Naruto milik MK
Setting Konoha AU
--
"Zehahahahaha!"
Tawa jahat menggema ke semua penjuru, memancing ketakutan pada orang yang terintimidasi olehnya. Seseorang.
Terlihat di langit. Seorang pria berambut oranye gelap, memakai jubah hitam melayang di udara seolah garvitasi tidak berpengaruh padanya.
Dia adalah Pain ketua dari organisasi Akatsuki. Orang yang di gadang-gadang adalah musuh terakhir Naruto Uzumaki.
"Apa? Apa yang terjadi?"
Sementara terlihat penduduk Konoha ketakutan melihat bangunan-bangunan di sekitarnya mulai runtuh satu persatu. Kekuatan dari Pain membuat perlahan daratan Konoha berubah menjadi sebuah hamparan tanah kosong.
"AAAA!!"
Teriakan itu menggema lalu perlahan menghilang mengikuti suara benturan kekuatan Pain dengan tanah.
"Hm."
Pria di langit itu berwajah datar.
Dia terus nengawasi sampai Konoha benar-benar menjadi hamparan tanah kosong.
"ZEHAHAHA!"
Tawa jahat itu menandai akhir dari Konoha.
Meskipun, situasi mencekam itu berubah drastis setelah teriakannya;
"Mampus kalian bangsat!"
"... "
Hening.
Para penduduk muncul keluar dari tanah.
Mereka hanya melongo setelah mendengar perkataan Pain.
"Cut! Yahiko, jangan bawa dendam pribadimu saat syuting. Sialan!"
"Maaf maaf pak. Ayo kita ulangi."
--
"Bwahaha!"
"Diam Itachi! Kau tidak tahu seberapa kesal aku saat itu!"
"Hm. Kau tahu, karena kata-katamu yang salah, skenariomu setelah itu adalah mati di tangan si Naruto."
"Pfft.. Mungkin si sutradara kesal karena kau mengulangi kesalahan kata-kata itu hampir 10 kali."
"Bwahahaha!"
Namaku Itachi, seorang pemuda biasa atau bisa di bilang seorang biasa yang kebetulan memiliki bakat akting di film aksi.
Aku tidak tahu saat itu, tiba-tiba saat aku dan teman-temanku sedang berkumpul biasa di pinggir jalan seorang bilang pada kami, menawarkan kami untuk menjadi artis.
Ya aku orangnya cuek tidak peduli dengan tawaran dia saat itu. Tapi, Yahiko temanku itu sangat antusias mendengarnya dan memaksa kami untuk ikut serta.
Meski, aku sekarang tidak menyesalinya. Karena sekarang semuanya terbukti, bahwa semangat seorang teman itu membuahkan hasil yang bagus. Hm, mungkin aku salah mengambil pengibaratan. Terserahlah.
Sekedar info, film yang kulakoni adlalah film lanjutan Naruto yaitu Naruto Shipudden.
Ya meskipun film Naruto Shipudden itu sudah lama berakhir. Bagianku juga sudah beres.
Di film aku mempunyai organisasi bernama akatsuki. Anggotanya sendiri terdiri dari, Yahiko,Nagato,Konan,Tobi,Kisame,Deidara,Saosir eh maaf, Sasori, Hidan,Kakuzu, dan Aku sang pangeran tampan salah satunya.
"Yahiko, cepat makan bagianmu. Martabak itu mulai dingin."
"Ah iya, Konan-chan."
Saat ini adalah masa kami sudah pensiun. Segala bentuk akting yang harus kami lakukan di film sudah berakhir.
Di film satu persatu anggota Akatsuki mati. Kematian itu bagi kami hanya sebuah pemberhentian paksa karena kami selalu mengacau dialog.
Dan yang mengacau paling membuat berkesan adalah si Yahiko.
"Alasanku sebenarnya bukan itu Itachi."
"Oh ya? Lalu apa alasanmu?"
Yahiko kulihat melirik Konan dari sudut matanya. Mengeraskan giginya dia lalu berkata;
"Aku lihat bagian Konan setelah aku melawan Naruto. Di bagian itu Konan memberikan bunga pada si Naruto kampret itu. Itulah sebabnya aku tebawa emosi."
Pantas saja saat itu sutradara bilang 'jangan bawa masalah pribadimu' kurasa Yahiko sudah protes pada sutradara sebelumnya juga.
"Hanya karena itu kau cemburu? Lagipula kau dan Konan belum ada hubungan apapun bukan?"
Sasori, dia yang berkata itu. Kurasa benar juga, Yahiko dan Konan itu belum ada hubungan, Nagato juga kelihatannya lebih dekat dengan Konan. Amarah Yahiko saat itu benar-benar tidak jelas.
"Apa? Ada apa denganku?"
Konan yang baru saja dari dapur membereskan piring-piring bekas makan kami kembali dengan memasang muka bingung mendengar namanya di sebut.
Di belakangnya Nagato menyusul berjalan mendekati kami.
"Tidak ada apa-apa Konan."
