Sage Arts
Chapter 14
Uchiha Naori, entah kenapa gadis tersebut sangat antusias jika berhubungan dengan seseorang yang memiliki marga yang sama dengan dirinya. Bukan dia jatuh cinta atau apa dia hanya penasaran, seberapa kuat orang yang ia awasi itu.
"Dia adalah misteri... jika apa yang dikatakan oleh Amaterasu-sama benar, kemungkinan besar akan sulit. Mungkin ini adalah ujian terbesarku selama ini, mengingat tidak ada manusia yang lebih kuat dariku, lupakan soal pemegang True Loginus itu. Bahkan aku tak tertarik sama sekali" Naori berbicara sendiri sembari mengingat hal yang pernah dikatan oleh Dewi Amaterasu.
"Naori..apa kau ingat sejarah klan Uchiha?" Dewi itu bertanya dengan wajah masih tersenyum, senyuman yang akan membuat sebagian besar orang akan terpesona ketika melihat senyum tersebut.
Naori menggelengkan kepala dengan pelan, pertanda ia tak mengetahui sejarah klan-nya sendiri.
.
.
.
Seorang siswa yang mengalahkan Hakuryukou dalam mode Jugernaut dan berhasil selamat, walaupun harus dibayar dengan keadaan sedikit menyedihkan, walaupun seperti itu, itu bukan prestasi yang sepele. Menggelangkan kepala dengan pelan gadis tersebut mencoba mengorek informasi lebih lanjut.
"Dia bahkan memiliki Senjutsu hampir sempurna, tidak ada mahkluk yang bisa melakukan hal tersebut, tunggu dulu... aku paham sekarang" gadis tersebut menyeringai ketika mengetahui fakta atau sebuah teori tentang Madara.
"Kau lebih cerdas dari yang aku kira... Madara-Uchiha"
Namun disinilah dia duduk diatas sebuah pohon, menutup mata dan menggoyang-goyangkan kaki mulusnya. Gadis tersebut menginat kembali apa yang pernah di ucapkan oleh Dewi Amaterasu kepadanya. "Naori-chan seorang Uchiha memiliki perasaan Cinta yang sangat kuat, itu fakta, namun cinta secara bersamaan dapat membuat Uchiha tunduk pada emosi yang kuat, dimana ketika sesuatu yang mereka cintai lenyap"
.
.
.
"Aku akan menciptakan dunia baru yang melampaui semua itu" Gadis tersebut bergumam pelan dan membuka mata, mata hitam yang memancarkan tekat yang kuat.
perhatiannya teralihkan saat sesuatu yang menarik melintas di kejauhan. "kau selalu melindungi gadis itu?...aku bahkan tidak mengerti, apa itu yang dinamakan...?, tidak, itu aneh!" Naori merengut saat memikirkan itu.
"Cinta..?, Kekuatan adalah satu-satunya"
Jika dipikirkan lagi, mungkin pertanyaan tersebut tidaklah aneh jika sesorang tersebut tidak pernah merasakan apa itu cinta dan kasih sayang, namun bagi Naori yang hanya mengerti tentang pertempuran dan kekuatan, mungkin itu aneh bagi dirinya secara pribadi.
"Memikirkan hal tersebut membuat kepalaku sakit, aku hanya perlu mengawasi dirinya. Ini mungkin memakan waktu yang sangat lama, namun agar berjalan lancar, aku hanya butuh kesabaran". Naori berucap pada dirinya sendiri dan mulai berdiri dari dahan pohon tersebut, beberapa saat kemudian sebuah distorsi ruang menghisap gadis tersebut dan menghilang dari tempat itu.
.
.
.
"Nee...Madara apa punyamu besar?" Sebuah pertanyaan konyol terlontar dari mulut seorang gadis dengan kacamata besar dan rambut coklat yang ada didepan Madara, sebuah perempatan seketika muncul di kepala laki-laki tersebut tanpa memperdulikan, maksud sebenarnya dari pertanyaan itu.
Madara mencoba untuk tetap sabar, agar ia tidak membunuh gadis Ngeres bin Cabul yang ada di depanya.
Raynare memincingkan mata kearah Kiryuu yang hanya menatap Madara dengan pandangan tak berdosa. "Kiryuu, kau ini perempuan tapi bejat banget sih" Raynare berucap sedikit pelan agar Sensei mereka tidak mendengar.
