Halo, kembali lagi kita bertemu.

Sebelum masuk ke cerita, ada beberapa hal yang mau aku bilangin dulu dari hasil review "abience". Ya, khusus "abience" karena disana ada satu kalimat yang hurufnya itu diubah ke kode biner. Seneng deh, ada yang nyinggung tentang itu.

Jadi pertama, kode terakhir yang aku pake emang kode biner. Dan kode itu biasa dipake orang komputer atau yang berhubungan sama pemprograman gitu, lah. Satu huruf, angka, dan tanda baca itu masing-masing diwakili 8 digit.

Contoh :

Kode 0100 0001 adalah huruf "A" dalam bentuk kapital.

Huruf kapital dan huruf kecil itu beda kode, guys. Beda angka depannya aja. Kalo huruf kapital (huruf besar) kode depannya itu 0100 – 0101 sedangkan huruf kecil 0110 – 0111. Untuk kode angka dan tanda baca berbeda tentunya. Berhubung di cerita "abience" aku ngetiknya gak pake spasi, langsung diketik sambung kayak gerbong kereta api, jadi lumayan bikin mata sepet liatnya. Aku gak nyuruh kalian buat baca sekali lagi kodenya dengan tiap 8 digit dipisah-pisah sampe akhirnya tau apa artinya, enggak. Males banget, kan? Dan lagi arti dari kode itu sendiri juga udah dikasih tau kok di paragraf selanjutnya. Yang setelah pertanyaan kedua itu.

Iya, itu artinya.

Kedua, semua cerita yang aku buat itu berhubungan (kecuali dysphoria). Hmm… mungkin harusnya dibuat jadi satu cerita berchapter gitu aja kali, ya?

Ah, tapi udah dibuat pisah kayak gini bodo amatlah.

Awalnya emang gak ada niat ngebuat ceritanya sambung menyambung jadi satu. Ya sudahlah, gak jelek-jelek amat idenya, kan?

Ketiga, apa penyakit Ice?

Jawabannya ada di cerita ini.

Tanpa basa-basi dan penjelasan tambahan lagi kita mulai saja. Selamat membaca…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Saya suka anak-anakmu,"

Amato mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Maaf?"

"Anakmu hebat-hebat semua. Semuanya menonjol dengan caranya sendiri. Luar biasa," jelas seorang perempuan berambut gimbal panjang dengan aksesoris rambut yang sangat nyentrik. Dari gaya pakaiannya (secara keseluruhan) kental sekali dengan nuansa tradisional suku pedalaman. Laksamana Nakila, nama perempuan itu, tersenyum simpul, "Kamu hebat sekali punya tujuh anak kembar dengan cahayanya sendiri-sendiri. Tidak mudah untuk membimbing mereka ke jalan yang menunjukkan siapa mereka sebenarnya."

"Oh, terima kasih." Amato hanya tersenyum canggung. Sebelumnya dia sudah pernah mendapatkan beberapa pujian langsung dari rekan kerja juga petinggi TAPOPS. Tetap saja, rasanya aneh. Mendapat semua pujian itu, Amato merasa tidak pantas. Dia tidak melakukan banyak hal dalam upaya bimbingan. Dia hanya melakukan apa yang dia rasa ada gunanya. Sisanya, mereka sendiri yang menentukan. Orang tua memang disebut-sebut sebagai petunjuk jalan sang anak tapi bukan berarti mereka memiliki hidup anaknya sendiri. Amato membebaskan ketujuh anak kembarnya itu dengan melakukan apa yang mereka suka, untungnya sang istri juga berpikiran sama. "Saya tidak melakukan banyak hal."

"Ah, jangan rendah hati begitu," ucap Laksamana Nakila lalu terkikik geli. "Saya tau kamu melakukan semacam riset dan mencocokkannya ke masing-masing anak agar potensi mereka berkembang pesat. Memangnya, usaha serinci dan seniat itu bukanlah hal banyak?"

Amato menunduk malu karena ketahuan.

"Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah anak nomor lima. Jarang ada yang bisa menguasai teknologi bangsa lain dengan mudah. Apalagi sampai mengorek habis beberapa informasi terlarang, benar-benar berada di level yang sangat jauh."

Ah, ini lagi.

Amato tau kalau sosok di sampingnya ini mengincar salah satu anaknya. Sudah jadi rahasia umum. Bagi pejabat penting di TAPOPS tentunya. Laksamana Nakila selalu meminta izin bahkan tak jarang menghasut untuk menyerahkan Ice secara suka rela. Meski dapat penolakan berkali-kali dari Amato dan Ice sendiri seperti tidak ada yang bisa membuat tekadnya runtuh. "Laksamana, mohon maaf jika saya lacang. Tapi, boleh saya tau kenapa anda begitu…" Amato berpikir keras mencari kata yang tepat. "…terobsesi? Tekad anda itu, saya yang sudah mengenal anda secara pribadi selama hampir empat tahun ini tentunya tidak merasa hal baru. Tapi, kenapa anda bersikeras menginginkan anak kelima saya masuk ke kelompok anda?"

"Tentu karena bakatnya. Apa lagi?" jawab Laksamana Nakila. "Saya hanya mengincar bakatnya bukan kuasanya. Tenang saja! Tau sendiri saya sudah hampir tidak pernah turun ke lapangan untuk bertarung. Sudah tidak asik! Yah, beda cerita kalau sudah diujung tanduk. Tapi TAPOPS ditimpa musibah seberat apa pun belum pernah sampai meminta secara pribadi membuat saya turun tangan. Berarti TAPOPS masih kuat, kan?"

Amato mengangguk pelan. Masih ragu tapi langsung ditepis karena alien yang sedang mengajaknya bicara ini terkenal sangat jujur, keras kepala, bertekad kuat, berlidah tajam, dan menyeramkan. Wujud biasa yang diperlihatkan ke orang lain adalah sosok perempuan berumur dua puluhan awal padahal umur aslinya tinggal dikali dua puluh lima, tubuh tinggi semampai, cantik, anggun, berambut panjang gimbal, beberapa ada yang dikepang dan disisipkan aksesoris seperti tusuk konde, sehelai bulu, dan tali-tali yang dijerat agar kepangannya tidak terlepas, gaun putih sederhana dengan corak, sepatu boots tanpa hak, mata kucing merah bata, tato di bawah mata yang terukir sampai telinga, dan warna kulit sama seperti manusia. Padahal wujud aslinya itu sangat, sangat, sangat mengerikan. Mimpi buruk. Kebetulannya lagi, Laksamana Nakila adalah alien terancam punah dan sangat kuno (disebut-sebut sebagai makhluk pertama yang ada di galaksi) namun berumur panjang sekali juga memiliki insting yang sangat tajam layaknya hewan buas. Mereka punya semacam senjata rahasia yang tertanam di tubuh.

"Kuasa anak-anakmu memang hebat tapi saya tidak tertarik. Saya serakah ilmu pengetahuan, artefak, dan sesuatu yang berbau lampau bukannya kuasa. Kamu tau itu. Toh, kamu sudah beberapa kali ikut misi dengan saya." Laksamana Nakila tersenyum miring hampir menyeringai. "Bakatnya itu benar-benar membantu. Senang sekali rasanya menemukan orang yang tepat. Sayangnya dia benar-benar keras kepala dan bebal. Tapi tidak apa. Saya masih bisa minta tolong kalau lagi-lagi dia menolak," ucap Laksamana Nakila.

Amato mengangguk. "Tapi tolong jangan berlebihan."

"Oh, tentu saja. Saya ingat penyakit anakmu itu. Emfisema*, kan? Penyakit pernapasan memang menyusahkan. Tapi anakmu kuat, buktinya bisa bertahan sampai sekarang."

Laki-laki dewasa itu tersenyum sedih. Mau tidak mau mengingat semua perjuangan anaknya yang berusaha tetap hidup meski terlahir cacat. "Terima kasih," ucap Amato. Dia memang sedih tapi ucapan Laksamana Nakila adalah sebuah harapan, doa, serta semangat. Rasa semangat untuk tetap sabar dan lapang dada seakan kembali terisi. Amato harus kuat. Untuk anaknya. Dan untuk dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Alethiology

The study of truth

Elemental Siblings AU

Ice

….

Bosan.

Bosan sekali.

Inginnya tidur tapi tak bisa. Pekerjaannya belum selesai dan selalu bermunculan tiap dua puluh menit yang membuatnya mau tak mau harus bergerak cepat. Pekerjaannya memang hanya mengutak-atik komputer, masuk ke sebuah situs antah berantah dengan berbagai tingkat kesulitan, duduk santai di satu tempat yang (lumayan) nyaman, tidak pindah-pindah, tidak perlu capek-capek keluar keringat seperti yang lain karena pekerjaannya hanya memerlukan otak dan keterampilan khusus, tapi bukan berarti sesuatu yang 'enak' itu membuatnya senang.

Bagaimana mungkin bisa disaat kau sendiri tau apa yang sedang kau cari itu adalah sesuatu yang seperti bom waktu? Rasanya seperti menggali kuburan sendiri lebih dalam. Seakan saat ketahuan dan dihukum kau bisa merasakan sebuah kilas balik penyesalan sembari menunggu jatuh ke dasar lubang kuburmu sendiri. Pahit dan gelap. Semuanya akan baik-baik saja kalau Ice sendiri bisa mengunci rapat mulut dan mengatur ekspresi juga perasaannya. Dia harus tenang dan selalu tenang agar tidak merasa sedang memikul sebuah informasi berbahaya yang hanya segelintir orang, yang bahkan orang-orang penting pun tak semuanya tau.

Jangan sampai terbebani.

Penyakitnya sudah ditahap paling bahaya, dengan kondisi tubuh yang makin lemah tentu akan banyak penyakit lain yang ingin masuk bersarang ke tubuhnya. Entah penyakit secara fisik atau psikologis.

Hal ini susah. Susah sekali. Dan membuat semuanya tetap stabil sekarang sudah berada di kata 'tidak mungkin'. Sekuat apa pun Ice menelan semua kehidupan pahitnya, tetap saja rasanya pahit. Sedihnya, rasanya semakin getir sampai-sampai air matanya keluar tanpa sadar.

Ice sangat suka tidur. Setidaknya itu membuatnya bisa melupakan masalahnya sejenak. Ya, hanya sejenak. Setelah bangun dari tidur cantiknya, seperti kaset, Ice akan mengingat kembali semuanya dengan lebih jelas. Terkadang dia ingin sekali tidak bangun. Tapi kalau sampai kejadian, bisa dipastikan seperti apa reaksi keluarga, teman, dan orang-orang yang kenal dia nanti.

Oh, kalau saja Halilintar atau Blaze tau mereka pasti mengamuk. Mereka berdua selalu sukses membuat Ice sakit kepala.

"Iceee!"

Panjang umur. Baru saja dibicarakan, Blaze tiba-tiba muncul dengan keadaan cukup berantakan. Topi yang dipasang agak ke atas itu sedikit miring, rambutnya yang acak-acakan semakin tak beraturan dan terdapat beberapa lembar daun yang terselip, juga ada luka seperti bekas cakaran di lengan dan pipi. Apakah si kembar keempat baru saja melakukan latihan dengan Thorn dan si kucing Cattus? Tumben. Biasanya saudara kelebihan tenaganya ini memilih latihan dengan Gempa, Taufan, Fang, Yaya, Ying atau Solar. Halilintar terlalu kasar dan membuat Blaze frustasi karena gerakan kilat. Setelah melewati satu kesalahan fatal dan beberapa alasan lain, duo merah Boboiboy akhirnya tidak pernah melakukan latihan bersama atau sparring.

"Ice! Coba deng– hei, mukamu pucat. Kau tak apa?" Langsung melupakan tujuan utamanya, Blaze buru-buru menghampiri dan memeriksa Ice yang diam saja di kursi komputernya. "Dadamu sakit? Sesak mungkin?"

"Belum," jawab Ice. "Ada apa?"

Blaze menggeleng cepat. "Gak jadi! Sudah istirahat sana! Mukamu sangat pucat dan berkeringat!" Karena tidak melihat reaksi apa-apa dari Ice, Blaze berinisiatif membawa adiknya ke ruang kesehatan. Atau kamarnya sendiri yang lebih dekat. Ice yang di tarik paksa pun juga diam saja, tidak melawan, padahal sejak tadi dia sedang dikerjain pekerjaannya sendiri yang makin banyak. Heran, apa orang-orang di luar sana (terutama yang memberikan semua pekerjaan itu) tidak tau kondisi kesehatannya yang makin hari makin memburuk? Hal yang amat umum seperti itu? Ice memang tidak suka jika semua orang tau keadaannya, terlalu banyak mata, kata, dan tangan yang bersifat iba namun tak jarang terselip sesuatu tidak mengenakkan. Dia benci ketika dikasihani.

