Bittersweet Romance Chapter 02 : Jealous
Genre : Drabble, Idol Life, Hurt Comfort(?), Fluff, Yaoi
Pairing : Mingyu X Wonwoo
Mention! Jeon Jungkook of BTS
Warnings : typo(s), feel gak dapet, alur gajelas.
tidak suka dipersilahkan untuk tidak membaca
HAPPY READING GAYS
.
.
Sakit sekali tubuh Mingyu. Punggung berlapis sweater keabuan itu terasa ngilu setiap kali digerakan si empu. Lengan kanan dan kiri nya juga sama. kepala bersurai putih itu terasa berat seakan mengangkat batu disana.
Sudah jadi resiko bagi seorang pria tampan berkulit tan yang terdampar di pinggir lantai.
Mingyu bergerak risih. tubuh nya mencari tempat nyaman namun tak kunjung temu titik terang. Terasa menyiksa Karena tidur diatas lantai yang hanya beralaskan selimut ladybug warna kontras. Jangan lupakan bonus kecil nya berupa bantal guling tanpa busana.
"Hyung, berhenti bertingkah kekanak – kanakan huh?" itu si pria yang terdampar bersuara
"biarkan saja." orang yang dipanggil hyung menjawab acuh tak acuh
percuma sudah. Sudah belasan kali Mingyu memperingati namun Jeon Wonwoo masih kecil hati.
Salah satu sifat Wonwoo yang tidak Mingyu suka, cemburu berlebihan.
Kalian tau? sudah terhitung tiga hari sejak Wonwoo mendiami mingyu—enggan mengangkat panggilan, acuh dengan tindakan, tidak menoleh saat disapa—Wonwoo cemburu dengan Mingyu karena satu perkara mudah.
Tiga hari yang lalu boygroup seventeen hadir dalam rekaman acara. Mereka jadi salah satu guest star nya. berakhirlah mereka di sebuah stadion besar dengan kebisingan fans jauh dibangku penonton.
Idol Sport Athlethic Championship. Diceritakan disana Seventeen menjadi salah satu idola yang berpartisipasi. Menyumbangkan sedikit tenaga untuk ikut beberapa kompetisi -seperti lari jarak pendek, panahan, dan estafet. Ah jangan lupakan pula senam gymanastic yang sukses memukau penonton.
Berakhir membawa kemenangan dengan tiga mendali.
"hyung aku cuma menemani nya." Suara berat Mingyu mengacau keheningan
Tidak ada balasan dari Wonwoo
"Hyung—Jungkook itu butuh teman."
Masih tidak ada balasan
"Hyung aku bersumpah aku tidak menyukai nya."
Seperti nya Wonwoo mendadak bisu
"Jeon Wonwoo!"
Itu mingyu yang barusan teriak. Pria kulit eksotis nampak nya habis kesabaran. Nama Wonwoo akhirnya ia ucapkan cukup lantang. sang kepemilikan nama tersentak sampai tidak sadar menoleh kearah datang suara. Pelaku nya Mingyu tentu saja.
"Jaga sopan santun mu, Gyu." Akhir nya Wonwoo buka suara
Mingyu mengadah, "Dengarkan aku dulu hyung."
Menatap jengah, "aku mau tidur."
Maka kembalilah Wonwoo diposisi awal. Terbaring lemah diatas kasur—membelakangi mingyu yang masih sibuk menunggu. menunggu ketersediaan Wonwoo mendengar penjelasan nya barang sebentar.
Cukup sudah –Mingyu lelah. Sudah terhitung hari ketiga dan Wonwoo masih begini saja. bertindak gegabah, menganggap Mingyu tidak ada. Padahal permasalahan hanya satu, Wonwoo cemburu. Cemburu akan kedekatan Mingyu beberapa hari lalu bersama Jungkook—member boygroup tetangga yang lahir setahun setelah nya.
Mingyu menyentuh ranjang, menangkap tubuh Wonwoo kemudian. Membawa tubuh kurus kecil itu kepelukan nya meskipun dengan sedikit usaha. Salahkan Wonwoo yang berontak semena – mena.
"Kim Ming –Lepaskan aku!"
