Bukannya Kunikida tak tahu apa yang dibicarakan anak sekelasnya.

Hanya saja, ia berusaha tak peduli dengan apa yang mereka semua katakan dan perbuat.

Selama tak merugikan dirinya, pemuda berkacamata itu sama sekali tak peduli.

Lalu mengapa pria dengan helai rambut merah bata didepannya ini begitu peduli?

.

.

.

.


Your Care

By KunikidaDerai

Bungou Stray Dogs by Kafka Asagiri and Sango Harukawa

#Kunikida'sBirthdayWeek2020 Day 2

[Alternate Universe]

Warn : School!AU

Ide terinspirasi dari Synstropezia-san

Hope Enjoy.


.

.

.

.

"Kutu buku."

Itulah panggilan dari anak kelas untuknya. Bagaimana tidak, jika waktu istirahat tiba, Kunikida hanya berjibaku didalam perpustakaan.

Membaca buku-buku yang tersusun rapi di rak, bahkan penjaga perpustakaan pun sampai hapal kapan waktu Kunikida berkunjung.

Hal itulah yang membuat Kunikida diolok-olok temannya. Mengatai pemuda berkacamata itu kutu buku, anti sosial, dan masih banyak lagi.

Lantas, haruskah Kunikida peduli?

Ia hanya melakukan apa yang dirinya suka, apa itu salah?

Masa bodo dengan perkataan teman sekelasnya, Kunikida cukup menutup telinga dan selesai.

Tak peduli dengan teman atau sahabat, pemuda berkacamata itu tak memerlukannya. Ia hanya perlu buku-buku yang tersusun rapi di rak perpustakaan dan itu sudah cukup.

︿

Hari demi hari, bulan demi bulan, bukannya mereda, kelakuan anak-anak itu malah semakin parah.

Mejanya kadang dicoret-coret, notebooknya pernah di sembunyikan di atas pohon -ini membuat Kunikida sangat panik, ia tak ingin buku itu hilang-, sepatunya dilempar ke kolam ikan, bahkan pernah lokernya di isi oleh sampah-sampah.

Lalu Kunikida harus apa? Ia hanya tetap diam, seakan hal itu tak pernah terjadi padanya. Terus berjibaku dengan buku yang seakan menghiburnya.

Kunikida masih tak peduli, tak peduli pada dirinya yang sedari dulu kesepian.

Dirinya hanya diam, berjalan kembali kekelas saat jam istirahat telah selesai. Memegang notebook yang senantiasa dibawanya, sampai seseorang menyegatnya berhenti.

"Wah, ada megane busuk." Ucap seorang pemuda yang merupakan teman kelas Kunikida.

Fyodor Dostoveysky, mana bisa Kunikida tak tahu nama pemuda setengah rusia itu. Dialah yang paling sering menganggu Kunikida.

"Apa maumu?" Ketus Kunikida sambil menatap tajam. Memasukkan notebooknya ke dalam saku dengan perlahan.

Dengan cekatan Fyodor menahan tangan Kunikida dan merebut buku itu.

"Apa sih isi bukunya? Penasaran nih." Ucap Fyodor main-main, langsung menjauh saat Kunikida mendekat hendak menggapai bukunya.

"Fyodor!"

"Apa sih isi buku yang selalu dibawa si kutu buku ini."

Adegan kejar-kejaran pun terjadi, sepanjang koridor Kunikida mengejar Fyodor sambil berteriak.

Hingga seorang pria dengn manik biru mendengar dan melihat kejadian itu.

Fyodor pun berhenti, dan refleks Kunikida ikut berhenti.

"Kau menyukai buku ini?" Gelagat Fyodor yang terlihat seperti ingin merobek buku itu, berhasil membuat Kunikida membelalakkan mata.

"Fyodor, jangan!" Seru Kunikida hendak mendekat, tapi langkahnya terhenti saat Fyodor makin berusaha merobek bukunya.

"Kenapa? Aku baik loh, jika bukumu tak ada kau akan mendapat teman."

Krek

Suara itu keluar dari buku, jika Fyodor mengerahkan tenaga lebih, buku itu akan benar-benar robek.

Tubuh Kunikida gemetar pelan, ia tak peduli jika dirinya yang terluka, tapi jangan sampai notebook kesayangannya.

