nafas pasrah.

Hal ini sama sekali tak bisa kupercayai. Kotarou terlihat kecewa akan reaksiku.

"Kau seperti tidak dapat mempercayainya.."

"Tentu saja, kau tahu kan aku Fujoshi.."

"Jadi?"

"Aku hanya tidak menyangka kau bisa menyukaiku"

"Soalnya kau menarik.." mendengarnya membuatku refleks menatapnya, "Maksudku seiring waktu perasaanku terus bertambah terhadapmu, bahkan aku tak peduli siapa dirimu. Aku hanya menyukaimu" perkataannya membuatku terperangah, baru kali ini ada seorang pria yang menerimaku apa adanya.

.

.

.

.

.

"Mengantarmu setelah mengatakannya membuatku merasa canggung.." ucap Kotarou wajahnya agak merona dengan menggaruk pipinya dengan jari telunjuk, aku hanya tersenyum tanpa menatapnya sampai tak sadar dia sudah mengantarku sampai gedung apartement.

"Sudah sampai, hari ini sampai di sini dulu, jaa nee.."

"Ummh, Ja—jaa nee~" ucapku gugup.

"Ah, soal yang tadi kau bisa berikan jawabannya kapan saja" ucapnya tanpa rasa ragu membuatku merona malu dan meremas tali tasku, kemudian dia berlalu begitu saja.

Begitu masuk ke dalam aprtement aku merebahkan diriku di atas kasur sama sekali tak ingin memikirkan apapun, meski begitu terbayang secara terus-menerus dalam benakku ketika Kotarou mengatakan perasaannya.

Aku menutup wajahku dengan bantal lalu menggerakkan kakiku membanting kasur. Aku terhenti sejenak untuk terdiam. Aku memang menyukai Kotarou, tapi aku tak pernah berpikir untuk memandangnya sebagai pria.

Aku menutup mataku dan tanpa sadar aku pun terlelap dalam kegelapan.

.

.

.

.

.

Aku membuka mataku, terduduk dengan mengucek mataku yang berair. Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam. Aku keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air. Aku merasa seperti melupakan sesuatu entah apa itu. Aku berjalan santai kembali ke dalam kamar sambil membawa sebungkus keripik kentang.

Aku melihat sesuatu bercahaya dari dalam tas yang aku pakai saat aku pergi tadi, aku langsung mengambil tasku dan melihat notifukasi dari ponselku yang menunjukkan aplikasi berwarna hijau yaitu LINE. Aku melihat pesan dari Hiro-chan yang membuat notifku jebol.

Kau sudah pulang?

Aku menunggumu di dekat kuil..

Kau dimana? Festivalnya sudah mulai bodoh!

Aku sudah menunggumu selama 1 jam..

Karena kau bodoh aku akan sabar..

Kau kira ini sudah jam berapa?! Aku sudah menunggumu selama 2 jam lebih!

Aku akan berjalan-jalan ke dalam kalau kau datang katakan saja..

Kembang apinya sudah dinyalakan tapi setidaknya festivalnya belum berakhir..

Kau sudah menantikan festival ini, jadi aku akan menunggumu..

Mataku membulat melihat pesan dari Hiro-chan, aku pikir dia marah.

Lupakan saja..

Aku kembali teringat ketika dia mengatakannya. Ketika dia marah maka dia akan terdiam dengan sendirinya, tidak mau menatapku, atau bicara padaku. Tapi kenapa dia menungguku? Harusnya dia pulang saja. Harusnya dia ajak orang lain saja.

Tanpa berpikir lebih panjang aku langsung berlari keluar apartement menuju tempat festival di adakan, aku berlari mengitari jalanan yang mulai sepi karena hari yang sudah malam. Aku tak peduli tentang itu, aku hanya ingin bertemu Hiro-chan.

Aku ingin berbaikan lagi dengannya, aku ingin melihat wajahnya sesering mungkin seperti dulu. Aku ingin bertemu dengannya, meskipun dia akan memarahiku atau mengolokku dengan kata-kata pedasnya. Walaupun dia sudah memiliki gadis lain yang ada di bar itu, kenapa dia juga menciumku? Aku kembali teringat beberapa saat lalu.

