Naruto © Masashi Kishimoto

ShikaTema. T. Romance.

Typo mungkin. Sedikit OOC—sigh.

Summary: Mereka berdua tidak pernah terikat dalam hubungan apa pun, dalam konteks romansa. ...tapi kenapa dada mereka sesak sekarang ini?

.

.

.

Shikamaru dan Temari tidak pernah terikat dalam hubungan apa pun. Camkan itu. Hubungan mereka sebatas duta besar dan coretjongoscoret pemandunya dari dua desa berbeda. Sebatas teman. Tidak lebih dari itu. Mau seberapa sering penduduk Konoha menggoda mereka berdua, Shikamaru dan Temari tetap hanya teman. Mau seberapa banyak penduduk Suna yang mempertanyakan hubungan putri desa mereka, Shikamaru dan Temari tetap hanya teman.

Tidak lebih.

Sekalipun, ketika Yoshino bertanya mau ke mana sang putra tunggal dan berkomentar tumben-pagi-pagi-sudah-rapi yang dijawab pemuda itu dengan putaran bola mata dan sahutan datar menjemput-delegasi-asal-Suna, mereka berdua tetap hanya teman.

Yoshino sendiri hanya mampu menggelengkan kepala melihat putranya itu membanting pintu secara buru-buru dengan alasan terlambat padahal baru pukul enam lewat sepuluh. Seingatnya, dulu Shikamaru pernah bilang Temari selalu datang sekitar jam tujuh.

Lihat anakmu, Shikaku, batinnya seraya mengelus gambar sang suami dalam bingkai foto pernikahan mereka hampir dua dekade yang lalu. Bibirnya membentuk sebuah senyum penuh makna. Ia sedang jatuh cinta.

.

.

Shikamaru tidak—sepenuhnya—berbohong. Belakangan ini Temari memang selalu datang lebih cepat, sekitar pukul setengah tujuh. Tapi sebenarnya pun Shikamaru pun tidak perlu pergi terburu-buru sampai membanting pintu. Jarak dari rumahnya ke gerbang desa hanya butuh berjalan kaki sekitar sepuluh menit. Ia tidak akan terlambat, kalau dihitung-hitung.

Apalagi jika berlari seperti yang ia lakukan sekarang.

Izumo dan Kotetsu tersenyum simpul melihat kedatangan si tunggal Nara. Tidak usah ditebak lagi apa yang mampu menarik eksistensi pemuda itu dari kasur sepagi ini—atau tepatnya siapa.

"Pagi, Shikamaru," Izumo menyapa, "menjemput kakak Kazekage?"

Belum sempat Shikamaru menjawab, Kotetsu sudah angkat bicara seraya melihat pergelangan tangannya, "Ini baru pukul enam lewat lima belas menit—whoaa, pagi sekali."

Untuk yang kedua kalinya pagi ini, Shikamaru memutar bola mata. Tak disahutinya sedikit pun sapaan Izumo atau komentar tak penting Kotetsu.

Omong-omong, sejak kapan Kotetsu pakai jam tangan?

Shikamaru sendiri tak ambil pusing. Disandarkannya punggung ke gerbang untuk kemudian melipat tangan di depan dada. Iris hitamnya tertuju pada jalan setapak yang membentang keluar desa.

Pemuda berkuncir satu itu tidak perlu lama menunggu. Pada deheman Izumo dan Kotetsu yang ketiga, satu sosok pirang berkuncir telah tampak di ujung jalan.

Shikamaru tak merasa perlu repot-repot menjemput. Ditunggunya dengan sabar hingga si gadis Suna tinggal berjarak dua langkah darinya.

"Ayo."

Detik berikutnya, mereka telah berjalan bersisian menuju kantor Hokage.

—ah, abaikan saja suara deham-dehem tidak jelas dari arah pos penjaga gerbang. Mungkin ada yang punya permen tenggorokan?

.

.

"Mau langsung ke penginapan?"

Temari mengangkat bahu. Balik bertanya, "Punya pilihan yang lebih menarik?"

"Kau suka membaca? Aku berencana ke perpustakaan untuk menemui Shiho."

Dahi Temari seketika mengenyit dalam-dalam. "Apa aku pernah mendengar namanya?"

Ganti bahu Shikamaru yang terangkat. "Rekanku dalam tim pemecah kode. Hokage menugaskan kami untuk memecahkan kode yang salah satu tim ANBU temukan dalam misi beberapa hari lalu—"

"Perpustakaan kedengarannya menyenangkan," sela Temari, malas mendengarkan celoteh sang pemuda lebih jauh.

"Memangnya kau tidak capek?" pemuda itu justru bertanya heran.

"Ha?"

"Kau baru saja menempuh perjalanan tiga hari dari Suna."

Temari terkekeh. "Oh, peduli sekali. Apa itu artinya kau menawarkan gendongan?"

"Ayo, kita langsung ke perpustakaan saja."

Tawa Temari langsung lepas. Tanpa berkata apa-apa lagi, segera disusulnya Shikamaru yang telah beberapa langkah di depan.

