His

Naruto © Masashi Kishimoto

ShikaTema. K. Romance.

OOC mungkin, typo juga mungkin.

.

.

.

Pemuda itu melirik gadis yang asyik melahap dango di depannya—

"Kalau ada yang ingin kaukatakan, katakan saja, Shikamaru."

O-ow. Ketahuan, deh.

Sang pemuda memutar bola mata. "Baguslah kalau kau mengizinkannya. Aku hanya heran melihat kerakusanmu terhadap dango."

Akibat sibuk mengunyah, Temari hanya bisa melempar tatapan tak senang dan kerutan di dahi sebagai balasan. Setelah kunyahannya telah sampai di kerongkongan, barulah gadis itu berkata, "Sialan kau."

Shikamaru menyeringai.

Lihat? Mudah sekali membuat seorang gadis angkuh bertitel Putri Suna itu jengkel.

"Kau harus mentraktirku kali ini, bocah."

Mengabaikan julukan yang baru saja Temari sandangkan, Shikamaru menyahut santai, "Memang itu tujuanku mengajakmu ke sini."

Uh. Kapan Temari bisa menang berdebat dari bocah tiga tahun lebih muda darinya itu?

Yeah, bocah. Peduli amat umur pemuda itu akan mencapai kepala dua dalam hitungan belasan bulan lagi. Toh ia sendiri lebih tua.

Temari menyeringai samar ketika akhirnya otaknya tercetus balasan, "—sekaligus mencari kesempatan menatapku diam-diam, eh?"

Gadis itu terkekeh menanggapi rona tipis di kedua pipi sang tunggal Nara. Jangan pernah remehkan ketajaman penglihatannya, ohoho.

"I-ini bukan seperti yang kaupikirkan! Dasar merepotkan."

Lantas kenapa terselip gagap dan sebersit panik di kalimatmu, eh?

Si pirang memutuskan tusuk dango kedua miliknya lebih menggiurkan kali ini. "Bercanda, Shikamaru. Tidak usah menanggapi seserius itu."

Shikamaru mendecih. Sebuah putaran bola mata lagi, serta gumaman favoritnya. Yap. Temari sudah hafal.

Iris hijau gadis itu memandang pemuda di hadapannya.

Sungguh, ia tak ingat kapan mereka mulai sedekat ini. Mungkin berawal dari pertarungan ujian Chuunin yang mempertemukan mereka, atau sejak sama-sama bertanggung jawab sebagai panitia ujian Chuunin perwakilan desa masing-masing di kesempatan berikutnya, atau karena posisi pemuda itu sebagai tour guide bagi dirinya yang menjabat duta besar Suna untuk Konoha.

Dan ... ah, sejak kapan mereka saling berbagi nama kecil?

Padahal pemuda itu lebih muda darinya tiga tahun, namun Temari tak pernah keberatan dengan panggilan tanpa embel-embel penghormatan dari tunggal Nara itu. Hei, sekali lagi, ia lebih tua, seorang Putri Suna, pula!

Berusaha mengembalikan kesadarannya kembali ke dunia nyata, gadis itu kembali berkata setelah menyelesaikan dango pertama di tusuk kedua, "Ne, tumben sekali kau mentraktirku."

Shikamaru yang hanya memesan ocha menyesap tehnya tersebut seteguk sebelum memindahkan atensi pada si kuncir dua. "Kukira kita hampir selalu meributkan soal membayar."

"Ya, ya," sela Temari bosan, baru ingat pada kegemaran Shikamaru membeda-bedakan gender dan berkata sok jantan bahwa sudah sepantasnya para pria membayar pesanan sang wanita. Kuno sekali. Ia kira Temari tidak bisa membayar pesanannya sendiri? "Tapi kau selalu mengatakan itu ketika kita membayar, bukan ketika aku masih menikmati dango seperti ini."