Tapi dengan kondisi yang semakin parah… bukankah percuma jika kita menutupi luka menganga disaat darahnya terus merembas keluar? Bau amis dan warna darah yang menodai baju adalah hal yang sangat mencolok.

Tapi dari sekian banyaknya perhatian, keringanan, dan hal lain yang bersifat mempermudah dirinya melakukan kegiatan sehari-hari (termasuk bekerja) bukankah sebaiknya Ice diberhentikan saja? Dia itu pengganggu sekarang, sejak dulu dia adalah seorang pengganggu, dan wajar 'kan hal yang mengganggu itu dibuang? Ice tidak masalah 'kok di buang begitu. Suatu hari nanti dia merasa hari itu akan datang, jadi bisa dikatakan Ice sudah bersiap-siap dari awal bergabung. Orang-orang juga terus mengatakan untuk fokus ke kesehatan agar cepat sembuh, atau setidaknya keadaannya agak membaik, tapi ucapan dan tindakan mereka tidak sinkron.

Ini membingungkan juga menjengkelkan. Bukankah itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak peduli?

"Kak, aku tidak apa-apa." Ice memang berkata seperti itu tapi nafasnya mulai berat. Dia lalu refleks memegang dadanya yang terasa penuh padahal hari ini pakaiannya hanya kaus lengan panjang berbahan tipis juga celana panjang gelap tanpa jaket berbulu kesukaannya. Ice melirik dengan ekor mata, apakah Blaze melihat?

"Sudahlah, jangan banyak omong! Kau istirahat saja hari ini. Masa bodo dengan kerjaan! Kau harus banyak-banyak istirahat mulai saat ini. Titik! Tanpa koma, tanpa protes. Kalau sampai protes, nanti ku pukul!" ucap Blaze.

Oh, rupanya melihat.

Ice baru sadar ternyata setelah bergabung ke militer, kepekaan saudara-saudaranya sedikit mulai terasah. Tidak tau harus senang atau tidak tapi sepertinya tidak. Karena artinya dia tidak bisa leluasa lagi. Semuanya akan terlihat sedikit. Akan ada pengintip. Hatinya yang sudah berlubang, menyedihkan, dan sendiri akan ditonton oleh penonton berisik. Mengkritik semua gerak-gerik yang dia buat dan tanpa sadar memojoknya di himpitan dinding yang jelas-jelas sudah menghimpit bahunya sampai tak bisa nafas. Haruskah dia mulai menarik diri lebih jauh lagi?

"Kau itu kebiasaan, kenapa diam? Kenapa selalu diam? Kau itu punya mulut, pakai dengan benar, dong! Katakan apa yang mengganjal di hatimu, perasaanmu, apa pun itu dengan lantang! Duh! 'Kan sudah dibilang, kalau tidak suka bilang saja. Bilang ke semua orang-orang yang memakai jasamu seenak jidatnya itu bahwa kau bukanlah super komputer. Ochobot yang jelas-jelas robot saja pusing ketika ditanyai terus apa lagi kau. Cih, aku kesal kenapa mereka semu– TUH 'KAN! NAFASMU PUTUS-PUTUS GITU! Cepat naik ke punggungku, aku akan membawamu secepat mungkin ke kamarmu!"

Singkatnya, Blaze berhasil membuat Ice kembali bernafas dengan normal setelah sempat kesulitan di kamarnya. Setelah berlari dengan kecepatan tinggi, saat sampai dan mengikuti prosedur pun nafas Blaze masih terengah-engah.

"Wow, aku baru sadar kamarmu dipenuhi alat-alat aneh. Oh, apa ini?" Blaze mulai tenggelam dalam keinginantahuannya sendiri.

"Mau ngomong apa?"

"Hah?" Blaze menoleh cepat. "Ngomong apa? Memangnya aku mau ngomong apa?"

Ice menggeleng. "Tidak. Lupakan saja," katanya. "Bukan hal penting," tambahnya lagi.

Blaze lalu mengangkat bahu dan kembali melihat-lihat. Terlalu sibuk dengan kegiatannya mengeksplor kamar adik beruang kutubnya yang selalu dingin dan hampir tidak disentuh. Ice, selaku pemilik kamar, jarang ke kamarnya sendiri sebab pekerjaan maupun karena dirawat di ruang kesehatan, membiarkan saja. Blaze memang begitu. Cara yang tepat supaya dia diam adalah membiarkan dirinya melakukan apa saja sampai bosan. Terlebih, kakaknya itu juga tidak akan terganggu dengan suhu kamar. Toh, dia bisa menghangatkan dirinya sendiri dengan kuasanya.

"Kalau mau tidur, tidur saja." Blaze mendekati tempat tidur Ice dan membenarkan posisi agar si adik bisa tidur dengan nyaman. "Matamu sayu begitu. Kau tidak begadang, kan? Lebih baik jangan. Oh ya, bilang ke orang-orang yang memakai jasamu itu untuk berhenti mengirim berbagai macam permintaan. Informan di sini bukan kau saja, mereka juga sudah tau bagaimana kondisi kesehatanmu, kenapa masih saja berlari mengejarmu? Aneh. Yang mereka cari itu penting tidak, sih?"

"Bukan hakku mengomentari apa yang mereka cari," jawab Ice. Bantal yang ditaruh untuk menopang punggungnya di buang sembarang arah. Dia juga membuang beberapa bantal tambahan yang Blaze taruh di tempat tidurnya. Untung saja Blaze tidak marah hanya mendengus kesal. Tangannya lalu menarik selimut tipis sampai menutupi dada Ice. Dia sudah sangat siap pergi ke alam mimpi.

"Tidur yang nyenyak." Usai mengatakan itu, Blaze mematikan lampu dan pergi. Tidak membenahi bantal yang berserakan di lantai, terlalu malas. Nanti Gempa juga datang, pikirnya begitu.

Kembali ke kamar Ice. Ternyata si pemilik kamar tidak tidur. Dia hanya pura-pura terlihat mengantuk dan bangun setelah yakin kalau Blaze benar-benar sudah keluar. Ice melepas masker oksigen, turun dari tempat tidur, meraih jam kuasanya, mengutak-atik sebentar, dan menaruhnya kembali di meja sambil menunggu layar dan keyboard hologram muncul. Setelahnya dia mengetik sesuatu dan lampu kamar pun menyala, habis itu kembali mengetik sesuatu lagi dan muncul dokumen-dokumen dari komputer ruang kerjanya. Ya, Ice memodifikasi jam kuasanya agar bisa lebih memperbanyak fungsi jam bulat berlogo ombak itu. Bukan hanya menyimpan dua kuasanya juga berkomunikasi, melainkan hal-hal seperti pengganti komputer agar bisa bekerja dimana saja dan kapan saja tanpa perlu bebawaan berat. Solar mungkin akan menangis jika tau apa yang kakak kelimanya lakukan dengan jam kuasanya. Bisa dipastikan kalau si bungsu akan menekuk wajahnya dalam-dalam.

PING!

Ada email baru masuk.

Ice langsung menghela nafas begitu melihat nama pengirim email. Rupanya Laksamana Nakila masih belum bisa move on dan makin lama makin agresif. Beliau memang tidak melakukan teror atau sesuatu yang lain namun ditanyai dan di puji-puji betapa bagus kinerja kerjanya (dengan maksud tertentu) membuat Ice pegal juga. Sudah sering menolak ajakan bukan berarti Ice mengabaikan setiap tugas yang Laksamana Nakila berikan. Setelah membaca dan menerjemahkan isi email yang tentu secara otomatis berubah menjadi kode biner, Ice mengusap wajahnya. Kalimat terakhir dari email panjang itu benar-benar membuatnya kesal.

0100001001100101011100100111010101100010011000010110100000100000

0111000001101001011010110110100101110010011000010110111000111111*

Benar-benar menyebalkan.

Bergabung ke kelompok satu-satunya laksamana perempuan di TAPOPS itu memang tidak rugi. Beliau sering kali menjaminkan keselamatan dan pengobatan untuk penyakitnya dengan kualitas terbaik, juga beberapa hal yang menurutnya sangat 'wah' yang ditawarkan secara cuma-cuma. Katanya ini hanya dikhususkan untuknya seorang.

Lagi dan lagi dia diistimewakan.

Ice sangat tidak suka ketika orang-orang memperlakukan dirinya seperti boneka kaca.

Dia masih bisa berdiri dengan kakinya sendiri, masih bisa berjalan, masih bisa melakukan semuanya sendiri. Kegiatannya dibatasi agar tidak terlalu lelah, agar penyakit sialan itu tidak kambuh. Dokter pribadinya menasehati supaya dia berolahraga guna melatih paru-paru dan menenangkan pikirannya yang semakin kalut. Halilintar bahkan tak pernah absen mengajaknya olahraga semenjak dimintai tolong. Kakaknya itu bahkan rela belajar yoga dan taichi untuk sang adik tercinta.

Kakak yang baik.

Setelah memperbaiki moodnya yang sedikit hancur, Ice mengetik jawaban dari pertanyaan itu dengan jawaban yang sama. "Saya tidak berubah pikiran. Saya tetap menolak." Selesai membalas email tersebut, Ice kembali mengerjakan pekerjaannya dengan tenang sampai tengah malam. Ketika tugasnya sudah selesai semua, Ice pun tidur, bangun pagi-pagi, mandi dan bersiap untuk melakukan rutinitasnya yang monoton.

Ice pun bertanya-tanya, sampai kapan dia akan bertahan?

….

Ice tidak benci para saudaranya.

Tidak sama sekali.

Dia tidak membenci mereka secara individu, bagaimana bisa? Mereka satu darah, satu rahim, satu wajah. Sulit untuk saling membenci karena itu artinya kau juga membenci dirimu sendiri. Dia hanya benci bagaimana sikap mereka padanya. Ice tau, kalau mereka hanya menunjukkan bahwa mereka peduli. Bahwa mereka sangat sayang padanya. Tapi… kembali lagi di awal, Ice paling tidak suka jika ada yang menerobos masuk kandangnya. Maksudnya, tolonglah… tolonglah. Mereka berenam punya mulut, mereka bisa bicara dengan lancar, mereka bisa minta izin dengan mulut mereka itu. Tapi kenapa tidak dilakukan? Apa mereka berpikir bisa melakukannya karena mereka saudara?

Apakah ruang inti di dalam dirinya tidaklah penting di mata mereka?

Ah. Apa karena dia tidak pernah bilang apa-apa ke mereka jadi mereka pikir 'tidak apa-apa'? Begitukah?

Blaze memang sering sekali bilang untuk mengatakan apa pun yang dia mau dengan lantang. Tidak perlu takut, katanya. Tidak perlu takut. Katanya tidak masalah jika yang dikatakan terlalu sensitif atau pribadi. Semua orang bebas berpendapat. Semua orang bebas menggunakan lidahnya untuk mengatakan sesuatu dengan jelas. Tapi itu terlalu sulit untuk Ice yang sejak dulu selalu mendahulukan orang berbicara dan selalu menjadi pendengar. Jikalau pun dia bicara nanti, siapa yang dengar?

"Kenapa?" tanya Halilintar. Saat ini adalah jadwalnya olahraga. Seperti biasa, Halilintar akan menjemput dan mengajaknya olahraga rutin setelah seharian kemarin Ice melakukan terapi.

Ice menggeleng pelan. Olahraga yang dilakukannya bukanlah olahraga berat yang butuh banyak tenaga tapi kelapanya 'kok sakit? Ada apa ini?

"Kenapa?" tanya Halilintar lagi. Kali ini agak memaksa. "Wajahmu pucat, apa yang sakit?" Nada suaranya agak ditinggikan, barang kali gemas karena Ice tidak kunjung memberitau apa masalahnya. Sudah beberapa menit ditunggu dan di diamkan membuat Halilintar sudah tidak sabar. Dia berdecak kesal, wajahnya garang tidak bersahabat.

"Kepalaku sakit," jawab Ice buru-buru. "Barang kali karena terus begadang."

"Kau masih kerja?!" Halilintar berteriak marah. Wajahnya hampir sama dengan warna pakaiannya, merah. "Kenapa masih kerja?! Bukannya Komandan Koko Ci sudah membebas tugaskanmu? Kenapa masih terima tugas?"

