Judul : Tetangga Sebelah

Chapter : 4

Genre : Romance, friendship, humor, OOC, parody bromance, dan segala tetekbengeknya.

Disclaimer : Om Fujimaki Tadatoshi

Pairing : NO PAIRING

Rating : T

A/N :

Gatau mau ngomong apa, kyuu lama kan updatenya kan wkwk

.

.

.

.

.

Mandi Bareng Cowok itu...

Pagi yang cerah dengan awan di langit, cahayanya yang menyelip dibalik tirai membuat Aomine terbangun. Dia terduduk lalu menengok ke samping yang terdapat futon dengan Kagami yang tidur membelakanginya. Aomine menatap jam yang menunjukkan pukul delapan pagi.

Dia belum bangun? Bukannya dia ada kelas..

Aomine mengalami dilema antara membangunkan Kagami atau tidak.

Bagaimana jika dia membangunkannya ternyata Kagami tak ada matkul? Bagaimana jika dia tidak membangunkannya ternyata Kagami ada matkul?

Aomine tentu tak ingin mengganggu Kagami yang masih tidur.

Terus bagaimana reaksinya jika dia mencoba membangunkan Kagami?

Aomine tak yakin untuk bereaksi kaget atau pura-pura tidak tahu. Aomine terus-menerus menatap Kagami gelisah seperti gadis SMP yang ingin menyatakan rasa pada pria idamannya.

Jijik sumpah.

Sementara itu yang ditatap sebenarnya sudah bangun dengan mata memerah akibat susah tidur. Kagami yang merasa terus ditatap mulai tidak nyaman akan situasinya yang awkwar sekali. Kagami terus merapal dalam hati agar Aomine berhenti menatapnya.

Vangke, dia ngeliatin gw terus!

Karena hal tersebut membuat Kagami sulit untuk bisa bergerak dari posisinya, mana pantatnya terasa gatal lagi.

Aduh, pantat gw gatel euy~ gimana nih? Apa gw garuk ajha?

Tiba-tiba terlintas sebuah ide yang tidak terlalu cemerlang tapi lumayan efektif dari otak kecil Kagami. Bagaikan hidayah seperti muncul lampu terang di otaknya.

Aha! Mending gw pura-pura baru bangun ajha..

Tuh kan, dibilang idenya biasa saja. Mendingan dari tadi saja langsung bangun. Itulah Kagami, lelaki polos yang cukup ribet. Apalagi masalah perasaan pada doi. Pantas saja doi tidak pernah menyadari perasaannya saking ribetnya Kagami.

Kagami langsung mengubah posisinya menjadi terlentang. Dengan dalih baru bangun, dia pura-pura ngulet. Merenggangkan ototnya yang pegal-pegal.

Melihat pergerakan Kagami, Aomine langsung terbangun dari posisinya lalu duduk di bangku yang di depannya terdapat meja komputer. Aomine menyalakan komputernya lalu menyambungkannya dengan internet pada game yang akan dimainkannya. Perlu diketahui hari ini Aomine libur.

"Oh kau sudah bangun.." ucap Aomine pada Kagami yang ngucek-ngucek matanya untuk mengorek beleknya. Iiiuh~

"Ah iya begitulah, hari ini aku libur sih~" jelas Kagami yang membuat Aomine tidak tenang, kenapa mereka harus libur di saat yang sama?! Padahal Aomine berharap mereka tidak bertemu sampai seharian.

"Ouh, begitu? Baguslah.. aku juga libur hari ini.." tanggap Aomine yang datar melihat komputernya padahal di dalam hati dia ngehujat.

Anjay~ kenapa nih bocah pake libur?! Kan gw jadi ga nyantai di rumah.. aaargh! Jerit batin Aomine.

Sedangkan Kagami,

Apa?! Dia libur juga, mana gw ga ada kerjaan hari ini.. gw gamau ketemu nih kampret seharian! Jerit batin Kagami.

Suasana menjadi awkwar dan hening tiba-tiba, kedua pria itu hanya duduk beberapa meter sok sibuk sendiri. Hanya suara Aomine yang menekan tombol di mousenya saat bermain game. Suasana ini membuat Kagami yang gabut merasa insecure lalu akhirnya dia memutuskan untuk membereskan futonnya.

"Kau tidak mandi?" Tanya Kagami yang baru selesai membereskan futonnya.

"Hah? Saat libur, laki-laki itu tidak perlu mandi. Lagian ga kemana-mana juga.." jelas Aomine tentang pandangan mandi bagi laki-laki jorok sepertinya.

