Jam diponselnya menunjukkan angka 20.30 saat dirinya sampai di depan gerbang sebuah rumah dengan plat yang terukir marga Kuroko. Midorima membuka ponselnya dan langsung mengetik sebuah pesan.
[Aku di depan.]
[Tunggu sebentar.]
Pintu rumah itu terbuka menampilkan sesosok pemuda berkulit putih dan bersurai biru. Di kepalanya terlilit perban putih yang kelihatannya baru dipakai, Midorima khawatir melihatnya. Kuroko membuka gerbang rumahnya dan langsung memeluk Midorima.
"Midorima-kun!" Dirinya agak tersentak karena diterjang tiba-tiba tetapi tidak lupa membalas pelukan Kuroko.
"Kepalamu kenapa?" Tanya Midorima setelah melepas pelukan mereka.
"Oh ini? Ada sedikit kecelakaan saat di lapangan tadi tapi aku gak apa-apa kok, kamu gak perlu khawatir."
"Kamu benar gak apa-apa? Sudah periksa ke dokter?" Walaupun kekasihnya sudah bilang begitu tetap saja Midorima khawatir.
"Sudah kok Midorima-kun, buktinya aku baik-baik saja kan?"
"Ya sudah kalau kamu bilang gitu."
Kuroko menatap matanya lalu tertawa kecil. Midorima yang mendengarnya kebingungan, pasalnya Kuroko jarang sekali menampilkan emosinya. Biasanya Kuroko hanya memasang poker-face walaupun matanya berbinar antusias tetapi lihat sekarang, Kuroko tertawa kecil seperti itu saja sudah membuat Midorima ingin menguncinya di kamar.
"Kamu kelihatan senang sekali." Ujar Midorima sambil menaikkan kacamatanya yang tidak melorot sama sekali (dia hanya ingin menutupi semburat merah yang sedikit samar di pipinya).
"Aku senang. Hari ini Seirin menang melawan Kaijo, walaupun cuma latih tanding tapi aku senang. Aku harap dengan itu Kise-kun bisa sedikit berubah."
Midorima mengusap kepala kekasihnya lembut. "Jangan terlalu senang dulu, perjalanmu masih panjang. Memangnya kamu bisa ngalahin aku di lapangan hm?"
"Jangan ngacakin rambutku!" Kuroko yang kelihatan kesal menepis tangannya, "Midorima-kun juga jangan sombong, Seirin pasti menang!"
"Aku tunggu kalau begitu."
"Lihat saja Midorima-kun." Kekasihnya menguap setelah berkata itu, kelihatan mengantuk.
"Kuroko, kamu butuh istirahat. Aku yakin pertandingan dengan Kise cukup melelahkan, cepat kembali lalu istirahat. Besok kamu sekolah kan?"
"Hmmm..."
"Besok, setelah pulang sekolah kamu ada acara?" Mendengar itu rasa kantuk Kuroko hilang seketika. Merasa aneh karena jarang-jarang kekasihnya bertanya seperti itu.
"Hanya latihan basket lalu ke Maji Burger."
"Hmm. Masuk sana."
"Tumben sekali kamu nanya begitu?"
"Cepat masuk sana!"
"Iya iya. Selamat malam Midorima-kun, hati-hati dijalan." Kuroko menggenggam tangan Midorima dan meremasnya pelan sebelum masuk ke dalam rumahnya.
"Malam Kuroko." Dengan itu Midorima pergi, pulang kembali ke rumahnya. Tidak lupa dengan senyum tipis yang terpatri di wajahnya ketika mengingat tangan Kuroko yang hangat.
/
Midorima-kun.
Midorima-kun.
Pacarku.
Pacarku.
Pacarku.
Shintarou-kun.
Shin-
"OI SHIN-CHAN!"
Midorima tersentak dari lamunannya dan langsung memberikan tatapan mengerikan kepada si pelaku teriakan.
"Apa Takao?!"
