State of Grace
Story by Hera Jung (B-Breath)
Byun Baekhyun, Park Chanyeol,
Oh Sehun, Lalisa and OC's
ChanBaek GS
Mature, Sex without plot (Warn!)
Genre : Western, Romance
Summary : "I have loved you in the first time I saw you come in. In this state of grace, is the spark that we find, with you and this brilliant wild love. I let you to guided me and love me the way I am, both through the whole world."
Note : Work hard and put up wet. If you don't like it, hit the back button. Read or leave it, that's your choice.
.
.
.
Aku berdiri di tepi lampu jalan, flat shoes-ku menendang-nendang ke arah ban mobilku yang kempes. Dan aku tahu ini sama sekali tak membuatnya membaik.
Sial.
Lembur yang melelahkan membuatku pulang lebih lambat. Lalu sekarang banku kempes, nyaris pecah, membuatnya tak bisa membawaku pulang ke rumahku yang jaraknya puluhan kilometer dari sini. Membatalkan rencanaku yang ingin mengangkut barangku ke apartemen baru yang lebih dekat dari tempat kerja.
Aku telah tinggal di California sejak kecil, dan sulit untuk meninggalkan kota ini. Matahari bersinar hampir setiap hari di tempat ini. Tapi aku bekerja di sebuah perusahaan provider di pusat kota Seattle yang membuatku membutuhkan waktu banyak untuk di jalan.
Selama dua tahun bekerja di sana, aku jarang terlambat. Tapi tetap saja, aku pernah. Dan aku membenci sebuah keterlambatan. Terlebih seperti sekarang, ya tuhan, di tengah malam seperti ini dan jalanan terlihat sepi dan tak ramah.
Bagus sekali, Byun. Bila ada pembunuh gila maka mayatmu akan digulingkan ke sungai dan tak ada orang yang tahu karena mobilmu dibawa. Pikirku sinis.
Aku berdiri di tepi lampu jalan, mengacak rambut cokelatku hingga kusut dan hampir menangis. Aku melirik ponselku, sudah dua jam aku di sini dan rasanya sia-sia saja berdiam diri menantikan bantuan di tengah malam seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk menelepon salah satu temanku untuk membantu… yeah, ini akan merepotkan, tapi aku tak punya pilihan lain selain mengganggu malam nikmatnya.
Apa yang muncul di kepalaku adalah Oh Sehun, teman tidurku. Dan satu-satunya teman yang aku miliki. Umm.. kami telah mengenal sejak bangku sekolah dan suka menggila bersama. Ia tak suka menjalin komitmen dan berjiwa bebas sepeti diriku. Jadi itu tak masalah karena dia juga lajang.
Suara ketukan flat shoes-ku pada aspal terdengar begitu mendominasi selain suara angin. Aku menggigit bibir, gugup, takut, dan lapar. Terus melafalkan "ayolah, sial, kumohon," sementara dering terus berbunyi.
"Halo, Baekhyun?" Suara Sehun yang serak membuatku terlonjak senang.
"Oh Sehun! Sial, untunglah kau menjawab telponku, a-aku… " nadaku tiba-tiba merendah dan terhenti bahkan sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku pada Sehun. Sebuah mobil mengkilap berhenti di depan mobilku dan seorang pria tinggi dengan rambut legam menghampiriku. Mata gelapnya melirik antara diriku dan mobilku bergantian. Sebelum aku membeku karena mendengar suaranya.
"Apa ini mobilmu?" Ia bertanya. Pelan. Suaranya membuatku menggigit bibir. Aku mengangguk cepat, mengabaikan suara Sehun yang mengeras di ponsel. Menanyakan keterdiamanku.
"Mogok?"
Sial. Suaranya sangat dalam dan seksi. Tanpa sadar aku merapatkan kakiku. Dan mengangguk lagi.
Oh. Siapa pria hot ini. Dia melihatku dengan mata gelapnya yang lembut. Bertabrakan dengan mataku dan ia langsung membuang wajahnya. Aku tak tahu kenapa.
Aku melihat dia mengangguk kecil dan menyentuh dagunya. Sedikit menunduk melihat mobilku dan matanya menyala.
Ia menatapku. "Banmu pecah." Ia berkata sesuatu yang sudah kuketahui, dan aku mengangguk lagi. Aku tak tahu apakah aku bisa menemukan suaraku di depan pria terseksi yang pernah aku temui seumur hidupku ini.
Aku mematikan ponselku karena merasa tak membutuhkan pertolongan Sehun lagi lalu mengubahnya menjadi mode pesawat sebelum aku ikut berdiri di dekatnya. Ia terlihat baik, aman, dan santun. Dan anehnya ia membuatku percaya padanya begitu saja.
Aroma maskulinnya seketika tercium olehku. Dia berbau seperti mint dan charcoal dan cokelat putih… Membuatku menggigit bibir. Aku tak boleh terpesona disituasi seperti ini. Tapi aku juga tak bisa mencegah saat mataku jatuh pada pahanya dan berhenti pada sebuah tonjolan di sana. Dan aku langsung memerah.
