Judul : Listen to Me, Baby

Chapter : 11

Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan Absurd readers.

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, namun Kuroko udah diboikot sama Kyuu jadi gak boleh ada menyentuh my husbuh tersayang :3 /ditabokFansgirlsKuroko/

Pairing : MayuRea

Rating : T ajhalah :v

A/N :

Fict ini akan berganti sudut pandang sesuai mood Kyuu :v

Kali ini kita menggunakan sudut pandang Hayama Kotarou

Selamat menikmati :3

Itadakimasu!

.

.

.

.

.

"Kotarou, ayo kita liburan..!" Aku menengok pada [f/n], perempuan yang aku sukai.

"Liburan?" Aku bertanya padanya yang menjelaskan bahwa kita butuh liburan.

Kami mengobrol setelah menyelesaikan beberapa halaman naskah Manga, aku terus memperhatikannya yang berceloteh mengenai liburan sambil memperlihatkan majalah travel. Dia menunjukkan onsen untuk menginap padaku.

Aku tertawa begitu melihatnya tertawa, mau seberapa kali aku mencoba melupakannya, aku malah terus-terusan teringat olehnya. Mungkin sekarang [f/n] memang milik oranglain, tapi perasaan yang sudah kubawa sejak 7 tahun bersamanya—tidak mungkin bisa hilang dengan mudah.

"Sebaiknya kita pilih yang mana ya~" dia bergumam sambil tersenyum sendiri.

Melihatnya semanis itu membuatku ingin memeluknya. Aku menompang wajahku dengan tanganku memperhatikannya yang duduk di kursinya tempat dia menggambar Manga.

Dia naif sekali. Pasti dia berpikir dengan liburan ini akan menghilangkan kecanggungan di antara kami. Aku suka bagian dirinya yang seperti itu, tapi seandainya dia tahu itu menambah perasaan sakit yang berkecamuk di dadaku.

Liburan dengan orang yang kau sukai itu hal aneh, 'bukan? Memang apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan saat liburan bersama? Pastinya hal kotor.

Yah, bagian itu kurasa tak perlu kukatakan padanya.

Memang dia sudah menjadi milik Mayuzumi-san, tapi aku tak pernah berpikir untuk menyerah lho~

"[f/n].." aku memanggilnya yang hanya dibalas dengan gumaman, "Aku belum berniat menyerah padamu, lho.." setelah mengucapkannya kuperhatikan dia terdiam dengan raut wajah yang aneh.

"Ahahahaha~ apaan sih, Kotarou suka bercanda deh!" dia tertawa seperti aku habis mengeluarkan lelucon konyol.

Aku tahu lho, kamu mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku serius.." aku menatapnya tepat pada matanya, menandakan bahwa aku benar-benar serius.

[f/n] langsung terdiam ketika mendengar perkataanku. Dia menatapku seakan tak percaya. Suasananya menjadi hening untuk beberapa saat.

"Kotarou.. aku.."

"Ah, sepertinya sudah saatnya aku pergi.."

Aku terbangun dari posisi dudukku lalu mengambil tasku. Aku sengaja melakukannya agar tak mendengar penjelasannya lagi. Aku menuju pintu ruangan studio, menekan kenopnya, lalu berhenti sebentar sebelum keluar.

"Lebih baik kau pikirkan, jika bersikap terlalu baik padaku, nanti aku semakin menyukaimu.." ucapku tersenyum padanya yang menutup setengah wajahnya dengan buku travel.

.

.

.

.

.

Biar kujelaskan.

Setelah aku menyatakan perasaanku pada [f/n] pada hari itu, aku sangat berharap bahwa [f/n] juga akan menerima perasaanku. Keesokan harinya tiba-tiba aku dengar dia berpacaran dengan Mayuzumi-san. Tentu saja, aku sangat kecewa dengan hal itu.