"Cepat berbalik atau aku laporin ke Kepala Sekolah!" Raynare mengancam gadis tersebut dengan melototkan mata.
.
.
.
Madara memutuskan untuk sementara ini menjauh dari kerumunan Sekolah, yah sekolah itu menjengkelkan, menjadi tampan dan Badass itu mungkin sesuatu yang dinginkan oleh setiap laki-laki, namun dalam kehidupan ini hanya kedamaian sejati yang ia inginkan dari dulu.
Disinilah dia sekarang diatap sekolah, mamandang awan membiarkan semilir angin menerpa wajah tampan miliknya, dan membiarkan Bunshin miliknya nmelakukan semua kegiatan dikelas.
Jujur saja, dunia baru ini mungkin terlihat normal bagi mereka yang tidak bisa melihat ataupun merasakan, namun berkat Akeno dan Baraqiel akhirnya ia menyadari dunia ini berbeda dari dunia Shinobi.
Dunia Supranatural, dunia yang dianggap hanya mitos namun secara mengejutkan memang ada. Madara mulai berfikir apakah Dunia Limbo sama dengan dunia Supranatural?.
Namun ketenangan tak bertahan lama saat sesuatu mendekat kearahnya, "..pengganggu" sosok tersebut berjalan kearah Madara dengan perlahan. "Madara-san?" Panggil sosok tersebut dengan pandangan sulit diartikan.
"Hn"
"Boleh aku duduk?"
Madara tidak menjawab, tempat ini adalah tempat umum siapapun boleh duduk disini. Mengetahui jika Madara tidak menjawab, sosok yang ternyata kaicho tersebut memutuskan duduk disebelahnya. "Ada apa Sona?" Madara bertanya tanpa repot-repot untuk melihat Sona yang ada disampingnya tersebut.
"Hmm...tidak ada, aku hanya biasa kesini jika kepalaku pusing dan kebetulan aku bertemu denganmu disini"
"..."
"Madara-san?...apa menurutmu aku menyebalkan?"
Madara menaikkan alisnya dan kemudian menatap Sona yang sedikit menunduk. "Maksudmu?" Madara bertanya dengan sedikit bingung dalam suaranya.
"Aku melihatmu saat bersama Akeno, aku bisa melihat jika Akeno sangat senang dan aku melihat kau tersenyum kepadanya. Maksudku...apa aku begitu menjengkelkan bagi semua orang?" Sona menunduk dan sedikit malu ketika mengatakan hal itu, ada sedikit perasaan kecewa pada dirinya sebagai seorang Kaicho, seolah dia tidak pantas sebagai seorang pemimpin.
Sona mungkin terlihat aneh menayakan hal ini kepada Seseorang yang tak begitu dekat dengannya, tapi siapa yang peduli, toh lagipula tak ada yang melihat, menurut Sona.
Biasanya Sona bisa menghadapi masalah sendiri tanpa bantuan seseorang, tapi mengingat ini adalah masalah yang tidak bisa dilakukan olah otak encernya, mengingat ini adalah masalah perasaan yang muncul dari dalam hati.
Madara jelas tidak tau apa yang harus dikatakan, Sona memimpin kelompoknya dengan caranya sediri tidak ada yang salah tentang hal itu. Bahkan Rias yang memiliki sifat yang berlawanan dengan Sona.
Tapi kenapa Sona menanyakan hal tersebut?. "Tidak ada yang salah tentang hal itu, kurasa. Jadilah pemimpin yang yang berguna, namun terkadang peraturan tidaklah selalu menjadi patokan. Contohnya adalah Rias, lihatlah dia... apa dia selalu melakukan sesuai peraturan?. Namun jika dirimu ingin sebuah saran, jadilah dirimu sendiri jika itu untuk kabaikan teman-temanmu, intinya adalah teman-temanmu adalah yang utama"
Sona mengangguk paham, jadi itu kekurangan yang ada pada diri Sona, "aku pernah dalam posisi yang sama, dulu aku menganggap Kekuatan adalah segala hal tanpa memperdulikan teman-teman yang selalu ada untukku" ingatan tentang Hashirama terngiang di kepalanya. "Namun ketika aku bertemu Akeno aku sadar, kekuatan bukanlah segala hal!"
