Black Clover © Tabata Yuuki
Story© Panda Dayo
Canon setting. Kealayan cerita. Asta/Yuno.
Dibuat sambil dengerin Koisuru Beam dari cillia
Dldr.
Menjadi anggota Fajar Keemasan tidak mudah. Selain harus memiliki kemampuan dan tekad kuat dalam menjalankan semua misi, ada satu hal lagi yang membuat anggota skuad paling populer itu elus dada.
Kelakuan Wakil Kapten mereka yang baru.
Yuno secara resmi menggantikan posisi Langris. Meski sulit pada mulanya, menerima keberadaan seseorang sepertinya yang dari Hage. Dia itu cuma rakyat jelata—tapi sekarang tidak ada yang berpikir demikian. Yuno memang pantas mendapatkannya, terlebih setelah melihat semua pencapaian yang didapat.
Jadi apa relevansinya dengan sikap Yuno?
Tentu saja ada. Letoile yang pertama kali menyadari gerak-gerik aneh Yuno. Waktu itu mereka kebetulan sedang ada misi di dungeon bersama. Secara tidak sengaja berjumpa dengan si berisik dan tsundere dari Banteng Hitam. Mereka berdua juga mendapat misi menjelajah dungeon ini, katanya.
Letoile bisa memastikan wajah Yuno terlihat begitu seram ketika memperhatikan si tsundere. Awalnya Letoile tidak yakin, tapi saat keduanya bertengkar, membuatnya semakin percaya. Kenapa Yuno terlihat sangat membencinya?
Lalu ia teralih melihat si berisik yang berusaha melerai mereka. Yuno buang muka dengan wajah merah. Lensa kacamata Letoile retak seketika. Ia tahu wakil kapten barunya memang tsun, tapi siapa sangka begini akhirnya. Ah, kisah cinta anak muda.
Letoile mendiskusikannya dengan Klaus beberapa hari kemudian, tapi Klaus hanya menanggapi tenang. "Kau baru menyadarinya?"
"Jadi kau juga tahu?"
"Yah, sebenarnya ... karena terlalu jelas aku juga berpikir sepertimu."
"Apa Wakil Kapten pernah konfesi?"
"Sepertinya belum."
Letoile memutuskan melihat dulu. Bisa saja asumsinya salah meski Klaus telah memberikan keterangan. Kalau pun itu benar, di mana daya tarik si berisik itu? Sudah pendek, bodoh lagi. Kenapa Yuno sampai tergila-gila padanya?
Penyelidikan Letoile berlanjut dua hari setelahnya. Yuno dipanggil untuk mendapat peringkat baru, bersama dirinya. Sebenarnya Klaus dan Mimosa juga meraihnya, namun ia ada kepentingan ke Heart hari ini untuk studi tanaman obat.
Di sana mereka berjumpa dengan beberapa anggota dari skuad lain. Setelah selesai menyapa, si berisik itu baru datang dengan si tsundere dan bocah begajulan berambut pirang. Luck Voltia memang memiliki kemampuan yang hebat, kalau saja sikapnya tidak begitu ... mungkin ia bisa masuk Fajar Keemasan.
"Maaf aku terlambat!"
"Ini salahmu kita terlambat, bakasta."
"Oo, Yuno!" Asta tampak riang. "Bagaimana kabarmu?"
Pipi Yuno sedikit merona. "Ba-baik. Tapi, kenapa kau terlambat, Asta?"
Letoile ingin muntah.
"Ada nenek-nenek yang sedang kesulitan di jalan tadi."
Yuno sedikit salah tingkah saat tangan Asta menyentuh dahinya. "Hmm, kau tidak demam. Tapi kenapa wajahmu merah?"
"Eh? B-bukan seperti itu."
"Lalu kenapa? Kalau sakit, istirahat dong!"
"Hmph. Siapa kau berani menyuruhku?"
"Yunooo! &$-+# )#+$-;"-$83!)#)!" Kata-kata tidak lulus sensor terucap begitu saja.
"Daripada itu. Apa-apaan pakaianmu itu? Bagian depannya terlihat ... semua."
"Oh! Bagaimana menurutmu? Keren kan pakaian baruku?"
"Itu bahkan tidak bisa disebut pakaian."
"Bilang saja kau iri, Yuno! Kyahahaha!"
"Si-siapa juga yang iri! Bagaimana nanti kalau kau masuk angin, hah?!"
"Aku tahu kah hanya khawatir padaku, Yuno. Tapi aku tidak apa-apa!"
Bukan hanya mukanya yang merah, Letoile bahkan melihat ia sedikit meneteskan liur melihat dada Asta. Apa ini? Cinta terlarang? Sepertinya lumayan kalau dibukukan. Tapi demi nama baik Fajar Keemasan, Letoile tidak bisa membiarkan harga diri wakil kaptennya jatuh hanya karena fanservis rendahan.
