Judul : Listen to Me, Baby
Chapter : 9
Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan Absurd readers.
Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, namun Kuroko udah diboikot sama Kyuu jadi gak boleh ada yang menyentuh my husbuh tersayang :3 /ditabokFansgirlsKuroko/
Pairing : MayuRea
Rating : T ajhalah :v
A/N :
Fict ini akan berganti sudut pandang sesuai mood Kyuu :v
Btw, chapter kali ini nyeritain masa lalu Mayu pas mulai sadar suka sama Rea, soalnya Kyuu lebih suka flashback wkwk :3
Itadakimasu!
.
.
.
.
.
Aku menatap ke dalam kamarku setelah pulang dari hari pertama masuk sekolah, sekarang aku sudah kelas 3 SMP. Begitupula, dengan gadis kecil di depanku yang kini mulai memasuki jejak kelas 2 SMP. Lebih menyebalkannya lagi, dia tiduran di kasurku sambil memakan keripik kentang. Terlebih lagi, itu tiga rasa!
Rasa pedas, jagung bakar, dan barbeque.
Tiga kombinasi yang remah-remahnya bertebaran di kasurku, tentu saja itu akan membuat orang tidak nyaman untuk tidur di sana. Gadis ini memang sangat mengganggu!
"Oy, siapa suruh kau masuk, hah~" tanyaku padanya dengan raut tak suka, aku memang selalu menampakkan ekspresi datar meskipun pada banyak orang brengsek yang tidak aku sukai, tapi berbeda dengan bocah di depanku ini.
"Kenapa bertanya? Aku kan memang selalu masuk dari jendela, jendelamu selalu terbuka, sepertinya kuncinya rusak.." perempatan muncul begitu aku sadar kalau kunci jendelaku memang rusak, tentu saja yang merusaknya adalah orang di depanku ini. "Seharusnya kau minta untuk di perbaiki~" sarannya memang benar, tapi seharusnya kau yang bertanggung jawab tentang itu!
"Hentikan ini, kau sekarang sudah kelas 2 SMP, bersikaplah lebih dewasa. Aku tidak mau seumur hidupku harus berurusan dengan orang sepertimu.." aku pun meletakkan tasku di atas meja dan duduk di kursi, lalu mengambil sebuah Light Novel yang baru saja aku beli.
Meskipun aku cowok, aku juga suka genre romantis, karena itu aku baca Oregairu. Sekarang aku sampai jilid ke-7, mungkin aku menyukai novel ini karena si tokoh utama memiliki pola pikir yang sama denganku.
Aku hendak membacanya, sampai dia teralihkan dengan apa yang aku baca. Jari telunjuknya menunjuk pada novel yang ada di tanganku.
"Oh itu, jilid ke-7! Aku sudah membacanya dari temanku, di bab ke-9 Tobe akan ditolak oleh Ebina.. Aku kasian pada Tobe, tapi aku mengerti perasaan Ebina yang tidak ingin menghancurkan persahabatan mereka~ tapi entah kenapa, semuanya jadi salah Hachiman, padahal dia hanya berusaha agar tidak membuat semua orang terluka.." jelasnya panjang lebar, itu bagai bencana tsunami untukku.
Ini adalah hal yang paling menyakitkan bagi penggemar Light Novel.
SPOILER!
Padahal aku sudah menantikan kejutan apa yang akan aku baca, tapi akhirnya semua itu dihancurkan oleh gadis ini. Aku langsung bangun dan menariknya keluar dari kamarku dengan paksa. Begitu dia ada di depan pintu, dia menggerutu bahwa tangannya sakit. Biar saja, itu kan salahnya seenaknya masuk kamar orang lain.
"Jangan pernah kembali.." ucapku dengan aura kemarahan yang sudah tak terbendung, aku langsung menutup pintu kamarku dan menguncinya.
Dia mengedor pintu kamarku sambil berteriak tak terima akan perlakuanku, "Huh! Hiro-chan pelit!" ucapnya yang kemudian pergi entah kemana, sempat ku dengar suara Ibuku yang bertanya padanya dengan penuh kasih sayang. Entah, apa yang dilakukannya sampai membuat Orangtuaku sangat menyukainya.
Aku kembali melihat kasurku yang sudah berantakan dan kotor. Aku bersumpah, tak akan membiarkannya masuk kamarku lagi.
.
.
.
.
.
Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela membuatku terpaksa membuka mataku, pagi entah kenapa selalu terasa cepat ketika aku terlelap. Aku pergi menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, setelah itu aku mengganti pakaianku dengan seragam yang modelnya gakuran.
Selesai dengan itu, aku kemudian menyiapkan buku-buku ke dalam tas. Aku membawa tas dan turun ke bawah menuju ruang makan.
"Oba-chan, aku mau tambah!" suara itu sangat aku kenali tentu saja.
"Tentu~" Ibuku kemudian menaruh secentong nasi pada mangkuk kecil untuknya.
Tentu saja, orang itu adalah [f/n]. Bukan hal baru lagi, jika dia sering numpang makan pagi di rumahku.
"Kenapa kau selalu makan di sini?" tanyaku padanya yang melahap sesuap nasi.
"Makanannya enak sih~" jawabnya singkat.