Aku tak bisa marah atau sedih ketika melihat wajah bersalahnya. Setelah mengetahui perasaanku padanya pasti dia merasa tak enak. Aku tak pernah berpikir perasaanku padanya adalah hal yang salah. Aku selalu tahu dia gadis yang baik, jadi perasaan cintaku padanya bukanlah hal yang salah.

Aku menuangkan sebotol shochu pada gelas kecil, kali ini aku sudah berada di bar. Memikirkan tentang perasaanku pada [f/n] tak akan ada habisnya. Setiap kali begitu, aku akan memilih melupakannya dengan meminum alkohol. Ini membuatku tampak menyedihkan. Aku tersenyum hambar dengan hal itu.

Aku benar-benar terlihat seperti orang yang sudah putus asa.

"Lagi? Kau minum-minum di sini~" komentar orang tersebut membuatku teralih padanya, aku dapat lihat Reo-nee memandangku dengan wajah sebal seraya menyilangkan tangannya.

"Reo-nee.."

"Aku tahu sesakit apa hatimu itu, tapi aku sudah sering kali melihatmu pergi minum-minum.. apa kau pikir minum itu solusi terbaik..?" lanjutnya yang kemudian dia duduk di sampingku.

Aku meletakkan botol shochu lalu memandang gelas yang aku pegang, "entahlah, apa seburuk itu? aku minum-minum bukan berarti karena galau.."

"Huh! Pembohong.." dia mulai bersikap seperti kakak perempuan lagi..

TRING..

Tiba-tiba aku mendengar bunyi dentingan dari arah depanku. Aku dapat melihat 12 botol shochu diletakkan tepat di depanku dengan seseorang yang berdiri di baliknya.

Ya, seseorang yang besar dan mirip seperti Gorilla, dan menganggap otot adalah segalanya. Dan sekarang entah bagaimana dari seorang pemain basket menjadi atlet tinju. Itulah Eikichi Nebuya, teman semasa SMA-ku dulu. Pakaiannya yang berjas nampak membuatnya terlihat seperti orang berbahaya. Tanpa permisi dia langsung duduk di depanku.

"Kenapa kau ada di sini?" tanyaku menatapnya datar.

"Karena aku dengar salah satu temanku sedang patah hati jadi kucoba untuk menghiburnya, mungkin.." jelasnya dengan tersenyum jahat padaku.

Aku langsung menatap aneh pada Reo-nee yang pura-pura tidak melihatku. Sepertinya dia yang menceritakannya pada si Gouriki ini. aku tersenyum dan menunduk, merasa senang juga dengan kebaikan temanku ini. Mereka membuatku ingin tertawa.

"Apa-apaan kalian ini.."

"Sudahlah, sekarang ayo minum-minum! Lupakan soal wanita, saatnya kita tantang diri kita.." Dia terlihat membuka kemasan pada botol shochu.

"Tunggu Ei-chan! Kau membeli shochu sebanyak ini? Kandungan alkoholnya terlalu tinggi.." Reo-nee mulai berkilah dengan minuman yang dibelikan Eikichi.

"Apa salahnya? Kita akan minum sampai kehilangan akal, 'bukan?" katanya yang menuangkan shochu itu pada gelas kecilku, "Sekarang, ayo bertanding seberapa kuat kau tahan dengan ini.." Eikichi tersenyum menantang padaku, "Apa kau takut..?"

Aku mendengus mendengarnya, dari dulu orang ini memang suka melakukan pertandingan seperti ini ketika berkumpul. Aku mengambil gelas yang sudah dia tuangkan shochu itu lalu langsung meminumnya. Reo-nee terlihat panik seakan ingin menghentikanku. Aku meletakkan kembali gelas itu begitu selesai meminumnya, lalu tersenyum menantang pada Eikichi.

"Boleh, siapa takut..?" aku ikut tersenyum menantang padanya yang disambut dengan tuangan shochu di gelasku.

