Judul : Tetangga Sebelah
Chapter : 3
Genre : Romance, humor, OOC, parody, dan segala tetekbengeknya.
Disclaimer : Om Fujimaki Tadatoshi
Pairing : NO PAIRING
Rating : T
A/N :
Ini hanyalah fict gabut Kyuu di bulan puasa 2019.. :v please, jgn nagih chapter fict yg lain, otak kyuu gak ada ide sama sekali.. :'v
.
.
.
.
.
Bermain Api itu Malapetaka, lho
Hari yang cerah setelah perayaan tahun baru beberapa hari yang lalu. Suasana di kediaman apartement sederhana sedang tenang-tenangnya. Setelah liburan paska tahun baru selesai, semua orang mulai bekerja. Termasuk juga Pak Pos yang membawa barang kiriman. Menuju lantai tiga, tepatnya kamar bernomorkan 301.
Bel kamar nomor 301 dibunyikan oleh Pak Pos, keluarlah seorang pemuda beralis cabang yang sudah menanti kiriman paketnya dengan wajah bahagia. Kagami menandatangani kertas pengiriman, lalu Pak Pos memberi paket pada Kagami dengan senyuman ramah.
Setelah Pak Pos pergi, Kagami membawa kotak paketnya. Kagami menaruhnya dengan hati-hati di atas meja. Dia membuka lapbam pada kotak tersebut dan membukanya, bagaikan ada cahaya kemilau keluar dari kotak tersebut saat dibuka. Kagami mengambil benda yang sudah dibelinya.
Kagami tersenyum mengagumi benda yang sudah dibelinya untuk kebutuhan sehari-harinya, iya, dia membeli wajan anti lengket dengan harga murah karena menang undian di toko online. Kagami harus berterima kasih pada toko online Sho*py.
Tanpa menunggu lama, langsung saja Kagami ingin mencoba wajan tersebut dengan burger yang sedang dia buat.
.
.
.
.
.
Sementara di depan kamar 302, juga terdapat Pak Pos yang membawa barang kiriman untuk Aomine. Aomine keluar begitu mendengar bunyi bel, dia terkejut karena barang kirimannya sudah sampai. Aomine menandatangani kertas pengiriman dan menerima kotak paketnya. Begitu Pak Pos pergi, Aomine membawa paketnya ke dalam apartementnya yang berantakan bagai kapal pecah itu.
Sama seperti Kagami ketika membuka kotak paketnya dengan lebay, Aomine tercengang melihat barang yang dibelinya tersebut. Barang itu adalah speaker merk sonic gear yang memang sudah lama diincar oleh Aomine. Sebagai pecinta musik idol terutama ų's dari lovelive school idol project, Aomine berniat mencoba speaker itu dengan album favoritnya yaitu snow halation.
Alasan Aomine menyukai idol tersebut sangat sederhana, karena salah satu member tersebut ada yang berdada besar. Yah, kalian pasti tahu siapa itu. Bagi Aomine cewek cantik berdada besar itu suatu keajaiban. Aomine memanglah mesum tapi dia lama-kelamaan malah jadi menyukai semua member ų's~ :v
Aomine langsung menyambungkan speakernya dengan DVD-USB, lalu menyetel DVD yang ingin didengarnya. Aomine memilih lagu dari list album tersebut yang menurutnya paling seru judulnya mermaid festa vol 1.
(Anggap Aomine punya CDnya)
Sebelumnya Aomine menambah volume speaker sampai full, untuk membuktikan sebagus apa bass yang di dapat dari speaker tersebut. Suara iringan gitar langsung berdendang lalu suara ke-9 wanita yang menggelegar hingga keluar ruangan dan menembus ke kamar sebelah.
No, tomenaide anata kara atsuku nare~~~~~
(Disarankan baca sambil dengerin lagunya :v)
Intro lagunya langsung membuat Kagami yang berada di kamar 301 terkejut, tak sengaja menjatuhkan burgernya yang baru matang saat ingin ditaruh ke piring yang sudah berisi racikan sausnya. Kagami nyesek begitu melihat burger yang sudah susah payah dia buat terbuang sia-sia.
Kagami menatap penuh dendam pada tembok, yang dibaliknya adalah kamar tetangganya Aomine yang sekarang lagi joget-joget gak jelas.
Kagami mencoba sabar lalu kembali membuat ulang burgernya, burger yang terjatuh tadi sudah Kagami buang ke tong sampah organik. Sangat disayangkan memang.
.
.
