Masterchef

.

.


Baekhyun tak tahu. Benar dia tidak tahu apakah dia seorang gadis yang beruntung atau tidak.

Dan disinilah Baekhyun berada. Duduk manis di dalam restoran milik idolanya, Park Chanyeol. Setelah menerima telepon pria itu mengajaknya bertemu katanya mau membahas masalah pekerjaan padahal sih modusnya pinter banget. Chanyeol itu khawatir sama Baekhyun karena pas dia telpon Baekhyun lagi nangis.

5 menit berlalu. Seorang waiters juga sudah memberikan Baekhyun segelas air mineral. Tangannya terasa dingin dan berkeringat. Jantungnya berdebar-debar serasa mau pecah. Kepalanya terasa pusing. Mungkin itu yang dinamakan grogi, nerves, atau perasaan ketika menemukan bom nuklir yang dikirim korut ke korsel. Oke itu sudah berlebihan. Yang jelas Baekhyun tidak bisa diam. Gadis itu gelisah dalam duduknya. Antara senang, grogi, nerves, semua jadi satu.

"Maaf membuatmu lama menunggu Baekh-ah," Nah yang ditunggu-tunggu datang juga. Chanyeol tersenyum sambil mendaratkan bokongnya di kursi.

Seorang waiter membawakan buku menu. Ew! Waiter itu juga sama seperti Baekhyun, grogi berdekatan pria tampan berjidat hot itu. Ngomong-ngomong masalah jidat ada sesuatu yang berubah dari penampilan Chanyeol sebelumnya. Jika kemarin pria itu hobi meng-hair up rambutnya maka saat ini kebalikannya dia lagi seneng banget keluar pake poni yang menutupi jidat seksi nya. Chanyeol datang menggunakan setelan jas. Itu tandanya dia habis dari perusahaan bukan habis syuting. Dan kebetulan juga ini jam makan siang.

"A-Ah tidak aku baru datang 5 menit yang lalu kok," Baekhyun mengangkat tangan kanannya memamerkan kelima jemari lentiknya pada Chanyeol. Lelaki itu hanya terkekeh melihat tingkah kekanakan Baekhyun.

"Kau mau pesan apa?" Chanyeol membuka buku menu sedangkan Baekhyun hanya menatapnya, kikuk.

Dewi batinnya jauh di dalam sana sedang menari-nari. Siapa sih orang yang tidak akan senang bila diajak makan siang bersama sang idola? Jawabannya tidak ada. Pasti kalian mengira semua itu hanyalah mimpi dan sialan nya Baekhyun sedang merasakannya saat ini.

"Baekh…" pria itu menatapnya takut. Lagi lagi Baekhyun melamun. Dalam artian bukan kesambet ya tetapi melamun karena terlalu sibuk berbicara dengan dirinya sendiri.

"Baekh-yun kau baik?" Chanyeol melambaikan tangan di depan wajah Baekhyun sehingga mau tak mau si gadis tersadar dari lamunannya.

"I-iya…" cicitnya.

"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" Suara berat Chanyeol terdengar tegas saat ini. Bulu kuduk Baekhyun sedikit bergidik karena ngeri.

"Ah- itu… Hm, Chanyeol-ssi bagaimana pekerjaannya? A-aku sudah menerima tawaranmu lalu kapan aku bisa mulai bekerja?" Baekhyun memang tidak suka bertele-tele berbeda dengan pria di hadapannya.

"Itu… kita bisa bicarakan setelah makan siang Baekhyun," tegas Chanyeol.

Ia bungkam. Ucapan Chanyeol tak bisa ia bantah tak tau mengapa.

"Jadi sekarang apa yang ingin kau makan?" Pria itu sibuk membolak-balik buku menu berbanding terbalik dengan Baekhyun yang sibuk menatapnya.

"Samakan saja dengan punyamu," sahutnya sedikit kesal sih.

Chanyeol menutup buku menunya, matanya beralih menatap sang waiter yang sudah siap mencatat pesanannya.

"Kami pesan makanan terbaik kalian hari ini," katanya. Pria itu melirik Baekhyun, "ada yang ingin kau tambahkan Baekhyun?"

"Hum, bolehkah aku memesan susu strawberry," ia tahu pesanannya konyol tapi mau bagaimana lagi tiba-tiba saja Baekhyun ingin susu berwarna pink itu.

"Hem," waiter itu tampak berpikir. Namun Chanyeol memelototinya seolah menyuruhnya menerima pesanan si gadis meski susu itu tak tersedia dalam daftar menu.

"Ada lagi?"

"Bolehkah?" Chanyeol mengangguk.

Mata Baekhyun berbinar bak puppy. "Ah tidak ada itu saja, terima kasih" katanya sambil tersenyum manis. Senyuman Baekhyun bahkan bisa meluluhkan kerasnya dinding pertahanan diri seorang Park Chanyeol.

Ah manisnya. Seperti itu kata hati Chanyeol yang terdalam.

Acara makan siang itu berlangsung dalam keheningan. Hanya ada suara dentingan garpu dan sendok. Baekhyun sendiri menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Sejak ia kabur dari rumah Baekhyun selalu makan seadanya. Maksud dari seadanya adalah apapun makanan yang dimasak Kyungsoo ia makan. Suka atau tidak nya yang terpenting perutnya tidak kosong. Itu saja sih.

"Hm, Baekhyun" panggil Chanyeol setelah pria itu melihat makanan di piring Baekhyun benar-benar kosong.

"I-iya,"

"Dengarkan baik-baik karena aku hanya akan bicara satu kali. Tidak ada pengulangan," Baekhyun meneguk susu strawberry di dalam mulutnya cepat-cepat. Memasang telinga dengan baik dan mendengarkan setiap kalimat yang Chanyeol ucapkan.

"Pertama pekerjaanmu datang pagi-pagi ke apartemenku sekitar pukul 6. Lalu kau membangunkanku dan mengingatkan jadwalku. Jika aku ke kantor maka kau bisa bebas dalam artian libur. Namun kalau aku syuting maka kau harus membantu manajerku mengurus semua keperluanku." Jelas Chanyeol. Singkat, padat dan jelas.

Gadis itu menganggukkan kepala, ia tampak lucu sekali di mata Chanyeol. Tuhkan Chanyeol jadi ingin cepat - cepat menjadikan Baekhyun kekasihnya.

"Tenang untuk bayaran katakan saja berapa yang kau inginkan perjamnya," sombong sekali…

"Hm, sejujurnya aku hanya ingin Chanyeol-ssi membantuku menggantikan sofa Kyungsoo. Kemarin aku tak sengaja merusaknya," ucap Baekhyun sambil memainkan jemarinya.

"Sofa?" Baekhyun mengangguk.

Chanyeol tampak berpikir sebelum akhirnya tersenyum pada Baekhyun. "Baiklah. Kurasa jam makan siang ku sudah habis. Sampai jumpa besok nona Byun." Pria itu mengerlingkan matanya sebelum pergi.

astaga tampanya...


annyeong selamat tahun baru 1 januari 2020 semoga di tahun ini semua harapan kalian terkabul, amin

Penderitaan baru akan di mulai kkk~ baekhill masih lama Chanyeol ketemu Baekhyunnya hahahaha,