Brengsek, itu ereksinya.
Sadarlah Byun Baekhyun!
Ugh. Dia mungkin hanyalah malaikat penolongmu, atau dewa seks yang sedang berbaik hati pada gadis yang nyaris putus asa di tepi jalan. Atau keduanya.
Ya. Dia memang terlihat seperti dewa seks. Tak sadar menyeringai. Apa?
Aku menggeleng sebelum melihatnya yang juga menatapku heran. Mungkin ia berpikir aku gila. Pipiku memerah malu untuk alasan konyol. Untungnya ia tak menanyakan aku kenapa, mungkin ia tahu jika aku memelototi selangkangannya hingga secara refleks ia menarik kausnya ke bawah dan aku menjadi malu setengah mati.
Ya Tuhan, aku gadis yang sudah berpikiran kotor di pertemuan pertama. Tidak keren sekali. Aku berpikir kemungkinan yang membuatnya geli padaku tapi aku tak peduli. Salah dia karena terlalu seksi.
"Sepertinya kita tak akan bisa memperbaikinya sekarang karena aku tak membawa alat dan ban cadangan, bagaimana jika aku saja yang mengantarmu pulang? Aku bisa membantumu membawanya ke bengkel besok." Tawarnya, tak terdengar seperti penculik berkedok kedermawanan atau pembunuh berantai berdarah dingin. Tidak. Ia terasa tulus dan dapat di percaya.
Tapi aku terkejut. Rumahku jauh. Aku tak yakin akan membiarkan orang asing mengantarku sejauh itu. Tapi di sinilah aku sekarang, tak punya pilihan tapi dengan bodohnya tetap berkilah.
"Oh kau tak perlu melakukannya. Aku bisa menunggu temanku…" tiba-tiba saja aku menyesal karena telah memutus panggilan dengan Sehun. Ia pasti menggerutu karena ketidakjelasanku ini. Mungkin aku butuh dia sekarang. Ataukah sebenarnya yang paling kubutuhkan adalah air? Tenggorokanku kering.
Lalu aku mematikan mode pesawat lagi. Membuat dewi batinku menyeringai padaku.
Pria di depanku kembali bicara.
"Lagipula ini sudah sangat larut, aku tak bisa membiarkan seorang gadis cantik berdiri di tepi jalan dengan wajah frustasi. Kau pasti akan bekerja sangat pagi besok." Tukasnya dengan senyuman sambil melirik pakaian kantorku yang masih tertata rapi, dan aku tak bisa memotongnya karena aku setuju. Lagipula hanya dia yang berada di sini dan dia benar.
"Apakah tidak apa-apa?"
"Tentu. Kita bisa menjemput mobilmu kembali besok,"
"Tidakkah dia akan diderek oleh petugas keamanan bahkan sebelum kita sampai?" bisikku ragu.
Ia melirik mobil merah mengkilapku. Alisnya bertaut dalam.
"Sial. Kau benar." Ia menggigit bibirnya. Berpikir. "Lexus bagus seperti ini kalau di derek akan memerlukan biaya yang sangat besar untuk menebusnya."
Aku meringis. Sedikit ngeri mendengar bahwa mobilku akan bernasib mengenaskan. Mobil adalah belanja termahalku selain apartemen. Aku membelinya dengan tabungan setelah berhemat selama bertahun-tahun!
Dia berjalan ke arah tubuh belakang mobilku dan menunduk. Meletakkan tangannya diantara badan mobil dan menatapku.
"Apakah kau bisa membantuku mendorongnya ke tempat yang lebih aman?"
"Tempat lebih aman?"
"Mungkin kita bisa memarkirkan mobilmu," ia menoleh ke kiri dan kanan lalu menunjuk lahan kosong di samping gudang besar, "disana. Hanya malam ini."
Tempat itu terlihat luas dan aman. Terlindungi oleh drum besar dan pohon rimbun. Para petugas akan berpikir mobilku ada hubungannya dengan petugas gudang, jadi aku tak perlu khawatir.
"Baiklah." Aku berpindah di sebelahnya, menaruh telapak tanganku pada mobil dan bersyukur karena aku mengenakan flat shoes hari ini.
Dia menggulung kemeja putihnya ke siku, aku menitikkan mataku pada tato di lengannya. Dia punya tiga tato di lengan kiri dan satu tato panjang yang terjalin dari sisi kanan lengannya dan menghilang dari balik kemejanya. Aku tersenyum saat ia melihatku, otomatis bertingkah seakan yang aku pandang adalah lampu mobilku.
Aku berpindah ke sebelahnya. Menit selanjutnya kami mendorong mobilku bersamanya menuju sebuah lahan tak jauh di seberang jalan.
Ini tak terlalu berat karena ia begitu kuat. Aku mendorongnya sekuat tenaga tapi ini tak membuatku lelah. Aku menikmati waktuku mendorong mobil untuk pertama kalinya dan tertawa saat ia berbicara lelucon tentang keadaan kami.
"Kau akan duduk manis di mobilku setelah ini dan pulang ke rumah lalu tidur dengan nyenyak."