"Bukankah sebaiknya kita berbaris? Sebelum Kaisar Sihir datang."
"Kau benar juga! Eh, dia siapa, Yuno?"
"Letoile, dia juga menerima kenaikan peringkat hari ini."
"Aku tidak tahu kau punya anggota semanis ini—atatatatataw! Noelle, apa yang kau lakukan?!"
"Bu-bukannya aku peduli, tapi dia benar! Ayo segera berbaris agar tidak memenuhi ruangan. Maaf sudah mengganggu kalian."
Letoile melihat kilatan listrik di antara Noelle dan Yuno. Astaga. Biarkan ia beristirahat dengan semua fakta yang telah dipastikan hari ini. Letoile tidak mau melihat drama kehidupan rumah tangga.
Asta dan Yuno berbicara sebentar setelah pengumuman selesai. Letoile mengunyah makanan dengan malas.
Ia masih belum tahu apa yang membuat Yuno menyukai Asta.
Itu adalah sebuah malam. Letoile sedang ada urusan di luar, baru datang ketika hampir tengah malam ke markas Fajar Keemasan. Besok ia libur, setidaknya kerja keras hari ini bisa terbayar.
"Sial! Ini bukan jalan ke kamarku."
Hilang fokus adalah hal yang biasa ketika lelah. Ketika ia hendak berubah arah, yang ditangkapnya adalah pintu kamar Yuno tak jauh dari posisinya. Apakah ia pura-pura lewat sana saja? Mungkin bisa sedikit menegur sikapnya sekalian.
Berjalan hati-hati, Letoile menyiapkan hati. Setidaknya ia harus mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Terserah Yuno mau suka siapa, tapi dia tetaplah wakil kapten skuadnya. Dia pasti akan menerima kritik dengan tangan terbuka.
Baru saja akan mengetuk pintu, ia mendengar suara aneh dari dalam sana.
"Pe-pelan-pelan ... Asta ... ahhh!"
Letoile mendekatkan telinga ke daun pintu. Ia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Omong-omong, sedang apa si berisik itu di sini?
"Yuno ... hahhh ... hahhh ... bertahanlah ... "
"Emmhh ... bodoh!"
"Bukankah kau yang meminta tadi siang?"
"Habisnya ... kau terus menatap Letoile."
Hening sejenak sebelum tawa Asta keluar.
"Kau cemburu? Tenang saja, Yuno yang paling manis di dunia!"
"Cukup, Asta. Biar aku saja."
"Aku saja, lagipula Yuno lelah, 'kan? Heh, Wakil Kapten."
"Apa yang—ahh! Ah! Kenapa tiba-tiba bergerak—hnnnnhhhh. Asta, ah! Ah!"
"Ayolah, Yuno. Pelankan suaramu. Bagaimana kalau ada anggota lain yang unghh ... lewat ... "
"Tidak akan ada yang datang. Ngghh! Asta, tunggu sebentar—!"
"Hmmmhh ... padahal baru seminggu kita tidak melakukannya."
"Asta, sudah kubilang pelan-pelan! Kau itu besar! Tidak akan—aaaahhh."
"Bicara saja terus, tapi aku tidak akan berhenti setelah kau mengundangku."
( Akhirnya Letoile tahu alasan kenapa Yuno tergila-gila pada si cebol itu. )
Omake
#1
"Wakil Kapten terlihat lebih seksi, ya?"
"Benar! Hari ini aku merasa dia lebih uwaahhh daripada kemarin!"
Itu adalah suara anggota yang merangkap sebagai fangirl sang wakil kapten. Bisik-bisik itu didengar Letoile ketika rapat pagi usai. Ia masih syok mengetahui kenyataan. Mungkin sebaiknya ia masa bodoh dengan kedua idiot itu.
"Letoile, di mana dokumen kemarin?"
Semalam memang Letoile diminta Yuno mengambil dokumen mengenai laporan misi mereka dari pusat. Karena itulah dia pulang terlambat. Di jalan banyak sekali penjahat, ia harus mengurus mereka semua terlebih dulu.
"Saya letakkan di meja Anda, wakil kapten Yuno."
"Terima kasih. Akan aku periksa. Oh, hari ini ada misi untukmu dan Klaus-senpai. Kalian akan mengantar pedagang."
"Dimengerti."
#2
"Aku mendengarnya, Klaus."
Letoile menceritakan semua tanpa dikurangi sedikit pun ketika mereka berangkat menjalankan misi. Klaus hanya mengangguk paham.
Menghela napas, Letoile terdengar pasrah. "Mengerikan. Kau tahu ini sejak awal tapi tidak terkejut sama sekali? Kau laki-laki yang tangguh."
Klaus berdehem pelan. "Yah, begitulah. Tapi sebaiknya kita diam saja."
"Benar juga. Pikiranku jadi berkabut sekarang."
Tahu terlalu banyak kadang tidak selalu berarti baik.
