Disclaimer : Haikyu! Furudate Haruichi

Warning : BL! AU! Inarizaki Hinata

Happy reading.


Ujian tengah semester yang akan diadakan 2 minggu lagi memaksa Hinata harus belajar lebih ekstra dari biasanya. Dia mencintai voli, dan diotaknya hanya ada voli. Tapi dia tidak bisa gagal dalam ujiannya atau dia tidak akan diizinkan oleh Kita-san untuk bermain voli sampai dia mendapatkan nilai yang layak.

"Tidak perlu murung seperti itu Shouyou-kun, aku akan membantu mu belajar." Atsumu berjalan mendekati Hinata dan merangkul bahunya. Seketika wajah murung Hinata kembali cerah seperti biasanya. Mata hazelnya berbinar menatap Atsumu dengan antusias.

Atsumu hanya tersenyum melihat Hinata yang bertingkah seperti anak kecil yang diberikan permen oleh orang asing. Tanpa dia sadari sebuah pukulan keras mendarat tepat di belakang kepalanya.

"Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin mengajari Shouyou?"

"Aw! Samu sialan." Atsumu merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terkena pukulan itu.

"Atsumu terkadang bodoh sekali sampai mengatakan hal yang tidak masuk akal."

"Sebelah mananya yang tidak masuk akal? Aku hanya ingin membantu Shouyou-kun." Balas Atsumu sambil menatap Suna dengan kesal.

"Sebenarnya akan lebih baik kalau Hinata belajar bersama teman sekelasnya. Tapi aku rasa ide Atsumu tidak buruk."

"Kalau Kita-san sudah memberi izin, Shouyou-kun datanglah ke rumah ku akhir pekan ini."

"Terima kasih, Atsumu-san! Aku akan datang minggu ini." Ucap Hinata dengan penuh semangat.

Di samping itu Hinata sama sekali tidak melihat senyuman licik yang tertera jelas di wajah Atsumu.

.

.

.

Hinata membuka buku matematikanya, salah satu mata pelajaran yang menurutnya sulit. Mereka belajar di dalam kamar Atsumu. Ya, mereka, Osamu, Atsumu, dan Hinata sendiri.

Orang tua Atsumu dan Osamu sedang pergi, karena ini hari Minggu mereka memutuskan untuk melakukan belanja bulanan. Di rumah yang cukup besar itu, kini hanya dihuni oleh 3 makhluk dengan surai yang berbeda.

Cukup hening, hanya suara dari gesekan buku dan tangan, suara pensil yang digores di atas kertas, dan suara pendingin ruangan yang berada di ruangan itu.

Atsumu menghentikan kegiatan menulisnya. Matanya cokelatnya tertuju pada Hinata yang duduk di hadapannya. Dahinya sedikit berkerut, terlihat sedang berpikir keras.

"Shouyou-kun." Panggil Atsumu.

Hinata mendongakkan kepalanya, "Ya, ada apa Atsumu-san?"

"Tidak ada aku hanya ingin memanggil mu." Ucapnya sambil tersenyum miring. Hinata menatap Atsumu bingung.

"Kau serius sekali, sampai rasanya aku seperti diabaikan oleh mu."

Hinata mengedipkan matanya 2x, sedikit memiringkan kepalanya, "Ah, aku hanya sedikit bingung dengan rumus ini, apa Atsumu-san mengerti soal ini?" Buku yang berada di depannya kini berpindah ke sisi Atsumu.

Osamu yang sedari tadi hanya diam, kini memperhatikan bagaimana Atsumu mengajari Hinata. Atsumu sebenarnya tidak bodoh, dia lumayan dalam akademik, meskipun masih di bawah Osamu tentu saja.

Atsumu tidak akan mau mengakui itu, dia tidak sudi mengakui saudara kembarnya lebih baik dalam akademik dibandingkan dengan dia.

"Terima kasih, Atsumu-san penjelasan mu lebih mudah dipahami."

"Apapun untuk mu Shouyou-kun."

