Judul : Listen to Me, Baby

Chapter : 12

Genre : Romance, humor, fluffy, OOC dan Absurd readers.

Disclaimer : Kuroko no Basket hanya milik Fujimaki Tadatoshi, namun Kuroko udah diboikot sama Kyuu jadi gak boleh ada menyentuh my husbuh tersayang :3 /ditabokFansgirlsKuroko/

Pairing : MayuRea

Rating : T ajhalah :v

A/N :

Fict ini akan berganti sudut pandang sesuai mood Kyuu :v

Lanjutan cerita Hayama Kotarou

Selamat menikmati :3

Itadakimasu!

.

.

.

.

.

Hari ini, untuk pertama kalinya aku melihat [f/n] tidak banyak bicara. Dia gadis ceria yang selalu tertawa apapun yang terjadi. Tapi, hari ini beberapa kali aku melihatnya menghela nafas. Aku melihatnya yang sedang menggambar coretan di buku sketchnya. Aku duduk menghadapnya lalu menyandarkan kepalaku di meja. Aku pandangi wajah murungnya dengan senyuman.

"Ada apa?" Matanya menatap padaku seketika, lalu kembali memandangi coretan di buku sketchnya.

"Kotarou, apa hal yang akan membuatmu menyerah?" Dia bertanya padaku sebuah pertanyaan yang cukup sulit di jawab, aku tidak menyangka dia bisa membicarakan topik seberat ini.

Aku menutup mataku berpikir sejenak dari hal yang akan membuatku menyerah, aku tidak pernah berusaha sekuat tenaga tentang apapun selain basket dan main skateboard. Dan lagi, aku juga tidak menyerah sampai aku bisa berhasil. Kurasa filosofi itu tak akan cukup untuk menjawab pertanyaan [f/n].

"Hal yang membuatku menyerah ya.. kalau itu aku, mungkin aku akan menyerah jika hal yang sudah kulakukan selalu sia-sia.." jelasku padanya yang terlihat masih belum puas dengan jawaban tersebut, "Memang ada apa? Kau terlihat sedang ada masalah.."

Wajahnya berubah sendu ketika dia mulai bercerita, "Sebenarnya aku bertengkar dengan temanku.."

"Temanmu?"

Dia mengangguk lalu melanjutkan ceritanya, "Kami berteman sejak kecil, kita memang sering bertengkar tentang hal kecil.. Tapi, aku benar-benar marah saat dia bilang akan menyerah dengan hal yang disukainya itu.. Setelah pertengkaran itu, kami belum bicara sama sekali.." dia kembali menunduk seperti menyesali sesuatu.

"Memang apa yang dilakukannya?" Entah bagaimana aku jadi penasaran orang seperti apa yang dimaksud [f/n].

"Dia bermain basket, awalnya dia hanya coba-coba saja. Tapi, kelihatannya dia sangat menyukainya. Dia rajin latihan selama dua tahun ini. Oh iya, dia senpai kita lho~ dia anak kelas tiga di klub basket, mungkin Kotarou mengenalnya.." jelasnya yang terlihat berbinar-binar membicarakan orang itu.

Aku terkejut ketika mendengar temannya itu ternyata bermain basket dan berada di Rakuzan juga, "Kalau dia menyukainya kenapa dia berhenti?"

"..ah, itu kurasa karena dia merasa tertinggal. Sekarang, dia sudah kelas tiga tapi belum bermain untuk anggota reguler. Di tambah, sepertinya dia tertekan begitu Akashi-sama muncul.."

Oh, begitu ya? Aku mulai sedikit mengerti permasalahannya. Dalam permainan basket, pelatih manapun akan menggunakan pemain terbaiknya. Kurasa teman [f/n] menyerah setelah menyadari ketertinggalannya untuk memenuhi standar itu. Aku menjadi pemain reguler sejak kelas satu, entah kenapa aku merasa bersalah karena merebut posisi reguler darinya yang sudah berlatih selama dua tahun.

