Sage Arts

Chapter 10

[Part satu]

"Mengamuknya Hakuryuukou"

Gereja

"Kita memiliki anggota baru yang akan bergabung dengan kita...Perkenalkan dirimu." Madara memiliki ekspresi kesal dengannya, sejak dia tahu dia diam-diam bersembunyi dari Madara, terkejutlah dia ketika mengetahui jika Kucing peliharaan yang dia rawat ternyata adalah Yokai. Namun yang membuatnya terkejut adalah kenapa dia tidak menyadarinya?.

Madara memiliki dua pilihan kepadanya, membunuhnya atau mengajaknya untuk bergabung dengan kelompoknya. Entah ini musibah atau keberuntunganya sebagai seorang pria, Dia akan dengan sengaja melompat kearah Madara dan menjilat telinganya, atau menggosok tangannya ke seluruh payudaranya.

"Namaku Kuroka, aku Nekoshou, ~ Nyaa."

Ketiga gadis malaikat jatuh itu tidak banyak bicara, mereka mengangguk dan memperkenalkan diri. Biasanya, interaksi antara ras lain tidak akan begitu baik, tetapi karena Madara ada di sini, mereka menghilangkan ego mereka.

.

.

.

Kuil

Madara duduk di tangga Kuil melihat ke arah kota yang disinari cahaya bulan dengan tenang, Dia tiba-tiba merasakan sesuatu dibahunya, dia melirik kebelakang dan menemukan wajah Shuri yang tersenyum lembut kearahnya.

"Shuri-san?"

"Kenapa kamu tidak bersama dengan mereka?" Dia bertanya sambil duduk di sebelahnya. Madara tidak menjawab, tujuannya untuk tidak secara langsung melibatkan dirinya dengan sesuatu, karna dia memiliki alasan tersendiri. Dia hanya ingin mereka mandiri dan tidak tergantung terhadapnya.

"Kamu tahu Madara-kun, kamu bisa memberitahuku kapan saja. Jadi... jika kamu tidak ingin Akeno tahu, aku bisa mengerti." Ucap Shuri dengan lembut.

Ada banyak hal yang ingin dikatakan Madara, tapi apakah sekarang?, dia merasa sebagian dirinya untuk tetap merahasiakan, tetapi dia memang membutuhkan seseorang, untuk membebaskannya dari kegelisahannya.

"Itu Doujutsu!"

"Hm?"

"Aku membangkitkanmu, menggunakan Doujutsu. Teknik mata yang hanya bisa digunakan dengan mata kananku" Madara menatap Shuri dan memperlihatkan mata kanannya yang memiliki 9 Tomoe disekitarnya.

Shuri memegang pipinya dan bergerak mendekat, Rinnegan adalah benda asing bagi dunia ini, tidak ada yang pernah melihat yang seperti itu, jadi tidak mengejutkan kalau Shuri heran sekaligus kagum dengan hal seperti itu.

"Kamu selalu memiliki mata yang indah, Madara-kun." Kata Shuri sambil tersenyum lembut.

Madara yang mendengarnya tersenyum kecut. "Mata ini hanya untuk membunuh Shuri-san, satu-satunya teknik yang kumiliki yang benar-benar bermanfaat bagi siapa pun adalah Teknik Kehidupan Surgawi, yang tidak bisa kulakukan untuk digunakan tanpa resiko yang cukup besar."

Shuri cukup terkejut dengan kata-kata Madara "jadi selama ini ... kamu sudah berkorban untukku Madara-kun...kamu anak yang sangat baik" batin Shuri dengan sedih sekaligus bangga. Sebagai seorang ibu yang menganggap Madara sebagai anak kandungnya sendiri, Shuri akhirnya menemukan fakta bahwa Madara telah banyak berkorban untuk Akeno dan dirinya.

Shuri akhirnya melihat kearah mata kirinya, mata kiri Madara berbeda dengan bagian Kanan, mata kirinya memiliki pupil berwarna merah dengan tiga Tomoe berputar dengan pelan. Shuri memundurkan wajahnya untuk bisa menatap wajah penuh Madara.

Shuri dengan cepat tersenyum kearahnya. "Ara...Jangan terlalu stres Madara-kun, aku berjanji tidak akan memberitahu siapa pun, kamu bisa mempercayai Okaa-sanmu ini. Sekarang, biarkan aku sebagai seorang wanita, meringankan stresmu." Shuri menyeringai kejam dan dengan cepat menjepit Madara dengan kekuatan yang mengejutkan.

