Logic vs Emotion

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

ShikaTema. K+. Friendship, Romance.

Canon. OOC mungkin, typo juga mungkin.

.

.

.

Temari sedang menikmati dangonya yang kedua saat menyadari tatapan lekat pemuda di hadapannya yang, setidaknya menurutnya, begitu intens. Alisnya terangkat bingung. Barulah ketika kunyahannya selesai, ia bertanya, "Ada sesuatu di wajahku, Nara?"

Pemuda yang baru saja ditanya menggeleng. Melanjutkan menikmati dango miliknya yang sempat terhenti setelah menyahut singkat, "Tidak ada apa-apa."

Sang gadis Suna jelas tak percaya begitu saja. Entah sudah berapa kali pertanyaannya mendapat jawaban yang sama dari bibir sang Nara selama mereka saling mengenal. Karenanya Temari sudah hafal, jawaban tidak apa-apa pemuda itu pasti sedang berbalik dengan faktanya.

Diletakkannya tusuk dango ke piring, tak memedulikan satu buah bulatan manis yang tersisa. Dilipatnya tangan di atas meja. Sepasang iris hijaunya lekat mengamati wajah si tunggal Nara yang tampak menikmati dango, acuh tak acuh atas tatapan sang gadis ke arahnya.

"Kau tahu kau tidak bisa berbohong padaku, lazy boy."

Yeah. Lain kali ingatkan Shikamaru soal itu.

Setelah menghabiskan sisa dango miliknya dan meletakkan tusuk dango yang kini kosong ke piring, sepasang netra kelabunya balas memandang si sulung Sabaku bersaudara.

"Kau perempuan, benar?"

Kalau saja mereka tidak terpisah meja, jitakan Temari pasti sudah keras mendarat di kepala sang Nara muda.

Sembari memamerkan sebuah kepalan, susah payah Temari berujar menahan sabar, "Kuharap kau punya alasan yang kuat untuk meragukan genderku, Nara—"

"Aku hanya heran," cepat Shikamaru menyela. Wajahnya yang hanya menunjukkan gurat serius membuat sang gadis ikut mengubah ekspresinya menjadi serius pula. "Kenapa kalian dapat terlarut dalam emosi dengan mudahnya."

Kepalan tinju Temari merenggang.

Shikamaru belum selesai. "Aku masih ingat ketika Sakura dan Ino menangisi kepergian Sasuke. Aku ingat betapa tersedunya Ino mendengar kabar Sasuke menjadi buronan kelima desa. Dibandingkan kalian, kami, para lelaki, lebih mementingkan logika."

Temari terdiam.

Ia sudah mendengarnya dari Ino. Ketika itu, ketika diadakan pertemuan kelima Kage untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ketika tersiar kabar bahwa Sasuke telah menjadi buronan seluruh desa shinobi, dengan seluruh pertimbangan atas nama Konoha dan kedamaiannya, pemuda di hadapannya ini adalah pengaju usul untuk ikut memburu Sasuke. Menghabisinya, seperti yang akan desa lain lakukan.

Tentu saja sang gadis Yamanaka tidak setuju. Sayang, ia bukanlah lawan debat yang sepadan bagi Shikamaru. Tidak dapat lagi ditahannya tangisan ketika teman setimnya itu berkata akan meminta izin kepada anggota tim 7 yang berarti tekad pemuda itu sudah bulat. Namun di sisi lain, Ino masih menyimpan sisa harapan kepada Sakura, terutama Naruto, untuk menolak permintaan izin Shikamaru.

Temari harus mengakui alasan Shikamaru yang berupa perang sebenarnya jauh lebih masuk akal dibandingkan kemungkinan Naruto membawa pulang Sasuke saat itu, tapi harus diakuinya ... usul Shikamaru terdengar begitu tidak berperasaan, terutama bagi Naruto, Sakura, bahkan bagi gadis teman setimnya sendiri ... alias Ino.

Sial, kenapa sekarang dirinya sulit sekali menyebut nama sang gadis tunggal Yamanaka?

"Dengar, Nara," ujar gadis berkuncir empat itu sembari menunjuk sang pemuda menggunakan tusuk dango, "kami diciptakan dengan dominasi emosi untuk menyeimbangkan kalian yang didominasi logika. Kau bisa memikirkannya sendiri menggunakan otak ber-IQ 200-mu itu apa jadinya dunia jika hanya ada logika."

"Aku tahu," tandas Shikamaru tak puas. "Aku hanya ingin tahu kenapa kalian sulit sekali menyingkirkan emosi dan mengedepankan logika."

Temari menggigit dango terakhirnya yang sempat terlupakan. Membalas acuh tak acuh, "Aku juga ingin tahu kenapa kau terlalu mengedepankan logika dibandingkan emosi. Apa posisimu sebagai ahli strategi yang membuatmu menjadi seperti itu?"

Shikamaru bungkam seketika.

Sang gadis mengetuk-ngetukkan tusuk dango ke piring usai menghabiskan sisa dango miliknya. Kembali memusatkan perhatian kepada pemuda tiga tahun lebih muda di hadapannya yang membisu. "Lagi pula, emosi yang membuat terciptanya kata manusiawi, benar kan? Jika kau tidak beremosi, kau tidak lebih dari sekadar robot atau boneka."

"Aku tahu, aku tahu." Shikamaru memotong tak sabar. "Tapi bukan itu yang aku pertanyakan, kau tahu itu."

Lagi-lagi alis sang gadis Suna terangkat. Diletakkannya tusuk dango di piring, kemudian menatap sang Nara dalam posisi bertopang dagu. "Kalau begitu, tidak ada lagi yang akan kita bicarakan. Laki-laki dan perempuan itu memang memiliki kodrat yang berbeda, ya kan?"