"Sekarang, aku tidak tahu harus apa? Aku hanya ingin dia mencoba sedikit lagi.."

"Aku rasa dia hanya ingin melarikan diri.." [f/n] memandangku dengan pandangan bertanya, "..ada hal yang tidak bisa dijelaskan tentang hal yang kau impikan [f/n]-chan"

Aku mengambil buku sketchnya yang ada di meja lalu membuka buku itu menunjukkan sebuah sketsa yang [f/n] buat, "Sama sepertinya halnya denganmu, bagaimana jika seandainya manga buatanmu ditolak berkali-kali? Kau pasti tertekan bukan?" Jelasku yang mendapat anggukan dari [f/n].

"Satu hal yang perlu dilakukan dari hal itu adalah kau akan perintahkan dirimu dan mengatakan bahwa kau mampu! Kau akan mengalahkan keraguan, rasa takut, perasaan minder, dan menukarnya dengan keberanian.." jelasku yang kembali menutup sketch itu, "kenapa tidak kau coba katakan itu padanya?" [f/n] menatapku dengan pandangan kagum.

"Kotarou.. kau.." dia mulai berucap lalu menunjukkan dua jempolnya padaku dengan menangis terharu, "..sangat keren!" Jelasnya yang membuatku seketika tertawa melihat bagaimana reaksinya yang berlebihan itu sampai meyakinkan diriku untuk menjadi guru BK.

Keesokannya, dia kembali bersikap seperti biasanya. Aku senang melihatnya kembali ceria. [F/n] ibaratkan bunga matahari bagiku, jika kehilangan sinarnya dia akan layu. Dia berkata temannya sudah kembali bermain basket lagi, sepertinya temannya itu mendapat motivasi dari seseorang yang penting.

Saat latihan basket aku terkejut ketika Akashi menerima anggota lain pada tim reguler, dia berkata pria bersurai kelabu itu akan menjadi pemain ke-6 sebagai bayangan. Aku terkejut ketika mendengar dia adalah seorang senpai setahun di atasku. Namanya Mayuzumi Chihiro.

Dari apa yang kulihat dia memiliki teknik dasar yang bagus, Akashi menyuruh kami untuk siap menerima operan darinya. Pria itu memiliki hawa keberadaan yang tipis sehingga membuatku terkejut setiap kali mendapat operan. Akhirnya Akashi memberitahu kami tentang masa lalunya mengenai temannya sebagai pemain ke-6, sebagai bayangan di timnya. Dia menyebut Mayuzumi adalah model baru yang lebih kuat dari temannya tersebut.

Setelah latihan, Reo-nee memintaku dan Eikichi untuk mengantarnya pergi melihat sepatu baru yang ingin dibelinya di Aeon Mall. Kami berjalan menelusuri toko demi toko di dalam. Pandanganku tiba-tiba teralihkan pada sepasang siswa-siswi dengan seragam yang mirip dengan kami. Reo-nee dan Eikichi masuk ke dalam toko sedangkan aku masih terdiam di depan toko.

Aku melihat [f/n] yang nampak sedang memakai earphone uji coba di depan toko elektronik dengan seorang pria di sampingnya yang baru kukenal beberapa saat yang lalu. Gadis itu bersama dengan Mayuzumi-san dan terlihat sangat dekat ketika mereka saling bicara. Mayuzumi-san terlihat mengomel padanya entah tentang apa lalu berusaha pergi, namun [f/n] memaksanya berhenti dengan menarik tas yang bertengger di pundak Mayuzumi-san sambil merengek.

"Kenapa aku harus menemanimu menonton film aneh itu?!" Mayuzumi-san berujar keras hingga dapat kudengar dari kejauhan.

"Habisnya, Yuko-chan tidak bisa menemaniku.. ini acara perdananya, katanya aku bisa dapat hadiah bantal.. dan juga dua aktornya yang ganteng datang!" [F/n] melepas earphone yang dikenakannya lalu bergelayutan memeluk perut Mayuzumi.