"Uhh...Shuri-san?"

"Kenapa...apa Okaa-sanmu ini menyakitimu?"

"..."

"Ahh..Aku terus cemas terhadap tubuhmu...Madara-kun!"

"..."

"Dirimu begitu manis, tubuhmu yang membuatku seperti ini... Dan belakangan ini kamu kurang tidur,kan...Madara-kun?"

"...aku tidak bisa...tapi, tubuhku... sial ".

Madara benar-benar terjebak dalam situasi ini.

"Maafkan aku jika membuatmu khawatir"

"Fuu-fuu... Akhirnya kamu meminta maaf"

Shuri tersenyum yang membuat Madara merinding, lalu dia melepaskan pakaian Madara, yang tidak lebih dari jubah hitam dengan banyak magatama di atasnya. Dia panik, bukan karena Madara malu atau apa, dia hanya merasa aneh sebagai seorang pria.

Dia menghindari pandangannya, saat Shuri perlahan-lahan melepaskan pakaian Miko-nya. Dadanya yang besar dan berisi seketika melonjak keluar dari tempatnya, sedangkan Madara hanya bisa menatap dengan diam.

Shuri yang setengah telanjang terlihat tersenyum saat dia memandang Madara. "Ara..., aku tidak menyangka kamu begitu polos, Madara-kun." Dia berkata sambil menjilat bibirnya. Kemudian Shuri berbaring diatas tubuh Madara dan mulai membisikan sesuatu ditelinganya.

"Saa, aku akan membuatmu melayang.. Madara-kun" bisik Shuri sambil menjilat bibirnya.

"..."

.

.

.

Tapi ada sesuatu yang salah, udaranya terasa aneh. Karna dia tidak ingin mengambil resiko, Madara dengan cepat keluar dari genggaman Shuri dan memeluknya erat.

"Ahh...Madara-kun...kamu memeluk ibumu ini...terlalu kuat..Ahh"

Madara swetdrop, Shuri belum sadar jika ada suatu yang aneh. Namun Shuri dengan cepat melihat Madara yang sedang menatap keatas, seolah sedang mencari sesuatu.

"Ada yang salah, Madara-kun?" tanyanya sekarang khawatir.

"Mati kau"

*Wusss*

*Duarrrr*

.

.

.

Dimensi Kamui

"Apa yang sedang terjadi?" dia bertanya bingung sambil terengah-engah. Jelas Shuri tidak tau apa yang terjadi, bukannya tadi dia berada di kuil ketika dia mencoba memperkosa Madara, namun entah bagaimana dia tiba-tiba berada disini.

"Seseorang menyerang kita.," ucap Madara dengan keras. Namun dia harus bersyukur karna kejadian ini, membuat Shuri menghentikan kegiatan Ekstrimnya. Bisa-bisa keperjakaannya yang selama ini dia jaga selama bertahun-tahun hilang ditangan Ibu tirinya.

Shuri mengangguk dengan tatapan Khawatir "Aku mengerti..." namun dia sedikit kecewa karna gagal menikmati tubuh Madara.

"Gomen Shuri-san, aku berjanji kamu tidak akan berada di sini terlalu lama, setidaknya kamu aman."

"Ara, aku tidak akan bisa menonton Madara-kun mendominasi seseorang, memalukan, Akeno memberitahuku itu sangat menyenangkan."

Madara tidak benar-benar tahu bagaimana meresponsnya.

.

.

.

Kuil

"Kemana dia pergi? " Vali berpikir dalam benaknya, tepat saat dia siap untuk menebas Madara menjadi dua, namun ironisnya targetnya menghilang entah kemana.

*Duakkk*

"Gahh!" Vali mengeluarkan udara dalam jumlah besar dari mulutnya, saat sebuah tendangan entah dari mana menghantam perutnya. Dia terpental menabrak beberapa pohon dibelakangnya menjauh dari Kuil.

Madara berdiri di atas kuil dan melihat dengan tatapan merendahkan, dia yakin Vali semakin kuat, tetapi Madara tidak peduli. "Mata yang sama Vali, hasil yang sama." Ucap Madara dengan pandangan angkuh. Madara cukup terkejut saat Vali tiba-tiba menyerangnya saat Shuri berada didekatnya, seolah Vali benar-benar ingin mati ditangannya.