Bagaimana aku bisa menolak? Dan akhirnya aku berada di dalam mobilnya yang nyaman, gelap namun menenangkan. Suara halus Mercedesnya membuatku lupa dengan siapa dan dimana aku sekarang. Ia mempunyai kekuatan untuk membuat orang lain error karena berhadapan dengannya. Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan tak pernah bertemu dengan orang seperti dia sebelumnya. Aku sedikit heran bagaimana rupa ayah dan ibunya yang luar biasa itu.
Tapi aku tak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Aku terdengar sangat terobsesi hingga aku mencibir pada diriku sendiri.
Mohon kendalikan dirimu dan jangan berbuat hal yang memalukan dirimu sendiri di depan pria terseksi di planet bumi ini, Byun. Tak ada penis untuk malam ini, kau akan bekerja keras besok dan pindah ke tempat tinggal baru, kau tak akan melakukan seks kilat lalu menyesal kemudian. Dewi batinku memarahiku. Aku melotot padanya tak setuju tapi aku tak membantah. Mungkin aku memang sudah bertingkah memalukan secara tak sadar. Dan aku malu untuk mengingatnya.
Tapi seks kilat dingan pria di sampingku ini sama sekali bukan ide buruk. Meski aku tahu aku tak akan melakukannya kini. Dewi batinku benar, aku perlu banyak energi untuk besok. Meski besok weekend. Aku membenci autopilot terkecuali dalam hal berhubungan intim yang terencana. Yeah, spontanitas itu diperlukan untuk kepuasan, bukan?
Chanyeol berdeham dan membuatku tersentak keluar dari dunia pikiranku. Dia menatapku geli dengan senyumnya yang manis.
"Maaf membuatmu kaget, apa yang sedang kau pikirkan? Terkadang kau terlihat bahagia dengan lamunanmu."
Aku memerah malu. "Bukan apa-apa." Kataku cepat.
"Apa kau tak ingin berbagi denganku? Aku adalah pendengar yang baik." Ia menaikkan alis. Aku mengerjab.
Berbagi pikiran kotorku tentang dirinya sendiri? Yang benar saja. Mungkin memberitahunya apa yang sedang kupikirkan adalah hal terakhir dari sekian banyak hal yang akan kulakukan. Aku tak ingin menjadi kepiting rebus yang mencapit dirinya sendiri.
"Kurasa aku lebih nyaman menyimpannya sendiri." Sahutku kemudian. Memberinya senyum semanis yang aku bisa sebagai tanda tebusan dosaku karena memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya. Ia menyeringai. Hanya menyeringai, tapi ia sangat seksi dengan lesung pipinya.
"Baiklah. Dimana tempat tinggalmu?" tanyanya mengalihkan topik. Aku memberitahunya dengan pelan, takut melihat reaksinya setelah tahu aku tinggal sangat jauh dari sini. Aku sedikit takut ia berubah pikiran dan mengurungkan niat malaikatnya.
Tapi diluar dugaan, ia terlihat tak keberatan. Mobilnya meluncur dengan elegan membelah jalan raya yang sepi dan basah. Aku nyaris lupa menanyai siapa namanya setelah puluhan menit berlalu.
"Siapa namamu?" bisikku.
"Chanyeol. Park Chanyeol." Balasnya cepat.
Nama yang unik dan bagus. Sesuai dengan dirinya.
Lalu Chanyeol menatapku sambil tersenyum simpul. Senyumannya membuatku menahan nafas. Sial. Siapa sebenarnya pria dengan pesonanya yang membuatku kacau ini? Aku ragu dia manusia apa bukan.
"Dan namamu?" tanyanya kemudian.
"Byun Baekhyun." Balasku, tersenyum masam. Aku melihat matanya melebar, sedetik kemudian ia terlihat menahannya. Aku mengernyit. Apa ada yang salah dengan mukaku?
"Oh jadi kau si mantan model Victoria Secret itu, bukankah benar?"
Oh?
Kini aku yang terkejut.
"Ya." Suaraku serak. "Bagaimana kau tahu?"
"Percayalah, sayang. Para pria memperhatikan Victoria Secret. Termasuk aku."
Oh Tuhan. Dia nakal.
Wajahku memerah. Ini seperti sebuah pengakuan konspirasi meski tak mengherankan. Ia berbicara seakan semua pria di dunia menyukai Victoria Secret meski sekian persen lainnya tak peduli, sedangkan yang lainnya lagi tak mau tahu dan menghindari lalu sebagiannya lagi adalah pria gay yang tak tertarik pada wanita. Tapi aku tak protes padanya, omongannya hanya bertitik fokus satu—yaitu pria yang tertarik. Yeah. Aku mengerti itu. Ia tak mungkin membawa perbedaan lain yang akan memicu perpanjangan pendapat. Tentu, tak semua orang menyukai permodelan kau tahu.
