(Moon)

Doctor Trent's Point of View

*

A Harvest Moon MFoMT one-shot fict

Protagonist Claire dan Doctor Trent yang gumush ini bukan milik saya, saya hanya punya ide cerita nya. Kalo saya pemilik Natsume, saya bakal bikin route Doctor Trent ada spesial event pergi ke kota bareng Claire

/ditabok

*

Didedikasikan untuk mastah Thornberriess yang (mungkin) udah bosen nungguin karya ini di aplod sejak tahun lalu. Maapekun diriku yang susah dapetin ide cerita /sungkem

*

Warning :

Too much OOC-ness, tembok keempat /?/ yang dengan amat mubazir nya diterabas pake bulldozer dengan tidak elitnya, bahasa gado-gado sesuka hati, PwP (plot? What plot?), banyak bertaburan typo bumbu penyedap rasa, dll.

/kek ganiat amat bikinnya

/ditabok

*

RnR, please? OwO

*

"Dear,"

"No,"

"Dear, look at me. Please?"

"No,"

"Dear. Please..."

"Don't call me 'Dear'." Gadisnya memalingkan muka, tangannya disilangkan tanda merajuk. Enggan turun dari kasur sambil membentengi diri dengan selimut yang membungkus seperti kepompong dan guling dipelukan. Sudah dua boneka plushie Llama berbulu putih bersih yang diberikan olehnya sebagai tanda damai menjadi korban lemparan maut gadisnya itu. Kedua benda fluffy itu kini tergeletak tak berdaya di lantai dekat dinding disebelah pintu kamar. Rasa-rasanya gadisnya itu sudah macam induk singa garang saat ini, gerakannya tak bisa diprediksikan saat merajuk.

Trent sungguh tidak paham situasinya saat ini. Maksudnya, ia bahkan baru saja pulang dari bertugas di klinik samping Minimarket Jeff Co. dan Gereja bersejarah Father Carter (kehadirannya sangat dinantikan oleh warga desa kecil ini setelah seminggu vacuum karena pernikahannya), masih lengkap dengan stethoscope di kepala dan jas Snelli yang terlipat asal-asalan di tangan kanan. Dan ketika ia masuk ke dalam rumah, ia sudah disambut dengan aura suram nan berat yang berasal dari kamarnya (dan Claire, tentu saja). Ucapan salam dan 'I'm home' darinya pun tidak terjawab, sungguh ganjil. Begitu ia membuka pintu kamarnya, surprise madafaka, ada sebongkah selimut biru muda yang diam tak bergerak di tengah-tengah kasur, menandakan bahwasanya gadis yang telah memberikannya izin pamit 7 jam yang lalu sedang bersembunyi didalamnya.

"Darling? Aku sudah kembali. Are you alright?" Trent berjalan menghampiri, berusaha memahami situasi apa yang sedang ia hadapi saat ini.

"No," singkat, padat, tak berbasa-basi. Straight, to the point.

Bolehkah ia menyesal sudah pergi bertugas ke klinik tadi?

"Darling? Is there anything you want to say? Or something had happened before i came back?" bertanya disaat seperti ini sejujurnya sangat memberatkan. Karena jawaban yang akan ia dapatkan pasti 100% serupa dengan jawaban sebelumnya.

"No." Kali ini suaranya lebih berat, seperti menahan sesuatu.

Doctor Trent, lulusan akademi kedokteran ternama di kota, pemilik klinik di Mineral Town, penerima beberapa penghargaan bergengsi, ikon husbu dokter pertama di game Harvest Moon MFoMT garapan Natsume, dan kini, seorang suami dari seorang gadis pujaannya yang mengelola perkebunan sekaligus peternakan paling luas di desa, kini dilanda kekhawatiran tak berujung. Alasannya? Galau karena sang istri mendadak kelakuannya mirip seperti NPC yang kena glitch.

"I'm sorry, my Dear.." kembali lagi seorang Doctor 'I'm Sorry' Trent, berusaha memeluk gadisnya yang entah mengapa tidak seperti biasanya sore itu.