"Wonwoo Hyung milikku."
"Bodoh lepaskan aku!"
"Jeon Wonwoo kekasihku."
"Aku tidak suka idiot!"
"Jeon Wonwoo hyung aku mencintaimu."
Wonwoo bungkam
"Aku selalu mencintaimu, Jeon Wonwoo."
Posisi mereka rancu. Mingyu mendekap Wonwoo sementara yang didekap nyaris melayangkan pukulan. Telapak tangan itu sudah bersiap untuk membentur pipi si pria lugu—namun terjeda akibat akhir ucapan Mingyu.
Mingyu melebur keheningan, "Hyung, dengarkan aku barang satu menit saja."
Menyentuh pinggang Wonwoo
"tiga hari lalu, saat syuting rekaman aisak*, aku bermesraan dengan orang lain–bukan dengan kekasihku Jeon Wonwoo."
Wonwoo menyimak, "aku menyesal saat itu. Demi tuhan aku menyesal karena menelantarkan Wonwoo ku sendirian. Aku sibuk berdua dengan orang lain, sementara kekasihku? kesepian bukan main. Tidak ada teman bicara –kekasihnya pun hilang entah kemana."
Wonwoo bergerak risih, ternyata mengenggam tangan sang kekasih. Menenggelamkan wajah di dada mingyu setelah itu. Menikmati panas alami dari tubuh si pria lugu.
"Kim Mingyu sangat bodoh, Kim Mingyu pantas dihukum."
Wonwoo berjubel dengan otak nya. Pria penggila buku ini tidak tau harus berbuat apa. Memafkan begitu saja? Mingyu pasti bakal berulah lagi. Tidak dimaafkan? Hei Wonwoo itu masih punya hati.
"Kau pikir dengan 'hukuman' saja semua nya akan selesai?"
Wonwoo mendorong tubuh Mingyu. Melepaskan kontak tubuh dengan si lugu agar leluasa bicara. Berakting normal dengan menggelengkan kepala. sesekali menyesap bibir guna berpikir.
Wonwoo menarik diri, mendekatkan tubuh ke si lugu. Jarak terkikis hingga terlihat jua iris mata Mingyu. Mengusap dada si tinggi sesekali. Terus seperti itu sampai DUG! Daerah sensitif itu dipukul beruntun. Terus dipukul sampai si lugu tersungkur di kasur.
"bersikap lah dewasa, Kim Mingyu!"
Sekarang gantian Wonwoo yang teriak. Ia menyumbangkan suara dengan frekuensi ekstra. Menggretakan gigi karena termakan emosi. Menatap jengah Mingyu yang terlihat pasrah.
"Kim Mingyu, sampai kapan kau mau seperti ini? Sampai kapan kau betah bertingkah gegabah seperti ini? Mau sampai kapan kau berpikir dangkal seperti anak kecil?"
Mingyu memasang telinga
"Sadarlah Kim Mingyu! Kau ini sudah dewasa! Abnormal sekali jika kau masih bertingkah seperti anak kecil!"
Mingyu terintimidasi. Ingin sekali melawan tapi tak punya nyali. Wonwoo marah? Malapetaka bagi nya.
"Mingyu, aku cemburu. Aku cemburu tiga hari yang lalu saat kau bersama Jungkook dan menelantarkan ku. Kau tau aku lelah kan?- iya kau tau."
"Jika kau tau aku lelah, kenapa kau malah pergi? Kenapa kau tidak membiarkan aku bersandar di pundakmu?"
Wonwoo menyesap keringat. Emosi telah membakar tubuh nya. namun setelah jeda pariwara, semua jadi lebih tenang. Terpapar ekspresi kelu diwajah Wonwoo.
"Aku mengerti, Gyu. Aku mengerti kalau kau punya niat baik untuk membantu Jungkook -karena ia kurang teman. Tapi apa kau tau? kau itu melewati batas."
"kau menggenggam tangan nya? aku tidak masalah. kau bersandar pada nya? aku juga tak masalah. kau menelantarkan ku? Aku coba memaklumi. Tapi—kau berbohong?"
