Little Moment

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

ShikaTema. T. Romance. Fluff. Oneshot.

Warning: Missed typo mungkin. Sedikit OOC mungkin—seperti biasa, sigh.

.

.

.

Gadis pirang itu menghela napas. Netra hijaunya lurus terarah ke depan, menerawang. Entah sadar atau tidak sepasang kaki jenjangnya yang hanya terbalut rok pendek seragam sekolah yang kini diluruskan bergoyang—saling menjauh, mendekat, menjauh, kemudian mendekat kembali—dalam tempo sedang dengan kedua tangan di sisi tubuh sebagai tumpuan. Tangan kanannya memegang sebuah buku dan salah satu jarinya menyusup di sela-sela lembarnya, jelas menunjukkan bahwa kegiatannya hingga beberapa saat lalu adalah membaca.

Siapa pun yang mengenal gadis bermarga Sabaku itu pasti heran melihatnya.

Hei, seorang Temari tak pernah berhenti membaca di tengah jalan jika sedang senggang. Lalu kenapa kini ia justru melamun alih-alih melanjutkan novel yang belum selesai dibacanya?

"Kau melamun?"

Tanpa merasa terkejut sedikit pun gadis itu menoleh, sedikit menyibakkan rambut pirangnya yang sengaja ia gerai.

Sebuah napas kembali terhela sebelum seulas senyum mengikuti. Pandangannya kembali ke depan meski ia tak berniat mengambil sikap tak peduli terhadap sosok yang baru menyapanya.

"Mungkin," sahutnya mengambang,

"Mungkin?" pemuda berambut hitam yang baru datang itu membeo. Heran mendengar jawaban sang kekasih yang tak pasti. Jarang-jarang gadisnya bertingkah seperti itu.

"Aku mengganggu?" tanyanya lagi.

Gadis itu kembali menoleh. Kali ini tawa kecil meluncur dari bibirnya. Mengambil nada santai kala menjawab, "Tidak, tenang saja."

Sang Nara muda tidak suka berbasa-basi, sebenarnya. Ia tahu gadisnya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Temari tak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya, jadi otaknya menyimpulkan bahwa mungkin gadis itu sedang tidak ingin diganggu. Karenanya ia tak akan bertanya. Berbaring di sisi gadis itu sepertinya cukup untuk kali ini, seperti biasa.

Pemuda itu tak sadar ketika sebuah lirikan gadis Sabaku itu layangkan padanya untuk sesaat. Pikiran gadis itu berkecamuk.

Bicara ... atau tidak? Bicara sajakah? Apabila ia diam, bukankah isi hatinya tidak akan tersampaikan? Ia juga tidak perlu menyesal bukan, karena pernah mengutarakannya? Lebih baik menyesal karena apa yang telah kita lakukan daripada menyesal karena apa yang tidak kita lakukan.

Tapi bagaimana kalau Shikamaru marah? Bagaimana kalau pemuda itu justru tersinggung? Lebih baik menyesal atas apa yang kita lakukan ... tidak, jika risikonya adalah kehilangan pemuda itu dari sisinya, Temari lebih memilih untuk diam saja selamanya. Walau ia harus menyesal nantinya.

Ya, diam mungkin memang lebih baik.

Sebuah suara kuapan terdengar. Tanpa menoleh gadis pirang itu langsung tahu siapa pelakunya. Memangnya siapa lagi kalau bukan sang tunggal Nara? Mereka kini hanya berdua, dan bukan dirinya yang baru menguap dengan suara sekeras barusan. Lagi pula kuapan pemuda itu bukan hal aneh lagi baginya.

"Tumben kau diam saja," komentar pemuda itu akhirnya. Risih juga jika harus terus terperangkap dalam keheningan canggung yang tak menyenangkan begini dengan kekasih sendiri. Hei, status mereka itu sepasang kekasih, bukan dua orang yang baru saling mengenal. Kenapa kaku sekali?

"Aku hanya sedang menikmati angin."

Gadis tunggal Sabaku itu memejamkan mata untuk menikmati desir angin sesepoi. Ditariknya napas dalam-dalam, mencoba memenuhi rongga dadanya dengan angin sejuk. Ia sungguh bersyukur Shikamaru selalu mengajaknya ke puncak bukit ini pada sore hari. Tempat yang begitu tenang sekaligus menenangkan yang jarang dikunjungi orang. Tempat yang sempurna untuk menghabiskan penghujung hari dengan membaca dan ... bercengkerama.

Bercengkerama?

Lagi-lagi pikiran itu mengusiknya.

Dengan siapa? Shikamaru?

Ayolah, mereka tak pernah melakukannya. Lebih memilih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Temari dengan bukunya dan Shikamaru dengan awannya. Tidak ada canda. Tidak ada tawa bersama. Tidak ada cengkerama. Tidak ada itu semua.