"Hah?! Aku tidak mau menonton film dimana dua lelaki saling berpelukan, itu menjijikan! Hey, lepaskan aku!"

"Tidak! Aku sudah membeli dua tiket, aku berjanji pada Yuko-chan membawakannya bantal dengan gambar Toshiaki!"

"Kalau begitu tinggal kau minta saja dua bantal..!"

"Ga bisa, satu orang hanya bisa dapat satu! Hiro-chan~ kumohon~ kau tak perlu menontonnya, kau bisa lakukan apapun di dalam bioskop, asal kau bisa menerima bantal itu setelah kita keluar dari bioskopnya.."

"Aku yang akan dapat pandangan aneh nanti!"

"Hiro-chan~ huwaa~!" [F/n] tiba-tiba menangis hingga membuat orang-orang di sana menatap mereka aneh.

Mayuzumi-san terlihat panik dengan itu lalu berusaha melepaskan dirinya dari [f/n], kemudian Mayuzumi-san menghela nafas pasrah. Tangannya menepuk kepala [f/n] lalu bicara bahwa dia akan menemaninya, membuat gadis itu menatapnya senang. Kemudian Mayuzumi-san mencubit pipinya hingga membuat gadis itu merengek kesakitan.

"Hey Kotarou, kenapa kau diam di sana?" Aku mendengar Eikichi yang memanggilku tersadar dan menatapnya di dalam ruang toko sepatu yang terbuka, Reo-nee terlihat bingung antara memilih dua sepatu, dan bicara pada oneesan yang menjaga toko di sana.

"Oh, aku akan ke sana.." aku menghampiri mereka, aku kemudian menawarkan sebuah sepatu dengan pola yang aneh pada Reo-nee yang bilang bahwa warnanya menjijikan.

Aku tidak tahu bahwa mereka sedekat itu, ketika aku melihat mereka aku menyadari ada sesuatu yang berbeda. Aku merasakan perasaan yang aneh. Kami hanya berteman, kenapa aku harus terganggu dengan hal itu?

Selama perjalanan pulang aku terus memikirkannya, seperti apa hubungan Mayuzumi-san dengan [f/n] yang terlihat sangat dekat. Pikiranku tak bisa hilang darinya, hatiku terasa tercekat dan menyesakkan. Aku bahkan memikirkannya semalaman dan tak bisa tidur sama sekali.

Setelah hari itu, aku menghindar dari [f/n]. Aku berpura-pura tidur agar dia tak mengajakku bicara, aku membuat alasan setiap kali dia mengajakku melakukan sesuatu, dan pura-pura tidak mendengar setiap kali dia memanggil namaku dari kejauhan.

"Ohayou, Kotarou!" Aku mendengar suaranya di loker sepatu ketika kami bertemu dengan senyuman manisnya, tapi aku tidak menatapnya, aku langsung pergi menghindarinya.

"Oh-Ohayou.." aku hanya berucap kecil lalu pergi darinya.

Aku melihat wajahnya yang nampak terluka seperti bunga matahari yang layu. Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan. Terlihat seperti anak SD yang sedang marah dengan temannya, aku menjadi kekanakan. Aku pikir kami adalah teman baik. Tapi, semakin lama kupikir hal yang disebut teman adalah kemungkinan terburuk. Aku sendiri bahkan menanyakan tindakanku yang menjadi dingin padanya.

Aku memainkan bola basket di tanganku sambil menatapnya, memutar bola itu atau memantulkannya ke lantai. Latihan sudah selesai sejak tadi, sementara itu aku malah duduk bersender di tembok pinggir lapangan indoor. Aku merasakan jejak sepatu yang menghampiriku, aku mendongak dan menatap wajah Reo-nee yang tersenyum padaku. Kemudian dia duduk di sampingku sambil meminum isotoniknya.

"Ada apa? Kau bisa mengatakannya padaku.."

"Hah? Apa maksudmu, Reo-nee..?"

Dia malah tersenyum padaku, "Kau sedang ada masalah, 'bukan?"

