Sage Arts
Chapter 9
Akeno mulai bergetar ketika ibunya berjalan keluar dari peti matinya. Dengan cepat, Madara menggunakan Kamui dan menuju ke atap Kuil dan menatap keduanya.
Ketika dia melihat ke arah mereka, dia tidak merasakan apa pun selain kebahagiaan. Untuk sekali dalam hidupnya dia benar-benar merasa seperti orang baik.
Dia tahu dia egois.
Dia sekarang bersumpah, dia akan melakukan apa saja dengan kekuatannya untuk melindungi mereka sebagai keluarga barunya, kebahagiaan mereka, air mata bahagia mereka adalah pemandangan yang mengharukan, dia merenung, apakah ini yang dirasakan Hashirama, ketika dia memiliki keluarga.
Dia menghela nafas, jutsu yang satu ini, jutsu untuk membangkitkan orang mati adalah satu-satunya jutsu yang benar-benar dapat membuat orang bahagia, yang lainya hanyalah alat yang digunakan untuk menyakiti orang lain.
.
.
.
Namun, tiba-tiba ia mulai berlutut. Dia akhirnya merasakannya, Dia mulai berkeringat dan merasakan hampir seluruh chakra meninggalkan tubuhnya, dan hanya menyisakan cukup untuk membuatnya tetap sadar, Perlahan kesadaranya mulai memudar. Dia tidak berpikir efeknya akan seperti ini, ini mungkin alasan Indra menyegel Rinnegan-nya.
"Apakah ini yang dirasakan oleh Obito?, ketika membangkitkanku?"
Madara mencoba membuka mata kanannya tetap terbuka, semuanya buram dan pengelihatanya mulai memudar. Ketika dia menutup matanya, sesuatu muncul di hadapannya, seekor kucing hitam yang memiliki mata seolah-olah merasa sedih melihat keaadanya.
Hal berikutnya yang dilihat Madara adalah kegelapan, dan untuk terakhir kalinya, ia pingsan.
.
.
.
Madara perlahan membuka matanya, dia melihat sekeliling dan duduk dan bersandar di bantal yang mengelilingi seluruh tempat tidurnya . Dia melihat kebawah dan menemukan seorang wanita berada dipangkuanya.
Madara tersenyum dan mengusap rambutnya dengan pelan.
"Akeno?,"
"Ohayou... Madara-kun,"
.
.
.
.
"S-Shuri-san?" Ucap Madara tidak percaya, Shuri terlihat sangat mirip Akeno, sekarang setelah dia melihat lebih dekat, dia terlihat jauh lebih muda daripada yang pernah dilihat Madara saat dia masih kecil.
Shuri meraih lengan Madara dan meletakkannya di antara payudaranya. Dia kemudian mendorong dirinya ke depan menyebabkan wajah mereka hanya beberapa inci jauhnya.
Dia tersenyum "Kamu tahu Madara-kun, kamu entah bagaimana berhasil membawaku kembali selama waktu yang sangat istimewa dalam hidupku." Mata Madara melebar. Shuri cukup muda ketika mengandung Akeno, mungkin berkisar antara 16-18 tahun, yang berarti satu hal ...
"Sial...Dia seumuran dengan Akeno!"
"D-di mana Akeno?" dia secara tidak sengaja tergagap. Tidak mungkin Madara menjadi canggung, Tapi ini aneh baginya, melihat Shuri bukan masalah, tapi menganggapnya sebagai ibunya, hanya ...?
"Dia harus pergi, tapi dia bilang aku satu-satunya yang bisa menjagamu... Jadi kita punya waktu bersama sebelum dia kembali." Ucap Shuri masih tersenyum.
Pikiran Madara menjadi kosong, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Shuri-san, kamu baik-baik saja?"
Shuri tertawa kecil, "Aku tidak pernah merasa lebih baik." Shuri melepaskan lengannya tetapi masih berbaring di atasnya, dia meletakkan kepalanya ke dadanya dan tanpa sadar, dia menutup matanya dan tersenyum.
