Bittersweet Romance
Chapter 9 : Gangnam Encounter
Pairing: Soonyoung X Jihoon
!oneshoot!
Rating : T
!Read at your own risk!
.
.
"Jihoon cepat bangun, kamu ada ketemuan hari ini!"
Hari ini adalah minggu pagi cerah yang seharusnya dihabiskan dengan leyeh-leyeh di kasur sampai matahari tenggelam. Akhir pekan yang hanya datang seminggu sekali ini seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk istirahat sambil minum coklat panas-oh astaga, Jihoon sudah sangat telat!
"Sial, kenapa aku harus selalu telat sih?"
Tenang saja, kalian sedang tidak membaca ulang chapter sebelumnya. Chapter kali ini akan berbeda, hanya saja memang harus dimulai dengan hal yang sama yakni keteledoran Jihoon dengan jam tidurnya yang menyebabkan ia harus puas telat di hampir setiap pertemuan.
Jika kalian bertanya-tanya apakah si manis Jihoon kini sudah bekerja, maka jawabannya sudah. Manusia mungil itu berhasil mendapatkan pekerjaan tetap sebagai guru privat piano bagi kaum konglomerat. Pekerjaan ini ia dapat setelah hasil kerjanya di teater militer tahun lalu sukses membuat kagum semua orang. Aransemen musiknya dinikmati semua golongan, ini yang menjadikan Jihoon mampu mendapatkan sendok emas untuk bekerja dengan salah satu perusahaan musik yang memang sedang membuka pasar dengan membuka kelas untuk pemula.
"Kamu gak bosen telat mulu?"
Jihoon sungguh kelabakan and it shows,"Kalau bosen aku pasti udah berhenti, Won."
Jihoon memiliki rencana pertemuan dengan salah satu orang tua siswa yang diajarkannya. Ini akan menjadi jadwal konsultasi bulanan yang memang sudah termasuk dalam paket mengajar Jihoon sebagai guru musik.
Wonwoo melempar asal kunci mobilnya kepada manusia yang lagi sibuk dengan ikat sepatunya
Jihoon berucap sedikit tidak niat, "Thanks, Won."
Sekarang, Jihoon tidak harus meminta izin lagi kepada Wonwoo untuk meminjam mobilnya. Intensitas keterlambatan Jihoon sudah tak terhitung dalam setahun terakhir hingga Wonwoo menjadi pasrah dan dengan sudi memberikan mobilnya untuk Jihoon setiap kali bocah itu telat dan butuh alat transportasi cepat. Bagaimanapun juga, Wonwoo merupakan sahabat terbaik Jihoon dan sebaliknya. Tidak ada sahabat yang ingin melihat temannya menderita hanya dengan hal super sepele dan Wonwoo adalah salah satunya.
"Jangan lupa isi bensinnya!"
"Iya bawel sekali sih."
Jihoon cemas-cemas dingin melihat jam mobil yang sudah menunjukan pukul delapan pagi. Pertemuannya berlangsung di pusat Cheongdam dan akan dimulai setengah jam lagi.
"Ayolah, kamu pasti bisa."
Kemampuan Jihoon dalam mengendarai mobil bisa saja disandingkan dengan Sebastian Vettel si pembalap F1 terkenal-Jihoon sangat lihai dalam menyalip dan mengebut tanpa harus kehilangan fokus dengan keadaan jalan. Kemampuan berkendaranya ini tentu saja semakin membaik mengingat frekuensi bangun telatnya juga banyak sehingga ia terbilang sudah terbiasa dengan situasi menyetir ngebut.
Mungkin hanya Jihoon lah satu-satunya manusia di dunia yang mampu menempuh jarak antara Incheon-Cheongdam hanya dalam 35 menit. Ini terdengar sangat tidak maksud akal, namun nyatanya Jihoon bisa membuatnya jadi nyata!
Lihat saja sekarang, mobilnya-maksudku mobil Wonwoo sudah terparkir dengan rapi di depan halaman rumah besar siswa konglomeratnya.
"Selamat pagi, guru Jihoon. Nyonya Choi sudah menunggu anda di halaman."