"Baiklah, aku tidak akan kalah darimu.." ucapnya yang juga menuangkan pada gelasnya.

"Chotto.. kalian berdua..!" kami tidak mendengar protesan dari Reo-nee dan melanjutkan pertandingan siapakah yang paling kuat diantara kami.

.

.

.

.

.

"Aaahahahahhaaa! Tambah lagi~ buatlah semuanya semakin bergoyang! WAHAHAHAHA!"

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi entah sejak kapan pikiranku jadi berputar-putar setelah meminum hingga 6 botol shochu. Aku tak kuat berdiri tiba-tiba jadi lemas dan kembali duduk dengan menyenderkan kepalaku di meja.

"Ah, dia sudah mabuk.." ucap Eikichi yang wajahnya memerah akibat alkohol.

"Naa! Aku tahu ini akan terjadi! Ei-chan, semua ini salahmu!"

Aku melihat dengan pandangan yang berbayang dimana Reo-nee sedang mengomel pada Eikichi yang membalas perkataannya dengan mencibir. Dari perkataannya sepertinya aku terlalu mabuk. Ah, sial~ aku kalah dari Eikichi. Aku payah soal minum-minum.

Ah, mereka berisik sekali..

Brak!

"Urusai! Ucapan kalian mengganggu..!" Entah apa yang kupikirkan, aku tak bisa menguasai emosiku di keadaan saat ini.

"Dasar Gori bodoh!" Aku mengucapkannya tepat di depan Eikichi.

"Apa kau bilang?!" Dia terlihat tak terima.

"Dan kau! Berhentilah berbicara seperti wanita, dasar banci busuk!" Aku mengatakan apa yang kupikirkan selama ini tentang Reo-nee, dia terlihat kesal juga.

"Apaa?! Aku ini masih lelaki tulen..!" Dia tak mabuk tapi sepertinya dia sangat marah, tapi sebenarnya dia memang lelaki tulen dan sudah punya tunangan. Bahkan, tadi dia berteriak dengan suara yang sangat jantan.

Aku kembali menelungkupkan wajahku di meja, mereka memandangku jengkel dengan perempatan yang menghinggapi pelipis mereka. Aku mengabaikan itu, yang kuingat hanya wajah [f/n] ketika merasa bersalah. Aku benci melihat ekspresinya yang dia tunjukan padaku, seakan aku tak berdaya menghadapi semuanya.

"Aku.. sangat menyukai [f/n].." ucapku tanpa sadar, aku tidak tahu bahwa putus cinta akan sesakit ini.. karena aku laki-laki aku tak bisa menunjukkan sesakit apa aku pada orang lain.

"Sejak dulu.. aku... hhh.. hiks.. sudah menyukainya..! Ugh.. hh hiks.." mungkin karena mabuk perasaanku yang sesungguhnya tercurahkan, entah esok aku akan mengingat serapuh apa diriku atau tidak.

Aku merasakan tangan Eikichi yang menepuk-nepuk punggungku. Aku tenggelam dalam kesedihan hingga kedua temanku terdiam. Aku merasakan tangan Reo-nee menyentuh puncak kepalaku, mengelusnya lembut seperti sesosok Ibu.

"Kami sudah tahu, kau pria yang baik.."

Perkataannya membuatku terhenyak, satu hal yang kupikirkan. Jika seandainya [f/n] melihat sosok lemah ini, apa dia masih bersedia tersenyum padaku walau itu hanya kebohongan. Rasa lelah dan mengantuk mulai kurasa seiring dengan tangisanku. Tubuhku berhenti bergetar, samar-samar dapat aku dengar suara Eikichi dan Reo-nee.

"Eh? Ada apa dengannya?"

"Sepertinya dia tidur.."

"Eeh?! Terus bagaimana kita membawanya?!"

"Aah.."

.

.

.

.

.

