Rindu
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
ShikaTema. K+. Romance.
[I gain no material profit, though the story is originally mine. Dibuat hanya untuk memuaskan hasrat pribadi. Selamat membaca.]
.
Warning: OOC, mungkin. Missed-typo juga, mungkin, karena saya males teliti lagi. Orz.
.
Summary: Ini hanya satu setelah sekian lama dan Temari mendadak merasakan tubuhnya dikuasai sensasi asing … tapi menyenangkan.
.
.
.
Satu kali setelah sekian lama, Temari kembali menjejakkan kaki pada tanah yang begitu dikenalinya ini. Pada tanah yang menjadi rumah keduanya secara tak resmi dan nyaris ia hafal mati. Pada tanah yang telah bertahun-tahun menanggung hajat seorang rekan lelaki dan merupa saksi mati.
Gadis itu tersenyum.
Benar, ini kembali menjadi satu setelah sekian lama.
Hmmm … kapan terakhir ia ke sini? Rasa-rasanya ia merindukan aroma dedaunan dan hujan yang khas. Cicit burung dan derik jangkrik. Angin sejuk melenakan dan udara lembap menyegarkan. Langit cerah berhias semarak awan dan … dirinya.
Ehem.
Temari melekuk senyum tanpa sadar. Selengkung senyum yang dirinya sendiri mungkin tak akan percaya ia pernah mengukirnya. Jangan tanya lelaki berkuncir satu yang biasa menunggunya di gerbang desa; ia bisa-bisa langsung memasang gestur waspada menyangka gadis itu hanyalah seorang penyamar.
Temari mendengus. Membayangkannya saja sudah sebal.
Ia sudah tidak melompat lagi dari dahan ke dahan sedari tadi. Ia menikmati jalan setapak, menikmati sensasi rumput empuk dan tanah keras pada kaki. Hal-hal sederhana yang tidak akan ditemukannya di Suna. Bukannya ia tidak mencintai Suna yang notabene tanah kelahirannya. Bukankah tadi ia telah menyebutkan bahwa Konoha sudah dianggapnya sebagai rumah kedua?
Gerbang desa tinggal beberapa meter lagi—aha. Itu dia.
Langkahnya berubah irama menjadi sedikit lebih cepat. Entah kenapa, mendadak ketidaksabaran mengambil alih dirinya—
Oh. Itu. Itu dia.
Itu dia sosok jangkung berompi hijau yang ia hafal di luar kepala. Kuncir satunya. Postur tubuhnya. Gaya soknya yang bersender pada gerbang dengan dagu terangkat demi bentang langit di atas kepala—
Langkah gadis itu terhenti seketika.
…padahal, ia ingin berlari.
Temari tidak tahu. Tidak mengerti. Getar halus apa pula ini yang merambati tangannya? Sensasi merinding apa pula ini yang menyentuh tengkuknya?
Dan degup cepat jantungnya.
Dan kerjap hangat matanya.
Geletar macam apa ini?
Otaknya cepat menyodor opsi jawab: rindu?
Temari tertegun.
Ia juga merindukan Konoha, tapi tidak merasakan hal-hal abstrak semacam ini tadi. Benar, abstrak, karena hal-hal ini di luar kuasa alam sadarnya sendiri yang tak Temari pahami. Lantas bagaimana bisa semuanya mendadak muncul hanya dengan … melihat … pemuda itu?
Temari menggigit bibir.
Dadanya sesak, tapi menyenangkan.
Temari ingin berlari.
Temari ingin berlari.
Temari ingin cepat-cepat kembali bersua dengan pemuda itu. Ingin merasakan jelas eksistensinya. Ingin menyapanya. Ingin bicara padanya.
Ingin … memeluknya.
Mungkin memang seperti ini yang disebut rindu?
Temari kira rindu yang tadi dirasakannya sebatas perasaan ingin bertemu saja—
Kepala yang tadi terlengak kini tertoleh.
Jarak mereka masih cukup jauh, namun Temari merasakan seolah-olah mata mereka tepat beradu.
…di detik itu, kakinya kembali mengayun.
Normal. Tidak cepat, tidak juga lambat.
Buncah menyenangkan itu masih ada di relung dadanya. Sebuah hasrat kuat masih menggembung memerangkapnya. Di sisi lain, geletar halus yang sempat mengambil alih perlahan mereda untuk kemudian menghilang, berganti hangat tak terjelaskan. Matanya juga tak lagi mendidih oleh panas irasional.
Serta, bibirnya tidak tahan untuk tidak lebar-lebar memampangkan seringai.
Dalam waktu yang entah dirasanya begitu panjang atau terlalu singkat, Temari telah sampai di hadapan gerbang Konohagakure. Lelaki berkuncir satu itu kini berdiri tegak menghadapnya, terpaut beberapa langkah.
"Yo, Nara."
Alis pemuda itu terangkat. "Kenapa kau menyeringai lebar begitu?"
Temari ingin tertawa yang berujung pada keputusan untuk menahannya saja. Dilenyapkannya seringai, dikibaskannya tangan. "Tidak apa-apa."
Nara Shikamaru masih menatapnya.
Temari melenggang. "Aku tidak ingin buang-buang waktu. Ayo."
Telinga Temari menangkap decih pelan dan gumam, "Merepotkan." Lazimnya, ia bosan mendengarnya. Nyatanya, ia justru tersenyum.
…tapi pemuda itu tidak boleh melihatnya atau ia akan kembali bertanya. Biar saja Temari memendam alasannya sendiri.
.
.
.
...happy belated birthday, Shikamaru. maap yak telat lima hari. /dilempar
