Sage Arts
Chapter 12
"Jadi... bagaimana hasilnya?"
Gadis tersebut terdiam dan kemudian menatap Dewi Amaterasu dengan tubuh masih tertutup jubah.
"Saya harus mengakui, pemuda itu sedikit menarik!, walaupun yang aku temui hanyalah Bunshin"
"Bukan hanya menarik, dia juga tampan" saut Dewi Amaterasu dengan senyuman yang menawan.
Sedangkan gadis itu hanya terdiam ketika Dewi mengatakan itu, dia tidak mengerti tentang ketertarikan dengan lawan jenis selain pertempuran, dia dari kecil tidak pernah mendengar tentang hal-hal semacam itu, jadi ketika Dewi mengatakan hal semacam itu dia sedikit bingung.
"Hmm...Amaterasu-sama... ketika saya bertemu dengan pemuda itu, saya seolah merasakan sesuatu didalam tubuhnya, saya tidak terlalu yakin apa itu jadi saya ingin betanya sesuatu"
Dewi Amaterasu merengut dan memijit pelipisnya dengan lembut. "Jadi kau juga merasakanya" .
"Maksud Dewi...Anda juga merasakanya?" Gadis tersebut bertanya dengan rasa ingin tau, kemudian dia berjalan selangkah saat telinganya ingin mendengar jawaban langsung dari sang Dewi.
"Hmm...ya ketika pemuda tersebut bertarung dengan Hakuryuukou, namun energi tersebut menghilang begitu saja, atau mungkin dia sengaja menyembunyikan energi tersebut karna banyak yang merasakan, akupun bertanya pada diriku sendiri tentang energi itu, energi kehidupan yang begitu melimpah bercampur dengan chakra yang begitu besar "
Gadis tersebut sedikit mengangguk, dia paham apa yang dimaksud sang Dewi, "jadi seperti itu"
Dewi Amaterasu sedikit tertawa dengan hal semacam ini, menurutnya ini menarik untuk diteruskan. "Lanjutkan misi rahasiamu, bahkan Yasaka dan saudaraku tidak tau misi ini...Emmt dan satu hal jangan terlalu kasar" ucap sang Dewi sembari menatap cermin ditangannya.
Gadis tersebut menatapnya sejenak dan kemudian mengangguk, beberapa saat kemudian dia menghilang dari hadapan sang Dewi dan meninggalkan kepulan asap berwarna putih.
"Semoga berhasil Naori-chan"
.
.
.
Madara terdiam ketika Shuri dan Akeno ada dihadapanya dengan keadaan setengah telanjang, dia tidak mengerti kenapa mereka mau melakukan hal seperti ini, setelah Madara menjelaskan panjang lebar tentang kejadian beberapa waktu yang lalu entah kenapa Akeno dan Shuri menjadi manja seperti ini, Shuri menganggap Madara sudah seperti anak kandungnya sendiri tapi entah kenapa seolah jauh dilubuk hatinya, ia ingin Madara lebih dari seorang anak.
Sedangkan Madara menganggap mereka seperti keluarganya sendiri, seperti ibu dan saudara perempuan, seperti halnya Ibu kandung dan adik kandung.
Akeno dan Shuri tersenyum, dan entah kenapa seolah senyuman tersebut begitu menakutkan dimatanya.
"Ara..Madara-kun kenapa hanya diam?, apa kita kurang menarik bagimu?, jangan menahan nafsumu, lepaskan dan santai saja...Okaa-san dan Akeno akan dengan senang hati meringankan Stres-mu" Shuri berkata sambil mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat.
Madara tidak menjawab, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Indra, cinta dan nafsu hampir tidak ada bedanya, tapi kenapa mereka mau melakukan hal ini, memang benar Madara bukan anak kandung Shuri, tapi ini terkesan?...entahlah.
