Judul : Listen to Me, Baby
Chapter : 10
Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan Absurd readers.
Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, namun Kuroko udah diboikot sama Kyuu jadi gak boleh ada menyentuh my husbuh tersayang :3 /ditabokFansgirlsKuroko/
Pairing : MayuRea
Rating : T ajhalah :v
A/N :
Fict ini akan berganti sudut pandang sesuai mood Kyuu :v
Selamat menikmati :3
Itadakimasu!
.
.
.
.
.
Aku berjalan lemas pada dapur dimana bau sup miso menguap dan memasuki indra penciumanku. Hiro-chan masih di depan westafel mencuci piring kotor. Aku duduk di meja makan dengan wajah mengantuk, aku tidak bisa tidur tenang selama dua hari karena deadline yang datang tiba-tiba. Aku merebahkan kepalaku di atas meja.
"Hah~ kepalaku sakit~" keluhku mengadu pada lelaki yang masih mencuci piring itu.
Dia menengok ke belakang, melihatku datar lalu kembali fokusnya pada cucian piring.
"Salah siapa? Kau menunda pekerjaan untuk nonton drama.." sindirnya padaku.
Aku hanya memajukan bibirku akan reaksinya yang sama sekali tidak peduli dengan keadaanku. Di saat seperti ini aku ingin di perhatikan tahu! Ini sama sekali tidak ada bedanya ketika kami belum berpacaran. Ini jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Aku berpikir kami akan membeli baju couple, pergi kencan, dan emm.. berciuman?
Tapi kami tidak pernah melakukannya!
Padahal sudah 2 bulan terlewati tapi tidak ada bedanya, dia hanya menciumku juga ketika malam festival kembang api. Aku juga ingin melakukan hal romantis yang dilakukan pasangan.
Apa Hiro-chan tidak pernah memikirkannya?
Aku meliriknya yang sedang mencicipi sup miso dari panci, matanya melirikku setelah selesai meneguk kuah sup miso. Dia menatap datar padaku.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ti—tidak.." hanya itu jawabanku.
Hiro-chan menghela nafas, seakan kelakuanku itu hal yang tidak jelas. Kemudian, dia berjalan dan menaruh makanan yang masih hangat di meja lalu ikut duduk di depanku. Aku masih memajukan bibirku tanda aku sedang ngambek padanya.
"Kau tidak ada pekerjaan kan besok?"
"Hmm.. begitulah.."
"Kalau begitu, mau pergi ke Taman Hiburan?" pertanyaannya membuatku terbangun dan menatapnya yang sedang menyuap nasi.
"Tentu saja! Eh tapi, bukannya Hiro-chan sibuk..?" tanyaku yang memang kalau diingat Hiro-chan memiliki banyak pekerjaan.
Dia menatapku, "Apa salah jika aku mengajak berkencan pacarku?" ucapnya yang membuatku salah tingkah.
"Ya maksudku bukan begitu, aku tahu pekerjaanmu membuatmu sulit mengatur waktu jadi.."
"Aku akan mengerjakan pekerjaanku dengan cepat, jadi aku akan pulang cepat" perkataannya membuatku tak bisa menahan perasaan senangku.
"Be—begitu ya?" aku tersenyum senang menatapnya, walau agak aneh tapi Hiro-chan tersenyum tipis padaku. Dia jarang memperlihatkannya, tapi entah bagaimana dia sering menunjukkannya padaku.
"Kalau sudah mengerti, cepat habiskan sarapanmu.."
"Un.." aku hanya mengangguk dan mengambil semangkuk nasi dan sumpit.
.
.
.
.
.
Aku membuka mataku begitu merasakan cahaya kecil menyelip pada pandanganku. Aku bangun dengan lemas lalu merenggangkan tubuhku sambil menguap. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul 10 pagi. Teringat aku berjanji pada Hiro-chan, jam 12 siang untuk bertemu di stasiun.
