Oi. Kembali lagi denganku, Uciha Itachi. Saat ini aku dan teman-temanku sedang menuju sekolah yang sebelumnya di rekomendasikan oleh Tsunade, dengan berjalan kaki tentunya.
"HAH... Sialan. Apa kalian tidak malu seperti ini? berjalan berkelompok dengan memakai seragam? Ya memang umum juga sepertinya. Tapi tetap saja aku tidak terima!"
Hidan mewakili hati dari sebagian orang di sini berteriak seperti itu pada Kakuzu. Aku mungkin salah satu dari sebagian itu.
Yang dimaksud malah dengan santainya berjalan di paling depan sambil memasukan tangannya ke saku pakaiannya. Itu tidak terlihat keren jika Kakuzu yang memperagakannya, jika kau tanya pendapatku.
Hidan kembali melanjutkan;
"Juga. Kenapa kalian menurut saja saat dia bilang kita harus jalan kaki? SEBEGITU MISKINNYA DIRI KALIAN HAH?!"
Tunggu, kenapa jadi kami yang salah? Aku kan ada di pihakmu sialan.
"Woy, jangan berisik kau sesat. Aku tahu perasaanmu tapi kau ingat bukan? Kelompok kita memiliki aturan bahwa kita harus menjungjung tinggi solidaritas. Jadi, berdasarkan logikanya dengan adanya aturan itu bisa dibilang kita hanya menjalankan kewajiban saja, ya kurang lebih begitu. Atau tidak ya?"
Dasar plinplan kau Yahiko. Lagipula kau kan ketuanya kenapa kau meragukan aturan yang kau buat sendiri?
"Di mana Sasori dan Deidara? Kau tahu ke mana mereka Itachi?"
Konan berbisik padaku di tengah perdebatan Yahiko dan Hidan.
"Mereka mati sepertinya."
Hey, kalian tidak usah mempermasalahkan jawabanku ya. Aku hanya menjawab berdasarkan apa yang terlintas di otak ku saja, Oke?
"Nagato juga tidak ada. Sepertinya mereka tertinggal atau semacamnya."
Kisame menambahkan.
"Kalian ini. Menjawab seadanya saja begitu, apa kalian tidak khawatir pada mereka? "
Ah. Syukurlah di kelompok kami ada dewi sepertimu Konan. Kau pasti juga akan mengkhawatirkanku jika ku dalam masalah bukan? Senangnya! Dihawatirkan gadis manis seperti itu membuatku meleleh.
Ngomong-ngomong, tidak biasanya Kisame muncul di awal-awal seperti ini? Ya meskipun di chapter kemarin dia sedikit muncul di flashback, yang dia ditendang Tsunade kau tahu.
"Mereka tadi duluan naik bis."
Hah? HAH?!
"Woy Kuz! Yahiko juga! Kalian bilang kita semua harus jalan kaki. Kenapa mereka boleh naik bis duluan?"
Tahu seperti itu aku naik bis saja dari tadi sialan!
"Bacot kau Itachi. Bukanya sudah jelas bukan? Berarti mereka itu sekarang adalah musuh kita."
Hm. Begitu ya? Benar juga yang kau bilang Kuz.
"Dan juga jangan memanggilku Kuz sialan!"
"Aku tidak menambahkan sialan di panggilanmu!"
Aku tidak sekasar Hidan kau tahu.
"Itu kata-kataku sialan! Maksudku jangan memanggilku Kuz!"
Apa salahnya? Bukankah itu sedikit manis?
Eh? TIDAK-TIDAK! Kesalahan fatal! Kakuzu mempunyai hal yang manis?!
ARRRGGHH! Mengapa panggilan Kuz terasa pas untuk namanya?! SANGAT MENJIJIKAN! TAPI PAS UNTUK NAMANYA!
"Wah! Panggilannya keren! Kuz-senpai!"
"Jangan ikut-ikutan Tobi!"
"Kakuzu memliki sesuatu yang keren? Hah? Apa dunia dijadwalkan berakhir hari ini?"
Itu sedikir kasar Yahiko. Ya, meskipun aku setuju denganmu.
"KAKUZU TIDAK AKAN PERNAH PUNYA SESUATU YANG KEREN! JASHIN MENGUTUKMU!"
"WOY! LELUCONMU SUDAH BASI HIDAN! AKU KEREN ATAU TIDAK PUN TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN JASHINMU ITU!"
"DIAM! KAU ITU SEENAKNYA! KAU MASIH MENGANGGAP DIRIMU KEREN?"
"HEH? MAU JATAH JAJANMU BERKURANG?"
"SIALAN KAU! MENTANG-MENTANG YANG MEGANG DUIT. MENENTUKAN KEPUTUSAN SEMBARANGAN!"
"BARU PULANG DI MARAHIN. NGAJAK BERANTEM?"
Woy. Kenapa jadi dialog permen loli.
"Sudahlah kalian ini."
Perjalanan kami terasa cepat karena perdebatan itu selalu terulang. Tanpa sadar kami sudah sampai di tujuan, atau tidak?
"Di mana sekolahnya Kuz?"
"Mana ku tahu."
"HAH? YANG MEMEGANG KERTAS ALAMATNYA KAU BUKAN?"
"Hah? Hm.. Tadi pagi saatku bangun. Sekilas di mata seseorang dengan rambut merah keluar dari kamarku, dia sepertinya membawa kertas itu. Ya, sepertinya."
"SASORI KAMPRET!"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi Kuz!"
"Berhenti memanggilku Kuz, Itachi!"
Aku juga tidak mau memanggilmu dengan sebutan itu. Tapi, bibirku seperti bergerak sendiri. Sialan.
"Kau punya nomer Tsunade Kakuzu?"
Konan si dewi mengabaikan atmosfer di sekitarnya dan dengan lembut berkata seperti itu. Bersyukurlah kau Kuz.
"Ada."
"Kenapa kau tidak menelponnya bodoh."
"Sudah."
Sudah? Tunggu. Kau tidak berubah seperti tobi bukan Kuz? Kenapa dari tadi yang kudengar adalah fakta kau tahu tapi pura-pura tidak tahu? Kau mau ku pukul?
"Bercanda. Kita sudah sampai bodoh."
"Sampai? Jadi sekolahnya itu padang rumput ini?"
"Maksudnya. Kita sudah sampai di pemberhentian kita yang ketiga. Masih jauh di depan jika kau ingin tahu tepatnya sekolah itu berada. Tepat setelah pemberhentian keenam dengan jarak seperti ini."
Dan kau mengajak kami jalan kaki?
"SIALAN KAU KIKIR!"
"Sudah. Jangan buang waktu. Upacara pembukaan dimulai 30 menit lagi."
Hah.. Yang bisa kami lakukan hanya pasrah setelahnya. Tentu saja, setelah kami berjalan setengah jalan seperti ini, tidak ada alasan untuk kembali. Terpaksa melawan rasa lelah kami terus berjalan.
Kritik dan kritik silahkan.