Akeno melakukan hal yang sama, dia mendekat dengan semburat merah dipipinya. "Nee...Madara-kun santai saja ini tidak akan sakit"
Madara mengerutkan dahi, dari mana Akeno tau jika ini tidak sakit?...jika dibiarkan terus mereka akan bertindak tidak senonoh terhadapnya dan melecehkannya, jika ada hukum didunia ini tentang pelecehan yang dilakukan oleh wanita mungkin dia akan melaporkan mereka berdua kepada Komisi Perlindungan Kehormatan Pria.
"Santai saja Madara-kun... ini sebagai ucapan terima kasih dari Okaa-san tercintamu ini"
Sedangkan Akeno tersenyum dan kemudian ia mengatakan sesuatu. "Itu benar apa yang dikatakan oleh Okaa-san, Madara-kun, Sebagai ucapan terima kasih karna menyelamatkan Okaa-san"
Setelah mengatakan itu mereka berdua mendekat dan menjulurkan lidah, Madara mundur selangkah namun tanpa dia sadari ada tembok dibelakangnya, Madara mendengus karna terpojok sedangkan mereka semakin dekat.
"Ara...fuufuu"
*poof*
.
.
.
Terdengar helaan nafas disebuah tempat, lebih tepatnya ini adalah sebuah bukit dan dipuncak bukit tersebut ada seseorang yang sedang menatap kuil dibawahnya.
"...kenapa mereka melakukan hal semacam itu?"
Sebuah tanda tanya muncul ketika memikirkan itu, dia tidak menyangka keluarga barunya benar-benar tidak waras, dia tidak ingin menjadi Issei ke-dua atau gumpalan nafsu yang berjalan kesana-kemari mencari Oppai, dia hanya ingin hidup normal tanpa ada yang mengganggunya, apa itu sulit untuk di temukan?.
"Aku akan gila..."
Madara memandang awan diatasnya dan mulai berbaring dengan kedua lengan dibelakang kepala sebagai sandaran, ia menutup matanya membiarkan semilir angin menerpa wajah dan tubuhnya.
*Alam bawah sadar*
"Nah... itu membingungkan" Indra berucap dan menyandarkan tubuhnya di tembok dan menyilangkan lengan.
"Maksudmu?"
"Kenapa kau menolak mereka berdua?... padahal aku berharap banyak padamu!" Indra berkata dan masih dengan kegiatan yang sama. Sedangkan Madara menaikkan alis ketika Indra mengatakan itu.
"Kau adalah penerusku Madara, jika bukan kau terus siapa lagi, Sasuke?...apa kau lupa Sasuke sudah tewas ditanganmu!"
Bagi Indra, klan adalah yang paling utama baginya, dia adalah leluhur bagi Uchiha termasuk Madara, dan Madara pasti tau akan hal itu, tapi kenapa Madara menolak hal semacam ini.
"Aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal semacam itu...aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu"
Sedangkan Indra hanya diam dan menutup mata, dia sudah tau pasti Madara akan bertanya tentang hal itu.
"Siapa gadis yang memiliki Sharingan itu?...bagaimana ia mendapatkannya?" Madara bertanya dengan mata menyipit.
Indra masih terlihat santai, walaupun ia juga sedikit terkejut dengan gadis yang memiliki Sharingan di dunia ini. "Aku juga sedikit terkejut sama seperti dirimu Madara...seorang gadis dari dunia ini yang memiliki Choku Tomoe!, hanya beberapa orang yang memilikinya, termasuk aku dan dirimu!" Indra menjawab dengan masih melipat lengan.
"Pada dasarnya Mangekyou Sharingan bangkit jika seorang Uchiha memiliki emosi di dalam dirinya... kau juga tau akan hal itu kan Madara?...jika dugaanku benar mungkin gadis itu lahir didunia ini."
Madara mengerutkan dahi ketika Indra mengatakan itu. "Bukankah Uchiha hanya ada didunia kita...jika itu benar apa yang kau katakan, apa mungkin ada Uchiha lain didunia ini?"