Aku langsung bangun dari kasur, lalu menuju kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelah selesai dengan rutinitas pagi, aku menuju dapur karena lapar. Aku melihat ke lemari makanan yang ada di atas patri, mengambil kotak sereal di sana. Sayangnya, kotak sereal itu telah habis isinya.
Aku beralih pada lemari melihat apa yang bisa aku masak, masalahnya aku buruk dalam memasak, kemudian aku memutuskan mengambil satu butir telur untuk di goreng. Setidaknya aku ahli membuat telur goreng. Aku beralih lagi mencari penggorengan anti lengket, tapi aku tidak menemukannya.
Hiro-chan memang hebat, dia lebih tahu dimana benda di rumahku diletakkan. Aku beralih pada lemari di atas patri dengan menaiki bangku kecil. Aku tersenyum begitu melihat penggorengan itu yang berada di lemari paling pojok. Aku mengambilnya namun keseimbangan tubuhku oleng karena aku terpeleset. Aku terjatuh dan meringis pada bokongku yang merasakan sakit.
Aku mendengar handphoneku berdering, langsung saja aku bersusah payah bangun untuk mengambilnya yang berada di atas meja makan. Aku tersenyum begitu melihat nama Hiro-chan yang tertera di layar handphoneku. Aku kembali menuju penggorengan itu lalu meletakkannya di atas kompor. Aku menekan tombol icon berwarna hijau di layar handphoneku.
"Moshi-moshi, Hiro-chan.."
"Oh, [f/n].. kau sedang apa?"
"Aku sedang menyiapkan sarapan pagi, aku sangat senang karena akan pergi ke Taman Hiburan jadi aku tidak bisa menahan untuk bangun pagi"
"Ah, tentang itu.. aku tidak bisa pergi ke Taman Bermain, gomen.."
Mendengarnya membuatku tentu saja merasa kecewa, tapi aku mencoba mendengarkan alasan Hiro-chan.
"Oh begitu ya, ahahaha.."
"Tiba-tiba ada masalah, ada kesalahan di bagian percetakan, aku harus pergi ke sana untuk mengecek beberapa hal.."
"Apa selama itu? aku bisa menunggu kok.."
Hiro-chan terdiam beberapa saat seakan tak yakin akan pertanyaanku.
"Tidak bisa, ada kemungkinan beberapa halaman tertukar dengan halaman lainnya. Merapikannya akan memerlukan waktu yang lama. Miyaji-san sedang mengurusi hal lain, sebagai wakil redaksi aku yang harus mengerjakannya.."
"Oh, Be—begitu ya.."
"Gomen.."
Aku menggeleng, "Apaan sih? Tidak apa-apa kok, ehehehe.." aku tertawa untuk mengurangi rasa tegang yang tiba-tiba melanda karena kekecewaan yang aku rasakan, sebagai pacarnya aku harus mengerti pekerjaannya, lagipula aku sudah tahu bagaimana sibuknya dia pada pekerjaannya.
"Lagipula itu pekerjaanmu, kita bisa pergi lain kali. Hmm? Ah jangan pedulikan tentang sarapan pagi, semangat ya!" setelah mengucapkannya aku langsung mematikan sambungan telpon.
Aku menatap sendu penggorengan di atas kompor, "Padahal ini kencan pertama kami.." aku menggeleng untuk melupakan pikiran egois itu.
"Yang lebih penting sekarang adalah membuat sarapan pagi.." Aku langsung mengambil pisau untuk memotong daun bawang dengan terburu-buru, "Aw..!" karena itu tanpa sengaja tanganku teriris pisau.
Darahnya mulai keluar dari tanganku dan langsung aku hisap di dalam mulutku untuk menghentikannya mengalir. Sesaat aku teringat jariku yang terluka karena mengerjakan naskah Manga, Hiro-chan langsung menghampiriku lalu menutup lukaku dengan tisu.
Aku akan ambilkan kotak P3K, tahan itu..
