Judul : Tetangga Sebelah

Chapter : 2

Genre : Romance, humor, OOC, parody, dan segala tetekbengeknya.

Disclaimer : Om Fujimaki Tadatoshi

Pairing : NO PAIRING

Rating : T

A/N :

Ini hanyalah fict gabut Kyuu di bulan puasa 2019.. :v please, jgn nagih chapter fict yg lain, otak kyuu gak ada ide sama sekali.. :'v

.

.

.

.

.

Terjebak di Toilet Itu...

Aomine Daiki seorang mahasiswa Jurusan animasi sekarang sedang berada di ruang karaoke karena ajakan teman kampusnya. Aomine yang sudah lelah akibat aktifitas kampus dan hal lainnya ingin sekali cepat pulang dari tempat tersebut. Aomine berharap ada salah seorang yang izin pulang duluan biar bisa ngelatah, tapi sayangnya tidak ada.

Kaeritai~

Di benak Aomine sudah terbayangkan kasur empuk, playstation, cemilan yang menemani hari libur natal besok. Aomine tidak ingin menyia-nyiakan hari dimana dia bisa nyantai tanpa memikirkan kehidupan sosial dan belajar. Salah seorang cewek berbadan bohay yang agak mabuk merangkul lengan Aomine.

Cewek itu sudah terkenal naksir padanya, Aomine tahu itu. Namun, Aomine masih belum bisa move on dari mantan yang masih membayang-bayangi kehidupan suramnya. Meskipun hubungan yang kandas itu salah Aomine yang iseng selingkuh karena khilaf.

Tapi, Aomine sebenarnya iseng doang, gak niat selingkuh. Mau alasan kayak gimanapun, cowok brengsek tetap saja brengsek. Aomine mah nyadar kok dia brengsek.

Hanya saja, kalau soal urusan hati Aomine cuma terpaku sama satu cewek yaitu mantannya, yang malah mungkin udah move on dari Aomine dan udah punya cowok yang lebih ganteng dari Aomine. Hati Aomine cedih begitu tahu sang mantan sudah move on darinya. Kemaren malam, Aomine baru saja menyesali itu.

"Aomine-kun, bagaimana kalau malam natal besok kita berkencan?" Ajak cewek yang masih merangkul lengan Aomine itu, cewek itu bernama Marika.

"Ah gomen, aku tak bisa. Besok aku sudah punya acara dengan adik laki-lakiku" ucap Aomine ngibul, boro-boro punya adik, orang dia saja anak tunggal.

"Sayang sekali, padahal aku ingin menghabiskan waktu denganmu~" ucap Marika manjah.

Apa-apaan cewek ini?! Jangan mengganggu waktu liburku untuk bersantai! Aomine berkilah dalam hati.

Salah seorang di sana ada yang mengintrupsi untuk pulang duluan, Aomine yang melihat celah tersebut langsung ngelatah dan ikutan kalau dia ada urusan buat pulang duluan. Akhirnya Aomine berhasil bebas dari kekangan teman kampusnya buat main lebih lama. Mereka gak tau sih Aomine lagi galau mengenang mantan.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, dimana semua orang merayakan hari natal yang indah. Aomine yang jomblo cuma di dalam apartementnya meratapi nasib sebagai jomblo gak ada acara dengan bermain game di playstationnya. Aomine mengutak-mengutik stick PSnya dan fokus pada game, sesekali sebelah tangannya mengambil ketipik kentang untuk memakannya.

Saat Aomine udah pw, panggilan alam datang. Sungguh merepotkan, Aomine harus mem-pause gamenya dan pergi ke toilet. Aomine berpikir seandainya saja dia bisa memakai selang untuk menyalurkan hasratnya itu sehingga tak usah repot-repot ke toilet. Lupakan pikiran absurd Aomine, yang penting sekarang dia harus menurut pada panggilan alam dulu.

Beberapa menit kemudian Aomine selesai menyalurkan hasratnya, dia kembali menutup resleting celananya. Dia berbalik untuk keluar, tangannya meraih kenop pintu toilet. Dia memutar kenop pintunya namun kenopnya terlalu keras untuk diputar sehingga pintu itu tak ingin terbuka.