Osamu melirik sekilas senyuman Atsumu yang semakin lebar itu. Dia tahu kalau Atsumu sedang merencanakan sesuatu. Jika itu membahayakan Hinata, dia hanya perlu menendang Atsumu keluar dari kamarnya sendiri.

Semakin Osamu perhatikan, Hinata memang seperti magnet. Dia dapat menarik orang-orang di sekitarnya dengan senyuman dan sifatnya itu. Atsumu saja yang pada dasarnya tidak terlalu suka bergaul dengan banyak orang, sudah menyukai Hinata sejak pertama kali mereka bertemu.

Senyuman Hinata itu manis, Osamu mau tidak mau harus mengakui itu. Tidak ada gunanya juga dia menyangkal hal itu. Buku yang berada di depannya dia biarkan terbuka tanpa dilirik lagi olehnya.

Menjadikan Hinata objek pandangannya jauh lebih menarik daripada buku yang berisi deretan angka dan rumus, itulah yang dipikirkan oleh Osamu. Dia mengulurkan tangannya, mengelus pelan pipi kiri Hinata, "Ada noda penghapus di pipi mu." Katanya dengan nada datar.

"Oh, terima kasih Osamu-san." Katanya sambil tersenyum, tangannya ikut mengelus pipi kirinya yang tadi bernoda.

"Apa kau lapar Shouyou-kun?"

Hinata menatap Atsumu dan membelalakan matanya, teringat akan sesuatu "Aku nyaris lupa, ibuku memberikan ini untuk kalian, onigiri, aku akan menyajikan ini untuk kalian."

"Aku akan mengantar mu ke dapur." Osamu berdiri dan diikuti oleh Hinata di belakangnya.

Atsumu ditinggal sendirian di dalam kamarnya, apa dia harus ikut mereka ke dapur? Atsumu menggelengkan kepalanya, 'Tidak ada gunanya aku pergi ke dapur.'

Matanya menatap ke arah luar jendela kamarnya. Cuacanya cerah, langitnya benar-benar biru. Dia mengambil pensil Hinata yang berwarna jingga, 'Bahkan warna pensilnya cerah, apa warna favorit Shouyou-kun jingga?' Atsumu mengangkat pensil mekanik itu dan mengarahkannya ke arah langit biru di luar sana, "Warnanya memang cocok, seperti membayangkan Shouyou-kun di bawah terik sinar matahari."

Tidak lama setelah itu, terdengar bunyi pintu kamarnya terbuka. Hinata masuk terlebih dahulu dengan nampan onigiri di tangannya dan disusul Osamu dengan minuman dingin di tangannya.

Hinata melangkah perlahan mendekati meja belajar mereka. Di saat kakinya akan melangkah lagi salah satu kakinya tersandung tatami kamar Atsumu. Ekspresi panik segera ditunjukkan oleh Hinata. Osamu yang melihat itu dengan refleks yang luar biasa memegang pinggang Hinata sebelum dia sepenuhnya terjatuh ke lantai.

Atsumu yang sama terkejutnya dengan Hinata mengamankan nampan berisi onigiri itu. Lalu, dia menatap Osamu yang berada di belakang Hinata. Seolah paham dengan apa yang dimaksud Atsumu dia melepaskan pegangannya pada pinggang Hinata dan tanpa bisa dicegah Hinata pun terjatuh.

"Berhati-hatilah, Shouyou-kun." Hinata terjatuh tepat di atas Atsumu. Dia berusaha menopang berat tubuhnya dengan kedua tangannya yang berada di samping tubuh Atsumu.

"Maafkan aku! Apa kau terluka Atsumu-san?" Tanya Hinata, ekspresinya dipenuhi perasaan khawatir.

"Tidak, aku baik-baik saja." Tangannya terulur mengelus pipi Hinata, "Aku memang lapar, tapi kau lebih enak untuk dimakan dibandingkan onigiri itu, Shouyou-kun."

