A/N: jujur... author entah kenapa sulit membuat percakapan yang lama antar satu karakter dengan karakter lainnya. (Author butuh belajar dan butuh Refrensi )
Mencari topik pembicaraan itu sulit :(
Author demam Adventure Time.
Chapter kali ini author fokus pada Madara dan Akeno dan beberapa karakter lainnya.
Chapter 11
Sage Arts
"Sekarang, dunia impian akan dimulai, dunia mimpi tanpa adanya Chakra yang menjijikan"
.
.
.
"Huh..? "
Mengerjapkan mata beberapa kali kemudian melihat sekeliling, semuanya gelap bahkan tidak ada apapun selain kegelapan, mencoba menggerakan tangan namun tidak ada pergerakan sama sekali, dia menghela nafas dan berkedip beberapa kali saat menyadari dia berada di tepat yang tidak diketahui.
"Dimana aku?"
Tanda tanya muncul dikepalanya, dan mulai mengingat sesuatu namun mencoba untuk tetap tenang.
"Ah... aku ingat, aku bertarung dengan Vali dan berakhir tidak sadarkan diri, cih..."
"Tapi... yang terpenting adalah, dimana aku sekarang?"
Ketika dia mencoba untuk mencari jawaban seketika itu pula ada cahaya disudut matanya, cahaya itu terang berwarna putih dia mencoba untuk mempertahankan pengelihatanya, namun matanya sedikit menyipit saat cahaya itu mulai meredup.
"..Kau sudah sadar!"
"Siapa?"
"Tolong tenang "
"Apa mau mu?"
Madara memincing dan mencoba mengaktifkan Sharingan-nya untuk menemukan sosok itu, tapi entah kenapa Sharingan miliknya tidak bisa di aktifkan, tubuhnya masih terasa sakit untuk merasakan hawa keberadaan sosok tersebut, dan dia sadar bahwa aliran Chakra miliknya masihlah kacau.
"Tubuhmu masih belum sepenuhnya pulih, walapun luka-lukamu sudah sembuh" suara itu begitu lembut seperti suara Shuri, namun dengan nada yang berbeda.
"Bahkan aku sampai terkejut luka-lukamu sembuh hanya beberapa menit"
Madara sedikit muak dengan ini ketika mengetahui jika dia tidak bisa melakukan apapun selain mengedipkan matanya, beberapa kali dia mencoba melakukan sesuatu tapi hasilnya sia-sia, beberapa saat kemudian ruangan itu menjadi sedikit terang, dia melihat sekeliling dan mengamsumsikan jika ini adalah kamar, kamar ini mewah dengan beberapa prabotan yang terbuat dari emas dan perak dan beberapa taburan berlian diatasnya, namun dia menyipit saat matanya melihat sosok disampingnya.
"Kau siapa?"
.
.
.
Kuil
Akeno beberapa kali memanggil dan meneriakkan nama seseorang yang sangat penting baginya, sudah beberapa jam setelah Madara mengalahkan Vali namun anehnya Madara menghilang begitu saja bak tertelan bumi, dia telah mencari keberadaan Madara satu jam terakhir, dia bingung teman satu-satunya yang dia anggap sebagai saudara menghilang begitu saja, dia takut jika Madara meninggalkanya.
Dia melihat keatas tempat jutsu terakhir Madara untuk mengurung Vali, benda raksasa seukuran dua kali ukuran lapangan sepak bola itu melayang di udara dan menutupi cahaya bulan, itu adalah pemandangan menakjubkan sekaligus menakutkan dia tidak menyangka Madara memiliki kemampuan seperti itu, dia kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Rias yang berada disampingnya.
"Aku tidak bisa menemukanya... Madara adalah satu-satunya yang aku anggap sebagai saudaraku... namun aku kecewa pada diriku sendiri...aku telah berjanji pada diriku jika aku akan menemani Madara apapun yang terjadi... " Akeno berkata dengan sedih dan memudian setetes air mata keluar dari sudut matanya,.
"Akeno..."
"Dia bahkan bersusah payah untuk melindungi kuil...aku malu pada diriku"
.
.
.
Sementara itu dengan kelompok Raynare, mereka melakukan hal yang sama, cincin yang diberikan oleh Madara tidak merespon sama sekali bahkan Kuroka yang memiliki energi tipe Sensor tidak bisa merasakan energi pemimpin mereka .
"Bagaimana?... apa kau menemukanya?" Raynare bertanya kepada Kuroka dengan tatapan berharap, sedangkan Kuroka menggelengkan kepalanya dengan terpaksa.
"Gomen!"
Raynare beberapa kali bertanya kepadanya, dia terlihat sangat gelisah jika sosok yang sangat penting baginya menghilang dan meninggalkan mereka, baginya Madara adalah teman pertamanya saat mereka bersekolah dan menghabiskan waktu belajar di kelas.