Apa dia bertengkar dengannya? Jadi menganggapku sebagai pengganti. Apa dia berpikir aku perempuan seperti itu? Jika memang begitu aku akan membencinya.

Kau ini sama sekali tidak peka..

Aku teringat perkataannya saat kami bertengkar, itu pertama kalinya dia terlihat begitu marah. Aku merasakan ngilu di sekitar dadaku ketika memikirkannya, tanpa sadar air mataku keluar.

Eh? Kenapa? Aku menangis? Aku menangis karena apa?

Apa aku menangis karena berpikir dijadikan pelampiasan oleh Hiro-chan? kalau begitu harusnya dia katakan agar aku mengerti, jangan libatkan aku seperti ini.

Seandainya saja, orang yang disukai Hiro-chan itu aku..

...

...

...

Eh?

EEEEEH?! APA YANG BARU SAJA AKU PIKIRKAN?!

Bu—bukan begitu! Ya.. makanya!

Aku langsung buru-buru menghapus air mata yang entah kenapa mengalir dengan sendirinya, langkahku ternyata sudah sampai di depan tangga kuil. Di sekitar kuil itu standnya sudah pada tutup. Aku mencari-cari Hiro-chan, tak menemukannya aku masuk ke dalam lokasi festival yang sudah sepi. Aku hanya melihat pedagang yang sedang membereskan stand mereka yang akan ditutup.

Tak melihat keberadaan Hiro-chan membuatku kecewa, tentu saja dia pasti sudah pulang. Memangnya siapa yang mau menunggu seseorang sampai selarut ini, hanya orang bodoh yang mau melakukan itu. aku berbalik menuju bagian belakang kuil, keluar dari area kuil aku berjalan di trotoar pinggir jalan. Langkahku terhenti begitu mendengar suara mesin minuman.

Refleks aku mengangkat kepalaku, mataku membulat melihat seseorang yang sedang mengambil minuman kaleng di mesin itu. Seakan merasa di perhatikan begitu selesai mengambil sekaleng minuman, orang itu juga balas melihatku dengan wajah datarnya.

"Oh, kau sudah datang.." ucapnya seakan menunggu selama 6 jam lebih bukanlah masalah, orang itu Hiro-chan yang masih menungguku.

"Kenapa kau masih di sini?" tanyaku yang agak kesal padanya.

"Tentu saja menunggumu.."

"Kau sudah menunggu selama 6 jam lebih, apa kau tidak kesal?"

"Tentu saja aku kesal, bahkan sekarang aku ingin sekali memberimu pelajaran.." ucapnya dengan aura hitam yang pekat, seperti ada dendam yang menyelimutinya. Aku langsung bergidik dan sedikit menjauhinya.

"Aku—aku kan tidak menyuruhmu untuk menunggu.."

"Gomen, padahal kau ingin melihat kembang apinya tapi sudah tidak ada.." ucapnya dengan raut wajah menyesal, padahal itu hanya kembang api. Aku juga sering melihatnya, jadi jangan tunjukkan wajah seperti itu.

"Kalau begitu, ayo kita lihat!" ucapku yang memandangnya, pandangannya terlihat terkejut namun juga tersirat kebingungan.

.

.

.

.

.

Aku menatap buliran cahaya yang merambat keluar dari sebatang kembang api, sambil dengan memutar-memutarnya sehingga menjadi kilatan cahaya yang bergoyang. Itu benar, aku mengajak Hiro-chan pergi ke konbini membeli kembang api yang sekarang kita mainkan di pinggir pematang sungai.

Aku menyenggol bahu Hiro-chan yang sejak awal diam saja, "Hey, ini menyenangkan bukan? Bermain kembang api~" tanyaku padanya yang masih diam saja dengan wajah menyeramkan, dia terlihat tak niat sama sekali untuk bermain kembang api.

"Huh? Menyenangkan ya?" tanyanya datar seperti tak niat, aku memajukan bibir bagian bawahku akan reaksinya yang tak antusias.

"Kau masih marah? Kan sudah kubilang aku tidak memintamu menungguku!" seketika mengatakannya kembang api yang aku pegang berhenti menyala karena kehabisan bahan.

"Aku tidak marah tentang itu, aku akan menunggumu selama 6 jam pun tak masalah, berapa lama pun itu aku akan menunggumu.." ucapnya yang membuatku terpukau akan hal itu, aku yang salah tingkah akhirnya mengambil satu batang kembang api dan menyalakannya dengan korek.