Aku kemudian menatap ke depan pada Eikichi yang sedang memamerkan ototnya pada pemain cadangan, pandanganku beralih pada Mayuzumi-san yang sedang berlatih shoot.

"Apa kau ada masalah dengan Mayuzumi-san?" Aku terkejut mendengar Reo-nee yang mengatakan hal itu.

"Hah? Ee.. ti-tidak.. bukan begitu.."

"Tapi dari yang kulihat kau menatapnya terus dengan tatapan tidak biasa.. tapi, baguslah kalau kalian baik-baik saja.." jelas Reo-nee.

"Sebenarnya bukan karena itu, ini tentang teman sekelasku.. aku tidak tahu mengapa, tapi melihatnya lebih dekat dengan oranglain membuatku terganggu.. rasanya menyesakkan seperti aku tidak menyukai jika mereka bersama.." aku kembali teringat ketika bagaimana interaksi Mayuzumi-san dan [f/n] yang sangat dekat, "Kami berteman baru-baru ini, aku merasa cocok dengannya.. setiap kali melihatnya tersenyum aku seperti mendapat kekuatan, aku merusak pertemanan hanya karena keegoisanku.. aku orang yang buruk.."

"Biar aku tebak, orang ini perempuan?"

"Eh? I-iya, dia perempuan.."

Reo-nee kemudian tersenyum lalu tertawa kecil, "Begitu ya..?"

"Memangnya kenapa?"

"Itu normal kok.." Reo-nee tersenyum penuh arti, "Kau hanya terlalu menyukainya.. itu yang disebut dengan cemburu.."

"Cemburu?"

"Itu artinya kau jatuh cinta padanya.." lanjutnya yang membuatku terdiam, "aku tahu kau pasti lambat menyadarinya, tapi tak ada kata terlambat untuk berbaikan dengannya kok.."

Aku termenung mendengar penjelasan Reo-nee, tentu saja untuk beberapa kali sebelumnya aku pernah punya pacar. Aku tidak pernah memulai hubungan lagi karena semua mantanku cewek munafik. Tapi, baru kali ini aku menyadari bahwa perasaanku pada [f/n] itu berbeda.

Jadi, sekarang aku jatuh cinta sungguhan..?

.

.

.

.

.

TING TONG TING TONG

"Baiklah, harap tenang.. sensei, akan mulai dengan absen.."

Bel pertanda masuk berbunyi, aku masuk ke dalam kelas bersamaan dengan seorang guru matematika yang masuk. Aku duduk di kursiku seperti biasa, aku datang lebih siang hari ini. Aku mengambil bukuku dikolong meja namun nihil. Aku tidak menemukan buku itu. Aku malah menemukan sebuah surat lecek dengan tulisan.

Tulisan itu, jelas aku langsung tahu siapa orang yang membuat buku matematikaku hilang.

Yo! Kotarou, aku pinjam bukumu ya.. aku lupa membawa milikku, aku akan mengembalikannya di jam istirahat siang nanti.. teehee! 💪

Teehee dengkulmu!

Si goriki bodoh itu ternyata yang mengambil bukuku tanpa permisi! Sialan, kelas matematika jam pertama hari ini. Rasanya aku ingin memukul wajahnya yang berotot itu. Kalau begini, aku pasti harus berbagi dengan seseorang.

"Baiklah, kita akan mulai pelajarannya.."

"Sumimasen sensei, aku lupa membawa bukuku.." ucapku dengan mengangkat lenganku pada guru pria berkacamata yang terlihat sudah tua tersebut.

"Begitukah?" Ucapnya sambil membetulkan letak kacamatanya, "Kalau begitu, kau bisa berbagi dengan temanmu.." saran sensei yang menilik muridnya.

Tiba-tiba gadis di belakangku berseru, "Sensei, saya akan berbagi dengan Hayama-kun..!" Ucapnya yang membuatku terkejut dan melihatnya di belakangku yang mengangkat tangannya dengan yakin.