Bagai tersambar petir Aomine jadi panik sendiri, dan terus memaksa pintu itu agar terbuka. Percuma saja. Akhirnya Aomine memilih tindakan alternatif yaitu, berteriak meminta pertolongan.

"Dareka! Tasuketekure! Siapapun yang mendengar ini bantu akuu! Tolong! Tasukete! Dowajuseyo! Bang wo! Help me! Hilf mir! Aiutami! Aidez moi! Ajude-me! Bantu enyong!" Teriak Aomine meminta pertolongan dengan berbagai bahasa, bahkan sampai bahasa Jawa. Sungguh luar biasa.

Kagami yang lagi enak-enak nonton drama Amerika merasa terusik, soalnya kamar dia kan sebelahan dengan kamar Aomine. Terdengar jelaslah olehnya suara Aomine yang meminta pertolongan namun terkesan mengganggu ketentraman rukun tetangga.

Kagami masuk ke dalam toilet di kamarnya, karena toilet mereka memang terhubung hanya berbatas tembok. Dan kaca jendela kecil yang berada di ujung atas sana sebagai ventilasi.

"Berisik oy! Memangnya ada apa?" Ucap Kagami dari balik tembok itu yang membuat Aomine berharap itu adalah secercah harapan.

Aomine langsung nemplok di tembok lalu menjelaskan bagaimana dia bisa terkunci di dalam toilet.

"Aku terkunci di toilet, sepertinya ada yang rusak di pintu toiletku. Bisa kau bantu aku keluar dari sini? Tolonglah!" Jelas Aomine memohon bantuan pada Kagami.

"Benarkah? Itu gawat sekali. Baiklah, aku akan bilang pada bapak apartementnya.. kau tunggu saja.." balas Kagami yang akan meminta bantuan pada pemilik apartement. Aomine bernafas lega mendengarnya.

"Kalau begitu, tolonglah!" Ucap Aomine.

Kagami berbalik untuk keluar dari toilet, tangannya meraih kenop pintu toilet lalu memutarnya. Namun-kenopnya tiba-tiba terlepas dari pintunya.

Eh? Kagami jadi jawdrop.

Tubuhnya ikut bergetar menahan diri dari kebodohannya sambil menatap kenop yang dia pegang di tangannya. Lebih tepatnya kenopnya patah.

"AAAAAHHHKK!" teriak Kagami ikutan panik, teriaknya yang menggelegar itu tentu saja terdengar oleh Aomine yang lagi duduk meringkuk di pojok toilet.

Aomine langsung bangkit dan nemplok lagi di tembok.

"Ada apa?! Otonari-san?!" Tanya Aomine panik dengan apa yang terjadi dengan tetangganya.

Kagami terduduk di kloset sambil menunduk lemas dan menjelaskan situasinya pada Aomine, "Kenop pintuku lepas, aku juga terkunci di sini.." mendengar itu Aomine pun ikut terduduk lemas di klosetnya dengan aura kesuraman.

Waktu terus bergulir cukup lama hingga jam 7 malam, Aomine yang lapar karena belom makan nasi dari pagi sudah lemas sampai bersender di tembok toiletnya dengan wajah kusut. Perutnya beberapa kali berbunyi minta diisi.

"Hah.. apa kita akan seperti ini selamanya?" Itu pertanyaan Aomine yang merasa pasrah akan kematiannya yang akan segera tiba.

"Aku tidak tahu, mungkin akan ada seseorang yang menyadarinya?" Harap Kagami membalas pertanyaan Aomine dengan sebuah kemungkinan.

Kruuuucuuk~

Perut Kagami mulai berbunyi juga minta di isi. Kagami memegang perutnya yang kosong karena belum makan juga.

"Hah.. aku lapar~" gerutu Kagami yang kelaparan.

Aomine yang mendengar juga menanggapi, "Aku juga.."

"Aku ingin segera keluar dari sini untuk membeli makanan di Maji Burger, oh, sepertinya akan lezat sekali.." Ucap Kagami yang mengkhayal bertemu mbak-mbak Maji Burger yang melayaninya sambil bertanya mau pesan apa.

"Ah.. aku juga lapar, aku ingin ke Maji Burger juga.. seharusnya aku tadi makan dulu sebelum main game, agar aku tak menyesal meskipun aku akan mati di sini.." curhat Aomine mulai melow.