Bahkan aku ingat apa yang dia katakan, lagipula dimana dia meletakkan kotak P3Knya?
Apa boleh buat? Aku bisa pergi hangout sendiri. Aku bisa jalan-jalan sambil cari referensi untuk cerita manga.
"Yosh! Semangat, [f/n]! Kau biasa bersenang-senang sendiri jadi tak masalah..!"
.
.
.
.
.
Aku memutuskan untuk pergi sendiri, aku berjalan-jalan di kota Shinjuku—melihat-lihat barang-barang cantik di etalase toko, juga membeli beberapa pakaian yang aku inginkan.
Kelelahan membuatku berhenti di konbini untuk membeli popcicle, aku membuka pembukusnya lalu mengemutnya ke dalam mulut. Dinginnya menyegarkanku dari teriknya panas siang hari. Aku menghampiri bangku-bangku depan toko, lalu meletakkan barang-barang belanjaku dan duduk di sana.
Aku melihat hiruk-pikuk kota dengan orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Suara sepasang kekasih muda membuatku teralihkan pada mereka. Terlihat gadis itu merangkul lengan prianya manja.
"Aku senang hari ini kau mengajakku ke Taman Bermain~" ucap si gadis.
"Tentu saja, kau kan sudah menantikannya.." balas pria itu.
Aku mendengar mereka jadi teringat tentang Taman Bermain lagi, aku menundukkan kepalaku dengan perasaan kecewa. Aku tahu tidak seharusnya aku kecewa, ini juga bukan salah Hiro-chan. Tapi aku tak bisa mengelak kalau aku sangat ingin pergi dengannya. Tidak [f/n]! Hiro-chan sedang sibuk, apa kau sendiri ingin dia dipecat dan berhenti jadi editormu? Tidak,'kan? Hiro-chan juga sudah berjanji akan pergi lain kali, untuk kali ini kau hanya perlu bersabar. Benar, aku harus sabar.
Popcicle yang sudah mengecil karena mencair langsung aku makan sampai habis. Aku mengambil belanjaanku lalu berjalan menuju toko buku dekat stasiun, tempat langgananku membeli Manga. Aku memasuki toko buku mencari rak Manga. Aku melihat di salah satu rak terdapat Manga buatanku. Aku tersenyum begitu melihat Mangaku yang dijual secara berjilid.
Aku kembali mencari Manga incaranku, beruntungnya aku menemukannya belum terjual habis. Aku mengambil satu dan membawanya ke kasir. Kasir memasukan Manga ke dalam bungkusan. Setelah selesai, aku keluar dari toko buku lalu menuju stasiun bawah tanah untuk pulang.
Aku melewati lorong stasiun yang luas, pandanganku teralihkan karena melihat seseorang yang familiar dari belakang. Aku berbalik menuju belakang tiang tembok, mengintip pria bersurai kelabu itu dibalik tembok. Dia sedang bicara dengan seorang wanita yang terasa familiar juga untukku.
"Hiro-chan...?"
Aku langsung bersembunyi dibalik tembok lalu menyadari sesuatu, "Ke—kenapa aku harus bersembunyi? Padahal bisa saja itu rekan kerjanya, 'kan? Tapi aku seorang Mangaka terkenal karena itulah aku harus bersembunyi.." ucapku bicara sendiri lalu kembali mengintip mereka dari balik tembok.
Aku melihat wanita itu dengan lebih cermat. Dia tidak terlihat seperti Mangaka, aku perhatikan wajahnya terasa familiar seperti aku pernah melihatnya. Bagai sengatan listrik aku kembali teringat masa-masa Kuliah, wanita itu kalau tidak salah... Natsumi-chan? iya itu memang dia!
Wanita yang Hiro-chan pacari dulu saat Kuliah. Apa ini? kenapa dia bertemu dengan mantannya dulu?! Natsumi terlihat tertawa seakan mereka sedang membicarakan masa lalu yang indah, tangannya juga menyentuh wajah Hiro-chan dan mengelusnya. Yang membuatku kesal Hiro-chan hanya diam saja dengan perlakuan manis mantan pacarnya.