"Oh, [l/n]-san.. kau mau berbagi? Baiklah, mohon bantuannya ya.." jelas sensei dengan santai, seketika aku menjadi gugup ketika [f/n] mulai mengangkat mejanya tepat di sampingku.

Matanya menilik padaku dan tersenyum lembut, aku langsung yakin bahwa wajahku memerah. Dia duduk dan meletakkan buku pelajaran tepat di tengah kami. Dengan sangat terpaksa kami menjadi sering bertatapan karena bersebelahan. Meskipun, aku selalu mengalihkan pandanganku ke arah lain ketika hal itu akan terjadi. Selama dua jam setengah aku hanya merasakan kegelisan karena duduk di sampingnya.

.

.

.

.

.

Setelah bel tanda sekolah berbunyi aku bersiap untuk latihan basket dan menenteng sepatu basketku keluar kelas hingga ketika aku melewati lorong sekolah yang menuju tangga aku dihalangi [f/n] yang membentangkan tangannya di depanku.

Aku terhenti sejenak lalu melangkah ke kanan untuk lewat tapi [f/n] melangkah ke kanan, aku melangkah ke kiri dan hal yang sama terjadi yaitu [f/n] tetap menghalangiku. Kami terus bersikeras melakukannya hingga aku lelah dan mulai emosi pada gadis mungil di depanku ini.

"Apaan sih?!" Aku menatap kesal padanya yang menatapku tajam dengan kedua bola mata bulatnya, dia memajukan bibirnya dengan ekspresi cemberut.

"Aku tidak akan membiarkanmu lewat, sampai Kotarou sepakat untuk bicara denganku.." jelasnya yang mendongak sombong di hadapanku.

Aku berdiri terdiam lalu bertanya, "Apa yang kau bicarakan?"

[F/n] menurunkan tangannya lalu menatap tepat pada kedua mataku, "Kenapa kau menghindariku?" ucapannya membuatku terpaku lalu langsung mengalihkan perhatianku ke arah lain.

"A-aku sibuk.. sebentar lagi penyisihan interhigh.." jelasku berbohong padanya.

"Kotarou pembohong! Hanya karena sibuk kau mengabaikanku, jelas sekali kau masih bicara pada teman-teman di kelas.. tapi, kenapa hanya aku yang diabaikan?"

Aku terdiam sebentar, menatapnya yang tepat berada di hadapanku. Kami berpandangan cukup lama hingga aku tidak tahan melihat wajahnya yang meminta jawaban jujur dariku. Maka aku memutuskan untuk menunduk menatap sendu lantai yang kupijak.

"Itu karena dirimu selalu muncul dipikiranku.."

"Hah?"

"Ini menggelikan, aku juga tidak menyangkanya. Tapi, melihatmu dekat dengan Mayuzumi-san membuatku kesal. Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kau begitu dekat dengannya? Apa kau pikir semua ini tidak membuatmu kecewa? Aku memiliki syarat tertentu untuk dekat denganmu.." aku mengepalkan tanganku sendiri ketika suasana menjadi serius, dia pasti tahu bukan? persahabatan antar laki-laki dan perempuan itu memang tidak mungkin.

"Ouh, itu karena Hiro-chan teman masa kecilku, karena itu kami seperti saudara. Dan lagi, kenapa aku harus kecewa?" Jelasnya yang menatapku dengan berkedip polos, aku terkejut dengan reaksinya yang biasa saja dan menatap aneh padanya.

Aku menunjuknya yang ada di depanku, "Apa kau tahu makna yang baru saja kukatakan, [f/n]-chan?"

"Ah, aku tahu kok. Kau pasti juga ingin berteman dengan Hiro-chan, 'kan? Bodoh sekali, aku tidak menyadarinya~" dia menepuk punggungku kencang sambil menjerit girang, "gomen, nee~ Padahal aku sadar kau selalu memandangnya saat latihan basket, kau pasti.." [f/n] kemudian menyentuh pundakku dengan telapak tangannya dan menepuk-nepuk pelan dengan kepala menunduk.