"Jangan terlalu sedih Ray, kita juga merasakan hal yang sama, Madara-sama adalah satu-satunya manusia yang menganggap kita sebagai teman, tapi aku yakin dia tidak akan mati karna dia itu kuat" Kalawarner mencoba untuk menghiburnya sambil menyentuh pundaknya dengan lembut.
Raynare yang melihat usaha sahabatnya sedikit tersenyum, Mittlet melakukan hal yang sama mungkin dia yang paling muda di antara mereka, tapi dia dapat mempercayai mereka bukan sebagai tim tapi sebagai kakak sekaligus teman.
"Aku sekarang mengingatnya... ada kejanggalan saat Madara-kun menghilang" Kuroka sedikit berteriak dan mendapatkan tatapan serius dari mereka bertiga.
"Maksudmu?" Kalawarner bertanya dengan dengan tatapan serius.
"Aku merasakan energi asing mendekatinya, tapi karna saat itu aku terlalu fokus pada benda besar itu, energi itu menghilang begitu saja bersama dengan Madara-kun"
Mereka bertiga sedikit terkejut saat Kucing hitam itu memberitahu mereka, mereka mulai berfikir jika energi itu menculik Madara, namun untuk saat ini mereka tidak boleh berspekulasi tentang hal buruk, Madara melatih mereka untuk tetap tenang dalam bertindak atau saat memutuskan sesuatu.
.
.
.
"Apa maumu?.. kenapa kau membawaku kesini?"
Sosok itu sedikit tertawa lembut ketika Madara menanyakan hal itu. "Energimu belum stabil, kau beristirahatlah aku akan memberitahumu nanti".
Madara berusaha untuk tetap tenang, sosok dihadapanya ini sepertinya tidak berniat berbahaya, namun jika sosok itu melakukan hal yang mencurigakan pasti Indra tidak akan tinggal diam.
"Aku masih ada urusan, beristirahatlah anggaplah tempat ini adalah kamarmu" beberapa saat ketika sosok tersebut mengatakan itu, muncul cahaya putih menyilaukan menelan sosok tersebut dan meninggalkan tempat ini dalam kesunyian.
Madara memandang kepergian sosok itu dengan pandangan bertanya."Siapa dia?...Indra kau mendengarku?". Namun beberapa saat dia tidak mendengar apapun. "Aneh... biasanya dia langsung menjawab"
Madara beberapa kali menghela nafas dia tidak menyangka akan seperti ini, dia mungkin sulit mengakui jika Vali memang bertambah kuat, dulu saat mereka masih kecil Madara sering berlatih bertarung dengan Vali di bawah bimbingan Azazel, walaupun Vali tidak pernah bisa mengalahkan Madara.
"Perubahan yang mengejutkan.."
Tapi sekarang dia sedikit terkejut dan senang akhirnya selama bertahun-tahun ada juga yang bisa bertarung dengan baik seperti Vali, bahkan sampai membuatnya menggunakan Rinnegan, walaupun mereka sama-sama belum menunjukan potensi mereka tapi Madara cukup terhibur.
Indra sengaja menyegel kekuatanya entah apa tujuanya, bahkan Chakra Shinju sekalipun tidak bisa ia akses karenanya, mungkin ini juga ada manfaat, mungkin Indra tidak ingin Madara terlalu bergantung pada Rinnegan dan Chakra Shinju, dan sekarang dia sedikit terbiasa dengan hal itu.
.
.
.
Kuil
Akeno masih terlihat sedih dan disampingnya ada Rias yang melakukan hal yang sama, sekarang mereka duduk ditangga kuil tempat biasa Madara memandang bintang. "Akeno...!"
Akeno menoleh dan menatap Rias dengan tatapan sendu. "Kita mungkin menyayangi Madara dengan cara yang berbeda, tapi... apa ada jauh dilubuk hatimu, kau memiliki rasa jauh lebih dari kata sayang?"
Akeno menaikkan alisnya ketika Rias menanyakan hal aneh semacam itu. "Aku tidak tau apa yang kau maksud" Akeno berkata dengan sedikit bingung, jujur Akeno tidak bisa membedakan antara rasa sayang dengan Sesuatu yang lain, namun saat dia bersama Madara dan hanya berdua, dia bisa merasakan perasaan aneh tersebut sering muncul.
Rias kemudian mengalihkan pandangannya kedepan. "Kau benar... bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu sekarang". Namun perhatiannya terhenti saat ada sebuah pusaran muncul didepan mereka, Rias dan Akeno bersiap siaga saat pusaran itu memuntahkan sesuatu.
"O-okaa-san!"
Akeno berteriak dengan wajah khawatir, dia berlari kearah ibunya yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Okaa-san apa kau baik-baik saja?"