Vali bangkit dari tempat dia menghantam pepohonan. "Brengsek...Masih bertele-tele? Tidak masalah, aku telah menjadi kuat, dan aku di sini untuk mengalahkanmu!...Madara!" katanya sambil melepaskan sayap biru mudanya.

Madara telah mendapatkan banyak informasi tentang Divine Dividing, bahwa sebagian besar kekuatannya berasal dari membagi kekuatan dari orang lain.

"Divine Diving: Scale Mail!".

Madara menyipitkan matanya, dia telah melihat bentuk ini sebelumnya, tidak ada yang baru, tidak ada yang mengesankan. Tapi apa yang membuat terkejut adalah kapasitas kekuatannya, Madara merasakan kekuatan Vali berlipat-lipat lebih kuat dari pertama kali mereka bertemu, sekitar 5 tahun yang lalu saat mereka masih kecil.

"Dia dapat mengendalikan kekuatan Albion...Kekuatannya... jauh lebih besar dari yang dulu!".

.

.

.

"Divine!"

Sekarang kelemahan yang paling jelas untuk jenis teknik ini adalah dengan menghindari jalur hisapnya, ditambah lagi, ia harus tetap fokus saat menyerap. Jadi dia harus tetap bergerak agar Vali tidak bisa fokus terhadapnya.

Madara membuat segel tangan cepat dan menyusun rencana. Klon bayangan muncul di sebelahnya dan tersebar di sekitar Vali, dengan ini dia tidak akan bisa fokus pada Madara yang asli.

Kagebunshin terus melakukan rentetan serangan Taijutsu, namun Vali menebas mereka dengan mudah, kagebunshin bukan yang terkuat tetapi mereka sangat berguna dalam situasi seperti ini.

Klon Madara melepaskan beberapa Ninjutsu kecil dalam upaya untuk melihat seberapa kuat armor milik Vali.

"Jangan bermain-main denganku, Madara!" Vali mengeraskan tatapannya padanya. Madara mencoba untuk mencari tahu kemampuan baru apa yang Vali miliki, dia menjelaskan bahwa dia lebih kuat, tetapi dari penampilannya dia terlihat persis sama dari bertahun-tahun yang lalu.

"Dia sengaja menahan kekuata-" Madara harus menghentikan kata-katanya saat sebuah suara muncul di depannya.

"Ketemu kau!"

*Duakk*

Dia harus melebarkan matanya, saat Vali menghantam perutnya menggunakan tangan kanannya yang telah terlapisi Armor dengan keras. Madara terpental kebelakang, menghantam beberapa pohon dan menghancurkannya, namun tubuh Madara tetap terseret kebelakang dan berhenti ketika menghantam batu besar.

*Blarr*

Vali menyeringai sesaat, namun dia harus menyipitkan matanya saat Madara berhasil berdiri..

"Cih..Masih bisa berdiri..?"

.

.

.

'Aku bahkan tidak merasakannya ... Bahkan tulang rusuk Susanoo hampir tidak bisa mengimbangi kecepatanya'

"Dia tidak pernah secepat ini!"

Vali tidak ingin Madara membuat rencana, jadi Dia harus membuatnya tetap sibuk, Madara harus melebarkan matanya saat Vali terbang dengan sangat cepat kearahnya.

"Mazee ... Shinra Tensei! "

Vali harus merasakan sakit saat terpental kebelakang seolah menghantam sesuatu yang tak terlihat, dia menabrak beberapa pohon dibelakangnya namun karna Vali memiliki sayap, efek pentalannya tidak terlalu jauh, berbanding terbalik dengan benda-benda disekitarnya.

*Blarrr*

Vali muncul kembali dari tempat dia menghantam serangan Madara. Namun dia menyeringai, senyum maniak bertarung muncul diwajahnya, dia belum pernah merasakan kesenangan seperti ini.

[Hati-hati Vali, orang itu...aku tidak bisa menjelaskannya]

Vali mendengus namun kemudian menyeringai. "Kau tenang saja Albion, biar aku saja yang menangani ini, kau duduk dan nikmati pertunjukan kecil ini, dan berikan saja kekuatanmu padaku" Albion menghela nafas, dia tidak bisa mengerti jalan pikiran host-nya ini.