Air mata siap terjun. Wonwoo coba menahan namun takdir berkata lain. Air mata justru menguasai nya. tetesan air kesedihan itu akhirnya turun juga. Membasahi pipi ranum pucat yang biasa nya selalu jadi tempat favorit mingyu untuk mendaratkan bibir.
"Mingyu—aku"
"Sshh sudah hentikan, jangan dilanjutkan."
Berakhirlah Wonwoo dipelukan Mingyu. Airmata itu akhirnya jatuh membasahi pundak sang kekasih. Sesak tangis mengiringi runtutan air mata yang jatuh. Wonwoo memang emosional. Dengan hal kecil saja ia bisa tertawa—dan bisa menangis.
Jangan salahkan sifat wonwoo yang menjengkelkan. Jangan salahkan pula sifat lebay dan cemburuan yang sudah disandang Wonwoo sejak dulu. Salahkan kepribadian nya. caci maki saja alur pikirnya yang menyedihkan. Wajar saja, Wonwoo itu pelaku introvert tingkat lanjut. Introvert memang seperti itu. Tidak bisa diubah dan tidak bisa dicegah –hanya bisa dimaklumi.
Benar Mingyu membohongi Wonwoo. entah sudah berapa kali Mingyu bertindak bodoh seperti ini yang jelas Wonwoo risih. Terutama untuk kebohongan nya kali ini. Tidak bisa kah Mingyu membuat nya bahagia barang sekali saja?
.
Jadi tiga hari yang lalu, Wonwoo Mingyu berbincang. Berbincang dipinggir lapangan –berduaan seperti orang pacaran. Eh tidak mereka memang benar pacaran. Bersenandung kasih dipinggir lapangan? Sungguh hal yang mengasyikkan.
Awal nya hanya perbincangan biasa, seperti 'sudah makan belum?', 'Makanan yang tadi rasa nya enak', 'Bagian kita masih lama sekali', 'bisa mati kebosanan kalau terus seperti ini'. Hanya perbicangan ringan sembari santai dipinggir lapangan menunggu giliran.
Kemudian Mingyu berkicau lagi. Pria lugu itu membicarakan Jungkook dengan sang kekasih. Tak kala yang dibicarakan nya hanya satu, Jungkook sukar beradaptasi dan ia butuh teman. Mingyu berceloteh kalau ia harus membantu teman seperjuangan nya itu—dan Wonwoo setuju. Wonwoo akan membiarkan Mingyu bercengkrama santai dengan Jungkook agar suasana jadi lebih hangat.
Dikasih hati minta daging? Mungkin itu kiasan paling cocok untuk disandang Mingyu. Si lugu itu jadi lupa daratan ternyata. Berinteraksi dengan teman sebaya membuat nya lupa kalau ada yang sedang 'menanti' nya. Wonwoo dibiarkan begitu saja. persetan dengan Wonwoo yang lelah dan butuh sanggah—ngobrol dengan Jungkook nampak nya lebih mengguggah.
Merasa diabai, Wonwoo nekat menghampiri si Lugu. Mendekati Mingyu yang sedang sibuk dengan teman baru. Pria 96 itu menempel pada lengan sang kekasih sambil menyimak interaksi. Tumbuh harapan Wonwoo untuk dikenalkan Mingyu pada Jungkook sebagai 'kepunyaan'—ternyata pahit sekali.
Jangankan dikenalkan, menoleh pada nya saja Mingyu enggan.
Mingyu menyambar, "Hyung sebentar aku mau ke toilet." Melepas genggaman Wonwoo kemudian.
Langkah kaki si lugu pergi menjauhi Wonwoo. terus menjauh sampai akhir nya musnah ditelan pintu. Pria rambut putih meninggalkan Wonwoo lagi. Kali ini alasan nya ke toilet—kantung kemih Mingyu mungkin penuh oleh air seni. Baiklah Wonwoo bisa mengerti keadaan ini.
Sudah tiga puluh menit Mingyu izin buang air–tapi batang hidung nya tak terlihat jua. Sesi pertama acara sudah selesai dan Wonwoo masih disini sendirian. teguh pendirian Wonwoo untuk menagih janji Mingyu—menemani nya sepanjang acara— musnah sudah.