Keadaan kembali hening karena aku memutuskan untuk tak membahasnya lagi. Itu adalah pekerjaanku beberapa tahun silam sebelum memutuskan mengakhiri kontrak dan menjadi orang biasa. Aku tak suka kehidupan glamor dan pekerjaan yang menantang. Aku menyukai seni dan model, fashion dan make up, tapi tidak dengan keadaan sebenarnya. Kebanyakan orang berkata aku cocok dan luar biasa dengan pekerjaan itu, tapi itu sama sekali tak membantuku. Aku hanyalah sesimpel membenci perhatian orang-orang dan bisik-bisik mereka.
Ada orang yang sangat cocok dan bagus di dunia permodelan, dan orang itu bukanlah aku.
Dalam konotasi apapun, I hate people. Terlebih saat berjalan di catwalk melalui ratusan para undangan dan orang-orang yang berbisik-bisik.
Akhirnya ketidaknyamananku itulah yang membuatku memilih berhenti menjadi model. Aku tak bisa mengatasi sikap menyebalkan orang yang blak-blakan. Aku tak punya banyak stok kesabaran. Dan inilah kehidupan yang aku pilih. Menjadi orang biasa dan bekerja di kantor yang kucintai.
"Rumahmu jauh juga, apa kau selalu berkendara sendiri?"
Aku menggigit bibir. "Um, yeah…" gumamku. Ia mengangguk dua kali. Chanyeol cukup menyenangkan, tidak, dia sangat menyenangkan. Karena setelahnya kami mengobrol bagai teman lama.
Chanyeol sangat baik, sopan dan penuh wibawa. Aku mendengarkan ia berbicara seakan tengah menyeruput kopi dengan citarasa milky-way. Sial. Aku tahu ini berlebihan tapi memang seperti itu. Aku tak ingin pembicaraannya habis seperti aku tak ingin kopiku habis.
"Apa kau sudah makan, Baekhyun?"
Aku memiringkan kepala. Makan? Bagaimana dia bisa berpikir menanyakan hal itu diwaktu seperti ini?
"Belum." Jawabku jujur. "Aku hanya minum satu gelas kopi untuk terjaga karena aku harus mengangkut barangku ke apartemen baru malam ini, rencananya." Aku meringis.
"Oh? Kemana kau akan pindah?"
"Park Estate, bangunan itu dekat dengan kantorku. Hanya lima menit berjalan kaki." Aku mengangkat bahu acuh. Ia menaikkan alisnya senang.
Kenapa dia terlihat senang akan itu? Aku tak tahu.
"Apakah kau akan percaya jika kukatakan sesuatu seperti siapa yang mempunyai kepemilikan bangunan dan seluruh sahamnya?"
Aku mengernyit. Tidak. Aku tidak peduli.
"Um, aku tak kenal siapa dia. Jadi kurasa tidak."
Bahunya merosot. Aku semakin heran. Apakah aku menyakitinya? Kurasa aku tak melakukan apapun.
"Sayang sekali karena orang itu duduk di sebelahmu sekarang."
Kini aku melongo. Apa katanya?
"Kau adalah… pemiliknya?"
Dilihat dari penampilannya, mobilnya dan astaga. Park Chanyeol. Park Estate. Rasa sumringahnya.
Seketika aku merasa bodoh. Tentu saja. Aku telah bertingkah tak peduli dan tak sopan pada si pemilik tempat tinggal baruku.
"Ya, begitulah kira-kira."
"Err—maaf, aku tak mengetahuinya. Maksudku, aku tak berpikir hal seperti itu penting bila aku tak kenal orangnya. Ternyata itu adalah kau."
"Dan apa sekarang itu penting?" tanyanya tersenyum.
Ya.
"Mungkin." Aku menyunggingkan senyum.
"Jadi, apakah kau ingin makan?"
Aku terkejut. Baru saja bertemu dengan pria ini, dia telah membuatku terkejut berkali-kali. Mungkin jika berlama-lama bersamanya, aku bisa terkena serangan jantung.
"Ini pukul… dua lewat empat puluh tujuh." Kataku setelah melihat iPhoneku dan meringis saat melihat ada notifikasi tiga pesan dari Sehun dan satu pesan dari temanku yang lain, Courtney. Mereka mungkin bertanya kenapa aku belum pulang karena kami bertetangga. Mereka tentu tak melihat mobilku di pekarangan ditambah Sehun yang tadi kuhubungi tanpa kejelasan. Tiba-tiba rasa bersalahku semakin besar. Tapi aku bersyukur Lisa, sahabatku, yang tinggal disebelah rumahku tak menghubungiku.
Dia bisa menjadi sangat cerewet dan kurasa ia sudah tidur. Dan mengenai Courtney, dia teman baik lain yang tinggal di depan rumahku, kami satu kantor, satu alasan yang membuat kami dekat. Tapi aku tak tahu apa yang membuatnya menanyai apakah aku baik-baik saja selarut ini. Ia bahkan tak pernah berbicara dengan Sehun.
"O'Malley kan buka 24 jam." Ucap Chanyeol tiba-tiba. Ia melirikku yang menampilkan raut cemas. "Oh, apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Um, yeah, aku baru memeriksa kembali ponselku dan sepertinya temanku cemas tentang dimana aku."