"Itu memang benar...tapi sepertinya kau melupakan sesuatu, ada beberapa pengguna Sharingan yang memiliki kemampuan antar dimensi seperti halnya Kamui, namun Kamui juga memiliki batas tertentu, tetapi jika pengguna Kamui memiliki mata saudara mereka, itu hasilnya akan berbeda" Ucap Indra sembari menutup mata dan mengangguk.
Itu cukup masuk akal, pengguna Kamui seperti dirinya dan Obito memang memiliki kemampuan antar dimensi tertentu, namun Kamui juga memiliki batas jarak dan ruang, cukup sederhana memang tapi itu kemampuan yang cukup langka.
"Dan untuk pertanyaan kedua, aku tidak tau... bisa Iya dan Tidak...siapa yang tau!"
Sedangkan Madara terlihat tidak terlalu senang dengan jawaban Indra, entah kenapa seolah-olah Indra meyembunyikan sesuatu. Memaksa Indra untuk memberitahunya juga sepertinya sia-sia, atau memang Indra juga tidak tau jawabanya, entahlah.
"Baiklah...sebagai ucapan maaf, bagaimana jika kita berlatih sebentar dan aku akan membuka sedikit segel Rinnegan milikmu"
Madara sedikit terkejut ketika Indra menawarkan hal itu, dia tau kalau Indra sering mengucapkan hal yang acak dan sulit ditebak, Madara kemudian mengangguk dan menerjang Indra yang masih berada dalam posisi santai.
.
.
.
Naori Uchiha gadis misterius yang sedang menjalankan tugas dari Dewi Amaterasu, namun sepertinya ia sedikit mengubah penampilan dari yang sebelumnya memakai jubah, dan sekarang memakai pakaian yang sedikit terbuka . Dia berjalan dengan santai tanpa memperdulikan orang-orang yang mengagumi kecantikanya, wajahnya memang manis dan cantik namun siapa yang tau jika dia memiliki sesuatu dalam dirinya.
Kemudian pandangannya teralihkan ketika melihat sebuah gang didepan, dia tersenyum kecil dan berjalan kearah gang tersebut, tapi saat ia berjalan dengan santai, ada segerombolan anak brandalan yang menyeringai kearahnya.
"Nah...sepertinya kita memiliki mangsa yang mudah" Ucap salah satu pemuda yang ada dibelakang Naori.
"Lihatlah tubuhnya... begitu Bohai"
Segerombolan pemuda tersebut tertawa dan mengelilingi Naori dengan pandangan nafsu, Naori terdiam dan memandang sekeliling dengan pandangan datar, dia tidak mengira manusia seperti mereka begitu menyedihkan.
"Neng...mau kemana?...mau abang anterin?"
"Itu benar Neng manis, abang kagak gigit"
"..."
Namun tiba-tiba salah satu pemuda tersebut menerjang kedepan ingin menangkapnya, Naori menghindar dengan mudah dan menendang wajah pemuda tersebut sampai terpental dan menabrak tempat sampah hingga pingsan. Mereka terkejut ketika melihat teman mereka kalah begitu mudah.
"Hmm...siapa selanjutnya?" Naori bertanya dengan senyum diwajahnya.
Mereka yang melihat senyum Naori mulai mundur selangkah dan berlarian kesegala arah.
"Emakk..."
"Dasar pengecut..."
Menghela nafas dan kemudian tersenyum sedikit, "Dunia manusia tidak terlalu buruk...sangat berbeda dengan yang ada di Istana Amaterasu-sama".
Dibesarkan dilingkungan Istana Shinto, Otomatis dia tidak pernah bergauil dengan manusia apalagi memiliki teman, dia dari kecil hanyalah memiliki beberapa pengasuh yang sering bermain denganya. diamenghela nafas sekali lagi dan berjalan kedepan, tangan kanannya terangkat dan tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras.
"Hanya hujan biasa"
.
.
.
Saat dia berjalan santai tanpa memperdulikan jika bajunya basah kuyup sembari menatap gedung-gedung tinggi, tiba-tiba ia mendengar suatu diperutnya, dia mengangkat alis dan mulai berjalan sedikit lebih cepat.