.
.
.
Kemudian waktu terus berjalan dari Kagami yang membersihkan kamarnya, menjemur pakaian, mengerjakan tugas kuliah, sampai makan sore, namun Aomine belum mematikan musik dengan speaker kerasnya.
Beruntung Aida Riko yang tinggal di kamar 303 sedang tidak berada di apartementnya sehingga tak terganggu.
Sekarang sudah jam 12 malam namun lagu dengan speaker keras itu masih berkumandang sehingga Kagami tak bisa tertidur. Matanya terus melek dengan wajah penuh penderitaan, hingga cahaya dari balik tirai jendelanya menyelip menandakan hari sudah pagi. Kagami terbangun dari posisi tidurnya, lalu berdiri dan langsung ngedumel.
"KAU KIRA INI JAM BERAPA, AOMINE?! BERISIK TAHU!" Teriak Kagami dan tentu tak didengar Aomine akibat speaker kerasnya.
Kagami langsung berjalan keluar apartementnya, lalu berdiri di depan apartement Aomine. Kagami langsung mengetuk pintu apartement Aomine dengan keras akibat emosi.
"WOY, AOMINE KELUAR LU!" Teriak Kagami memanggil di pemilik ruangan 302 tersebut.
Setelah itu musik keras yang disetel langsung mati, Aomine perlahan membuka pintu apartementnya.
"Kenapa sih? Jama!" Ucap Aomine begitu membuka pintunya hingga membuat Kagami menjadi semakin kesal.
"Hah?! Yang mengganggu itu kau! Musik kerasmu itu sangat mengganggu aktivitasku tahu~~!" Jawab Kagami bertolak pinggang.
"Itu tidak akan mengganggu jika kau mencoba untuk tidak mempedulikannya~" bacot Aomine menciptakan perempatan amarah di kening Kagami.
"Baiklah, terserah.. sekarang kau matikan musik idol itu, menjijikan tahu~" ucap Kagami yang menghina idol kesukaan Aomine.
"Apa?! Kau baru saja menghina idol favoritku! Kau tidak tahu betapa hebatnya mereka, jangan seenaknya bicara ya!" Ucap Aomine yang menarik kaos Kagami sehingga wajah mereka yang emosi saling berpandangan dengan jarak yang cukup dekat.
"Idolmu itu menjijikan, menari-nari memakai seragam SMA, sangat memalukan.. memang berapa umurmu?" Kagami malah memprovokasi Aomine yang juga mulai kesal, Aomine melepaskan Kagami dengan mendorongnya sehingga Kagami mundur beberapa langkah.
"Masa bodo, aku tidak mau menurut padamu.. memang kau siapa? Seenaknya mengaturku..?" Ucap Aomine yang masuk ke dalam ruangannya.
BRAKK!
"Apaaaa..?! Dia.. bisa-bisanya dia tidak merasa bersalah sama sekali setelah menggangguku dengan musik idolnya itu.." gerutu Kagami yang kembali masuk ke dalam ruangannya.
Begitu masuk ke dalam ruangannya, Kagami membuka lemari alat kebersihannya. Terdapat alat penyedot debu dengan daya sedot yang kuat. Kagami mencolok kabelnya pada stopkontak lalu mengangkat selang penyedot debu itu dan memandang tembok yang menghubungkannya dengan kamar Aomine.
"Kau kira kau bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini, hah? Lihat saja, apa yang bisa kulakukan padamu.." gertak Kagami bicara sambil memandang tembok.
Sementara di balik tembok tersebut terdapat Aomine berdiri dengan penuh dendam, sambil mengangkat speakernya.
"Seenaknya saja kau menghina ų's, sama saja kau menghina malaikatku, Nozomi-chan.. sebagai kesatria pelindungnya tentu saja aku tak bisa memaafkannya! Jika memang begitu, aku bisa membuatmu mendengar nyanyian nozomi-chan hingga kau mengakui betapa manisnya diaaa!" Ucap Aomine membela idolnya.
"RASAKAN PENYEDOT DEBU ULTRA SONIC INI, AOMINEEEE..!" Teriak Kagami yang menekan tombol full pada penyedot debunya sehingga mengeluarkan suara bising angin yang keras.
"INI DIA NYANYIAN SOLO NOZOMI-CHAN, STAR DASH! RASAKAN INI KAU, KAGAAAMIII...!" Teriak Aomine juga memutar volume speakernya hingga high level.
"HYAAAAAAAAAAAAHH..." Teriak mereka berdua seru sendiri.