Akeno sedikit berteriak dan kemudian memeluk ibunya, beberapa saat Shuri membuka matanya dan tersenyum saat Akeno memeluknya.
"Akeno..., ibu baik-baik saja, ini semua berkat Madara"
"Syukurlah Okaa-san baik-baik saja, aku tidak akan memaafkan diriku jika Okaa-san terluka"
"Tidak apa-apa Akeno...sekarang Okaa-san ada disini!"
Akeno menghela nafas bahagia, dia tidak ingin kejadian seperti dulu terjadi lagi, kejadian yang hampir membuatnya trauma. sedangkan Rias menatap mereka dengan sedikit senyuman diwajahnya, dia tidak akan berbohong jika hubungan Akeno dan ibunya masih menyayangi satu sama lain.
Tidak seperti hubungannya dengan orang tuanya, Rias merasa orang tuanya tidak pernah bisa mengerti dirinya, dia merasa jika ayah dan ibunya terlalu membanggakan kakaknya yang sebagai Lucifer saat ini, itulah sebabnya dia jarang berinteraksi dengan keluarga bahkan orang tuanya sendiri, dan lebih memilih tinggal didunia Manusia dan bertemu beberapa teman baru.
Shuri kemudian menyadari sesuatu ketika dia tidak melihat seseorang yang selalu membuatnya kagum. "Akeno...dimana Saudaramu?" Shuri bertanya saat dia tidak menemukan tanda-tandanya.
"..."
Akeno sedikit tersentak saat ibunya menanyakan hal itu, dia bingung mau menjawab seperti apa, dia tidak ingin membuat ibunya terkena serangan jantung saat memberi jawaban yang cukup mengejutkan, beberapa saat tidak ada jawaban darinya sedangkan Shuri yang melihat reaksi Akeno dan Rias hanya bisa diam dengan tatapan sulit diartikan.
.
.
.
Sudah beberapa jam dia tidak melakukan apapun selain berbaring ditempat ini, aliran Chakranya sudah kembali normal, berterima kasihlah kepada sel Hashirama yang melakukan tugasnya dengan sangat baik.
"Bagus...chakra ini sudah kembali normal namun butuh beberapa waktu lagi agar tubuh ini kembali seperti sedia kala"
dia beberapa kali mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, awalnya sulit untuk dilakukan namun karna beberapa kali mencoba akhirnya tubuhnya bisa bergerak.
"Ini sedikit menyakitkan...tapi aku sudah terbiasa" Madara sedikit mendengus, akhirnya dia akan terbebas dari tempat aneh ini.
"Kamui" beberapa saat tidak ada yang terjadi namun dia tetap memaksakan kinerja matanya, matanya sedikit mengeluarkan darah ketika dia mencoba membuka portal.
*sringg*
Dikit demi sedikit tubuhnya mulai tersedot dalam dimensi kamui, namun tanpa dia sadari ada sepasang mata merah yang dari tadi terus mengawasi.
"Jadi itu kemampuan matamu?" sosok itu menghela nafas dan kemudian tersenyum kecil. "kemampuan dimensi ruang dan waktu, Choku Tomoe?"
.
.
.
Raynare berbaring ditempat tidur dengan selimut menutupi tubuhnya, sekarang adalah malam waktu dimana mahkluk hidup memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh dan mengisi tenaga untuk hari esok.
Namun.
Matanya masih terfokus pada jendela kamar yang terbuka, dia memperhatikan benda besar yang beberapa waktu telah menyita perhatian mahkluk supranatural, sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat teknik yang menakjubkan seperti itu, dia tau Madara itu kuat tapi itu terlalu berlebihan.
Dan sekarang mereka berempat memutuskan untuk menutupinya dengan Kekkai agar tidak ada mahkluk lain selain mereka yang melihatnya.
"Madara kau dimana?" Suara serak dan pelan terdengar dari bibirnya, "kau bodoh, idiot" sumpah serapah akhirnya ia ucapkan saat setetes air mata berlinang dari sudut matanya. "Kenapa aku harus menangisi orang seperti dirimu?"
*Brukk*
Raynare sedikit tersentak dan kemudian mengusap bekas air mata dipipinya, dia menoleh ke kiri saat sesuatu terdengar di sana, keingintahuan membuat dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan mengendap-endap menuju suara tersebut, namun saat dia semakin dekat, matanya melebar ketika dia melihat seseorang yang dia kenal.
"Madara-san..."
Raynare dengan cepat berlari kearahnya, "Madara apa yang terjadi padamu?" Raynare bertanya dengan sedikit panik, dia melihat Madara dalam keadaan tidak sadarkan diri namun dia seketika memerah saat Madara tidak memakai pakaian atas, kecuali sebuah perban untuk menutupi dada kiri miliknya, dan celana hitam panjang dengan beberapa robekan.