"Huff...cari yang hangat dan berkuah, Ramen"
Dengan cepat ia berlari melewati hujan yang sepertinya tidak mau berhenti mengguyur jalanan kota, beberapa menit kemudian dia memperlambat berlarinya saat matanya menemukan kedai Ramen dipinggir jalan. Dia sedikit tersenyum saat ia mendekati kedai tersebut.
"Ini..dia, tapi aku tidak mungkin memakai pakaian basah seperti ini!"
Ia sadar bahwa bajunya basah kuyup, dia melihat sekeliling untuk melihat apakah ada orang di sekitarnya, ketika sudah yakin disekitarnya tidak ada orang, tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan uap panas dan dalam sekejap, baju yang ia pakai kering seperti sedia kali.
Dia tersenyum kecil dan mulai masuk kedalam kedai ramen tersebut, ia melihat sekeliling namun matanya berhenti ketika melihat gadis kecil dengan belasan mangkuk ramen kosong didepanya. Dia sedikit terkejut melihat gadis kecil itu.
"Ophis?...apa yang ia lakukan disini?"
Sementara gadis kecil yang bernama Ophis tersebut hanya diam ketika Naori menatapnya, Ophis perwujutan dari Naga tanpa batas hanya meliriknya sebentar dan melanjutkan kegiatan yang tertunda.
Naori kemudian mengalihkan pandanganya kearah bangku kosong didepannya, dia melangkah kedepan dan mulai duduk ditempat tersebut, walaupun ia sedikit heran dengan Ophis makan ditempat seperti ini, dia yakin Ophis tidak peduli dengan dunia ini dan sesuatu yang ada didalamnya, yang ia pedulikan hanyalah pulang ke celah Dimensi yang telah ditempati oleh Gread Read.
Tapi kenapa Ophis mau repot-repot ketempat seperti ini jika tidak ada sesuatu yang menarik baginya?, namun perhatianya teralihkan kepintu kedai ketika ada sepasang anak muda yang sedang bergandengan tangan, Naori meliriknya dan sedikit tersenyum.
Madara menaikkan alisnya saat gadis kecil yang ia temui bertahun-tahun yang lalu tidak tumbuh sama sekali, namun matanya sedikit menyipit saat matanya menatap Naori yang sedang melirik kearahnya.
"Akeno...kita tidak jadi makan disini, kita cari tempat yang lain"
Sedangkan Akeno yang berada sampingnya hanya sedikit mengeluh ketika Madara mengatakan itu, "tapi...Madara-kun"
Madara tidak menjawab dan kemudian menarik Akeno keluar dari kedai tersebut, tanpa memperdulikan Akeno yang hanya bisa merengek seperti anak kecil.
"Pelan-pelan Madara-kun"
Naori menatap kepergian mereka berdua dengan diam, dan kemudian pandanganya teralihkan kearah Ophis, namun entah bagaimana Ophis menghilang begitu saja meninggalkan belasan mangkok Ramen kosong dimeja.
"Jadi dia target Ophis?...ini semakin menarik"
.
.
.
"Madara-kun...ada apa?" Akeno bertanya saat Madara terus menarik tanganya dan berjalan cukup cepat, Madara berhenti sebentar dan kemudian menatap Akeno.
"Dengarkan aku Akeno...mereka adalah orang yang mengincarku...aku tidak ingin mengambil resiko jika kau ada didekatku"
Akeno sedikit terkejut ketika Madara megatakan itu. "Maksudmu gadis kecil dan gadis remaja tersebut?" Akeno bertanya dengan wajah sedikit Khawatir.
Madara mengangguk. "Ketahuilah, bahwa gadis kecil tersebut yang paling berbahaya, aku tidak tau bagaimana ia melakukanya, namun itu sepertinya hanyalah kedok untuk menutupi wujud sebenarnya" Madara menjelaskan dengan wajah serius.