Benar juga, kalau di pikir-pikir mereka putus tanpa alasan yang jelas. Saat itu, Natsumi cerita padaku dia masih menyukai Hiro-chan. Apa dia masih punya perasaan dengan Hiro-chan? Hiro-chan juga terlihat bahagia bertemu dengannya.
Tentu saja, Natsumi itu wanita yang terlihat menarik. Dia juga lebih bisa diandalkan dibandingkan denganku. Wajar saja, kalau mereka bisa balikan. Kalau begitu, untuk apa Hiro-chan bersama denganku?
Aku meninggalkan mereka kembali ke atas dimana kota Shinjuku berada, aku merasa tak nyaman pulang dengan kereta kali ini. Mungkin naik bus bisa membuat suasana hatiku lebih baik. Aku menyeberang di zebra cross, lalu berjalan di trotoar dengan perasaan campur aduk.
Gomen..
Apa karena itu kau mengucapkan perkataan itu dengan penuh penyesalan?
Denwa da yo, butayarou~ Denwa da yo, butayarou~ Denwa da yo, butayarou~
Aku tersadar dari lamunan dengan ringtone ponselku yang berbunyi, aku mengambilnya yang kuletakkan di dalam saku celana. Aku melihat nama Hiro-chan tertera di layar ponselku, aku menggeser icon hijau untuk menjawab panggilannya.
"Moshi-moshi.."
"Ini aku.."
"Ada apa?"
"Aku minta maaf untuk hari ini, pekerjaanku selesai lebih awal dari yang kukira, jadi sekarang aku sedang di stasiun. Aku akan pulang membuat bekal dulu jadi kau jangan makan dulu.."
"..." aku entah mengapa tidak ingin bicara dengannya.
"..[f/n]? Ada apa? kau dengarkan?"
"..Aku tidak ingin pergi ke Taman Hiburan lagi.."
"Hah? Kau ini kenapa? Kau marah karena aku membatalkan rencana kita hari ini?"
"Aku tidak bilang begitu, aku hanya tidak ingin saja!" Ah, emosiku mudah sekali di tebak.
"Justru karena itu jadi aneh, kau tidak mungkin mengatakan itu tanpa alasan.."
"Bukan, itu karena aku sudah makan di luar! Jadi kau tidak perlu datang ke rumah!"
"[f/n], tunggu..!"
Aku langsung mematikan panggilannya. Dia bicara seakan aku yang salah. Apanya yang kerja? Kalau yang kau temui mantan pacarmu! Aku juga langsung menonaktifkan ponselku. Aku masuk ke dalam bus dan pergi ke tempat dimana aku tak akan bertemu Hiro-chan.
.
.
.
.
.
" Sensei, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu.. tapi, melarikan diri ke rumahku tanpa alasan yang jelas.. bukankah itu agak berlebihan?" tanya seorang gadis yang terlihat lebih muda dariku, dia adalah Yuki yang merupakan asistantku.
Aku sedang tiduran di tatami apartement sepetaknya sambil nonton TV dan memakan keripik kentang dan bir kalengan. Aku bangkit menatap Yuki yang menatapku datar.
"Habis, aku tidak mau bertemu dengan Hiro-chan~" ucapku memajukan bibirku.
"Kalian bertengkar lagi? Kali ini, apa masalahnya?" tanya Yuki yang duduk menyilang di depanku.
"Aku melihatnya bertemu dengan mantannya.." aku duduk meringkuk.
"Hanya itu? mungkin mereka tak sengaja bertemu.."
"Bukan hanya itu! Hiro-chan juga membiarkan dia menyentuhnya! Dan terlihat sangat mesra! Hatiku sakit melihatnya! Apa kau tak mengerti bagaimana perasaanku?" Ucapku ngomel-ngomel pada Yuki dengan air mata kesedihan.