Apa yang harus kukatakan? Rasanya sangat tidak nyaman, kata-katanya membuat ku canggung. Oh iya, dia kan editorku, kenapa aku tidak membicarakan tentang name saja?

"Anoo—"

"Bagaimana dengan filmnya?"

"Eh?"

"Kau nonton film dengan orang itu, 'kan?"

Aku menatap wajah Hiro-chan yang masih fokus pada kembang api di tangannya, "Tentu saja, itu menyenangkan! Kita juga makan kepiting, bahkan Kotarou mentraktirku anggur yang mahal~"

"Begitu ya?"

Hening.

Kenapa ini? canggung sekali.

"Di—dia juga bilang dia menyukaiku.." lanjutku yang seketika kembang api yang kami mainkan meredup, Hiro-chan berdiri dari posisinya yang berjongkok—aku menatap punggungnya yang lebar itu dari bawah.

"Hiro-cha—"

"Editormu akan diganti.."

Mataku membulat ketika dia mengatakan sesuatu tentang pergantian editor, aku refleks ikut berdiri.

"Eh? Apa maksudnya? Kau tidak jadi editorku lagi?"

"Karena aku kau diserang Miyazaki-san, aku membuatmu terluka. Aku telah kehilangan kepercayaanmu sebagai Mangaka dan memilih langkah yang tepat atas kegagalanku. Karena aku yang memberikan pekerjaan itu pada Miyazaki-san.."

Aku menatap tanah yang ada di bawah, memikirkan apa yang harus aku katakan di situasi seperti ini. Ini bukan salah Hiro-chan. Miyazaki-san yang menyerangku, kenapa harus dia yang mundur?

"Ada banyak editor bertalenta di perusahaan kami jadi kau tidak perlu khawatir. Jika kau mau—"

"Tunggu dulu!" Aku menarik lengan Hiro-chan agar dia berbalik menatapku, "Kenapa tiba-tiba bilang begitu?! Aku tidak bisa menerimanya!"

Wajahnya menatapku datar, hanya saja ini berbeda, ada keseriusan pada pandangannya. Manik kelabunya yang selalu terlihat kosong itu menatapku sehingga membuatku terdiam. Aku terbius pada wajahnya yang menyiratkan akan sesuatu, aku bersabar untuk mendengar alasannya.

"Aku menyukaimu.."

Aku mematung begitu mendengar kalimat yang penuh makna yang akan dia ucapkan.

"Aku menyukaimu bukan sebagai teman atau adik, aku menyukaimu karena itu hanya kau. Mungkin, kau sudah tahu ketika aku menciummu. Tapi aku tetap ingin mengatakannya secara langsung dari bibirku. Alasan kenapa Miyazaki-san menyerangmu karena aku telah mengatakan hal yang sesungguhnya padanya"

Aku menyukaimu.. aku sudah tahu..

Apa yang baru saja dia katakan? Bukannya, dia sudah punya pacar. Wanita keren yang ada di bar itu. aku pasti salah dengar.

"Bisa kau ulangi? Karena sepertinya aku salah dengar, apa yang barusan kau ucapkan? Lagipula, kau kan sudah punya pacar.." ucapku memastikan sambil tersenyum canggung.

Hiro-chan sudah menjadi milik wanita lain, dan wanita itu adalah miliknya. Mereka hanya sedikit bertengkar, karena meskipun mereka baru berpacaran, bukan berarti hubungan itu akan berjalan lancar. Karena itu, Hiro-chan datang padaku.

"Pacar? siapa?" tanyanya yang malah balik bertanya.

"Eh? Tentu saja, Hiro-chan.."

Hiro-chan merubah raut wajahnya menjadi tak senang, ditandai dengan alisnya yang mengkerut, "Darimana kau bisa berpikir aku punya pacar?"

"Hmm~ saat kau bersama wanita di bar ketika aku membantu Reo-nee yang sedang mabuk.."

"Kenapa aku harus pacaran dengan wanita tua itu.." wajah Hiro-chan terlihat kesal ketika mengatakannya membuatku bergidik ngeri.

"Eh, jadi bukan?!"