Flashback mode on*

Semuanya berawal di bulan april di tahun ajaran kedua, aku tak begitu ingat, tapi perasaan ini sangatlah nostalgia sekali. Mendengar upacara pagi yang membosankan membuatku mengantuk, hari pertama masuk setelah ujian dan liburan musim dingin.

"Ohayou, Hayama!" Aku tersenyum mendapati teman sekelasku yang menyapa.

Aku duduk di bangku bagian tengah sesuai dengan denah ruangan lalu menggantungkan tasku di samping meja. Tak ada yang berubah, semua terlihat seperti hari biasanya, kecuali tentang kabar salah satu Kiseki no Sedai yang masuk di sekolah ini. Kabar yang sangat mencengangkan namun juga menguntungan.

"Kyaaaa!" Suara perempuan yang melengking memasuki indra pendengaranku, itu cukup mengganggu.

Terlihat gadis bersurai kecoklatan lurus hingga sebatas leher sedang bercengkramah dengan teman perempuannya yang memakai kacamata besar dengan rambut hitam di kepang dua. Mereka terlihat mendengar sesuatu di handphone cewek berkacamata sambil menggunakan earphone.

"Suara Toshiki Masuda sangat Childish aku suka!"

"Hmm.. tapi aku lebih suka suara yang lebih sexy.."

"Aku lebih suka yang cute, itu imut! Seiyuu yang lucu.."

Setelah mendengar kata Seiyuu, aku mulai mengerti perempuan seperti apa mereka. Intinya mereka cewek freak dan membosankan kurasa. Benar mereka pasti Otaku.

Yah, aku bukannya tak suka dengan mereka. Lagian aku juga suka membaca manga saat senggang. Hanya saja ada semacam aura yang membuatku tidak ingin terlalu dekat atau semacamnya. Aku memperhatikan sekilas kedua gadis itu yang masih bercengkrama, semenyenangkan itukah?

.

.

.

.

.

Sebulan setelahnya, aku mulai terbiasa dengan kelas baru ini. Dan juga bertambahnya anggota inti klub basket dengan kapten baru yang bahkan umurnya lebih muda setahun dariku! Agak mengesalkan, tapi aku juga kagum padanya. Kelihatannya akan menjadi hal yang menarik.

Guru Kimia muncul ketika kelas istirahat telah berakhir, semua murid kembali pada bangkunya masing-masing. Aku mengambil buku Kimia yang ada di laci mejaku. Terlihat beberapa bagian buku yang sudah tercoret-coret ketika aku bosan dengan pelajaran.

Sejujurnya buku ini tak pernah ku bawa pulang karena merepotkan, guru Kimia sangatlah killer, dan akan membunuhmu jika kau lupa membawa buku. Guru itu mulai berkilah di depan kelas agar kami segera membuka buku sesuai halaman yang di tentukannya.

"Pastikan kalian membawa buku kalian, saya tidak akan mentoleransi jika kalian mengikuti pelajaran saya dengan setengah hati.. mengerti?"

Begitulah, SMA Rakuzan sangat mengedepankan kedisiplinan. Terutama guru Kimia kali ini, dia tidak segan-segan mengabsen murid lalu menyuruhnya belajar dengan menatap tembok di belakang kelas, jika lupa membawa buku. Aku sering kali mendapatkan amarah darinya karena tak memperhatikan omongannya ketika pelajaran, tapi memang sangat membosankan sih~

Aku mendengar suara bising di belakangku yang merupakan gadis otaku bersurai coklat pendek itu, kalau tidak salah namanya [L/N][F/N]. Wajahnya terlihat panik mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia terdiam mematung seperti orang bodoh, seakan hidupnya akan berakhir saat itu juga.

"Sial, ketinggalan.." gumamnya sendiri tapi masih dapat kudengar.

Guru yang sedang menulis teori papan tulis itu memanggil [f/n], "[l/n]-san! Baca teori hal 34 sementara aku menulis teorinya.."

