Sage Arts

Chapter 2

Rias terlihat sendirian menatap kota malam Underworld dari jendela kamarnya, dia sedang memikirkan seorang yang tidak bisa hilang dari pikiranya sejak dia kembali dari dunia atas.

Dia mencoba bertanya kepada sahabatnya Sona apakah dia memiliki masalah yang sama. Dia benar-benar ingin mengenal bocah itu dan mungkin mengajak bergabung menjadi budaknya, yang akan membuatnya sangat bahagia.

"Apa yang kamu pikirkan Rias?" tanya seorang lelaki yang memiliki penampilan seperti dirinya. Sirzech Lucifer adalah pria yang sangat aneh di mata sebagian Iblis, dia sering mengikuti saudara perempuannya kemanapun dia berada. Dia biasanya dihentikan oleh istrinya Grayfia, yang hanya bisa menghela nafas malu. Banyak kalangan Iblis bahkan percaya bahwa ada hubungan khusus antara Maou dan saudara perempuannya.

"hanya memikirkan anak laki-laki Onii-sama" dia menjawab menyebabkan Sirzeck panik.

"K-kenapa kamu memikirkan anak laki-laki?"

"Aku tidak tahu ...tapi dia imut Onii-sama."

"Siapa bocah ini?" dia menuntut dengan niat membunuh."Dia bilang namanya ... Madara." dia menjawab dengan sedikit tersenyum.

Sirzech mulai merasa khawatir tentang perasaan adik perempuannya terhadap anak laki-laki itu, ia memutuskan untuk segera memikirkan pilihan untuk membuat adik perempuannya sibuk dengan harapan agar tidak mengingat Madara terus .

"Ayo Rias! Mari kita mengunjungi sepupumu Sairaog!."

~Dengan Akeno dan Madara~

"Akeno."

"I-iya Madara-kun?"

"Apa yang kamu lakukan saat kamu tidak berlatih?" Madara bertanya dia merasa bosan, dia sudah berfikir apakah dia harus pergi berlatih untuk meregangkan ototnya, jika didunianya sebelumnya dia akan berlatih bersama Hashirama atau bersama Izuna tapi didunia ini, yah kalian bisa menebaknya.

"Berdoa." katanya dengan nada khas anak kecil,

"Berdoa?, untuk apa?"

"Hm, sekarang aku akan berdoa untuk Dewi Amaterasu karena hari ini cerah." jelasnya dengan ceria.

Mata Madara melebar, dia tahu apa itu Amaterasu, itu api hitam yang sangat mengerikan, membakar apa saja yang bersentuhan denganya dan bahkan dia pernah merasakanya.

Masalahnya, bagaimana Akeno tahu tentang itu?.

"Jika itu malam, aku akan berdoa kepada Tsukuyomi." lanjut Akeno tanpa melihat Madara , Madara masih memiliki ekspresi terkejutnya, apakah dia tahu tentang Tsukuyomi? apakah seseorang menggunakannya pada dirinya?.

"Dan jika ada badai besar di luar, aku berdoa pada dewa Susanoo!" ucapnya sekali lagi, nah sepertinya itu sudah cukup mengejutkan Madara.

"Suatu kebetulan? Tidak, nama-nama itu memiliki makna, tetapi bagaimana klan Uchiha berhubungan dengan para dewa ini?"

Dia memang pernah memimpin klan tapi dia tidak tau sejarah rinci tentang kekuatan Sharingan, dia ingin percaya itu hanya sebuah kebetulan dan dia tidak percaya bahwa ada beberapa hubungan antara dunia ini dengan dunianya atau yang lainya.

"Tidak ada nama-nama sederhana untuk sebuah kemampuan, ofensif dan defensif, didunia ini, mereka disembah sebagai dewa, dan hanya itu tidak lebih",

"Akeno," kata Madara yang membuat dia menoleh ke arahnya.

"i-iya?"

"Ayo pergi,"

"S-seperti berkencan?" Madara memiliki pandangan bingung tetapi memperhatikan cahaya di matanya. "hn..baiklah" katanya menyebabkan dia berteriak kegirangan. Dia dengan cepat mencari Ibunya yang akan memberinya pakaian yang pantas untuknya.

Madara menghela nafas dia yakin akan melihat lebih banyak mahkluk lain yang akan menguntitnya, dan akan lebih banyak dari sebelumnya. Dia bertanya-tanya apakah mereka telah menemukan tubuh Dohnaseek yang telah dibunuhnya, jika mereka menemukanya maka mereka akan mengirim lebih banyak bala bantuan.

