Gelang
Naruto belongs toMasashi Kishimoto
ShikaTema. K+. Friendship, Romance.
I gain no profit for making this—the story is still mine, though. Enjoy.
.
Summary: Ujaran pertama sang pemuda ketika mereka berpapasan setelah sekian lama bukanlah sapa sesederhana, "Hai."/Kampus!AU.
.
.
.
Temari melangkahkan kaki-kaki jenjangnya cepat, tampak terburu-buru. Ia memang terburu-buru. Ia ada kelas sekitar lima menit lagi dan diadakan di gedung sebelah. Ia terlalu larut dalam bacaannya di perpustakaan tadi. Jurnal psikologi dan suasana nyaman lengkap dengan pendingin ruangan, mana bisa ia tidak betah? Hingga akhirnya ia melirik ponsel demi melihat jam di layar yang membuatnya terbelalak serta belasan pesan dari Konan.
Gadis berkuncir empat itu tak sedikit pun merasa perlu membuka kotak obrolannya dengan Konan. Konan pasti menanyakan posisi dan mengingatkan jam kelas mereka. Ia bergegas menumpuk buku ke dalam tas—untung ia sudah mendaftarkan pinjaman terlebih dulu—untuk kemudian menuju keluar perpustakaan.
Koridor lengang. Para mahasiswa pasti sudah duduk manis di kelas masing-masing, kecuali beberapa yang hampir terlambat—atau memang akan terlambat—seperti si sulung Sabaku. Satu hal kecil yang disyukurinya, karena berkat itu, ia tidak perlu berjalan di belakang gerombolan gadis-gadis yang kalau berjalan layaknya konvoi pejabat—penuh penghayatan dan minta disumpahserapahi—tidak bisa disalip, pula.
Tangannya membetulkan tali tas selempang, menyamankannya di bahu. Menaikkan kembali gelang model kancing yang turun hingga bagian tengah lengan kirinya. Uh. Kenapa mendadak gedung sebelah terasa jauh sekali?
Langkahnya melambat … sebelum kemudian terhenti sama sekali.
Tertegun.
Koridor lengang. Hanya ada satu dua orang yang berlalu lalang. Jarak pandangnya luas, tidak terhalang hingga belasan meter ke depan, tidak sedikit pun.
Karena itulah ia tertegun.
Karena … lihatlah, beberapa meter di depannya, tidak terhalang apa pun, tidak sedikit pun, satu sosok tengah berjalan ke arah yang berlawanan dengan tujuannya—ke arahnya. Satu sosok yang Temari hafal di luar kepala sejak kelas dua belas dan mereka duduk depan-belakang.
Satu sosok yang begitu akrab dengan kuncir satu samurainya—nanas, sebut Temari jail kala SMA.
Satu sosok yang—
Kepala pemuda itu terangkat dari kamera di tangan. Langkahnya mendadak ikut berhenti, entah karena mengenali sosok sang gadis atau menyadari langkah gadis itu pun terhenti.
Mata mereka bertemu.
Sunyi masih setia melagu, disela ketak sepatu satu dua orang yang lewat. Belum satu patah pun kata terucap, seolah mereka memang menikmati desir hening membelai telinga.
Tidak, Temari memang menunggu tunggal Nara itu bicara. Memangnya ia harus mengatakan apa? Menyapa 'hai'? Yang benar saja. Mereka tidak pernah berbasa-basi semacam itu.
"Kau kurusan, eh?"
Temari nyaris melongo mendapati pertanyaan seperti barusan. Detik berikutnya wajahnya telah memerah. Iris hijaunya melotot, mulutnya melontar kalimat penuh nada mengancam, "Jadi kau diam tadi itu untuk memperhatikan tubuhku? Dasar mesum!"
Shikamaru berdecak. Astaga, diteriaki mesum di tengah koridor lengang yang dapat menggemakan suara bukanlah respons yang menyenangkan. Sungguh ia berharap suara Temari tidak akan sampai menembus dinding dan pintu kelas-kelas terdekat.
"Aku tidak tertarik. Memangnya apa yang bisa kulihat?"
Pelototan Temari mengganas. Sial, memangnya ia seburuk itu?
Pemuda itu mendekat. Telunjuknya teracung ketika jarak mereka tersisa dua kaki.