[F/n] terlihat membeku seketika seperti pahatan es di hokkaido!

"[L/n]-san! Kau dengar apa yang saya perintahkan? Atau mungkin, kau tidak membawa bukunya?!" ucapannya yang berbalik menatap [f/n] dengan mata menyalak.

Itu membuatku tak bisa diam, lalu melempar buku Kimia itu pada [f/n]. Dia terkejut dan menatapku, "Gunakan saja.." ucapku padanya yang tak bergeming dari keterkejutannya.

Aku mengangkat tanganku pada guru lalu berkata, "Sumimasen sensei, saya tidak membawa buku, lalu memaksa [l/n]-san untuk meminjamkan bukunya.." ucapku tersenyum garing pada guru itu yang terlihat tak suka dengan pengakuanku.

"Benarkah itu, [l/n]-san?" Tanya guru itu pada [f/n].

Dia menatap gelisah padaku, yang hanya ku balas kedipan mata untuk mengisyaratkannya berkata YA.

"Ha-hai.." lirihnya pelan yang membuat guru itu sangat marah ketika menatapku.

"Hah? Jadi itu yang kau lakukan Hayama-san?!" Dia membetulkan letak kacamatanya yang melorot dari hidungnya, "Saya tahu, kau tidak pernah memperhatikan pelajaran saya..! Kali ini saya sudah sangat kesal!" Dia menunjuk pada kursi kosong yang berada di pojok kelas yang tidak memiliki barisan.

"Bawa buku catatanmu! Dan belajarnya pada tembok apa kesalahanmu!"

Aku langsung mengikuti perintahnya untuk duduk di bangku tersebut, seterah saja, lagipula ini tujuanku sejak awal agar tak perlu mendengarkan pelajarannya. Aku duduk lalu menatap keluar jendela, di sana aku melihat awan yang perlahan berubah.

.

.

.

.

.

Aku membasuh kepalaku pada air keran yang mengalir, aku sangat berkeringat ketika berlatih dengan kapten merah yang sekarang menjelma menjadi iblis ketika berlatih. Padahal dia bukan pelatihnya tapi sepertinya pelatih mendengarkan apa yang dia sarankan.

Sekarang anggota inti diisi olehku, Akashi, Reo-nee, dan Eikichi. Aku tidak tahu alasan kenapa Akashi belum memilih anggota terakhir meskipun anggota kami memiliki banyak pemain handal. Dari gelagatnya sepertinya dia memiliki rencana. Meskipun dia Kouhai dia benar-benar misterius untuk ditebak.

Pandanganku beredar kembali pada pintu depan gym yang dipenuhi oleh para gadis-gadis yang tersenyum dengan wajah memerah sedang melihat ke dalam. Sejak Akashi menjadi anggota entah mengapa banyak para gadis yang mengintip latihan kami. Selain tampan dan kaya, sepertinya Akashi menjadi idola para gadis karena kemisteriusannya.

Mereka suka cowok yang seperti itu yaa..?

"Otsukaresama deshita!"

Mendengar suara seorang gadis membuat perhatianku teralihkan padanya. Dia tersenyum sembari memberikanku sekaleng cola? Aku menatap aneh sekaleng cola untuk seseorang yang habis berolah raga. Anak ini punya selera yang aneh.

Dia menatapku dengan mata berbinar-binar entah karena apa, membuatku menjadi risih. Tangannya memaksaku untuk menerima cola itu. Sekarang aku memandang cola itu yang berpindah pada tanganku.

"Apa ini?"

"Itu sebagai tanda terima kasih.." ucapnya padaku dengan senyuman, dia terlihat tersadar akan sesuatu, dia mengeluarkan buku dari tasnya dan memberikannya padaku.

"Ini bukumu.. Gomen~ aku tidak bisa membantumu.." kemudian wajahnya menampakkan ketakutan tiba-tiba, "Soalnya Nenek Sihir itu sangat menakutkan, entah bagaimana bergerak sedikit saja dia bisa memakanku.." ucapnya ngeri mengenai guru killer itu.