Sona sedikit terkejut, fakta bahwa Madara tidak seperti sekarang, namun Sona senang atas saran yang di berikan oleh Madara kepada dirinya, seorang pemimpin yang baik harus menerima kritik dan saran dari orang-orang disekitar. "Terima kasih Madara-kun" Sona mengangkat kepalanya dan tersenyum kearahnya. Senyuman tulus, tanpa embel-embel keformalan Sona tunjukan kearah laki-laki tersebut
.
.
.
"Aneh" ucap seorang gadis yang berdiri diatas gedung tak jauh dari tempat Madara dan Sona, dengan mata merah dengan pola bunga tiga kelopak bersinar dengan cerah.
Namun kemudian ia sedikit tersenyum. "Lembut seperti biasa..hmm". Beberapa saat kemudian gadis tersebut menutup matanya dan duduk dan kemudian membuka matanya yang telah berganti warna hitam.
"Seperti apa masa depan yang akan datang?, apa Uchiha akan menjadi penyelamat bagi Dunia ini? Atau sebaliknya?" Pertanyaan sulit yang ia lontarkan pada dirinya sendiri, dan hanya Kami-sama yang tau jawabanya.
"Aku sepertinya harus kembali dan melapor kepada Amaterasu-sama" kemudian distorsi ruang menghisap gadis tersebut dan menghilang dalam kesunyian.
.
.
.
Ruang Klub
"Hentikan itu dasar pembantai" sebuah teriakan cempreng terdengar di ruang Klub Orc, Rias menghela nafas sedangkan Koneko dan Asia mencoba menenangkan Issei yang berontak.
"Astaga Issei, ini hanyalah suntikan biasa, kau itu iblis tidak perlu setakut itu" Rias memijit pelipisnya dengan lembut.
"Terus jika aku Iblis kenapa aku harus disuntik?" Issei berteriak dengan wajah ketakutan dan mencoba lepas dari cengkraman Koneko dan Asia.
"Issei-san ini tidak sakit"
"Ini untuk jaga-jaga dari wabah Virus Covid-19 yang akhir-akhir ini mewabah" Rias menjelaskan dengan mata tertutup.
"Itu konyol"
"Konyol atau tidak kau harus disuntik, apa kau tidak kasian dengan orang tuamu yang hanya manusia biasa, jika tanpa sadar kau bersin kearah mereka atau bersentuhan dengan mereka dan kemudian tertular, apa kau tidak kasian?." Rias menjelaskan dengan wajah jengkel.
"Ada kemungkinan kau membawa Virus tersebut tanpa kau sadari, walaupun tubuhmu mungkin kebal tapi tetap saja virus tersebut masih menempel ditubuhmu, dan karena kau tinggal dengan orangtuamu kemungkinan besar bisa tertular"
Issei tersentak dan memikirkan hal tersebut."Rias benar Partner, tidak mungkin setiap hari kau menggunakan energimu untuk menghilangkan virus tersebut" ucap Draig didalam pikiran Issei.
"Draig?...kau juga setuju..Sial"
"B-baiklah...tapi bagaimana dengan Madara, dia juga hanya Manusia!" Issei berteriak sambil melotot kepada seseorang yang hanya memperhatikan jendela. Orang tersebut seolah tidak tertarik dengan ocehan yang dilakukan oleh bocah cabul tersebut.
Rias kemudian tersenyum "Tentu saja, Madara dan kita semua!" Rias berkata memberitahu Issei yang masih mencoba berontak. Madara kemudian berdiri dan berjalan melewati Issei dengan pandangan datar. Madara melirik sedikit dan mengucapakan sesuatu "Pengecut" ejek Madara kepada Issei yang masih menatap dengan pandangan jengkel.
Madara menggulung lengan baju kirinya, yang membuat Rias, Koneko dan Akeno memerah, dan betapa berototnya itu, sedangkan Issei hanya mencibir hal tersebut didalam hati. Rias melakukan apa yang ia lakukan dan kemudian menyelesaikan tugas tersebut.
"Sekarang gilaranmu Issei-senpai" Koneko memegangnya sedangkan Issei hanya bisa memandang ngeri jarum suntik yang terbilang besar tersebut.
"Tunggu sebentar Rias!"
"Hmm...ya Akeno?"
"Bukankah lengan Issei mengandung energi Naga?...kurasa itu tidak efektif jika harus disuntik pada bagian itu" Akeno memberitahunya dengan jari didagu.