Dia memerah melihat tubuh bagian atas Madara yang menampilkan otot-otot sekeras baja, dia menjilat bibirnya dan kemudian menyeringai seketika melupakan niat untuk menolong atau memberi tau mereka bertiga.
Namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya ketika pikiran-pikiran kotor memenuhi pikiranya, "tidak...aku tidak boleh berfikir egois" kemudian perhatianya berubah kearah bagian bawah tubuh Madara. "Tapi...ini adalah kesempatan ku" ucapnya dengan pipi memerah.
Pagi Hari
Madara menguap sedikit ketika cahaya matahari muncul disela-sela korden, dia merenung tentang kejadian tadi malam dia bertanya-tanya tentang sosok yang telah menyelamatkannya, walaupun dia enggan untuk ditolong seseorang karna harga diri yang terlalu tinggi, tapi tidak mengubah fakta bahwa dia memang membutuhkan itu.
Namun dia merasakan sesuatu gerakan didalam selimut, tidak ingin membuang waktu dia dengan cepat membuka selimutnya dan menatapnya dengan datar saat menemukan sesuatu.
"Kalian sedang apa...?"
.
.
.
Akeno menghela nafas lelah, hari ini ia akan berangkat sekolah, tempat dimana dia bisa bertemu dengan teman-temannya. namun ada sesuatu yang janggal, sekarang dia berangkat sekolah sendirian tanpa seseorang yang menemaninya.
"Madara..." dia berguman pelan dan kemudian berjalan dengan pandangan kosong.
Shuri memperhatikan anaknya dengan pandangan sedih, dia tidak mengira kejadian beberapa waktu yang lalu berakibat fatal seperti ini, walaupun Akeno tidak mau menceritakan padanya namun dia sebagai seorang ibu mengerti dengan baik raut wajah anaknya.
Dia menghela nafas, dan masih memperhatikan anaknya dari pintu kuil dan kemudian menggumamkan sesuatu. "Madara, Akeno... ibu hanya bisa berdoa agar kalian bisa bersama kembali"
.
Akeno berjalan dengan diam tanpa suara, pandangan masih kosong tanpa memperhatikan jalan didepannya, namun saat ada belokan didepan dia tanpa sengaja menabrak seseorang.
*Brukk*
"G-gomen" Akeno meminta maaf tanpa melihat seseorang yang ia tabrak.
"Tidak apa-apa"
Akeno tersentak saat mendengar suara orang tersebut, dia mengenali suara ini, dia mendongak dan seketika air mata keluar dari sudut matanya saat dia mengenali wajah orang tersebut.
"Ma-Madara"
"Ohayou Akeno"
*Grebb*
Madara sedikit terkejut saat Akeno memeluknya dengan erat, dia tersenyum ketika akeno mengeratkan pelukanya dan merasakan sesuatu yang basah di seragam sekolahnya.
"B-baka... Madara no Baka" Akeno terisak didalam pelukan, akhirnya...akhirnya dia bisa meluapkan emosinya kepada seseorang yang begitu penting dalam hidup.
Madara masih tersenyum ketika Akeno mengatakan itu dalam pelukan. "Maafkan aku Akeno...maaf karna telah membuatmu khawatir!".
"Kenapa kau melakukan itu?"
"..."
"Kau... aku pikir kau telah mati" Akeno sedikit berteriak, Madara tersentak dan kemudian menatapnya..
"Aku pernah berjanji padamu Akeno...ingat saat kita masih kecil?, apapun yang terjadi aku akan melindungi keluarga kita".
Akeno mencoba mengingat-ingat kejadian itu, dia sedikit senang saat Madara masih mengingat kejadian waktu itu.
"Aku sangat senang ada kamu disisiku, Madara"
Madara mendekatkan Wajahnya dan kemudian tangan kanannya terangkat untuk menghapus bekas air mata Akeno.
"Tidak ada yang bisa menyakitimu selagi aku masih bernafas."
"Madara...-kun"
*Grepp*
Akeno sekali lagi memeluk Madara, menuangkan rasa bahagia dan gembira kepada seseorang yang telah banyak berkorban untuk dirinya dan Ibunya.
Tidak mengubah fakta bahwa Madara telah banyak berubah setelah berada didunia ini, tanpa ambisi untuk menghancurkan dunia dan menata ulang dunia tersebut dibawah kendali penuh.
Berkat Akeno dan Shuri lah, Madara menjadi seperti ini sekarang.
Tanpa di sadari oleh mereka berdua, aksi mereka ternyata menyita perhatian banyak orang yang kebetulan lalu lalang disekitar mereka, ada yang merekam aksi mereka dan ada yang tersenyum kearah mereka berdua. Madara menghela nafas dan secara perlahan melepaskan pelukan Akeno yang begitu erat.
"Akeno...?"
"..."