Seorang pelayan menyapa Jihoon penuh senyum dan Jihoon tidak bisa untuk tidak membalas tersenyum, "Selamat pagi, baik terima kasih."
Jihoon seakan bisa bernapas bebas setelah tahu bahwa nyonya Choi tidak menyinggung perihal keterlambatannya selama sepuluh menit. Nyonya Choi memang benar seorang wanita kaya korea terbaik yang pernah Jihoon temui. Selama satu tuhan mengajar sang anak kedua, Jihoon sudah disuguhi dengan banyak kenyaman oleh wanita cantik nan tajir itu. Jihoon bahkan pernah diberikan secara cuma-cuma dua tiket acara opera di Italia karena Jihoon pernah bercerita pada Nyonya Choi bahwa ia ingin sekali mencari referensi musik baru lewat penampilan opera asli. Tapi Jihoon tentu saja menolak karena ia punya harga diri tinggi.
"Sekali lagi aku harus berterima kasih padamu, guru Jihoon. Karena jasamu, Hansol berhasil mendapat juara pertama di kompetisi tingkat kota Seoul kemarin."
Jihoon hanya bisa tersenyum penuh gengsi, "Tidak masalah, Nyonya. Hansol memang sejak awal sudah berbakat, aku hanya sedikit membantunya saja. Semua kemampuan hebat itu datang dari diri Hansol sendiri."
Ini yang nyonya Choi suka dari Jihoon. Wanita tajir itu sangat menyukai bagaimana cara Jihoon berbicara. Pria manis itu memiliki image menggemaskan, sopan, dan sungguh pintar di mata nyonya Choi.
"Guru Jihoon, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Jihoon jadi bertanya-tanya, "Ada apa, nyonya? Apa ada yang bisa saya bantu?"
Dapat Jihoon lihat betapa manis senyum nyonya Choi terhadapnya. Wanita itu mengambil ponsel mahalnya, membuka folder dan memilih satu foto, kemudian menunjukan foto tersebut pada Jihoon
"Ini adalah anak pertamaku, kakak dari Hansol, namanya Choi Seungcheol. Kamu pasti sudah pernah melihatnya beberapa kali bukan? Dia sekarang bekerja sebagai komisaris perusahaan ayahnya. Usianya hanya berbeda setahun denganmu dan ia sangat pintar karena ia lulusan SNU."
Jihoon masih tidak mengerti mengapa nyonya itu dengan penuh semangat menjelaskan padanya serba-serbi perihal anak sulungnya
"Itu menakjubkan, nyonya Choi. Apakah anak pertama nyonya ini juga ingin belajar bermain piano?"
Nyonya Choi menggeleng hebat, "Tentu saja tidak, guru Jihoon. Aku justru ingin mengenalkanmu lebih dekat padanya karena dia tertarik padamu sejak pandangan pertama."
Apa itu?
Apa Jihoon tidak salah dengar?
Jihoon tidak tahu harus menjawab apa namun karena Nyonya Choi terlihat seakan menuntut jawaban darinya, maka Jihoon tidak bisa berkata lain selain berucap "Aku tidak mengerti, nyonya."
"Tidak masalah, guru Jihoon. Seungcheol anakku ini sering mengintip kegiatan belajarmu dengan Hansol. Awalnya ia hanya sekedar penasaran namun akhirnya ia terus terang padaku bahwa ia tertarik dan ingin mengenalmu lebih jauh."
Seungcheol? Anak sulung nyonya Choi itu sering mengamatinya?
Ah entahlah, Jihoon tidak pernah sadar akan itu. Jihoon mungkin terlalu professional sampai-sampai ia tidak sadar keadaan sekitar ketika sedang mengajar. Jihoon jadi mulai membenci sifatnya yang satu itu.
"Aha.. Begitu, nyonya?" Jihoon sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Sepertinya aku harus berterima kasih padanya karena sudah tertarik denganku."
Ada senyuman penuh bahagia di raut wajah nyonya Choi dan Jihoon tidak suka itu
"Apa kamu tidak mau bertemu dulu dengannya, guru Jihoon? Maksudku, blind date dengannya?"