.
.
.
.
.
Dua jam kemudian..
"Kubilang untuk berhenti Aomine!" Teriak Kagami mencoba menghentikan tetangganya yang keras kepala itu.
"Gak mau! Kalau memang mengganggu, kenapa kau tidak pergi saja?!" Jawaban Aomine jelas membuat Kagami jadi tidak habis pikir, sebenarnya tetangganya ini makhluk macam apa.
Kagami hanya menghela nafas setelah adu gelut yang tak berfaedah bersama Aomine, Kagami yang sudah lelah membiarkan alat penyedot debunya bersender di tembok agar Aomine tidak mengira kalau dia sudah menyerah.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku akan pergi.." gumam Kagami yang mengambil jaket musim dinginnya di gantungan belakang pintu.
Sebenarnya Kagami hanya ingin buang sampah dan jajan di konbini sebentar, lalu nanti kembali lagi. Siapa tahu, saat dia kembali Aomine sudah menyerah. Setelah memakai sepatu Kagami keluar dari apartementnya, dia melewati kamar Aomine dengan memandangnya jengkel.
"Awas saja kau mine-burik!" Kagami ngedumel sambil berjalan.
Kagami berjalan melewati pembuangan sampah dari komplek rumahnya dan melempar sampahnya dengan kencang karena masih kesal dengan Aomine, lalu pergi ke konbini yang tidak jauh dari sana dan membeli 5 kaleng bir juga cemilan. Kagami kemudian melihat jam di tangannya yang menunjukkan angka 11 siang.
.
.
.
.
.
Sementara itu, Kagami tidak menyadari di kediamannya sedang terjadi masalah pada penyedot debunya yang masih menyala.
Instalasi listrik di apartement Kagami berasap, lalu stopkontak di dalam tiba-tiba meledak, sengatan listrik bertegangan yang cukup besar menyamber penyedot debu yang langsung error dan mati. Lalu muncul api kecil yang menyamber di karpet Kagami.
Api itu membesar dan menyamber benda lain yang mudah terbakar. Mesin penyedot debu yang mati mengalihkan perhatian Aomine yang masih ngotot tidak mau mengalah. Aomine tersenyum nista karena merasa menang.
"Dia mematikan mesin penyedot debunya? Ehehe~" gumam Aomine yang bego.
.
.
.
.
.
Kagami kembali ke gedung apartementnya, lalu menaiki tangga hingga lantai tiga. Dia masih mendengar Aomine yang masih menyalakan musik idolnya, tentu saja Kagami kesal karena Aomine masih belum mau mengakui kesalahannya. Langsung saja Kagami menghampiri kamar bernomorkan 302 tersebut dan mengetuknya keras.
"OY, AOMINE KELUAR LU!" Panggil Kagami ngajak gelut lagi.
Aomine keluar sambil ngupil, "Apaan seh? Bukannya lu udah ngalah?" Tanya Aomine.
"Siapa bilang?! Dan lagi, apa kau masih tidak menyadari kesalahanmu? Seandainya ada tetangga yang lainnya, pasti dia akan melakukan apa yang aku lakukan..!" Kagami yang ngomel-ngomel seperti emak-emak.
Aomine masih tetap mengupil dengan tampang songong dia hanya bilang, " Hah..?"
"Hah.. janeeyo!" Kagami memijit kepalanya yang sakit menghadapi tetangganya ini, "Karena hal ini tak ada penyelesaian, aku akan memanggil Imayoshi-san untuk mengatakannya padamu.." Ucap Kagami yang ingin pergi menemui pemilik apartement.
"Apa..?! Kau ingin ngadu?! Tak akan kubiarkan!" Ucap Aomine yang menarik jaket Kagami.
Kagami lalu mendorong wajah Aomine dengan kakinya agar melepaskannya, "Lepaskan, bodoh!"
"GAK!"
"KUBILANG LEPAS, WOY!"
"GAK MAU..!"
Tiba-tiba bau asap terbakar memasuki indra penciuman Aomine dan Kagami. Mereka yang menyadari langsung berhenti ribut.
"Hey Aomine, apa kau meninggalkan masakanmu..?" Tanya Kagami.
"Uuh.. Aku tidak memasak apapun.." jawab Aomine yang juga bingung, "Kalau dipikir-pikir Kagami, bukannya baunya berasal dari kamarmu?" Tanya Aomine yang membuat Kagami seketika berlari dan membuka pintu apartementnya.