Bukan karena Madara malu atau apa, dia hanya sedikit tidak nyaman saat sesuatu yang lembut terus menekan dadanya.
"Akeno.."
"Biarkan aku seperti ini dulu!"
Madara diam dan memikirkan cara untuk melepaskan pelukan Akeno, dia dengan cepat mengangkat Akeno dan kemudian meletakkanya dipunggungnya, Akeno sedikit memerah saat Madara ingin menggendongnya seperti saat mereka masih kecil.
"Madara kau membuatku malu" cicitnya , namun jauh dilubuk hatinya dia senang akhirnya orang yang ia harapkan tidak lupa dan masih mengingat permainan waktu kecil.
Akeno tertawa lepas saat Madara menggendong dan membawanya berlari kearah sekolah, seolah beban hidup tidak tidak pernah ada di kehidupan. semua siswa dan siswi yang melihat mereka bersorak dan ada yang meneriakkan nama mereka berdua.
.
Rias menatap keluar jendela dengan pandangan bete dan beberapa kali menghela nafas, di belakangnya ada Issei dan Asia yang sedang mencoba menghiburnya namun usaha mereka sia-sia, kemudian Rias menaikkan salah satu alisnya saat ada kerumunan siswa didepan gerbang sekolah.
"Kenapa mereka?"
Dia kemudian membulatkan matanya saat melihat Akeno bersama seseorang yang ia rindukan.
"M-Madara-kun?"
Dia terkejut sekaligus senang, dia mulai berbalik dan kemudian menabrak Issei yang masih dibelakanganya tanpa peduli nasib pion-nya.
"I-ittai"
"Issei-san"
Koneko yang memperhatikan Rias menjadi penasaran dan kemudian mengikuti Rias dibelakang, beberapa saat kemudian mereka berdua telah sampai di tempat yang mereka tuju.
"Madara-kun" Rias berteriak dan berlari kearahnya tanpa memperdulikan beberpa siswa yang kejengkang karna ia tabrak.
Keingintahuan membuat Madara berhenti berjalan dan kemudian mencari asal teriakan tersebut, namun dia sedikit terkejut saat entah bagaimana Rias telah berada didepanya dengan sebuah pelukan.
*brakk*
Mereka terjatuh kebelakang saat Rias memeluknya dengan sangat erat, "Madara...betapa aku merindukanmu" namun ada sesuatu yang aneh saat Rias menggosokkan pipinya kedada Madara, dia bisa merasakan sesuatu yang lembut diwajahnya.
"A-apa ini empuk-empuk?"
"Ahh"
"Akeno...?"
"Rias..."
Madara menatap datar ketika melihat kelakuan mereka berdua. Tiba-tiba dia sedikit memalingkan muka saat Rias dengan sengaja meremas dada Akeno tepat dihadapanya dan mengeluarkan suara desahan yang begitu sexy, namun tanpa Madara sadari ada sesuatu yang menuju kearahnya dengan cepat.
"Hero-senpai no Ecchi"
*Duakkk*
.
.
.
Tempat yang tidak diketahui
Ruangan ini besar dengan beberapa ornamen berlambang matahari disetiap dinding, dan terdapat beberapa lambang Magatama diatasnya, dan di ruangan itu ada sebuah singgasana dan terdapat wanita yang duduk di tempat tersebut.
Wanita itu memiliki rambut hitam dengan setelan kimono kuning cerah dan putih, dan terdapat beberapa magatama di atasnya, wanita itu terlihat lelah dan beberapa kali menguap kecil tanpa memperdulikan jika statusnya adalah seorang Dewi.
"Jadi dia melarikan diri...kah?" Dia berguman pada dirinya sendiri sambil melihat cermin didepannya.
Jika diperhatikan mungkin dia sedang bercermin dan mengagumi kecantikan alaminya, tapi tidak, karna dicermin bukanlah wajahnya tapi seseorang yang selama ini menarik perhatian.
"Uchiha...?!"
Dia menyunggingkan senyum saat mengetahui sosok yang dicermin tersebut bersama dengan beberapa gadis berbeda fraksi.
"Kenapa kau menipu dirimu sendiri?... kenapa kau menjadi naif seperti itu? Apakah kau benar-benar akan membuang semua yang telah kau kerjakan hanya untuk beberapa orang disekitarmu? Kemana perginya Uchiha Madara, orang yang menolak dunia dan mencari keselamatan untuk semua orang?"
Suara helaan nafas terdengar cukup jelas saat perhatiannya teralihkan kepada salah satu gadis yang berdiri disampingnya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan... Amaterasu-sama?" Gadis disampingnya bertanya dengan rasa ingin tau.