"Benar juga"
Rias mengangguk paham dan kemudian sedikit menyeringai, Issei semakin takut apa yang akan terjadi ketika melihat seringai itu. "A-apa yang Buchou lakukan?"
"Tenang Issei, Buchou tidak akan menyuntikmu" Akeno memberitahunya dengan senyuman yang sangat manis bahkan terlalu manis.
"Sukurlah"
"Ehh...maksudku adalah, Buchou akan menyuntikmu di... pantatmu"
"A-apa"
*Jleb*
"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhh"
.
.
.
Sekolah diliburkan tanpa batas waktu yang ditentukan, semua orang panik dengan wabah ini, terjadinya Panic Buying diberbagai tempat, terutama sulitnya mencari masker dan Hand sanitizer bahkan tisu toilet pun menjadi langka.
Semua warga dihimbau tetap dirumah untuk mengurangi menyebarnya virus ini, virus baru dari hewan yang konon dari kelelawar yang identik dengan Iblis dan Vampir.
Madara menghela nafas, kebetulan Akeno ada didunia Bawah, sedangkan Madara bersama Shuri menonton Tv diKuil. "lihatlah itu Madara-kun, orang-orang menjadi seperti itu, aku merasa kasian dengan orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, dan harus terpapar Virus tersebut".
Madara mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Shuri, "pemerintah jepang mencoba cara terbaik untuk menghentikan virus tersebut, seperti Social Distancing dan Karantina wilayah atau bahkan Lockdown" Ucap Shuri melanjutkan.
Madara memikirkan cara agar virus tersebut tidak meyebar diwilayah Kuoh, seperti Kekkai yang dapat menghilangkan virus berbahaya, jadi secara otomatis saat ada pembawa virus yang melewati kekkai, virus tersebut akan mati seketika.
Indra juga memberitahunya jika ada beberapa Kekkai yang memiliki kemampuan unik, mungkin ini jenis Kekkai baru yang tidak pernah digunakan.
"Shuri-san apa disini ada masker?"
Shuri mengalihkan perhatiannya dari Tv dan kemudian menatap Madara dengan senyuman. "Di meja ada beberapa masker, apa kamu akan pergi?" Shuri bertanya dan mendapat anggukan kepala dari Madara.
"Baiklah...hati-hati Madara-kun"
.
.
.
"Astaga bokongku sakit sekali, Buchou menyuntik bokongku dengan bar-bar" Issei berjalan menuju rumah sambil menggosok pantatnya menggunakan tangan kiri. "Tapi itu sepadan, jika itu untuk keselamatan semua orang" Issei berguman pelan dan melanjutkan berjalan tanpa merasa ada yang aneh.
Namun tanpa ia sadarai ada sepasang mata merah mengawasi bocah tersebut diatas sebuah pohon, mata merah dengan pola bunga tiga klopak. "Sekiryuutei...dan Hakuryuukou...aku ingin melihat seperti apa jika mereka bertarung... seperti Uchiha dan Senju" ucap Naori pada dirinya dan kemudian menghilang dalam pusaran dimensi.
.
.
.
Madara muncul disebuah ruangan, ruangan sedikit gelap yang hanya bercahayakan beberapa lilin di dinding ruangan tersebut, lantai yang terbuat dari marmer dan beberapa jenjela yang sedikit terbuka. Madara melangkah dengan tenang tanpa memiliki perasaan takut sedikitpun. Berjalan pelan dan melihat sekeliling namun sebuah senyuman ia tunjukan saat mendapati empat gadis yang ia kenal tidur bersama dalam satu kasur. Kasur tersebut terbilang sangat besar untuk sebuah kasur.
Madara melanjutkan langkahnya melewati empat gadis tersebut yang tidak sadar bahwa Madara ada di tempat mereka, Madara sedikit merengut, mencari sebuah buku yang sengaja ia simpan di tempat tersebut. "Mana sih?...ah ini dia!" Madara tersenyum dan kemudian mengambil buku tersebut dan kemudian dia berbalik untuk pergi dari tempat itu.
Empat gadis tersebut masih tertidur dengan pulas, tanpa menyadari ada seseorang yang masuk di kamar mereka. Target yang cocok untuk diperkosa oleh penjahat bejat, yang melihat lubang di depanya. Ahh..kesempatan dalam kesempitan.