Akeno terkejut dan kemudian menganggukan kepala, "aku mengerti Madara-kun"
"Bagus... jika kau bertemu salah satu dari mereka lebih baik menghindar, apapun yang terjadi"
Madara beruntung kalau Akeno tidak terlalu rewel, tidak seperti gadis lain yang sedikit keras kepala, Akeno pasti akan menuruti apapun kemauan Madara bahkan jika Madara ingin 'itu', namun yang kita ketahui Madara bukanlah tipe hal yang seperti itu.
.
.
.
"Hujan telah behenti...kebetulan sekali"
Naori keluar dari kedai dengan pandangan datar, setelah menghabiskan waktu di tempat ini, akhirnya ia bisa melanjutkan pengawasannya dan itung-itung ini sebagai Refreshing setelah hari-hari yang membosankan di Istana. Dia melompat keatas dan melompati setiap atap toko dan gedung yang ia pijak, senyum manis ia tunjukan ketika sinar matahari mulai menunjukan cahaya-nya dibalik awan.
"Amaterasu-Sama terimakasih karna anda sudah merawat saya dari kecil...sebagai ucapan terimakasih, saya tidak akan mengecewakan Anda"
Naori memandang beberapa hamparan gedung dan rumah, dan beberapa saat kemudian dia sedikit menyunggingkan senyum di wajah manisnya. "Ini sebenarnya tidak terlalu buruk, pada dasarnya mereka membuat rumah untuk bertahan dari terik matahari dan terpaan badai serta dinginya malam. Amaterasu-sama dan Susanoo-sama serta Tsukuyomi-sama...mereka semakin lemah dan mereka butuh kandidat yang cocok untuk meneruskan fraksi Shinto, sedikit demi sedikit manusia mulai meninggalkan kepercayaan Shinto dan mulai mempercayai fraksi lain yang lebih besar".
Naori menghela nafas dengan mata tertutup, kemudian aura merah mulai keluar dari tubuhnya disusul dengan retakan atap gedung yang ia pijak, matanya terbuka menampilkan mata merah dengan pola seperti bunga dengan tiga kelopak, dia hanya diam dan melesat dengan cepat menuju kearah yang tidak diketahui.
.
.
.
(Warning...18+)
Akeno berjalan berdampingan dan beberapa kali melirik sembari menatap wajah Madara dengan semburat merah di pipinya, entah apa yang ia pikirkan sampai membuat ia sampai seperti ini,.
Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, namun seolah-olah ia tidak bisa mengatakan itu, Madara memperhatikan ini, dia meliriknya sebentar dan bertanya sesuatu kepadanya.
"Ada apa, Akeno...?"
"T-tidak apa-apa!"
Madara mengerutkan dahi saat Akeno mengatakan itu, dia bisa melihat jika Akeno mungkin menyembunyikan sesuatu.
"Apa kau sakit?...pipimu merah, jika kau sakit kita akan pulang ke kuil, aku akan menggendongmu!" Madara menawarkan.
Akeno sedikit senang atas perhatian Madara namun bukan itu yang mengganggu pikirannya, Akeno menggelengkan kepala dengan pelan dan kemudian menatapnya.
"T-tidak perlu Madara-kun...aku baik-baik saja..hanya saja..."
"Hmm?.."
"H-hanya S-saja... bagaimana ini?"
Akeno terdiam tidak melanjutkan kata-kata yang akan ia ucapkan, tanpa disangka-sangka oleh Madara, Akeno menarik tangan Madara dengan sedikit paksaan dan mulai berjalan dengan sedikit cepat, Madara merengut ketika Akeno menariknya dengan kasar, dia tidak mengerti apa yang Akeno ingin lakukan, beberapa saat kemudian mereka berhenti ditempat yang sangat sepi atau bisa dibilang ini adalah semak belukar.
"Akeno?..apa yang..."