Kagami tersenyum sarkas akan kepasrahan Aomine, "Apa yang kau katakan? Tentu saja kita akan keluar, aku yakin itu.. dan kita akan memesan banyak burger.." ucap Kagami menguatkan tekat Aomine untuk tidak mati begitu saja di toilet, kan gak etis.

Aomine yang lemas tersenyum, "Ah kau benar.. menurutmu burger apa yang paling enak?" Tanya Aomine.

"Cheese Burger.. yang baru matang, hangat, dan berasap.. pasti enak sekali~" jawab Kagami yang mengkhayal cheese burger di sebuah ruangan berwarna putih dengan asap panas yang masih mengepul.

"Ii, nee~ Aku juga ingin teriyaki burger, setidaknya aku ingin memakannya yang banyak, satu saja tak akan cukup untukku.." jawab Aomine yang matanya mulai berkunang-kunang.

"Tentu saja, kita akan membeli 15.. tidak, kita akan membeli paket seember cheese burger dan teriyaki burger.. dan memakannya hingga tak tersisa~ tentu saja, setelah kita keluar dari sini.. ya benarkan? Otonari-san?" Bacot Kagami yang di akhiri dengan pertanyaan harapan, namun Kagami tak mendengar jawaban Aomine.

"Otonari-san?" Panggil Kagami yang tak mendengar jawaban Aomine, "Oi, Otonari-san? Kiiteru ka?" Tanya Kagami lagi untuk memastikan, namun sama sekali tak ada jawaban dari Aomine.

Kagami terjengit dengan mata melotot karena situasi yang mengkhawatirkan itu, Kagami terbangun dan memukul tembok untuk memanggil Aomine.

"Oii, daijoubu ka omae? Kotaete yo! Otonari-san!" Tak ada jawaban sama sekali, Kagami berhenti memukul tembok dan diam beberapa saat berpikir apa yang terjadi pada tetangganya itu.

Oi oi, Maji ka yo? Shinitai ka omae? Daijoubu da, ore wa omae wo tasukete miseru! (Oi oi, beneran nih? Kau mau mati? Tak apa, aku pasti akan menolongmu!) Argumen batin Kagami untuk menolong Aomine.

Kagami langsung membuat gerakan siaga untuk mendobrak pintu toiletnya, pandangan tajamnya mengarah pada pintu toilet.

"Hyaaaaaah!" Teriaknya mengumpulkan tekat mendobrak pintu toiletnya. Karena pintu toiletnya berbahan plastik dan tak terlalu keras, Kagami berhasil mendobraknya.

Kagami membiarkan pintu toiletnya terjatuh di lantai, Kagami langsung berlari keluar apartementnya. Dan membuka pintu apartement Aomine yang tidak terkunci. Langsung saja Kagami menuju toilet dimana Aomine berada. Pintunya langsung bisa terbuka begitu kenop diputar dari luar. Sepertinya memang ada masalah dengan kunci pintu toilet itu.

Kagami melihat Aomine yang terduduk di bilik toilet dengan bersandar di dinding dan terlihat mengeluarkan iler di mulutnya sambil mengorok, dengan buku bergambar wanita dewasa memakai bikini yang menutupi wajahnya. Kagami mangap melihat tetangganya ini baik-baik saja sekaligus perempatan mulai muncul karena kesal.

Kagami mengambil semprotan air, lalu menyemprotnya pada Aomine yang sedang tidur dengan penuh dendam. Aomine yang merasakan dinginnya air langsung bangun dengan panik karena mengira kena banjir bandang.

"Ah! Banjir! Banjir!" Teriaknya heboh lalu menengok ke atas, menatap wajah Kagami langsung.

"Yaduh, basah semua dah~ oi, apa yang kau lakukan?!" Aomine emosi dengan perlakuan Kagami padanya.

"Hah?! Teme.. kau tau tidak aku benar-benar khawatir, kupikir kau benaran mati di toilet! Taunya kau enak-enakan tidur, huh?!" Kagami ikutan emosi lalu kembali menyemprot air pada Aomine tepat di wajahnya.

"Oi hentikan itu!" Ucap Aomine melindungi wajahnya dengan tangan.