Pantes saja dia ireng.. :) sarkas Kagami dalam hati.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Aomine yang menatap curiga Kagami yang membuang mukanya ke arah lain.

"Ng-nggak kok.." ngeles Kagami lalu dia berdiri dan menyampirkan handuk di pundaknya, "Kalau begitu aku akan mandi dulu.." jelasnya.

"Oh silahkan.."

.

.

.

.

.

"Hah.. menyegarkan, setelah mandi badanku terasa lebih adem~" ucap Kagami yang mengusap rambut basahnya dengan handuk, wajahnya terlihat lebih lega karena sebelumnya dia kegerahan akibat keringat.

Pandangannya melihat pada Aomine yang terlihat masih santai bermain game mobile di komputernya dengan serius, Kagami kemudian melihat sekeliling ruangan yang terkesan tidak terurus akibat barang-barang yang berserakan dan berbagai sampah dari makanan ringan. Nampaknya tetangganya ini tipe yang malas beres-beres, kecuali kalau lagi niat.

"Hey, apa kau tidak pernah membersihkan ruanganmu? Ini sangat kacau.." tanya Kagami masih menggesekkan handuk di lehernya.

"Huh? Di saat libur cowok ga perlu bersih-bersih, karena ini waktunya untuk bersantai~" jelas Aomine sok benar, Kagami hanya memandang sinis Aomine yang mencoba ngeles dengan muka stay coolnya itu.

"Setidaknya kau bisa taruh barangmu di tempat yang teratur..ttaku!" Jelas Kagami yang berjongkok di lantai dan mengambil sampah yang berserakan ke dalam plastik, "Baiklah, aku akan berbaik hati untuk bersih-bersih. Lagipula, aku menumpang di sini, aku akan pakai penyedot debunya ya.." Sebagai orang yang numpang, dengan kebaikan hatinya yang bagai malaikat, Kagami pun meminta izin pada Aomine untuk membersihkan kamarnya.

"Baiklah, lakukan saja sesukamu.." ucap Aomine yang masih terkesan mengabaikan Kagami.

Hari itu pun Kagami pun berakhir membersihkan ruangan Aomine. Selesai meletakan semua barang di tempat teratur dan membuang sampah, Kagami pun memakai penyedot debu untuk membersihkan lantai. Dia berjalan dari ujung ke ujung hingga sampai di kursi dimana Aomine duduk sambil serius menatap game mobile di layar komputer.

"Gomen, permisi.. aku akan membersihkan bagian bawah mejamu.." jelas Kagami yang membuat Aomine berdiri tapi tetap serius memandang ke layar komputer, dan Kagami menyingkirkan kursi roda di sana, dengan kaki Aomine yang melebar karena penyedot debu diarahkan Kagami ke tengahnya.

Setelah selesai, Kagami kembali menaruh kursinya ke tempat semula, "Baiklah, kau bisa duduk lagi.." jelas Kagami lalu Aomine langsung duduk pada kursinya, namun saat dia duduk hero di game mobile yang Aomine mainkan, langsung terbunuh hanya dengan sekali tembak.

You Kill! Jelas suara komputer dari game itu, Aomine melotot karena baru pertama kalinya dia terbunuh.

"Oh sial, aku tidak menyadari tembakannya karena mencoba duduk tadi! Aaaargh! Pangkat MVPku tamat sudah!" Desah frustasi Aomine sambil mengacak-ngacak rambutnya, bagai tersadar dia langsung menatap dendam pada Kagami yang sedang mencabut colokan penyedot debu sambil bersiul-siul, tapi Aomine sadar dia tak bisa menyalahkan Kagami yang sudah berbaik hati membersihkan ruangannya.

Tunggu, itu bukan berarti dia berniat menggangguku.. batin Aomine sadar tentang hal yang bukan salah Kagami.

Aomine akhirnya kembali lanjut di dunia fantasinya bermain game, sedangkan Kagami di kamar mandi menyiapkan ember dan pel-an untuk mengepel lantai. Entah bagaimana Kagami merasakan lantainya sangat berdebu dan lengket, pasti ganguro itu jarang mengepel lantai rumahnya. Tidak salah lagi, dia memang jorok. Dan Kagami sangat tidak cocok di lingkungan yang kotor. Itu membuatnya merasa terganggu dan iritasi.

Kagami mulai mengepel lantai dari ujung ke ujung lalu dia kembali berakhir pada posisi Aomine yang pw sambil fokus dengan gamenya.

