Bittersweet Romance Chapter 6 : Chaos In Japan 2
Genre : Drabble, Fluff, Idol Life, Yaoi, BL
Rating : M For Languange
Warnings : Typo, Alur tidak jelas / kecepatan.
tidak suka dipersilahkan untuk tidak membaca
HAPPY READING
.
.
"Jihoon, kau masih sayang padaku kan?"
.
Jihoon mendadak bisu. Pertanyaan Soonyoung tidak ditanggapi malahan si pendek bertingkah aneh dengan menyelimuti kaki Soonyoung dengan selimut bulu kemudian mengeluarkan sendok untuk menyuapi bubur yang ada ditangan Soonyoung.
"Kau berharap hukuman dariku? Dikondisimu yang sedang seperti ini?"
Itulah ucapan Jihoon sebelum sesuap bubur ia bawa ke mulut Soonyoung. Tidak ada raut wajah marah atau kecewa dari si kecil—Jihoon malah terlihat sedikit khawatir. ini dibuktikan dengan telapak tangannya yang gatal menyentuh kening Soonyoung memastikan agar suhu tubuh si bodoh tidak naik lagi.
Tentu saja si tersangka kaget. Jihoon belum pernah bertingkah laku seperti ini. Di tahun lalu Soonyoung memang sering tertangkap basah Jihoon tidur pagi dan pada saat itu juga Jihoon akan menghadiahi soonyoung berbagai macam hukuman. Pernah suatu waktu Jihoon memaksa Soonyoung untuk menggendongnya sembari berkeliling stadion karena Soonyoung tertangkap basah tidak tidur di dorm.
Sebenarnya Jihoon sendiri malah lebih sering melewati waktu tidur. Desakan pledis yang memintanya menciptakan lagu diwaktu singkat menjadi alasan utama Jihoon kerap melewati tidur. Soonyoung bahkan mengetahui hal ini dan ia sendiri tidak pernah protes. Lantas kenapa semua berbanding terbalik buat Soonyoung?
Itu karena Soonyoung punya riwayat kesehatan yang buruk. Soonyoung menderita suatu penyakit dimana fisiknya membutuhkan tenaga lebih besar untuk berkerja jika dibandingkan dengan manusia normal. Jika diibaratkan, manusia normal hanya butuh satu pisau untuk memotong benda sementara Soonyoung butuh dua. Penyakit inilah yang sudah menjadi kekhawatiran utama Jihoon selama lebih dari tiga tahun. Mengingat mereka berdua adalah idol, Jihoon mengerti bahwa penyakit itu akan sangat beresiko untuk kekasihnya.
"Jihoonie aku minta maaf.." Ucap Soonyoung setelah lima suap bubur berhasil ia cerna
"aku bisa apa selain memaafkanmu eh?"
Jihoon membuka suara, "Hansol tadi malam sudah memberiku peringatan. Hansol melihatmu kesulitan dalam membuat koreografi jadi dia langsung menghubungi. Aku tidak bisa mencegahmu karena nanti kau malah makin kesulitan"
Ocehan Jihoon tadi sekaligus mengakhiri kegiatan makan Soonyoung. Bubur yang tadi dimasak sudah tandas tak bersisa. Jihoon merengsek turun untuk meletakan mangkuk kemudian kembali dengan dua butir obat yang dia ambil dari nakas.
"Jadi kau sengaja membawa stok bubur dan obat untukku? Begitu?" Ucap Soonyoung setelah isi gelas di meja ia tenggak setengah.
"Bagaimanapun juga itu sudah jadi tanggung jawabku."
Perkataan Jihoon yang tadi tentu saja membuat Soonyoung tersanjung. Perasaan bersyukur memiliki mahluk kecil itu muncul lagi dan Soonyoung tidak bisa tidak mengucapkan terimakasih.
"Lee Jihoon aku mencintaimu."
Ucapan Soonyoung itu dibarengi dengan kegiatan saling menempel bibir. Soonyoung menarik Jihoon yang sedang berdiri didepan nakas kemudian menyatukan bibir manis itu dengan miliknya. Jihoon tidak meronta, toh sedari tadi ia sudah menduga bahwa Soonyoung akan memberinya ciuman sebagai hadiah. Jihoon yakin Soonyoung akan tersanjung dengan perkataannya tadi. Dasar si kecil licik.
Soonyoung enggan melepas pangutan bibir itu sehingga Jihoon terpaksa melepasnya lebih dulu. Benang saliva terjuntai dimana-mana sebab mereka berpangutan cukup lama—kalau saja tadi Jihoon tidak kehabisan nafas, ia juga enggan mengakhiri ciuman manis itu.
"Kau ini sebenarnya manusia atau stroberi?"
Jihoon mengernyit dahi, "maksudmu?"
"Manis, kau itu manis."
Tuhan tolong bantu Jihoon mengontrol wajahnya agar tidak memerah
Soonyoung membawa tubuh Jihoon tidur diatas tubuhnya—toh Jihoon sangat ringan dan menggemaskan, Soonyoung mana keberatan ditimpah mahluk seperti itu. Jihoon masih saja malu sehingga ia enggan menatap mata Soonyoung. Jihoon malah menyembunyikan wajahnya itu dileher kiri Soonyoung. Deruan nafasnya bisa terasa di kulit Soonyoung dan itu tentu saja bukan pertanda baik.
"Sayang jangan disitu" Itu Ucap Soonyoung mencoba mencegah Jihoon
"Tidak mau Soonyoung disini nyaman."