Chanyeol menarik nafasnya dengan tenang. "Kau bisa mengatakan kepada mereka bahwa kau tengah bersama pria tampan yang akan mengantarkanmu pulang setelah perutmu terisi." Godanya.
Astaga. Aku mengerjab cepat, bulu mataku yang panjang dan tebal membantuku melindungi binar jenaka mataku. Aku tak menanggapi Chanyeol tapi dia tahu karena aku kini memang benar-benar mengirimi Courtney dan Sehun pesan seperti yang dia katakan.
Setelah memastikan pesan terkirim, aku melihat ke depan dan mobil berhenti di depan O'Malley.
Saat kami turun, angin dingin dengan tajam menusukku hingga ke tulang. Aku merapatkan blazer kerjaku dan melirik Chanyeol yang sedikit bergetar. Dia hanya mengenakan kemeja dan kami benar-benar terlihat seperti bos dan karyawan yang baru pulang lembur dan kelaparan.
Kami masuk ke dalam dengan terkikik geli. Pelayan menyambut kami, wajah letih dan lesunya langsung sumringah. Aku memaklumi karena shift kerjanya yang tak bisa membuatnya tidur. Kurang tidur bahkan bisa membuatku seperti zombie. Tapi disinilah aku kini, terlihat segar di samping pria tampan yang seksi.
Pelayan itu memperkenalkan dirinya sebagai Tessa dan membawa kami ke sebuah bilik dengan cahaya remang, di sini hangat karena mereka memiliki penghangat ruangan. Di sini benar-benar sepi, hanya kami pelanggannya saat ini.
Chanyeol duduk di depanku dan ia menggulung lengan kemejanya saat dia membolak-balik buku menu.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda berdua?" tanya Tessa ramah.
Chanyeol melirik kearahku. "Kau ingin makan apa, Baekhyun?"
Perlakuannya membuatku teringat akan kencan pertamaku dengan satu-satunya mantan yang kumiliki, Leo. Tapi aku segera membuang jauh-jauh pikiran nostalgiaku dan berpaling ke Tessa yang masih menunggu dengan sabar. Gadis ini benar-benar manis, jika aku adalah pria, aku pasti jatuh hati padanya.
Aku memesan cabora dan acar tanpa cuka. Chanyeol memesan roti isi kalkun dan sebuah dessert dengan buah blueberry. Aku juga memesan cheesecake strawberry dan melihat Chanyeol tengah memandangku jenaka.
"Apa?" tanyaku heran.
Ia terkekeh dan menggeleng. "Ternyata kita sama-sama pecinta berry."
Aku menaikkan alisku, sedetik kemudian aku tersenyum. "Kau benar."
Kami tak perlu appetizer karena kami kelaparan. Aku benar-benar baru menyadari bahwa aku sangat lapar karena aku hanya makan pada istirahat siang.
Saat Tessa menawarkan minuman, Chanyeol segera memotong ucapannya, "Apakah kau punya Jack Daniel's?" tanyanya.
"Ada." Balasnya. Aku melototi Chanyeol.
"Apa kau gila? Kau akan melakukan perjalanan panjang." Kataku, ia mendengus. Tapi ia setuju untuk tak memesan Whiskey. Ia memesan Margarita di atas es batu pecah dengan ekstrak limau dan sedikit garam. Aku menyeringai padanya.
Mungkin segelas Margarita bukan masalah. Aku mengatakan kepada Tessa aku ingin sesuatu yang hangat dengan madu dan dia beranjak setelah selesai mencatat.
Aku menunggu dengan menggerakkan kakiku dan Chanyeol melirikku melalui sudut matanya.
"Diluar nyaris hujan." Kataku refleks. Ia mengikutiku melihat ke luar jendela. Gerimis kian bertambah intensitas dalam tiap detik. "Aku menyesal karena mencuci mobil hari ini." Candanya. Aku tertawa tanpa bisa kutahan. Ia berhenti melamun dan tersenyum lembut padaku.
"Dimana kau bekerja, Baekhyun?"
Aku melihat tanganku seperti gadis manis dan menatapnya. Ia terkekeh karena tingkahku. Chanyeol benar-benar menyenangkan dan sopan. Tapi dia panas. Sangat sialan panas. Aku selalu merasa terbakar saat melihat mata dan senyumannya yang seksi.
"Aku bekerja di sebuah perusahaan provider sebagai bendaharawan." Jawabku singkat dan jelas. Telinganya melebar, sedetik kemudian ia mengangguk-angguk paham.
"Jadi itu sebabnya kau terlihat begitu penuh perhitungan dan berhati-hati." Simpulnya membuatku mengernyit.
"Apa kau berpikir aku seperti itu?"
"Jika dilihat dari perhitunganmu yang tidak ingin membuang waktu meski untuk istirahat, kau berniat memindahkan barang sebisamu dan memperhatikanku hati-hati sesaat aku menawarkan tumpangan. Kau pasti berpikir bahwa aku adalah pembunuh atau semacamnya." Jelasnya diakhiri dengan senyum. Aku berkedip.
