A Sin

Naruto © Masashi Kishimoto

ShikaTema. T. Romance.

Typo mungkin, OOC juga mungkin.

Summary: Munafikkah mereka—membenci sebuah dosa, padahal nyatanya mereka melakukannya juga? Baik Temari maupun Shikamaru tidak punya jawabannya./"Mungkin ... ya."

.

.

.

Wanita itu mendesah. Melipat koran yang baru beberapa menit lalu dibentangkannya lebar-lebar di atas meja. Mengundang tarikan alis pria berambut hitam di depannya ke atas.

"Ada apa?"

Yang ditanya menggeleng. Jemari lentiknya membetulkan topi lebar yang menyembunyikan rambut pirangnya. "Tidak, tidak apa-apa."

Tatapan dari sepasang iris hitam yang diterimanya sudah cukup untuk membuat wanita tersebut bicara pada akhirnya.

"Kau harus lihat judul-judul berita. Pesawat jatuh, anak kecil yang kehilangan ibunya pasca-angin topan beberapa hari lalu di suatu prefektur, seorang gadis yang mendapat perlakuan tidak pantas di tempat umum,..." Hela napas meluncur. "...aku lelah hanya dengan membaca judulnya."

Pria di hadapannya tak menjawab. Segelas kopi panas yang tersaji di meja menjadi opsi yang lebih menarik baginya.

Tapi bukan berarti ucapan wanita itu tak menarik. Bagaimana tak menarik apabila pandangannya langsung kembali teralih pada sosok wanita itu kala bibir mungilnya kembali melempar opini?

"Koran seolah telah menjelma tempat penampungan manifestasi kesedihan," ucapnya lirih.

"Lalu apa yang kauharapkan?" si pria menyela. Iris hitamnya beradu dengan iris hijau si wanita. Membalas opini yang baru dilempar dengan kalimat datar, "Mereka telah menyampaikan realitas yang ada. Kesedihan-kesedihan yang kaubaca itu memang nyata adanya."

"Tapi setidaknya mereka bisa membahas hal-hal lain, benar?" si pirang menukas. Terdengar tak puas. "Penemuan sesuatu, misalnya. Atau suatu pentas seni untuk amal, suatu aksi sosial yang dilakukan sekelompok remaja..."

"—yang belum tentu terjadi setiap hari untuk diberitakan," si pria kembali menyela. Menyesap kopinya sedikit. "Tak ada lagi yang mereka punya."

"...atau kenapa tidak mereka beritakan saja pejabat dan pengusaha yang tersandung kasus korupsi? Beberkan semua kebobrokan konstitusi." Wanita pirang itu melanjutkan ucapannya yang terpotong, terdengar emosi. "Atau mereka menyembunyikannya karena dari manusia-manusia busuk itu mereka mendapat komisi?"

Kali ini si pria tak menyahut. Dibiarkannya saja wanita itu terus berceloteh mengeluarkan apa yang ada dalam kepalanya.

"Lalu gosip ... ah, aku muak. Kebanyakan dari mereka hanya sekumpulan dungu pencari sensasi. Basi sekali."

Sesaat hanya ada suara tegukan. Tinggi lemon tea yang ditampung pada gelas di hadapan si wanita berkurang beberapa mili.

"Tersangkut kasus narkoba karena depresi, dicekal karena memakai pakaian yang terlalu seksi, gonta-ganti pasangan, bercerai karena perselingkuhan..."

Gerak tangan si pria merapikan poninya membungkamnya seketika.

"Aku tidak berhak mengatakannya," ujar wanita itu lirih, "...tidak..."

Karena munafik sekali kedengarannya, eh?

Si pria tak menggubris. Masih asyik menata helaian pirang si wanita. Tak berkomentar apa-apa.

Netra hijau sang wanita menatap pria di hadapannya, lekat. Bibirnya berucap lirih, "...kita melakukan dosa yang sama, ya kan?"

Si pria menarik tangan ketika dirasanya poni sang wanita telah rapi tertata, namun detik berikutnya kembali kala melihat ada helaian yang turun. Sesaat lengan kukuh itu menggantung di udara sebelum meraih cangkir. Lanjut menyesap cairan hitam di dalamnya.

Potongan berita yang sempat menghiasi beberapa koran di halaman pertama muncul melintasi benak mereka, begitu jelas.

Pengusaha muda Uchiha Itachi menyangkal segala tuduhan perselingkuhan yang dilakukan istrinya—

Uchiha Temari dipergoki bertemu diam-diam dengan seorang lelaki—

Model cantik Yamanaka Ino bungkam ketika ditanya soal pertunangannya yang mendadak dibatalkan—

Yamanaka mengaku sudah dua minggu putus kontak dengan sang mantan tunangan, Nara Shikamaru—

Uchiha Temari dan Nara Shikamaru menghilang.

