—Ahh, sebotol sake sialan! Apa yang harus Sakura lakukan sekarang? Terbangun di ranjang Sabaku no Gaara sungguh sama sekali bukan hal yang ia inginkan. [Special request from Bucinnya Lalisa].


Naruto by Masashi Kishimoto

Credit cover to artist

unsober proposal

.

.

"Gaara ... umm, Gaara ... bisakah aku ... umm ... memanggilmu seperti ini?"

Gaara masih terdiam, tak bergeming. Posisinya saat ini adalah duduk di sebuah meja kedai ditemani tiga orang lainnya. Dua saudaranya, Temari dan Kankurou yang duduk di bangku seberang, dan seorang gadis nyentrik bersurai unik bernama Haruno Sakura yang duduk tepat di sebelahnya.

Dan jika kalian bertanya, dari siapakah pertanyaan barusan? Yah, tentu saja dari siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura yang kini sedang mabuk. Dalam kondisi normal, gadis itu pasti akan memanggil dalam suffiks —sama, entah itu Kazekage-sama atau mungkin Gaara-sama. Dan sekarang, Sakura yang sedang mabuk dengan berani memanggil pemimpin tertinggi Sunagakure itu dengan nama kecilnya tanpa embel-embel hormat apapun.

"Ah, sepertinya Sakura sudah mabuk." Temari membuka suara dengan pandangan yang sama horornya dengan pandangan Kankurou, tidak menyangka ada orang yang segila ini berani terhadap adik laki-laki mereka. Walau itu mabuk, tetap saja mereka khawatir Gaara akan marah atau sebagainya karena sikap tak sopan sang kunoichi kebanggaan Konoha.

"Aku ... umm, tidak mabuk kok. Umm, aku ini murid Tsunade-shisou, aku tentu ... umm, tahan minum, hik!" Sakura menutup kalimatnya dengan satu cegukan ringan. Kondisi wajahnya yang nampak memerah seperti demam sungguh berbanding terbalik dengan ucapannya.

Temari menghela napas pelan, berpikir apakah ia perlu merutuki diri sendiri atau tidak. Sakura adalah teman baiknya dari Konoha, dia cerdas dan kuat, Temari menyukainya. Dan begitu tahu Sakura dikirim sebagai instruktor langsung di pelatihan rumah sakit Suna selama tiga bulan penuh, tentu Temari langsung menyusun jadwal bertemu seperti sekarang, sekaligus menyeret paksa dua adiknya untuk ikut agar suasana lebih ramai. Yang mana hal itu mungkin malah menjadi keputusan buruk saat ini.

"Gaara~" rengek Sakura menggeser tubuhnya mendekat. Gaara nampak menoleh terkesiap tapi tidak menunjukkan respon lain selain terdiam mengamati.

Dan di lain sisi, Kankurou menatap horor ke arah Sakura terang-terangan. Apakah gadis ini punya tujuh nyawa atau semacamnya? Walau mabuk, harusnya dia tetap bisa merasakan aura intimidasi Gaara yang dingin dan tajam. Hari ini, tepat satu bulan Sakura tinggal di desa Suna untuk sementara selama masa pelatihan, masih ada sisa dua bulan lagi. Dan membuat Gaara kesal, bisa-bisa menjadikan dua bulan sisanya pengalaman yang mengerikan.

"Sakura, biar aku antar pulang se—"

"Gaara~ Apakah aku ... umm ... bisa memanggilmu begitu? Atau ... umm, bagaimana dengan Gaa— Gaa-chan?" sela Sakura tak mengindahkan ajakan Temari. Ia menatap Gaara dengan manik zamrud penuh yang sayu.

"Gaara," jawab Gaara menyahuti ucapan Sakura. Secara tak langsung menolak opsi kedua untuk dipanggil dengan embel-embel —chan.

Sekarang, Temari dan Kankurou tidak tahu siapa yang sebenarnya gila di sini. Gaara memang menjadi pujaan banyak gadis Suna, tapi tak ada satupun yang diizinkan memanggilnya seperti itu. Bagaimana mungkin kepada gadis Konoha yang tak terlalu dikenalnya dia berlaku seperti sekarang ini?

Sakura yang ditanggapi memasang senyum manisnya lebar-lebar. Masih dengan ekspresi cukup konyol karena efek alkohol, gadis khas bunga musim semi itu menarik lengan Gaara dan mengapitnya, merapatkan jarak di antara mereka hingga tak bersisa. Kepala gulalinya pun bersandar tanpa tedeng aling-aling ke bahu kokoh sang pemimpin desa Suna.

Tidak hanya Temari dan Kankurou, Sabaku no Gaara bahkan juga tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Kepalanya menoleh dan bertatapan langsung dengan wajah manis Haruno Sakura dalam jarak yang sangat dekat. Gaara rasa, sekarang dia mengerti mengapa Sakura mendapat banyak sekali surat cinta saat perang —yang bahkan sampai disiarkan di televisi dan berakhir dengan gadis itu menggebrak meja hingga hancur.