Apa-apaan itu
Jihoon tidak salah dengar lagi kan?
Jihoon tidak menyangka bahwa ekspektasinya akan orang kaya ternyata meleset jauh. Selama ini dia pikir kalau orang kaya pasti punya manner-namun nyatanya ia salah besar. Manner memang tidak datang dari stratifikasi, namun dari diferensiasi sosial yang terjadi
"Mohon maaf nyonya.. saya bukan tipikal orang yang senang dijodohkan."
wajah nyonya Choi malah berubah jadi makin menyebalkan, "Eh tapi ini kan beda, Jihoon. Anakku ini pengusaha kaya mapan… apa kamu tidak mau dengan seseorang yang sudah pasti masa depannya?"
Jihoon menyesal sudah menerima tawaran mengajar keluarga ini tahun lalu
Pria mungil itu kemudian tersenyum, meraih salah satu tangan putih porselen nyonya Choi "Maafkan saya, nyonya, tapi saya tidak pernah tertarik dengan orang kaya."
Kemudian setelahnya Jihoon pergi meninggalkan halaman rumah dengan wajah nyonya Choi yang flustered karena tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari baby baby squishy calon-maksudmu mantan calon menantunya.
Jihoon mengendarai kembali mobil mercy second Wonwoo dengan perasaan hati yang tidak seindah ketika ia tiba di rumah Choi dan keluarga. Jihoon tidak menyangka bakal diperlakukan seperti itu-maksudnya, Jihoon itukan bukan boneka! masa iya dia tiba-tiba aja dijodohkan sama orang yang tidak dikenal? Dan yang menjodohkan juga bukan orang tua melainkan klien muridnya? Lagipula, cupu sekali si Choi Seungcheol itu. Masa iya dia suka pada Jihoon tapi tidak berani terus terang padanya dan malah menggunakan jalur orang tua supaya terhindar dari lampu merah?
"Laki-laki macam apa itu, huh!"
Kejadian barusan membuat mood Jihoon jadi berantakan. Jihoon sadar bahwa ia harus segera mengembalikan mobil ini sebab Wonwoo ada jadwal meeting pukul tiga namun entah mengapa Jihoon jadi kesetanan dan menyetir mobil tersebut berbalik arah ke arah berlawan rumah.
To : Mingyu si jakung tidak tahu malu
From : Jihoon
Mingyu, aku ada hal penting mendadak sehingga tidak bisa mengembalikan mobil Wonwoo tepat waktu. Tolong jemput dia ya? dia ada meeting jam dua, plis.
Pertemanan Jihoon dan Wonwoo sudah berada di fase di mana Jihoon juga sudah mengenal baik seluruh kerabat maupun teman Wonwoo-Mingyu salah satu contohnya. Mingyu merupakan si jakung mantan klien nya pada saat teater musikal tahun lalu. Jihoon tidak menyangka bahwa klien nya itu merupakan teman lama dan mantan pacar Wonwoo saat smp. Jihoon masih ingat betapa terkejutnya Wonwoo ketika ia membawa Mingyu kerumah untuk membicarakan masalah aransemen lagu. Wonwoo awkward dan Mingyu kesenengan, duh sungguh situasi lucu yang tidak akan pernah Jihoon lupakan.
Jihoon tersenyum manis ketika mendapatkan balasan Ya dari Mingyu. Asik, berarti dia bisa pergi kerayapan dulu untuk menghilangkan mood jeleknya.
Jihoon membawa mobilnya terus menuju ke arah Gangnam, tepatnya ke arah sebuah dance academy yang letaknya tidak jauh dari restoran tteokbokki legendaris kesukaannya. Tapi tidak-Jihoon tidak mampir untuk membeli tteokbokki melainkan ia ingin mengunjungi dance academy yang tadi sudah kita bahas.
Jihoon memasuki dance academy tersebut. Hari ini adalah hari sabtu sehingga academy ini memang sedang ramai. Banyak sekali foreigner bertebaran di setiap sisi academy karena memang tempat ini sangat terkenal di dunia seni tari modern sehingga banyak turis berbondong-bondong datang untuk belajar menari di sini.
