Many Kinds of Moment: Ackerman Family

© Phee Anee

.

Levi Ackerman, Petra Ral.

OC!Clara Ackerman (Little daughter)

.

Rivetra

.

Warn: OOC!

.

Modern!AU

.

Family, Romance(?)

.

Collection; Oneshoot

.

Disclaimer: Shingeki no Kyojin belong to Hajime Isayama

.

Typo(s), error PUEBI.

Happy Reading~


The Story about Dismenore

.

.

.

Perempuan bersurai coklat itu membuka pintu kamar di hadapannya sehingga menimbulkan derit, membuat perhatian lelaki yang sedang membaca buku beralih padanya.

"Clara, sudah tidur?" Yang di tanya hanya bergumam pelan dan menatap lelaki yang kembali berkutat dengan bacaannya dan menutup pintu. Petra—perempuan berambut coklat—mendekat ke arah ranjang dan menaikinya. Ia mendekat kearah suaminya yang sedang fokus pada bacaanya dan menyandarkan kepalanya ke pundak kokoh suaminya.

"Ada apa, Petra?" Sebelah tangan lelaki itu bergerak mengelus surai coklat sang istri.

Petra menggeleng pelan. "Duh, kenapa kau semakin tampan, Rivaille?" Petra mengecup pelan pipi suaminya karena ia entah kenapa malah merasa gemas. Rivaille menandai lembaran dimana ia berhenti membaca, menutupnya lalu menyimpannya diatas nakas.

"Hm?" Rivaille bingung dan membuat kedua pasang netra itu beradu, sedangkan Petra hanya tersenyum.

"Kau harum seperti biasanya." Lelaki tampan itu memainkan ujung surai istri manisnya. Perlahan ia mengecup bibir perempuan teman hidupnya itu dengan lembut dan mendorongnya dengan perlahan juga hingga ia terbaring. Rivaille mendominasinya.

Lenguhan lirih terdengar dari bibir tipisnya saat bibir suaminya dengan lihai berlabuh di belakang telinganya, mengecupinya pelan. Tangannya bergerak mencari ujung piyama yang dikenakan perempuan bersurai coklat itu, sebelum akhirnya di tahan oleh perempuan di bawahnya.

"Tunggu, Rivaille! Kau tidak lupa 'kan? Aku sedang datang bulan." Ucapan itu membuat pria bersurai eboni itu berdecih dan hanya ditanggapi kekehan kecil dari istri tercintanya.

"Bersabarlah." Petra mengelus surai hitam itu yang sekarang masih berada di atasnya dan Petra bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa kulit lehernya.

Khawatir membebani istrinya, Rivaille mengecup kelopak mata perempuan di bawahnya dan memilih menyingkir lalu berbaring telentang di sebelah istrinya. Tak ingin kesempatan bermesraannya terlewat. Petra menyandarkan kepalanya di atas dada suaminya dan ia bisa merasakan tangan kokoh itu mengelus dengan lembut puncak kepalanya.

Petra seperti merasa berada di tempat ternyaman dan teraman yang ada di semesta. Ia merasa bersalah, karena ia sedang mengalami siklus bulanan setiap wanita jadi salah satu kebutuhan biologisnya harus tertunda.

Tentang menstruasi, ingatannya melayang sekitar empat tahun yang lalu saat ia dan suaminya baru menjadi pasangan suami istri. Ia terkekeh pelan.

"Kenapa?"

"Tidak, aku jadi ingat saat aku dismenore dulu." Rivaille mengerutkan keningnya bertanda ia ikut menggali ingatan yang sama dengan Petra.

Flashback on

"Petra, wajahmu pucat. Kau sakit?" Petra hanya diam. Lelaki itu heran dan khawatir karena rona alami di wajah istrinya digantikan oleh warna pucat. Terlebih lagi selama ia menyiapkan makanan dan sampai detik ini ia melihat bahwa istrinya itu lebih banyak diam. Pasti ada sesuatu yang salah.

Petra diam, itu juga yang membuat Rivaille bungkam. Ia berpikir lebih baik segera menyelesaikan makan malam mereka dan ia bisa menanyakannya setelah makan.

.

.

.

Mereka telah menyelesaikan makan malam. Rivaille bangkit berniat membantu istrinya itu untuk mencuci piring yang sudah selesai mereka gunakan, karena ia yakin Petra sedang dalam kondisi yang kurang sehat.