Madara tiba-tiba merasakan sesuatu, itu hanya sekilas tapi itu sesuatu yang buruk. Saat dia melipat tangannya dengan harapan chakranya keluar, dia merasakan kehadiran Baraqiel datang padanya, dia dengan cepat memisahkan tangannya dan menghadap Baraqiel.

"Menarik, aku mencoba menyelinap ke arahmu, tapi tampaknya kau tidak kesulitan merasakanku sekarang." katanya dengan suara beratnya.

"ternyata anda Baraqiel-san".

Baraqiel mengangguk "Aku melihatmu membawa Akeno keluar ... lagi." dia mengatakan bagian terakhir dengan mata menyipit, dia tidak suka ketika Akeno pergi, terutama dengan seorang anak laki-laki.

"iya, saya suka menghabiskan waktu bersamanya Baraqiel-san".

"Madara-kun,"

"Ya, Baraqiel-san?"

"Aku ingin bicara serius denganmu, ini tentang Akeno." katanya dengan nada serius. Madara benar-benar tidak perlu itu, karena dia sudah dapat mengetahuinya pasti dia akan mengatakan sesuatu seperti 'lindungi dia dengan segala cara' dan Madara merasa senang mengetahui bahwa dia dipercaya dengan sesuatu seperti itu.

"Anda tidak perlu khawatir Baraqiel-san, Akeno akan baik-baik saja saya akan melindunginya" Madara mengatakanya dengan wajah serius. "saya kira itu bagus? ". Baraqiel berpikir mungkin Madara berusaha mengatakan bahwa tidak peduli bahaya apa yang datang, dia akan terus melindunginya.

Dia tersenyum pada Madara dan mengacak-acak rambutnya, "Arigato, Madara-Kun."katanya tersenyum padanya. Sebenarnya itu adalah pertama kalinya dia tersenyum pada Madara, biasanya dia memiliki ekspresi datar, atau tatapan tajam padanya, tapi yang namanya Madara dia tidak akan terpengaruh oleh tatapan seperti itu.

Setelah beberapa menit hening, Baraqiel bangkit dan pergi mengatakan bahwa inilah saatnya untuk pergi.

Setelah itu Akeno datang berlari ke arah Madara dia mengenakan rok hitam dengan atasan merah, kebetulan atau apa banyak hal di dunia ini yang mengingatkannya pada dunianya, karena Akeno sekarang terlihat seperti anggota Akatsuki.

"Apakah ini tidak terlihat bagus?" dia memperhatikan berapa lama dia menatap."Kamu sangat manis, Akeno." dan Madara bersumpah jika dia tidak pernah memuji seorang wanita, kemudian dia menyentuh pipi Akeno dan mencubitnya.

* Nyut *,

"I-ttai...kenapa? Kamu bilang kamu tidak akan melakukanya lagi" katanya hampir menangis, Madara hanya tersenyum, "Maafkan aku, Akeno, kamu sangat manis." Akeno tersipu dan membuang muka.

"Oh ... baiklah ...," katanya, tidak lagi sedih, Madara mengulurkan tangannya kepada Akeno dan dia mengambilnya tanpa ragu-ragu, keduanya berjalan menyusuri Kuil dan menuju jalan ke kota, mungkin ini adalah Selasa malam, tapi itu adalah hari yang sangat spesial untuk Akeno.

Saat keduanya berjalan, tidak ada yang lain selain kesunyian, Mereka berdua menikmati ini satu sama lain, kadang-kadang Akeno akan berhenti berjalan dan memeluk Madara, Sementara dia merasa gugup melakukannya dia akan meningkatkan keberanian untuk melakukannya, Madara tidak keberatan jika Akeno menginginkan pelukan, Keduanya pergi ke berbagai toko dan mulai mencoba berbagai hal, Madara mengenang masa lalunya dengan melihat makanan tertentu yang entah bagaimana ada di dunia ini.

Akhirnya Akeno menunjuk sebuah kedai makanan yang bertuliskan Ichiraku Ramen, keduanya berjalan masuk tetapi Akeno berhenti dan memiliki ekspresi yang sangat tertekan di wajahnya.

"Ada apa Akeno?" Madara bertanya mengapa Akeno tiba-tiba menjadi seperti itu.

"Madara aku harus menggunakan kamar kecil ..." katanya dengan malu. "hah...baiklah ..." dia tidak melakukan apa-apa setelah itu.

"Lalu, apa yang salah?" tanya Madara ketika melihat Akeno masih di sebelahnya, "Aku harus melepaskan tanganmu," katanya dengan sedih, Madara swetdrop mendengar itu.