"Kenapa kau jadi marah-marah padaku, sih?" gumam Yuki, "Terus, kau mau melarikan diri sampai kapan? Kau itu bekerja dengannya, mau tak mau kau pasti akan bertemu dengannya.." Yuki meminum jus jeruk kalengannya.
Aku menyandarkan kepalaku pada lututku yang dalam posisi duduk meringkuk, "Aku tidak tahu, aku ingin menanyakannya—tapi..aku takut dengan jawabannya.. Setiap kali jatuh cinta, aku selalu gagal. Karena itu, aku takut jika seandainya dia tidak serius padaku.." Aku mengatakan apa yang ada di pikiranku, apa ini, aku curhat masalah cinta dengan gadis yang lebih muda 5 tahun dariku.
Aku merasa gagal menjadi orang dewasa.
Yuki terlihat menatapku dengan pandangan mengintimidasi, itu membuat perasaanku tak nyaman. Pasti dia berpikir aku sangat kekananakan sebagai perempuan berumur 24 tahun. Usia bukan suatu masalah untuk menjadi dewasa, bukan?! Aku benar, 'ya kan?!
"Kupikir apa? hal itu hanya dugaan yang belum pasti, 'kan? Sensei, kau ini..." Yuki menjeda kata-katanya, "..tidak cocok jadi orang dewasa"
"Ugh!" rasanya seperti ada panah yang menancap di jantungku dengan pendapatnya barusan, dan aku sama sekali tak bisa mengelaknya!
"Sensei, kau kan lebih mengenal Mayuzumi-san. Apa kau yakin dia berselingkuh? Kalian belum lama ini bersama. Yah, kau perempuan jadi aku mengerti sih~ kenapa tidak kau coba untuk bicarakan dengannya?"
"Tapi.." aku masih merasa ragu.
Ting Tong..! Ting Tong..!
Bel rumah Yuki berbunyi, aku melihat Yuki berteriak agar tamu menunggu lalu berdiri menghampiri pintu apartementnya. Aku masih terduduk diam di sana, aku tidak sabar menunggu Yuki akhirnya memutuskan mengikuti gadis itu ke depan apartementnya.
"Ya, dia ada di dalam.." ucap Yuki yang aku dengar.
"Yuki, ada apa—" ucapanku terpotong begitu Yuki berbalik, menunjukkan Hiro-chan yang berada di bibir pintu menatapku.
"GEH..!" Aku langsung berjalan mundur untuk mewaspadai keberadaan kekasihku itu, "Ke-kenapa kau ada di sini..?!" tanyaku yang panik sendiri sambil menunjuk Hiro-chan.
"Oh kalau soal itu, sejak kau datang, aku sudah memanggil Mayuzumi-san untuk menjemputmu.." ucap Yuki dengan wajah datar.
"Yuki-chan pengkhianat!" hujatku pada Yuki yang tidak menjaga rahasia.
"Mau bagaimana lagi, saat itu aku tidak tahu kalian sedang ada masalah sih~" ucap Yuki masih tetap dengan wajah datar.
.
.
.
.
.
Akhirnya aku duduk meringkuk di dalam mobil dengan Hiro-chan yang menyetir memperhatikan jalan di depannya. Sejak tadi kami hanya diam saja dalam suasana yang canggung. Aku memperhatikan jalanan di luar, langit mulai menguning karena hari mulai senja.
"Kau sedang marah padaku?" suara Hiro-chan bertanya terdengar jelas olehku.
"Sudah kubilang, aku sudah makan di luar jadi kau tidak perlu ke rumahku.." ucapku tak ingin menatapnya, terus menatap jalanan di luar.
"Kau begitu lagi.." ucap Hiro-chan tapi tersirat dia juga kesal dengan sikapku, aku hanya mengeratkan genggaman tanganku pada rok yang aku pakai.
Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di parkiran gedung apartement Hiro-chan. bukannya membawa aku pulang, dia membawaku kemari. Sepertinya dia tahu kalau aku akan langsung berlari ke arah lift untuk melarikan diri darinya lalu mengunci pintu rumahku dan mengganti password pintu masuk.
Kami keluar dari mobil, aku berjalan di belakang Hiro-chan agar aku tak saling bertatapan dengannya. Hiro-chan berdiri di depanku dalam diam, aku memandang pada dinding lift yang memantul bayangan kami. Saat itu aku membuang muka ketika menyadari Hiro-chan memandangku dari pantulan bayangan di dinding lift.
Dia menatapku..
Aku mencoba melirik kembali pada bayangan Hiro-chan di dinding lift, hasilnya sama dia masih menatapku melalui bayangan dinding lift.
Sudah dong.. Kau pasti tahu kalau aku merasa tak nyaman dengan itu..
Penderitaanku berakhir begitu lift berhenti, Hiro-chan berjalan lebih dulu dariku. Aku masih mengikutinya di belakang. Hiro-chan membuka kunci apartementnya. Dia membuka pintunya, dia berbalik menatapku.
"Masuk.." dia menyuruhku untuk masuk, aku masih ragu dan terdiam di sana.
Aku terkejut begitu dia menarik pergelangan tanganku dan memaksaku masuk ke dalam, "Hi-hiro-chan..!"
Hiro-chan terus menarikku sehingga kami berakhir di dalam kamarnya yang gelap. Hiro-chan langsung mendorongku sehingga terjatuh di atas ranjang. Dia menahan tanganku agar tidak memberontak.
Tubuhnya menindihku, dia menatapku langsung dengan mata kelabunya. Aku langsung membuang muka ke arah lain.
"Kau marah padaku?" ucapnya.
"Sa-sakit.." aku menggerutu pada tanganku yang di genggam oleh Hiro-chan.
Seakan tahu itu, Hiro-chan langsung melepaskan pergelangan tanganku yang dia tahan.
"..Gomen" ucapnya.
Namun, dia masih memerangkapku dalam kungkungannya. Aku dapat mengetahui dia mengeratkan genggamannya pada sprei ranjang. Dia menatapku dengan wajah seriusnya.
"Naa, apa aku berbuat suatu hal yang salah?" tanyanya.
"A-aku tidak bilang kau begitu.."
Bagaimana mengatakannya? Aku tidak tahu.
Hanya saja melihatnya dengan Natsumi-chan membuatku marah.
Dia kembali mengeratkan genggamannya pada sprei, garis alisnya bertautan menunjukkan ekspresi bahwa dia tak puas dengan jawabanku.
"Aku lelah jika kau terus seperti itu, kalau ada hal yang mengganggumu katakan saja..!" Aku terkejut ketika Hiro-chan mulai membentakku.
Dia terbangun dari posisinya dan duduk di pinggir kasur, aku juga duduk di sampingnya dengan menghadap arah yang berbeda. Dia menundukkan wajahnya sehingga aku tak dapat melihat wajahnya. Sama seperti biasanya, dia tak akan menunjukkan wajah marahnya padaku. Aku menaikan kakiku ke atas kasur dan duduk meringkuk. Menundukkan wajahku menatap lantai.
"..A—aku.. aku pikir kita berpacaran.." aku mengucapkan alasan yang menggangguku selama ini, "..Tapi, tidak ada apa pun yang terjadi selama 2 bulan ini semenjak festival kembang api.."
"Justru aku yang terheran.." Hiro-chan membalas ucapanku, aku mengalihkan perhatianku padanya yang wajahnya masih sulit untuk kulihat.
"..Kau tidak pernah bergantung padaku. seperti membicarakan soal latar manga, memilih tempat liburan, atau pakaian yang ingin kau gunakan—semuanya selalu kau bicarakan terlebih dahulu dengan Hayama.." aku mendengar penjelasan Hiro-chan, entah bagaimana aku merasa tak menyangka bahwa itu yang dia pikirkan.
