Baekhyun side,

Astaga! Ini sungguh memalukan di hari pertamaku bekerja aku malah bangun kesiangan. Ini seperti aku memberikan kesan buruk pada idolaku, Park Chanyeol.

Padahal, selama beberapa hari ini aku selalu berhasil menahan semua rasa bahagiaku, lebih tepatnya menahan jiwa fangirling ku. Aku tak ingin dilihat oleh Chanyeol ketika jiwa penggemarku yang super heboh dan berisik itu keluar, yang ada Chanyeol bisa ilfeel padaku.

Tapi ini! Hah… helaan nafasku itu. Aku menunduk, menatap tubuhku yang masih bergelung di dalam selimut.

"Selamat Baek-hari pertama bekerja sudah hancur," aku meringis saat tangan nakal ini memukul kepalaku sendiri.

"Bodoh, bodoh, bodoh!" Seruku lagi.

Ddrrt, ddrrt, ddrrt,

Getaran ponsel di atas nakas menyita perhatianku. Chanyeollie's Calling… mati aku! Harus ku jawab apa dia jika bertanya dimana aku berada?

Ragu-ragu aku menerima panggilan teleponnya, "Yeobseo,"

"Baek- kau dimana? Kenapa belum datang? Apa kau nyasar ? Atau ada orang yang berbuat jahat padamu?" Benarkan dia pasti bertanya dimana aku berada.

"Eum,... Maafkan aku Chanyeol-ssi, eum, itu aku baru bangun." Aku ku dengan mata terpejam.

Dalam hati aku berdoa semoga saja Chanyeol tidak memakiku. Kuakui memang aku pegawai yang tidak becus bekerja.

Aku mendengar Chanyeol menghela nafas, entah aku juga tak mengerti, "Syukurlah… aku pikir kau kenapa-kenapa," astaga namja ini mengkhawatirkanku.

Aku menggigit jari telunjuk ku, menahan pekikan yang ingin aku suarakan, oh aku begitu senangnya sampai-sampai aku lupa bahwa namja ini adalah bos baruku.

"Kau masih dirumah?" Tanyanya.

"Iya, maafkan aku." Jawabku dengan rasa bersalah dan juga menyesal telah mengecewakan bos tampanku.

"Tidak. Tidak apa-apa Baekhyun-ah, lagi pula sekarang jadwal ku kantor. Mungkin besok kau harus bersiap datang pagi-pagi karena besok jadwalku untuk syuting,"

"Maafkan aku mengecewakanmu di hari pertamaku bekerja" sesalku menggerogoti hati.

"Tidak apa-apa, sejujurnya aku menghubungimu untuk memberitahu kabar itu. Syukurlah kau belum pergi ke apartemenku," ada sedikit rasa senang yang membuncah di dalam dadaku ketika mendengar ucapan Chanyeol.

Sepertinya namja itu benar-benar mengkhawatirkan diriku, buktinya saja dia rela menghubungiku di tengah kesibukannya.

"Eum, iya," gumamku.

Aku menunggu Chanyeol berbicara tapi tampaknya keheningan melanda kami. Aku juga tak tahu harus berkata apalagi karena aku sungguh menyesal telah bangun sesiang ini.

"Baekhyun-ah apa kau masih berada disana?" Sampai pertanyaan berikutnya memecahkan keheningan diantara kami.

Aku sedikit berdehem, "Iya, aku masih mendengarkanmu." Sahutku cepat, aku tak ingin telepon ini berakhir.

"Bagaimana kalau kau datang ke apartemenku sore ini pukul 6, ingat ya pukul 6 harus sudah sampai di apartemenku." Ucapan Chanyeol terdengar seperti ajakan kencan bagiku, astaga kenapa aku memikirkan hal semacam itu?

Kugelengkan kepala mencoba menghilangkan pikiran macam itu, baru memikirkannya saja sudah membuat kedua pipiku menghangat, jantungku berdebar kencang layaknya orang sehabis lomba marathon.

"Nde~" jawabku. Baru aku ingin menjawab panjang lebar Chanyeol malah memutuskan panggilan secara sepihak! Hah! Kurang ajar idolaku itu, tidakkah boleh aku merasa terbang melayang mendengar ucapannya lalu seketika itu juga dia menghempaskanku ke tanah, kayak lagunya cokelat yang liriknya "Ku ajak kau melayang tinggi lalu kuhempaskan ke bumi" ya ampun kalaupun Chanyeol memperlakukan seperti itu tak apa aku rela, yang terpenting orang yang memperlakukan aku seperti lirik lagu itu adalah Chanyeol.