Bahu Shikamaru mengendur. Seandainya bangku yang tengah didudukinya memiliki sandaran, ia pasti sudah bersandar sekarang juga.

"Ah. Aku jadi bingung apa yang sebenarnya kupertanyakan."

Temari terkekeh geli. Pemuda di hadapannya sudah kembali seperti yang selalu dikenalnya, sang pemalas ulung yang menyebalkan.

"Kau seharusnya berkaca sebelum bicara, Nara," ujarnya mengundang perhatian Shikamaru kembali ke arahnya. Memoles sebuah senyum simpul. "Memangnya siapa yang lebih mengedepankan emosi daripada logika ketika misi yang diembannya sebagai ketua tim gagal dan sahabatnya nyaris tewas?"

Wajah sang pemuda memerah. Sial, telak sekali yang barusan.

"Dan memangnya membalaskan dendam gurumu bisa disebut lebih mengedepankan logika?"

Tawa Temari pasti sudah meledak melihat kesalahtingkahan pemuda di hadapannya apabila seorang gadis berkuncir kuda tidak datang tiba-tiba dan mengambil tempat di sisi pemuda itu.

"Temari-san, Shikamaru," sapanya ceria, "boleh aku ikut sebentar?"

Shikamaru melirik sekilas ke arah si sulung Sabaku. Diam-diam terkekeh geli mendapati gurat aneh yang tercetak di wajah gadis itu. Cepat dialihkannya perhatian pada Ino untuk kemudian balas tersenyum dan menjawab, "Tentu."

Meski sedikit heran melihat keanehan tingkah rekan setimnya, Ino memilih untuk tidak bertanya.

"Apa yang kaulakukan di sini, Ino?"

"He?" Ino melirik sebentar ke arah jalan sebelum memandang Temari yang baru saja bertanya. "Aku sedang menunggu Sakura. Kami berjanji akan bertemu di sini. Kebetulan sekali kalian sedang di sini juga, jadi tidak apa-apa kan, aku bergabung? Sekalian menunggu Sakura."

Entah apa yang mendorong Temari menginginkan sang Nara untuk berujar, "Merepotkan," seperti biasa dan memasang wajah malasnya alih-alih membalas keramahan sang gadis Yamanaka.

"Terserah kau saja."

Temari merutuk dalam hati.

"Apa aku mengganggu?"

"Tidak, tenang saja," sahut Shikamaru santai. "Diskusi kami sudah selesai, kok."

Ino baru saja akan bertanya apa yang mereka diskusikan sebelumnya, namun sosok seorang gadis berambut merah muda yang tertangkap sepasang iris biru langitnya mengurungkan niatnya seketika.

"Ah, itu Sakura!" Sedikit tergesa gadis itu bangkit dari duduk. Tangannya dilambaikan pada sepasang remaja dengan perbedaan umur tiga tahun yang baru saja diganggunya. "Kalau begitu aku duluan, Temari-san. Aku pergi dulu, Shikamaru!"

Temari melempar senyum sebagai tanggapan. Ikut melambaikan tangan sebagai pengiring kepergian sang gadis pirang berkuncir kuda.

Sepeninggal Ino, sang tunggal Nara tak mampu lagi menahan senyumnya.

Dahi Temari berkerut melihatnya. "Kenapa kau tersenyum-senyum?"

"Tidak apa-apa," sahut Shikamaru cuek. Ditopangnya dagu dan lekat menatap gadis di hadapannya persis seperti yang sebelumnya gadis itu lakukan padanya. Lengkap dengan senyum simpul yang menyebalkan. "Coba lihat sekarang, siapa yang lebih mengedepankan emosi daripada logika?"

Temari yang sadar bahwa Shikamaru sedang menggodanya langsung menyergah, "A-apa maksudmu, Nara? Aku ini perempuan, jadi wajar kalau aku lebih mengedepankan emosi!"

Shikamaru memilih abai karena ia belum selesai. "Tenang saja, Ino hanya rekan setimku. Hubungan kami hanya teman, tidak lebih."

Wajah sang dara Sabaku memerah padam. "Aku tahu itu, Nara! Dan aku tidak bertanya!"

"Ya sudah kalau kau memang tidak bertanya, toh aku hanya memberi tahu. Lagi pula kenapa kau terlihat begitu salah tingkah? Kenapa wajahmu memerah? Oh, kau harus melihat wajahmu sendiri di cermin, kau tahu? Kau tampak seperti baru saja dipergoki sedang cemburu!"

Serangan bertubi-tubi dari Shikamaru langsung membuat Temari tak mampu berkutik.

Tapi rupanya Shikamaru belum puas.

"Tidak apa-apa, Temari. Perempuan memang lebih mengedepankan emosi, aku benar, kan?"

Wajah sang gadis sempurna memerah sekarang.

.

.

.

"SIAPA YANG MENGIZINKANMU MEMANGGILKU DENGAN NAMA DEPAN, NANAS SIALAN?"

Seandainya Gaara dan Kankurou ada di sana bersama mereka, Shikamaru tidak akan mampu terbahak-bahak seperti sekarang.

.

.

.

.

.

Ini sebenernya kurang lebih terinspirasi dari salah satu episode anime yang Shikamaru minta izin ke tim 7. Itu maksudnya buat ikut ngeburu dan ngehabisin Sasuke juga, kan? Waktu itu Temari lagi jadi pengawal Gaara di Tetsu no Kuni alias Negeri Besi buat pertemuan lima kage. Semoga nggak melenceng, ya.