"..I—itu aku pikir kau sibuk.."
Selama 2 bulan aku tidak ingin hubungan pertemananku dengan Kotarou hancur jadi aku berpikir dengan hal ini tak akan membuat kita berpisah. Aku takut menyakiti perasaan Kotarou begitu dia tahu aku lebih memilih Hiro-chan. Hubunganku dengan Kotarou terasa canggung sejak hari itu. Terlebih lagi, Hiro-chan terlihat baik-baik saja dengan hal itu. Aku tidak tahu bahwa dia juga memikirkan hal seperti itu.
"[f/n].. kau lebih senang bersama Hayama, 'bukan?" Mataku terbelalak dengan pernyataannya, "..Sebelum terlambat, kita bisa putus.."
"Iyadaaa!" aku berteriak tak terima dengan keputusan terburu-buru Hiro-chan, aku menarik bajunya agar dia menatapku.
Aku menatap mata redupnya begitu pandangan kami bertemu, "Kenapa kau bilang begitu..?! Apa aku pernah bilang ingin bersama dengan Kotarou..?! Kau juga sama saja, hari ini kau bertemu Natsumi-chan.. Tapi, kau tidak mengatakan apapun padaku..! Kau hanya diam saja ketika dia menyentuhmu, bukankah kau yang ingin mencampakkanku?Kau hanya berpikir seenakmu, tapi apa kau pernah memikirkan perasaanku..?"
Tanpa sadar aku mengeluarkan air mataku karena kesal, "Hiks...hiks.." aku mengusap sendiri air mataku dengan tanganku.
"..Aku tidak mau putus.. hiks..!" Air mataku tak bisa berhenti, hidungku mulai mampet karena menangis.
Aku merasakan tangan besar Hiro-chan menyentuh wajahku, aku menatap wajahnya yang mendekat padaku. Dia memiringkan kepalanya mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku refleks menutup mataku. Aku merasakan bibirnya menekan bibirku dalam tiga detik. Dia melepaskan ciuman singkatnya. Kemudian dia menarikku hingga kepalaku bersandar di dada bidangnya. Tangannya mengelus kepalaku lembut.
"Gomen.." hanya itu yang dia katakan.
Aku memeluk Hiro-chan, aku menunduk menyembunyikan wajahku.
"Jangan pernah bilang itu lagi.."
"Iya.." Aku merasakan bibirnya mencium puncak kepalaku, "..Sebenarnya aku juga tidak benar-benar ingin mengatakannya.."
.
.
.
.
.
"Hiro-chan, aku berhasil membuat Tamagoyaki-nya!" ucapku semangat menaruhnya di wajan kotak ke telanan untuk di potong.
Hiro-chan menuangkan kuah sup Miso di piring kecil, "Mau coba?" aku mengangguk dan mengambil piring kecil itu lalu menyeruputnya.
"Enak! Seperti biasanyaa~" pujiku pada masakan Hiro-chan.
Hiro-chan tersenyum padaku sehingga membuatku bersemu merah, aneh sekali sekarang kami kembali normal setelah bertengkar beberapa waktu lalu. Sebelumnya Hiro-chan menjelaskan padaku kalau Natsumi -chan bekerja di perusahaan percetakan yang memiliki kontrak dengan penerbitan.
Mereka tak sengaja bertemu lalu minum bersama. Hiro-chan juga menjelaskan padaku untuk tidak perlu cemburu karena Natsumi itu sudah menikah dan memiliki satu orang anak berumur tiga tahun. Mengetahui itu, membuatku jadi malu dengan diriku sendiri.
.
.
.
.
.
TBC dengan Happy Ending iyey! :v
Sedikit spoiler : chapter berikutnya menceritakan tentang masa lalu Hayama ketika pertama kali bertemu Rea iyey! Dan kondisinya begitu tau dia tertolak xD