Aku mengambil buku itu, lalu tertawa dengan perkataannya mengenai guru killer.

"Kau menyebutnya Nenek Sihir, kalau dia dengar pasti kau sungguhan akan dimakan olehnya.." setelah mendengar pernyataanku wajahnya membiru.

"Benarkah itu?!"

Serius? Dia percaya..

Bodoh bener nih cewek..

Lucu juga anak ini. Dia terlihat menatapku aneh lalu tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Dia memukul telapak tangannya dengan kepalan tangannya. Entah darimana dia mengeluarkan note kecil dari tasnya. Aku hanya menunggu apa yang akan dilakukannya dengan benda itu.

"..Aku sedikit ingin mewawancaraimu, boleh kan?" Dia bertanya dengan wajah serius yang membuat atmosfer berubah.

"Oh.. tentu saja, apa itu?"

"Bagaimana menurutmu dengan Akashi-sama?"

Akashi-sama? Apa dia termasuk dari pemujanya..

Aku memasang pose berpikir dengan tangan yang menangkup dagu, "Dia sangat hebat dalam bermain basket, tampan tapi sedikit sulit untuk diajak akrab mungkin? Aku merasa sedikit segan padanya sih.."

Dia mulai menulis di note kecilnya, apa anak ini stalker?!

"Lalu apakah dia pernah bersikap baik padamu, misalnya menemanimu latihan di gym diam-diam? Atau memasukan note manis di lokermu? Atau mungkin dia pernah memandang laki-laki seusianya dengan pandangan penuh nafsu?" Dia beruntun bertanya hal-hal aneh yang sama sekali tak membuatku mengerti.

Sebenarnya informasi seperti apa yang dia cari?!

"Maaf, sepertinya itu tak pernah terjadi.."

Wajahnya terlihat kecewa sambil menggigit bibirnya sendiri, "Begitu ya, uh-huu~"

Lha memangnya kenapa?!

"Ah, ada satu lagi.. apa kau tertarik secara romantis padanya?" Dia kembali bertanya dengan wajah berbinar.

"Tunggu! Apa maksudnya itu?!"

"Ah tidak, lupakan saja.. sepertinya aku berlebihan, ahahahaha!"

Memang apa yang kau harapkan dariku woy?!

Dia kembali memasukan notenya ke dalam tasnya, dia tersenyum padaku lalu tangannya melambai kecil, "okey boy, see you!" Ucapnya dengan logat inggris yang kemudian pergi dengan berlari dan tertawa sendiri.

Aku menggaruk tengkukku melihat keanehannya, aku merasa seperti orang bodoh bicara dengannya.

Dasar cewek aneh..

.

.

.

.

.

Jam istirahat kali ini Aku memutuskan di kelas memakan bekal sambil menonton rekaman lawak di smartphoneku, begitu ada hal yang lucu Aku tertawa bahkan tak ada yang lucu pun Aku tertawa. Tawaanku menimbulkan pandangan aneh dari orang-orang di sekitar. [F/n] yang saat itu sedang lewat sambil makan roti Yakisobanya sedikit melihat apa yang di tonton olehku.

"Wah..!" [F/n] entah mengapa langsung berteriak melihat yang apa yang ku tonton, lalu dia mendekat padaku dengan wajah berbinar-binar.

Aku bingung dengan reaksi penuh antusias dari [f/n] yang mendekatiku, "Ini acara komedi Gaki no Tsukai~! Hayama-kun, kau menontonnya juga?" Dia terlihat antusias menanyakannya.

"Ini acara yang menarik dan lucu, [l/n]-san juga menontonnya?" Tanyaku balik yang mendapat anggukan darinya.

