"Eoh — Chanyeol, dengar-dengar kau bisa memijat pergelangan kaki yang terkilir?" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan pekikan gemas yang akan ia suarakan nanti.
"Ah — itu ... Bisa memang siapa yang terkilir pada jam segini?"
"Baekhyun jatuh dan kakinya terkilir, aku tak tahu harus menghubungi siapa tapi aku juga teringat kalau kau pintar memijat, ah — apakah aku mengganggumu? Tapi bisakah kau datang dan melihat Baekhyun, sejak jatuh ia terus menangis dan meringis."
"Aku akan kesana—"
Tut ... Tut ... Tut ...
•••
Setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Chanyeol segera memutar kembali arah mobilnya menuju apartemen Kyungsoo.
Karena sudah larut malam, Chanyeol bisa leluasa mempercepat laju mobilnya sehingga tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai ke apartemen sang sahabat.
Saat sampai Chanyeol segera melempar kunci mobilnya pada petugas bellboy .
"Tolong parkirkan mobilku."
Pinta Chanyeol dengan raut wajah khawatir dan terburu-buru.
Ia segera berlari masuk ke dalam elevator, kemudian menekan tombol 7.
TRING!
Ketika pintu elevator terbuka, Chanyeol segera membawa langkah kaki selebar mungkin, sewaktu-waktu kemudian ia telah berdiri di depan pintu dengan nomor 614. Tanpa ragu, jari telunjuknya memencet bel kamar tersebut.
Tak berselang lama, pintu bernomor 614 itu terbuka menampilkan sosok sang sahabat dengan raut wajah khawatir yang terlalu buat-buat.
"Syukurlah kau cepat datang Chanyeol ~ ah! Aku tidak tau lagi bagaimana caranya membuat Baekhyun berhenti menangis." Kyungsoo memperbarui wajah khawatir, jemari nya memilin ujung kaos yang ia gunakan.
"Bagaimana dia bisa jatuh, ceroboh sekali." Chanyeol bergumam seperti angin lewat, namun Kyungsoo masih bisa mendengarnya.
"Dimana kamar baekhyun?" Chanyeol menatap Kyungsoo, tatapan mata, serta raut wajah Kyungsoo bisa menebak sahabatnya itu telah jatuh hati pada Baekhyun si bodoh itu.
"eum ... Di situ" tunjuk Kyungsoo ke salah satu pintu berwarna coklat muda.
"Aku masuk dulu" pamit Chanyeol.
Selang beberapa detik setelah sumpah punggung Chanyeol dari balik pintu, sampai benar-benar pintu kamar Baekhyun tertutup rapat, raut wajah khawatir Kyungsoo tiba-tiba menghilang saja terganti dengan seringai bak seorang psikopat yang baru saja menemukan mangsa baru.
"Semoga mimpi indah yah, byun!" Wanita itu tumbuh-lompat kecil sambil bertepuk tangan, kemudian berdehem kecil, dan berlalu menuju kamar sang sahabat, baekhyun.
•••
Tok tok tok!
KLEEEKKK !?
Saat pertama kali mata kita bertemu, tubuh Baekhyun tersentak lalu mata sipitnya membulat, lucu ih.
"Kyungsoo tadi menelponku, katanya kau jatuh?" Aku melangkah menghampiri Baekhyun yang masih duduk mematung sambil menatapku.
Heol! Aku tau aku tampan!
"Baek" tanganku melambai-lambai, tapi Baekhyun masih belum merespon ku.
"Baekhyun! Kau baik-baik saja?" Sengaja aku mengguncang pelan bahunya, dan dia tersentak kaget.
"Cha ... Chanyeol-ssi?"
"Kau baik-baik saja, hm?" Tanganku bergerak sendiri mengelus pucuk rambutnya.
Halus sekali! Ya Tuhan.
"Ka-kau kenapa bisa ada disini?" Matanya mengerjap lucu ya tuhan kalau saja di perbolehkan aku mengecup sudah ku kecup pipi yang merona itu.
"Tadi Kyungsoo menelponku, katanya kau terjatuh?" Ku elus lagi rambutnya yang panjang itu. Dia makin merona wkwkwk gak tau gitu aja udah buat akutuh senang banget.
"Kyungsoo?" Tanyanya dengan mata bulat, gemes ih jadinya.
"Mana yang sakit sini biar kupijat." Aku bersimpuh di depan Baekhyun, mengira-ira kaki mana yang sakit.
Sengaja aku mengambil kaki kanannya, kemudian memegang pergelangan kakinya, ia meringis menggigit bibir bawahnya.
"Ish ... Sakit"
"Tahan ya," pintaku.
KRETEK!
"arggggghhh" Baekhyun memekik, maklum kadang aku sendiri suka ngilu ya walaupun aku sendiri yang memijat tapi tetap aja kan aku juga merasakan, karena pijatnya pakai perasaan eh ...
Hehehe...
"Bagaimana masih sakit kakinya, Baekhyun?" Baekhyun menggeleng, tangan kanannya masih meremas selimut kuat-kuat.
"Merasa baik kan?" Tanyaku memastikan.
Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya, meski belum menjawab pertanyaan yang aku berikan tapi setidaknya ia merespon dengan gerakan tubuhnya.
Mungkin saja, Baekhyun masih kaget dengan apa yang aku lakukan pada pergelangan kakinya.
"Mau ku ambilkan minum?"
"J — jika tidak merepotkan" cicitnya.
Aigooo, sungguh menggemaskan kesayanganku itu ...
Hehehe.
.
.
Cia, maaf baru up lagi;) (
Kira² masih ada yg nungguin ga ya;(