Kekosongan konversasi antara mereka berdua menambah senyap suasana. Kafe di bandar udara tidak pernah terlalu ramai, apalagi di hari kerja dan jam-jam sibuk seperti ini. Tapi toh memang tempat seperti ini yang mereka cari. Kacamata, perubahan gaya rambut, dan topi sebenarnya cukup untuk membuat mereka tidak dikenali, namun mereka tidak mau ambil risiko. Mengambil tempat di mana tidak banyak orang datang adalah adalah pilihan paling bijak dari seluruh opsi.

Shikamaru menyibakkan lengan kemejanya, menampakkan arloji hitam pemberian Temari beberapa bulan lalu. Tinggal lima angka tersisa sebelum jarum pendek tepat mengarah ke angka sembilan.

"Habiskan minummu, Temari. Kita sudah harus naik sebentar lagi."

Si pirang Saba—ah, bukan—Uchiha itu justru bergeming. Tatapannya lurus tertuju pada gelas lemon tea miliknya, namun sepasang iris hijau itu entah terfokus ke mana.

Shikamaru mendesah. "Temari."

"Aku ... maksudku ... salahkah kita, Shikamaru?" Temari belum mengubah posisi atau arah atensi. "Apa kita juga seperti mereka ... maksudku, munafik?"

Sang pria bungkam. Membiarkan wanita di hadapannya berbicara sendiri.

"Aku sudah mengirimkan surat cerai kepada Itachi," ujar wanita itu lagi. Tampaknya ia memang sedang ingin bermonolog. Keputusan Shikamaru untuk diam sepertinya tidak sia-sia. Sulung dari keluarga Sabaku itu mendadak mengangkat wajah, lekat memandangi sang Nara. "Dan kau—"

"Berkali-kali kukatakan padamu; bukan aku yang menginginkan pertunangan bodoh itu." Shikamaru membuang pandangan ke arah dinding kaca yang membatasi kafe dengan lorong. Hiasan dinding yang hanya berupa dua garis berbeda warna di dinding kaca transparan tersebut membuatnya bisa dengan jelas melihat beberapa orang yang berlalu lalang.

"Aku ... juga tidak tahu jawaban pertanyaanmu. Tentang apakah kita munafik atau tidak. Mungkin ... ya."

Lagi-lagi hening mengudara.

Dan lagi-lagi, pada akhirnya Shikamaru hanya mampu menghela napas. "Habiskan minummu, Temari," ulangnya dengan nada tak ingin dibantah, "kau belum makan apa-apa pagi ini. Setidaknya aku ingin melihatmu menghabiskan segelas minuman meski sekadar lemon tea."

Temari menurut.

Shikamaru baru bangkit dari duduknya usai Temari meneguk lemon tea miliknya sampai tak bersisa. Kopi hitamnya sendiri telah tandas sedari tadi. Mereka bergegas ke kasir dan membayar.

"Apa nama tempat yang menjadi tujuan kita, Shikamaru?" Temari mempercepat langkah untuk menyejajari langkah lebar sang tunggal Nara. "Aku lupa."

"Bali. Aku yakin kau pasti suka."

"Oh ya?"

Shikamaru menghentikan langkah, tersenyum pada sosok wanita di sisinya yang ikut berhenti. "Kau tidak keberatan merayakan Natal dan tahun baru di negara tropis? Tidak ada salju, tapi aku jamin kau tidak akan menyesal."

Temari meremas tangan Shikamaru yang masih menggenggam tangannya. "Aku tidak pernah meragukanmu."

Entah apa yang mendorong Shikamaru untuk menangkupkan tangannya yang satu lagi di wajah wanita itu, membawanya ke dalam sebuah ciuman dalam penuh perasaan. Mengabaikan tatapan orang dalam jejeran stand yang tak sengaja memergoki dan yang sekadar melintas.

"...aku mencintaimu."

Temari tak menyesal meski harus meninggalkan Jepang, tanah kelahirannya. Tak ingin lagi mengingat berbagai komentar tak menyenangkan tentang hubungan mereka berdua. Tak akan lagi peduli pada segala media yang mengangkat nama mereka dalam berita-berita negatif dan tak bermakna.

Selama Shikamaru berada di sisinya dan mengucapkan dua kata yang sama seperti yang baru saja dilontarkannya.

Temari harus menahan diri untuk tidak memberikan ciuman kedua mengingat mereka kini harus bergegas. Lagi pula toh mereka punya banyak waktu di pesawat selama burung besi itu terbang melintasi samudra dan beberapa negara.

.

.

.

...nyatanya, setau saya, Jepang itu termasuk negara yang pemerintahannya paling bebas korupsi walaupun bukan yang pertama juga. Jadi anggep aja yang diomongin Temari seolah-olah negara kita, ha ha ha.