"Beberapa atasan minta tolong dicarikan informasi tambahan," kata Ice pelan. Matanya jatuh ke bawah, tidak berani menatap Halilintar. "Aku hanya membantu."

"Kenapa dikerjakan?!"

"Ya, kan..." Ice menjilat bibirnya gugup. "Kak," Ice memelas. Dia tidak paham kenapa harus mendebatkan hal ini.

"Jangan terima lagi! Abaikan saja! Kalau bisa langsung blok!"

Gampang sekali bicaranya. Mana mungkin bisa Ice melakukan itu? Punya hak macam apa dia berani melakukan itu? Komandan Koko Ci pun tak selamanya akan berada di pihaknya.

"Ice? Dengar tidak?" tanya Halilintar. Wajahnya masih merah tapi sudah tidak teriak-teriak.

"Iya," jawab Ice seadanya. Sudah sangat malas meladeni kakak pemarahnya ini.

"Sehabis ini jangan kerja. Ingat, jangan kerja! Kenapa juga kau kerja di saat masa istirahat? Kau itu sesekali harus tegas beritau mereka kalau kau sedang dalam fase penyembuhan. Kenapa dibiarkan? Kau itu benar-benar kebiasaan selalu diam!"

Ice sebagai adik hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Punya dua kakak yang temperamental seharusnya membuat dia terbiasa dengan wajah merah marah mereka, semenakutkan mereka saat marah, dan tatapan tajam mereka yang seharusnya Ice bisa melawannya. Tapi ini tidak. Nyalinya langsung ciut. Entah karena terlalu patuh atau memang segan meladeni, Ice pun tidak tau.

"Ice, kalau ada sesuatu bilang, ya? Jangan di pendam terus. Bagi bebanmu ke kakak atau siapa pun orang yang kau percayai sepenuhnya diantara kita berenam. Ini bukan masalah cemburu atau tidak, tapi kau itu diam sekali ketika ditanyai terkait masalah dan pekerjaan," sorenya Gempa seperti biasa datang menjenguk dan bilang seperti itu ditengah-tengah obrolan.

Ice terdiam dan bingung. Pekerjaannya 'kan memang menyimpan banyak rahasia dan mengelolanya dengan baik agar tidak sampai terjadi pencurian data. Kenapa harus diceritakan? Dan mengenai mengapa dia tidak pernah menceritakan dirinya sendiri karena memang… rasanya tidak ada yang perlu diceritakan. Semuanya tau 'kok dia kenapa.

"Ice! Kau jangan mendekam terlalu lama di gua esmu nanti betulan berubah jadi beruang kutub!" Taufan lagi-lagi memperingatkan hal itu untuk ke lima puluh kalinya. Ice tau itu merupakan sindiran jadi bersikap biasa saja. Kakak keduanya itu memang sering sekali bilang begitu. Dia juga tak masalah jika sampai tidak keluar kandang sendiri. Kandangnya sangat nyaman dan tempat teraman yang pernah Ice temui. Taufan tentunya tidak ada maksud menyakiti, hanya mengingatkan sebagai seorang kakak dan manusia.

"Sesekali bergeraklah keluar," tambahnya.

Ice melakukan itu, kok. Hanya saja tidak dilihat Taufan. Ice juga bergerak dan bicara kepada orang lain. Meski memang sebagian besar berbicara dengan komputer tapi tetap saja mulutnya pernah bergerak dan suaranya pernah dipakai meski tak sering.

Tidak perlulah terlalu mengkhawatirkannya. Kondisinya tidak semenyedihkan itu.

"Kau tidak di ancam yang aneh-aneh oleh siapa pun yang meminta bantuanmu, kan?"

Ice mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Maksudnya?"

"Iya," dahi Blaze sama-sama dikerutkan. "Di ancam. Seperti 'jangan sebarkan ke orang lain', 'hapus jejak pencarian sampai ke akarnya atau kau dalam masalah', 'tutup mulutmu rapat-rapat kalau mau selamat'. Ancaman seperti itu," ucap si pengendali api.

"Oh," balas Ice datar. "Tidak,"

Ice tidak pernah sekali pun mendapat absen ancaman-ancaman dari berbagai banyak makhluk hidup yang tau rahasia besar dan pernah bekerja sama dengannya. Bahkan level ancamannya sekarang makin tinggi dan lebih sadis dari yang Blaze contohkan.

"Yang benar?" tanya Blaze tidak percaya. Pasalnya Ice itu terlihat sekali punya banyak rahasia, tentulah dia curiga. Tapi karena Ice mengangguk dan tidak memperlihatkan tanda-tanda kejanggalan maka untuk ke sekian kalinya Blaze percaya. Dia tidak memaksa Ice untuk bicara. Sedikit banyak Blaze paham dengan sikap Ice yang selalu diam. Selama adiknya itu tidak berani membekukan salah satu anggota tubuh lainnya lagi maka Blaze akan terus percaya kalau Ice tidak apa-apa.

Padahal sebenarnya selain karena watak dari Ice sendiri yang memang pendiam, pekerjaannya juga menuntutnya untuk selalu tutup mulut. Banyak sekali hal yang tidak Ice beritau karena tuntutan pekerjaan. Yang sayangnya, sayangnya, tidak ada satu pun dari saudara kembarnya tau.

"Kak Ice masih simpan tanaman yang aku kasih?" Thorn, si kembar keenam yang memiliki image polos nan lugu, menghampirinya di ruang hijau TAPOPS dengan senyum manis. Sesekali memperlihatkan ekspresi khawatir tapi hanya bertahan beberapa detik dan langsung diganti begitu saja.

Beruang kutub dari Boboiboy bersaudara itu menatap sebentar si adik serba hijau kemudian menggangguk mengiyakan. Hari ini dia kena radang tenggorokan. Akibat terlalu banyak makan makanan manis. Setelah kena omel Gempa dan Halilintar, Dokter Ayu bahkan tidak dapat kesempatan mengomel, Ice tidak banyak membuka mulut ketika diajak bicara sebab lehernya sakit. Suaranya pun sudah berubah jadi lebih serak. "Um, leher kakak masih sakit?" Ice mengangguk lagi. "Mau minum teh hangat campur kayu manis? Aku punya persediaan kayu manis di kamar. Kalau Kak Ice mau, aku bisa buatkan," katanya dengan mata berbinar. Ice lagi-lagi mengangguk mengiyakan, kebetulan juga dia ingin minum teh. Jadi, kenapa tidak sekalian saja?

Adik pertamanya ini berubah.

Dulu, Thorn lumayan penakut jika Ice sudah sakit. Bahkan jika hanya demam dan pilek. Tapi dewasa ini, Thorn mulai bersikap biasa saja. Sudah tenang dan bisa berbicara lancar tanpa sesegukan atau menahan tangis. Mungkin terdengar lebay, tapi Thorn memang memiliki empati yang besar dan tiap kali Ice sakit (mau penyakitnya kambuh atau tidak pun) pasti ujung-ujungnya di opname. Dan biasanya pun di akhir akan keluar penyakit misterius yang mengancam nyawa. Terus begitu berulang kali hingga Thorn ketakutan. Dia selalu berdoa agar kesehatan selalu dekat-dekat dengan kakak kelimanya. Dia selalu berharap kalau kakaknya itu setidaknya bisa hidup normal layaknya mereka berenam. Setidaknya Ice bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bermain di luar dan berinteraksi dengan dunia.

Thorn itu sangat baik. Terlalu baik malah. Sampai-sampai Ice dibuat bingung kenapa bisa ada manusia sebaik dia hidup di dunia penuh ketidakadilan ini?

Ice sering dapat perhatian dan hal itu seperti sebuah bagian hidupnya yang tidak dapat dipisahkan. Apa dia senang? Semua orang senang diperhatikan tak terkecuali Ice. Namun, sering kali dia merasa kalau keluarga serta teman-temannya terlalu berlebihan. Mereka khawatir, Ice paham itu, tak jarang pula dia juga khawatir dengan kondisinya sendiri, tapi mereka semua sudah sampai di satu titik dimana adalah sesuatu yang sangat Ice benci. Tiga minggu kemudian, setelah berhasil mendapatkan izin masuk kerja dari Komandan Koko Ci dengan susah payah, akhirnya Ice kembali masuk ke kandang keduanya di markas TAPOPS. Tapi begitu masuk, dia melihat satu penampakan tambahan disana, yakni sosok adik bungsunya sendiri.

"Oh, Kak Ice. Sudah diperbolehkan kerja?" tanya Solar.

"Kamu kenapa di sini?" Ice pun memerhatikan sekitar dan memeriksa apakah dia salah ruangan. Dan rupanya tidak. Ini memang kantornya. "Tidak ke lab?"

"Habis ini aku ke sana," balas Solar. Tangannya sibuk mengutak-atik keyboard dan mengunduh sesuatu di layar komputer khusus CCTV. Setelah beberapa saat, layar komputer itu kembali normal seperti biasa. Kembali menampilkan rekaman terbagi delapan dalam satu layar. Bedanya, tiap orang muncul di rekaman tersebut terdapat semacam data identitas singkat yang menempel. "Aku membuat semacam program yang mempermudah kakak bekerja. Ini memang tidak banyak dan kedepannya aku berencana ingin meningkatkannya. Tapi ya… tidak tau kapan. Aku punya banyak sekali hal yang ingin ku coba dan di uji. Jadi kemungkinan besar akan memakan waktu lama. Kak Ice sekarang tidak–"

Solar bungkam. Untuk beberapa saat dirinya seperti dicekik sampai dibuat kesusahan bernafas dan badannya seperti sedang ditahan kuat-kuat sampai tak bisa digerakkan. Untuk beberapa saat, Solar mematung menatap dua bola mata biru pucat milik Ice yang terlihat sangat dingin. Berbeda sekali dengan tatapan malas yang biasa dia lihat. Rasanya dia seperti melihat sosok doppleganger** dengan segala mitos buruk yang beredar.

"Terima kasih." Solar terkejut dengan suara tenang namun hampa itu. Kakaknya terlihat sangat-sangat berbeda. "Kamu sudah bersusah-susah memasangkan, apa pun itu yang intinya bermaksud membantuku, membuatnya pasti susah dan kamu pasti kesulitan mengerti pasti teknologi aneh ini. Jadi, terima kasih." Tangan Ice tergepal kuat, tenang saja, bukan tangan kanannya tapi tangan kiri. "Kamu bisa kembali ke lab,"

"O-oh, iya. Baik, kak." Solar membungkukkan badannya sedikit dan pamit sambil melirik dengan ujung mata memerhatikan ekspresi Ice yang kosong. Bahkan terlihat hampir menangis. Ada apa? Kenapa kakaknya sedih?

Solar tidak sempat, ralat, takut bertanya. Ice adalah kakak yang hampir tidak pernah menunjukkan emosinya. Terutama emosi marah dan sedih. Selalu bersikap biasa-biasa saja dan baik-baik saja. Sama seperti Taufan dan Gempa tapi mereka selalu berhasil diajak kerja sama. Makanya begitu melihat betapa hancur pertahanan kakak kelimanya, Solar seperti melakukan sesuatu yang amat salah.

Oh, apa karena dia masuk tanpa izin ke kantornya? Tapi beberapa kali dia juga melihat kakak-kakaknya yang lain melakukan hal yang sama dan tidak apa-apa. Oh, mungkinkah Ice sebenarnya menahan diri untuk tidak marah? Tapi mengapa? Semua orang berhak mengatakan apa pun yang ada di kepalanya dengan bebas (bebas dan tersaring) mengapa menyia-nyiakan kesempatan itu?

Solar benar, memang kalau merasa tidak suka kita harus bilang "tidak suka" namun sayangnya (sekali lagi diingatkan) Ice tidak bisa. Kata-kata itu tertahan begitu saja di ujung lidah seperti ada semacam satpam di sana yang tidak memperbolehkan kata-kata tersebut keluar. Solar tentu akan kembali bertanya dan Ice akan tetap diam sampai adik bungsunya itu diam sendiri karena kesal dan capek di abaikan.

Bagaimana keadaan Ice di kantornya tercinta setelah menangkap basah Solar mengutak-atik komputer CCTV TAPOPS? Tidak begitu baik. Dia masih diam di tempat tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit sebelum akhirnya menarik bangku dan duduk di sana dengan tenang. Mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan, terus diulang sampai benar-benar tenang. Ice terguncang. Kenapa? Padahal 'kan dia sedang dibantu mengapa responnya sampai seperti itu? Bukankah hal itu malah menandakan dia tidak menghargai usaha dan upaya orang lain yang perhatian dengannya?