"Chihiro, bertanya begitu pada tamu itu tidak sopan!"
Baiklah, Ibuku mulai membelanya. Entah, siapa anak kandungnya di sini..
"Tapi, dia selalu datang kemari hanya untuk makan.." Tentu saja, sebagai anak kandung aku tidak mau kalah.
"Apa maksudmu, Chihiro~ Aku yang mengundang [f/n] kemari, dan ayahmu menyambutnya dengan riang gembira dibalik ekspresinya yang kaku. Iya 'kan sayang?"
"Hm.." ayahku yang sedang membaca koran hanya berdehem menandakan bahwa dia setuju.
Tak peduli apapun masalahnya, Ibu itu memang selalu benar apapun yang diucapkannya. Itulah kelicikan Ibuku. Dan aku memang sempat dengar ketika Ibuku mengandungku ayahku sempat berharap mendapatkan anak perempuan. Nyatanya aku dilahirkan sebagai anak laki-laki, itu sebabnya dia begitu baik pada [f/n]. Agak jengkel sebenarnya memikirkan tentang itu.
"Masakan Oba-chan enak sekali, aku suka!" puji [f/n] pada Ibuku yang langsung berbunga-bunga.
"Senangnya~ silahkan, kalau mau tambah lagi.."
Ibu, kau terlalu memanjakannya.
Setelah selesai dengan rutinitas makan pagi, aku akhirnya memutuskan untuk berangkat sekolah. Tentunya, diikuti dengan [f/n] karena arah sekolah kita yang sama. Hanya saja, di persimpangan [f/n] akan menunggu bus yang di naikinya. Cukup melegakan, dia tidak masuk SMP yang sama denganku. Dia gagal mengikuti ujian tertulis karena kebodohannya.
Tanpa terasa, perjalanan kami sampai pada halte bus itu. Aku melihat pandangan [f/n] yang entah kenapa berubah senang. Aku mengikuti arah pandangannya yang tertuju pada satu titik pada halte bus itu.
"Hiro-chan, aku duluan ya!" ucapnya riang yang langsung berlari ke arah halte bus itu, dia terlihat menyapa seorang pemuda yang disambut juga oleh pemuda itu dengan senyuman. Dia terlihat berceloteh dengan pemuda bersurai hitam itu, pemuda itu tertawa lalu mengelus puncak kepalanya.
Mataku membulat ketika melihat ekspresi [f/n] didetik berikutnya, wajahnya memerah dengan senyum yang malu-malu. Itu pertama kalinya dia berekspresi begitu.
Dia tidak pernah menunjukkannya padaku.
.
.
.
.
.
"Sumimasen, di sini aku ingin pesan~"teriak salah satu pelanggan yang duduk di salah satu kursi di tengah ruangan bersama kekasihnya untuk memesan makanan yang ada di menu.
Aku menghampirinya, lalu memberikan menu yang tersedia. Jika kau tanya, apa yang sedang aku lakukan? Aku sedang membantu usaha kecil-kecilan Ibuku. Dia membuat cafe kecil yang mengharuskanku membantunya di cafe. Setelah selesai mencatat pesanan pelanggan itu, aku langsung ke bilik dapur untuk memberikan catatan pesanan pada orang yang memasak.
Aku kemudian masuk ke bilik kasir yang mendapat Ibuku menghitung pendapatannya di sana, ternyata cafe yang dibangun selama 3 tahun cukup berjalan sukses.
"Sumimasen, boleh aku minta sedikit gula?" salah satu pelanggan berteriak lagi, refleks aku ingin menghampirinya.
"Biar aku saja!" [f/n] langsung berlari penuh semangat dengan sebungkus gula-gula kecil, dia bilang dia akan membantu usaha Ibuku karena sering kali makan di rumahku.
Ibuku entah bagaimana tertawa kecil, aku teralihkan padanya.
"Ada apa?"
"Chihiro, apa kamu tidak tertarik pada [f/n]-chan?" pertanyaannya membuatku memincing alisku.
"Hah? Kenapa Okaa-san bilang begitu?"
"Habis, Aku sangat berharap [f/n]-chan jadi salah satu keluarga kita.. kalian kan sudah besar, apa kau tidak berpikir [f/n]-chan manis?"
"Okaa-san, jangan bicarakan hal mengerikan begitu.. Aku dan [f/n] tidak mungkin akan berakhir seperti itu, lagipula sepertinya dia punya oranglain yang disukainya.." Setelah mengatakannya, Ibuku terlihat sangat terkejut sepertinya dia tak terima jika [f/n] menyukai oranglain.
Ibuku yang memang memiliki sifat yang berkebalikan denganku menangkup wajahnya tak percaya, "benarkah?! Kenapa bisa?!"
Cih, menyebalkan! Kenapa tidak tanyakan sendiri pada orangnya langsung!
"Padahal aku sudah menantikan saat-saat dia menjadi menantuku~~"
Hey, jangan memutuskan masa depanku seenaknya!
Ibuku sepertinya sangat berharap terjadi sesuatu yang romantis di antara kami, tapi jika harus memilih aku tak akan mau menikah dengan gadis bodoh seperti [f/n]. Dan lagi, aku belum berpikir untuk cari pacar. Lagipula, gadis yang ada di sekolah sama sekali tak menyadari keberadaanku.