[Jika kau mati karna ini, jangan salahkan aku]

"Aku tau apa yang aku lakukan, Albion"

Namun dalam sekejap mata Vali terbang kembali untuk menerjang Madara.

.

.

.

"Suiton: Suijinheki"

Madara membuat segel tangan dengan cepat membuat dinding air disekitarnya. Namun Vali tidak berhenti, dia sengaja menabrak air dengan tidak banyak perlawanan.

"Raiton: Kangekiha."

*Krak-krak* Dari kombinasi jutsu Madara, Vali masih bertahan dan tidak terlalu terpengaruh oleh jutsu miliknya, Vali mulai keluar dan terbang diatas Madara tanpa kerusakan yang berarti. Vali menyeringai melihat jutsu Madara yang tidak memiliki efek yang berarti bagi dirinya.

Namun Vali mulai menyadari sesuatu " kenapa dia hanya menggunakan tehnik kecil ? Aku yakin dia memiliki tehnik jauh lebih kuat dari ini!, Atau jangan-jangan dia...cih seharusnya aku tau dari awal". Dia mengeraskan kepalan tangannya, ketika mengetahui niat Madara dari awal.

Madara tersenyum mengejek yang ditujukanya kepada Vali. "Dari gestur tubuhmu... Kau akhirnya menyadarinya..heh" memang niat awal Madara hanya untuk mengetes daya tahan armor milik Vali, apakah Ninjutsu dapat membuat efek di armornya atau tidak.

Madara masih memiliki beberapa trik untuk saat ini, tetapi Vali tidak memberi waktu untuk Madara membuat segel tangan.

"Kecepatannya yang menjadi masalah...aku harus menghentikan kecepatannya atau minimal membuatnya melambat"

.

.

.

"Amaterasu"

"Perasaan ini! , A-apa ini !?" Vali berkata dengan keras dalam benaknya, api itu sangat menyakitkan dan dia tidak bisa lagi bergerak dan secara perlahan api mulai menyebar, Vali mulai sedikit panik ketika Amaterasu mulai menembus armor miliknya.

"Albion"

[Vali tenang, bagilah api hitam ini ] Albion tidak menyangka jika ada manusia yang bisa menggunakan api hitam Amaterasu selain Dewi Amaterasu sendiri.

Vali tidak ragu untuk melakukan seperti yang diperintahkan, api hitam itu sangat menyakitkan, meskipun memiliki baju besi, api itu bahkan mulai menyentuh kulitnya, dan saat itulah sangat menyakitkan.

[Divine] [Divine] [Divine] [Divine] [Divine] [Divine] [Divine]

Setelah beberapa menit terus menerus membagi serangan Madara, Vali akhirnya berhasil menyingkirkannya. Dia menyeringai lega, dan seketika baju besinya mulai kembali normal seperti sediakala.

"Ada apa Madara?...terkejut?" Ucap Vali sambil menyeringai.

Namun Madara mulai sedikit tertawa, "terkejut?...tidak sama sekali"

Vali menyipitkan matanya dengan reaksi Madara, [tenang Vali...dia mencoba untuk memprovokasimu]

Madara menatapnya datar.. dia belum pernah melihat seseorang sepenuhnya menyingkirkan Amaterasu selain dirinya, walaupun dia tidak begitu mahir menggunakannya seperti Sasuke atau Indra.

"Amaterasu...tidak terlalu membantu...jadi seperti itu.. ". Dia tidak bisa terkejut sekarang, sekarang dia terpaksa menggunakan kekuatan miliknya

"Apa perlu aku menggunakan Susanoo?..tidak.. itu terlalu mencolok"

"Sepertinya Taijutsu adalah solusi untuk ini, Ninjutsu tidak akan terlalu berpengaruh terhadapnya, Ninjutsu bersekala besar hanya akan dia bagi sebelum mencapai target,...ini seperti aku melawan diriku sendiri" batin Madara sedikit tertawa ketika ingatan-ingatan tentang perang melawan ke-5 kage muncul di kepalanya.

.

.

.

Orc

"Akeno,"

"..."

Semua orang melihat ke arah Akeno yang menatap ke luar jendela dengan pandangan khawatir. Dia tidak tahu apa itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya khawatir, cincin yang Madara berikan padanya beberapa kali bersinar dengan terang.