PIP – PIP!

Ice selalu merasa dia hanyalah beban orang lain. Selalu merasa bahwa hidupnya hanya akan menuntut uang lebih karena penyakitnya. Emfisema itu tidak bisa disembuhkan hanya bisa ditekan agar tidak terlalu mengancam nyawa. Belum lagi dengan penyakit pendatang yang datang tanpa diundang masuk ke tubuhnya, belum lagi dengan efek samping dari penyakit emfisema itu sendiri yang katanya bisa menyerang jantung dan memperparah kondisi paru-parunya yang (dikatakan) sudah hancur, belum lagi dengan tetek bengek lain yang membuatnya makin bertanya kenapa dia masih bisa bertahan di umurnya yang ke dua puluh. Anugerah? Iya, baik, itu bisa diterima. Yang Maha Kuasa masih sayang padanya sehingga memberi waktu lebih untuknya di dunia. Keluarga dan teman-temannya juga mendukung, sesuatu yang sangat dia perlukan tapi sayang Ice seperti menolak kehadiran mereka. Terlalu banyak tekanan dan kekhawatiran yang membuat kepalanya jadi benang kusut.

Jangan di pikirkan.

Santai saja.

Katakan saja apa yang ingin kau katakan.

PIP – PIP!

Sebuah email masuk dengan pengirim yang sama sebanyak empat kali. Ice mengusap pipinya yang basah sebelum membuka email yang sudah menumpuk itu satu per satu. Lagi-lagi yang mengirim adalah Laksamana Nakila. Beliau sudah jarang minta tolong tapi jadi lebih sering bertanya pendapat dan mengajaknya secara terang-terangan bergabung ke kelompok khususnya. Lagi. Sebenarnya kalau dipikir ulang secara teliti, memang tidak buruk. Ice juga sudah dengar banyak tentang Laksamana Nakila sendiri dari ayahnya. Beliau memang pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Apa pun yang dikerjakannya bersih. Semuanya murni karena keingintahuannya akan ilmu pengetahuan.

Jadi… perlukah dia memberi kesempatan pada perempuan itu?

Ah, masa bodo.

Tidak masalah apa yang akan terjadi nanti, tidak masalah apakah ini berbahaya atau tidak, tidak masalah apakah ini merugikannya atau tidak. Ice sudah tidak peduli. Dia ingin menikmati detik-detik hidupnya yang bagai jam pasir ini dengan penuh kepuasan tanpa penyesalan. Jika pun dia mati karena Laksamana Nakila, itu tidak apa. Ini pilihannya jadi seharusnya dia tidak menyesal.

….

Hari ini, TAPOPS kedatangan tamu istimewa. Komandan Koko Ci dan Kapten Kaizo saja sampai kalang kabut mempersiapkan semua orang di markas. Boboiboy bersaudara dan kawan-kawan tentunya bertanya-tanya siapakah gerangan yang datang? Jika dua orang berpangkat tinggi yang mereka kenal saja kalang kabut berarti siapa pun yang datang adalah orang penting. Tidak, sebenarnya mereka juga beberapa kali pernah kedatangan orang penting namun persiapannya tidak sampai seperti ini. Berarti, kali ini, siapa pun dia yang pasti memiliki pengaruh besar.

"Siapa ya kira-kira?" tanya Yaya. Inginnya segera memakai kekuatannya dan terbang, melihat siapa orang yang di sambut. Namun tentu hal itu tidak sopan.

"Aku juga penasaran. Siapa yang datang sampai-sampai TAPOPS saja bagai di amuk badai begini?" timpal Ying.

"Katanya yang datang itu salah satu pendiri dan sosok yang sangat berpengaruh di TAPOPS. Beliau juga berasal dari satu ras di galaksi yang hampir punah," jelas Fang. Sedikit banyak tau siapa yang datang ke markas secara mendadak karena Kapten Kaizo sempat menyinggung. "Namanya kalau tidak salah Nakila. Laksamana Nakila."

"Nakila? Sebentar, nama itu agak familiar," ucap Blaze sambil mengusap-usap dagunya.

Gopal dan Gempa saling berpandangan, "Kau tau siapa beliau, Blaze?"

"Huh? Tidak. Tapi rasanya aku sering dengar nama itu," balasnya.

Singkatnya, setelah berdiri, berbaris, dan bersikap layaknya patung (tidak bergerak sama sekali) pada akhirnya tim dari bumi dan juga Fang tidak bisa melihat sosok Laksamana Nakila. Posisi mereka berbaris terlalu jauh. Solar cemberut. Sepertinya dia satu-satunya yang paling ingin melihat laksamana perempuan tersebut.

"Solar, sudahlah. Jangan cemberut. Kita pasti bisa melihat Laksamana Nakila nanti," bujuk Gempa. Tapi Solar tidak peduli. Mukanya semakin tertekuk. Taufan langsung menggoda si bungsu karena tidak biasanya dia merajuk. Alhasil, wajah Solar berubah merah. Entah malu atau marah. Gempa menegur Taufan yang menahan tawa, tidak ingin membuat keributan di tengah penyambutan.

Yaya melirik ke belakang barisan. Sejak tadi dia tidak mendengar suara dari Halilintar maupun Ice. "Lho? Hali dan Ice mana?"

"Mereka di ruang kesehatan. Ice mimisan. Tidak tau kenapa. Kak Hali yang menjaganya," jelas Taufan. "Kalau kau tanya tentang Thorn, dia ada tugas di ruang darurat. Penyambutan ini berbarengan dengan kepulangan misi yang dipimpin Sai. Dan sebagian besar prajurit yang ikut terluka."

"Benarkah? Kali ini misi macam apa? Semoga mereka baik-baik saja,"

Taufan mengangkat bahu. "Tanya saja ke Sai," katanya.

"Hei, mengenai Ice. Apa dia tidak apa-apa? Komandan Koko Ci sudah memotong jam kerjanya, kan? Kali ini kenapa? Demam, kah?" tanya Ying.

"Ying, tolong pertanyaannya satu saja. Dan bicaramu terlalu cepat, pusing aku dengarnya,"

"Oh, maaf. Aku khawatir,"

"Kami tidak begitu tau, Ying. Kak Hali yang bersama Ice sejak tadi, mereka olahraga. Mungkin kelelahan? Aku tidak yakin. Tapi akhir-akhir ini Ice memang terlihat banyak gerak dan pikiran." Kali ini Gempa yang menjawab. Lalu percakapan itu berakhir dengan terpaksa. Dan sampai akhir pun mereka tidak bisa melihat rupa Laksamana Nakila. Beliau di arak ke kantor Laksamana Tarung dengan penjaga yang banyak dan tentunya sangat ketat. Ini adalah kejadian yang cukup menarik. Gempa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Kunjungan ini terasa spesial. Entah bagaimana dia bisa merasakan hal besar sedang terjadi. Perlukah dia bertanya pada Taufan? Gempa melirik kakak keduanya itu dan terkejut. Wajah Taufan yang cerah itu kosong. Dia bahkan berdiri diam di koridor seperti patung. Gempa juga ikut berhenti berjalan dan mendekati Taufan dengan langkah hati-hati.

"Kak Taufan?" panggilnya. Taufan menatapnya dengan mata biru yang kembali hidup. "Kakak… tidak apa-apa?" tanya Gempa ragu.

"Huh? A- Itu… Huh?" Taufan linglung. Wajahnya begitu kebingungan. Gempa khawatir, dia tau dengan kemampuan hypersensitive Taufan yang kadang mengganggu. Tak jarang dia sendiri melihat wajah stress dan ketakutan di sana. Kali ini apa yang Taufan dengar dan lihat? "Ti-tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Gempa."

Gempa pun percaya. Melihat Taufan yang langsung keringat dingin membuatnya tidak enak untuk melanjutkan pertanyaannya. Ini bukan yang pertama kali dan Gempa seharusnya terbiasa. Seharusnya sudah tidak apa-apa.

"Sudah, ya? Aku pergi. Dah, Gempa!" Taufan pamit dan pergi dengan hoverboardnya.

….

||Kantor Laksamana Tarung||

"Tunggu, apa?"

"Hm?" Laksamana Nakila memiringkan kepalanya tidak mengerti. Di ruangan besar ini hanya terisi lima orang saja, dirinya, Laksamana Tarung, Komandan Koko Ci, Kapten Kaizo, dan tangan kanan Laksamana Tarung sendiri, Lio. Mereka semua menatap lurus ke Laksamana Nakila dan tanpa perlu ditanya pun, Laksamana Nakila sadar tatapan itu tersimpan banyak pertanyaan. "Kenapa kaget begitu? Apa saya salah bicara? Tidak biasanya kamu kaget begitu, Tarung."

"La-Laksamana Nakila, anda serius dengan yang anda bicarakan?" Komandan Koko Ci angkat bicara meski terbata-bata.

"Tentu saja! Koko Ci, saya selalu serius dengan apa yang saya ucapkan. Saya ingin merekrut Ice ke dalam kelompok saya. Apa itu kurang jelas?" Laksamana Nakila tersenyum cantik. Senyumnya begitu lebar sampai hampir merobek pipi, mata kucingnya berkilat menyala bahaya. Laksamana Nakila bersikap manis. Dia memohon (dengan caranya) pada orang yang bertanggung jawab penuh pada sosok yang diinginkannya.

Laksamana Tarung diam.

"Kenapa?" tanya Kapten Kaizo. "Anda sudah punya petugas informasi paling handal dan berbakat. Semua anggota yang punya kemampuan tinggi dalam memperoleh informasi dari TAPOPS, Triton, dan angkatan militer angkasa lainnya sudah bergabung. Kelompok anda sangat cemerlang. Semuanya diisi orang pintar teknologi. Mengingat ketidaksukaan anda yang tidak suka orang banyak, bukannya dengan menambah anggota malah membuat anda sesak?" Kapten Kaizo melakukan kontak mata dengan satu-satunya perempuan di ruangan itu. Laksamana Nakila membalasnya tanpa takut. Senyum masih terpasang di bibir. "Apa lagi yang anda inginkan? Apa mengambil hampir separuh petugas informasi TAPOPS tiap tahun masih belum cukup?"

"Oh? Orang-orang itu? Apa kamu bertanya kemana orang-orang itu, Kapten Kaizo?" tanya Laksamana Nakila dengan tenang. Empat orang lainnya mengernyitkan dahi. Tidak mengerti, kenapa sosok paling senior di sini berbicara seperti itu. "Hm, baiklah. Karena kamu tiba-tiba bertanya seperti itu tentu saja harus dijawab. Aduh, bagaimana cara menjelaskannya, ya?" Laksamana Nakila bermonolog sendiri. Setelah diam beberapa saat, dia kembali memasang wajah manis. Yang dimana menjadi sesuatu yang memuakkan bagi Kapten Kaizo. "Mereka semua sudah mati."

Hening. Atmosfer di sana menjadi mencekam dan menyesakkan. Keempat laki-laki yang ada di sana mematung. Terlalu terkejut dengan apa yang di dengar.

"Mereka mati karena kesalahan mereka sendiri. Dengan beraninya mereka membocorkan informasi yang ku kumpulkan susah payah. Kapten Kaizo, kamu sendiri pasti juga tau kalau saya sangat tidak suka dengan pengkhianat. Mereka benalu menyusahkan yang berusaha mengambil keuntungan sendiri. Kenapa ya mereka melakukan itu? Padahal saya sudah menyediakan fasilitas yang sangat bagus dan berusaha memenuhi apa yang mereka inginkan. Kenapa ya mereka melakukan itu? Apa karena tidak puas atau mungkin barang kali mereka terbebani? Tapi 'kan mereka bisa mengatakannya pada saya secara baik-baik bukannya menusuk dari belakang seperti ini."

"Dan Ice? Ada kemungkinan juga dia melakukan hal yang sama," kata Laksamana Tarung.

Komandan Koko Ci mengangguk. Wajahnya begitu panik. "Benar! Dia masih sangat muda. Akan sering membuat kesalahan. Emosinya pun belum stabil. Dan–"

"Saya sudah memeriksanya,"

"Me-memeriksa? Maksud anda?"

Laksamana Nakila tertawa pelan. "Dia sempurna. Cara kerjanya, hasil kerjanya, perilakunya, dan kemampuannya untuk tetap diam dalam keadaan apa pun. Dia melebihi ekspetasiku untuk seorang petugas informasi. Dia berbakat. Saya suka."