"Jadi..Madara-kun maukah dirimu memberitahukan sesuatu padaku?... Sebenarnya siapa dirimu?"
"...aku"
"Tidak apa-apa Madara-kun, jika kamu belum siap memberitahukannya padaku" kata Shuri sambil tersenyum manis padanya.
Madara merenung apakah dia akan mengatakan kepadanya?. Atau tidak, Tapi sebagian dirinya yang lain ingin tetap merahasiakanya.
.
.
.
Flashback
.
.
.
Kuroka, kucing hitam itu duduk di suatu tempat, dia melihat Shuri dan putrinya telah bersama kembali, dia, benar-benar terpesona oleh kekuatan Madara. Dia sudah terpesona padanya, tapi ini... terlalu berlebihan.
Dia merasakan penurunan besar dalam energi kehidupannya. Khawatir akan keselamatannya, Kuroka dalam bentuk kucingnya, berlari ke arah Shuri dan Akeno untuk memberi tahu mereka tentang keadaan Madara.
.
.
.
"Hmm.. Siapa ini?" Shuri bertanya ketika dia melihat Kuroka mengeong padanya. Akeno mengatakan kepadanya bahwa Madara memelihara kucing ketika dia sendirian dikuil.
"Moeng! ~ Nya! Nya!" Kuroka berusaha mendapatkan perhatian mereka dan mulai berlari menuju tempat Madara.
.
.
.
Flashback Off
.
.
.
"Jadi itu yang terjadi ..."
"Kamu tahu Madara-kun, kamu membuat kami sangat takut. Jantungmu berhenti berdetak selama beberapa saat." Shuri berkata dengan sedih.
.
.
.
"Madara" sebuah suara menjengkelkan memanggilnya.
Shuri menghela nafas, "Ingat, suatu hari nanti, kamu harus memenuhi 'tanggung jawab' mu." Dia menjilat bibirnya dan mengedipkan matanya. Dia dengan cepat berdiri dan pergi untuk menyambut para pendatang baru.
"Apa…"
"Yang sebenarnya…
"... Terjadi? '
"Apa kabar semuanya, aku Shuri Himejima, ibu Akeno." Shuri membungkuk pada mereka, Rias mengangkat alis, Akeno tidak pernah berbicara tentang masa lalunya, tapi Rias ingat dengan jelas dia pernah berbicara tentang wafatnya ibunya.
Tapi itu tidak masalah sekarang, Rias dengan cepat memperkenalkan dirinya bersama budak-budaknya. Shuri terkikik ketika Rias, Akeno, dan Koneko dengan cepat berlari ke arah kamar Madara.
.
.
.
"GAAAH!" Madara berteriak kesakitan saat Rias memeluknya dengan brutal. Bahkan Koneko tahu dengan kekuatannya itu akan menyakitinya, tapi, Rias sepertinya tidak peduli.
" ... menjauhlah dariku."
Rias mengerutkan kening dan perlahan melepaskanya. Koneko perlahan berlutut dan dengan lembut menempatkan kepalanya di dada Madara, dia mulai menyalurkan energinya ketika tubuh mereka bersentuhan, segera rasa sakitnya hilang dan Dia menghela nafas lega. Madara bisa merasakan tulangnya retak saat Rias memeluknya dengan ganas.
.
.
Dua minggu kemudian (Gereja)
.
.
"Jadi, Raynare." Kalawarner berkata sambil tersenyum kepada rekannya. Raynare hanya menatap keluar jendela dengan mata bosan.
"Hm?"
"Bocah itu, Madara, seperti apa dia?" dia bertanya ingin tahu.
"Dia ... menarik." Dia berkata sambil tersenyum ketika memikirkanya.
"Ho? Raynare? Dia pasti laki-laki yang baik." Kalawarner menggoda. Raynare memerah dan menutup wajahnya agar tidak ada yang bisa melihatnya.