"Ano, Akeno-san?" Issei mendekat kearahnya, Akeno tersentak dari pikirannya dan tersenyum pada bocah berambut coklat itu.

"Maaf Issei, aku hanya ... kupikir ada yang salah dengan Madara-kun."

Kata-kata Akeno mendapatkan perhatian Rias dan lainnya.

Ternyata bukan cincin Akeno saja yang bersinar, namun sarung tangan Issei pun mulai bersinar. "Draig?..ada apa?" Tanya Issei dengan rasa ingin tau.

[Si putih telah menunjukan kekuatannya..] Issei terkejut dengan suara Draig dari sarung tangannya.

"Tapi kenapa...Bukankah ini terlalu cepat...aku belum siap Draig" kata Issei dengan pandangan takut.

[Aku tidak tau.. tapi tenang partner..siputih sepertinya sedang meluapkan emosinya kepada orang lain ]

Issei mengangguk lega, dia berfikir siapa yang sampai membuat Siputih sampai sejauh ini. Jika rival masa depannya menantangnya bertarung dia hanya akan mati konyol didepan Buchou tercinta.

.

.

Xenovia dan Irina saling memandang dan mengangguk. "Rias Gremory-san, jika kau tidak keneratan, kita bisa pergi dan menyelesaikan kegelisahanmu." Xenovia menyarankan, sekaligus dia ingin meminta maaf kepada Madara atas sikapnya.

Rias mengangguk, dia juga merasakan sesuatu yang tidak enak di udara, dia melihat sekawanan burung mulai terbang menjauh seolah ada sesuatu yang sangat besar terjadi disana.

.

.

.

Gereja

"Apakah kalian merasakan itu?" Raynare bertanya pada keempat temannya. Madara juga berpikir itu akan menjadi ide yang bagus untuk Kuroka menghabiskan waktu dengan ketiga gadis itu.

"Hm,"

"Ya,"

"Nyaa,"

Mereka menatap satu sama lain dan mengangguk, ada sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman, Raynare melihat cincinnya dan matanya melebar ketika dia memperhatikan bagaimana pola dari cahayanya. Dia menutup matanya dan merasakan chakra Madara melalui cincin miliknya.

"Madara-sama dalam kesulitan, ayo pergi!", mereka tidak meragukan Raynare, dia tidak akan repot berbohong tentang sesuatu yang begitu serius.

.

.

.

Kuil

" Makan ini...DragonShoot"

*Swoss*

Madara menyipitkan matanya saat serangan berbasis energi Naga mengincar tubuhnya , Vali menyeringai, dia tidak mungkin bertahan dari itu. Madara mundur selangkah dan menutup Matanya, ketika serangan itu hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya.

"Susanoo "

*Krak-Kabooomm*

Ledakan dahsyat bak bom nuklir terjadi, hutan dan bebatuan seketika menguap yang mengakibatkan gelombang kejut menerpa tubuhnya,Vali menatap ledakan besar itu dengan datar, Madara tidak mungkin bisa bertahan dari serangan itu, asap membumbung tinggi dari ledakan, dan ketika asap mulai menipis terlihat kawah raksasa tempat Madara berdiri, namun Vali harus mengeraskan tatapannya saat dia melihat mahkluk humanoid berwarna biru yang hanya menyisakan bagian dada dan kepala, melindungi Madara.

Vali mengepalkan tangannya dengan kesar, dia tidak menyangka Madara akan bertahan dalam serangan seperti itu, dan lagi mahkluk humanoid biru itu. Vali meluncur dengan sangat cepat kearah Madara, yang telah menghilangkan Susanoo miliknya.

Dia berteriak saat Madara hanya menghindar dan terus menghindar.

[Vali, jangan gegabah] Tetapi peringatan Albion hanya seperti angin lalu baginya. "kusoooo, jangan terus menghindar brengsek... Kena kau"

"Sial" Madara harus merasakan rasa sakit dipunggungnya saat Vali berhasil menendangnya dari belakang. Madara terpental kedepan dengan sangat keras dan menghantam sebuah gunung didepanya, dari hantaman keras Madara, reruntuhan batu raksasa mulai berjatuhan menimpa dirinya yang masih berada di kaki sebuah gunung yang entah namanya apa.