.

.

Temari sebenarnya cukup akrab dengan perpustakaan. Bukan statusnya sebagai Putri Suna yang membuatnya demikian dengan dalih pewaris pemerintahan.

Tapi karena ibunya.

Ibunya adalah seorang pendongeng sebelum tidur. Dongeng-dongeng ibunya mungkin memang tidak sehebat pendongeng ternama yang mampu bercerita dari sebuah kata. Ibunya lebih senang berceerita tentang dunia, di mana tanahnya subur dan layaknya surga, tidak seperti Suna yang tandus dan gersang. Namun bukan berarti beliau tidak senang menceritakan Suna. Ibunya itu bahkan pandai bermain umpama. Temari sering disebutnya sebagai mawar gurun. Yang indah sekaligus berduri. Yang menawan sekaligus kuat dan mampu menjaga diri.

Sementara sang ayah tidak memiliki lidah yang sama lenturnya. Karena itulah, sepeninggal sang ibu, Temari kerap mengasingkan diri ke perpustakaan—mencari pengganti dongeng sang ibu sekaligus pengalih dan penawar rindu.

'Tanaman Obat yang Berkhasiat dan Mudah Didapat'.

Tanpa pikir panjang, Temari langsung meraihnya dari rak. Ketika dibukanya halaman pertama, sebuah nama langsung membuatnya tersenyum.

Nara Shikaku.

Sang otak strategi pada perang dunia shinobi keempat yang gugur secara terhormat. Pria dengan bekas luka sayatan panjang yang juga merupakan ayah dari coretjongoscoret pemandunya di Konoha.

Terlintas lagi di benaknya kala pemakaman pascaperang—duka di wajah sang tunggal Nara. Masih terekam jelas dalam ingatannya kala dirinya memukul jatuh rokok yang sudah menyala di sela jari sang pemuda. Lalu menggilasnya tanpa ampun, tak mengindahkan pelototan tajam yang Shikamaru tujukan.

"Frustrasi tidak berarti kau boleh merokok!" adalah satu kalimat yang diserukannya dengan marah saat itu.

Sepasang netra hijaunya berputar pada sosok sang pemuda beberapa meter darinya. Tampak pemuda tersebut tengah berbicara dengan seorang gadis berkacamata bulat yang baru dikenalinya sebagai Shiho.

Iseng Temari menajamkan telinga. Siapa tahu ia dapat bahan ledekan baru, ufufu.

"—jadi begitu? Baik, akan kulaporkan pada Hokage secepatnya." Pemuda itu mengangkat pandangan dari gulungan perkamen yang tengah dipegangnya demi menatap gadis berstatus rekan sesama tim pemecah kode di hadapannya. Menoreh senyum tipis. "Terima kasih, Shiho."

Temari mengangguk-angguk. Mencetak seringai jahil diam-diam. Hem, hemm...

Shikamaru baru membalikkan badan—ketika tiba-tiba sebuah tangan meraih rompi jouninnya.

"N-N-Nara-san..."

Shikamaru menoleh.

Rona tebal di wajah Shiho tidak mungkin luput dari siapa pun yang melihatnya, tak terkecuali Shikamaru.

"...a-a-aku ... menyukaimu!"

Dua pasang mata langsung melebar karena terkejut.

.

Shiho tidak tahu apa yang membuatnya mendadak nekat seperti ini. Mungkin karena ia tidak tahan lagi untuk memendam perasaannya lebih lama. Mungkin. Tapi kemungkinan terbesar adalah senyum yang baru saja pemuda itu berikan padanya.

Beberapa saat berlalu begitu saja dilingkupi hening. Pemuda itu masih diam mematung, tidak juga memberikan reaksi.

Satu tarikan napas—

...ummh...

—dan sebuah suara terdengar memecah sunyi yang tercipta, "Shikamaru, aku mau kembali ke penginapan."

Hati Shiho mencelos.

Si pirang berkuncir dua telah berada di samping mereka.

Apalagi ketika Shikamaru membalas pernyataannya dengan, "Maaf, Shiho. Kita lanjutkan lagi nanti, oke?"

Derap langkah Shikamaru mengejar sang gadis Suna yang telah lebih dulu meninggalkan perpustakaan dengan langkah cepat menggema.

"Temari!"

Gadis itu merasa seolah jantungnya baru saja ditarik lepas, dicerabut paksa dari rongga dada, dan dibanting ke tanah hingga hancur berkeping-keping.

Harusnya ia menyadari betapa jauh perbedaannya dengan sang Putri Suna.

.

.

Beri tahu Temari apa yang mendorong kakinya mendekati sang pemuda dan sang gadis berkacamata beberapa menit lalu, menginterupsi pembicaraan mereka berdua.

Padahal sebelumnya ia sedang mencari bahan baru untuk mengolok-olok Shikamaru. Siapa sangka ia sendiri yang akan syok mendengar pernyataan gadis itu?

"Temari!"

Grep!