"Eh?" Hinata menunjukkan ekspresi bingung sekaligus kaget. Wajahnya sedikit memerah, "Tapi aku bukan makanan, Atsumu-san." Ucapnya polos.

"Aku hanya bercanda Shouyou-kun." Terdengar jelas nada mengejek dikalimatnya. Atsumu hanya tersenyum melihat tingkah polos Hinata.

Osamu meletakkan nampan minuman dinginnya, "Maaf aku melepaskan penganganku." Tangannya dia ulurkan membantu Hinata bangun.

"Tidak apa-apa, aku justru bersyukur kau menangkap ku di awal Osamu-san, kalau tidak onigirinya akan tumpah begitu saja."

'Shouyou terlalu positif.' Batin Osamu, padahal jelas sekali Osamu dengan sengaja melepaskannya, tapi Hinata sama sekali tidak berpikir begitu.

Mereka sudah kembali duduk dan menikmati onigirinya. Tanpa Atsumu dan Osamu sangka onigiri buatan ibu Shouyou jauh lebih enak dari yang pernah mereka rasakan.

"Shouyou katakan aah." Kata Osamu sambil menyodorkan onigiri ditangannya.

Hinata yang melihat itu segera membuka mulutnya dan memakan sedikit onigiri milik Osamu, "Yang ini berisi tuna, sepertinya setiap onigiri memiliki isi yang berbeda."

"Oh, kau betul Osamu-san, aku jarang menikmati onigiri buatan ibuku." Osamu mengulurkan tangannya, mengambil nasi yang menempel di pipi Hinata dan memakannya.

"Ya, sangat enak." Mata cokelat Osamu tidak lepas dari Hinata yang sedang memakan onigirinya dengan lahap.

Atsumu yang melihat tingkah mereka berdua, membuatnya merasa seperti orang ketiga. Padahal Osamu selama ini terlihat tidak peduli, tapi apa-apaan tingkahnya yang tadi itu? Atsumu membayangkan bagaimana penggemarnya akan berteriak histeris ketika melihat Osamu yang menatap ke arah Hinata dengan penuh rasa cinta.

Ya, cinta, Atsumu sedikit kesulitan mendeskripsikan tingkah laku dan tatapan mata saudara kembarnya itu. Mereka sama-sama bukan ahlinya dibidang romansa. Karena tidak ada yang lebih menarik dari bola voli selama ini. Akan tetapi, memiliki Hinata sebagai bonus dalam olahraga bola voli yang selama ini dia geluti sepertinya adalah hal yang baik.

Atsumu menyukai bonus itu.

.

.

.

Tidak lama setelah mereka selesai makan, mereka menutup buku mereka dan mulai berbaring dengan malas. Satu hari sebanyak satu subjek pelajaran bagi Hinata itu sudah cukup. Otaknya tidak akan sanggup lagi kalau dipaksa untuk belajar lebih lama.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, Hinata datang ke kediaman Miya sekitar pukul 10, itu artinya dia sudah menghabiskan waktu selama 4 jam di sini. Hinata memejamkan matanya sebentar. Tidak memperhatikan bagaimana kedua bersaudara Miya itu melihatnya.

Atsumu dan Osamu memperhatikan napas Hinata yang teratur. Bibirnya yang berwarna ceri itu sedikit terbuka. Dilihat dari mana pun Hinata terlihat sangat menggemaskan, bahkan ketika tidur.

"Shouyou-kun kalau kau mengantuk kau bisa tidur di tempat tidur ku." Kata Atsumu sambil mengelus surai orange milik Hinata.

Hinata semakin mendekatkan wajahnya ke tangan Atsumu yang hangat dan sedikit kasar itu, "Uh, tidak... aku datang ke sini untuk belajar, jadi aku tidak akan tidur." Balas Hinata, matanya masih dia pejamkan.

Atsumu tersenyum melihat Hinata yang sedikit bermanja dengan sentuhannya, dia terlihat seperti anak kucing. Begitu lembut dan menyenangkan. Atsumu tidak keberatan terus menyentuh Hinata seperti itu, dia ingin ini menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang hanya menjadi miliknya seorang.