*Krakk...Duarr*

"Lihatlah Albion... dia sepertinya telah kelelahan" Vali menyeringai dan mulai memejamkan mata, lalu sebuah energi berwarna putih terkompres muncul ditelapak tangannya, energi itu mulai menyusut dan menyusut namun dari tekanan dan dampak dari tehnik miliknya mungkin akan membuat sebuah gunung menguap dalam sekejap.

"Kali ini...kau akan menjadi debu Madara.."

ketika dia akan siap melakukan sebuah serangan, terdengar suara keras muncul dari reruntuhan tempat Madara berasal.

*Tap *

"Banshō Tenin!" , tiba-tiba, bukit besar yang berada di pinggiran Kuil mulai mengangkat dirinya ke udara, tepat di atas kepala Vali. Vali kehilangan fokus, dia mendongak untuk melihat bukit raksasa yang mengincar kepalanya.

"Albion ..."

[Aku tidak tahu Vali.]

"Sial, tidak sempat"

*Wuss*

*Kabooom *

Bongkahan batu raksasa itu jatuh ke tepat diatas kepalanya, ledakan yang sangat dahsyat layaknya bom nuklir meledak dan disusul dengan gempa bumi dahsyat muncul disekitar area. Tanah itu diratakan oleh tekanan ekstrim yang diberikan oleh batu itu. Debu, asap dan api mulai menutupi area tersebut , yang membuat pandangan bak Medan perang.

Ledakan yang dihasilkan dari tehnik Vali dengan milik Madara, membuat Vali harus merasakan akibatnya.

Kawah kecil sampai besar terbentuk dari pertarungan mereka yang diluar nalar Manusia, namun bagi Madara pemandangan ini hal yang biasa terjadi saat perang, dia adalah Veteran perang yang sering mengecap pahitnya Medan perang, jangan tanya dia berapa kali ikut berperang, dia mungkin sudah lupa berapa jumlahnya.

"Dia terkena serangannya sendiri"

Madara muncul dari reruntuhan dan terbang di atas Vali dengan pandangan merendahkan. Keadaan Madara tidak jauh berbeda dengan Vali, namun setidaknya dia tidak terlalu parah yang seperti Vali rasakan. Saat dia melihat ke bawah, dia bisa melihat Vali mulai merangkak keluar dari hantaman batu raksasa miliknya, dengan keadaan yang bisa dibilang rusak, dengan armor miliknya telah menghilang entah kemana ditambah luka bakar hampir disekujur tubuh. Madara tidak peduli jika Vali sedang menderita sekarang.

.

.

.

Sementara dikejauhan, kelompok Rias berhenti dan membulatkan mata, saat melihat ledakan yang begitu besar di balik pegunangan, lalu di susul dengan gempa kecil dibawah mereka. Akeno menatap khawatir tempat dimana ledakan terjadi, tempat yang tidak jauh dari kuil tempat Madara dan ibunya tinggal.

" Ini energi milik Madara-kun dan Vali, aku yakin itu" ucap Akeno dengan tatapan Khawatir, dia begitu khawatir dengan Madara dan ibunya, setelah mengetahui Vali dendam dengan Madara saat mereka bertarung saat masih kecil.

Mereka menoleh kearah Akeno "Kau yakin Akeno?" Tanya Rias yang juga memiliki tatapan Khawatir. Koneko juga merasakan hal yang sama, dia yakin ini milik Madara.

"aku yakin itu!"

.

.

.

Sementara di kelompok Raynare, mereka juga merasakan hal yang sama, saat ledakan dahsyat terjadi di balik pengunungan. "Ini energi milik Leader-Sama...kita harus cepat" ucap Raynare yang mendapat anggukan dari yang lainnya.

Kuroka juga merasakan hal yang sama, dia bisa merasakan Energi Madara dan seseorang yang dikenalnya. "Bukankah ini, milik ...Vali?".

.

.

.

"Raiton: Ranton Koga! " Madara membuka mulutnya seolah-olah akan meludahkan sesuatu, sinar lurus tipis berwarna biru melesat kebawah dengan sangat cepat menuju tempat Vali berada.

*Srakk *

Petir itu merobek bebatuan dan tanah, sementara suara petir menyeruak di telinganya, dia bisa mendengar teriakan Vali terdengar disana. Madara mendarat dengan keras di tanah dan menciptakan kawah kecil dibawahnya. Dia tidak menyangka akan seperti ini, Chakra miliknya terkuras dengan cepat saat menahan serangan milik Vali menggunakan Susanoo miliknya.