Andai saja Madara adalah lelaki bejat, dia pasti akan melakukan tindakan tak senonoh kepada mereka berempat, author yakin mereka tak akan menolaknya.
Madara membuka buku tersebut, membaca judul dan mulai membolak-balikkan halaman per halaman, beberapa menit kemudian helaaan nafas terdengar cukup pelan. "Tidak ada petunjuk apapun...jika ingatanku benar, mungkin ada sesuatu yang terlewat" Madara berguman dan menutup buku tersebut dan meletakkanya di atas meja.
"Hah...ada saja hal-hal konyol di dunia ini, Kaguya-Hime...Dunia macam apa ini?"
"Lagi bersantai huh?"
Madara sedikit tersentak, ketika mendengar suara entah asalnya dari mana, "aku tidak merasakan apapun" Madara membatin dengan Sharingan miliknya yang telah aktif.
Madara mengalihkan pandangan kebelakang dan menemukan gadis yang telah membuat Madara penasaran sampai seperti ini. "Apa kabar!" Gadis tersebut menyapa Madara dengan senyuman.
Matanya menyipit dengan Sharingan yang masih berkobar, Madara bahkan tidak merasakan apapun dari gadis tersebut seolah gadis tersebut memiliki Senjutsu didalam tubuhnya. "Benar...ini Senjutsu!, dari mana ia mendapatkan hal tersebut?" Ucap Madara didalam hati. Senjutsu bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan,bahkan dengan kekuatan tersebut, Madara bahkan memperoleh kekuatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Itu mungkin juga alasan Madara sering kalah dari Hashirama.
"Maaf tentang pertemuan yang tiba-tiba ini, dan aku juga meminta maaf jika telah menyerang Bunshin-mu waktu itu" gadis tersebut berucap dan kemudian tersenyum.
Gadis tersebut masih tersenyum kearah Madara, melangkah kedepan dan kemudian duduk disofa tempat biasa Kelompok Madara berkumpul. "Aku hanya ingin berkenalan denganmu, Madara-san...atau bisa aku panggil Uchiha Madara!," Ucap gadis tersebut dengan sedikit penekanan.
"..."
Tidak ada jawaban dari Madara, seolah-olah gadis tersebut memang tau dari awal, "mau apa kau menemuiku?..." desisnya dengan pandangan menuntut.
Gadis tersebut sedikit tertawa "Baik langsung poin-nya saja. kita berdua adalah Uchiha...Madara-san kau juga tau itu, kita dilahirkan untuk menciptakan perdamaian di dunia terkutuk ini.."
Madara menaikkan alis dengan apa yang dikatakan oleh gadis tersebut terutama kalimat dibelakang, namun dengan cepat ia tutupi agar gadis tersebut tidak curiga dengannya. "Apa maksudmu?"
"Monumen batu Uchiha"
(Deg)
"Dunia yang diciptakan oleh Rikudou Sennin telah gagal...gagal total, Chakra yang disebarkan oleh Rikudou Sennin pada awalnya, adalah kekuatan yang saling menghubungkan...Kau juga tau hal itu Madara-san!"
"Uchiha di dunia ini hanya tinggal kita berdua, ironis mengingat Uchiha diramalkan menjadi penyelamat dunia ini" Ucap Naori dengan seringaian tipis.
Madara tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat gadis tersebut mengatakan itu, Madara mengingat kata-kata tersebut, kata-kata yang ia ucapkan untuk menyadarkan Obito dari pengaruh bocah kuning keparat itu.
"Dunia ini adalah Neraka"
Gadis itu menaikkan alisnya saat mendapati Madara hanya diam, dia hanya mengamsumsikan jika Madara mungkin tau akan Monumen batu tersebut, Monumen batu yang konon ditulis oleh Dewa itu sendiri.
"Baik...sebut namamu"
Dia tersenyum dan kemudian menjulurkan tangan kananya. "Uchiha Naori, itu namaku" ucapnya sembari tersenyum manis.
Madara merengut dan mengulurkan tangan kananya dan menjabat tangan Naori untuk bersalaman, ingatan tentang dirinya dan Hashirama seketika muncul di pikiran laki-laki tersebut. Tanpa sadar Madara ikut terbawa dan kemudian menyebutkan namanya.