"Hmm! Aku ingin tahu berapa panjang dan besar pen-" sebelum dia bisa menyelesaikan pertanyaan cabulnya sebuah suara berat dan kasar mengejutkan Mereka.
.
.
.
"Apa yang kalian lakukan?"
"KK-Kokabiel-sama ..." kata Mittelt dengan gugup, dan mundur kearah teman-temannya.
"Apakah kau membunuh manusia itu? Orang dengan Secret Gear?". Katanya sambil menatap Raynare.
Raynare berdiri dan mengangguk. "Aku membunuh Hyodou Issei." Raynare berkata dengan nada dingin. Kokabiel menyeringai dalam kemenangan, Azazel tidak akan memiliki kesempatan jika Kokabiel terus membunuh orang yang berpotensi bekerja untuk Azazel suatu hari nanti.
"Bagus, kau akhirnya melakukan sesuatu yang benar. Sekarang, dalam beberapa hari mendatang, seorang biarawati dengan Secret Gear, Twilight Healing akan datang ke sini, kau harus mengambil Secret Gear-nya dan memberikannya kepadaku, karena aku harus memperbaiki sayap ini . " Katanya dengan keras.
"Apa yang terjadi pada sayapmu, Kokabiel-sama?" Kalawarner bertanya tanpa berpikir.
"Tidak peduli apa yang terjadi! Lakukan saja pekerjaanmu"
Saat dia mengatakan itu, dia merasakan setetes air dari langit-langit atap Gereja.
Kokabiel mendongak dan melihat sebuah lubang di langit-langit itu. Namun, Kokabiel merasakan sesuatu yang aneh ketika air menyentuhnya.
"Uchiha Madara"
.
.
.
Kokabiel meraih leher Raynare dan Kalawarner, tidak satu pun dari mereka punya waktu untuk bereaksi. Mittelt panik dan tidak tahu harus berbuat apa, dia memanggil tombak cahaya kuningnya dan mencoba membantu mereka berdua tetapi langsung terlempar ketika Kokabiel tiba-tiba melemparkan Kalawarner padanya.
Merasakan kehadiran Madara semakin dekat, Kokabiel membentuk tombak cahanya dan menusuk perut Raynare, dia menjerit dan batuk darah, dan Kokabiel melemparkannya ke tanah.
"Kalian akan mati karena mengkhianatiku! Termasuk kau, Uchiha!" Kata Kokabiel, dan sekarang untuk bawahannya yang berkhianat. Kokabiel memfokuskan hampir semua energinya di tangannya, dia memisahkan mereka dan membentuk tombak hijau raksasa.
"(Lance of the Lightning)!"
"Sudah lama, Uchiha Madara." Dia tertawa sepenuhnya percaya bahwa segala bentuk kehidupan dalam radius itu akan segera hancur menjadi ketiadaan.
Raynare tidak mengatakan apa-apa, ketika tombak itu semakin dekat kearahnya.
ketika dia berpikir saat-saat kehidupan akan berakhir, dia melihat sosok muncul di hadapannya, ketika matanya mulai menutup dari luka yang dideritanya, dia tidak melihat apa pun kecuali simbol merah dan putih yang dikelilingi oleh warna hitam dan kemudian dia kehilangan kesadaran.
.
.
10 menit kemudian
.
.
"Dia bilang dia tertarik padamu-"
"Aku juga dapat memberitahumu." Suara lain terdengar.
"Apa yang kamu lakukan?" kata suara kedua.
"Aku menghentikan serangannya dan menyembuhkannya, aku juga ingin berbicara dengan kalian semua."
'Dimana aku?' Raynare bertanya pada dirinya sendiri.
"UU-Uchiha-san?" Raynare tergagap. teman-temanya mulai tertawa ketika mereka melihat wajah merah Raynare. Madara menghela nafas dan dengan lembut menurunkannya.
"Nah, kalian semua akan mendengarkanku, aku punya sesuatu untuk ditawarkan." Dia berkata dengan tenang, gadis-gadis itu sekarang duduk dan menatap Madara dengan serius.