"Ada apa antara dia dan aku sehingga kau sampai salah paham akan hal tidak enak begitu? Dia itu salah satu sensei yang bekerja denganku.."

Itu artinya Hiro-chan memang menyukaiku?

Menyadarinya membuat wajahku memanas, mata kelabunya kembali menatap wajahku.

"Awalnya aku memilih pekerjaan ini karena menyukai Light Novel, tapi perusahaan menempatkanku di divisi Manga—sejak itu, aku bertahan dalam pekerjaan ini agar aku bisa bersama denganmu. Aku sangat senang ketika aku menjadi editormu.." Hiro-chan kemudian duduk di pematang, aku juga mengikutinya, kami duduk bersebelahan dengannya yang memandang sungai dengan kelap-kelip lampu malam.

"Aku tidak menyadarinya.."

"Aku sudah mengatakannya berkali-kali, kau saja yang tidak peka.."

"Uh~" rasanya seperti ribuan batu maenjatuhiku.

"Tapi aku mengerti, Jika kau tahu kalau orang yang selalu kau anggap sebagai sahabat memiliki perasaan semacam ini selama 25 tahun, rasanya menjijikan, 'kan?"

Aku menatapnya yang malah tersenyum, aku tak bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas karena ketika Hiro-chan menunduk, matanya tertutupi oleh poni rambutnya. Aku tak akan dirinya yang mengatakan bahwa dia menjijikan, selama berada di dekatnya aku tak pernah merasa jijik sedikitpun.

"Itu tidak benar! Aku sama sekali tak merasa jijik!" Itu benar, aku tidak pernah berpikir bahwa Hiro-chan menjijikan, "Soalnya aku.." aku tak tahu harus mengatakan ini atau tidak, karena sepertinya aku juga mulai menyukai Hiro-chan.

"Aku juga menyukai Hiro-chan"

"Aku tahu, sebagai teman masa kecil.. tak usah kau paksakan.. Aku mengerti perasaanmu, kau lebih menyukai pria seperti Hayama, 'bukan?"

Kenapa dia harus mengatakannya? Aku memang menyukai Hayama, tapi itu berbeda.

Aku sadar kali ini, sejak kecil aku sudah dimanjakan oleh kebaikan yang Hiro-chan lakukan untukku. Aku hanya tak ingin berpisah darinya, aku tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenarnya? Hanya saja, aku ingin lebih banyak waktu bersama Hiro-chan. Apa itu berarti aku menyukainya?

"Aku tidak mau berpisah dengan Hiro-chan!" tanpa sadar aku berteriak, aku memeluk lututku erat, menenggelamkan wajahku di sana sehingga hanya terlihat sebagian wajahku saja.

"Itu hanya kebetulan, kau berbicara seperti itu karena aku ada di sampingmu.." ucapnya yang menepuk lembut kepalaku.

Kebetulan? Apakah semua yang kita lakukan ini hanyalah suatu kebetulan? Siapa yang bisa menggantikan Hiro-chan?

"Ini sudah terlalu larut, aku akan mengantarmu pulang.." ucapnya yang berdiri dan berjalan menjauhiku, dia semakin jauh membuatku langsung bangkit dan menarik kaos yang dia kenakan dari belakang sehingga dia berhenti berjalan.

"Kenapa kau tidak mencoba menciumku lagi?" Aku mempererat tarikannya, aku menundukkan kepalaku yang mulai kacau, "Dengan begitu, mungkin aku akan tahu, aku bisa bersamamu atau tidak.." lanjutku dengan dirinya yang hanya diam saja.

Kenapa kau hanya diam saja? Katakan sesuatu. Jika aku tak melakukan ini, Hiro-chan akan benar-benar pergi. Aku tidak menginginkan hal itu. Hal itu tak boleh terjadi. Aku tidak ingin dia pergi!

Hiro-chan berbalik, membuatku menatap wajahnya yang berada lebih tinggi dariku. Aku terkesima ketika dia mulai menyentuh tanganku dengan tangannya yang lebih besar, dia menggenggamnya erat, hanya dengan itu saja seperti ada sengatan listrik yang membuatku tegang.

Haruskah aku mengatakan sesuatu? Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Yang dapat aku dengar hanya suara detak jantungku yang entah kenapa begitu keras. Aku merasa gugup, aku tak berani menatap wajahnya hanya menunduk. Pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini, terlebih lagi itu semua karena Hiro-chan.