Hanya ada suara lembar kertas yang dibalik yang diselingi kuapan sesekali. Selebihnya, sunyi.

Untuk pertama kalinya, Temari merasa benci membaca.

Shikamaru memperhatikan si pirang di sisinya dari ujung mata. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Sebagai salah satu orang yang paling mengenal Temari, Shikamaru dapat menangkap apa yang terpancar dari sepasang iris hijau sang gadis yang tengah menerawang.

Tatapannya menunjukkan perasaan ... kesepian?

Kenapa? Kenapa? Bukankah dirinya sedang di sisi gadis itu? Kenapa gadis itu justru merasa kesepian seperti itu?

Tak berharga lagikah dirinya di mata gadisnya?

Perlahan tubuhnya bangkit tanpa disadari sang dara Sabaku. Kedua belah bibirnya terbuka, namun langsung tertutup sekejap kemudian saat iris legamnya berputar dan tak sengaja tertumbuk pada buku dalam genggaman sang gadis. Tanpa merasa perlu meminta izin, direnggutnya buku tersebut dari tangan Temari.

Gadis penyandang marga Sabaku tersebut tidak pernah berhenti membaca untuk sekadar menikmati angin. Mungkin jawaban mengapa gadis pirang itu diam ada di sana, khususnya pada halaman yang sedang dibacanya.

Sontak Temari menoleh. Matanya terbelalak seketika melihat novel yang tadi dibacanya telah berpindah tangan.

"Shikamaru!" serunya tertahan. Hampir tak bisa bernapas rasanya melihat pemuda itu membaca halaman yang terakhir dibacanya.

Jantungnya berdetak keras. Sadarkah pemuda itu itu pada keinginannya setelah membaca apa yang tertulis di sana?

Napasnya semakin tertahan, nyaris tercekik, melihat sang Nara tunggal menutup bukunya kembali.

Reaksi apa yang akan diberikan pemuda itu? Bersalahkah—seperti, kalau boleh jujur, yang diam-diam diharapkannya—atau justru...

Seharusnya gadis itu tahu bahwa berharap terlalu tinggi akan mengempaskan pemiliknya ke jurang kekecewaan kala harapannya tak terkabul. Harusnya ia menyadari itu sebelum melihat Shikamaru hanya meletakkan bukunya di sisi dan menatapnya datar sembari berujar, "Aku tak mengerti mengapa kau senang sekali membaca novel-novel seperti ini."

Temari menggigit bibir. Emosinya teraduk-aduk.

Bukan, bukan kalimat pemuda itu yang menghantam jantungnya seketika, tapi karena status pemuda itu sebagai kekasihnya. Tidak bisakah ia mengucapkannya dengan sedikit lebih—

Sulung Sabaku itu terlalu sibuk pada pikirannya sendiri hingga ia tak menyadari tangan mungilnya telah berada dalam genggaman hangat sang tunggal Nara. Ia baru menyadari semuanya ketika perlakuan lain Shikamaru membuat sepasang netra hijaunya membulat. Ketika jantungnya serasa berhenti berdetak. Ketika sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

Ketika ... Shikamaru menciumnya. Mempertemukan bibir mereka. Memagutnya pelan.

Sang gadis belum sempat memberikan reaksi nyata sedikit pun saat Shikamaru melepaskan diri dan memprotes, "Jangan gigit bibirmu. Kau tahu itu sungguh mengganggu."

"M-maaf..." Temari bahkan tak tahu mengapa yang meluncur dari bibirnya justru permintaan maaf.

Shikamaru tak ambil pusing. Digenggamnya erat tangan Temari yang begitu mungil dalam genggamannya sebelum memberikan sebuah ciuman lembut untuk yang kedua kali kepada gadisnya.

Temari meremas ujung bajunya menggunakan tangannya yang bebas. Bukan sebagai usaha untuk menenangkan debur jantungnya yang mendadak tak terkendali, namun karena tak terbiasa pada sensasi meledak-ledak dalam kepala dan dadanya. Sensasi yang begitu menyenangkan. Dan, harus ia akui, bibir pemuda itu ... manis.

Satu hal yang gadis itu sesalkan adalah ia pernah menyesali Shikamaru sebagai kekasihnya.

.

.

"Berlatar belakang senja di atas bukit lebih romantis daripada di restoran mahal, kukira."

Wajah Temari memerah. Shikamaru tahu!

"Tentu saja aku tahu, bodoh," tukas Shikamaru pelan seolah mampu membaca kesalahtingkahan gadisnya. Menyarangkan sebuah ciuman lain di kening sang gadis seraya merengkuh bahunya posesif.

.

.