"Eh, tidak usah. Kau pasti lelah setelah bekerja seharian. Sudah sana!" Baru saja ia menyusun beberapa piring kotor di atas meja makan tangannya sudah ditahan.

"Tapi—"

"Ini perintah! Atau aku akan marah!" Rivaille mengernyit. Sejak kapan sifat otoriternya berpindah pada istrinya yang manis itu.

.

.

.

Lelaki itu masih saja memerhatikan setiap kata dari beberapa berkas yang ia tangani. Sejak kurang lebih sepuluh menit sebelumnya ia masih bisa mendengar suara gemericik air di dapur dan juga ia rasa ini sudah lima belas menit berlalu setelah suara air berhenti tertangkap indra pendengarnya. Jadi kesimpulannya Petra sudah berada kurang lebih dua puluh lima menit di dapur, dan kenapa ia belum kembali padahal sudah tidak terdengar apapun lagi yang menandakan Petra masih mengerjakan pekerjaannya.

Rivaille tiba-tiba bangkit dari duduknya dan memilih melihat apa yang sedang istrinya itu lakukan.

Sesampainya ia di dapur— "Petra!"

Sorot matanya berubah khawatir saat ia melihat teman hidupnya itu berjongkok dan menenggelamkan kepalanya di lengannya yang terlipat.

"Hei, Petra. Kenapa? Kau sakit? Istirahatlah di kamar." Rivaille hanya mendengar Petra meringis, ia yakin perempuan dihadapannya ini tengah kesakitan.

"Ayo berdiri." Lelaki itu mencoba menarik lengannya dengan perlahan tetapi di balas gelengan pelan dari perempuan bersurai coklat itu.

"Tidak mau. Kakiku lemas." Petra merajuk dan Rivaille memilih untuk segera mengangkat tubuh istrinya itu. Apapun itu bawa terlebih dulu ia ke kamar. Begitulah pikir lelaki pendek itu.

.

.

.

Ia membaringkan pelan Petra di atas ranjang, dan detik berikutnya ia melihatnya segera meringkuk dan memegangi perut bagian bawahnya. Rivaille duduk disampingnya dan menyingkirkan surai halus yang menghalangi wajah istrinya.

"Apa yang sakit? Coba katakan." Petra melenguh merasakan sakit seakan perutnya di remas kuat dan jangan lupakan semua sendinya terasa ngilu, khususnya belakang paha dan tungkainya.

"Kalau kau tetap diam, aku tidak akan tahu. Hei, Petra."

"Kenapa malahan kau yang marah!?" Petra bersungut-sungut.

Rivaille berjengit. Lho? Kok dirinya yang kena marah? Lagipula siapa juga yang marah? Terlebih lagi kenapa istrinya itu malah menangis. Ehh, lelaki itu malah dibuat kebingungan.

"Petra, jangan menangis. Hei, aku tidak marah. Kau hanya perlu katakan, apa yang sakit?" Petra diam dan detik berikutnya ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan nyaris berlari menuju toilet.

Petra merasa perutnya di aduk-aduk, hingga akhirnya perutnya tidak bisa berkompromi dan ia muntah. Untung saja ia telah berada di toilet. Kalau tidak, bisa-bisa suaminya yang clean-freak itu mengomelinya. Petra terhuyung dan nafasnya tersengal menahan nyeri yang luar biasa di perutnya.

"Astaga! Petra!" Petra bisa mendengar suara khawatir suaminya itu, tapi ia tidak memiliki tenaga untuk membalas rentetan pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis lelaki pendek itu. Ahh, pasti lelaki dingin bermarga Ackerman itu merasa kerepotan. Petra melihat lelakinya itu menuntunnya perlahan hingga ia juga merasa dirinya dibantu berbaring dengan sangat hati-hati.

Perutnya masih terasa sangat sakit, wajahnya juga masih pucat, dan ia seperti tidak memiliki tenaga lagi. Rivaille memilih bangkit untuk bertanya pada salah satu sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter. Karena ia tidak mendapat jawaban apapun dari istrinya itu, yang ia tahu Petra kesakitan, dan sumber sakitnya itu dari perut bagian bawahnya. Yah, takutnya ia akan salah dalam bertindak.

"Hange!"

"Yo, Rivaille. Ada apa malam-malam begini menelepon."

"Petra—"

"HAH!? Apa yang terjadi dengan Petra!?" Lelaki itu menjauhkan ponsel pintarnya dari telinga.