"Mayu-niichan" Aku menunduk pada anak perempuan kelas 5 SD yang ada di hadapanku, dia ini adalah adik [f/n]. Adiknya sangat berbeda dengan [f/n] yang otaknya memang dibawah rata-rata. Aku tersenyum dan mengelus puncak kepalanya lembut.
[note : Kalau readers gak punya adek cewek, anggap ajha di sini punya :v]
"Ada apa, [Your Imouto]?"
Si adik menutupi wajahnya dengan buku pelajaran yang di pegangnya, matanya bergerak ragu karena merasa canggung, anak yang polos berbeda sekali dengan kakaknya.
"Ada pelajaran yang tidak aku mengerti, jadi aku ingin minta diajari oleh Mayu-niichan lagi.." jelasnya yang aku terima dengan senang hati.
Ini bukan pertama kali, aku menjadi guru privat [Your Imouto]. Dia lebih cepat mengerti dibanding kakaknya. Malah aku lebih senang dengan si adik yang memang normal. Alasannya si adik cukup maklum, karena kakaknya bodoh jadi dia meminta bantuanku. Aku mengajaknya untuk duduk di kursi dan meja, sebelumnya aku meminta izin pada Ibuku tentang mengajari [Your Imouto].
Di tengah mengajari [Your Imouto], cafe ini secara tiba-tiba di datangi oleh sekelompok pemuda yang sepertinya berasal dari club sepak bola. Dari jersey mereka tertulis nama SMP yang sama dengan [f/n].
"Oh! [f/n]-chan, kau bekerja di sini?" tanya pemuda yang pernah kulihat di halte bus.
"Ah tidak, aku hanya membantu sedikit di sini ehehehe~" mereka semua duduk di satu meja, kecuali pemuda itu dan [f/n], mereka terlihat berbincang di sisi yang lain. Wajah [f/n] terlihat beberapa kali memerah hanya dengan beberapa patah kata dari pemuda itu.
Aku tahu, dia menyukai pemuda itu.
"Mayu-niichan!" panggilan [Your Imouto] menyadarkanku, wajahnya menatapku polos seperti bertanya apa yang aku lakukan, "Gomen, Kalau aku memanggil Mayu-niichan terlalu keras.. habis, Mayu-niichan diam saja.."
"Ah, gomen.. itu salahku, tadi apa yang ingin kau pelajari?"
Entah kenapa, itu semua menggangguku.
.
.
.
.
.
"Tadaima.." ucapku begitu membuka pintu rumahku yang ternyata kosong, sepertinya Ibuku sedang di cafe.
Sebentar lagi, akan diadakan ujian tengah semester, sebagai murid kelas 3 itu membuatku tak bisa santai. Aku berhenti membantu pekerjaan Ibuku karena itu. Aku kemudian masuk ke dalam kamar, semuanya hening tak ada siapapun. Entah sudah berapa lama, [f/n] tidak masuk sembarangan ke dalam kamarku.
Yah, itu lebih baik daripada dia terus-terusan mengganggu.
Aku membuka horden pada jendela, tepat di depan jendela terdapat balkon kamar [f/n], dan pohon di antara rumah kami. Kamarnya terlihat masih kosong, ditandai dengan hordeng kamarnya yang menutup dan terlihat gelap.
Tidak biasanya, dia pulang sore. Maksudku [f/n] bukan tipe orang yang akan sering main dengan teman sekolahnya atau mengikuti kegiatan klub. Aku kembali menutup hordeng kamarku. Yah, aku juga tak peduli apa yang akan dia lakukan.
Entah sudah berapa jam terlewati, aku masih fokus belajar untuk ujian. Aku ingin masuk SMA Rakuzan karena kudengar itu sekolah elit dengan tim basket yang kuat, tentu saja ujian masuknya pasti akan sulit. Aku melihat jam yang menunjukkan angka 6 sore, mataku melirik pada jendela sekali lagi.
Aku mencoba kembali fokus pada buku yang berisi teori politik, anehnya lagi-lagi aku kembali menengok pada jendela itu. Hey-hey, apa yang kau lakukan Chihiro? Saat ini kau harus fokus belajar agar masuk SMA pilihan pertamamu.
Berhenti memikirkan gadis bodoh itu, kau hanya akan dirugikan olehnya, tapi seberapa kali aku mengabaikannya, aku tak bisa. Aku pasti akan kembali memikirkannya, aku bangun dari kursi, membiarkan alat tulisku di meja belajar.
Langkahku tertuju pada jendela itu, lalu membuka hordennya. Masih sama, kamar di seberang sana masih kosong tanpa pemiliknya di dalam. Aku tersenyum masam, sungguh lucu sekali, aku selalu berharap dia menghilang. Tapi, sekarang aku malah mencarinya.
Apa peduliku? Dia bahkan mungkin sedang bersenang-senang di luar sana.
Aku kembali menutup horden kamarku.
"Arigatou, sudah mengantarku.." itu suara [f/n], entah apa yang mengendalikan diriku tapi aku langsung membuka jendela saat itu.