Laksamana Tarung diam. Dia tau betul kemampuan Ice dalam mengolah dan mencari informasi. Dan jujur saja, dia pun juga sama kagumnya. Perempuan itu tidaklah salah. Ice memang hebat dan berbakat. Lalu, apa Tarung akan menyerahkan prajuritnya itu? Normalnya tidak. Tidak ada pemimpin yang mau kehilangan kartu asnya. Tapi Laksamana Tarung tidak seegois itu. Dia tidak suka menyimpannya seorang diri. Kalau orang yang bersangkutan mau pergi maka dengan senang hati Laksamana Tarung akan memperbolehkannya. Toh, mereka berhak memilih.

Namun, itu dulu.

Sekarang sudah berbeda.

Keadaan TAPOPS sering tidak stabil. Petugas komunikasi dan informasi pun juga semakin kurang, jadi mereka sering kali telat beberapa detik mengetahui keadaan sekitar. Dan berakibat fatal. Laksamana Tarung ingin mempertahankan Ice sebisa mungkin. Entah karena bakat, posisi, kekuatan, dan janjinya kepada Halilintar, Laksamana Tarung tidak bisa melepas prajurit terbaiknya. Meski dia dapat rumor kalau prajuritnya itu sendiri juga tidak bisa hidup panjang, mereka manusia wajar saja, sebisa mungkin pun Tarung akan tetap menjaga prajurit ringkihnya itu.

"Dia juga setuju. Saya sudah sering mengajaknya secara langsung dan selalu ditolak. Namun kali ini dia langsung menerimanya. Wah! Bukankah itu keajaiban? Saya senang sekali! Saya tidak menyangka bisa berhasil mengalahkan sifat keras kepalanya. Saya senang sekali!"

Seketika Laksamana Tarung merasa kalah. Karena ini belum waktunya jam istirahat kulitnya masih berwarna merah namun rautnya tenang dan diam. Dia merasa tidak berdaya.

Komandan Koko Ci terkejut, mulutnya pun sampai terbuka dan kacamata hitamnya agak miring. Barang kali tidak menyangka dengan keputusan yang dibuat kembar kelima Boboiboy itu. "Laksamana, anda tidak…"

"Duh, Koko Ci. Harus berapa kali saya bilang kalau saya tidak pernah bercanda. Kenapa masih meragu begitu?"

"Tidak. Maaf, tapi ini semua agak mendadak," balas Komandan Koko Ci.

"Mendadak dari mananya? Saya tidak paham,"

"Laksamana, maaf kalau lancang tapi anda tidak begitu paham dengan kondisi kesehatan Ice sendiri. Dan itu hanya akan merepotkan–"

"Saya tau tentang itu. Dan kenapa? Saya tidak ada masalah dengan itu. Saya butuh bakatnya. Saya juga sudah menyiapkan fasilitas kesehatan di pesawat luar angkasa saya,"

"Dia hampir berada diujung tanduk hidupnya sendiri. Kalau anda paksakan dia untuk bekerja–"

"Saya sudah punya jadwal kerjanya dan juga sudah berkonsultasi dengan orang yang bersangkutan. Bagaimana pun saya perlu komentarnya dengan apa yang saya rencanakan untuknya. Dan dia setuju. Tidak ada masalah,"

"Laksamana–"

"Saya tidak paham, kenapa kalian semua menahan saya untuk mengambil prajurit kalian? Dia 'kan hanya satu dari sekian banyak prajurit yang kalian punya. Kenapa protektif sekali?" tanya Laksamana Nakila. Lucu juga melihat empat orang yang biasanya masa bodo ketika dia meminta sejumlah prajurit mereka malah kalang kabut hanya karena satu prajurit. 'Ternyata kamu prajurit kesayangan, Ice. Saya tidak menyangka,' batinnya. "Jadi? Boleh? Tarung, semua ada dikeputusanmu. Kamu tinggal bilang 'iya' saja dan saya akan pergi dari sini secepat mungkin. Mudah, kan?" Tapi yang bersangkutan masih diam. "Ayolah. Tidak biasanya jika hal ini terjadi jadi berbelit seperti ini. Ada apa? Apa kamu tidak mau menyerahkan dia? Hm, tapi Tarung, dia sendiri yang bilang mau bergabung ke kelompokku. Kamu sendiri juga pernah bilang berkali-kali kalau tidak akan memaksa keputusan para prajuritmu, kan? Saya sudah mengikuti aturan mainnya secara bertahap. Saya juga sudah mengontakimu beberapa minggu lalu sebelum datang kemari untuk menjemput dia. Ah, tapi kamu juga tidak membalasnya. Kenapa Tarung? Apa kamu takut dia saya bunuh seperti prajurit yang lain? Tenang saja, dia sesuai dengan kriteria kerja saya. Saya secara pribadi juga suka dia. Saya tidak akan ge–"

"Saya punya janji," potong Laksamana Tarung. Laksamana Nakila menatapnya bingung. "Saya berjanji pada saudaranya yang tertua untuk tidak akan memisahkan dia dari para kembarannya. Apa pun yang terjadi."

"Ah… Susah juga kalau punya janji seperti itu," ucap Laksamana Nakila. "Saudara tertuanya… berarti kembarannya, kan? Mereka kembar tujuh. Identik. Kembaran pertama. Oh! Saya tidak mengira kalau bocah merah yang punya tatapan menyeramkan itu sangat protektif pada adiknya. Oh! Lucu! Imut!"

Senyum kecil muncul di bibir Laksamana Tarung. "Saya membenarkan apa yang anda katakan. Saya memang tidak akan menghalangi prajurit saya jika mereka memilih untuk pergi. Namun untuk kali ini saya tidak bisa. Karena TAPOPS sendiri kami juga kekurangan petugas komunikasi dan informasi. Jika anda bersikeras ingin menjemput Ice maka anda harus minta izin langsung pada saudara tertuanya, Halilintar. Namun," Laksamana Tarung melemaskan pundaknya yang sejak tadi tegang. Dia tidak bisa berdebat lebih jauh pada orang yang lebih senior dan jago memainkan kata. Kepalanya akan pusing dengan semua balasan debat yang sudah dia perkiraan akan keluar dari mulut perempuan itu. "Saya bisa yakin dua ratus persen kalau jawaban yang anda dapatkan nanti akan mengecewakan."

"Dua ratus persen? Kamu yakin sekali," kata Laksamana Nakila. "Padahal belum tentu seperti apa yang kamu katakan. Ah, tapi tidak apa. Itu menjadi catatan penting di kepala. Adiknya saja keras kepala apalagi kakaknya. Lalu Tarung, saya tidak menyangka kamu mau-maunya berjanji secara langsung pada prajuritmu. Keinginan mereka dengan keinginan kita mungkin bisa saja selaras tapi kita masih punya aturan yang perlu dijalani. Memangnya balasan macam apa yang dia tawarkan sampai-sampai kamu mau berjanji padanya?"

Laksamana Tarung diam. Begitu pula dengan yang lain. Karena mereka tidak tau menahu tentang masalah perjanjian itu. Dan Laksamana Nakila tertawa kecil.

"Saya hanya perlu bertemu dan meminta izin pada Halilintar, kan? Baik. Saya akan melakukannya sekarang juga." Laksamana Nakila pun berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu dan keluar.

Komandan Koko Ci sontak langsung berdiri dan mengejar Laksamana Nakila. Mencoba menghentikan niatnya.

Lio memandang pintu kantor yang sudah kembali tertutup rapat itu beberapa saat sebelum menatap Laksamana Tarung. "Apa yang akan anda lakukan selanjutnya?"

"Apa yang harus aku lakukan memangnya?" tanyanya balik. "Dia masih ingat dan memegang baik-baik ucapanku dulu. Aku tidak bisa mengelak. Tidak bisa menjilat ludah sendiri."

"Jadi, anda menyerahkan semuanya pada Halilintar?" tanya Lio lagi.

Laksamana Tarung menghela nafas. "Aku sebenarnya tidak ingin tapi tidak ada pilihan."

Kapten Kaizo mendengus kesal. "Bocah bumi itu pasti marah sekali."

Lio tiba-tiba khawatir. "Apa saya perlu mempersiapkan sesuatu, Laksamana?"

"Tidak. Aku rasa tidak perlu. Biarkan begini," kata Laksamana Tarung. "Untuk sekarang, tidak ada yang bisa kita lakukan. Sudah jalan buntu."

….

Halilintar tidak tau sedang merasakan apa.

Menit yang lalu dia panik. Kemudian berubah menjadi cemas dan marah. Perasaan marah itu sendiri masih bertahan agak lama sampai tiba-tiba hilang begitu saja dan menjadi kosong. Kemudian tak lama setelah itu perasaan tidak enak muncul. Dadanya terasa berat dan entah kenapa rasanya seperti ada sinyal bahaya mendekat. Padahal dia sendiri sedang ada di markas, tidak menjalankan misi atau pun ada penyusup yang masuk. Di luar hanya ada semacam penyambutan kepada entah-siapa-dia-tidak-peduli.

Halilintar lama-lama benci warna putih dan bau obat.

Ice sudah tidur. Setelah diperiksa, Halilintar memaksanya untuk istirahat. Sempat mengomel sebentar tapi langsung diam begitu ingat berada di dalam ruang kesehatan dan Ice yang sedari tadi memijat pelan kepalanya. Hari ini adalah hari libur untuk ketiga kalinya dalam sebulan. Cukup longgar karena biasanya selama sebulan pun hampir tidak mendapat hari libur bahkan sampai beberapa bulan ke depan. Halilintar juga tidak ada kerjaan hari ini. Dia gabut. Ingin latihan pun malas. Bahkan mau malas saja malas. Lalu dia putuskan untuk ke kantor Ice dan berdiam diri di sana sambil sesekali memerhatikan bagaimana adiknya itu bekerja. Halilintar juga sudah lama tidak melihat Ice karena habis menjalani misi yang cukup panjang. Sambil mengecek keadaan juga. Dia dapat kabar dari Thorn yang bilang kalau Ice makin pucat dan kurus. Bocah itu memang lebih putih dari mereka berenam karena jarang main keluar.

Sekali lagi, dia tidak tau apa yang dia rasakan. Tiap kali melihat adiknya yang satu ini, beban yang ada di tubuhnya langsung hilang. Benar-benar kosong. Dan mungkin ini hanya dia saja atau memang dia sudah melihat Ice tidak punya gairah hidup lagi. Sudah mendekati menyerah. Halilintar menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pemikiran buruknya itu jauh-jauh. Ice masih bisa bertahan. Dia masih melawan penyakitnya sendiri. Dia masih kuat. Dia masih bisa.

"Saya mohon, pikirkan kembali! Dia masih sangat kecil untuk berada di bawah pimpinan anda!"

"Kamu berisik dari tadi merengek terus. Saya sudah menantikan ini dan dia menerimanya dengan senang hati! Mana mungkin saya sia-siakan?"

Halilintar bisa mendengar suara Komandan Koko Ci dan seorang perempuan dari kamar rawat. Suara itu cukup keras dan terdengar jelas meski sumber suaranya masih agak jauh. Barang kali karena koridor menuju ruang kesehatan sangat sepi jadinya suara menggema dan terdengar jelas. Lorong ruang kesehatan memang sudah seperti lorong mati karena jarang sekali yang datang kemari. Akan ramai jika ada tes kesehatan rutin dan yang terluka ringan saja.

Halilintar pun penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Dia hampir saja keluar tapi keduluan Dokter Ayu yang langsung menghentikan keributan itu. Tidak bisa dibilang 'menghentikan' karena Halilintar masih bisa mendengar suara-suara di luar. Masih berisik. Komandan Koko Ci pun masih terdengar sangat panik dan Dokter Ayu berusaha setenang mungkin untuk membujuk siapa pun yang diajak bicara Komandan Koko Ci untuk menjauh dari ruangan. Atau setidaknya tidak berisik. Ice tidur pun karena pengaruh obat jadi tidak ada kekhawatiran dia akan terbangun karena suara mereka namun karena tempat ini sudah seperti rumah sakit mini dan sikap jika berada di rumah sakit adalah harus tenang, Dokter Ayu pun memberlakukan aturan itu di sini.

"Ah! Tunggu sebentar! Anda dilarang masuk! Ada pasien yang beristirahat di dalam!"