•••

Aku bingung, apa yang harus aku lakukan dari pagi ke sore hari. Mungkin berendam air hangat, pergi ke salon, lalu memilih pakaian yang pantas aku gunakan untuk menghabiskan malam bersama Chanyeol.

Tunggu! Menghabiskan malam itu kata yang kurang tepat. Hm, mungkin untuk kencan kami, eh Baek-kau kegeeran sendiri tak baik! Aku berusaha mengingatkan diriku sendiri.

Entah Chanyeol beranggapan apa? Tapi mana ada bekerja di jam 6 sore? Tak ada kan? Tetapi mengingat Chanyeol seorang public figure itu memungkinkan saja, mungkin dia akan syuting suatu variety show, atau mungkin juga wawancara dengan majalah bisnis, aku kan gak tau jadwalnya dia. Jadi, aku putuskan untuk melakukan semua hal yang tadi disebutkan diatas.

Jam menunjukan pukul 5 sore ketika aku tengah disibukan memilih pakaian. Aku melirik dress bermotif bunga selutut, tanpa lengan. Lalu di sebelahnya ada satu blouse berwarna biru pastel yang akan dipadukan dengan celana jeans, setelah berpikir selama 10 menit lamanya, aku memutuskan memakai dress selutut itu.

Oh ya, untuk luarannya aku akan memakai cardigan dengan warna senada dengan dressku. Untuk bagian kaki, aku tak ingin memakai high heels, aku menggunakan flat shoes saja lebih nyaman ketika harus berpergian jauh, apalagi menemani Chanyeol, seorang chef, artis, juga seorang ceo muda, pintar, dan tampan.

Ugh, membayangkan akan berkencan dengan Chanyeol, kemudian Chanyeol memasakan makan malam untukku, lalu kami makan berdua, rasanya hidupku kembali hidup.

Ah tidak! Tidak baek! Seharusnya kau bersyukur karena Tuhan telah memberimu nikmat dunia yang sungguh tak bisa kau tolak, bertemu dengan Chanyeol saja seharusnya aku sudah mengucapkan rasa syukurku kepada Tuhan. Ini malah minta lebih, seperti kata pepatah sudah dikasih hati malah minta jantung, kalo aku sih di kasih hatinya Chanyeol saja sudah cukup. XD

Waktu menunjukan pukul 5.15 menit ketika aku selesai memakai dress. Aku berlari kemeja rias, menyapukan bedak tabur, kemudian mengoleskan lip balm pada bibir tipisku.

Sudah tidak usah berlebihan makeup nya asal jangan terlihat kucel aja di depan idolaku itu, yang ada dia bisa tambah ilfeel.

Aku meraih tas marhen.j roy mini ivory ku, ponsel, dompet, dan kunci mobil, tapi ketika aku sampai di basement aku tak menemukan mobilku!

Oh ya, mobilku belum diambil dari parkiran supermarket, bodohnya aku.

Akhirnya aku memutuskan memesan taxi sebagai alat transportasi ku menuju apartemen Chanyeol yang terletak di pusat kota, kawasan elit.

Taxi yang kupesan berhenti di salah satu gedung bertingkat, setelah memberikan sejumlah uang pada supir taxi aku bergegas keluar, kemudian melangkahkan kakiku masuk ke dalam gedung tersebut.

Satu kata yang pantas menggambarkan suasana apartemen yang terkesan, "Mewah" mempunyai satu hunian apartemen disini kira-kira berapa ya harganya, ah… mungkin nanti jika aku sudah berbaikan dengan appa aku akan minta dibelikan satu kamar di apartemen ini.

Aku naik lift menuju lantai 6, tiba di lantai tersebut aku sibuk mencari nomor 614 di setiap pintunya.

Tiba di depan pintu 614, berdiri menatap pintu dengan debaran jantung yang menggila. Sampai saat ini aku tak tahu kenapa aku bisa seberuntung ini bisa berdekatan dengan idolaku, ah ~ bahkan hal yang tak pernah kuimpikan bisa kulakukan, bekerja bersama idolaku, Chanyeol, itulah hal yang tak pernah kuimpikan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tahan! Tahan! Hayooo, jangan senyum-senyum sendiri. Ntar disangka gila, kek acu.

Tadinya aku mau bikin si Chanyeol kek chef di peran pasta yang hobinya marah-marah, bikin jangan ?