"Apa itu Madara-san?" Mittelt bertanya penasaran dan takjub, manusia yang mereka bicarakan beberapa jam sebelumnya datang dan menyelamatkan hidup mereka.
"Aku telah mencari Kokabiel, dia telah melakukan sesuatu untuk membuatku marah, itulah sebabnya aku mencarinya. Aku tidak takut padanya, tapi dia jelas takut padaku tapi sialnya dia telah kabur"
Dia membiarkan kata-kata itu meresap sebelum melanjutkan.
"Karena dia akan membunuh kalian semua karena dianggap mengkhianatinya, aku menawarkanmu semua kesempatan untuk bergabung denganku dan menjadi bagian dari timku."
"Namun, aku juga tahu bahwa kalian semua berada di Grigori, aku harus meminta kalian untuk mengkhianati Azazel sekali lagi, dan beri tahu aku apa pun yang ia rencanakan. Sekarang jika kalian memiliki pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya. "
Sebelum Raynare bisa bertanya bagaimana dia diselamatkan, Kalawarner datang dengan cepat menyalipnya.
"Apakah kamu yang membunuh Dohnaseek, lalu menggunakan dia untuk melawan kita?" Dia bertanya. Madara sedikit terkejut, mereka lebih cerdas dari dugaanya.
"Ya, beberapa tahun yang lalu dia mengikutiku, dia mengatakan bahwa dia diperintahkan untuk membunuh seseorang, kemudian aku membunuhnya, tanpa mendapatkan informasi lain."
"Aku menyesal jika dia teman kalian , dan ya aku menggunakannya untuk mengevaluasi kekuatan kalian " Dia mengatakan menyebabkan Mereka memiliki perasaan campur aduk.
"Ada yang lain?" dia bertanya.
"Bagaimana serangan itu dihindari? Dan bagaimana aku disembuhkan? Aku yakin aku berada di ambang kematian." Tanya Raynare.
Mereka yang menyaksikan Madara menyembuhkan Raynare juga sedikit ... terpana padanya. Madara menghela nafas tetapi harus menjawab pertanyaan itu, dia ingin membangun hubungan yang kuat dengan gadis-gadis ini.
"Aku mengerti, untuk membangun ikatan dalam tim adalah kepercayaan, jadi aku akan memberitahumu. Aku memiliki kemampuan untuk mengirimkan sesuatu melalui dimensi tertentu, aku memiliki jumlah waktu yang sempurna dan mengirim tombak itu ke Dimensiku,. Dan untuk menyembuhkanmu ... "
Madara mundur selangkah dan meletakkan tangannya di tanah, perlahan-lahan dia mengangkatnya dan mengeluarkan cahaya merah gelap, kemudian kepala raksasa dengan mata ungu keluar dari bawah.
Gadis-gadis itu tidak sepenuhnya terkejut karena penampilannya yang aneh.
"'Benda' ini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka, meskipun aku tidak yakin apakah itu dapat menyembuhkan penyakit." Mata mereka melebar, itu adalah kekuatan yang luar biasa.
Mereka bertiga saling memandang dan mengangguk, "Kami akan senang bergabung denganmu." Kata Kalawarner sambil tersenyum.
Madara mengangguk dan mengeluarkan tiga cincin dari sakunya. Dia memberi Raynare cincin bertuliskan 'zero' yang berwarna ungu. Madara memberi Mittelt cincin yang bertuliskan 'Sign on of the Boar', warnanya hijau. Terakhir, Madara memberikan sebuah cincin bertuliskan 'Sky', ' untuk Kalawarner, berwarna biru.
.
.
.
"Aku tidak tahu fungsi penuh cincin ini, tapi aku tahu itu membantu mengatur sihir dengan lebih baik, dan juga aku bisa menghubungi kalian dengan cincin ini, tapi untuk sekarang, kurasa kita bisa berlatih sebentar".