Yahiko menjawab dengan cengiran yang menampilkan giginya. Panggilannya pada Konan berubah dari pertama tadi, mana akhiran -chan yang dia berikan?
"Dimana Kakuzu dan Deidara?"
"Ah? Kedua orang itu?"
Aku melihat sekeliling dan tidak menemukan kedua orang yang di maksud.
"Belanja sepertinya."
"Belanja lagi?"
Yahiko melihatku dengan tatapan tidak percaya.
Aku hanya mengangguk santai menjawab tanggapan dengan muka syok dari Yahiko itu.
Hal yang biasa jika seorang Kakuzu menghilang dari jarak pandang kami. Alasan dia hilang pasti selalu ada hubungannya dengan uang.
Biasanya Kakuzu tidak suka menghabiskan uang dengan sering belanja seperti ini dulu. Tapi semenjak harga salah satu bahan pokok menjadi sangat murah, dia dengan inisiatif mengambil tindakan untuk membeli banyak salah satu bahan pokok itu, aku pikir dia mengincar situasi saat pasar kehabisan stok bahan pokok itu dan Kakuzu memanfaatkannya untuk menjual stok bahan yang dia kumpulkan dengan harga tinggi setelahnya.
Memang, keuntungan selalu utama bagi dia.
Setelah itu kebetulan Kakuzu datang dengan membawa satu karung yang isinya sudah bisa kutebak.
"Kakuzu?"
Hidan, entah dari mana munculnya tiba-tiba dia sudah duduk di sampingku sambil mencomot martabak bagianku yang sengaja aku simpan untuk nanti.
Dia dengan handuk di pundaknya bertanya pada Kakuzu.
"Darimana saja kau?"
"Itu makananku sialan!"
Walau aku berteriak di sampingnya, Hidan tetap santai melahap martabakku. Dasar sialan.
"Kau tidak perlu tahu urusanku. Hanya aku,uang dan Tuhan yang tahu."
Mengapa kalau soal uang Kakuzu jadi religius?
"Oh iya ngomong-ngomong, tadi ada Tsunade menitip pesan untuk kita semua. Hm, mungkin lebih tepat sebuah tawaran."
"Tsunade? Apa katanya?"
Tsunade adalah rekan kami saat syuting di film. Dia dulu membantu kami mengurus segalanya tentang menjadi artis, itu juga karena dia kasihan pada kami. Tepatnya saat melihat wajah Kisame dia jadi kasihan.
Aku penasaran dengan apa yang di sampaikan nya. Mungkin job baru?
"Dia menawarkan kita untuk masuk sekolah yang dia kelola. Sebuah sekolah seni."
Hah.. Latar pertama sudah keren, tapi kenapa ujung-ujungnya tentang sekolah lagi? Apa tidak ada ide lain!
(Terserah gua lah.)
Njir di jawab author.
"Kalian tahu? Aku tertarik masuk sekolah ini. Kita juga tidak ada pekerjaan juga kan? Jadi ayo masuk saja ke sana, siapa tahu masa depan kita akan jadi lebih baik. Bagaimana Yahiko?"
Ah.. Aku curiga kalau semua ini ada hubungannya dengan uang jika Kakuzu berubah bijak seperti ini.
"Tentu saja kita ikut!"
"Hey! Memangnya aku sudah setuju?"
Aku tentunya menolak. Maksudku, kenapa tiba-tiba? Meski, aku bukannya tidak mau. Tapi, aku hanya tidak rela melepaskan kehidupan malas-malasanku dengan berbaring di rumah sepanjang hari.
Lagipula, apa mereka tidak curiga dengan semua ini? Ada angin apa Tsunade tiba-tiba menawari kita masuk sekolah seni?
"Hanya kau yang tidak setuju di sini Itachi."
Hidan di sampingku menatap atap setelah mengucapkan itu.
"Mungkin ini adalah takdir dari Jashin-sama"
Siapa yang peduli dengan takdir yang diatur si jashin? Dan apa maksudmu dengan hanya aku yang tidak setuju?
Kupikir setidaknya aku yakin masih ada orang waras di sini yang sependapat denganku. Inilah perbedaan aku denganmu Hidan.
"Aku juga setuju."
Konan? Kau juga? Kupikir selama ini kita.. Hiks...
"Aku juga."
Sasori? Bukankah kau teman bermainku? Kau lupa dulu aku selalu meminjamu figuran power ranger? Dasar pengkhianat.
"Aku juga senpai!"
Tobi? Muncul dari mana dia? Kenapa semua orang tidak ada yang waras sepertiku?
"Aku juga."
Nagato? Bahkan kau? Orang yang bijak dan selalu tenang? Hah.. Dunia sudah berubah.
"Aku juga un."
Dei-chan?
Tunggu? Apa aku baru saja memanggil Deidara dengan sebutan yang manis?
Ah sudahlah. Jika semuanya juga setuju.
"Baiklah aku ikut."
Mulai sekarang fic ini akan berlanjut.
"Aku setuju!"
"Berisik Kisame. Semua orang sudah pergi."
"Sialan!"