Gaara akui, selain bakatnya, wajahnya memang —ekhem, sangat menarik. Dia cantik dan manis. Tak salah mengapa Naruto dan Rock Lee, duo rival yang kini menjadi temannya itu begitu tergila-gila pada gadis nyentrik ini. Pesonanya sulit ditolak. Tone rambut yang unik, iris emerald yang cerlang, dan bibir plum yang tampak natural tanpa ada gincu di atasnya. Tunggu, apa yang baru saja ia pikirkan? Sepertinya ia ikut mabuk.

"Gaara~" Sakura kembali memulai, masih dengan nada aneh khas orang mabuk pada umumnya. Gaara jadi bertanya-tanya, apa reaksi Sakura jika nanti ia menyadari apa yang sudah terjadi?

Entah mengapa, pemikiran seperti itu membuatnya tergelitik. Sakura adalah gadis kuat yang cukup temperamen. Ia biasanya membuat batas pada setiap pria yang berusaha merayunya. Bukan hal mudah untuk mendekatinya. Dan sekarang, jika gadis itu nantinya sadar akan apa yang terjadi, Gaara tak bisa untuk tidak membayangkan akan selucu apa ekspresi terkejutnya nanti.

"Gaara," panggil Sakura kembali menarik atensi, "matamu, umm, indah. Aku sangat suka, hehehe."

Uhuk! Kankurou sukses tersedak daging yakiniku yang sedang ia kunyah, buru-buru mengambil segelas air mineral sebelum ia mati konyol di sini.

Gaara terkesiap, pandangan matanya terpaku pada Sakura yang masih menatapnya penuh binar. Roman kemerah di garis pipinya membuatnya semakin manis. Dan kalau diperhatikan lebih jauh, iris mata mereka memiliki tone yang sama, hanya saja dalam opasitas yang berbeda. Gaara dengan hijau pucat, lalu Sakura dengan hijau cerlang. Bahkan tone rambut mereka pun senada berbeda opasitas, Gaara dengan merah tua, lalu Sakura dengan merah muda.

"Terimakasih," respon Gaara sedikit canggung, "matamu ... juga indah."

Oke, di titik ini, Temarilah yang hampir mati tersedak. Ia bahkan tak tahu lagi harus berucap dan berpikir seperti apa. Adiknya tidak nampak marah dan malah terlihat ... menikmati?

Sakura terkekeh senang, semakin mengeratkan pelukannya. Kembali menelengkan wajahnya sambil sedikit memiringkan tubuh mungilnya, membuat jarak pandang mereka bisa lebih jelas dan luas. "Kau juga sangat tampan, umm, benar-benar tampan!"

Aa, kau juga sangat cantik. Ya, itu balasan yang ingin dikatakan Gaara, tapi ia memilih diam tak memberikan ucapan apapun. Dan detik setelahnya, pria Sabaku itu lagi-lagi dibuat terkejut oleh sebuah tangan mungil hangat yang menyentuh sisi wajahnya tiba-tiba. Gaara terlalu terkejut untuk bisa bereaksi atau mengucap sepatah dua patah kata. Dan Temari juga Kankurou, sudah mematung tanpa bisa bereaksi apapun selain menatap horor tak percaya.

"Kulit wajahmu halus sekali," ujar Sakura riang walau pandangannya masih ada kesayuan di manik gioknya, "oh, rambutmu juga halus sekali."

Temari bersumpah, ia bahkan tak berani menyentuh rambut adiknya sembarangan. Selain Yashamaru dulu, Gaara tak terlalu suka disentuh. Tapi yang membuat Temari lebih terkejut, bukanlah aksi Sakura, melainkan Gaara sendiri yang tidak memberi bantahan apapun. Jika gadis lain, sudah pasti akan ditepis begitu saja dengan Gaara yang berlalu pergi.

Namun nyatanya, dalam kasus Haruno Sakura, yang Sabaku no Gaara lakukan malah—

"Aa."

—bergumam dan membiarkan Sakura menginvasi setiap detail wajahnya.

"Ah, kau juga punya hati yang indah, umm," gumam Sakura mengusap pelan tanda 'Ai' di kening sang pria Sabaku. Dan tanpa sadar, Gaara malah menggeram pelan menikmati pijatan ringan Sakura di kepalanya. Persis seperti anak kucing yang keenakan menerima elusan dan pijatan.

Sial, siapapun tolong selamatkan Temari dan Kankurou sekarang juga. Mereka benar-benar diserang kejutan yang bertubi-tubi hari ini. Jika Sakura, mungkin mereka bisa memaklumi, gadis itu meminum sebotol penuh sake, ditambah raut wajahnya yang sungguh seperti orang mabuk. Tapi Gaara? Astaga, adik mereka bahkan tidak minum setetes alkohol pun! Gaara seratus persen sangat sadar. Bagaimana bisa adik mereka yang dingin itu bertingkah seperti sekarang?