Ketiganya berdiri dan mempersiapkan diri mereka, dan akhirnya mereka semua memiliki tekad di mata mereka saat mereka menyiapkan tombak cahaya ditangan mereka.
.
.
.
.
Orc
"Apakah ini semua?" tanya seorang gadis muda dengan rambut biru sebahu dan mata Kuning Tua.
"Ya, ini semuanya." Rias berkata dan duduk di sebelah Madara. Koneko ada di pangkuannya, entah bagaimana Akeno berhasil menyelinap dan duduk disisi kirinya.
"Hai.. Issei-kun" Sapa gadis yang mengenakan pakaian yang sama dengan gadis berambut biru.
Madara memijat pelipisnya saat suara itu mula mengganggunya. Issei menyadari bahwa ini tidak lain adalah teman masa kecilnya Irina. Dan mereka berdua saling menyapa dalam reuni kecil ini.
"Rias Gremory, kami berdua telah datang ke sini untuk meminta agar kamu tidak mengganggu pencarian kami. Kami sedang mencari Excalibur, pedang legendaris dari Gereja Vatikan, Protestan, dan Ortodoks. dan semuanya telah dicuri dan diduga berada di area ini. " .
Madara menghela nafas dan melihat ke arah pintu, dia satu-satunya yang tidak menikmati pertemuan tak berguna ini.
Dia melihat kebelakang dan melihat Kiba memiliki seringai di wajahnya, seringai yang berarti dia merencanakan sesuatu.
Madara berdiri siap untuk berjalan dengan caranya sendiri sampai seseorang memanggilnya.
"Tunggu, Ningen-"
Itu menjengkelkan disebut Ningen berulang-ulang, "Apa?"
"Apakah kamu memperhatikan?" Xenovia bertanya sambil menghela nafas, mereka seperti itu karena mereka adalah bagian dari gereja, mereka berada pada tingkat manusia yang lebih tinggi, kelas yang lebih tinggi, menurut mereka.
"Ya, aku mendengarmu."
"Lalu kamu setuju?"
"Kenapa aku harus repot dengan orang seperti kalian berdua'. Aku tidak akan mengganggu perjalanan kecilmu, kalian dan 'tuhan Alkitab' adalah omong kosong."
.
.
.
Madara hendak meletakkan tangannya pada gagang pintu sampai dia merasakan sesuatu. Dengan cepat, Madara memunculkan katananya dan berbenturan dengan pedang Xenovia.
"Untuk Manusia yang telah bersama Iblis, kamu tampaknya juga memiliki sifat yang sama dengan mereka."
Dia tidak terkejut melihat Madara dengan cepat memunculkan katana yang bahkan tidak bersamanya ketika dia memasuki ruangan ini.
"Ada beberapa alasan mengapa aku memilih untuk berafiliasi sendiri."
"Tarik kembali apa yang kamu katakan, atau kamu akan menyesal." Xenovia jelas masih marah.
"Xenovia-san ini bukan cara terbaik-"
"Dia menghina Tuhan!. Dan yang terburuk, dia manusia biasa! Dia pikir dia siapa !?" Teriak Xenovia kepada Irina.
"Aku seseorang yang jelas percaya pada Sesuatu yang tidak meninggalkan pengikut mereka, seperti Dewa Shinto misalnya."
Madara tidak tahu banyak tentang dewa Shinto, selain nama mereka dan beberapa naskah yang ditulis diKuil.
Jantung Akeno berdegup kencang ketika dia mendengar kata-kata itu, itu berarti lebih dari sekadar percaya, dia mengatakan betapa banyak pengabdian dan komitmen yang dia miliki untuk Kuil, dia mengikuti semua yang mereka yakini karena itulah yang membuatnya bahagia.
Dia memperhatikan bahwa Madara akhirnya mengakui dirinya sebagai bagian dari keluarga.