"kamu terlalu berlebihan Akeno"

Madara mengerti jika Akeno seperti itu, dia adalah satu-satunya teman yang dimiliki Akeno mungkin dia akan melakukan hal yang sama jika dia diposisinya ."Tidak apa-apa Akeno, aku berjanji akan memegang tanganmu ketika kamu kembali." katanya tersenyum padanya.

Mata Akeno kembali cerah dan mengangguk, dia dengan cepat berjalan ke kamar kecil sambil tersenyum. Madara menghela nafas kemudian mencari tempat duduk. dia melihat ke kiri dan melihat gadis yang sangat kecil memakan ramen lebih cepat daripada siapapun, dia kagum melihat hal seperti itu.

Gadis itu memiliki rambut hitam panjang dan mengenakan semacam pakaian Gothic Lolita, dia berhenti dan menatap Madara, dia memiliki mata abu-abu yang sangat hampa. ketika dia masih menatap Madara dengan tatapan dingin yang tidak bisa dibaca.

Madara hanya menatapnya, pada gadis muda yang sekarang memiliki seringai kecil di wajahnya. "Kamu ... menarik minatku ..." kata gadis muda itu sambil mengulurkan tangan kanannya.

Dia akan menyentuh Madara tetapi dia menghindari menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dengannya.

"Eh ..."

"Kau akan membantuku." Dia mengatakan sambil mengulurkan tangannya, Madara merasa bahwa sesuatu yang aneh akan terjadi dia dengan cepat mengaktifkan Sharigan-nya, yang tanpa disadari oleh gadis muda itu.

Seekor ular tiba-tiba muncul dari telapak tangan gadis kecil itu yang menyebabkan Madara tersentak dan menghindar. Sebelum dia bisa melanjutkan dengan hal lain, "Madara-kun" sebuah suara memanggilnya dia berbalik dan melihat Akeno mendekat.

Madara berbalik untuk menghadapi gadis yang dikenal sebagai Ophis, tetapi ketika dia berbalik dia menyadari dia tiba-tiba menghilang.

"Apa yang kamu lakukan Madara-kun?" Akeno bertanya memperhatikan ekspresi terkejut di wajahnya.

"Tidak ada." dia dengan cepat merespons. Akeno agak curiga tetapi Madara dengan cepat meraih tangannya, membawanya ke kursi.

~Beberapa jam kemudian~

Keduanya diam-diam menatap bulan bersama-sama menikmati keindahannya. Madara mulai merasa gelisah ketika dia melihat kehadiran asing mulai mengelilinginya.

"Akeno,"

"Akeno!"

"...zzzzz...",

Madara yang tidak sabar menjangkau dan menggendong Akeno yang tertidur, ia dengan cepat pergi dan menuju ke arah Kuil berharap Baraqiel akan menemukan keduanya.

"Kapan aku menjadi pengecut seperti ini?" Dia berpikir kecewa karena melarikan diri dari masalah daripada menghadapinya, Izuna akan kecewa.

Madara dengan ringan membawa Akeno turun untuk beristirahat di bawah pohon jauh dari pandangan musuh, dia kemudian berbalik dan mulai berlari ke arah musuh yang mengincarnya.

~Ditempat Lain~

"Apa yang sedang dilakukan bocah itu?" salah satu seseorang bertanya dan mendapat gelengan dari rekan-rekannya.

"Dia mungkin ketakutan" yang lain berkata sambil menertawakan betapa lemahnya manusia.

"Dia menurunkan gadis itu, bunuh gadis itu dan kemudian dia." pria yang dianggap sebagai pemimpin memerintahkan bawahannya.

"Hai!" kata mereka serempak."Ya ampun, bocah itu akan ketakutan setengah mati!"

"Ya, aku tidak sabar untuk minum teh-" sebelum lelaki itu bisa menyelesaikan kalimatnya, dia merasakan gelombang rasa sakit luar biasa datang dari dadanya, dia melihat ke bawah dan memperhatikan tombak biru muda yang dilapisi petir baru saja menembus jantungnya.

"Apa apaan!?"

"Apa itu tadi?" Pemimpin itu membulatkan matanya dia mulai mencari siapa yang mengirim serangan itu tetapi gagal menemukanya, tiba-tiba dia merasakan gelombang rasa sakit datang kepadanya dari belakang.

Tapi pemimpinnya tidak lemah, dia dengan cepat menahan serangan itu yang mengejutkan Madara.

"Di sana,, bunuh bocah itu" teriak pemimpin itu yang ternyata malaikat jatuh, mereka berbalik untuk melihat Madara berdiri di sana dengan menyipitkan matanya, mereka semua menyaksikan petir biru perlahan memudar di tangan Madara.