Oh benarkah itu? Jadi dia menganggap pandanganku sesaat lalu adalah pandangan berhati-hati dan berpikir dengan matang sebelum menerima. Meski kenyataannya aku tengah memikirkan hal yang tidak-tidak seperti betapa gagahnya dia bahkan menebak seberapa besar kejantanannya.
Sial. Aku sangat cabul. Tapi Ayolah, dia Park Chanyeol…
Aku menahan tawaku hingga wajahku memerah. Ia terlihat bingung tapi aku hanya mengangkat bahu.
Kemudian pesanan kami datang. Semuanya masih hangat cenderung panas tapi aku iri dengan Chanyeol yang meminum Margarita-nya sambil menggodaku. Aku cemberut, aku sangat ingin minum alkohol tapi ini sudah sangat larut dan aku tak mau menggila malam ini. Dan ia menepati janjinya untuk hanya memesan satu gelas alkohol.
Tessa membawakanku teh chamomile dengan madu yang mengepul dan aku baru tahu O'Malley juga punya menu seperti ini. Ini membuatku hangat dan tenang.
Aku melihat Chanyeol yang membuang cabai di piringnya dan aku mengernyit. Aku juga baru tahu roti isi kalkun O'Malley ada banyak cabai iris. Aku tak pernah memesan menu itu sebelumnya.
"So, one day I ate a chili and dead once." Adunya sambil memotong roti dengan pisaunya dengan cemberut.
"Oh." Aku meliriknya geli, sedetik kemudian tertawa dengan keras. Dia punya selera humor yang bagus tapi aku juga prihatin membayangkannya tersiksa setelah memakan makanan pedas.
"Jadi kenapa kau tak berkata pada Tessa bahwa kau memesan tanpa cabai?"
"Sebenarnya dengan cabai ini rasanya menjadi jauh lebih nikmat tapi aku tak bisa makan pedas. Tapi tak kupungkiri bahwa cita rasa cabai yang telah tercampur sebelumnya membuatnya lebih baik daripada tidak dicampurkan cabai sebelumnya." Jelasnya kemudian menyuap sepotong roti dan daging.
Aku tersenyum melihatnya. "Dan aku adalah seorang penggila makanan pedas." Kataku memberitahu. Matanya melebar.
"Tapi saat ini kau memesan sesuatu yang reguler."
"Tak ada canbora pedas di sini. Hanya ada keju tapi rasanya juga tak kalah baik."
"Kau menyukai keju, Baekhyun?"
"Penggemar nomor satu, sebenarnya." Aku menyengir.
"Ini sangat lucu tapi aku berani bertaruh denganmu kau akan menyukai ini. Nenekku memiliki pabrik susu dan keju di New Zealand."
Oh. Wow.
Aku menatapnya dari balik bulu mataku dan senyumku mengembang tulus. Kami menjadi begitu dekat seperti teman lama dalam semalam. Dan aku menarik kesimpulan mungkin karena aku adalah seorang yang mudah bergaul dan Chanyeol juga sama. Ia menyenangkan. Aku suka orang yang menyenangkan.
Aku berteman lama dengan Lisa karena ia adalah gadis yang menyenangkan dan berteman dengan Sehun karena ia juga menyenangkan. Tapi Chanyeol… dia sedikit berbeda.
"Bolehkah aku melihatnya suatu saat nanti?" Aku tak tahu kenapa aku mengatakannya.
"Tentu. Aku akan mengajakmu ke tanah kelahiranku suatu saat nanti."
Aku menggigit bibir menyembunyikan senyumanku. Tak tahu kenapa aku menjadi sangat senang.
Mengunjungi ke pabrik keju dan susu terbaik di dunia adalah mimpiku! Dan pria di depanku ini dengan senang hati mewujudkannya.
Oh Tuhan. Aku tak tahu lagi harus sesenang apa karena bertemu Chanyeol ditengah kesialanku.
…
"Belok kiri," panduku. Mobil Chanyeol mengikuti instruksiku. Di luar hujan deras dan jalanan sedikit sulit di lihat tapi sepertinya Chanyeol punya penglihatan yang tajam dan mungkin saja kabur yang kulihat disebabkan oleh minus mataku.
Kami memasuki area perumahan yang sepi. Aku menghitung rumah yang kami lewati dan saat tiba di rumah ke sebelas, aku menyuruh Chanyeol berhenti. Ia mengerem dengan lembut.
Memperhatikan rumahku dari balik kaca mobil. Aku dengan gugup melepaskan sabuk pengaman.
"Err—apakah kau mau masuk?"
Aku tahu ini seperti mengambil keuntungan darinya. Aku ingin dia malam ini di ranjangku tapi aku ragu apakah aku bisa memilikinya malam ini. Ini yang biasa dilakukan gadis kota, mungkin aku masuk ke dalamnya. Untuk yang pertama kali. Karena ia adalah pria ini.
Dan mother Gaia sepertinya berpihak padaku. Raungan hujan malam ini benar-benar membuat Chanyeol harus berteduh di rumahku. Lalu setelah melihatnya secara depan-depanan lagi di bawah sinar terang lampu rumahku, aku langsung mengenyahkan pikiranku. Tidak. Tidak secepat ini, Baekhyun. Chanyeol tak mudah.