"demi tuhan! Kemana pergi nya mahluk sialan itu?"
Desisan sebal lolos dari mulut Wonwoo
Menatap jengah, "berandal gila tak tau aturan." Mengumpat kemudian.
Lihatlah sekarang Wonwoo berani ngumpat. Mulut manis itu sudah tidak tahan mecelos Mingyu. Wonwoo nekat sudah, ia gerah dengan mingyu yang gegabah. langkah kaki si pecandu buku mengikis jarak dengan pintu.
Nekat menghampiri Mingyu dengan terburu – buru, Wonwoo tidak sadar sedari tadi mulut nya menggerutu. Si tinggi berkulit pucat sibuk mencari bocah besar berwatak dungu. Di toilet tak ada. Di make up room tak ada. Di rest room pun ia tak terlihat jua.
Malah menemukan Seungkwan terduduk lesuh didepan pintu.
"Seungkwan-ah, Gwenchana? " itu Wonwoo menanyakan kondisi terkini si pria Jeju.
Menjawab sambil meringis, "baik – baik saja jika sakit di perut ini musnah."
Fyi, Seungkwan memang sedang tidak fit. Salahkan sifat tak sabaran nya kalau sedang mengunyah makanan.
"bersabarlah, oke? Acara sebentar lagi selesai."
Seungkwan mengangguk saja
Yang lebih tua kembali bicara, "kau melihat Mingyu?"
"Mingyu hyung?-terakhir kali aku melihat nya berbelok kearah utara dari pintu utama."
Wonwoo mengernyit dahi, "eh? Jadi dia tidak ke toilet?"
"mana ada ke toilet? Tadi kulihat tiga puluh menit yang lalu dia masuk dan langsung belok kesana." Seungkwan menunjuk arah kemana Mingyu tadi melangkah.
"oke baiklah, kau tidur saja. jangan memaksa jika kau tak kuasa."
Menepuk halus tangan, Wonwoo akhirnya pergi meninggalkan Seungkwan. Langkah kaki itu menyusuri jalan yang tadi pria jeju beritahukan. Tidak salah lagi—ini jalan menuju tempat makan. Ituloh, ruangan besar yang menjajarkan makanan guna memberi asupan.
Wonwoo tidak yakin sebenarnya. Tidak mungkin Mingyu menelantarkan nya sendiri sementara ia sibuk makan didalam. Mingyu tidak sekejam itu—
—"Mingyu?"
Tebak apa yang dilihat Wonwoo? Mingyu makan bersama dengan Jungkook di kursi meja nomor tiga.
.
Jadi siapa yang salah? Apa benar Wonwoo tersangka nya? Kalian buta jika masih menganggap nya seperti itu. Hei jujur saja, jika kalian ada di posisi Wonwoo –kalian bakal melakukan hal yang sama kan?
Tidak ada balasan dari Kim Mingyu. Pria dungu itu hanya diam membiarkan Wonwoo tenggelam dalam tangisan. Bukan karena tidak tau harus berkata apa, Mingyu malu lebih tepat nya. pria bertaring itu terlalu malu dengan Wonwoo. bagaimana mungkin Mingyu tidak bisa menyadari nya? sadarlah Kim Mingyu, kau ini sudah dewasa! Sekarang lihat sendiri apa akibat nya.
Berkecamuk saja dengan pikiran nya. jelas seratus persen Mingyu menyesal.
"Wonwoo hyung, aku terlalu malu dengan tindakan ku sendiri. bagaimana mungkin aku tidak menyadari nya? aku ini buta ya? –hyung jawab aku."
Mingyu mengerut dahi, "Waktu itu, benar aku izin ke toilet. Aku hanya ingin cuci tangan. Jadi aku masuk kedalam, ah ternyata ada westafel di ruang makan."
"…"
"aku kesana untuk menghemat waktu dan ya, aku juga ingin mengambil beberapa kudapan untuk mu. Ada American beef burger disana, Hyung. itu kesukaan mu, jadi akan kuambilkan sebelum kehabisan."