Xenovia juga tidak mengambil kata-kata itu dengan mudah, Irina sepertinya tidak keberatan karena dia tidak peduli apa yang dikatakan Madara. Xenovia dengan kasar meraih kerah bajunya dan membawanya lebih dekat.
"Kita akan menyelesaikan ini, sekarang." Dia berkata dengan nada berbisa.
"..."
"Hebat! Aku akan bergabung juga!" Kiba tiba-tiba berteriak dan semua orang memperhatikanya, dia memiliki seringai jahat diwajahnya.
"Itu sempurna, Irina, ayo pergi!"
.
.
.
Sudah lama mereka tidak melihat Madara menggunakan pedangnya, dan terakhir kali mereka ingat, ketika dia bertarung dengan Souji Okita. Akeno sangat senang melihat Madara bertarung, sejak dia kecil dia sangat senang melihat Madara mendominasi seseorang.
"Mulai!" Teriak Rias.
.
.
.
Kiba akhirnya berjuang untuk melawan Xenovia, setiap kali pedangnya bentrok dengan milik Xenovia.
Tapi itu tidak menghentikannya.
Kiba secara terus-menerus membuat pedang iblis, sementara pedangnya terus dihancurkan oleh kekuatan Pedang Suci milik Xenovia.
Bahkan di mata Madara, akan sulit karena kekuatan Kiba saat ini belum cukup, tetapi jika dia tenang, tepat, dan tidak dibutakan oleh kebencian, maka dia akan memiliki waktu yang lebih mudah.
Pada saat ini tingkat energinya turun drastis, dan ia jatuh pingsan.
Irina melihat ke arah Madara dan menghunuskan Excaliburnya, "Kamu nampaknya tidak begitu terkejut." Dia menyiapkan pedangnya dan berdiri tepat di samping Xenovia.
"Memang." katanya sebelum menghunuskan Kusanagi-nya.
Xenovia dan Irina tampaknya sudah memiliki strategi lain dan mereka menganggap pertarungan ini serius. Irina memanifestasikan pedangnya menjadi Sabit yang terlihat aneh, Madara berdiri diam ketika dia melompat ke udara dan menyerangnya.
Madara tidak bisa melihatnya tetapi dia tahu Xenovia menyerangnya dengan pedang miliknya.
Itu adalah rencana yang bagus.
'Hm, untuk bisa menggunakan pedang, tombak dan sabit, cukup mengesankan.'
Madara menghindar dengan mudah ketika Irina membuat satu serangan, namun ketika dia hendak menyerang Madara sekali lagi, Irina merasakan sesuatu memegang pergelangan kakinya.
Dia menyipitkan matanya dan melihat ada tangan yang keluar dari tanah dan menggenggam pergelangan kakinya.
" Kyaa-apa ini?" tanyanya dengan bingung.
Sebelum dia bisa menendang tangan itu, Irina kehilangan keseimbangan.
"Suiton: Suirō no Jutsu" Mata mereka melebar dengan takjub, sebuah penjara sederhana yang terbuat dari air membungkus Irina.
Irina tidak bisa bergerak di dalamnya karena air membatasi gerakannya, dan dia tidak bisa bernapas. Madara melihat ke arah Xenovia yang memiliki beberapa luka pada dirinya.
"Sebaiknya cepat, dia tidak bisa bernapas."
Xenovia menyipitkan matanya, dia memiliki satu dari dua pilihan, dia dapat mencoba dan melepaskan temannya dengan cepat, atau dia dapat mengalahkan Madara dan kemudian membantunya.
"Yah? Apakah kamu akan bertarung denganku, atau membantu temanmu?" Madara bertanya, Xenovia menjadi sedikit aneh karena dia merasa kalau dia entah bagaimana membaca pikirannya.
Xenovia menuangkan energinya ke dalam Durandal miliknya, dia dengan cepat menyerang klon Madara dengan niat menghentikan Jutsunya.
Madara sedikit tersenyum karena Xenovia tidak membiarkan amarahnya mengendalikanya.
.
.
.
.
Bersambung
Maaf pendek :(