Dia berlutut, nafasnya tersenggal-senggal, dia mencengkram dadanya saat rasa sakit mulai menggerogoti tubuhnya.

"Indra... apa yang terjadi?"

"Tenangkan dirimu, ini hanya efek dari penggunaan Chakramu yang berlebihan, tutup matamu dan berkonsentrasilah...gunakan Senjutsu untuk memulihkan tubuhmu"

Madara menuruti apa yang dikatakan Indra, dia menutup matanya dan mulai berkonsentrasi, setelah sekian lama, tubuhnya mulai mengeluarkan asap berwarna putih dan seketika luka-luka miliknya menghilang.

Dia mulai bisa berdiri dan dapat menggerakkan otot-ototnya, dia merobek bajunya dan kemudian dia gunakan untuk menutupi dada kirinya yang menampilkan wajah Hashirama. Namun ketika dia ingin mendekati Vali yang berada didalam reruntuhan, dia bisa merasakan banyak kehadiran menghampiri dirinya.

Dia melihat ke kanan,

"Madara-kun!" Teriak Rias dan Akeno secara bersamaan.

"Uchiha-san!" Kiba dan Issei berkata serempak.

"... Hero-senpai ..." Koneko memiliki kebiasaan memanggilnya seperti itu, dia tidak tahu apa itu, tetapi ketika dia menyelamatkannya dari Yebelluna, akhirnya Koneko memanggilnya seperti itu.

Madara melihat ke kiri

Dia melihat timnya, mereka tidak meneriakkan namanya namun mereka memiliki wajah Khawatir, Timnya muncul di sebelah Madara dan menyipitkan matanya saat mereka melihat Rias bersama budaknya, Xenovia, Irina, dan Asia.

"Kalian!?" Teriak mereka secara bersamaan, Koneko dan Kuroka saling menatap, namun ekspresi mereka sulit untuk dijelaskan. Madara menatap mereka berdua dengan padangan tertarik, dia yakin mereka memiliki hubungan.

Madara menghela nafas, Namun gempa bumi kecil menarik perhatian semua orang, Madara menyipitkan kearah reruntuhan tempat Vali berada, dia tidak menyangka dia masih bisa bernafas bahkan setelah itu. Raiton: Ranton Koga mungkin belum cukup untuk membunuh Vali, tapi jika Dia menggunakan Versi Senpo: Ranton Koga mungkin hasilnya akan berbeda.

Akhirnya mereka baru sadar bahwa tempat ini benar-benar hancur layaknya perang dunia ke 3, debu asap dan api tersebar diberbagai area, bahkan mereka bisa melihat beberapa gunung yang terbelah menjadi dua dan berlubang dibagian sisi, mereka bahkan terkejut ketika melihat kawah raksasa yang menganga berada tepat didepan mereka bak sebuah meteor menghantam bumi dengan sangat keras.

"Apa yang terjadi?"

.

.

.

"Apa ... kau pikir aku sudah mati? Aku baru saja mulai ..." kata Vali di sela-sela rasa sakitnya, tubuhnya benar-benar rusak dengan bekas luka bakar dan sebuah sayatan yang menganga lebar melintang dibagian dada.

'Vali? ' Kuroka kaget melihatnya, tetapi satu hal lagi adalah Kuroka tidak percaya Vali akan berada dalam keadaan seperti ini, Kuroka tau jika Vali sosok yang sangat kuat, dia melirik kearah Madara yang memiliki tatapan datar diwajahnya, dia juga menyadari jika energi Madara seolah sangat familiar baginya, namun dia menatap curiga pada dada bagian kiri Madara yang dibalut dengan kain, namun dia memerah saat konsentrasinya buyar entah kemana.

Bahkan semua orang yang melihat Vali terkejut, mereka tidak menyangka Hakuryuukou, akan mengalami hal seperti ini. Terutama Issei yang notabennya bakal calon Rival Vali, Draig pernah mengatakan jika Vali adalah Hakuryuukou yang memiliki potensi melewati pengguna sebelumnya. Namun Draig harus terkejut melihat keadaan Rival partnernya.

[Dia pasti sesuatu yang lain]

.

.

.