Aku melihat dari jendela pada halaman depan rumah [f/n], di sana ada [f/n] dan pemuda itu yang sepertinya mereka habis bermain bersama. [f/n] menutup pagarnya, pemuda itu menangkup wajahnya pada pagar rumah [f/n] yang setinggi dada orang dewasa.
Pemuda itu mengatakan suatu kata yang membuatku membulatkan mataku karena terkejut, "Sekarang ini, aku mau jujur sebenarnya aku menyukaimu, [f/n].." ucap pemuda itu.
Aku tak dapat melihat wajah [f/n], bagaimana dia berekspresi tentang pernyataan pemuda itu. Aku tidak mengerti, tapi pernyataannya menggangguku. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang, hanya saja sulit untuk diungkapan.
"A—aku..aku..juga—aku menyukaimu.." perkataan [f/n] lebih membuatku terkejut, tapi yang bisa kulakukan hanya berdiri saja di sana melihat kedua insan yang mengakui perasaannya.
Pemuda itu tersenyum senang, mengucapkan terima kasih, dia kemudian pergi setelahnya. [f/n] berbalik untuk memasuki rumahnya, tapi yang kulihat adalah dia terdiam di sana dengan wajahnya yang memerah juga senyuman lembut persis seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
Aku menutup horden jendela, seperti ada rasa ngilu di dadaku, berbeda dengan rasa kesal atau marah. Aku tak begitu mengerti, hanya saja itu mengganjal untukku. Malam itu akhirnya, aku hanya belajar tanpa minat sama sekali. Aku membenci rasa ngilu itu.
.
.
.
.
.
"Hiro-chan~" Aku mendengar suaranya yang riang memanggilku, sudah sejak 2 minggu dia tak muncul.
Kupikir dia sibuk dengan pacar barunya, dengan santainya dia mengunjungiku di hari libur, tepat di kamarku. Tanpa permisi tentunya, dia sangat menyebalkan. Jangan datangi aku kalau kau ada masalah dengan pacarmu!
"Apa?" aku bertanya padanya dengan ekspresi sedatar mungkin, karena aku juga baru saja bangun tidur—sebab anak ini memanggilku dengan suara kerasnya.
"Apanya yang apa? Ini kan hari libur, ayo kita pergi!" ajaknya.
Dia terlihat memakai pakaian yang rapih seperti ingin pergi ke suatu tempat, mataku beralih pada tembok sambil menggenggam erat selimutku.
"Aku malas, pergi saja sendiri.." ucapku yang kemudian melanjutkan mimpi indah di atas kasur.
"Jangan begitu~ kau harus pergi bersamaku!"
Dengan menyebalkannya dia menarik selimutku, dan memaksaku untuk bangun.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya aku harus mengikuti apa yang diinginkannya, aku memandang datar padanya yang sedang melihat baju-baju di salah satu toko dalam departement store. Dia terlihat mengambil beberapa kemeja pilihannya, dia mengukur baju itu pada tubuhku.
Aku menjauh karena merasa risih dengan perbuatannya, "Apa yang kau lakukan?"
"Membeli baju.."
"Hah?"
Dia memegang dua switer bersamaan, "Menurutmu bagus yang putih atau merah?"
Aku mengalihkan pandanganku darinya, "Keduanya bagus.."
Kemudian dia bergumam tentang apa lebih baik dia berikan, baju atau sesuatu yang lain, aku penasaran apa yang membuatnya seperti itu.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku padanya, matanya melirik padaku yang masih menanti jawabannya.
"Ah, sebenarnya aku ingin memberikan hadiah di hari ulang tahun Fushimi-kun. Dia membuat pestanya malam ini, tapi aku belum menyiapkan apapun.."
Huh~ jadi itu alasannya.
Lagi siapa itu Fushimi?
Oh, pemuda yang waktu itu ya..
"Sama saja, 'kan? Asal kau memberinya dengan hati, dia sudah senang.." aku mengutarakan pendapatku, tapi dari wajahnya dia seperti tidak setuju akan itu.
"Aku bukan laki-laki, mana tahu apa yang dia suka? Ulang tahun hanya terjadi sekali setahun, ini pertama kalinya aku ingin memberinya hadiah~ seharusnya kau memberikan saran untukku, tapi dari tadi kau hanya bilang semuanya bagus!"
Kau benar-benar menyukainya, 'ya?
Bahkan kau marah karena aku tak baik dalam memberikan saran.
Kau perhatian sekali padanya, dan hanya karena dia aku juga harus repot mencari hadiah untuknya. Jangan meminta bantuanku untuk mencarinya hadiah. Kau pikir aku menyukainya, sejak awal kau tidak bilang mengajakku keluar untuk mencari hadiah untuknya. Aku bahkan tak mengenalnya, bagaimana bisa aku tahu apa yang dia suka?
Sekian lama kau tak muncul, lalu tiba-tiba di hadapanku kau muncul hanya untuk hal remeh begini.
Sudah cukup, aku muak denganmu.
"Sudahlah, aku mau pulang.." Aku memasukan tanganku ke dalam jaket yang aku kenakan, lalu berjalan melewatinya.
Dia menahan lenganku, "Hiro-chan, kau apaan sih? Kenapa kau malah marah?" tanyanya yang membuatku menepis tangannya dari tanganku, lalu berbalik dan menatapnya kesal.