"Lalu untuk apa kau bersikap lemas seperti orang yang sekarat, huh?!" Kagami bertanya lagi lalu berhenti menyemprot air pada Aomine.

Aomine yang basah kuyub malah nyengir kuda, "Ehehehe, maaf, tapi benaran aku sangat lapar sampai ingin mati.. karena lemas aku jadi mengantuk, makanya aku ketiduran wkwk.." mendengarnya Kagami jadi semakin kesal.

"Sia-sia aku peduli padamu!" Ucap Kagami yang keluar dari bilik toilet itu, Aomine mengikuti langkah Kagami di belakang.

"Oi, oi, ayolah~ jangan marah begitu~ ngomong-ngomong, makasih ya sudah bukain pintu toiletku.. aku sangat-akh!" Ucapan Aomine terhenti karena dia tak sengaja terpeleset elap basah yang ada di depan toiletnya.

GEDUBRAK! GUDEBRUK!

"Ittee.." ringis Kagami karena dia juga terjatuh berkat dorongan Aomine, ditambah Aomine juga menindihnya.

"Oh, gomen.. aku terpeleset.." ucap Aomine yang berusaha bangkit namun tangannya yang menapaki lantai terpeleset lagi karena sabun cucinya yang tumpah saat dia terjatuh tadi, Aomine sekarang berada di posisi dimana kepalanya terbenam di dekat leher Kagami.

Bersamaan dengan itu di luar ada seorang gadis yang mabuk dan bernyanyi-nyanyi karena stress cintanya ditolak Aomine, gadis itu adalah Marika.

"Aomine-kun~ kau menolakku, tapi aku tetap datang ke apartementmu~ ah, pintunya tidak dikunci~ apa kau menungguku~? ayo kita.." Marika langsung terdiam saat masuk ke apartement Aomine yang pintunya masih terbuka, karena melihat Aomine yang menindih Kagami.

Aomine yang mendengar seorang gadis masuk ke apartementnya, langsung bangkit dengan bertumpu pada tangannya. Dan menengok pada Marika dengan tampang polos, begitupula dengan Kagami yang juga menengok ke arah gadis tersebut dengan tampang polos.

"Eh?" Hanya itu tanggapan Aomine dan Kagami yang bingung di tempat.

Wajah Marika membiru melihat hal menjijikan di depannya, dia langsung otomatis mundur ke belakang. Dia menunduk memohon maaf, "Sumimasen, anggap saja aku tidak pernah datang.." ucapnya yang langsung menutup pintu apartement Aomine.

"Eh, kenapa dengannya?" Tanya Aomine yang merasa aneh dengan gadis itu karena biasanya selalu ngintilin Aomine.

"Mana ku tahu, yang lebih penting cepat bangun! Kau itu berat!" Omel Kagami yang membuat Aomine bergumam maaf dan bangun dari posisi yang bisa dibilang ambigay tersebut.

Sementara itu, Marika yang sudah keluar dari gedung apartement. Kembali menatap kamar Aomine dari kejauhan dengan wajah merasa jijik, "Jadi itu yang kau maksud janji dengan adik? Sulit dipercaya.." ucapnya bicara sendiri karena telah mengira Aomine mengencani laki-laki.

.

.

.

.

.

Di meja kecil apartement Aomine, sudah tersedia dua ember burger yang masih hangat. Aomine dan Kagami menatap nafsu pada makanan tersebut.

"Ittadakimasuuuu~" ucap mereka berbarengan, setelah insiden tadi Aomine mentraktir Kagami burger karena sudah membantunya keluar dari toiletnya.

Mereka memakan dengan lahap burger itu, dengan mulut yang masih berisi makanan Kagami berucap, "Oi, apa tidak apa kau mentraktirku sebanyak ini?"

"Sudah makan saja, ini tanda terima kasih karena kau sudah membantuku.."

"Oh! Kau ini ternyata baik juga ya, tidak seperti tampangmu.."

"Hah?!"

"Baiklah, aku akan memakannya sampai habis"

.

.

.

.

.

Waaai, chapter 2 akhirnya! Padahal Kyuu udah janji seminggu sekali ya?

Gomen nee :p

Soalnya tiba-tiba Kyuu menghadapi uts jadi harus belajar serius~ ini ajha minggu depan masih ada test mata kuliah umum uwuuuu~~~