Madara harus menghentikan ucapanya saat dia merasakan sesuatu yang lembut dibibirnya, dia membulatkan mata ketika tiba-tiba Akeno menciumnya tanpa persetujuanya, awalnya ini adalah ciuman biasa tetapi lama-kelaman menjadi ciuman penuh gairah, namun Madara semakin terkejut saat dia merasakan ada sesuatu yang ingin masuk kedalam mulutnya, dia bisa merasakan jika ini adalah lidah milik Akeno.
Dia ingin menghentikan ini, namun Akeno tidak membiarkan itu terjadi, beberapa menit mereka melakukan kegiatan mereka, akhirnya Akeno memutuskan untuk berhenti karna butuh oksigen untuk bernafas.
"Huff"
Mereka berdua tetap diam, Akeno hanya menundukkan kepala sedangkan Madara tidak tau apa yang harus dilakukan dengan hal seperti ini, ini adalah hal yang baru baginya, Namun tiba-tiba Akeno berjongkok dengan wajah yang memerah dan mata terlihat sayu, kedua tangannya terangkat dan mulai meraba sesuatu, Madara melenguh saat area pribadinya disentuh oleh Akeno.
Sedikit demi sedikit benda yang diraba oleh Akeno mulai membengkak dan semakin membesar, Madara meringis saat celana miliknya yang ia pakai semakin sempit, Akeno tersenyum dan mulai membuka resleting milik Madara, dikit demi sedikit benda tersebut mulai keluar dari celana milik Madara, namun Akeno semakin terkejut ketika melihat benda tersebut sebesar lengan.
"I-ini...besar s-sekali...milik Madara-kun"
Akeno memegang benda tersebut dengan lembut menggunakan kedua tangan karna saking besarnya benda tersebut, dia memerah dan kemudian ia mulai memaju mundurkan tangannya keatas dan kebawah, Madara mengeraskan giginya saat merasakan sesuatu yang nikmat di area pribadi miliknya.
"A-Akeno apa yang kau l-lakukan?"
"Madara-kun menyukai ini?...dasar nakal"
Madara terkejut bukan main, namun entah kenapa dia mulai menikmati apa yang dilakukan oleh Akeno, Akeno tersenyum dan mendongak keatas ketika dia bisa melihat jika Madara mulai menikmati apa yang ia lakukan.
"Seperti yang aku harapkan, Madara-kun mulai menikmati ini... terima kasih Issei karna sudah meminjamkan ponselmu"
Akeno kemudian mengalihkan perhatiannya kembali kebenda tersebut, ia memajukan wajahnya agar lebih dekat dan ia mulai berfikir apakah benda tersebut muat dimulut kecil miliknya?.
"Ini bau laki-laki!"
Akeno menjulurkan lidah dan mulai menjilat kepala benda tersebut agar lebih basah, Madara meringis ketika merasakan sesuatu yang basah lembut dan hangat mengenai benda miliknya.
"Kusoo"
Akeno sedikit demi sedikit mulia memasukkan benda milik Madara tersebut kedalam mulutnya, walaupun benda tersebut tidak bisa masuk sepenuhnya kedalam mulut namun setidaknya ia bisa membuat Madara menikmati hal ini, Akeno mulai memaju mundurkan kepalanya agar Madara semakin menikmati apa yang ia lakukan.
"Emhss, Emm"
Madara meringis dan melenguh, dia tidak percaya apa yang ia rasakan adalah sesuatu hal yang tidak bisa ia katakan, tanganya tanpa sadar terangkat dan memegang kepala Akeno, namun tanpa disangka oleh Akeno, Madara dengan kasar menghentakkan pinggulnya ke depan agar benda miliknya lebih masuk lebih dalam.
"Emttmhh"
Akeno terkejut saat benda tersebut sampai ketenggorokan, matanya terangkat keatas saat Madara memaju mundurkan kepalanya, Akeno gelojotan dan tidak bisa melakukan banyak hal namun ia sedikit senang karna Madara tidak menolak apa yang ia lakukan. Beberapa menit kemudian Madara semakin mempercepat gerakanya saat sesuatu yang nikmat ingin keluar dari benda miliknya.