"Baiklah, bisa menyingkir lagi? aku akan mengepel bagian bawah mejamu.." jelas Kagami yang hanya diabaikan oleh Aomine yang masih fokus dengan gamenya.

"Oy, aku akan mengepel bagian bawah mejamu.." terang Kagami lagi sambil menggenggam erat tongkat pel-an dengan urat kesal di pelipisnya.

"Aomine, kau dengar yang kukatakan, 'bukan?" Lagi Kagami bertanya dengan aura intimidasi menatap tetangganya yang masih berusaha fokus.

MUKATSUKU!

Hujat Kagami dalam hati lalu dengan gesit dia menarik kursi roda dimana Aomine sedang duduk, Aomine refleks melepaskan mouse juga keyboard dimana dia menggunakannya untuk menggerakan hero di game, Kagami mengepel santai tanpa peduli dengan Aomine yang membatu ketika melihat heronya langsung diserang ramai-ramai oleh musuh dengan mirisnya.

"Aaaaargh...! Stella-chan!" Teriak Aomine memanggil nama hero yang dia gunakan.

"Siapa Stella?" Tanya Kagami tanpa tahu Stella padahal dia mahasiswa jurusan game, tapi tidak tahu apapun tentang game.

Lalu ternyata misinya gagal, dan tim yang Aomine pimpin langsung kalah.

Lose! Ucap suara komputer dari game lagi yang menyatakan tim Aomine telah kalah. Aomine terdiam akibat rasa kecewa atas kekalahan untuk pertama kalinya. Dan itu disebabkan oleh pria yang sedang mengepel lantai.

"Oh, kau kalah.. Ternyata Stella sangat lemah.."

"Haha.. lemah kau bilang? Itu artinya aku yang lemah?" Aomine langsung berdiri dari kursi dan menggenggam erat pundak Kagami, "Dia mati, itu semua gara-gara lo! Sialan lo, Kagami!"

"Hah?! Tunggu kok jadi gw yang disalahin?!"

"Kalau saja lo bersabar pasti Stella-chan masih hidup tau!"

"Bagaimana bisa karakter game hidup?! Apa kau mabuk..?!"

"Hidupkan lagi! Hidupkan Stella-chan kembali!"

"O-oy!"

Begitulah, bagaimana Stella mati dengan mengenaskan (bagi Aomine).

RIP Stella.

.

.

.

.

.

Baiklah setelah pertengkaran itu mereka memutuskan untuk tidak saling mengganggu lagi, sekarang terlihat Kagami yang baru selesai mencuci dan menjemur bajunya di beranda apartement. Setelah selesai, dia kembali masuk ke dalam ruang apartement dan melihat Aomine yang sudah berhenti main game dan sedang melihat-lihat majalah dewasa dengan gravure idol favoritnya Mai-chan sambil tiduran. Sebenarnya dia berhenti main game karena ngambek kalah main tadi.

"Hah~" Kagami merenggangkan tubuhnya yang pegal, "Akhirnya cucian selesai juga, setelah ini tinggal melipat baju dan memasak makan siang.. kau lapar bukan, 'Aomine?" Tanya Kagami pada Aomine yang tidak mau menatapnya dan diam saja.

"Ceeh, masih ngambek ajha.. gaki ka omae..?" Gerutu Kagami memperhatikan Aomine yang bodo amat dikatain bocah, "Ah, baiklah.. sebelum itu, kurasa aku akan mandi dulu.. hari ini cuacanya lembap sekali, aku langsung berkeringat lagi.." jelas Kagami yang kembali menyampir handuk di pundaknya lalu masuk ke dalam bilik kamar mandi, tak berapa lama terdengar suara shower yang dihidupkan.

Selesai mandi Kagami keluar kembali dengan wajah bahagia karena adem, "Hah~ mandi emang paling nikmat setelah bekerja keras~" jelasnya.

Kagami memutuskan untuk memasak makan siang, dengan cekatan dia mengolah bahan makanan yang sudah dia beli di minimarket malam kemarin. Setelah masakannya jadi dia menyiapkan di atas meja dengan Aomine menatap nafsu masakan tersebut.

"Waw suge!" Jelas Aomine yang langsung comot tempura udang dan membuat Kagami kesal.

"Wey! Cuci tangan dulu!" Bentak Kagami pada Aomine yang tidak mendengarkan, Kagami kemudian berdiri dan menyampir handuk lagi di pundaknya.