Pintu di buka agak kasar hingga berbunyi nyaring menyakitkan, Halilintar refleks berdiri dan siaga jika orang yang menjadi tersangka keributan melakukan hal kurang menyenangkan di dalam. Lalu yang dia lihat selanjutnya dengan mata merah delimanya itu adalah seorang perempuan dengan tato di bawah mata yang berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam dengan kepala menoleh ke kanan ke kiri mencari sesuatu. Sampai akhirnya dia berhenti dan membuat kontak mata dengan Halilintar.

"Oh!" serunya. Senyum muncul di bibir, lebar sekali. Perempuan itu berjalan dengan langkah lebar dan cepat mendekatinya sampai membuat Halilintar sendiri mundur ke belakang. "Mirip! Benar-benar mirip!" serunya lagi.

Halilintar tidak paham maksud ucapan perempuan itu. Tiba-tiba kedua tangannya digenggam erat oleh perempuan itu dan langsung heboh sendiri. "Halo! Saya Nakila! Saya adalah orang yang sering sekali menyewa jasa adik anda! Saya. Sangat. Suka. Dengan. Kerja. Adik. Anda. Benar-benar suka! Semuanya dikerjakan rapi, teliti, dan rinci! Penjelasannya pun tidak berbelit dan mudah dipahami. Gaya penulisannya unik dan… dan," seperti seorang penggemar perempuan itu hanya bisa mengekspresikan emosinya lewat wajahnya yang berbunga-bunga dan senyum yang makin lebar. Halilintar mengernyit sakit, kedua tangannya dicengkram kencang sekali. "Saya sangat suka dengan Ice! Saya mohon! Tolong berikan Ice pada saya!"

"Apa?"

"Laksamana!" teriak Komandan Koko Ci. Wajahnya penuh dengan peluh dan nafasnya putus-putus. "Tolong, jangan gegabah seperti itu. Dan bukankah saya sudah bilang–"

"Gegabah apanya? Koko Ci, bicaramu makin tidak jelas. Saya sudah menunggu ini sejak lama," balas Laksamana Nakila.

"Laksamana? Sebentar. Kau itu siapa?" tanya Halilintar. Mukanya agak merah. "Apa maksudnya dengan 'berikan Ice kepada saya'? Mau apa kau pada adikku?!"

"Halilintar, sebenarnya dia ini–"

"Saya Nakila. Laksamana Nakila, jika kamu ingin tau siapa saya di TAPOPS. Dan saya ingin meminta izin kepadamu, sebagai saudara tertua, untuk menyerahkan secara suka rela Ice kepada saya,"

Halilintar semakin tidak paham. Dia menarik kasar tangannya dan berteriak marah, "Apa-apaan! Aku tidak peduli kau siapa! Apa maumu pada adikku?!"

Komandan Koko Ci berusaha melerai. "Halilintar, tenanglah. Beliau bermaksud merekrut Ice ke dalam kelompoknya," jelasnya setenang mungkin.

"Merekrut? Untuk apa? Ice tidak perlu masuk ke dalam kelompok siapa pun!" tolak Halilintar mentah-mentah. "Di sini saja kondisinya naik turun apalagi jika sampai bergabung ke kelompok yang dimaksud. Kenapa–"

"Maaf! Tapi ini ruangan yang seharusnya tenang! Jika kalian ingin bertengkar atau bahkan membuat keributan yang heboh, mohon keluar! Ada pasien yang membutuhkan istirahat total di sini!" jerit Dokter Ayu. Wajahnya panik luar biasa. Dia sudah dengar dasas-desus perihal gambaran marah seorang Boboiboy Halilintar yang menakutkan dan berada di tempat ini adalah kesalahan besar. "Tolong keluar sebelum melakukan sesuatu yang berbahaya."

"Tapi-tapi, kami tidak melakukan apa pun yang berpotensi merusak sesuatu. Kan, Koko Ci?"

"Laksamana, saya mohon. Mari kita dengarkan saja apa kata dokter dan pergi dari sini. Jika anda ingin membahas lebih lanjut, kita bisa melanjutkannya di tempat yang lebih cocok." Tiap kali berinteraksi dengan Laksamana Nakila rasanya seperti berkurang umur sepuluh tahun. Lama-lama Koko Ci bisa mati lebih cepat kalau begini. "Mari kita pindah ruangan. Halilintar, kau juga ikut."

….

Dan, mereka pun berhasil pindah ke tempat yang lebih layak. Ruang pertemuan.

Laksamana Nakila pun langsung menjelaskan kedatangannya dengan jelas, singkat, padat, dan cepat. Dia tidak bisa menyembunyikan senyum lebar di wajah, terlalu senang. Tangannya tidak bisa diam. Dari awal sampai akhir penjelasan selalu membuat gerakan heboh. Komandan Koko Ci tidak bisa berbuat banyak. Sejak awal apa pun yang dia katakan selalu dihiraukan, hampir saja dia sakit hati karenanya. Halilintar yang menjadi pendengar pun juga tidak bisa menyembunyikan wajah masam dan bibir yang menekuk ke bawah.

"Saya tidak melihat bahwa saya harus mengizinkan Ice bergabung. Kenapa? Masih banyak yang punya kemampuan yang sama dengan Ice," kata Halilintar. Jelas sekali menolak keras. Komandan Koko Ci tau ini akan terjadi jadi tidak banyak reaksi yang keluar. Karena, jangankan Halilintar yang sebagai kakaknya bahkan dia, Kapten Kaizo, Lio, dan Laksamana Tarung saja tidak setuju.

"Kamu tidak percaya kalau saya sudah mendapat konfirmasi sendiri dari Ice? Duh, kalau mau bukti seharusnya bilang. Ah, tapi saya sendiri yang tidak mengeluarkan bukti email yang dimaksud. Saya minta maaf," kata Laksamana Nakila. Lalu mencari sesuatu dari tas pinggangnya.

Halilintar menggigit bibir bawahnya menahan marah. "Saya tidak peduli. Mau Ice sendiri yang bilang ingin bergabung atau tidak, saya tetap tidak akan mengizinkannya!"

"Kenapa?" tanya Laksamana Nakila. Fokusnya masih ke tas mencari barang yang mirip handphone. "Kamu memenjarakannya. Saya tidak tau kamu sadar atau tidak. Berperilaku protektif begini memang bisa di pahami tapi dia sudah besar, lho. Sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Kamu memang kakaknya, yang tentu punya tugas sendiri sebagai pelindung adik-adikmu. Saya paham. Tapi Halilintar, kamu jangan egois. Selama ini, Ice hanya menuruti keinginanmu saja. Memangnya dia pernah meminta sesuatu dan kamu kabulkan begitu saja tanpa pertimbangan ketat? Sepertinya tidak."

"Pernah atau tidak itu bukan urusan anda," respon Halilintar dingin. Komandan Koko Ci menutup wajahnya pasrah. Yang dia inginkan hanya masalah ini bisa berakhir dengan cepat. "Jangan bicara seakan-akan anda kenal."

"Tapi saya betulan kenal dia," seru Laksamana Nakila. Dia menyalakan barang yang mirip handphone itu dan keluarlah hologram. Laksamana Nakila kemudian mencari email terakhir Ice. "Saya sudah saling kirim balas pesan dari kalian umur enam belas tahun. Sebulan kemudian saya mengajak Ice bergabung ke kelompok saya. Tapi ditolak karena tau respon macam apa yang akan di dapat dari keluarganya. Dia juga bilang secara spesifik kalau kamu yang paling keras menolak ajakan ini. Dan yah… hampir lima tahun berlalu dan ucapannya benar-benar terjadi. Oh, ini dia." Laksamana Nakila pun memperlihatkan isi email yang berisi persetujuan Ice bergabung ke kelompoknya. Dia juga menampilkan email lain yang kebanyakan berisi ajakan dan (tentunya) penolakan dari Ice. Laksamana Nakila bahkan memperlihatkan bukti yang barusan dia katakan.

"Kamu bisa lihat tanggal pasti dari email-email itu," katanya. Lalu tersenyum lebar, matanya juga ikut tersenyum. "Saya tidak bohong, kan? Saya tidak membual dengan apa pun yang saya bilang ke kamu, kan? Saya jujur dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bukti sudah kamu lihat jadi kamu tidak bisa mengelak lagi. Mau mengatai saya pembohong juga tidak bisa. Kamu bisa tanya pada Ice kalau mau. Ah, tapi saya rasa dia juga akan enggan untuk mengatakan hal itu. Tanyakan saja pada ayahmu, Amato, dia juga tau, kok. Ini sedikit aneh karena ayahmu sendiri membebaskan Ice untuk memilih apa pun yang dia suka ketimbang kamu yang sebagai saudaranya, kakak tertua, yang melarang ini itu. Peran kalian terbalik sepertinya. Saya juga tidak paham kenapa kamu begitu marah dan menentang hal ini mati-matian, saya tidak tau alasan dan masa lalu kamu. Saya yang hanya sebagai pihak pengamat hanya bisa bertanya dan terus bertanya juga menebak dan memakluminya. Bisa saja kamu bersikap seperti ini karena ada masalah di masa lalu. Tiap orang punya alasan, punya latar belakang yang kuat di balik tindakan mereka, kan? Oh, kalau kamu tetap mau bertanya pada Ice, apa pun itu, saya bisa beri waktu lagi. Tapi tolong jangan lama-lama, ya? Saya masih punya agenda yang harus saya kerjakan. Empat hari cukup? Saya benar-benar tidak bisa memberi waktu banyak, saya sangat sibuk. Sayang sekali kamu tidak bisa menawar."

Laksamana Nakila masih tersenyum lebar. Mata kucingnya menangkap berbagai ekspresi dalam Halilintar. Sedih, kecewa, syok, terluka, dan tidak percaya. Semuanya jadi satu. Laksamana Nakila merasa menang. "Ya sudah, empat hari, ya! Saya tunggu. Koko Ci, hari ini dan empat hari kemudian saya menginap di sini, ya! Tolong siapkan kamar," Komandan Koko Ci mengiyakan. Dia lalu pamit undur diri untuk memberitaukan hal ini pada Laksamana Tarung dan mungkin juga berdiskusi beberapa hal. Hal apa itu? Tidak ada yang tau. "Seharusnya saya tidak membuang-buang waktu. Tapi karena kebetulan Amato, Ice, juga Tarung sama-sama memperingati saya untuk meminta izin ke kamu, karena kamu akan meledak jika sampai tidak diberitau katanya, jadi saya lakukan. Saya menghormati keinginan mereka. Jadi Halilintar, saya harap kamu juga melakukan hal yang sama."

Halilintar diam. Dia sudah selesai membaca semua email dan sekarang hanya menatap kosong kumpulan email itu. Perasaannya masih campur aduk omong-omong. "Halilintar," si kembar tertua balas tatapan kemenangan dan merendahkan (?) perempuan di depannya. Laksamana Nakila terlihat gembira sekali. Mata kucingnya berkilat dan –oh. Apakah Halilintar mulai berhalusinasi? Karena dia bisa melihat sosok perempuan jelita di depannya berubah bentuk menjadi sosok yang menyeramkan. Mata kucingnya tampak buas, giginya meruncing, di kepalanya tumbuh empat tanduk panjang, dan dua benda besar yang melayang di belakangnya berbentuk lingkaran dan di dalamnya ada belah ketupat yang bersinar seperti mata tambahan. "Saya sebenarnya tidak begitu peduli apa pun keputusan yang kamu buat karena itu tidak merubah apa pun. Ice yang menentukan dan dia sudah bilang 'iya'. Meminta izin darimu pun juga hanya sebatas formalitas. Jadi, jangan terlalu bersedih jika nanti di batas waktu yang saya berikan Ice sudah tidak ada di markas ini." Lalu keadaan berubah menjadi biasa kembali. Laksamana Nakila sudah kembali ke wujud yang Halilintar lihat di awal. "Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan." Laksamana Nakila pun pamit dan pergi begitu saja. Meninggalkan Halilintar yang masih terpaku dengan wujud asli Laksamana Nakila.