"Hmm..tetap awasi dia...bagaimana pun dia adalah aset terpenting bagi fraksi Shinto...Dulu klan Uchiha telah memiliki hubungan yang erat dengan fraksi Shinto dan Yokai. namun jika kau dapat membuat dia bergabung dengan kita itu akan membuat keuntungan buat Fraksi Shinto "
Gadis itupun sedikit terkejut dengan fakta yang terjadi dan kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan "Saya mengerti... tapi apa perlu anda hanya menugaskan saya?"
"Hmm... jangan khawatir, dia mungkin terkejut jika ada seseorang yang memiliki klan yang sama dengannya. Tapi itulah tujuannya...bagaimana pun dia adalah satu-satunya Uchiha yang masih hidup didunia ini selain dirimu"
Gadis itupun terkejut mendengar penjelasan dari Dewi disampingnya ini, namun dia sedikit senang ternyata masih ada anggota klan-nya yang masih bertahan selain dirinya.
"Baiklah...saya mengerti...Amaterasu-Sama".
"Tapi ingat satu hal, jangan gegabah dalam bertindak...targetmu bukanlah Uchiha kaleng-kaleng.., bagaimanapun dia bisa lebih jahat daripada mahkluk apapun yang pernah aku temui?" Dewi Amaterasu memperingatkan dengan ekspresi serius dan kemudian sedikit tersenyum.
"Saya mengerti, dan dari pengamatan saya, dia juga memiliki Choku Tomoe" ucap gadis itu sambil menutup matanya dan kemudian matanya terbuka menampilkan Mata merah darah dengan pola tertentu.
Sedangkan Dewi Amaterasu sedikit tersenyum saat mendengarnya. "Choku Tomoe...kah?"
.
.
.
Kantin
Madara diam tanpa ekspresi saat Akeno duduk disebelahnya, Akeno menyadari ini dan kemudian menyentuh pipi Madara dengan lembut.
"Ada yang salah Madara?" Akeno bertanya dengan senyum.
Madara meliriknya dan kemudian menghela nafas. "Tidak ada" ucapnya dengan datar.
Akeno menaikkan alisnya saat Madara mengatakan itu, dia tidak yakin apakah Madara sedang tidak mood atau yang lainnya. Walaupun dia sering mempergoki Madara saat dia sendirian.
"Aku kebetulan membawa Cup Ramen kesukaan kita loh" Akeno berkata dan mengeluarkan dua Cup Ramen dari tas miliknya.
Madara menaikkan alis saat Akeno mengeluarkan Cup Ramen tersebut, dia melihatnya beberapa saat dan berkedip beberapa kali.
"Kau tidak pernah lupa ya, Akeno?"
Akeno terkikik "mana mungkin aku lupa makanan favoritmu, mau aku buatkan...?"
Madara menatapnya beberapa saat dan mengangguk, entah kenapa sifat hangat yang dulu ia pendam jauh-jauh didalam hati bisa muncul jika berada didekat Akeno, dia tidak mengerti bagaimana bisa terjadi, apakah Akeno memiliki sihir yang mampu menghipnotis dirinya?.
"Tunggu sebentar ya, Madara-kun"
Akeno berdiri dan berjalan kearah Ibu kantin, untuk meminta menyeduh ramen mereka berdua.
Madara berfikir apakah ambisi untuk membuat perdamaian dunia bisa ia ambil kembali, namun dia sekarang tidak terlalu tertarik dengan hal itu dia cukup nyaman dengan kehidupannya sekarang, walaupun ia merasa membohongi diri sendiri dan sedikit menbosankan.
Lalu ia memperhatikan Akeno yang sedang berbicara dengan ibu kantin. "Apakah pernah dirimu memiliki dendam dimatamu... kenapa kau masih bisa tersenyum dan tertawa?" Madara berguman pada dirinya sendiri.
Akeno berbeda dengan Madara, Akeno tetaplah Akeno dan Madara tetaplah Madara. Sifat yang berbeda Yin dan Yang, saat dua kekuatan berbeda saling bersatu maka akan menciptakan kebahagian yang nyata, namun itu mungkin bisa dalam bentuk yang berbeda.
*Beberapa menit kemudian*
"Ramennya sudah siap..."
Madara menggelengkan kepala dengan pelan saat Akeno berjalan kearahnya, Akeno tersenyum dan kemudian duduk disebelahnya.
"Ayo dimakan Madara-kun...hati-hati ini masih panas"
"Hmm.."
Madara telah lama tidak merasakan hal semacam ini setelah Akeno sering berada didunia bawah, karna Madara yang meminta agar Akeno bisa lebih mandiri dan tidak bergantung padanya, itu mungkin terlihat kejam bagi Akeno tapi itu untuk kebaikan dirinya.
Akeno mengingatkannya pada Adiknya Izuna, sifat mereka bahkan hampir sama, Izuna sangat menyayangi dirinya bahkan rela memberikan matanya untuk bisa mengalahkan Hashirama namun dia tidak mampu melakukanya.