"Tentu saja, aku selalu menontonnya.. temanku bilang, acaranya garing.. tapi bagiku tidak begitu..!" Ucapnya yang kemudian duduk di kursinya menghadapku.

"Itu benar, hanya orang yang memiliki selera humor yang buruk yang tidak tertawa menontonnya.." jelasku yang mulai tertarik dengan topik ini.

"Iya, aku mengerti perasaanmu~ ah iya, apa kau nonton saat episode tahanan? Mereka kesulitan menahan tawanya.."

"Ah, aku tahu itu.. lalu duo komedian anna-chan melakukan gerakan bodoh untuk membuat mereka tertawa.. ahahaha!"

Setelah itu entah bagaimana aku merasa semakin dekat dengan [f/n], kami sering mengobrol tentang acara lawak. Menirukan lawakan bodoh itu untuk bercanda atau sekedar berbincang hal yang menyenangkan. Kami saling bertukar film lawak lalu membicarakannya. [F/n] membuatku tertarik padanya hingga aku menyadari bahwa aku mulai nyaman berteman dengannya.

Aku sering kali mendengarnya berbicara mengenai hobi otaku dengan temannya, sepertinya dia suka menghadiri acara pengisi suara di event tertentu. Aku melihatnya membaca manga di kelas yang sepertinya dia mengumpulkan serinya. Aku tidak mengetahui apapun selain lawakan untuk bicara padanya, aku teringat dengan salah satu kakak perempuanku yang sepertinya juga mengoleksi manga yang dibaca oleh [f/n].

"Onee-chan, boleh kupinjam manga yang kau kumpulkan itu?" Tanyaku pada Kakakku yang terlihat terkejut ketika melihatku muncul ke kamarnya dan mengambil manga dari rak bukunya.

"Tunggu, Kotarou.. sejak kapan kau tertarik dengan Shoujo Manga?" Dia bertanya menatapku dengan curiga.

"A-aku hanya ingin iseng saja, kok.. nanti ku kembalikan.."

Aku tidak begitu tertarik dengan manga percintaan karena kata-katanya yang menggelikan. Aku tidak bisa pungkiri bahwa [f/n] pecinta Shoujo Manga. Aku mulai membaca Manga berjudul 'dear' itu, setelah beberapa halaman ternyata lumayan menarik juga.

Terlihat menceritakan tentang cinta segitiga dari tiga orang sahabat yang sudah lama kenal. Kelihatannya karakter heroin yang bernama Rei ini menyukai salah satu cowok dari teman masa kecilnya yang bernama Banri, sayangnya cowok itu terlihat menyukai orang lain. Dan temannya yang lain si Kazuma memiliki perasaan pada Rei tanpa Rei sadari. Setelah kubaca lebih jauh ternyata Banri sebenarnya juga menyukai Rei. Hm, cerita yang sangat klise sekali.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana jika hal ini terjadi di dunia nyata. Masalah percintaan selalu rumit bagiku. Kurasa seandainya aku menjadi Banri aku akan mengatakan hal yang sejujurnya pada Rei, dia sangat bodoh menyakiti dirinya sendiri. Sejak awal, jika dia mengatakan hal yang sesungguhnya pasti Rei akan bersamanya, 'bukan? Tapi, tentu saja hal seperti ini akan dibuat rumit oleh pengarang. Aku justru lebih mendukung Kazuma karena lebih terbuka pada Rei.

Setelah aku membaca semua seri manga itu, keesokannya aku bicara pada [f/n] bahwa aku sudah selesai membacanya. Aku melihatnya yang membaca manga pada seri terakhirnya, dia terlihat selesai membacanya dengan wajah puas. Aku tersenyum melihatnya yang duduk di belakangku. Aku berdehem sebelum mengatakan hal ini darinya.

"Kau tahu, sebenarnya aku juga selesai membaca Manga itu.." jelasku yang membuatnya menatapku dengan wajah polosnya lalu berubah senang dengan senyuman manisnya, hal itu membuat jantungku berdebar untuk sesaat.