….

||4 hari kemudian||

Ice pergi tanpa meninggalkan banyak kata. Hanya mengucapkan 'aku pergi' dan tidak ada penjelasan apa pun. Tidak sopan memang tapi Ice memang seperti itu. Dia tidak pernah bisa mengatakan perasaannya secara terbuka. Laksamana Nakila yang paling senang. Beliau bahkan langsung memeluk Ice dan berteriak heboh di hari ke dua dia menginap. Yang membuat mereka berdua menjadi tontonan karena berada di tempat yang lumayan masih banyak orang. Halilintar dan Laksamana Tarung hanya diam menyaksikan. Mereka berdua tidak mempermasalahkan apa pun yang Laksamana Nakila lakukan. Dan itu yang membuat para Boboiboy (terutama), Yaya, Ying, Gopal, Fang, dan Ochobot bingung. Halilintar pun menjadi sasaran dari banyaknya pertanyaan dan kebingungan tapi dia dengan gampangnya mengabaikan semuanya dan bertingkah seakan tidak pernah ada yang bertanya tentang Ice. Di hari perginya dan bergabungnya Ice ke kelompok Laksamana Nakila, Halilintar satu-satunya yang tidak ikut melepas kepergian Ice. Sempat di cari oleh yang lain tapi tidak berhasil ditemukan dan terpaksalah perpisahan itu dilaksanakan tanpa kakak tertua Boboiboy. Gempa sempat bertanya pada Taufan yang pasti tau dimana kakak tertua mereka berada tapi dia menolak memberitau. Malah menyuruhnya mencari tau sendiri dengan 'melihat' besi.

"Aku bisa saja melakukan itu tapi sekarang banyak sekali yang datang dan pergi juga akhir-akhir ini banyak perbaikan yang terjadi. Makanya aku tanya kakak," kata Gempa. Tapi Taufan hanya menepuk pundaknya dan berlalu begitu saja. Mungkin, dia tau kalau Gempa hanya membual makanya dia bersikap tidak peduli. Hohoho, ternyata orang yang paling disegani bisa malas juga.

Gempa juga tidak mungkin nekat menyelusuri semua tempat dan bertanya satu-satu pada orang yang lewat. Terlalu memakan waktu. Jadi, dia berpikir tempat apa yang kemungkinan ditempati kakaknya itu untuk menyendiri. Tempat yang sering dia kunjungi, ruang latihan? Gempa sudah memeriksanya bahkan bertanya pada Fang yang memang jadi lebih sering latihan dan mengatakan kalau dia tidak melihat Halilintar dari tiga hari yang lalu. Fang juga menambahkan kalau Halilintar tidak kelihatan pernah berkunjung ke ruang latihan sejak Laksamana Nakila datang.

"Apa dia punya tempat lain yang biasa dia kunjungi?" tanya Gempa.

Fang mengangkat alisnya satu. "Padahal kau sendiri sering ngobrol dengan Hali tapi hal yang seperti itu kau tidak tau?"

"Kak Hali tidak pernah memberitau hal-hal bersifat pribadi. Aku juga sampai sekarang masih salah tangkap apa yang dia suka," kata Gempa. Sedikit banyak kakak tertua mereka mirip dengan Taufan, Ice, dan Solar yang tidak terlalu suka mengumbar kesukaan mereka.

"Aku memang tidak terlalu tau kakakmu itu tapi bukannya kakakmu akhir-akhir ini sedang dekat-dekatnya dengan Ice?" Oh, Gempa tidak tau itu. Melihat ekspresi Gempa yang tidak tau apa-apa membuat Fang garuk-garuk kepala. "Kau serius tidak tau?" tanyanya memastikan. Gempa lalu mengangguk. Dia memang tidak tau apa-apa. Selama ini dia disibukkan dengan rapat yang berhubungan dengan penjagaan dan baru sepuluh hari ini menikmati masa-masa kebebasan tanpa rapat. "Coba ke kantor Ice sana," kata Fang kemudian. "Atau kalau tidak ke kamarnya. Mau ke kamar Hali atau Ice juga aku tidak peduli. Kau belum ke sana, kan?"

Gempa lalu mengunjungi kantor Ice yang ternyata sudah dibersihkan. Kosong melompong dari berbagai barang dan dia tidak melihat sosok kakaknya itu. Gempa beralih ke kamar kakaknya dan juga tidak menemukan siapa-siapa. Dan opsi terakhir adalah kamar adiknya, Ice, yang sepertinya juga sama-sama kosong seperti kantornya. Kalau Gempa tidak menemukan Halilintar di sana, dia tidak tau kemana lagi dia harus mencari.

Namun di luar dugaan ternyata kakaknya ada di kamar Ice. Sedang merenung. Posisinya rebahan dan matanya fokus menatap langit-langit kamar yang monoton berwarna putih. Di sampingnya ada pot kecil berisi bunga warna-warni yang kalau tidak salah berasal dari Planet Nyu yang Thorn ambil waktu liburan keluarga. Halilintar tidak sadar jika ada yang ikut bergabung dengannya. Bahkan sampai Gempa duduk di sampingnya pun Halilintar masih tidak sadar.

Lalu diam. Karena Halilintar diam dan tampak tidak ingin diganggu Gempa pun juga diam dan tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam dan menunggu. Tapi sampai kapan? Dan kalau sudah waktunya dia bicara pun, apa yang harus Gempa katakan? Apa yang bisa membuat hati Halilintar sedikit terhibur?

"Gempa," yang dipanggil menoleh cepat. Dan berharap, apa pun yang kakaknya katakan selanjutnya hanyalah pertanyaan biasa saja. Yang tidak berat seperti menanyakan sikapnya terhadap Ice atau sesuatu yang berhubungan dengan itu. "Kenapa dia ingin pergi dari kita?"

Oh. Oh. Oh?

Gempa tidak bisa menjawab. "Apa dia… muak dengan kita? Maksudnya, kau tau 'kan, kadang kita bersikap menyebalkan dengan tidak memperbolehkan dia melakukan sesuatu yang kita anggap berbahaya untuknya tapi padahal tidak. Kadang… aku berpikir kenapa kita terlahir kembar bukannya biasanya saja. Lahir satu-satu dengan jarak umur yang jauh dan struktur wajah yang berbeda jauh. Seperti Kapten Kaizo dan Fang begitu. Karena kalau misalkan, misalkan nih ya, dia benar-benar kesal dan muak dari kita semua, aku… tidak begitu yakin apa yang dia rasakan tiap kali dia melihat pantulannya di cermin." Gempa masih menyimak. Dadanya sedikit berat. Ada apa, ya? "Apa yang dia pikirkan tiap kali dia melihat wajahnya sendiri? Mungkinkah dia malah benci? Gempa, kau sadar tidak sih kalau kamarnya ini tidak punya cermin? Bahkan cermin kamar mandi yang ada di atas wastafel saja di copot," kata Halilintar.

Oh, kalau itu Gempa tidak sadar. Padahal dia sendiri juga cukup sering ke kamar Ice sekedar mengecek keadaannya.

"Kau juga tidak sadar?"

Gempa menggeleng. "Aku tidak… Tapi kenapa? Maksudku, dia bisa– Oh." Gempa menyadari sesuatu lalu menatap Halilintar yang belum merubah posisinya. "Dia menahannya."

"Dia selalu begitu,"

"Kenapa?"

Halilintar menghela nafas lelah. "Mana kutau. Aku bukan dia, tanyakan saja."

"Dia tidak akan menjawabnya," kata Gempa. "Dia tidak akan mengatakan apa-apa dan bersikap tidak ada masalah. Kenapa?"

"Aku bukan dia, tanyakan saja," Halilintar mengulangi perkataannya. Lalu mulai pindah menatap bunga yang ada di sampingnya ini dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa aku terlalu keras padanya?"

Gempa menghela nafas. Ah, dia benci jika dua kakaknya bertanya dengan nada menyedihkan begitu. "Kita, kak. Kita memang terlalu keras padanya."

"Tidak. Kau tidak. Kau memang bersikap seperti ibu tapi setidaknya kau masih memberi kelonggaran,"

Gempa diam begitu juga Halilintar.

"Kakak menyalahkan diri kakak atas semua ini?" Jika Halilintar sampai mengatakan 'iya', Gempa akan sangat kecewa sekali. Ini tidak benar. Halilintar tidak sepenuhnya menjadi yang jahat di sini. Semuanya ikut mengambil peran. Tapi Gempa sendiri juga tidak begitu tau siapa yang paling banyak mengambil bagian jahatnya.

"Aku memang menyalahkan diriku sendiri," balas Halilintar. "Tapi kalau sekarang aku lebih mempertanyakan apa yang dia rasakan. Hidup di batasi begitu… pasti tidak enak, kan? Dia pasti sedih sekali makanya sering tidur. Aku akhir-akhir ini membaca banyak hal dan memikirkan banyak hal lalu menganggap seolah-olah aku adalah dia yang selama hidupnya berada di dalam bola kaca, layaknya hamster yang keluar dari kandang, yang tidak bisa berbuat banyak kecuali melihat dan memerhatikan. Apa dia… selalu merasa seperti itu?"

Halilintar galau, itu yang bisa Gempa simpulkan.

"Apa dia baik-baik saja?"

"Ice, kak. Ice. Bukan 'dia'. Meski aku tau maksud kakak siapa tapi bukannya lebih baik menyebut namanya saja dari pada terus-terusan mengatakan 'dia'?"

"Ice perlu di operasi agar bisa hidup,"

"Apa?" Gempa menatap Halilintar tidak percaya. Sebentar, dia bingung. "O-operasi apa?"

"Paru-parunya sudah terlalu rusak. Semua obat-obatan yang dia minum dan terapi memang membantu tapi pilihan yang paling tepat di stadium penyakitnya ini adalah operasi. Aku tidak tau bagaimana caranya perempuan itu, Laksamana Nakila, bisa tau hal ini. Tapi kemungkinan besar dari ayah," Gempa yang mendengarnya kaget. "Dan dia, Laksamana Nakila, sudah menemukan tempat jual beli organ dalam yang menurutnya bisa dipercaya. Bahkan dia, Laksamana Nakila, juga sudah mendapatkan dokter serta rumah sakit yang bisa dijamin hasilnya. Semuanya, dia sudah menyiapkan segalanya. Dan itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan. Orang tua kita saja tidak bisa menemukan paru-paru yang cocok tapi dia. Orang asing yang tiba-tiba masuk begitu saja tanpa permisi bisa mendapatkan apa yang Ice butuhkan dalam waktu yang singkat dan sekejap mata seperti masalah itu tidak ada apa-apanya." Halilintar terdengar kesal sekali. "Aku kecewa."

Oh, bicara soal penyakit Ice, mereka memang tau yang salah adalah paru-parunya. Tapi secara detail apa nama penyakitnya, Gempa juga tidak tau. Tapi yang jelas itu mematikan dan tidak bisa disembuhkan.

"Aku juga kecewa," kata Gempa. "Kita semua kecewa, kak. Thorn bahkan tidak bisa menahan tangis di sana. Blaze juga. Tapi matanya hanya berkaca-kaca tidak seperti Thorn yang langsung menangis tersedu-sedu."

"Ya, aku bisa membayangkan itu." Halilintar lalu duduk dan memainkan bunga warna-warni di sampingnya. "Thorn masih cengeng rupanya."

Gempa tersenyum kecil. "Kakak sudah baikkan?"

"Maksudnya?"

"Kak Hali sudah…" Gempa mulai ragu lalu menghela nafas. "Tidak jadi."

Halilintar memilih mendiamkan adik keduanya itu dari pada meladeninya lagi. Dia capek dan ingin istirahat. Setelah mendengar banyak hal dari mulut Ice dan perempuan itu, Laksamana Nakila, Halilintar lebih sering diam, lebih sering berpikir, lebih sering merenung. Dia memang belum sampai tahap memahami dan menerima tapi setidaknya dia bisa berpikir dan membayangkan posisinya jika berada di posisi orang lain. Yang dalam kasus ini adalah adiknya sendiri. Ayahnya sendiri juga tidak terlalu membantu. Beliau malah menyerahkan segalanya pada Halilintar dan membuat harus berpikir ulang dua kali. Yang dimana itu sangat memusingkan.

Hah…

Halilintar memang tidak pernah mengerti keluarga ini. Dia tidak punya kemampuan untuk mengerti keadaan sekitar dengan baik dan bukan orang yang peka seperti Taufan. Dia hanya beruntung punya insting bagus dan kemampuan bertarungnya yang ada di atas rata-rata. Jika sudah masalah perasaan dia tidak mengerti apa-apa. Tapi tidak seperti Ice yang bisa memendam semua dengan baik, Halilintar butuh pelampiasan yang harus ada di saat itu juga. Dan Ice… adik keempatnya itu. Dia memang tidak pernah mengerti manusia macam Ice. Pikirannya terlalu rumit, tidak bisa dipahami. Dia itu seperti rumus matematika berjalan. Halilintar benci matematika.

"Saya akan menjaganya. Dia berharga, saya akan menjaganya dengan baik dan benar. Kamu tidak perlu khawatir. Percaya saja pada saya. Ayahmu sering jadi rekan kerja saya, setidaknya ada pengawasan orang tua, kan?"