Sumpah, tadi pagi sebelum ia berangkat kerja, gadisnya masih dalam keadaan segar bugar, cerah ceria, bersinar bak mentari di dunia Tabi. Sudah siap dengan aktivitas hariannya sebagai petani satu-satunya di desa. Dan tahu-tahu ketika ia pulang, malah disuguhi dengan sosok Kegare beraura gelap yang mengambil wujud gadis bersurai pirang bermanik safir yang seratus persen mirip seperti gadisnya itu.

Dirinya salah masuk rumah atau bagaimana ini sebenarnya? Keluh Trent putus asa dalam hati (karena kalau diucapkan, mungkin sebuah kapak Mythril akan meluncur menuju lehernya dalam sepersekian detik).

"Don't. Just don't come closer."

Duh, andai mesin waktu benar adanya, maka dengan segenap kerendahan hati, ia meminta untuk meminjamnya sebentar untuk kembali ke 7 jam yang lalu dan mencegah dirinya di waktu itu untuk tidak pergi, karena apa yang kini ia hadapi bukanlah sesuatu yang sering ia hadapi.

Yep, that's right. Gadisnya sedang merajuk.

Lalu apa yang dapat mencerahkan suasana hati gadisnya?

Sial baginya di Internet tidak ada walkthrough untuk menghadapi protagonist MFoMT yang sedang merajuk. (Jelas, karena karakter yang memegang kontrol si protagonist berbeda-beda. Dan, ayolah, kenapa fict ini keseringan membobol 4th wall, sih?!)

Ting!

Ada bunyi microwave di kepala Trent.

"Aku akan membawakan Omanjuu Loki kesukaanmu," ide bagus, wahai otak jenius peraih IPK summa cum laude. Gadisnya itu sedang bucin film garapan Marvel studios. Ia segera menuju ruang tv, mengambil bantal karakter favorit gadisnya itu. Cara ini seharusnya selalu berhasil, Trent meyakinkan dirinya sendiri. Senyum lebar tersungging di bibir tipisnya.

Well, mari ia ulangi kalimatnya. Seharusnya selalu berhasil. That's right.

Bantal karakter itu sedetik kemudian melayang melewati kepalanya dengan kecepatan tinggi. Menghantam tembok dibelakangnya dan jatuh membentur lantai dengan bunyi 'bukk' pelan.

Yep. Gagal total. Tanda damai yang sudah di abadikan dalam perjanjian mereka tak lagi berfungsi. Oh, help me, please.. Ia meringis dalam hati.

"Doctor."

Ia tersadar dari monolog, yang ia sadari bahwa gadisnya itu sekarang bahkan mengeluarkan suara 'hisssss' kecil. Cute, pikir Trent, berusaha untuk tidak salah fokus.

"Okay, okay. No 'Dear'." Dirinya mengalah, berusaha menahan tawanya karena kelakuan childish gadisnya, mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Then what should i call you? My Queen? My Lady?" candanya ringan, menjawil lengan gadisnya yang terbuka.

Cemberut, gadisnya melempar guling kearahnya. Trent dengan cepat menghindar refleks.

"Am i look like a Queen for you?"

Ia mengendikkan bahunya, (sekedar info, ia sudah berhasil duduk disebelah kepompong selimut yang gadisnya itu berada di dalamnya) seolah baru saja mendengar sebuah pertanyaan retoris. "Well, in my eyes, you're always be a Queen for me--OW!" Trent terlonjak begitu pinggangnya tiba-tiba dicubit oleh sebuah tangan mungil milik gadisnya. Wow, tampaknya ia dalam bahaya, gadisnya mulai menggunakan tenaga untuk mencubit pinggangnya.

Ia menoleh ingin melihat ekspresi gadisnya itu, dan malah mendapati sebuah pemandangan super menggemaskan. Wajah gadisnya merah seperti tomat, pipi tembamnya menggelembung lucu. O dear, bagaimana ia bisa melewati pemandangan super langka seperti ini?

