Sang Putri

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

[I gain no material profit, though the story is originally mine. Dibuat hanya untuk memuaskan hasrat pribadi. Selamat membaca!]

ShikaTema. T. Romance.

Warning: Missed-typo(s), OOC mungkin.

.

Summary: Temari menyesali kedudukannya sebagai seorang putri Suna.

.

.

.

"Hei, Nara," panggilan dari bibir sang korban sabetan di tangan memecah atmosfer yang sebelumnya hanya diisi bunyi bentang kain kasa, "kadang aku membenci realitas."

Sang pemuda bungkam, masih berkonsentrasi penuh untuk membebat luka sang gadis.

"Orang-orang menyebutku Putri, tapi aku harus turun tangan melindungi rakyatku. Dalam dongeng, bukankah seorang putri justru dilindungi? Bukankah mereka yang pertama kali lari?"

Shikamaru memastikan ikatannya kencang sebelum balas menatap gadisnya.

Gadis itu melanjutkan, "Kenapa nyatanya aku yang menjadi pelindung sampai nyaris harus kehilangan sebelah tanganku begini?"

"Kenapa kau mendadak retoris begini?"

Sontak Temari tertawa. "Aku tidak bermaksud beretorika, kukira dengan kegeniusanmu itu kau memang tahu jawabannya."

"Kalau begitu aku akan balik bertanya saja; mana yang lebih kau suka, menjadi subjek atau objek?"

Ujung mata sang gadis berkedut. "Kukira kau pernah menyebutku feminis—tentu saja yang pertama."

Tangkas Shikamaru menukas, "Kalau begitu kau memang sepatutnya 'melindungi'—itu pilihanmu."

Sang gadis mendengus. "'Menerima perlindungan' juga membuatku sebagai subjek, kan?"

Jawaban ini sudah Shikamaru duga. Ia tahu gadis di hadapannya satu ini adalah tipikal anak sulung luar biasa keras kepala.

"Kau memang tidak tahu terima kasih." Iris sang gadis melebar tidak senang mendengar ucapan datar dari mulut sang pemuda. "Kau sudah mendapat kehormatan sebagai putri, sekarang kau meminta perlindungan? Lantas apa yang akan kau berikan pada rakyatmu sebagai balasan?"

Rahang Temari mengeras. Tangannya mengepal erat di atas paha. "Bukan aku yang meminta penghormatan dan bukan aku yang ingin terlahir sebagai seorang putri!"

"AKu tidak mengenalmu." Lekat sepasang netra legam Shikamaru menatap netra hijau si gadis Suna. "Kukira kau adalah gadis yang sama dengan gadis yang pernah menceramahiku soal penyesalan beberapa tahun lalu."

Sang gadis terperangah.

"Kau satu dari sekian banyak manusia yang Tuhan pilih untuk menapaki takdir dan memanggul kepercayaan sebagai putri. Kenapa kau tidak bersyukur saja? Bukankah itu artinya kau berkesempatan untuk bisa berguna dan membalas sepersekian utang budimu kepada-Nya lebih banyak?"

Pemuda itu bangkit dari duduknya, mengabaikan sang gadis berkuncir empat yang terenyak tak mampu bicara. "Jika memang itu maumu, kau bisa tinggal di sini. Tidak ada yang akan mempertanyakan keberadaanmu di sini sebagai salah satu korban luka."

Putra tunggal Shikaku itu baru saja berbalik dan bermaksud melangkah keluar ketika didengarnya sergah pelan, "Tentu saja aku tidak mau, bodoh."

Bahkan otak ber-IQ dua ratus Shikamaru saja kalah cepat mencerna rentet kejadian yang terjadi berikutnya—tarikan Temari pada kerah jaket shinobinya hingga ia berbalik, dorongan tangan Temari pada kepalanya, dan serbuan empuk gadis itu terhadap bibir merah pucatnya.

"Kau tahu, aku punya satu alasan lagi untuk berterima kasih padanya—ia tidak menakdirkanku menjadi seperti putri dalam dongeng yang pasti menikah dengan pangeran kerajaan sebelah." Tangan gadis itu mencengkeram jaket shinobi sang pemuda. Pandangannya lurus tanpa ragu kala melanjutkan, "Karenanya aku tidak perlu bersusah payah memperjuangkanmu dengan begitu dramatis yang akan membuatku terlihat seperti orang tolol."

Satu sahutan dari kekasihnya, "Merepotkan."

Meski begitu, bibir Shikamaru melengkungkan senyum lebar yang tak mampu lagi ia tahan sebelum meraih bibir gadisnya, menyatukan kembali bibir mereka.

.

.

.

Fin

.

.

.

...ini berawal dari pertanyaan saya kenapa saya dilahirkan sebagai gini gini, terus ujungnya kepikiran gimana kalau Temari yang mempertanyakan posisinya. Secara dia kan anak Kazekage ya. Seorang Putri Suna.

Dan jadilah fic ini :"