Halilintar tidak sepenuhnya percaya dan menyerahkan Ice begitu saja secara suka rela. Tidak tau. Hmm, kenapa ya? Halilintar selalu uring-uringan kalau sudah tentang Ice. Mungkin karena adiknya itu tidak pernah keluar, tidak pernah yang namanya menginap di rumah teman, pergi ke tempat jauh sampai tidak ada kabar, dan mengikuti ini-itu untuk kepuasannya sendiri, Halilintar jadi khawatir berlebihan. Dia sayang padanya. Terlalu sayang malah. Mungkin juga inilah yang menjadi kesalahannya.

Dia juga sudah tau kebenarannya. Dan dia untuk pertama kalinya benar-benar tidak tau harus apa selain menyerahkan semuanya ke orang yang bersangkutan dan akhirnya menjadi seorang pengawas di kejauhan. Mirip CCTV, entah kenapa yang terlintas malah itu.

Yah… Halilintar memang khawatir tapi di situasi yang seperti ini, dia harus belajar percaya. Meski berat, dia harus bisa.

.

.

.

.

.

.

Note :

*Emfisema : penyakit kronis akibat kerusakan kantong udara / alveolus pada paru-paru. Seiring waktu, kerusakan semakin parah hingga membentuk satu kantong besar dari beberapa kantong kecil. Mengakibatkan luas area permukaan paru-paru berkurang, kadar oksigen yang mencapai aliran darah menurun, juga membuat paru-paru membesar secara perlahan.

Penanganan ditunjukan untuk menghambat kerusakan tetapi tidak dapat memulihkan paru-paru yang rusak.

Ice udah masuk ke tahap paling berat makanya paru-parunya harus di transplantasi secepat mungkin.

*Kode biner lagi yang artinya : Berubah pikiran?

.

Wehei! Panjang lagi ceritanya! Dan… berakhir dengan gaje. Aku bingung mau ngakhirin gimana jadi ya… gitu aja, deh. Ya, map kalo ada yang kesel. Aku juga udah keabisan ide.

Oh iya, btw, lanjutan dysphoria lagi dibuat. Sabar, ya! Masih dalam pengerjaan. Itu pun dikit lagi juga mau kelar. Yah, entah kapan di publishnya tapi diusahakan secepatnya.

Terima kasih sudah mau membaca da nada yang suka sama cerita ini.

Reviewnya jangan lupa, ya~~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

!BONUS!

Telinga Ice berdengung. Telapak tangannya sudah menutup telinganya rapat-rapat agar tidak lagi mendengar ocehan super panjang, berisik, dan penuh semangat membara Laksamana Nakila rupanya tidak begitu berhasil memblok suara-suara tersebut. Si pembuat suara masih berbicara panjang lebar, sama sekali tidak sadar kalau suaranya itu menyakitkan untuk si pendengar. Selama hampir lima tahun berinteraksi dengan seorang laksamana nyentrik ini sama sekali tidak membuat Ice terbiasa. Mungkin karena hampir delapan puluh persen komunikasi mereka melewati email bukan telepon atau video jadi rasanya beda sekali.

"Ah, saya senang sekali! Rasanya dada saya bisa meledak kapan saja karena perasaan senang ini! Ice juga senang bisa keluar dari 'penjara'?" tanya Laksamana Nakila. Senyumnya begitu lebar dan agak mengerikan karena giginya yang tajam sedikit muncul ditambah dengan mata kucingnya yang menyala. Oh, tentu saja Ice sudah pernah melihat wujud asli dari perempuan di sampingnya ini dengan mata kepalanya sendiri. Penampakan mengerikan ini pun tidak membuatnya begitu kaget atau takut.

Ice mengusap telinganya pelan. Telinganya sudah tidak berdengung tapi panas. "Menyebut markas TAPOPS sebagai 'penjara' terdengar berlebihan," balasnya. "Saya tidak tau bagaimana rasanya tinggal di penjara jadi tidak bisa menyebutkan apakah rasanya sama atau tidak. Tapi yang bisa saya katakan, rasanya sama seperti dulu ketika saya dirawat berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di rumah sakit."

"Sesuatu yang membatasi pergerakan kita dengan sengaja itu penjara. Yah, tapi itu tergantung bagaimana seseorang mengartikan 'penjara' itu sendiri. Saya tidak bisa berdebat jika kamu memberi jawaban seperti itu. Jadi, apa kamu senang bisa keluar dari sana?"

Ice diam sebentar. "Katakanlah begitu,"

"Itu jawaban yang ambigu. Tapi tidak apa. Lebih baik begitu. Saya anggap kamu sangat, sangat, sangat senang bisa keluar dan tidak bertemu kakakmu yang selalu mencoba mendominansikan orang lain. Kamu benar. Dia lumayan menyebalkan. Perilakunya bisa dimengerti tapi keputusannya itu yang tidak." Laksamana Nakila mengangguk-anggukan kepala beberapa kali. "Permintaan pertama sudah terpenuhi. Bagaimana dengan bagian saya? Sudah selesai?"

"Prosesnya butuh waktu lebih. Sudah banyak akun yang mencoba meretas dan untuk membersihkan serta memasang semacam sistem keamanan baru agak sulit. Banyak bahasa baru yang tidak pernah saya lihat jadi itu yang menghambat saya," kata Ice sambil memainkan jarinya. "Saya tidak paham kenapa website laksamana begitu susah dibersihkan padahal saya sudah beberapa kali membuka dan menutup website itu. Apa laksamana melakukan sesuatu?"

Laksamana Nakila menggeleng. "Saya tidak melakukan apa-apa. Mungkin para bajingan itu yang melakukan hal ini agar kamu, seseorang yang ahli dan yang saya akui, pun kesulitan membersihkan website saya." Beliau lalu menghela nafas. "Kamu tau sendiri website saya penuh dengan informasi berbahaya." Senyum lebar kembali terukir, "Dan hampir tujuh puluh persennya hasil kerja kamu."

"Terima kasih," balas Ice singkat. Dia mulai risih dengan sikap berlebihan Laksamana Nakila yang begitu memuja kemampuannya. "Lalu bagaimana dengan permintaan saya yang kedua?"

"Saya sudah mengirimkan rekam jejak kesehatanmu ke rumah sakit rujukan yang saya pilih. Mereka sedang mencocokan paru-paru yang akan di transplantasikan. Butuh waktu lebih. Bersabarlah," kata Laksamana Nakila. Lalu tertawa pelan, "Kamu sudah tidak sabar di operasi? Aneh. Saya kira kamu benci rumah sakit, rupanya tidak."

"Tempat itu sudah menjadi rumah saya. Saya merasa memang sudah sepantasnya saya di sana seumur hidup,"

"Ah, sedihnya." Laksamana Nakila melemaskan punggungnya yang kaku. "Lalu permintaan saya yang kedua?"

"Sudah beres," jawab Ice mantap. "Menurunkan dan menghapus akun-akun adalah hal yang mudah. Meretas dan mengirimkan surat kaleng sebagai balasan atas tindakan mereka juga hal yang mudah."

Laksamana Nakila menyeringai senang. "Hambatan bahasa?"

"Tidak terlalu berarti,"

"Wah," seru Laksamana Nakila. Terkagum-kagum. "Kamu benar-benar hebat. Saya merasa beruntung bisa mendapatkan kamu ke dalam kelompok."

Ice mengabaikan pujian itu dan melihat sekitar sekilas. Ruang informasi yang berfungsi menjadi kantor pribadi Laksamana Nakila yang luasnya sama dengan lapangan basket ini hanya diisi mereka berdua. Sekedar informasi, di pesawat luar angkasa pribadi Laksamana Nakila hanya diisi sekitar tujuh orang dengan tugas merawat, membersihkan, mengendalikan, dokter, dan sebagai juru masak di pesawat. Juga ada Ice yang sebagai kepala petugas informasi dan komunikasi. Secara total ada sembilan orang. Banyak orang berpikiran kalau Laksamana Nakila punya pengikut yang banyak tapi faktanya lain. Laksamana perempuan ini tidak begitu suka ada orang banyak di pesawat luar angkasanya. Makanya, dia begitu benci ketika ada kerumunan dan berusaha sebisa mungkin untuk meminimalisir para pekerja pribadinya.

"Permintaan ketiga saya?"

"Itu agak sulit karena dokter pribadimu di TAPOPS dan power spheramu sendiri sudah melarang keras untuk tidak memakai jam kuasamu lagi sebagaimana yang terjadi dulu. Tapi, saya sudah dapat dan menyimpannya dengan baik di kamarmu. Kalau mau pakai, pakai saja tapi jangan berlebihan. Bagaimana pun, saya harus mengikuti instruksi doktermu itu. Tidak keberatan?"

Ice menggeleng pelan. Seberapa pun dia mau memakai jam kuasanya lagi, Ice harus bersabar. Saat ini masih terlalu beresiko. Dia tidak mau merepotkan Laksamana Nakila lebih jauh lagi.

"Permintaan ketiga saya bagaimana? Itu lumayan susah. Apalagi kamu juga tidak bisa mengerjakannya sesukanya karena penuh kode sandi secara bertahap yang harus dibuka dan ada video yang harus ditonton tanpa di skip begitu saja. Saya bisa saja yang melakukan hal itu tapi sayangnya," Laksamana Nakila mengeringai lebar. "Saya lebih mau kamu yang menonton video-video itu sebagai latihan jika tiba-tiba perlu turun ke lapangan. Saya tidak mau melindungi kamu meski bisa."

Ice tau itu. Laksamana Nakila sudah berbaik hati mau memperpanjang hidupnya dengan mencari paru-paru dengan suka rela tapi Ice tidak seacuh itu untuk tidak tau kalau bayarannya pun juga berat. Dan dari yang dia dengar, tidak pernah ada yang menyebutkan atau bahkan menamai kalau Laksamana Nakila adalah orang yang baik hati, ramah, dan sangat terbuka. Ice tidak seacuh itu untuk tidak selalu berhati-hati. Semuanya perlu bayaran yang setimpal atas keputusan dan tindakan yang diambil.

"Saya belum membukanya. Maaf," jawab Ice. Kepalanya agak menunduk mencoba melarikan diri dari tatapan buas hewan liar di depannya yang bisa memakannya hidup-hidup kapan saja jika dia melakukan kesalahan.

"Tidak apa," balas Laksamana Nakila. Agak kecewa. "Masih ada banyak waktu."

Ice diam tidak menjawab apa-apa dan Laksamana Nakila juga tidak mengatakan apa pun tentang permintaannya yang lain. Percakapan selesai dengan biasa-biasa saja. Lagi pula, Ice sendiri yakin Laksamana Nakila tidak akan memintanya langsung mengerjakan empat puluh lima permintaannya yang lain saat ini juga. Beliau sudah berjanji akan membatasi waktu kerja Ice supaya tidak membuatnya sakit. Sebuah tantangan yang cukup sulit karena Laksamana Nakila sangat benci menunggu.

"Gunakan waktumu dengan baik. Tidak masalah jika saya harus menunggu sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang terpenting saya sudah mendapatkan anggota yang saya inginkan!" seru Laksamana Nakila. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan.

Ice mengangguk dan menatap bunga pemberian Thorn yang sedang mekar-mekarnya. Thorn benar. Bunga yang mirip hydrangea ini memberikan kebahagiaan tersendiri tiap kali mekar. Pas sekali untuk Ice yang selalu muram.

"Tidak menyesal, kan?"

Ice menoleh dan memiringkan kepalanya. Dia tidak tau ternyata Laksamana Nakila cukup perhatian. "Saya harus sesekali bersikap egois untuk kebahagiaan saya sendiri. Itu yang anda bilang,"

"Dan?" tanyanya. "Kamu menyesal?"

Ice menggeleng pelan. "Saya bahagia. Saya tidak menyesali pilihan saya."

"Senang mendengarnya," balas Laksamana Nakila. "Bagaimana pun, bahagia itu penting."

"Terima kasih,"

"Aduh, sudah, dong! Saya jadi malu!" Wajah perempuan alien itu menjadi semerah tomat. "Saya merasa seperti pahlawan jika kamu terus-terusan bilang 'terima kasih'. Saya hanya sebatas si maniak ilmu pengetahuan dan monster. Kamu berlebihan! Duh! Saya jadi malu!"

Ice tersenyum simpul.

Ya. Bahagia itu penting.

Dan Ice bahagia bisa keluar dari lingkungan toxic.