"Don't flirt with me, Doctor."

"Eheheh.. Did i?" dirinya kontan mendapatkan lemparan tatapan tajam, "Okay, okay, i did it. But, wait, i'm telling the truth!" ia tertawa ringan, menghindari tangan mungil sang gadis yang meluncur hendak mencubit pinggangnya lagi. For the first time, dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, dia akan menghindari cubitan dari gadis yang telah mendapatkan seluruh hatinya ini, untuk kedepannya. Tidak masalah jika cubitan itu pelan dan terasa menggelitik seperti sebelum-sebelumnya. Tapi, sekarang gadisnya itu memakai kekuatan penuh untuk mencubit pinggangnya! Walaupun ia berbadan oh-so-perfect, jikalau mendapat serangan dengan tenaga seperti itu, bisa-bisa pinggang atletisnya ngilu seharian, tahu!

Gadisnya tak berhenti begitu saja, ia menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan melompat kearah Trent untuk menyerang titik lemah pria tersebut.

"Jangan menghindar, Doctor!"

Ia sigap berdiri, menghindari gerakan gesit sepasang tangan mungil yang siap mencubit pinggang berharganya kapan saja. "Dan aku berharap dirimu tenang terlebih dahulu sebelum aku diam tak menghindar, Darling~" katanya dengan nada menggoda.

Pemilik orbs secerah langit siang hari itu langsung terdiam di pinggir kasur, kepalanya tertunduk menatap selimut (yang sudah menyusul nasib bantal karakter dan dua boneka plushie Llama), terulur dari kasur ke dinginnya lantai. Helai pirang rambut jagungnya jatuh menutupi wajah.

Trent ikut terdiam, dalam hati segera berdoa tanpa henti agar gadisnya itu tidak menangis. Ia sangat tidak menyarankan dirinya untuk melihat air mata seorang gadis. Well, bagaimanapun juga, ia dididik sebagai seorang gentleman, mana mungkin membiarkan seorang gadis (terlebih lagi, gadis yang sudah resmi mempatenkan kehormatan rute Doctor Trent-nya itu dengan sehelai Blue Feather) menangis karenanya. "My Dear?"

"Alright. I'll tell you," wajah gadisnya terangkat, iris kristal sapphire itu berkilat tajam, menatap jauh kedalam matanya. Suaranya tidak lagi nyaring, dan ini tanda pertama bahwa seorang Doctor Trent bin Natsume bin Nintendo dalam bahaya.

"My tummy is a bit sore. Bisakah kau membelikan aku pad? Aku baru saja datang bulan.."

Sore hari yang indah, Mineral Town, dengan segala ke-aesthetic-an nya, mulai dipayungi oleh lembayung senja. Dan seorang Doctor Trent kini memahami bahwa wanita bisa sangat sulit dipahami ketika sedang datang bulan. Sepertinya, Suster Elli perlu mengajarkannya kembali tips-tips menghadapi wanita yang sedang dalam fasenya.

End.

*

A/N :

WOY SUMPAH INI SAYA NULIS APAAN SIH?!

/banting hape

Iyak, kalo ada yang mau lempar protes, saya terima dengan senang hati. Saya hanyalah sebutir lada hitam nuub di fandom ini. Tolong maafkan wahai para mastah.

Cukup.

MOHON REVIEW NYA GAES, DAN SEDIKIT INFO GA PENTING, SAYA BAKAL BERLABUH DI FANDOM BUNGOU ANJING GILA SEBENTAR LAGI, (entah kapan, mungkin minggu depan xD) TAPI SAYA JAMIN BAKAL BALIK LAGI, SAYA LAGI MAU BUCININ AKUTAGAWA SEBELUM BALIK TENGGELAM DI MARVEL THE AVENGERS SEBAGAI SIDER WKWKWKWK

Akhir kata, thank you for reading, and--

MAJU TERUS, PANTANG HIATUS!

Sampai babai~