Dan betapa terkejutnya mereka berdua, di dalam kamar Kagami ada api yang besar yang sudah menyambar kemana-mana.
"Kita harus mengambil air, cepat Aomine!"
"Baiklah, ini airnya" Aomine memberikan segelas air pada Kagami.
"Bukan bodoh, ini terlalu sedikit, berikan aku seember cepat..!" Aomine hanya diam saja, "..Oy!"
"Kagami, menurutku kita tak akan bisa memadamkannya.. lebih baik kita segera menelpon pemadam kebakaran sekarang..!" Saran Aomine.
"Terlalu lama, rumahku keburu hangus..!" Jawab Kagami ngeyel, lalu malah ingin nekat menerobos masuk ke dalam yang langsung ditahan Aomine dengan memeluk tubuh Kagami dari belakang.
"Jangan Kagami! Itu terlalu berbahaya..!" Ucap Aomine yang berusaha menahan Kagami.
"Lepaskan! Rumahku.. barang-barangku..! Masih di dalam!"
"Tidak akan aku lepaskan, apapun yang terjadi aku akan melindungimu..!"
"Tidakk.. rumahku..!"
"Ada apa ini?!" Tanya seseorang yang ternyata adalah pemilik apartement, Imayoshi Shoichi.
"Imayoshi-san, cepat panggil pemadam kebakaran.. dan katakan pada penghuni lainnya untuk keluar juga, kamar Kagami sudah terbakar! Aku akan menarik Kagami keluar dari sini..!" Jelas Aomine yang langsung dimengerti Imayoshi yang memberitahu penghuni apartement lainnya dan menelpon pemadam kebakaran.
Sedangkan Aomine masih berusaha menarik Kagami yang sudah menangisi rumahnya untuk keluar, "Tidak..! Wajan anti lengket yang baru aku beli..! Barang-barangku.. huwaaaa!"
"Sudah, relakan saja Kagami..!"
.
.
.
.
.
Di depan bangunan apartement sederhana itu, sedang rame dibanjiri massa karena berita kebakaran. Para pemadam berjalan-jalan di sana. Ada juga yang masih menyemprotkan air.
Imayoshi sedang mencoba mendengar penyebab kasus yang terjadi dari salah satu pemadam. Aomine hanya memandang malang tetangganya yang cuma bengong karena syok dengan musibah yang dialaminya.
"Rumahku... sekarang, aku tidak punya tempat tinggal huhu~" Kagami yang menangisi nasibnya yang bakal jadi gelandangan.
Imayoshi menghampiri Kagami yang duduk meringkuk dengan selimut yang dijadikan kerudung. Imayoshi menggaruk kepalanya dengan tersenyum meledek pada Kagami dan Aomine yang menantikan penjelasannya.
"Yah~ penyebabnya ternyata korsleting listik pada instalasi, jadi ini bukan sepenuhnya salah Kagami-kun yang meninggalkan penyedot debunya.." jelas Imayoshi, "Tapi setidaknya, kau beruntung karena berada di luar saat korsleting terjadi-aku tidak bisa bayangkan jika ada mayat di dalamnya~ Ahahahahaha!" Lanjut Imayoshi.
Bisa-bisanya dia tertawa di situasi seperti ini?! Jerit batin Aomine dan Kagami.
"Karena ini salahku sebagai pemilik apartement, aku akan bertanggung jawab.." Imayoshi menyentuh pundak Kagami sebagai penenang, "Sampai kamarmu kembali normal, maka Kagami-kun, kau akan tinggal bersama Aomine.."
"Heh?" Kagami cengo.
"Hah?!" Aomine jawdrop.
"Sementara.. ini hanya sementara, tidak masalah'kan? Kalian kan sesama pria, kalian boleh bayar sewanya setengah harga saja.. oke?" Ucap Imayoshi yang menepuk pundak Kagami lalu Aomine untuk memastikan keputusannya tepat, lalu pergi begitu saja dari mereka.
Aomine menatap ke bawah pada Kagami yang duduk meringkuk, juga sebaliknya lalu mereka saling membuang muka. Mereka tidak menyangka mereka akan tinggal bersama, padahal tidak terlalu saling mengenal. Tentu saja itu awkwar.
Chikuso..! Umpat mereka berbarengan di dalam hati.
.
.
.
.
.
Chapter 3 owatta!
Minna, arigatou yang udah sempet baca fict abal ini.. kuharap kalian tidak bosan akan ke bromance-an AoKaga kali ini... ^^