"Diam dulu, kuso megane. Aku baru saja akan menjelaskan." Di seberang sana Hange diam, menunggu penjelasan Rivaille.

"Petra mengeluh sakit perut, sepertinya perut bagian bawahnnya yang sakit karena ia terus memegangi bagian perut bagian bawahnya. Dia juga mengeluh kakinya lemas."

Rivaille mendengar lawan bicaranya bergumam layaknya orang berpikir.

"—dan juga ia baru saja muntah."

"Rivaille, apa hipotesismu?"

"Jangan bercanda, Hange."

"Lho, aku hanya bertanya." Perempatan berbentuk siku muncul di dahinya, ia menatap Petra yang sepertinya mencoba tertidur tetapi masih menahan rasa sakitnya. Terlihat dari dahi yang berkerut dalam.

"Aku sempat mengira ia sakit perut khas menstruasi. Tetapi saat muntah tadi, aku khawatir ia keracunan atau semacamnya."

"Ding dong deng~ Luar biasa, Rivaille. Ikatan kalian sangat kuat rupanya—"

"Jangan basa-basi." Rivaille bisa mendengar tawa menyebalkan dari seberang sana.

"Baiklah, baiklah. Yap! Kemungkinan besar Petra dismenore. Tanyakan dulu pada Petra dan selanjutnya yang perlu kau lakukan hanya memberi dia obat pereda nyeri apapun itu. Ya ampun, kukira dismenorenya tidak akan kambuh lagi. Buat dia merasa senyaman mungkin, dan hati-hati loh jangan buat dia kesal atau tidak—"

Rivaille memutus sambungan telepon sepihak.

.

.

.

Rivaille mengusap surai lembut istrinya. Membuat ia membuka matanya perlahan.

"Bangun sebentar, Petra." Perintah lirih itu dituruti begitu saja oleh Petra, dengan segera pula Rivaille membantu istrinya itu untuk duduk. Lelaki itu memberikan sebutir obat beserta segelas air. Yang Rivaille lihat selanjutnya adalah Petra telah menelan obatnya dan meneguk airnya.

Rivaille menerima gelas yang tadi dipegang Petra dan menyimpannya di nakas. Setelah itu Petra kembali membaringkan dirinya kembali di atas ranjang. Rivaille hanya mengelus surai coklat madu itu lembut sebelum akhirnya ia bangkit dari duduknya. Belum saja ia melangkah gerakannya terhenti karena merasa sleeve bajunya ditahan.

"Mau kemana?" Rivaille bisa melihat binar mata istrinya memohon.

"Masih ada yang harus ku kerjakan." Kalimat tersebut membuat Petra merenggut.

"Tetap disini, temani aku." Yah, Rivaille jarang mendengar istrinya merajuk seperti ini.

"Kau tidurlah duluan, Petra. Aku janji akan—"

SRAK!

Petra seketika membalikkan tubuhnya memunggungi Rivaille. Petra diam, tetapi tak lama diamnya itu disusul oleh pundak sempit istrinya itu bergetar dan terdengar isakan kecil. Hiperbol ya?

"Ya sudah, sana."

Rivaille menghela nafas pelan.

Yah, ia akhirnya memiliki pengalaman mengurusi perempuan yang sedang menstruasi dengan segala tabiatnya.

Sensitif, duh. Jadi mirip kulit bayi. Lho?

Petra meringkuk dan memejamkan matanya. Karena ketahuilah, perutnya masih sakit, dan anggota tubuh bagian bawahnya juga ngilu. Rasa mual terpaksa ia tahan, yah karena terlalu malas turun dari tempat tidur. Duh, katanya sih di dalam hati perempuan itu, tubuhnya sudah mengakar ke ranjang empuknya

Petra kesal, masa bodoh dengan lelaki yang masih berdiri memerhatikan punggungnya. Dasar, tidak punya perasaan, menyebalkan, pen—ehem.

Selang beberapa detik kemudian, ia merasakan ranjangnya berderit kecil menandakan ada yang menaiki ranjang. Siapa lagi. Pastinya lelaki berwajah datar yang sayangnya (...atau syukurnya?) adalah suaminya. Perempuan itu bisa merasakan tubuhnya di selimuti hingga pinggangnya. Baru saja ada niatan untuk membalikkan tubuhnya, yang ada ia dibuat tertegun karena baru saja suaminya itu mengecup pelipis kanannya pelan.