"Kau yang apa-apaan!" wajahnya terlihat terkejut ketika aku membentaknya, "Kau boleh seenaknya masuk ke kamarku, merusak jendela kamarku, mengotori ranjangku dengan cemilan, sarapan pagi setiap hari di rumahku, membantu mengerjakan PRmu, suruh aku setiap jam 6 pagi membangunkanmu agar keburu naik bus, suruh aku ke tempat les cari kursi untukmu, atau membeli pembalut dan obat penghilang nyeri—semua itu tak apa untukku.."
Akhirnya aku mengatakan semua itu, hal yang selama ini ingin aku keluhkan padanya.
"Tapi, jangan pernah.. suruh aku untuk cari hadiah ulang tahun untuk laki-laki itu.."
Lalu entah bagaimana perkataan egois itu juga keluar dari tenggorokanku.
"Kenapa aku tidak boleh memintamu membantu mencari hadiah ulang tahun?" ekspresinya terlihat kesal, seakan itu bukan masalah besar, seakan akulah yang memberinya masalah.
"Karena aku tidak mau.." hanya itu yang dapat aku ucapkan.
"Apa kau marah membantu aku mengerjakan PR?"
"Tidak"
"Apa kau marah ketika aku masuk kamarmu? Dan merusak jendelamu?"
"Tidak juga.."
"Apa aku pernah menyuruhmu untuk membeli obat penghilang nyeri?"
"Tidak.."
"Kau merasa malu ketika membantuku membeli pembalut? Sekarang aku hanya memintamu membantuku memilih hadiah, kenapa kau marah?"
Aku marah?
Apa aku sedang marah?
Benar juga, kenapa aku jadi marah-marah?
Padahal apa yang dilakukannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Mendadak pikiranku kabur, aku terdiam karena tak menemukan jawaban apapun. Aku menunduk lalu tersenyum seakan itu hal yang lucu. Merasa apa yang aku lakukan sama sekali bukan hal wajar, bahkan terkesan bodoh.
"Terserah, kau cari saja hadiah untuknya sendiri.." aku tak menemukan jawaban apapun, hanya kalimat itu yang secara spontan terucap oleh bibirku.
Tak ingin melanjutkannya, malah mencari topik lain. Kakiku melangkah menjauh dengan sendirinya, meninggalkannya yang masih tetap berdiri di sana. Hari itu, berakhir dengan pertengkaran yang entah apa tujuannya.
.
.
.
.
.
Begitu sampai di rumah beberapa jam lalu, aku disambut oleh Ibuku yang bertanya perihal ekspresiku yang mengeras. Aku hanya diam saja, lalu menuju kamarku. Ibuku itu memang hebat, dia bahkan tahu jika moodku buruk.
Aku mencoba tak memikirkannya, berusaha melupakan segala kekesalanku yang entah karena apa. Teringat bahwa besok ada test, aku berusaha belajar keras. Meskipun, apapun yang kulakukan, aku teringat wajahnya yang menantangku. Tanganku berhenti menggores buku catatan. Memperhatikan jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.
Tak terasa sudah 3 jam aku bergumul dengan buku-buku, rasanya kepalaku jadi sakit. Akhirnya, kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Aku merebahkan diriku di atas kasur, aku meraih Novel yang belum kulanjutkan untuk membacanya.
Mencoba fokus dengan jalan cerita pada Novel itu, tapi aku tak bisa. Yang aku pikirkan hanyalah tentangnya, perasaan bersalah menghantuiku karena telah bersikap kasar padanya. Padahal, biasanya tak akan seburuk ini meskipun aku mengatakan hal buruk padanya.
Tak fokus, akhirnya aku menempatkan Novel itu tepat di atas wajahku. Menutup kelopak mataku seraya berpikir jernih untuk menenangkan pikiranku.
Apa yang sedang dia pikirkan?
Apa sekarang dia membenciku?
Lagian, jika tidak dibentak dia tidak akan mau dengar!
Hal yang paling aneh adalah..
Kau merasa malu ketika membantuku membeli pembalut? Sekarang aku hanya memintamu membantuku memilih hadiah, kenapa kau marah?
..Aku marah padanya dengan alasan yang tidak jelas.
Hanya mengingat kejadian itu membuatku merasa takut bahwa mungkin dia akan membenciku, mungkin selama ini dia mengganggu tapi aku tidak pernah membencinya.
Tanpa sadar ketika dia membicarakan laki-laki itu aku tak menyukainya.
Aku merasa kacau, lalu lepas kendali, dan mungkin menyakiti perasaannya. Aku tahu dia bukan tipe orang yang akan memasukan perkataan kasarku dalam hati, tapi ketika berpikir dia akan membenciku. Itu menggangguku. Aku ingin melihatnya, mengatakan apa yang aku rasakan.
DEGDEG..
Ah, perasaan apa ini?
Tangan kananku beralih menyentuh dadaku, merasakan detak yang berpacu dengan cepat sesaat aku memikirkannya. Tangan kiriku meraih buku di atas wajahku, ketika buku itu sedikit menjauh, aku membaca suatu kalimat di dalamnya.
"Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta"
Aku terdiam membaca kalimat panjang itu, seakan menyadarkan aku akan suatu hal. Mungkin selama ini aku tidak menyadari bahwa aku memendam suatu perasaan yang bahkan aku sendiri berdusta akan hal itu. Aku terlalu angkuh untuk mengakuinya, karena itu aku tidak tahu simpul mana yang aku tarik.
Ketika melihat hal bodoh yang dilakukannya, atau ketika dia menggangguku. Aku tidak pernah bisa membencinya, karena selama ini..
"..hiro!"
aku...
"Chihiro!"
Panggilan Ibuku membuatku tersadar, aku langsung melangkah keluar dari kamarku karena panggilan Ibuku yang keras. Setelah sampai di lantai dasar, aku melihat Ibuku di depan pintu dengan Ibu [f/n] yang juga ada di sana.
"Ada apa?" tanyaku.
Di saat itulah, aku dapat melihat raut kekhawatiran Ibuku juga dengan Ibu [f/n]. Aku memiliki firasat buruk tentang ini.
"Chihiro, sebelumnya hari ini kau pergi dengan [f/n]'kan?" tanya Ibuku yang hanya aku balas anggukan, tak ingin bertele-tele akhirnya ku lontarkan sebuah pertanyaan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyaku, Ibu [f/n] terlihat terkejut, tatapannya melunak dengan senyum kekhawatiran.
"[f/n] belum pulang, ponselnya juga tak aktif, aku khawatir padanya—jadi aku kira Chihiro-kun tahu dimana dia sekarang.." ucapnya yang juga membuatku terkejut, aku langsung berbalik berjalan masuk ke dalam kamar. Mengabaikan panggilan Ibuku.
Aku membuka tirai jendelaku, terlihat jendela kamar [f/n] di sana masih tertutup dengan kegelapan di dalamnya. Menandakan pemiliknya belum berada di dalam sana. Aku mengambil jaket kelabu yang tersampir di kursi belajarku, lalu berjalan ke bawah sambil mengenakan jaket itu.
Kedua wanita paruh baya di depanku menatapku penuh tanya, "Chihiro, kau mau kemana?" tanya Ibuku sesaat aku menggunakan sepatu sketku untuk keluar rumah.
"Aku akan mencarinya.."
"Ini sudah malam, oba-san tidak mau merepotkanmu.."
"Tidak, aku akan tetap mencarinya. Mungkin ini salahku, sebelumnya kami bertengkar.." ucapku yang langsung berlari keluar rumah.
Aku mencari tempat yang sekiranya didatangi oleh [f/n], dimulai dari konbini tempat biasanya dia membeli popsicle. Dia tak ada di sana. Aku beralih pada stasiun kereta bawah tanah, mencarinya di dalam sana namun tak menemukannya. Kemudian muncul kereta yang dipenuhi akan penumpang, berharap [f/n] ada di dalamnya, namun nihil. Dia tak ada di sana, meskipun aku sudah menelusuri seluruh pintu gerbong kereta.
Tujuanku berakhir pada toko buku dimana aku sering pergi ke sana bersama [f/n], aku memasuki toko buku itu dengan nafas tersenggal karena lelah berlari. Percuma saja, aku sudah menelusuri toko buku itu dan dia tak ada di sana.
Perasaan kecewa muncul ketika usaha ku sia-sia, dimanapun aku mencarinya dia tak ada di sana. Aku keluar dari toko buku, berjalan lemas menuju arah jalan pulang. Sampai akhirnya aku mengingat sesuatu, di masa lalu dimana [f/n] menangis karena bertengkar dengan Ibunya atau ketika dia merasa sedih akan sesuatu yang membuatnya kesal.
Dia akan bermain ayunan sendirian di taman. Langkah kakiku akhirnya menuju taman dimana di sana adalah tempat bermainku dengan [f/n] saat masih SD. Dari kejauhan aku melihat taman itu dengan lampu jalanan yang meredup, aku memasuki area taman dengan pohon dan tanaman di pinggirnya. Mataku tertuju pada kotak pasir, yang bersebelahan dengan ayunan.
Mataku terbelalak melihat sesosok gadis yang sedang bermain ayunan sendiri di sana, namun aku juga lega ketika aku berhasil menemukannya. Aku mendekatinya tanpa dia sadari, pandangannya tertuju pada tanah yang ada di bawahnya. Begitu ayunan yang dia mainkan berhenti bergoyang, aku sudah ada di depannya.
Atensinya tertarik padaku, wajahnya mendongak mempertemukan pandangan kami. Dia terlihat kebingungan begitu melihat sosokku. Aku hanya menatapnya datar.
"Kau sedang apa?" tanyaku.
"Eh?"
"Jangan Eh padaku! Kau tahu, Oba-san mengkhawatirkanmu.." ucapku yang hanya dia balas senyuman, meskipun senyuman itu terlihat berbeda dari biasanya. Membuatku khawatir hanya dengan melihat senyumannya.
"Kalau begitu, aku akan pulang.." ucapnya yang berdiri dari ayunan itu, entah cuma perasaanku saja, dia berjalan tertatih.