Tidak. Jangan, tidak boleh sama sekali.

"Ayo kita rooobeeek."

"Fyodor jan-"

"Hup."

Sepasang tangan besar pun menahan tangan Fyodor dari belakang, membuat Kunikida kaget sekaligus bersyukur. Sedangkan Fyodor tampak kaget dan kesal.

"Fyodor-kun, aku ingin penjelasanmu atas apa yang terjadi."

Suara yang sama-sama mereka ketahui itu membuat keduanya terperanjat dan menoleh ke asal suara.

"O-Oda-sensei?"

︿

"Oh, jadi begitu," Odasaku mengangguk pelan, menatap dua muridnya yang berada didepannya.

"Baiklah, Fyodor-kun, kemasi gudang olahraga sebagai hukumanmu."

"Apa?!"

Tentu saja Fyodor tak terima, ia langsung ingin protes jika saja tak melihat tatapan tajam yang dilayangkan oleh guru sastranya itu.

"B-baiklah." Ucapnya lalu berjalan keluar, tak lupa melirik Kunikida yang masih diam menunduk.

Saat Fyodor keluar, suasana pun hening. Kunikida merutuki kebodohannya sendiri yang dikarenakan sebuah buku. Padahal ia tak perlu begitu marah hanya karena tumpukan kertas itu.

"Ini."

Suara berat Oda pun berhasil menyadarkan Kunikida, menatap gurumya yang sedang mengembalikan notebooknya.

"Milikmu kan? Jagalah lain kali," Oda tersenyum tipis saat buku ditangannya diambil oleh Kunikida, dan mendapat gumaman terima kasih walaupun sedikit tak terdengar.

"Apa kau ada masalah dengan Fyodor-kun? Saya tak pernah melihatmu sekesal dan setakut itu."

Ucapan Oda membuat pemuda dengan rambut pirang kotor itu mengepalkan tangan, sedikit menyesal pada kelakuannya yang seharusnya bisa ia kendalikan.

"Maafkan saya karena membuat keributan, tapi saya tak bisa diam saja jika buku ini dirobekkan."

Suasana kembali hening, Kunikida masih menunduk, tak berani menatap wajah wali kelasnya itu.

"Kenapa meminta maaf? Itu wajar saja."

Kunikida seketika menatap Oda yang terlihat santai saja.

Wajar? Benarkah?

"Wajar kau marah jika barangmu akan dirusak seseorang kan?"

Kunikida mengerjab, bibirnya seakan bisu, tak tahu mau berkata apa.

"Saya tahu yang terjadi padamu, tapi maaf, saya tak berniat membantu." Ucap Oda lagi, sedangkan Kunikida masih setia pada bisu yang hinggap.

"Bangkitlah sendiri, kau pandai bela diri bukan?" Ujar Oda yang ditanggapi anggukan pelan oleh Kunikida.

"Tapi, jika aku melu-"

"Kau melakukannya untuk pembelaan diri," Oda bangkit dan mendekati Kunikida, "biarkan dia memukul terlebih dahulu, baru kau pukul dia."

Kunikida terdiam.

Padahal ia tak begitu peduli pada teman kelasnya yang melakukan hal aneh pada dirinya. Guru yang lain pun terlihat acuh pada hal itu.

Lantas, mengapa Oda peduli?

"Aku peduli, karena aku juga lelah memperhatikan muridku yang terus-menerus menerima yang tak harus ia terima." Ucap Oda seakan membaca isi pikiran Kunikida.

Kunikida terenyuh, menghela nafas dan tersenyum tipis pada gurunya itu.

"Arigatou, Oda-sensei."

Kepedulian pertama yang Kunikida terima dari orang yang bukan keluarganya, menurut Kunikida cukup indah.

Omake

"Aku juga penasaran, kenapa kau terus membawa buku itu," Oda menatap Kunikida dengan polos.

"Oh ... ini dari ... mendiang ayahku." Ucap Kunikida sambil menunduk sedikit malu.

"Ooh, pantas saja kau begitu marah. Jaga baik-baik bukumu."

Lagi-lagi Kunikida mengangguk dan tersenyum tipis.

End

Haaah ... akhirnya:')