"Hm?" Aomine dengan mulut penuh berisi makanan menatap heran pada Kagami, "Kau tidak makan?"

"Ah, nanti.. aku mau mandi dulu, badanku jadi gerah setelah lama berada di dekat kompor.." jelas Kagami yang berjalan ke bilik kamar mandi lagi, dan terdengar suara shower. Aomine menatap ke kamar mandi dengan pandangan aneh.

Bukankah dia terlalu sering mandi? Tanya Aomine dalam hati.

Selesai mandi Kagami memakan makan siangnya. Kemudian dia kembali bekerja untuk mencuci piring, melipat baju, membuat dessert, lalu keluar halaman apartement membantu abang Imayoshi membersihkan halaman dan memberi dessert buatannya ke tetangga.

Begitu kembali Kagami mandi karena merasa kegerahan lagi, setelah selesai waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kagami pergi keluar untuk belanja ke super market membeli kebutuhannya, begitu kembali dia mandi lagi karena membeli bubuk aroma terapi untuk berendam di ofuro. Setelah mandi dia memasak makan malam, setelah masak dia mandi lagi. Setelah makan dan perut kenyang, dia mengerjakan tugas kuliahnya, merasa kepalanya harus didinginkan dia mandi lagi. Sehari itu Kagami mandi sampai 7 kali.

Selang 5 hari berlalu, Aomine mulai merasakan sebuah keanehan dari pria bersurai merah marun gradasi hitam itu. Kagami memang sangat rajin mengerjakan pekerjaan rumah seperti ibu-ibu. Ruangan Aomine yang dulu kacau balau dan bau menjadi wangi dan kinclong. Kebersihan yang membuat siapapun nyaman tinggal di dalamnya. Aomine benar-benar berterima kasih tentang itu.

Namun, saat Aomine perhatikan lebih detil setelah bekerja dan berkeringat Kagami sangat suka mandi. Di dalam pikiran Aomine, Kagami nampak seperti berang-berang yang kerjanya mandi tiap hari. Padahal cuaca ga terlalu panas ataupun dingin, keluar sebentar juga tidak akan membuat tubuh kita menjadi terlalu kotor, tapi beda dengan Kagami yang selalu mandi sehabis beraktivitas.

Seperti sekarang, tepat pukul 11 malam setelah Kagami selesai mengerjakan laporannya. Dia berdalih ingin menrefleksikan tubuh di dalam ofuro karena lelah berpikir. Dalam kegelapan di ruang kamarnya Aomine tidak bisa tidur dengan mata memerah, dia mendengar kecipak air dari kamar mandi yang terbuang percuma.

Kalau dipikir-pikir Aomine ingat kalau air memiliki tagihan tersendiri, selama ini dia selalu hemat air karena tagihan air itu lumayan mahal. Apalagi tagihan air panas untuk berendam di ofuro, sebulannya bisa menghabiskan setengah gaji parttimenya, meski dapat kiriman uang dari orangtuanya tentu hal itu tak akan menutupi sebanyak apa biaya hidupnya. Terbangun seperti zombi dari futonnya, Aomine berjalan keluar apartementnya karena penasaran tagihan air yang harus dibayarnya.

Dia berjalan ke samping apartementnya yang terdapat mesin kecil yang menempel di tembok, mesin itu berguna untuk menghitung tagihan per meter kubik air yang telah digunakan. Aomine meskipun memang bodoh dia tahu berapa banyak air yang sudah dihabiskan Kagami, itu pasti tidak sedikit. Dalam sebulan per meter kubik seharga seratus ribu, lalu bayangkan berapa banyak liter yang sudah dipakai Kagami.

Aomine melihat takut-takut angka biaya yang akan ditanggungnya hanya untuk lima hari ini, dengan berani dia membuka matanya yang tertutup. Melihat langsung pada mesin di depannya dengan gagah.

Terlihat di matanya..

10.500.000

GYAAAAA! teriaknya dalam hati akan tingginya biaya air dalam lima hari itu.

Tidak hanya itu angkanya terus meningkat hingga membuatnya ingin pingsan, telingahnya dapat mendengar suara shower dari dalam apartementnya. Dia hanya terdiam di sana lalu kembali ke dalam apartementnya sambil menahan dirinya agar tidak pingsan, dia masuk ke dalam selimut di futonnya dan tidur meringkuk. Tentunya dengan tatapan seperti zombi yang siap menerkam siapapun.

Ceklek!