"Shin-chan! Sejak tadi aku panggil kamu gak jawab, sebentar lagi waktunya latihan!" Mendengar itu Midorima buru-buru mengambil tasnya dan langsung melengos pergi melewati Takao.
"LOH SHIN-CHAN TUNGGU!" Takao menyambar tasnya dan menyusul Midorima.
"Gak perlu teriak, suaramu berisik."
"Shin-chan!"
"Kamu gak kesurupan kan?"
"Takao, diam atau ku dorong kamu keluar jendela."
"Ehehe. Tadi di kelas kamu aneh sekali, gak biasanya kamu senyum senyum sendiri persis orang gila. Ku pikir kamu kesurupan hantu!" Midorima menatap horror Takao yang sedang menyengir.
"Atau..." Dengan perlahan cengiran Takao berubah menjadi seringai.
"Shin-chan, kamu naksir seseorang ya?!" Midorima mendadak berhenti di tempat. Bullseye. Damn, Takao dan segala kecerdasannya.
"Takao lebih baik kamu lari sebelum aku mencekikmu. Sekarang."
"AHAHAHA."
"TAKAOOO!"
Sore itu terjadi acara kejar-kejaran di koridor kelas satu SMA Shutoku. Teriakannya terdengar sampai gimnasium tempat klub basket latihan. Bukannya melanggar peraturan kalau berlari di koridor? Tentu tidak melanggar kalau tidak ada saksinya kan.
"SENPAI! SENPAI!" Takao yang lebih dahulu sampai di gimnasium langsung heboh di depan senior-seniornya.
"JANGAN TERIAK-TERIAK BODOH!" Miyaji Kiyoshi ingin sekali melempar nanas ke kepala juniornya saat ini.
"SENPAI! SHIN-CHAN PUNYA GEB–"
"TA. KA. O."
"E-Eh? Shi-Shin-c-chan?" Takao dengan kaku menoleh ke arah pintu barat gimnasium, disana telah berdiri karakter utama kita. Kepalanya ditundukkan, tangan kirinya mengepal sedangkan tangan kanannya memegang sepasang gunting (lucky item hari ini).
"Diam. Atau. Mati." Midorima mendongakkan kepalanya dan menatap Takao tajam. Takao bisa merasakan bulu kuduknya berdiri ketika matanya bertemu tatapan Midorima yang mengerikan.
"HIIIEEE"
Takao berlari ke arah kaptennya dan bersembunyi di belakang punggungnya. "Senpai tolong aku!"
"Oi Midorima simpan guntingmu dan Takao lebih baik kamu diam." Otsubo sang kapten sangat kalem menghadapi duo anak kelas satu itu. (seperti sudah biasa menghadapi kelakuan mereka yang mirip anak SD)
"Hei kelas satu! Gak sopan santun, datang-datang malah gaduh! Cepat ganti baju dan latihan!" Beda dengan Otsubo, Miyaji memberikan solusi dengan kepala panasnya.
"OSU!"
/
Latihan basket sore itu kurang lebih seperti simulasi neraka (persiapan untuk Interhigh katanya). Midorima dan Takao terlihat keluar bersama dari gimnasium.
Midorima menaikkan kacamatanya sebelum berbicara, "Takao kamu pulang duluan, aku masih ada urusan." Mendengar itu Takao langsung memasang wajah licik. "Heee, Shin-chan kamu mau nge-date ya!"
"D-date?! Date apaan Takao?! Ini sudah malam!" Midorima panik.
"AHA SHIN-CHAN KETAHUAN KAMU PUNYA PACAR KAN!"
"MIDORIMA PUNYA PACAR?!"
·
·
·
·
·
Bersambung
Rencananya saya akan update bagian ke-3 ini minggu lalu, tapi ternyata tidak bisa karena ini itu dan draftnya juga belum saya revisi jadi saya baru sempat update sekarang. Terima kasih sudah menunggu!
