Thank You
Naruto © Masashi Kishimoto.
ShikaTema. K+. Romance.
Sudut pandang pertama. OOC mungkin, typo juga mungkin.
.
.
.
Hal pertama yang terlintas di benakku melihatmu adalah betapa kau ... sungguh rapuh.
Sisa tanda hitam di bawah matamu yang terlihat jelas di mataku. Lekuk senyum yang sangat terkesan dipaksakan keberadaannya. Kekosongan di sepasang iris legammu...
Begitu berartikah sosok ayah bagimu? Bukannya aku ingin merendahkan sosok ayah, bukan pula ingin mengungkit masa laluku yang tak begitu menyenangkan dengan ayahku sendiri. Aku hanya ... ah, entahlah.
Aku ingin mendekat untuk mengucapkan belasungkawa, namun eksistensi beberapa orang di sekelilingmu termasuk teman-teman gadismu mengurungkanku. Mereka masih mengucapkan penghiburan dan kau masih tersenyum seraya sesekali berucap terima kasih.
Tapi kesedihan itu masih ada. Masih tercetak di wajahmu, tergurat jelas di sana. Setidaknya raut seperti itu yang terefleksi di mataku.
Aku meremas kimono hitamku tepat di dada. Aku menyukai hitam tapi kali ini aku sungguh membencinya.
Perasaan sesak apa ini? Sesak karena duka yang kautunjukkan, suasana menyedihkan yang menyeretku ikut terlarut ke dalamnya, atau ... justru cemburu melihat gadis-gadis yang terlalu lama di sisimu sekadar menunjukkan simpati dan ucapan belasungkawa?
Astaga, apa yang kupikirkan?
Barulah ketika mereka pergi—yang kurasakan nyaris seabad lamanya—kau melihatku. Seolah baru menyadari kehadiranku. Kau tersenyum; namun bukan senyum palsu yang kauumbarkan pada orang lain, melainkan ... pedih.
Aku terkesiap. Golak apa ini yang membuatku hampir kehilangan napas?
Kau mendekat. Aku tak bergerak. Toh aku tak punya alasan untuk menghindar. Dan tahu-tahu saja kau telah berdiri di hadapanku. Masih dengan senyummu itu. Senyum yang mampu menghentikan degup jantungku dalam satu ketukan melihat pekatnya duka di baliknya.
"Kau datang."
"Tentu saja," sambarku cepat, lebih cepat dari yang bisa kuduga, "punyakah aku alasan untuk tidak menghadiri pemakaman ayah dari tour guide tetapku di Konoha?"
Kurva asimetris kembali terbentuk di wajahmu. Terima kasih, Tuhan, tak Kau taburkan lagi duka di sana meski segenggam. "Tidak pernahkah ada yang memberitahumu bahwa selera humormu sungguh buruk?"
Aku ikut tersenyum. "Kau orang pertama yang akan kudengar soal betapa menyedihkannya selera humorku, Nara."
"...Shikamaru." Kau menyela cepat. Aku tertegun. "Masa bodoh dengan segala formalitas memanggil nama. Kali ini saja; panggil aku dengan nama depanku."
S-sial, bisa-bisanya kau membuatku kelabakan di saat-saat seperti ini!
"S-sejak kapan kau merasa punya kuasa untuk memerintahku, bocah?"
Astaga. Kenapa bisa-bisanya terselip gagap dalam kalimatku? Aku sungguh mengutukmu, Nara—
Kau meraih salah satu tanganku, membawanya sejajar dengan dada, meremasnya. Debar jantungku yang telah berada di atas rata-rata normal langsung melipatgandakan kecepatannya lagi tanpa bisa kucegah. Pipiku memanas.
A-a-apa-apaan ini?
Belum sempat kukumpulkan kewarasanku lagi sepenuhnya, tatapan bola hitammu mengunciku. Mengunci tatapanku. Mengunci seluruh sendiku. Melumpuhkan segala kekuatanku.
"Terima kasih kau mau datang."
Ingin kujawab dengan lontaran kalimat berbalut nada sarkastis bahwa yang kulakukan hanya formalitas belaka selaku ambassador Suna. Tapi perih yang kembali mengabut di iris jelaga milikmu membungkamku. Membuat lidahku kelu. Pada akhirnya, yang terucap dari bibirku hanya, "Aku turut berdukacita, Shikamaru."
Kali ini aku tak mengutuk refleksku mengucap nama kecilmu. Tak juga menyumpahi serak dan getar yang mengiringi kalimat singkatku.
Kau meremas tanganku, lagi. "Aku berutang budi padamu. Lagi. Terima kasih sudah menghiburku."
Dahiku berkerut, alisku nyaris tertaut. Bingung. "Aku belum melakukan apa-apa, Na—eh, errm ... Shikamaru."
Kau melempar tawa, pelan. Namun tetap saja itu tawa. Yang pertama sejak pemakaman ayahmu.
"Kedatanganmu. Kesediaanmu memanggil nama kecilku. Kehadiranmu. Semuanya lebih dari cukup bagiku."
Aku tersenyum gugup. Tanpa sadar melirik ke kanan dan kiri mencari entah apa. Aku menelan ludah—kuharap tidak terlalu keras untuk sampai ke pendengaranmu. "Aku ... tidak akan pernah keberatan. Kapan saja, Shikamaru. Kapan saja. Kau boleh memanggilku jika kau membutuhkanku."
...benarkah kata-kata itu yang baru meluncur dari mulutku?
Kau melempar tawa keduamu. "Kau terdengar seperti sedang mencoba menghibur anak kecil dengan permen." Senyummu melembut—tak kupedulikan lagi hitungan detak jantungku yang mungkin telah mencapai hitungan tiga digit per menit. "Lagi pula aku masih tahu diri. Kau milik Suna. Kau kakak seorang Kazekage. Tentu saja tidak mungkin kau sebebas itu datang ke Konoha hanya untukku, kan?"
Kebenaran kata-katamu yang membuatku bungkam. Benar. Kenapa aku bisa sebodoh itu menjanjikan hal yang hampir mustahil kupenuhi?
"Tapi sekali lagi ... terima kasih. Terima kasih, Temari. Terima kasih kau mau datang di setiap kesempatan kau kubutuhkan."
Sungguh kupuji Kau atas segala kuasa-Mu menghapus duka di mata pemuda di hadapanku ini, Tuhan. Setidaknya untuk saat ini. Untuk detik ini tatkala aku bisa melihat langsung ke kedalaman iris legam pemuda di hadapanku ini.
Refleks kukembangkan senyum. "Kau tidak pernah perlu berterima kasih padaku, Shikamaru."
Karena sesungguhnya aku yang harus berterima kasih padamu. Untuk membiarkanku menjadi pelindungmu. Menjadi kekuatanmu. Menjadi ... segalanya bagiku, sejak entah kapan eksistensimu menjelma candu bagiku. Juga untuk segala kesempatan yang kauberikan tanpa sadar—segala kesempatan yang membuatku memiliki segala alasan untuk menemuimu, Nara ... Shikamaru.
.
.
.
.
...sebutlah ini missing scene atau alternate reality.