Temari baru saja berkata bahwa ia tidak tahu kalau Shikamaru akan dengan senang hati membayarkan pesanannya. Heh, padahal seharusnya ia sudah hafal dari cukup tingginya frekuensi mereka makan bersama.

Shikamaru menghela napas. Baguslah, ia tidak perlu menciptakan atmosfer canggung terlebih dulu untuk mengatakan, "Umm ... katakanlah aku hanya sedang ingin berterima kasih."

Hampir saja Temari tersedak.

Cepat diraihnya ocha sang Nara sebelum meneguknya tak kalah kilat.

Shikamaru tertegun.

Apa-apaan ini ... ocha-nya...

"Kau?" Temari menatap pemilik IQ 200 di hadapannya tak percaya, menuding dengan ucapan yang kental berbalut nada yang sama. "Berterima kasih?"

Alis Shikamaru nyaris bertaut melihat tawa gadis Suna di depannya. "Apanya yang lucu?"

"Tidak, tidak." Susah payah Temari menjawab di sela tawa. Buru-buru diselesaikannya tawa saat melihat ekspresi dongkol dari pemuda berkuncir satu di depannya. Berdehem. "Apa-apaan tampangmu itu, Shikamaru? Berhenti bersikap seperti anak kecil!"

Wajah Shikamaru kian dongkol saja mendengarnya.

"Aku tertawa karena ... errh, lucu saja. Ini pertama kali kau mengucapkan terima kasih padaku sejelas itu."

Yah ... Shikamaru harus mengakui kebenaran kata-kata Temari. Ia memang belum pernah mengucapkan terima kasih secara langsung.

"Karena itulah aku mengatakannya sekarang." Shikamaru mendaratkan tangan di tengkuk, melempar pandang ke arah kanan. "Makanya aku ingin mentraktirmu dango kali ini—itu makanan favoritmu, kan?"

Terima kasih telah menolongku melawan Tayuya.

Terima kasih telah menemaniku di rumah sakit.

Terima kasih telah menghiburku atas kematian Guru Asuma.

Terima kasih telah mau menemaniku mengunjungi Mirai dan Guru Kurenai di setiap kesempatan.

Terima kasih telah menjadi rekan terbaik sebagai ambassador Suna, sebagai teman satu divisi kala perang, sebagai sesama perwakilan desa di Serikat Shinobi.

Tenggorokan Shikamaru tercekat. Gadis pirang di hadapannya telah terlalu banyak terlibat dalam hidupnya, membantunya, kenapa ia seolah baru sadar?

Perlahan, seiring kian tingginya frekuensi kebersamaan mereka, sesuatu dalam dirinya pun tanpa sadar merasa memiliki ketergantungan terhadap gadis itu. Seolah Temari telah menjelma ... candu—bukan, tapi kebutuhan. Shikamaru tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya jika Temari tak ada.

Mungkin ia sudah lama mati di tangan Tayuya, terpuruk terlalu dalam atas rasa bersalah dan penyesalan, juga duka setelah kehilangan Asuma. Atau yang terburuk: tunduk kepada Gengo dan mengkhianati Konoha serta seluruh Serikat Shinobi—

"Shikamaru?" ucapan sang gadis berkuncir dua mengembalikannya ke dunia nyata. Seperti waktu itu... "Astaga, apa yang kaulamunkan sebenarnya? Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tahu!"

"Aaa ... maaf." Shikamaru menarik seringai, tapi tampaknya gagal total. "Sampai mana aku tadi? Ah, ya ... aku hanya ingin berterima kasih. Untuk ... semuanya."

Temari tercenung.

Sebagian besar waktunya yang dihabiskannya bersama sang Nara sejak mereka saling mengenal kembali berkelebat dalam benaknya, tampil dalam kilas balik yang berputar cepat. Ah. Sebanyak itukah?

"Terutama ... pada kesempatan di Shijima no Kuni—Desa Sunyi."

Shijima no Kuni.