"Gaara~" Sakura kembali memulai, tidak melepas kontak mata mereka, kedua maniknya mengerjap pelan. Sebelum kemudian—

sret!

—memajukan badan dan menjatuhkan ciuman ringan di pipi Sabaku no Gaara.

"Ka— kau," gumam Gaara terkejut, yah, tentu saja ia sangat terkejut ketika tiba-tiba seorang gadis menciummu. Dan anehnya, walau terkejut, ia sama sekali tidak merasa keberatan. Ini gila!

"Sabaku no Gaara, umm, bagaimana jika kita berkencan?"

"Apa?"

"Ah, tidak, bagaimana jika kita menikah saja, hum? Ayo kita pergi keluar!"

Haruno Sakura ... pasti sudah gila! —Sabaku's siblings, still shocked.

.

.

.

Haruno Sakura mengerang pelan saat bias sinar mentari memasuki celah gorden dan melintasi wajahnya. Kepalanya terasa berdenyut saat ini. Dan entah mengapa seluruh badannya terasa pegal seperti habis berolahraga semalaman.

"Enggh," erang Sakura pelan sambil menggeliatkan badannya. Dan hal yang membuat ia terkejut setengah mati, saat ia menoleh, wajah tampan dengan sepasang iris jade dan helaian merah tengah menatapnya.

"A— apa?! Ke— kenapa kau—" Sakura tak melanjutkan kalimatnya, frustasi. Jantungnya serasa loncat ke perut saat itu juga. Tak butuh lima detik untuk langsung mengenali siapa pemilik wajah rupawan itu.

"..."

"Si— sial, apa yang sebenarnya terjadi?!" seru Sakura berusaha menarik tubuhnya menjauh. Saat ini yang terpenting adalah menjauhkan diri dan membuat jarak aman terlebih dahulu.

Tapi belum sempat ia melancarkan aksinya, sebuah lengan kekar dari balik selimut sudah menarik pinggangnya. Mengunci Sakura agar tak bisa bergerak kemanapun.

"Selamat pagi, Sakura."

Gila! Apa menurutnya ini situasi yang tepat untuk mengucapkan selamat pagi dan semacamnya? Sakura merutuk dalam batinnya yang frustasi. Sebelum kemudian menarik napas pelan dan mencoba setenang mungkin membuka konversasi.

"Ka— Kazekage-sama, apa yang terjadi semalam?" tanya Sakura mencoba berusaha tenang, walau batinnya saat ini sudah menyoraki satu kemungkinan yang paling mungkin terjadi.

"Kazekage? Panggil aku Gaara."

"Maaf? Tapi saya tak bis—"

"Bukankah semalam kau yang bilang ingin memanggilku Gaara?"

"Hah? Ka— kapan saya bilang seperti itu?" tanya Sakura sedikit tergugu. Sial, sebenarnya semabuk apa dirinya?

"Kau bahkan terus mendesahkan namaku —Gaara, semalaman," jawab Gaara dengan enteng. Berbanding terbalik dengan wajah Sakura yang langsung memucat.

Sakura memang sudah terpikirkan kemungkinan ini. Dan mendengar pernyataan pria Sabaku itu barusan, ia tak bodoh dan juga cukup dewasa untuk langsung mengerti. Meneguk ludah kasar, lengan mungilnya bergegas mengangkat selimut yang membalut tubuh mereka untuk mengintip ke dalam baliknya. Dan secepat ia menyibak, secepat itu pula ia kembali menutupnya. Rona di wajahnya, sekarang ini benar-benar berubah menjadi merah padam.

Dari apa yang baru saja dilihatnya, dan juga rasa pegal di seluruh tubuhnya, terutama pada area intim bagian bawahnya, bisa dipastikan mereka memang benar-benar bercinta semalam. Tapi ... bagaimana bisa astaga?!

"Ka— Kazegake-sama, ap—"

"Gaara."

"Umm, Gaa— Gaara-sama, ap—"

"Gaara."

"Uh, Gaara, apakah kita ... semalam melakukan—" Sakura memutus ucapannya, ternyata menjadi dewasa tidak membuatmu terbiasa membahas hal dewasa tanpa merasa canggung.

"Melakukan apa?" Gaara balik bertanya dengan kedutan pelan di sudut bibirnya, seperti berusaha menahan sesuatu.

Shannaro! Sakura tahu Gaara pasti mengerti maksudnya. Dan lihat apa yang dilakukannya sekarang, malah bertanya polos dengan sebuah seringai yang berusaha ditahannya.

"Lupakan. Lupakan saja semuanya. Aku tak akan mengatakan apapun. Anggap saja tak terjadi apapun. Aku akan menjaga rahasia ini dan kaupun juga. Jadi ayo kita lu—"

"Kurasa ... setelah semuanya, aku menerima lamaranmu." Satu seringai yang tak berusaha ditahan, terbit begitu jelas di wajah Sabaku no Gaara.

"LA— LAMARAN?!"

—Ahh, sebotol sake sialan! Apa yang harus Sakura lakukan sekarang? [ ]


end