Wonwoo menatap Mingyu
"tapi apa hyung tau? aku bertemu Jungkook disana. Entah mengapa ia langsung menarik ku untuk duduk dan makan dengan nya. aku ingin menolak tapi tak bisa hyung, akan terlalu lancang."
Mingyu mengunggah senyum. Ditangkupnya wajah Wonwoo dengan tangan menggantung. Terlihat luar biasa hasil karya tuhan yang satu ini. Hidung bangir, mata emo, dan bibir merah—terselip rasa sakit di hati Mingyu saat mengingat kejadian tadi saat air mata Wonwoo lolos begitu saja karena nya.
"Aku mungkin membohongi mu, tapi percayalah Jeon Wonwoo. aku tidak akan pernah berpindah hati dari mu."
Didetik kelima, Wonwoo mencium Mingyu. Kedua bibir itu saling bersentuhan karena jarak yang terkikis. Mingyu dibuat speechless –bagaimana tidak? Ini mungkin pertama kali nya bagi Wonwoo. ya karena biasa nya kan selalu Mingyu yang mulai duluan.
persetan dengan harga diri, Wonwoo menciumi sang kekasih. terus ia ciumi sampai sesak didada menghancurkan semua. terpaksa Wonwoo melepas tautan. nampak sebuah benang saliva terbentang di bibir mereka.
"Dasar Bodoh, Mingyu bodoh."
itu Wonwoo yang barusan memaki Mingyu. Wonwoo mengerucut bibir, membiarkan kening Mingyu menyentuh kening nya. sesekali hidung mereka bergesek, menimbulkan rasa geli dipangkal tubuh Wonwoo. seringaian Mingyu bisa tercetak jelas dari jarak sedekat ini.
"Jika benar seperti itu, kenapa kau tak terus terang dari awal?"
Cup! Wonwoo mencuri satu kecupan dibibir Mingyu
"Aku jadi bersalah, Gyu."
Cup! dicuri lagi kecupan itu
hanya dibalas dengan kekehan oleh si Pria lugu.
"Bagaimana mungkin aku bisa terus terang kalau kau saja tidak pernah memberi kesempatan?"
Tersenyum tawar, "Wonwoo hyung yang manis, seperti ia nya terlalu cemburu sampai tidak memberi ruang untuk ku."
decakan sebal terdengar dari mulut Wonwoo. semburat merah menyerang wajah si penggila buku. Mingyu tau kalau kekasih nya itu sedang malu. ya wajar saja malu karena ini semua murni kesalahpahaman yang dibuat oleh nya. lagi - lagi Wonwoo yang terlalu gegabah.
entah sekarang siapa yang bertingkah abnormal seperti anak kecil.
Hei tapi Mingyu tau Wonwoo tidak sepenuh nya salah. mengingat saat itu Mingyu tidak mengatakan apa - apa saat bertemu Wonwoo setelah selesai makan -disitulah letak kesalahan nya. seharusnya disaat itu lah ia menjelaskan semua nya. bukan malah bertingkah seolah tak terjadi apa - apa. ya wajar saja kalau Wonwoo jadi cemburu dan marah.
"Jadi Jeon Wonwoo, apa sekarang kau mau memaafkan ku?"
"... Tidak mau dan tidak akan."
Sedikit menarik bibir, "dasar tukang cemburuan."
Wonwoo berderu dengan tatapan membunuh, "Apa yang barusan kau bilang Kim Mingyu?"
"Aku mencintaimu, Wonwoo Hyung."
berakhir dengan Mingyu yang menarik tubuh Wonwoo kedalam pelukan. terus seperti itu sampai kedua bibir mereka kembali bertemu.
Note ::
maaf alurnya yang gak jelas, maaf juga nunggu lama dan hasil nya tidak sesuai harapan. based cerita di kejadian isac kemarin, momen ketika Jungkook nempel terus sama seventeen especially sama Mingyu. *aisak : isac kalo dibaca sama orang korea. btw disini ceritanya rambut mingyu masih warna uban. Reviewnya boleh lah? alur cerita masih berlanjut dengan pairing yang lain. aku tau masih banyak kekurangan jadi mohon bantuan!:)