Tidak lama setelah itu, Hinata membuka matanya, dia menguap pelan terdapat jejak air mata di sudut matanya, "Shouyou ingin bermain game?" Tanya Osamu yang sedari tadi diam memperhatikannya.

Hinata yang mendengar kata game, bangun dari tidurnya dan menatap Osamu dengan antusias, "Game apa yang akan kita mainkan Osamu-san?"

"2 truth 1 lie, kau hanya perlu mengungkapkan 2 kejujuran dan 1 kebohongan, dan aku serta Tsumu yang akan menebaknya nanti."

"Oh! Terlihat menyenangkan! Kalau begitu aku mendapat giliran pertama?"

Osamu menganggukan kepalanya.

"Yang pertama, aku memiliki adik perempuan, aku suka membaca buku, dan aku suka bermain voli bersama dengan kalian." Hinata menyebutkan ketiga hal itu dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya.

"Yang ke-2 jelas bohong, kau tidak pernah suka membaca Shouyou-kun."

"Ya! Betul sekali! Aku terkadang tidak mengerti dengan orang yang suka membaca buku beratus-ratus halaman." Atsumu tertawa kecil mendengar tanggapan Hinata.

"Kalau begitu selanjutnya adalah giliran ku. Shoyou-kun adalah wing spiker favorit ku, aku bermain voli sejak sekolah dasar, dan aku menyukai Samu lebih daripada aku menyukai Shoyou-kun." Osamu yang mendengar penyataan ketiga Atsumu menatapnya dengan tatapan aneh. Seolah mengatakan, 'Apa kau sudah tidak waras?'

"Jelas sekali yang ketiga." Jawab Osamu.

"Eh? Ku pikir itu yang pertama?" Tanya Hinata.

Atsumu menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa kau menjawab yang pertama bohong, Shouyou-kun?"

"Karena menurut ku Aran-san adalah wing spiker favorit Atsumu-san, lagipula Aran-san itu seorang ace!"

"Shouyou-kun apa kau tidak percaya kalau aku lebih menyukai mu dibandingkan dengan Samu?" Mata cokelatnya tidak lepas dari Hinata.

"Menurutku Atsumu-san sangat menyayangi Osamu-san, walau kalian sering bertengkar. Sama seperti aku dengan Natsu, tapi aku senang mendengar kalau Atsumu-san menyukai ku lebih daripada Osamu-san dan ya, aku percaya itu." Jelas Hinata dengan semangat, matanya sedikit berbinar ketika mengatakan hal itu.

Atsumu tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar Hinata mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Osamu. Dia terkadang tidak mengerti bagaimana bisa Hinata beranggapan seperti itu.

Sama halnya dengan Osamu, dia menunjukkan ekspresi jijik yang diarahkan kepada Atsumu, setelah mendengar pendapat Hinata. Dilihat dari manapun hanya Hinata yang beranggapan bahwa kedua saudara itu saling menyayangi satu sama lain.

"Hei, Tsumu apa jawaban yang betul, yang pertama atau ketiga?"

"Sudah jelas yang bohong itu yang ketiga, sayang sekali Shouyou-kun."

"Jadi aku wing spiker favorit mu Atsumu-san? Apa aku akan mendapatkan toss tambahan saat latihan nanti?" Terdapat rona merah tipis di pipi Hinata.

"Tentu saja, seperti yang selalu aku katakan, apapun untuk mu Shouyou-kun."

"Kurasa selanjutnya adalah giliran ku." Mata hazel Hinata kini memperhatikan Osamu, "Aku menyukai Tsumu lebih daripada aku menyukai Shouyou, aku lebih jenius dibandingkan dengan Tsumu, dan yang terakhir aku ingin Shouyou menjadi milik ku."

Hinata mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba mencerna kembali apa yang baru saja dikatakan oleh Osamu. Wajahnya sedikit memerah karena malu memikirkan pernyataan Osamu yang ketiga.