Wajahnya langsung mendongak menatapku dengan senyuman terharu, "..KAU PASTI SANGAT MENYUKAI HIRO-CHAN, 'YAKAN?!" Dia berteriak dengan penuh keyakinan membuatku merasa ada yang salah!

Eh?! Kenapa jadi begitu?! Padahal tadi aku baru saja menyatakan perasaanku. Kau sama sekali tidak mengerti syarat yang aku maksud, bagaimana bisa?!

"Tunggu, kau salah paham! Ke-kenapa aku harus menyukai Mayuzumi-san?"

"Eh? Salah ya?"

Aku tahu kau Fujoshi, tapi bisakah kau tidak mengaitkannya di dunia nyata? Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa aku menyukainya..

Hah~

Aku langsung berjongkok ke bawah dan menghela nafas dengan pasrah. Entah bagaimana, aku merasa lega karena [f/n] tidak mengerti yang baru saja kukatakan. Sebenarnya tadi aku sudah siap jika dia menolakku. Syukurlah, di kepalanya hanya berisikan hal tabu yang dipikirkan Fujoshi.

"Kotarou, kau tidak apa-apa?"

Aku melihat ke depan padanya yang juga berjongkok di depanku sambil menatap penasaran padaku, tingkah bodohnya membuatku tanpa sadar tersenyum. Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang yang cukup merepotkan.

"Apa kau menyukai Mayuzumi-san?" Aku kembali bertanya padanya.

"Tentu saja, aku menyukainya.." Aku memandangnya cukup lama ketika matanya bergerak seperti memikirkan hal lain, "..Soalnya Hiro-chan orang yang baik, sama sepertimu dia teman yang berharga dan selalu mendukungku menjadi Mangaka. Karena itu, aku menyukai kalian berdua sebagai sahabatku~" jelasnya dengan senyuman lebar membuatku memandangnya takjub karena dia nampak manis dengan senyumannya.

Aku mendengus akan jawabannya yang cukup optimis lalu tertawa keras hingga [f/n] menatapku dengan pandangan bingungnya, aku merasa bodoh mendengar jawabannya, seperti ada harapan yang hilang tapi bias oleh harapan juga. Sekarang aku sadar bahwa gadis aneh yang kusukai ini berbeda dengan orang biasa. Dia hanya orang bodoh yang menganggap semua hal itu indah.

"Apaan sih? Tawaanmu membuatku tersinggung.." cibirnya.

"Gomen, aku tidak bisa menahannya-pffft.."

Flashback mode off*

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku membuka mataku ketika sadar bahwa aku telah tertidur di atas sofa berwarna hitam, di sebuah ruang tamu yang nampak terpampang foto besar Nebuya Eikichi yang berpose menunjukkan otot perutnya. Itu nampak menggelikan bagiku yang baru saja bangun tidur. Aku tahu, aku berada di rumah Eikichi sekarang. Aku ingat jelas aku lomba minum dengannya sampai mabuk, sepertinya hal itu membuatnya membawaku yang tidak sadarkan diri kemari.

Kepalaku terasa pusing karena efek minum semalam, aku memeganginya yang terasa sakit. Ini buruk, aku sangat payah untuk minum alkohol.

Aku kembali teringat bahwa flashback indah tadi ternyata hanya mimpiku saja, mengingat kenangan itu membuatku ingin kembali ke masalalu dan me-reset semuanya agar berjalan seperti harapanku. Baiklah, aku sekarang tampak menyedihkan karena menyalahi masalalu. Kenyataannya sekarang semua itu hanya sia-sia.

"Oh, kau sudah bangun?"

Mataku melirik pada Eikichi yang tengah menggosok pipinya dengan handuk kecil, tampaknya dia habis cuci muka karena aku mendengar aliran keran tadi. Tiba-tiba dia melempar sesuatu ke arahku yang langsung dapat kutangkap.

"Kau semalam mabuk berat, minum itu.." jelasnya yang berjalan ke arah patri dapur di apartementnya ini.