Ya, Temari masih ingat. Semuanya berawal dari beberapa minggu lalu, tepatnya pada pertemuan perwakilan desa dua bulan lalu. Ketika pemuda itu bertingkah aneh dan dirinya menanyakan alasannya. Ketika pemuda itu lebih memilih untuk menolak memberi jawaban yang berakhir jatuh tersungkur akibat dihajar olehnya. Ketika ia berbincang berdua dengan Gaara perihal keanehan tingkah sang Nara. Ketika dirinya pergi ke Shijima no Kuni bersama beberapa shinobi Suna dan mendapati pemuda itu nyaris tercuci otaknya. Ketika teriakannya di detik-detik terakhir berhasil menyelamatkan sang pemuda.

"Aku tidak sedang menolongmu waktu itu," sanggah Temari, menghabiskan dango terakhirnya yang tersisa. Nadanya melirih, "Aku ... hanya tidak ingin merasakan sesak yang menghimpit dadaku lebih lama."

Sesak itu masih jelas dalam ingatan Temari. Masih jelas rasanya. Mencengkeram dada, melilit napasnya. Menjebol pertahanan pelupuk matanya di depan Gaara.

Sang Nara terpana.

"...maaf."

Temari terhenyak melihat tangan Shikamaru terulur ke wajahnya. Cepat ia menepisnya sebelum mengusap matanya yang basah dengan kasar.

"A-aku hanya kemasukan debu, bodoh!"

Bohong. Baik Shikamaru maupun Temari tahu itu. Semua orang juga tahu itu termasuk salah satu kebohongan paling klasik yang pernah diucapkan.

"A-aku ... ingin kembali ke penginapan..."

"Tunggu di sini," ucap Shikamaru seraya bangkit berdiri. "Aku akan membayar dulu."

Temari menurut. Bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa.

Sumpah, kali ini adalah kesempatan paling canggung yang pernah mereka alami berdua. Atmosfer secanggung ini terakhir mereka rasakan ketika untuk pertama kalinya Temari datang sebagai ambassador Suna dan Shikamaru mengantarkannya sampai kantor Hokage. Pada kesempatan selanjutnya, pembicaraan dapat mengalir begitu saja di antara mereka. Tentang perbedaan Suna dan Konoha, tentang pertarungan mereka dulu, tentang Ujian Chuunin di mana mereka akan menjadi panitia perwakilan desa, dan lain sebagainya.

Tapi untuk kali ini, tak satu pun dari mereka yang berniat membuka pembicaraan. Membiarkan canggung berkuasa begitu saja.

Tidak bertemu Naruto kali ini adalah hal yang benar-benar patut mereka syukuri.

.

.

.

Shikamaru baru saja membalikkan badan dan bersiap pergi, saat mendadak saja sesuatu menahan langkahnya. Tepatnya, meraih lengan bajunya seolah mencegahnya pergi.

"Tidak usah berbalik."

Shikamaru menurut.

Sesaat Temari kehilangan kata.

Apa yang sedang kulakukan?

Alih-alih melepas pegangannya, Temari justru semakin mengeratkan cengkeramannya pada lengan baju sang Nara, seakan memang tidak ingin pemuda itu pergi.

"Jangan—" Temari menelan ludah. Lidahnya yang mendadak kelu sungguh di luar rencana. "—lakukan itu lagi. Jangan pendam semua masalah itu sendiri. Kau tahu..." suara Temari melirih, meski Shikamaru masih mampu menangkapnya, "...kau selalu memiliki pundakku sebagai tempat berbagi."

Rahang Temari mengeras, sama halnya dengan ucapannya selanjutnya, "Atau kau akan kuhabisi dengan tanganku sendiri."

Sang tunggal Nara tersenyum. "Pastikan kau memegang kata-katamu itu."

Shikamaru melanjutkan langkahnya yang tertunda seiring melemahnya cengkeraman Temari pada lengan bajunya.

Ia tahu, dan ia yakin, bahwa kini Temari juga sedang tersenyum.

Karena gadis asal Suna itu adalah gadisnya.

.

.

.