Pandanganku menatap ke bawah yang dapat kulihat dia berjalan hanya dengan satu sepatu di kaki kirinya, kaki kanannya terbuka tanpa sepatu. Entah apa yang terjadi sehingga dia kehilangan satu pasang sepatunya. Tapi dari hanya melihatnya kakinya yang lecet itu, aku tahu ada hal buruk yang terjadi padanya.
Aku menahan lengannya, membuatnya berhenti berjalan. Dia tak menatapku, hanya menunduk entah melihat apa. [f/n] mungkin gadis yang polos dan pendiam, tapi tidak di hadapan orang terdekatnya, termasuk aku. Dan saat dia menjadi pendiam di hadapanku, saat itulah pasti ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.
Seketika dia menoleh. Membuatku melihat wajahnya yang terlihat kacau. Aku bisa melihat matanya yang membengkak dengan hidungnya yang memerah, pasti dia habis menangis. Aku melepaskan genggamanku dari lengannya. Dia kembali menghadapku, lalu tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Aku baik-baik saja.." jawaban yang singkat, aku tahu dia berbohong.
"Bohong, lalu kenapa kau berjalan hanya dengan satu sepatu.. Hanya orang bodoh yang terjatuh sampai kehilangan sepatunya.."
"A—aku.." detik berikutnya aku terkejut begitu melihatnya menangis dengan tubuh bergetar, "A—aku.. hiks.. melihatnya berkencan dengan gadis lain.. hiks.." dia berbicara dengan sesenggukan, untuk pertama kalinya aku melihat dia sesedih itu.
"..dia bilang.. hiks.. dia berkencan denganku.. hiks.. karena taruhan untuk makan siang.. dia juga bilang.. aku.. hiks.. membosankan.. a—aku kesal! Jadi.. hiks.. dari kejauhan, a—aku melempar sepatuku pa—padanya sebagai pelampiasan! Hiks.. a—aku tidak berani mengambil sepatu.. jadi.. aku meninggalkannya.. hiks.."
Setelah menceritakannya dia langsung menangis seperti anak kecil, tapi aku tahu dia sangat sedih ketika dia berpikir mencintai seorang pemuda yang salah. Hanya melihat wajahnya yang sembab karena menangis, ada perasaan sesak dalam dadaku. Aku belum pernah melihatnya menangis untuk seorang pemuda brengsek.
"Apa menurutmu.. hiks.. aku membosankan?" dia bertanya dengan menyapu air matanya dengan tangan, "Apa aku jelek?" apa penampilan yang kau pikirkan ketika orang itu mencampakanmu?
"Apa aku menyebalkan?" kau memang menyebalkan, tapi aku tak pernah berpikir untuk membencimu.
"Apa salah? Jika aku jatuh cinta padanya tanpa alasan.." kau tidak salah, pemuda itulah yang salah karena mencampakanmu yang mencintainya.
Aku melepas jaketku. Aku mengibaskan jaket itu yang berakhir jatuh di atas kepalanya. Tanganku mencengkram erat untuk menutupi wajahnya yang sudah kacau. Karena jika terus melihatnya aku juga akan merasa kacau.
"Jangan menangis, wajahmu itu jelek sampai aku tak tahan melihatnya.." ucapku datar, terkesan seperti ejekan tapi bukan itu yang aku maksud. Semua itu karena aku tak tahan melihat wajah sedihnya untuk orang lain, dan bukan untukku.
Karena aku sangat mencintaimu.
Aku merasa iri pada orang yang bisa membuatmu menangis karena kau mencintainya.
Ingin kuucapkan kata itu, membuatmu menjadi milikku. Hanya saja, aku tahu bahwa itu tak mudah karena aku tahu ini bukan saat yang tepat. Apa yang harus kukatakan adalah..
"Aku tidak pernah berpikir kau membosankan, kau penuh ekspresif dan warna. Berbeda denganku, karena itulah aku selalu nyaman berada di dekatmu. Aku tidak berpikir kau jelek, tapi kau harus ingat bahwa setiap manusia punya keburukan dalam dirinya jadi kau tak perlu khawatir tentang itu.."
Bahkan aku juga memiliki keburukan jika kau tahu.
"Manusia mencintai karena menerima keburukannya juga. Dan ketika kau mencintainya tanpa alasan, bukankah itu artinya hatimu tulus? Kau tidak salah dalam hal mencintai, ketika aku sadar akan hal itu. Semua itu membuatku kesal padanya karena kau sangat menyukainya.."
Jika saja kau jatuh cinta padaku, mungkin akan sedikit berbeda. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku bisa menyukaimu. Seandainya orang yang kau cintai adalah aku, aku tak akan pernah menyakitimu sepertinya. Aku akan memelukmu dan berkata bahwa aku juga mencintaimu tanpa alasan. Itu adanya. Seandainya aku berani melakukan itu sekarang, apa kau akan jatuh dalam pelukanku?
"[f/n], bagaimana jika aku bilang aku menyukaimu?" dan akhirnya pertanyaan itu yang terucap.
Perlahan aku melepas genggamanku pada jaket itu, dia menurunkan jaket itu hingga tersangkut pada pundaknya. Begitu melihat wajahnya yang menatapku, saat itulah ada perasaan aneh berdesir.
"Aku juga menyukai Hiro-chan.." aku terkejut mendengar kalimat yang diucapkannya, "..Mungkin itu yang aku akan katakan, soalnya Hiro-chan teman yang berharga untukku.."