Dahinya mengernyit. Kepalanya menunduk, mencari-cari apa yang sebenarnya tengah kawan kelas SMA-nya itu tunjuk.
"Gelang," ujar pemuda itu singkat. Spontan gadis di hadapannya melepas genggaman pada tali tas dan mengangkat tangan kiri. Atensinya teralih pada sang Nara kala pemuda itu melanjutkan, "Terlihat longgar di pergelangan tanganmu. Itu gelang plastik, kan? Tidak mungkin mengendur."
Temari mengerjap. Refleks membawa kepalanya kembali pada pergelangan tangan. Sepasang matanya menatap lekat-lekat. Benarkah yang pemuda itu katakan? Ia kurusan?
Tangan Shikamaru terjulur dalam posisi menengadah. "Sini, pinjam."
Alis Temari terangkat, bingung. "Apa?"
"Gelang."
"Kau mau apa?"
Tangan sang pemuda tersorong maju. "Sudah, berikan saja padaku."
Shikamaru segera memakai gelang sewarna netra gadis itu setelah ia menerimanya. Lengannya diangkat, menunjukkan gestur memamerkan gelang yang tepat melingkari pergelangan tangannya kepada sang pemilik.
"Aku pernah meminjam gelangmu dulu, ingat? Gelang ini tepat melingkari pergelangan tanganmu dulu, hanya longgar sedikit. Sekarang terlihat begitu longgar padamu. Sementara di pergelangan tanganku masih pas. Itu artinya bukan gelangnya yang mengendur, melainkan lenganmu yang kian kurus."
Temari terperangah. Mencoba menyanggah, "Tapi bisa saja gelang itu memang mengendur dan kau yang semakin gemuk!"
…untung saja tidak ada Chouji di sini.
Eh, yang baru saja jadi objek dalam kalimat Temari itu dirinya, sih.
"Kau rajin menariknya, ya?"
Temari membuka mulut, namun segera membungkamnya. Sial, ia tidak bisa mendebat.
Shikamaru melukis senyum miring melihat kebisuan Temari. Bungkam gadis itu akibat tidak bisa mendebatnya selalu menjadi hiburan yang menyenangkan.
Tangan kanan pemuda itu melepas kancing gelang, membiarkan kamera tergantung begitu saja di leher. Menyodorkan si gelang agar kembali pada pemiliknya.
"Kau harus lebih memperhatikan pola makanmu. Jangan sampai sifat ambisiusmu membuatmu sakit lagi seperti di SMA."
Temari memutar bola mata. Menyahut malas seraya menerima gelang dan memakainya, "Ya, ya. Kau ini ternyata sama bawelnya seperti ibuku. Dan Konan."
Pernyataan itu sebenarnya sebuah sindir, tidakkah peran kita terlihat terbalik, eh?
Shikamaru mendecak untuk kali kedua. "Merepotkan."
Temari tersenyum. Ah, benarkah ia begitu merindukan kutipan khas Shikamaru yang satu itu?
"Kau tidak ada kelas?"
Mata Temari membelalak. "Astaga! Aku lupa!"
"Tidak ada toleransi?"
"Lima belas menit." Temari menggigit bibir, meraih ponsel demi jam yang tertera di layar. "Aku harus pergi sekarang—"
Jpret!
Shikamaru menatap hasil fotonya, menyeringai. "Sempurna."
Temari hanya mampu mendesis jengkel, "Kau masih sama menyebalkannya, Nara."
"Memang."
Derap lari sang gadis menggema di koridor sekejap mata kemudian diiringi tatap tak lepas dari sepasang netra legam pemuda yang baru ditinggalkannya. Setelah yakin jarak mereka sudah cukup jauh, gadis itu berbisik tak senang, "Dikiranya dirinya itu siapa? Ibuku? Sok perhatian sekali menyuruhku menjaga pola makan."
Meski begitu, sebuah kurva terukir manis di wajahnya, menemani semburat samar di kedua pipi.
Tak tahu, sang pemuda melekuk lengkung yang sama.
[*]
.
.
.
maaf kalau ada typo, saya males cek ulang, orz. maaf juga kalau alurnya kecepetan, atau ada hole, atau kecacatan apalah. saya nulis ini numpang wifi di kampus malem-malem dalam keadaan mata mulai berat—tapi gatel pengen publikasi sekarang /diusir.
ah, saya kangen shikatema :')