Pintu bilik kamar mandi terbuka memperlihat Kagami yang dengan wajah leganya setelah mandi, "Ah~ enak banget berendam sebelum tidur, dengan begini aku bisa tidur nyenyak~" jelas Kagami yang memakai pajamanya dan topi tidur yang lucu.

Mendengar suara Kagami, mata Aomine langsung mendelik padanya di balik bantal dengan penuh dendam. Kagami sama sekali tidak menyadarinya dan langsung tertidur pulas.

.

.

.

.

.

Di pagi hari tepat jam setengah delapan, seperti biasa Kagami mandi lebih awal untuk bersiap berangkat ke kampus karena kelas pagi. Dalam keadaan telanjang dia menatap ngeri pada Aomine yang juga telanjang di hadapannya. Kagami kemudian menatap ke bawah dan melihat terong milik Aomine yang lebih besar dari miliknya. Kagami melotot dengan efek lebay.

"Tunggu, apa ini?! Kenapa kau ikut masuk?!" Tanya Kagami panik dalam benaknya dia takut di-apa-apa-in Aomine.

Aomine langsung mengurung Kagami dengan kedua tangan panjangnya hingga membuat Kagami terpojok ke tembok di belakangnya dengan pandangan ngeri, Aomine menatap tajam dengan aura dingin yang menyertainya.

"Kita akan mandi bersama mulai sekarang.." jelas Aomine yang wajahnya hanya berjarak 7 cm.

EEEEEH?! Teriak Kagami dalam hati merasa aneh akan keganjalan ini, wajahnya sampai membiru. Kedua tangannya langsung mendorong wajah Aomine untuk menjauh darinya.

"C..cho...ch..chotto matte! Apa maksudnya mandi bersama?! Kedua pria mandi bersama?! Itu menggelikan tahu!"

"Tentu saja kita harus mandi bersama, ini demi kebaikan kita berdua (untuk tagihan air)!" Bentak Aomine yang menyalakan showernya hingga air mengucur membasahi mereka berdua.

"Ah~ dingin!" Desah Kagami yang kedinginan karena masih pagi.

"Bukankah kau menyukainya? Kau kan suka melakukannya, pasti ini nikmat untukmu! Bahkan, kau melakukannya sampai 7 ronde kemarin.. (maksudnya mandi)" Jelas Aomine yang memperkuat kucuran air dari showernya.

"Hey, tunggu dulu.. meski aku suka, melakukannya bersama cowok itu mustahil! Melakukannya di depan orang lain, ga ada nikmatnya wey!" Jelas Kagami menolak Aomine (hanya tentang mandi).

"Sudah nikmati saja!"

"Tidak!"

Kagami bersikeras menolak, hingga menggeser bilik kamar mandi dan memakai handuk di pinggangnya. Aomine tidak tinggal diam dan berusaha menangkap Kagami, mengetahui itu Kagami langsung keluar dari kamar mandi. Aomine memakai handuk di pinggangnya juga dan mengejar Kagami yang mulai membuka pintu apartement untuk kabur.

"Hey, tunggu kampret! Mau kemana Lu?" Aomine mencegah Kagami yang hampir kabur, dia menarik lengan Kagami lalu dengan kuat pria ganguro itu memeluk tubuh Kagami dari belakang dan menarik paksa Kagami untuk masuk ke dalam apartementnya.

Begitupula dengan Kagami yang masih memberontak untuk melepaskan diri dari genggaman Aomine, "Lepaskan! Kau mulai menakutkan, aku melakukannya bukan karena aku suka! (Ini masih tentang mandi)" Teriak Kagami.

"Apa?! Kau kira itu solusi yang tepat di saat ini? Setelah kau begitu banyak memerasku?! (Untuk tagihan air)"

"Hah? Apanya yang diperas?! Tetap saja itu tidak adil untukku..! Lepaskan aku, Aomine!"

"Nggak! Apanya yang tidak adil?! Aku sudah bersabar sampai sekarang, seharusnya melihat bananaku itu sudah menjadi pandangan yang normal untukmu!"

"Memang sudah biasa, tapi tetap saja melihat banana oranglain saat mandi itu menggelikan, ahomine! Lepaskan aku, teme!"

Sementara mereka bertengkar di depan apartement hanya dengan menggunakan handuk, tanpa mereka sadari di samping mereka terdapat pria bersurai pirang emas yang terhenti saat menuju tangga apartement. Tentunya itu akibat Kagami dan Aomine yang bertengkar dan menghalangi jalan.