"Kenapa Kaguya mengirimku kedunia aneh ini?"
Beberapa saat kemudian perhatiannya teralihkan keluar jendela kantin, dia yakin melihat sesuatu disana, namun anehnya dia tidak melihat apapun.
Akeno memperhatikan ini dan kemudian bertanya. "Ada yang salah Madara-kun?"
"Tidak...mungkin hanya perasaanku" ucapnya masih memperhatikan tempat itu. "Aku yakin ada sesuatu disana, atau pikiranku yang mulai tidak waras?"
Akeno menggangkat bahu dan kemudian melanjutkan makan ramen miliknya. Akeno mencoba untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk standar Madara, hayalan-hayalan tentang dirinya mengendarai Kuda bersama Madara seperti pangeran dan putri bak dunia dongeng sering ia bayangkan.
Issei memperhatikan mereka dengan pandangan bosan sekaligus iri sedangkan disampingnya ada Asia yang asik dengan dirinya sendiri, jujur entah bagaimana Madara bisa mendapatkan dua Great Onee-sama bahkan Koneko tanpa usaha. untung Buchou dan Koneko masih ada urusan dengan Kaichou, jika tidak pasti mereka akan nempel terus dengan Madara.
"Jujur padamu pathner, Madara entah bagaimana memiliki aura yang lebih dominan dari pada aura naga milikmu, aku tidak yakin bagaimana dia melakukanya tapi itulah yang terjadi" ucap Draig didalam pikirannya.
Issei yang mendengar penjelasan Draig sedikit bungung."maksudnya...?"
"Jadi begini, saat seseorang memiliki kekuatan naga pada dirinya, seketika itu pula aura mereka akan bercampur dengan aura naga itu sendiri, itulah sebabnya banyak perempuan yang tanpa sadar akan tertarik dengan aura tersebut, namun sepertinya aura pada tubuh Madara lebih dominan daripada milikmu"
"Bukan hanya itu, bahkan aku terkejut ada manusia yang bisa mengalahkan Juggernaut milik rivalmu, bahkan jika yang berhadapan dengan rivalmu saat itu adalah dirimu, kau pasti akan mati sia-sia"
Draig benar, Issei sekarang masihlah menyedihkan tapi mungkin suatu saat dia bisa mengunguli Madara dalam beberapa hal, mungkin Harem?, namun penghalang terbesar saat ini ada didepannya.
Bagi Draig seorang manusia fana mengalahkan kekuatan naga adalah suatu hal yang mustahil, namun dia harus menelan kata-katanya sendiri ketika melihat manusia bisa mengalahkan kekuatan naga tanpa bantuan alat apapun.
Menjadi Jinchuriki Shinju, Madara mendapatkan aura kehidupan yang melimpah, namun Draig dan Albion masih tidak mengerti bagaimana bisa Madara memiliki kekuatan seperti itu, mungkin juga karna Mereka tidak merasakan apapun ditubuh Madara selain aura kehidupan yang dominan.
"Aku semakin bingung Draig!" Ucap Issei sambil menggosok bagian belakang kepalanya.
Draig menghela nafas berat ketika melihat Host payahnya ini, "intinya adalah dia memiliki peluang besar menjadi raja Harem!" Draig berkata dengan asal.
Issei yang mendengarnya langsung pundung dan melatakkan kepalanya diatas meja. "T-tidak mungkin..berarti aku tidak mendapatkan apa-apa!...".
.
.
.
Di sebuah tempat didalam hutan terdapat beberapa binatang kecil maupun besar yang berlarian kesana kemari seolah sedang bermain satu sama lain, namun kegiatan binatang-binatang itu terhenti saat ada sesuatu yang sangat cepat menghatam tanah dengan keras.
*Wuss~Blarr*
Dari hasil hantaman tersebut terdapat sesosok manusia atau sesuatu yang sedang berjongkok dengan jubah hitam menutupi tubuhnya, namun disorot matanya memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Sosok itu terdiam sesaat lalu melihat awan diatasnya, dia mengepalkan tangan dan kemudian aura berwarna merah meledak dan disusul dengan kerangka rusuk berwarna merah mengelilingi dirinya.
Dia tertawa kecil dengan suara feminim, ketika angin menghempaskan tudung yang menutupi kepalanya, matanya tertutup dan kemudian dia membuka matanya dan seketika aura merah tersebut menghilang dari tubuhnya.
Matanya berwana hitam, wajahnya cantik alami dengan rambut hitam panjang sedikit bergelombang dibagian belakang, terlihat umurnya sekitar 16 tahun, dia masih tersenyum dan menggumamkan sesuatu.
"Akhirnya... aku akan membawamu"
Sesaat ketika ia mengatakan itu, terjadi retakan dibawah kakinya saat dia meluncur dengan sangat cepat kearah suatu kota didepanya.