"Uchiha Madara"
Naori tersenyum senang, ia tak menyangka jika ada seseorang yang memiliki Clan yang sama dengan dirinya, Dewi Amaterasu bahkan tidak pernah mengatakan jika ada seseorang selain dirinya yang bermarga Uchiha. Sedangkan Madara tidak terlalu peduli jika gadis tersebut memiliki marga yang sama dengannya, Indra telah memberitahu Madara sebelumnya.
"Aku tidak akan menyerang teman-temanmu Madara-san, aku disini hanya ingin bertemu dengan klan yang sama dengaku, itu saja" Naori berucap dengan penekanan dan disertai dengan senyuman tulus, itu memang benar apa yang dikatakan oleh Naori, jujur dia merasa kesepian, bahkan ketika dia bersama Dewi Amaterasu yang sudah ia anggap sebagai Ibunya sendiri, entah kenapa ia merasa ada yang kurang.
Madara tidak tau apa yang harus ia katakan, jujur ia melihat raut wajah Naori ia bisa mengamsumsika jika ia berkata jujur, namun karna ada sesuatu hal mungkin ia akan mengikuti permaianan Naori.
"Baik..langsung ke inti, tidak mungkin kau hanya menemuiku untuk berkenalan"
"Hmm..kau benar, ada sesuatu hal yang aku ingin tawarkan untukmu"
"Aku tidak tertarik"
Madara menutup matanya tanpa memperdulikan Naori yang hanya bisa berkedip.
"Aku bahkan belum selesai bicara, aku ingin bekerja sama denganmu secara pribadi," Naori berkata dengan sedikit jengkel dalam suaranya.
Sedangkan Madara menaikkan alis. "Bekerja sama seperti apa?"
Naori kemudian menjelaskan tentang kerja sama yang ia maksud, kerja sama seperti seorang rekan dan dapat saling mendukung satu sama lain.
Madara mengerti dari awal, ia hanya ingin tau seperti apa gadis yang ada didepanya ini, Naori sebenarnya baru berusia 16 tahun, sedangkan Madara dalam tubuh remaja ini sekitar 17 tahun, namun bagi Madara, Naori memiliki pemikiran yang lebih matang dari pada gadis lain, bahkan Akeno yang lebih tua dari Naori.
"Baik... aku menerimanya"
Bibir Naori melengkung keatas ketika mendengar langsung dari laki-laki didepanya tersebut, senang dengan tujuannya yang tak sia-sia, untuk mengajak Madara dalam bekerja sama.
"Mulai sekarang Uchiha adalah penyelamat, penyelamat dari dunia Neraka ini"
.
.
.
"Bagaimana Naori-chan?, apa dia setuju dengan tawaranmu?" Dewi Amaterasu bertanya kepada Naori yang telah sampai di istana Shinto, setelah pertemuannya dengan Madara, Naori memutuskan untuk melaporkan hal tersebut kepada Dewi Amaterasu secara langsung.
"Hai'"
Naori mengangguk sembari menatap Dewi Amaterasu yang duduk manis disinggasana miliknya, senyum puas ia arahkan kepada Naori. "Seperti itu ya?...bagus Naori-chan"
"Namun itu adalah kerja sama antar rekan, Amaterasu-sama...bukan antar fraksi...jika saya menyebutkan fraksi Shinto, kemungkinan besar ia akan menolak hal tersebut, seperti yang anda lihat... Madara-san sepertinya tidak tertarik dengan fraksi manapun, walupun begitu sepertinya ia hanya melindungi gadis yang bersamanya waktu itu" Ucap Naori berkata seraya menjelaskan hal tersebut kepada Dewi Amaterasu.
Walaupun begitu Dewi Amterasu masih tersenyum mendengar hal tersebut, "jadi seperti itu...jangan khawatir dengan hal itu Naori-chan... itu hanya masalah waktu saja, cepat atau lambat dia akan menemui kita!"
"Baik... Amaterasu-sama, walaupun seperti itu saya masih ragu...saya bisa menebak jika Uchiha Madara bukanlah orang yang bisa dimanipulasi begitu saja, apalagi Madara-san memiliki sesuatu yang tidak bisa kita tebak sebelumnya"
"Hmm...apa itu?"
"Shinju..."
Dewi Amaterasu tersedak dan terkejut saat Naori mengatakan hal tersebut, Fraksi Yokai dan Shinto tau tentang mahkluk tersebut, mahkluk yang konon hanyalah sebuah legenda. Namun ada hal yang aneh kenapa Naori bisa menyimpulkan hal tersebut.