Apa itu tadi?

"Eeh..? Benarkah?! Kotarou juga membacanya?" Dia bertanya dengan sangat antusias hingga maju ke depan sampai wajah kami sangat dekat lalu kembali duduk.

"Iya, aku memiliki serinya di rumah.. itu sangat menarik.." jelasku padanya yang berbinar-binar menatapku.

"Ini pertama kalinya aku memiliki teman laki-laki yang suka membaca Shoujo Manga..! Aku sangat senang~" aku tersenyum mendengarnya yang terlihat sangat senang dengan hal tersebut.

Aku kemudian melihatnya yang mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tasnya dan mengeluarkan tumpukan kertas putih di dalamnya yang terlihat sudah digambar menyerupai Manga. Dia memperlihatkannya padaku lalu memberikannya padaku.

"Kalau begitu, maukah kau menilai Shoujo Manga buatanku?" Ungkapnya yang membuatku melihat pada Manuskrip Manganya yang terlihat hebat untukku.

"Wuah! Ini sangat hebat, kau yang membuatnya..?" Tanyaku yang melihatnya dengan takjub.

"Hehe, iya.. aku berpikir untuk ikut kompetisi Manga bulanan, bagaimana menurutmu?" Dia hanya tertawa malu dengan menggaruk belakang kepalanya ketika aku sedikit membaca Manganya.

"Kalau boleh jujur, ceritanya biasa saja.."

"Agh..! Be-benarkah itu..?" [F/n] terlihat kecewa mendengarnya.

"Tapi, gambarmu bagus.. aku yakin sedikit konflik yang rumit akan membuatnya bagus.." jelasku padanya yang terlihat berpikir.

"Ah..!" Dia memukul telapak tangannya dengan kepalan tangannya, terlihat menyadari sesuatu, "Baiklah, aku akan menggunakan dia.." ucapnya dengan antusias.

"Eh, apanya?"

"Akashi Seijuurou-sama, aku akan menggunakannya.."

"Eh?!"

"Aku berpikir dia tipe ideal para gadis, jika aku menggunakannya sebagai tokoh utama laki-laki.. kurasa itu akan berguna.." jelasnya yang kemudian dia menunjukkan kamera yang dibawanya, "Karena itu aku membawa kamera untuk memotretnya saat latihan basket nanti.." jelasnya dengan mata yang tiba-tiba berkilat.

"J-jadi itu maksudmu dengan menggunakan.."

"Tentu saja! Ini demi impianku menjadi Mangaka.. karena itu, Kotarou juga bantu aku ya.." jelasnya yang tersenyum di hadapanku, sifatnya ceria sekali.

Sebenarnya dia orang yang sangat jujur, aku berpikir bertemu dengannya merupakan hal yang selama ini kucari. [F/n] sangat bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya sehingga membuatku ingin membantunya. Dia terkadang tertidur sambil duduk di jam pelajaran karena menggambar semalaman. Seandainya tubuhku tidak terlalu besar untuk menutupinya pasti dia akan kena marah.

Untuk saat ini, aku benar-benar hanya ingin melihat senyumannya itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maafkeun Kyuu readers-chuan~ Kyuu sdh menghilang selama setahun kali ya? Gak lanjutin ini fict.. wkwk

Gatau kenapa emang lagi WB gitu buat karyaku yg satu ini, trus sebenarnya Kyuu memiliki akun rahasia di ..

dan membuat ff di FNI dgn rating semi M wkwkwk.. ga sangka banyak yg suka tpi jga bnyk yg benci, jdi lanjuti ff itu trus.. ampe wp terbengkalai ehe!

Tpi maaf, Kyuu gak bisa bilang akun itu soalnya rahasia..

"Listen to Me, Baby" masih berlanjut ya, nantikan saja meskipun lama bat Kyuu updatenya :v