.
.
.
Madara berjalan dengan santai bersama Akeno, setelah sekolah selesai Akeno memutuskan untuk tinggal bersama Madara selama beberapa hari dikuil, Madara masih diam tanpa ekspresi saat Akeno terus menempel dilengannya.
Akeno sangat senang akhirnya dia bisa pulang bersama dengan Madara dan bisa bersama kembali seperti keluarga, Akeno kemudian menatapnya dengan senyuman diwajahnya.
"Nee, Madara-kun?"
"Emm?"
Akeno sedikit terkikik melihat wajah Madara yang hanya fokus kedepan tanpa melihat kearahnya.
"Walaupun Madara orangnya dingin dan jarang berekspresi serbenarnya dia adalah orang baik"
Madara menaikkan alisnya saat Akeno hanya terkikik padanya, dia mengangkat bahu dan keheningan terjadi saat Madara mengalihkan pandangan kedepan. Namun dia tiba-tiba berhenti berjalan saat dia merasakan sesuatu.
Keingintahuan membuat Akeno mengalihkan perhatiannya saat Madara mendongak keatas seolah mencari sesuatu. "Ada apa Madara-kun?" Akeno bertanya sambil mengikuti apa yang dilakukan oleh Madara.
Madara mengaktifkan Sharingan miliknya saat Akeno menanyakan itu. "Akeno...cepatlah pulang aku akan menyusulmu nanti"
Akeno mengerutkan kening saat Madara mengatakan itu, dia menuruti apa yang dikatan oleh Madara walaupun itu berat, Dia tau jika Madara sudah dalam keadaan serius seperti ini jangan pernah membantahnya.
"Hati-hati Madara-kun"
Madara mengangguk dan memandang kepergian Akeno dengan tenang, dia mungkin terlihat jahat bagi Akeno, tapi dia terpaksa melakukan ini untuk keselamatannya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya keatas kesalah satu gedung tinggi pencakar langit, dan dalam sekejap dia menghilang dari tempat ia berdiri.
Sesampainya ia di atap salah satu gedung ia menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan.
"Kau merasakanku ya?".
Sosok itu tertawa kecil saat Madara tidak menjawab, "aku disini tidak untuk bertarung, kau tenang saja aku hanya ingin jalan-jalan sebentar" ucap sosok itu dengan menyilangkan lengan.
Madara masih tidak percaya dengan omong kosong itu. "Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu?" Desisnya.
"Baiklah...Baiklah, aku sebenarnya sedang bosan kau tau, ayolah kita para gadis juga punya rasa bosan" gadis itu berucap dengan pelan dan membalikkan tubuh kearah Madara.
Madara terkejut, "Sharingan...? Bagaimana dia bisa memiliki itu? Apakah di dunia ini ada klan yang berhubungan dengan Rikudou sennin? Apakah Indra berbohong padaku?" Madara mendesis dengan mata menyipit.
Gadis itu hanya diam melihat reaksi Madara, dan tiba-tiba entah bagaimana gadis itu telah ada dihadapannya dengan sekejap mata. Cakar raksasa berwarna merah menghantam tulang rusuk berwarna biru dan mengakibatkan hancurnya atap gedung tersebut.
Madara mengeraskan tatapan kearah gadis itu saat tulang rusuk Susanoo miliknya retak. "Choku Tomoe?, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana ia bisa mendapatkan itu?"
Gadis itu mengerutkan kening saat Susanoo milik Madara retak begitu mudah. "Jadi seperti itu..."
*poof*
Tiba-tiba Madara menghilang dan berubah menjadi kepulan asap berwarna putih dan meninggalkan gadis itu sendirian.
"Hanya Bunshin..kah? Yah...sepertinya tugasku selesai untuk hari ini"
.
.
.
Bersambung
Menghilangkan sedikit sifat-sifat yang tidak perlu, Madara terlalu baik?...saya juga memikirkan ini, namun sifat Madara asli memang seperti itu waktu bersama Hashirama, dia bahkan sering tersenyum.
Author lagi bokek jadi jarang Up, wifi mati terus gara-gara mati lampu gak kenal waktu, yah apa boleh buat cari wifi diluar author lagi mager.
Dunia fanfic sekarang terasa sepi ya?, tidak seperti tahun 2014, saat itu author pembaca setia fic Rama Dewanagari, terakhir kali beliau update tahun 2017 dengan judul The Uchiha.
Dan ditahun 2014 itulah author mengenal anime DxD walaupun hanya sekilas nonton di Youtube.
Jujur author gak pernah nonton DxD sejak season 3 dan walaupun season 4 sudah keluar lama, entah kenapa author males nonton, mata author pedes ketika nonton hal yang berbau Ecchi XD.
Author sekarang punya hobi baru nonton di Cartoon Network :D.