"Kencang sekali, detak jantungnya.."

"Bu—bukan!"

"Itu jantungku.." tangannya yang lain menyentuh pipiku, "[F/n].." dia menyebut namaku, tanganya mengelus pipiku lembut, membimbingku agar menatap wajahnya langsung.

Detik berikutnya, aku merasakan sentuhan dari bibirnya yang menempel pada bibirku. Hanya sebatas menempel—tidak lebih—menimbulkan efek luar biasa untukku. Tanganku menggenggam erat kaos tepat di depan dada bidangnya, aku menutup mataku dan memperdalam ciuman yang kami lakukan. Setelah tiga detik kami melepaskan tautan pada bibir kami.

"Aku menyukai Hiro-chan, sekarang aku menyadarinya.."

Wajahnya terlihat terkejut, kami hanya saling berpandangan dengan wajah yang entah kapan mulai merona.

"Ternyata aku sangat menyukai Hiro-chan.." aku kembali berucap.

Hiro-chan masih terus menatapku, seakan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Aku juga terus memandanginya, aku kemudian menunduk menatap pada tanganku yang kini meremas rok yang aku pakai.

"Aku tahu aku bodoh karena baru menyadarinya, lalu aku tidak tahu malu mengatakannya padamu seperti ini.."

"Tak apa.." mataku membulat dan kembali menatap wajahnya yang tersipu, "Sudah kubilang, aku akan menunggumu.."

Tiba-tiba hening, baik aku ataupun Hiro-chan hanya terdiam berdiri di sana.

"Terus apa yang kita—" belum selesai bicara Hiro-chan langsung menyelakku.

"Kita pacaran sekarang"

"EH?!"

"Iya? Tidak?"

Aku sempat panik dengan pertanyaannya yang simple, namun akhirnya aku mengangguk, "Ya.. tentu saja.."

Lagi-lagi kembali hening, aku juga merasa Hiro-chan terus saja menatapku. Sejujurnya itu membuatku tak nyaman.

"Ha—haruskah kita pulang sekarang?" tanyaku yang entah mengapa menjadi gugup, lalu berjalan mendahuluinya.

"[F/n], kau salah jalan.."

Setelah lima langkah aku sadar, aku salah jalan seharusnya aku lewat jalan sebaliknya. Aku langsung berbalik yang membuatku melihat wajah Hiro-chan yang tersenyum akan tingkah bodohku.

"Ehehehe.. Aku salah jalan.." ucapku yang berjalan menghampirinya, lalu kami berjalan bersama.

Ini benar-benar bodoh, memalukan!

"Haruskah kita berpegangan tangan?" ucapnya ketika kami menaiki tangga untuk ke jalan raya yang ada di atas, aku hanya mengangguk.

Perlahan tangannya bergerak mendekati tanganku, jari-jarinya menyelip pada sela jariku, begitupun denganku. Lalu kami saling menggenggam satu sama lain. Hiro-chan terlihat tersenyum begitu aku membalas genggamannya.

Tangannya sangat berbeda ketika kami masih kecil dulu, sekarang ukurannya lebih besar, juga terasa hangat. Sebelumnya, aku tidak berpikir kami akan berakhir seperti ini. Aku akui, entah sejak kapan aku tidak mengerti, namun sesungguhnya mungkin sejak dulu aku juga menyukai Hiro-chan.

Dia selalu memanjakanku, dia selalu bertingkah berlebihan, pemarah, dan juga kadang menyebalkan. Anehnya, aku selalu nyaman dengan semua itu. aku tidak bisa jika dia pergi dari sisiku.

Tanpa sadar, aku juga menyukainya.

.

.

.

.

.

Yey, akhirnya Kyuu update di ffn ini :v

Ada yang kangen? kyuu buntu inspirasi sih, jadi nunggu suatu Ilham buat bikinnya :v

Akhirnya hubungan MayuRea terselesaikan juga, ohohoho~

Kasian juga sama Kotarou yang akan tertolak :'

Tapi apa daya? Kalau cintanya ama si anu kan ya~

Ada yang bisa kasih Kyuu saran untuk chapter selanjutnya?