Kami masuk ke dalam setelah berlari kecil. Baju kami basah dan aku terkekeh saat melihat rambutku yang lembab di cermin.
Aku mendengar suara ketukan di pintu saat aku tengah menawari Chanyeol untuk membersihkan diri. Aku melirik Chanyeol minta maaf yang hanya dibalas dengan hardikan bahu olehnya sebelum aku berlari kecil ke depan.
Sehun dengan payungnya berdiri di depanku. Ia terlihat khawatir. Saat melihatku, ia segera melemparkan payungnya dan memelukku erat. Aku terpekik kaget tapi bersyukur karena ia peduli denganku. Ia adalah teman yang baik. Bukan hanya sekedar teman tidur saat kami menggila, ia memang benar-benar seorang teman setia.
Dia bertanya keadaanku dan mobil di depan pagarku. Aku menjawab seadanya dan dia menyipit saat melihat tubuh besar Chanyeol memunggungi kami, ia masih mengenakan kemejanya yang basah dan ia terlihat tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sehun sempat berkata padaku untuk berhati-hati dan menghubunginya jika sesuatu terjadi. Tapi belum tahu jika itu adalah Chanyeol. Sehun bekerja sebagai karyawan Real Estate Chanyeol di Seattle ini, secara teknis pria itu adalah bosnya. Pekerjaannya membuatnya menjadi lebih kaya tapi Sehun begitu membumi hingga dia tak menginginkan hidup mewah dan rumah dengan lantai marmer. Dia mencintai kesederhanaan dan aku mengaguminya untuk itu. Tak banyak orang seperti dia di kota modern ini.
Aku menutup kembali pintu setelah ia pamit. Chanyeol langsung berbalik dan mengangkat alisnya.
"Siapa itu?"
Tiba-tiba aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Um, itu, teman." Jawabku jujur. Tak sepenuhnya salah kan? Aku meninggalkan embel-embel tidur karena tak ingin suasana menjadi canggung. Tapi sepertinya Chanyeol sangat paham dan ia hanya mengangguk.
Ia duduk di sofaku dan aku langsung sadar jika kami masih kedinginan dan kacau.
"Apa kau mau mandi?"
Chanyeol menatapku. "Boleh." Ia tersenyum.
Aku bergegas dan menghilang di balik tangga, aku membawa kunci dan melemparkannya padanya. Ia terlihat bingung.
"Um, aku punya satu kamar tamu. Itu di depan kamarku. Jika dari sini kau bisa berbelok ke kiri dan saat ada lukisan burung, kau belok ke kiri lagi dan di lorong itu ada dua kamar yang berdepanan. Pastikan kau memilih kamar yang terkunci dan buka dengan kunci itu." Aku memberitahunya. Tapi ia masih terlihat bingung. "Karena yang tak terkunci adalah kamarku." Lanjutku.
"Oh." Aku pikir ia masih malu dan ragu.
"Kupikir kau ingin istirahat, kau bisa melakukannya di sana. Kamar tamuku ada kamar mandi dan bath up, mungkin kau akan menyukainya." Kataku kemudian. Matanya menyala senang.
"Oh Baekhyun, kau baik sekali. Tapi apakah tak apa jika aku menginap?"
"Tentu. Kau tak akan pulang di tengah badai hujan di luar sana, bukan?"
Kabar baiknya, esok adalah akhir pekan pertama. Sabtu. Aku tak bekerja tapi tak tahu dia. Dia adalah bos, dia punya jam kerja sendiri tapi sepertinya kebanyakan bos akan datang ke kantor setidaknya sekali sehari untuk memastikan keadaan aman terkendali dan mengerjakan pekerjaannya secepat mungkin.
Tapi ia bilang padaku bila ia tak punya jadwal besok dan aku merasa senang sekaligus canggung dengan ini. Aku tak tahu apa yang terjadi dan apa yang salah denganku. Rasanya aku sudah lama sekali tak sesemangat ini.
Kami berpisah di balik pintu masing-masing setelah mengucapkan selamat malam. Aku tahu ini sedikit aneh tapi aku mungkin menyukai Chanyeol.
Setelah menutup pintu kamarku dengan suara sepelan mungkin, aku membuka seluruh pakaianku yang masih lembab dan menaruhnya di keranjang kotor. Aku masuk ke kamar mandi dan berkaca.
Wajahku merona. Aku mencuci wajahku dan menyikat gigi sambil memikirkan hari esok. Aku ada pekerjaan kecil di sore hari tapi aku punya waktu luang nyaris seharian. Mungkin besok Chanyeol akan pamit dan bergegas pulang dan itu tak sadar membuat bahuku merosot.
Sadar terlalu lama menghabiskan waktu di kamar mandi, aku segera menyelesaikan mandiku dan mengeringkan rambut dengan hair dryer. Wajahku masih merah dan aku berpikir mungkin aku butuh sesuatu yang hangat hingga aku memutuskan untuk membuat cokelat panas.