Aku tahu, itu yang akan dia ucapkan.
"Mungkin Hiro-chan terkadang berkata kasar, tapi aku tahu kau juga memperhatikanku.. Aku sempat khawatir setelah pertengkaran tadi kau akan membenciku, tapi ketika kau berbicara untuk menghiburku, jujur saja aku senang.. Terima kasih ya.." mendengar pujian juga senyumannya, rasa itu kembali muncul—kita tak ingin saling membenci—sebagai teman pun tak apa.
Asal aku dapat berada di dekatmu. Itu sudah cukup. Aku akan bersabar sampai kau menyadari perasaanku. Sampai hati ini sampai padamu, aku akan menunggu seberapa lama itu. Hanya itu bukti rasa cintaku padamu.
Aku tersenyum tipis dan tanganku meraih untuk mengelus lembut puncak kepalanya, "Begitu ya?"
.
.
.
.
.
"Hehe~" tawanya seperti menggodaku, dan itu menyebalkan.
"Kenapa ketawa begitu?" tanyaku padanya yang kini sedang berada di atas punggungku, aku menggendongnya karena kakinya terluka.
"Aku teringat ketika masih SD, kakiku terluka karena jatuh dari pohon dan kau menggendongku"
"Itu karena kau tidak mau berhenti menangis.." gerutuku yang kesal akan kejadian itu, [f/n] tidak berhenti menangis sampai aku menggendongnya.
"Rasanya seperti punya kakak laki-laki, haruskah aku memanggilmu Onii-chan?"
"Hentikan, itu membuatmu terlihat bodoh.."
"Aku tidak bodoh~"
Tanpa sadar aku tersenyum, berbicara hal sekecil ini pun tak membuatku bosan. Mendengar suara yang tepat ada di dekatku saja, sudah membuat dadaku berdebar tak karuan.
Dan kau belum menyadarinya.
.
.
.
.
.
"Mayuzumi!"
Samar-samar, aku mendengar suara.
"MAYUZUMI-SAN!"
Aku langsung membuka mataku karena mendengar seseorang memanggil dengan nada yang keras, aku melihat ke samping mejaku yang sudah berdiri Miyaji-san dengan pandangan tak suka.
"Ah~ enak sekali tidur di jam kerja ya.."
Aku tersadar, begitu nyawaku mulai terkumpul.
"Gomennasai, Saya ketiduran.."
"Kalau begitu, cepat selesaikan pekerjaanmu! Apa kau tahu meminta perpanjangan waktu itu tidak mudah!" Miyaji-san mengatakan sambil berjalan ke mejanya yang ada di ujung.
"Hai, Gomennasai.." sekali lagi aku meminta maaf pada orang yang bisa dikatakan sebagai atasanku itu.
"Mayuzumi-san.." aku menoleh pada Mibuchi-san yang suaranya seperti orang sekarat, aku baru ingat bahwa seharusnya aku mengerjakan laporan keuntungan bulan ini dengannya. Tapi aku malah ketiduran, sepertinya ini efek karena semalaman aku membantu [f/n] yang belum menyelesaikan naskahnya.
"Gomennasai, aku ketiduran.." aku merasa tak enak padanya.
"Gak papa kok, lagian aku mengerti kau pasti sangat lelah, kudengar dari [f/n] kau hanya tidur selama dua jam.." Mibuchi-san memberikan sebuah print out yang seharusnya kami kerjakan, sepertinya dia menyelesaikan itu sendirian.
"Bisa tolong fotocopy ini untukku?" ucapnya yang aku terima, aku langsung berjalan ke mesin fotocopy yang berada di sudut ruangan.
Memencet tombolnya ketika aku menaruh print out yang tertarik oleh mesin dan secara otomatis mengcopy ke dalam beberapa kertas kosong.
Pekerjaan ini selalu membuatku lelah di saat-saat proses pengumpulan naskah, para mangaka itu selalu saja menyusahkan ketika aku meminta naskah. Tentu saja, termasuk [f/n]. Meskipun dia sudah jadi pacarku, dia tetap saja merepotkan.
Yah, setidaknya aku bermimpi indah tentang masa lalu tadi. Mengingat masa lalu dimana [f/n] menyukai pria lain juga membuatku kesal sih, tapi kadang itu membuatku merindukan rupanya di masa lalu. Lagipula, mimpi macam apa tadi?
Dan kenapa aku di masa lalu begitu menyedihkan?
Tanpa sadar aku kesal dan membuat aura menyeramkan di sekelilingku tanpa orang sadari.
"Aku merasa tak enak di sini.."
"A—aku juga, ayo kita pergi.."
Entah bagaimana orang-orang yang ingin memakai mesin fotocopy malah menjauh, sampai aku mendapat gagasan keras dari Miyaji-san.
"Hey, Mayuzumi-san! Jangan menakuti karyawan lain dengan aura horormu!"
.
.
.
.
.
TBC itu indah~ tapi kalau penyakit TBC itu tidak indah~
Yak, buat sekedar info ajha.. quotes yang dibaca Mayu itu merupakan kutipan dari novel yang dibuat Tere Liye.. :D