"Anda mungkin terkejut dan bertanya-tanya Amaterasu-sama namun itu hanyalah Teori yang aku simpulkan, seperti halnya saya, ketika saya membaca gulungan kuno yang pernah anda berikan kepada saya, dan hanya Uchiha yang bisa membaca gulungan tersebut, saya bisa mengamsumsikan jika Madara-san adalah orang yang dimaksud, dan mungkin ada lupa dengan kemampuan mata saya Amateru-sama, saya bisa melihat ada beberapa energi yang ada ditubuh Madara, dan itu memiliki warna yang berbeda"
Sang Dewi mengangguk paham, jika dipikir-pikir Naori ada benarnya, Fraksi Shinto pernah merasakan energi tersebut dari pertarungan Madara dengan Hakuryuukou, energi kehidupan yang begitu melimpah dan secara bersamaan mengandung Chakra yang begitu mengerikan, namun anehnya energi itu menghilang seolah ada sesuatu yang menutupinya.
"Hmm...kau mungkin benar, Naori-chan namun jangan gegabah...kita belum tau kekuatan apa yang dimiliki Madara-kun, mungkin dia selama ini sudah tau akan potensi kekuatanya tersebut, dan mungkin sekarang dia tau akan keberadaanku"
.
.
.
Pagi Hari
Madara duduk santai sembari membaca buku yang ia temukan tadi malam, setelah istirahat sejenak ia melanjutkan kegiatan tersebut tanpa memperdulikan 4-gadis tersebut yang hanya heran dengan pemimpin mereka.
"Tidak biasa Madara-sama pagi-pagi datang ketempat kita" Kuroka berucap dan mendapat anggukan dari teman-temanya.
"Mungkin ada sesuatu yang ingin ia bicarakan kepada kita!?" Kalawarner menyimpulkan dan mereka setuju dengannya.
Karna menjadi bahan pembicaraan, Akhirnya Madara menghentikan kegiatan tersebut dan menatap mereka berempat, mereka tersentak mengalikan perhatiannya ketempat lain.
"Kuroka...aku ingin bicara kepadamu secara pribadi"
Kuroka yang awalnya bertingkah aneh, malah semakin gugup saat Madara memanggilnya.
"H-hai"
Kuroka berjalan kedepan kearah Madara yang telah berdiri, sedang Mittlet, Kalawarner dan Raynare menghela nafas, Madara bisa menjadi seram saat dia serius.
Kuroka pun memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Madara, "ada apa Madara-kun?" Madara hanya memandangnya dan memudian menyentuh pundak Kuroka, Kuroka memerah saat sesuatu yang hangat menerpa tubuhnya. Seolah-olah ada energi yang memberi ia kehangatan dipagi hari yang dingin ini.
"Sudah kuduga"
"Ehh?"
Madara melepaskan tanganya dari pundak Kuroka dan kemudian Madara mengerutkan kening . "Aku telah membaca buku yang aku buat untuk meneliti tentang Senjutsu milikmu.. Kuroka. Alasan kenapa kamu tidak bisa menggunakan Senjutsu dengan waktu yang lama, karna energi Iblis yang ada pada tubuhmu, bagaimanapun jangan terlalu memaksa tubuhmu untuk menggukan Senjutsu secara terus menerus. itu juga alasan kenapa kamu sering kehilangan kendali atas itu" Madar menjelaskan dengan tatapan datar, sedangkan Kuroka hanya bisa terkejut Dangan hal itu.
"J-jadi aku..."
"Benar...kau bisa menyakiti teman-teman mu dan seseorang yang berharga bagimu"
*Deg*
Madara membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Kuroka yang hanya bisa bersedih, sedangkan Raynare, Kalawarner dan Mittlet menghampirinya dan mencoba yang terbaik agar Kuroka tidak terlalu bersedih tentang hal itu.
.
.
.
Hallo Author balik lagi, hehe Maaf soal Update yang lama dan mungkin chapter ini tak sesuai harapan, Madara sangat OC :( ... Author sangat sibuk, ngurus istri yang bentar lagi lahiran dan pekerjaan Author yang mulai masuk lagi. . hadeh..
Mungkin Chapter ini terlihat seperti OVA. Jadi tidak banyak berpengaruh pada chapter yang akan datang.
Sekian untuk chapter ini