Nah.

Petra jadi ingin menjerit. Dia gemas.

Berita tentang Rivaille yang simpang siur saat ia masih menjalani hidupnya menjadi mahasiswi. Hampir setiap orang yang ia kenal berkomentar hal yang serupa.

Rivaille Ackerman itu, dingin, tidak punya perasaan, menyebalkan, kejam, egois, pendek—uhuk—maksudnya tidak tinggi, tidak mentolerir kesalahan, clean-freak (mendekati obsesif kompulsif), nihilnya vocabulary cinta dan masih banyak komentar yang bahkan tidak mendekati garis sifat baik.

Hange saja sampai misuh-misuh tidak karuan, saat dirinya curhat tertarik pada lelaki bermarga Ackerman itu.

Jadi kesimpulannya adalah semua kabar yang keluar masuk ke pendengarannya itu adalah hoax!

Camkan itu, ya! Kalau perlu kata itu ditebalkan menggunakan highlighter pen, di garis bawahi, dan juga jangan lupakan apostrof.

Lelaki itu membalikkan tubuh istrinya dengan lembut.

"Rivaille."

"Apa? Jangan membuat suasana jadi dramatis, yang perlu kau lakukan sekarang adalah tidur." Petra merenggut.

"Masih belum terlalu malam."

"Petra! Tidur!"

"Tidak bisa. Sakit. Coba saja rasakan."

Lelaki itu menghela nafas. Membenarkan surai coklat istrinya yang nyaris menutupi netra cantiknya.

"Apa sesakit itu?" Petra bergumam dan mengangguk dalam waktu yang bersamaan. "Obatnya belum bereaksi?"

"Sepertinya belum."

Hening tercipta. Rivaille masih setia menatap paras istrinya.

"Nah, jangan kasar pada wanita. Padahal, katanya wanita lebih lemah fisik dari laki-laki, tapi yang banyak merasakan sakit malahan perempuan." Mendengar istrinya berbicara, Rivaille mengerutkan keningnya.

"Kau tidak sedang mengeluhkan takdirmu kan?"

"Terserah." Petra memejamkan mata mencoba terlelap.

"Pantas saja beberapa hari kebelakang, kau marah-marah terus."

Wajahnya Petra memanas. "Si—siapa yang marah-marah?" Rivaille hanya tersenyum tipis. Sebelah tangannya bergerak guna menautkan jemari mereka mengenggam lembut tangan kiri sang istri. Petra entah kenapa semakin bersemu

Tunggu, kok seperti déjà vu.

"Sudahlah, ayo tidur saja." Petra bergumam kecil dan membalas genggaman tangan suaminya.

Flashback off.

"Setelah menikah, sisi perhatianmu meluap ya Rivaille. Aku sampai nyaris tidak kuat."

"Tidak kuat?"

"Kau selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali." Selanjutnya hanya hening.

"Apa sekarang juga sakit?" Keheningan itu melebur dengan pertanyaan Rivaille dengan suara lirihnya.

"Apa? Kalau sedang datang bulan?" Pertanyaan itu hanya dibalas gumaman.

"Tidak. Hange bilang setelah punya anak, dismenore akan hilang perlahan. Tapi yang aku ingat masih bisa kemungkinan dismenore lagi, yah tergantung hormon." Petra bisa merasakan surainya dielus. Entah kenapa suaminya itu senang sekali bermain dengan rambut coklat sebahunya.

"Rivaille.."

"Hm?"

"Aku siap kok, menerima perhatianmu lagi kalau dismenore, aku siap."

"Pernyataan macam apa itu." Petra terkekeh. Ia menyamankan posisinya. Detak jantung suaminya yang agak cepat tapi konstan itu ibarat sebuah lullaby pengantar tidur. Juga harum tubuhnya itu seperti mampu meningkatkan produksi melatonin, yang membuat matanya mengantuk dan siap mengarungi dunia mimpi.

.

.

.

END


Yeay! '-'

Newbie di fandom SnK iniii.

Aku membawa cerita Rivetra, ma OTP.. Yang niatnya, bakal ku bikin beberapa kumpulan oneshoot. Semoga berjalan lancar

Oh iya, maafkan membawa cerita romance seperti ini, di saat fandom ini sedang berkabung(?) :'(

Kalau begitu terima kasihhh,

Ditunggu kritik, saran, dan komentarnya di kolom Review.