Aku melihat botol kecil yang bertuliskan solmac, ini minuman yang mengandung alang-alang yang rasanya tidak enak menurutku. Tapi, karena aku tidak ingin sampai hangover karena mabuk, aku membukanya saja. Aku meminumnya sedikit dan langsung ingin muntah tapi di tahan, rasanya benar-benar buruk.

"Kau benar-benar menyukai [f/n], huh? Semalam kau mengigau memanggil namanya.." jelasnya yang mengejekku dengan senyuman menyebalkan.

Aku menaruh kembali botol kecil itu di meja, "Tentu saja, aku sudah menyukainya sejak SMA. Kau pasti berpikir aku menyedihkan, 'bukan? Aku melamarnya dan langsung ditolak.."

"Inilah yang terjadi karena kau terlalu lambat, sudah kukatakan dari dulu untuk mengatakan perasaanmu yang sebenarnya. Dan kau langsung melamarnya, pasti gadis itu terkejut sekali, soalnya dia perempuan yang tidak peka sekali.. sebenarnya apa yang kau suka darinya? Aku sih lebih memilih wanita sexy yang menggoda seperti Erika Sawajima.." jelasnya yang terlihat memakan roti tawar sambil memandang poster artis cantik yang memakai bikini.

"[F/n] itu lumayan cantik, 'bukan?" Tanyaku pada Eikichi yang berpikir.

"Yah, lumayan sih.."

"Aku itu suka perempuan cantik, tapi aku lebih suka perempuan yang apa adanya seperti [f/n].." Aku mengingat bagaimana ketika kita sekolah dulu, [f/n] selalu bergantung padaku, dia tidak pernah malu dengan hal aneh yang dia suka, atau berkata buruk tentang oranglain.

Terlalu naif dan baik hati.

"Mantan-mantanku dulu suka berkata buruk tentang oranglain atau mengatur apa yang mereka inginkan padaku, padahal diawal mereka terlihat cerdas. Ketika aku sedikit mengatur mereka, semuanya langsung marah. Dan tiba-tiba mereka memutuskanku dan berkencan dengan pria lain. Aku tidak suka perempuan munafik seperti itu.." jelasku pada Eikichi.

"Lalu apa yang berbeda dengannya?"

"Mungkin karena dia sangat murni.."

"Huh?"

Aku kembali terbaring di badan sofa, "[f/n] itu bodoh, saking bodohnya dia sangat polos. Dia mempercayai semua orang yang ada di dekatnya, bahwa kita bisa berteman baik. Dia hidup dengan menyenangkan seperti apa yang dia mau, tanpa keraguan sedikitpun. Dia sama sekali bukan perempuan munafik, karena itu aku menyukainya sampai 7 tahun lamanya.."

"Aku tidak menyangka pria sepertimu cukup realistis juga.." jelas Eikichi meremehkanku.

"Huh?!"

Eikichi nampak tersenyum lalu berjalan dan duduk di sofa yang berada di depanku, "Sebagai teman aku hanya bisa mendukungmu, [f/n] mungkin menyukai oranglain tapi kau juga bagian hidupnya, selama masih ada peluang untukmu merebutnya.. kenapa tidak? Tapi yang terpenting kau harus memikirkan perasaannya.."

"Aku berpikir begitu, tapi jika aku tidak mendapat peluang apapun nantinya, aku akan menyerah. Bagiku, yang terpenting dia merasa bahagia.."

Ya, benar. Aku mungkin memang mencintainya lebih dari yang dipikirkan siapapun. Meskipun, pada akhirnya aku harus mengubur perasaanku bersama kenangan kita selama ini. Aku pikir itu sudah takdir, bahwa di cerita hidupnya aku hanyalah seorang support. Yang bisa kulakukan hanya menerima peran itu, tapi bukan berarti saat ini aku akan menyerah untuk merebutnya.

Ini baru saja dimulai.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hiyahh, lama menanti yehh?

Maaf, slow update adalah jalan ninjaku :v

Chap selanjutnya bakal lanjut Mayurea lagi uhuy! Nantikan saja..