Vali secara perlahan mulai berdiri walaupun terlihat memprihatinkan "Selalu saja...selalu saja...selalu saja...kenapa?... Kenapa? aku tidak bisa mengalahkanmu.. Madara?" Vali mengeraskan tatapannya disela rasa sakit yang menyeruak ditubuhnya. "Aku telah berlatih sangat keras saat kau mengalahkanku pertama kali, tapi...kenapa, tapi.. kenapa seolah perjuanganku sia-sia? Kenapa kau selalu berada diatasku Madara?" Dia berhenti sebentar.

"Bahkan orang disekitarku, bahkan Azazel sekalipun mulai mengabaikanku, semua itu terjadi karna kau Madara, aku Hakuryuukou bersumpah...aku akan menghancurkanmu sampai menjadi debu" teriak Vali dengan tatapan paling tajam yang diarahkan kepada Madara.

"Vali!" Batin Kuroka dengan sedih. Mereka yang sedang menyaksikan Madara dan Vali hanya bisa terdiam dan membisu.

"..."

" Jawab pertanyaanku...Aku..aku telah berjanji pada diriku, jika aku bisa membunuhmu...aku akan...aku akan..." Ucap Vali, dengan pandangan kosong.

"Membunuh Kakekku"

Madara menatap keadaan Vali yang mengalami keputusasaan, dia bisa melihat dengan matanya, energi Vali mulai berkumpul disatu titik ditubuhnya. Dengan begini Madara memiliki alasan yang kuat untuk membunuh Vali, dendam Vali terhadapnya terlalu besar, jika dibiarkan ini akan merembet sampai anak-cucunya. Madara bukan orang naif seperti Hashirama, Madara adalah sosok Realistis yang memandang dari segi kenyataan.

Semua yang melihat itu melebarkan mata mereka, kecuali Asia yang tidak tau apa yang terjadi. "Kalian pergi dari sini" kata Madara masih menatap Vali.

"Madara-kun!" batin Akeno dengan tatapan Khawatir dan setetes air mata keluar dari sudut matanya..

"T-tapi Mad-" kata Rias dengan pandangan khawatir. Namun Madara dengan cepat menatap Rias dengan tatapan tajam yang membuat Rias tersentak dan menghentikan ucapannya.

"Aku bilang...Pergi"

"Buchou... kita harus pergi dari sini"

Tim Madara menatap pemimpin mereka dan mengangguk lalu mereka pergi ketempat yang jauh lebih aman dari tempat ini, dan diikuti oleh kelompok Rias yang melihat kepergian tim Madara, mereka tidak pernah melihat tatapan Madara begitu keras terhadap mereka.

Madara kemudian menatap Vali yang sedang menyiapkan sesuatu. sekarang dia sendirian bersama Vali dengan energi berwarna putih muncul disekitar tubuhnya.

Seketika atmosfer bumi mulai begitu berat disusul dengan kilatan-kilatan petir muncul diatas mereka. Suara-suara petir menggelegar terdengar di setiap kota.

Sementara Indra yang melihat semua itu hanya menyeringai melihat pertarungan mereka yang baru saja dimulai, "Bagus...tunjukan pada dunia ini kekuatan kita...Madara"

.

.

"Apa kau membenciku.. Vali?"

"..."

"Energi yang luar biasa..."

"..."

"Saa...Tunjukan kekuatanmu... Hakuryuukou"

Madara berteriak dengan keras seperti orang yang kesetanan, dan kemudian sebuah bola hitam lunak seukuran bola kasti muncul secara perlahan di telapak tangan kirinya.

.

.

.

Salah satu Dewi tertinggi fraksi Shinto menyeringai melihat Atmosfir yang begitu kuat diwilayahnya, dia melihat melalui cermin yang menampilkan Hakuryuukou dan seorang pemuda berambut hitam, yang sedang berhadapan satu sama lain, dia memperhatikan pemuda berambut hitam itu dengan tatapan tertarik diwajah cantik alaminya. Dia tersenyum lalu menjilat bibirnya dengan tatapan menggoda.

"Ayo tunjukan padaku Rikudou-sama"

.

.

.

"Aku, yang akan bangun,"

"Aku adalah Naga Langit yang telah mengambil prinsip-prinsip supremasi dari Tuhan"

Aku iri dengan "tak terbatas", dan aku akan mengejar "Mimpi"

"Aku akan menjadi Naga Putih Dominasi'

"Juggernaut Drive.".

.

.

.

Bersambung