Baju handukku masih terpasang di tubuh saat aku turun ke bawah dengan sendal rumahku. Aku membuat dua gelas cokelat panas dan membawanya keatas. Aku mengetuk kamar Chanyeol dengan ragu, karena tak ada suara sama sekali, aku kembali mengetuk dengan jentikan jariku sedangkan dua tenganku memegang erat gelas keramik. Ini sedikit merepotkan, aku membenarkan jemariku dalam memeluk gagang gelas dan mulai mengetuk lagi.
Tak lama Chanyeol membuka pintu, dia terlihat segar dan… sial. Dia bertelanjang dada dan rambutnya masih sedikit basah. Ia tersenyum malu-malu padaku.
"A-ada apa, Baekhyun?" Ia sama terkejutnya denganku.
"Maaf mengganggumu, aku, um… membuatkanmu segelas cokelat panas, kupikir ini dapat membuatmu hangat dan rileks…" ia menatapku dari balik bulu matanya.
"Oh." Katanya setelah melamun. "Terimakasih. Kau baik sekali." Aku mengangguk. Itu adalah sebentuk rasa terimakasihku karena ia sudah menolongku. Kurasa ia mengerti.
Karena keadaan menjadi kian canggung, aku tahu aku harus undur diri.
"Selamat malam, Chanyeol"
"Selamat malam, Baekhyun."
Aku langsung berbalik dan membuka pintu kamarku, saat aku berbalik ia masih di sana. Memandangiku tersenyum. Aku menghempas pintuku sedikit keras dan masuk ke dalam dengan gemetar.
Chanyeol benar-benar dewa kharisma! Dia bahkan membuatku ingin kencing di celana.
Aku menaruh gelasku di atas nakas dan menghempaskan tubuh ke kasur. Tubuhku memantul kecil sebelum berhenti dengan nafas tersengal. Aku memandangi langit-langit kamar yang putih dan wajah Chanyeol muncul di benakku.
Aku mengerang dan menghempaskan bantal. Aku benar-benar ingin dia. Sial. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya.
Dia mungkin bukan tipe lelaki keranjang, aku tahu dia tak menyukai one night stand di tambah kami benar-benar baru bertemu. Tapi dia telah membuatku terintimidasi dengan auranya hingga aku mengalami frustasi seksual.
Aku membuka bathrobe dengan lembut, mungkin memuaskan diriku sendiri adalah pilihan yang tepat karena aku benar-benar terangsang setelah melihat tubuh kecokelatannya yang berotot.
Aku menemukan putingku yang mengeras dan aku memainkannya dengan telunjuk dan ibu jari. Menggigit bibir untuk meredam desahanku.
Sial. Sejak kapan masturbasi menjadi senikmat ini!
Sebelah tanganku menangkup payudaraku. Tiba-tiba bayangan tangan Chanyeol menangkupnya untukku membuatku menggelinjang. Aku mengulangi perbuatan cabulku dan meremas lembut payudaraku.
Cairanku keluar dari liangku. Aku menyelipkan jari-jariku di kewanitaanku dan menggerakkannya naik turun. Membuka bibirku yang panas, jariku menjelajah dan mengoyak klitorisku.
Aku sudah tak peduli bagaimana aku bisa mengeluarkan erangan hingga rasanya aku semakin mirip bintang porno.
Aku berguling ke samping dan mencari alat bantu seksku di nakas rahasia. Saat dildo dan alat getar klitorisku ditemukan, aku segera membuka kedua kakiku lagi. Aku baru melihat bayanganku di cermin panjang di sudut kamar dan aku tak peduli betapa berantakannya aku. Aku akan mandi lagi setelah ini.
Dildoku terasa kesat saat aku memompanya. Aku memasukkannya ke selubung basahku yang berkedut, membuat tubuhku menggelinjang. Setelah tertanam sempurna, aku mulai menggerakkannya dengan lembut. Mengoyak kewanitaanku dengan dildo kecil ini tak membuatku puas, aku butuh lebih tapi aku tak tahu apa!
Sial.
Aku meraih alat getar klitoris dan menempelkannya di daging kecilku. Remote control membuatnya bergetar seperti keinginanku. Cepat namun eksotis.
Sudah lama aku tak merasakan mainanku. Rasanya begitu asing namun nikmat. Kelapaku pusing saat gairahku berkumpul jadi satu dan aku tahu aku akan meledak.
Tanganku masih sibuk mengeluar-masukkan dildo hitam ke dalam diriku sementara aku menggigit bibir. Aku benar-benar mabuk kepayang dan tersiksa hingga tak sadar pintu kamarku terbuka lebar dengan menampilkan seorang pria seksi yang menatap terkejut ke arahku.
Ia menjatuhkan gelasnya yang berisi cokelat panas hingga membasahi kakinya.
Aku terkejut dan segera meraih selimutku, bergegas berlari kearah Chanyeol yang kepanasan.
Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan!
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Review kalo mau lanjut wkwkw
Gue mau jadi seorang yang menyebalkan, hayoloh siapa yang sebel karena TBC muncul disaat yang tak tepat?
*kabur