Ucapan Jihoon tadi dibarengi dengan kegiatan menciumi kecil leher soonyoung. Bibir kecil itu sibuk menciumi setiap inchi leher soonyoung bahkan sesekali menjilatinya. Jihoon mungkin sudah gila tapi percayalah, ini semua hanyalah 'hukuman' yang sudah dirancang Jihoon sejak tadi pagi. Bagaimanapun juga Soonyoung sudah melanggar janji dan mahluk itu tetap harus dihukum.
"Jihoon, kau tahu kalau aku ini sedang sakit 'kan?"
"Tahu sekali."
"Jadi apa kau mau kubuat 'sakit' juga?"
Sakit dibawah sana sampai tidak bisa jalan, sebenarnya Jihoon tidak menolak.
"aku tidak akan sakit karena aku tidak lemah sepertimu?"
Soonyoung sukses dibuat tertawa
Iman Soonyoung seperti sedang diuji oleh kadar hormon yang sudah cukup lama tidak muncul. Terakhir kali hormone ini muncul adalah dua bulan yang lalu ketika Soonyoung tertangkap basah Jihoon sedang menonton film biru. Pada saat itu Jihoon pasrah saja dijadikan alat pemuas dikarenakan ya.. ia juga tidak tega melihat Soonyoung bermain sendiri seperti tidak memiliki kekasih. Namun setelah itu mereka bertengkar (lebih tepatnya Jihoon yang mogok bicara). hubungan mereka membaik kembali setelah satu minggu, Itupun juga karena jasa Jeonghan yang menyita seluruh koleksi film Soonyoung dan menyerahkannya pada Jihoon.
Soonyoung mencuit, "aku mempelajari banyak gerakan baru dari film, mau coba?"
Jihoon yang masih sibuk menciumi langsung saja menatap Soonyoung
"Jadi kau masih menonton film2 menjijikan itu?"
"Menjijikan? Hei Jihoon kita juga sudah beberapa kali melakukannya."
Wajah Jihoon memerah, "Hei—tetapi tetap saja itu beda konteks. Kita melakukannya untuk keinginan kita sendiri sementara mereka manusia murahan melakukannya untuk mendapat uang."
Jika boleh jujur, Jihoon benci percakapan ini. Memang benar ia juga sudah pernah melakukan 'hal' yang para pemain film biru lakukan tapi tetap saja, Jihoon adalah manusia normal berharga diri tinggi. Jihoon tidak mungkin memberikan tubuhnya untuk sembarang orang seperti para manusia murahan itu. Jihoon hanya akan memberikan tubuhnya pada Soonyoung, dan sepertinya ia akan terus memberikan tubuhnya pada Soonyoung saja.
Mood Jihoon berubah sudah, inisiatif seksual yang sebelumnya Jihoon rencanakan hilang begitu saja akibat perkataan Soonyoung yang sangat menganggu untuk didengar.
Jihoon menyingkir dari tubuh Soonyoung, "Lupakan saja Kwon. Aku mau pergi spa."
Lee Jihoon benar-benar meninggalkan Kwon Soonyoung dari ranjang. Ia bergegas menelusuri barang bawaan, mengambil beberapa pakaian kemudian berganti disana. Lee Jihoon mungkin sudah gila tapi ia benar-benar berganti pakaian didepan mata kekasihnya. Soonyoung dibuat terperanjat mulut terkunci rapat. Memang sekali lagi perlu ditekankan bahwa itu bukan pertama kalinya bagi Soonyoung melihat tubuh bugil Jihoon—namun tetap saja, sensasi yang diberikan saat ini sangat berbeda.
"Lee Jihoon apa yang kau lakukan?"
"Berganti baju."
Soonyoung sedikit gemetar, "Pakai bajumu kembali sebelum aku lari menggaulimu."
Jihoon tertawa sebentar, "Lari? Hei Kwon—Untuk duduk saja kau kesulitan huh"
Soonyoung berdecak sebentar, "Kau belum mengenalku, Sayang."
"Tidak, aku sudah sangat mengenalmu."
Kwon Soonyoung menerima bahwa Lee Jihoon sudah memenangkan permainan sehingga ia memilih diam. Jihoon sudah selesai berganti dan tubuhnya tidak telanjang lagi tapi si kecil belum juga keluar dari ruangan padahal kimono mandi sudah rapih ia gunakan.
Soonyoung tidak bersuara melainkan sibuk memperhatikan Jihoon yang terdiam di sofa yang tak jauh dari ranjang. Jihoon duduk disana dengan ekspresi wajah andalannya—wajah dingin yang tak bisa dibaca. Kwon Soonyoung ingin sekali rasanya menerkam Jihoon saat itu juga tapi salahkan rasa nyeri pada seluruh tubuh yang menyebabkan ia sungkan bahkan untuk menggerakan kakinya.
"Soonyoung?"
"Ya?"
Hening sebentar
"Ayo kita coba gerakan2 baru yang kau pelajari dari film menjijikan itu."
Jihoon melemparkan sebuah kantung plastik kearah Soonyoung, Mendapati dua buah pelindung kondom rasa mangga serta cairan pelumnas ada disana.
"Kau ini benar-benar kacau, Lee Jihoon."
.
.
ENDED
Aduh gila ya aku nulis apa sih sebenarnya?! maaf ya ceritanya tidak berkonflik berat karena ya, aku rindu banget membuat cerita picisan anak2 muda. Kelanjutan dari cerita kalian imajinasikan saja sendiri HAAHAAHHA. review sangat diapresiasi, terima kasih!
5 MAY SEVENTEEN JAPAN DEBUT YEAY DONT MISS IT GUYS!