"Kelas beginner.. ah, itu dia."
Jihoon sempat pusing sendiri mencari ruangan kelas beginner namun ternyata ruangan itu tepat berada di depannya dengan pintu bening dan kusen putih menghiasi. Jihoon kemudian membuka pintu tersebut dan ia langsung disuguhi pemandangan belasan orang sedang fokus berlatih menari dengan satu orang trainer di paling depan.
"move your knees across your leg, gerakan lutut kalian menjauhi kaki kalian!"
Jihoon hanya terduduk di pojokan ruangan sembari memainkan ponselnya, merekam seluruh kegiatan yang ada di hadapannya. Ruangan ini sungguhlah besar sampai-sampai tidak ada satupun yang sadar akan kehadirannya di pojok ruangan.
"tighten your chest then open as if you blowing it, tarik rapat dada kalian kemudian lepas seperti meniup balon! 1! 2! 3!"
Jihoon menikmati situasi dihadapannya. Ia bahkan membuka sebuah snack kering yang ia simpan kemudian memakannya sembari menonton orang yang masih sibuk menari dan sang trainer yang sangat fokus mengajar sampai tidak sadar ada seorang penyusup bernama Jihoon yang sudah memasuki kelasnya.
Sebuah bel kemudian berbunyi, menandakan kelas tari sudah berakhir.
Sang trainer yang mendengar langsung berbalik menghadap semua muridnya, "Alright, terima kasih untuk hari ini kita bertemu di perte-"
ucapan sang trainer terpotong begitu saja ketika matanya beradu tatap dengan Jihoon yang sedang duduk di pojok ruangan sambil melambai-lambaikan tangan
Trainer tersebut tersenyum, "Kita ketemu minggu depan, silahkan bubar."
Murid-murid yang sudah penuh keringat itu mulai keluar dari ruangan. Jihoon dan sang trainer tetap berada di posisi mereka dengan tatapan yang saling tidak bisa dilepaskan, terus seperti itu hingga murid terakhir akhirnya pamit keluar pintu
"Sudah berapa lama kamu duduk di situ?"
Jihoon tidak tertarik dengan pertanyaan sang trainer "Bahasa inggrismu sudah sangat membaik ya," ia memilih untuk mengeluarkan opini yang membuat sang trainer makin tersenyum tampan
"Kamu diam disitu, aku mandi dulu."
Sang trainer memang harus pergi mandi dahulu-itu merupakan syarat yang diberikan Jihoon jika sang trainer ingin mendekatinya setiap selesai sesi kelas-Jihoon tentu saja tidak ingin tubuhnya terkontaminasi bau keringat!
Jihoon sibuk memainkan ponselnya sampai akhirnya si trainer tiba di hadapannya dengan penampilan semi formal dengan rambut yang di pomade ke belakang alias tampan sekali ya tuhan
"Hai, tampan."
Jihoon bangkit dari duduknya dan dengan senang hati membalas sebuah ciuman dari sang trainer tepat di bibirnya.
"Tumben kamu main kemari, mau ngapain?"
"Mood ku lagi gak bagus, pak polisi."
Jihoon menggandeng tangan sang trainer dan membawanya pergi keluar academy, "Aku mau jalan-jalan sama kamu, mungkin saja dengan begitu mood ku bisa balik lagi."
Sang trainer terlihat tertarik dengan permintaan Jihoon barusan, "Jadi, kamu mau melepas stress mu denganku?"
Jihoon yang mendengarnya langsung bete alias gondok banget
"Tidak usah diperjelas, Kwon Soonyoung."
Kwon Soonyoung tahu persis bahwa maksud dari melepas stress bersamanya adalah pergi ke apartemen nya, makan ramen bersama, kemudian diakhiri dengan berhubungan badan yang super panas sampai pagi hari tiba.
.
Hai hai!
Astaga akhirnya update juga ini cerita, seneng banget aku akhirnya ada draft yang bisa dipublish setelah berbulan2 ditumpuk di google docs lol. Makasih udah mau nunggu.