Sungguh, Temari merutuki kekuatan dan kecepatan lelaki yang seringkali di atas perempuan seperti dirinya. Tahu-tahu saja pemuda itu telah berdiri di hadapannya. Lengkap dengan napas terengah setelah mengejarnya sambil berlari.

"Kenapa kau buru-buru sekali?"

Kenapa adegan ini terlihat seperti drama sekali?

"Aku capek," sahut gadis Suna itu singkat.

"Mau kugendong?"

Temari langsung menertawakan betapa buruknya Shikamaru dalam berlelucon.

Sesaat, tak ada yang bicara.

Shikamaru menghela napas. "Ada apa?"

Yang ditanya menipiskan bibir. Kalau boleh jujur, ia juga ingin tahu dirinya kenapa.

"Kau jadi aneh sejak dari perpustakaan."

Temari tak menyahut.

"Karena buku yang kaubaca?"

Satu-satunya buku yang sempat diambilnya dari rak adalah tentang tanaman obat. Itu pun hanya membaca nama sang penyusun literatur—sang ayah dari pemuda di depannya. Hahaha. Yang benar saja.

"Shiho...?"

Bibir Temari menghilang.

Reaksi sekecil barusan tak luput dari pengamatan sepasang iris hitam Shikamaru.

"...pernyataannya?"

Shikamaru sendiri tak tahu kenapa menduga seperti itu. Sesuatu dalam otak jeniusnya yang melempar sangkaan barusan.

Di luar perkiraannya, gadis bertitel Putri Suna tersebut mendadak menundukkan kepala. Tangan kanannya terangkat, seakan sedang mengusap sesuatu di wajahnya.

"...kau menerimanya?"

Shikamaru tertegun.

Pertanyaan barusan berbalut serak.

Pemuda itu balik bertanya pelan, "Kau kenapa?"

Temari tidak tahu.

Mungkin ... mungkin dirinya takut pada kemungkinan Shikamaru melepas statusnya sebagai pemandunya dan beralih memfokuskan diri sebagai tim pemecah kode jika ... jika menerima pernyataan rekan berkacamatanya tadi. Mungkin ia hanya tidak ingin itu terjadi.

—tidak! Ketakutannya lebih dari itu.

Sebab, jika Shikamaru benar-benar mengundurkan diri, Konoha masih punya belasan, bahkan puluhan, shinobi lain untuk menggantikannya. Puluhan shinobi lain yang tidak semalas dan semenjengkelkan sang Nara muda.

Tapi ... tahu rasanya ketika sosok yang beberapa tahun terakhir hampir tidak pernah absen dari sisimu tiba-tiba saja direnggut gadis lain?

Tangan gadis itu meraih rompi sang pemuda, meremasnya. Kepalanya terangkat—tak peduli apabila Shikamaru melihat wajahnya yang telah banjir air mata.

Pemuda Nara itu terkesiap.

"...a ... aku ... cemburu, bodoh!"

Masih ingat kalimat di awal?

Shikamaru dan Temari tidak pernah terikat dalam hubungan apa pun.

—tidak pernah—

dalam hubungan apa pun.

Tapi kenapa dada mereka kini sesak?

Tangan kanan Shikamaru menangkup wajah Temari. Mengusap wajah sang gadis yang basah menggunakan ibu jari.

Ini benar kau, Temari?

Shikamaru tak butuh jawaban.

Diangkatnya dagu gadis itu, membawa bibir ranum sang gadis ke bibirnya. Memagut perlahan.

Temari tak sanggup menolak. Air matanya belum kunjung berhenti mengalir. Jantungnya pun masih bertalu-talu menggila. Namun sesuatu yang dirasakannya jelas jauh berbeda dari sebelumnya.

Bibir mereka terurai setelah beberapa waktu.

"Sekarang kau tahu jawabanku atas pernyataan Shiho."

Temari menggumam tidak jelas.

Shikamaru kembali mengusap jejak air mata di kedua pipi sang gadis. "Ya ampun, berhenti menangis, dasar merepotkan."

Salah satu tangan Temari menangkap tangan Shikamaru, menjauhkannya. "Ini tempat umum, bakka."

Shikamaru justru menangkupkan tangannya untuk yang kedua kali ke wajah sang pirang. Menarik wajah gadis itu untuk kemudian mengecup dahinya dalam-dalam. "Biar."

Biar saja mereka melihat. Biar mereka tahu bahwa hubungan kita tidak lagi sekadar teman dari dua desa berbeda.

Kalau perlu, biar Suna pun tahu hubungan kita bahkan sebelum kau sampai di sana.

.

.

.

.

Sejujurnya, saya nggak tau apa Shiho selamat berhubung dia di tempat yang sama dengan Shikaku waktu pemboman. Kemungkinan besar, sih, dia mati. Jadi yah ... sebutlah ini alternate reality, ahaha. Oh, maaf kalau banyak typo. Ngantuk, nih. Kunci 'a' di kibor juga mulai mendelep—tenggelem, maksudnya. Jadi agak susah kalau dipake ngetik sambil ngantuk .-.

...ADUH HARUSNYA KAN GUE NYELESAIIN CHALLENGE. TOLONG—