Osamu mengabaikan tatapan tidak suka yang jelas sekali ditunjukkan oleh Atsumu kepadanya. Dia tersenyum tipis, senang melihat reaksi Hinata. Wajahnya sedikit memerah menambah kesan imut pada diri Hinata, "Jadi apa jawaban mu, Shouyou?"

"Yang pertama bohong..." Jawab Hinata sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Atsumu tersenyum miring, "Jelas sekali yang pertama, kau tidak kreatif sekali Samu."

"Aku tidak ingin mendengar hal itu dari mu dan ya jawaban kalian benar." Osamu yang tadi duduk bersebrangan dengan Hinata, bangun dan duduk tepat di samping Hinata, "Mengenai pernyataan ku yang ketiga, apa tanggapan mu Shouyou?"

Osamu menatap mata hazel Hinata dengan lekat, tangan kanannya dia gunakan untuk mengapit dagu Hinata mencegahnya memalingkan wajahnya dari dia.

'Terlalu dekat.' Hinata dapat merasakan hembusan napas Osamu di wajahnya, dia cukup yakin wajahnya pasti sangat merah saat ini.

"A-aku—" Perkataan Hinata terputus setelah mendapatkan tarikan di bahunya. Kedua tangan Atsumu melingkari bahu Hinata, kepalanya dia letakkan di bahunya. Dia menatap Osamu dengan ekspresi tidak suka.

"A-Atsumu-san?"

"Bukan begitu aturan mainnya Samu." Osamu hanya memasang ekspresi datar dan kembali ke tempat semula dia duduk.

Hinata yang masih berada dalam pelukan Atsumu sedikit terkejut ketika mendengar bunyi guntur pelan dari arah luar. Awan gelap mulai menyelimuti langit di atasnya, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Dia menoleh ke arah Atsumu, tangannya memegang pelan lengan Atsumu yang masih memeluknya dari belakang, "Sepertinya aku harus pulang sebelum hujan turun."

.

.

.

Sebagai tuan rumah yang baik, Atsumu dan Osamu mengantar Hinata sampai ke depan pintu rumah mereka, "Kalau begitu aku pamit, terima kasih Atsumu-san, Osamu-san." Ucapnya sambil tersenyum lebar.

"Kau yakin tidak ingin ku antar sampai ke halte, Shouyou?"

"Tidak apa-apa, aku tidak ingin merepotkan mu Osamu-san." Osamu bukanlah orang yang keras kepala, jika Hinata tidak ingin diantar maka dia tidak akan memaksanya.

"Shouyou-kun pakailah ini." Atsumu memakaikan jaket merah Inarizaki miliknya ke Hinata. Ukurannya yang lebih besar membuat Hinata sedikit tenggelam dalam jaket itu.

"Terima kasih, Atsumu-san, akan aku kembalikan besok di sekolah." Atsumu menganggukan kepalanya, tersenyum melihat betapa imutnya Hinata dalam balutan jaket Inarizaki miliknya.

"Hati-hati di jalan, Shouyou–, Shouyou-kun." Ucap mereka bersamaan.

Hinata melambaikan tangannya ke arah mereka hingga sosoknya menghilang di salah satu belokan dari kediaman milik Miya itu.

"Hei, Samu, kau melanggar peraturan tadi, jadi aku lah pemenangnya."

"Kau mengatakan itu karena aku berhasil menarik perhatian Shouyou lebih daripada yang kau lakukan, bukan?" Ucap Osamu dengan sedikit nada mengejek dikalimatnya.

"Aku menunggu pudding selama 1 bulan penuh, dimulai dari besok Tsumu." Osamu berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Atsumu dengan perasaan jengkel miliknya.

"Aku tidak akan menyerahkan Shouyou-kun padamu Samu."

End.


A/N:

Miya twins yang memperebutkan Hinata adalah salah satu kesukaan saya. Saya harap ini tidak terlalu buruk. Terima kasih sudah membaca!