"Sial...kenikmatan mengerikan macam apa ini?"
Akeno kualahan dengan gerakan yang dilakukan oleh Madara saat gerakan tersebut semakin cepat dan kasar, dia hanya bisa pasrah apa yang dilakukan oleh Madara terhadap tubuhnya.
"Eghh..."
Tiba-tiba cairan putih kental dan hangat mulai memenuhi mulut Akeno, dia sedikit terkejut dan mulai tersedak saat cairan putih tersebut sangat banyak memenuhi tenggoraknya bahkan sampai meluber keluar, Madara menyadari ini dan mulai mencabut benda miliknya tersebut dari mulut Akeno.
"Fuahh..uhuk-uhuk"
Benang tipis yang terbuat dari cairan tersebut menjadi pembatas antara Akeno dan Madara, ketika ia mulai mencabut benda tersebut dari mulut Akeno.
Akeno kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menutupi mulutnya agar cairan putih tersebut tidak keluar dari mulutnya, Akeno dengan senang hati menelan cairan kental tersebut tanpa masalah sama sekali.
"Emt..Cairan Madara-kun...manis"
Madara tidak tau apa yang harus dilakukan. "Maaf Akeno... "
Akeno tersenyum dengan semburat merah dipinya. "Ara...tidak apa-apa Madara-kun...aku yang menginginkan ini, aku tau jika pikiranmu sedang stres dan aku tau kau telah bekerja keras... setidaknya dengan begini aku bisa meringankan pikiranmu"
.
.
.
"Akeno?" Madara memanggilnya beberapa kali dengan nada sedikit jengkel dalam suaranya, sedangkan Akeno hanya diam dengan senyum aneh diwajahnya.
"Muehehehe"
"Akeno?"
Akeno tersentak dengan semburat merah di pipi dan kemudian menatap Madara yang ada di depanya. "Ehh...apa yang terjadi?". Akeno bertanya dengan sedikit kebingungan.
Madara menghela nafas dan kemudian menyentuh jidat Akeno dengan lembut. "Kau melamun, dengan senyum aneh diwajahmu!" "Mouu"
Akeno terkejut dan malu, ternyata kejadian tadi hanyalah angan-angan semata. "Huff...jadi tadi hanyalah pikiran mesumku?". Batin Akeno dengan sedikit malu.
"Ehehehe"
Madara memperhatikan gelagat Akeno dengan menaikkan alis, namun dengan cepat ia mengangkat bahu tanda ia tidak terlalu peduli.
"Ayo kita pulang Akeno...Ibumu pasti khawatir!"
"Tapi...aku ingin makan, Madara-kun, kita sudah berjanji tadi"
Madara menghela nafas "Baiklah..". Sedangkan Akeno yang mendengarnya terlihat senang, sudah lama mereka tidak makan bersama seperti keluarga.
"terima kasih...Madara-kun"
Bersambung
Author terinspirasi dari anime Hentai yang ahthor tonton XD, sebenarnya bukan anime sih, lebih tepatnya Sfm (source film maker) grafiknya sangat best lah, walaupun yang author tonton cuma parody dari karakter game Overwatch namun karakter ceweknya memang bikin celana sempit :).
Sebenarnya author benci dengan hal Ecchi tapi entah kenapa author demen banget nonton Hentai (SFM) terutama dari StudioFow :v, mungkin karena banyak karakter game yang diparodikan seperti karakter dari game DOA dan Resident evil.
Best 3D
Entah kenapa Author mulai menyukai kartun Amerika :)
Sudahlah nanti author ketahuan sama Istri author XD.
Author bersyukur karna istri Author sudah hamil 2 bulan, masa-masa yang rentan apa lagi ada wabah virus Covid-19. Di Indonesia sudah ada 500 lebih korban yang terpapar virus Covid-19, dan author terpaksa kerja dirumah.
Terus berdoa dan memberikan semangat kepada para korban dan dokter yang bertugas menangani korban Virus Covid-19.