"Bunuh dia." dia memerintahkan anak buahnya dalam sekejab mereka menyerang Madara dengan sangat cepat.

Mereka tidak menyadari Madara mulai membuat segel tangan serta menarik nafas panjang."Katon: Gōryūka no Jutsu !" Seekor naga yang diselimuti api yang kuat melesat keluar dari mulut Madara yang menelan Malaikat Jatuh yang tidak bisa menghindarinya. Mereka semua tidak punya waktu untuk bereaksi terhadap serangan berbasis api yang cukup luas dan di mana langsung menghantam mereka.

Madara merasakan kehadiran terakhir mendekat, dia melihat seorang pria paruh baya dengan rambut hitam, tidak seperti Malaikat Jatuh lainnya, dia memiliki telinga yang runcing. Dia juga memiliki lima pasang sayap hitam. Pakaiannya adalah jubah hitam sederhana dengan beberapa aksesoris.

"Yah.., aku sangat terkesan ada manusia yang bisa mengalahkan bawahanku." pria yang dikenal sebagai Kokabiel berkata pada Madara sambil menyeringai.

"Dan kau?"

"Kokabiel dari Alkitab"

Itu normal bagi orang-orang merasa takut ketika menyebutkan namanya, tetapi dia terkejut melihat Madara dengan datar menatapnya.

'Jadi jika dia mati, semuanya akan berakhir'. Madara kemudian langsung menembakkan tombak Chidori ke arah Kokabiel yang mengelak dengan mudah.

"heh, kau harus banyak belajar bocah." dia mengejek. Kokabiel kemudian mengeluarkan hujan tombak cahaya, Madara yang membalas dengan serangannya sendiri. "Chidori Senbon!" ucap Madara, sebenarnya Chidori bukan jutsu originalnya dia pernah melihat Sasuke menggunakan jutsu ini untuk melawanya.

Senbon jauh lebih cepat dan lebih ringan dari tombak, mereka juga lebih kuat karena dilapisi petir.

Kokabiel terbang di sekitar Madara dan membuat tombak yang terlihat unik, ketika Madara merasa Kokabiel muncul di belakangnya, dia dengan cepat mengaktifkan Mangekyo sharinganya, dia menutup mata kirinya dan menunggu sampai darah muncul dimatanya.

"Amaterasu" katanya dalam benaknya sebelum api hitam menelan sayap kanan Kokabiel.

"Chakraku" pikirnya terengah-engah, dia tidak akan bisa menggunakan teknik itu lagi sementara waktu.

Dia menoleh dan melihat Kokabiel berteriak kesakitan."GAAAAAAH!" Intensitas api itu bukan bahan tertawaan itu sangat menyakitkan, api hitam itu akan membakar apapun sampai targetnya menjadi abu. Kokabiel dengan cepat berpikir bahwa untuk menghindari kerusakan lebih lanjut, dengan cepat meraih tombak besarnya dan memotong sebagian sayap kanannya.

Dia berhasil menyelamatkan hampir separuhnya, tetapi untuk terbang masih menjadi masalah.

"Kau!" katanya ketika rasa sakit masih menyengatnya, bahkan jika api itu tidak lagi membakar dirinya, pikirannya terkejut betapa menyakitkannya api itu walaupun hanya beberapa detik saja.

Madara menyadari bahwa Kokabiel bereaksi lebih cepat dari yang dia duga, dia tidak lagi memiliki chakra yang cukup dan dia berharap agar Akeno tidak ditemukan oleh malaikat jatuh lainya.

Kokabiel mulai merasa ada orang lain datang ke arah mereka, dengan cepat menghilang tanpa jejak. Madara menghela nafas lega tetapi dia harus tetap waspada, ia tidak tahu mengapa ia menggunakan Amaterasu daripada genjutsu, tetapi sesuatu mengatakan kepadanya bahwa orang gila itu harus mati atau hal-hal buruk lainnya mungkin akan terjadi. dia marah dengan keputusan Kokabiel untuk mencoba dan membunuh Akeno dan ibunya.

Dia merasakan kehadiran lain dan berharap bahwa siapa pun itu tidak bisa menemukan Akeno, tiba-tiba dia merasakan nyeri luar biasa di bagian kepalanya kemudian dia pingsan karena kelelahan.

Bersambung

Yup itu untuk Chaper 2, maaf pendek... Oh ya ada yang tau jumlah Sayap ayah Akeno?...

Cukup itu saja untuk hari ini.

Terima Kasih