Pria itu adalah Nash Gold Jr, seorang bule amerika yang merantau ke jepang untuk menjadi karyawan di suatu perusahaan iklan ternama. Matanya melihat Aomine yang tengah memeluk Kagami dan mendengar pertengkaran mereka soal banana yang mereka miliki di balik handuk di pinggang mereka.

Entah apa yang terjadi tapi itu menimbulkan pertanyaan ambigay di otak Nash. Di tambah dia melihat kedua pemuda itu berpelukan di depan apartement. Saat ini otaknya sedang ngebleng dan di pandangannya sekarang terlihat seperti ini..

-Pandangan Nash

Aomine dan Kagami sedang berpelukan mesra seperti sepasang kekasih yang tengah dimadu cinta terlarang.

Aomine : Kagami, jangan pergi! Aku janji akan melakukannya dengan gentle..

Kagami : Tidak, kau selalu saja memaksaku melakukan hal seperti ini.. padahal ini masih pagi..

Aomine : Maafkan aku, melihatmu membuatku tak bisa menahan bananaku..

Kagami : Bananamu sungguh egois, apa kau pernah memikirkan bananaku?

End..

Begitulah yang dipikirkan Nash mengenai kedua pemuda di depannya. Pria pirang emas itu hanya bisa terdiam membatu di depan AoKaga sampai kedua pemuda tersebut sadar mereka menghalangi Nash. Kedua pemuda itu juga terdiam dengan wajah polos mereka menatap Nash yang memandang aneh mereka.

"Oh, suimasen.." jelas Aomine melepaskan Kagami.

"G-good morning, mister.." sapa Kagami begitu melihat Nash, "Maaf menghalangi jalanmu, douzo.." Kagami minggir lalu mempersilakan Nash untuk lewat, tapi mendapat respon yang cukup aneh.

Nash melambaikan tangannya sebagai tanda tak jadi lalu dia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sambil berdecak frustasi, dia menarik nafas dan membuangnya. Dia tersenyum lembut di hadapan Aomine dan Kagami dengan aura kebaikan.

"Kalau dipikir-pikir sepertinya tidak jadi, maaf mengganggu kalian bermesraan.." jelasnya yang berbalik.

"Eh?!" Kagami dan Aomine terkejut mendengar ucapan Nash yang bilang mereka sedang bermesraan, Nash kemudian berjalan ke apartementnya yang bernomor 304 dan memutar kenopnya.

"Kalian bisa lanjutkan lagi, tenang saja, Saya tidak akan beritahu siapapun.. see you!" Jelasnya yang langsung masuk ke apartementnya lalu terdengar bunyi kunci yang diputar.

Aomine dan Kagami terdiam dan membatu bersama sambil memandang pintu apartement Nash.

"Naa, Aomine.. apa kau berpikir sepertinya dia salah paham tentang hubungan kita?"

"Hm.. Aku juga merasa begitu.."

Chikuso! Mereka mengumpat bersamaan dalam hati.

Setelah itu, akhirnya mereka berdiskusi tentang tagihan air sebelum lanjut mandi. Kagami menatap cek tagihan air di tangannya sambil mengangguk-ngangguk akan ocehan Aomine. Kagami mulai mengerti penyebab Aomine jadi aneh dan ingin mandi bersama tadi.

Penyebabnya karena tagihan air yang besar sebab Kagami yang boros air. Aomine juga akhirnya mengerti bahwa Kagami memang biasa mandi 5-7 kali sehari, dan rela membayar mahal untuk hobi mandinya. Kagami kemudian bertanggung jawab untuk tagihan air, dia berkata bahwa dia yang akan membayar 80% dari tagihan air.

.

.

.

.

.

TBC yeay~ akhirnya Kyuu update wkwk.. padahal mau sering update, tpi apa daya klo udah WB gituu~ :')

Btw, masih ada omake..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake

Di malam suntuk di dalam sebuah bar terdapat pria pirang emas tengah galau sendirian dengan seorang bartender cantik dan bohay yang menemaninya, tepat sekali di seberang meja patri tempatnya duduk.

"Nash, kau kelihatan lesu sekali.. C'mon guys, cerialah~ If you want, you can tell me, right? Work problem?" ucap wanita pirang di hadapannya dengan bahasa inggris.

"Alex, sepertinya aku berpikir untuk pindah ke Hokkaido dan bekerja menangkap kepiting.." jelas Nash yang menunduk lesu di meja patri dan berniat mengganti profesinya yang sudah cukup tinggi.

"Eh? Nande?" Tanya Alex yang penuh pertanyaan pada pria di depannya.