Petra terkejut dengan ajakan Rivaille yang tiba-tiba. Bagaimana ia tidak terkejut jika salah satu keluarga Ackerman itu mengajaknya sparring. Ajakan itu malah terdengar seperti perintah di telinga seorang Petra Ral? Lalu apakah ia menyanggupinya atau malahan mundur?
Many Kinds of Moment: Ackerman Family
© Phee Anee
.
Rivaille Ackerman, Petra Ral.
.
Rivetra
.
Warn: OOC!
.
Modern!AU
.
Romance(?), Drama(?)
.
Collection; Oneshoot
.
Disclaimer: Shingeki no Kyojin belong to Hajime Isayama
.
Typo(s)
.
Note: Latar waktu diambil sebelum mereka menikah.
Happy Reading~
Gemerincing bel kecil yang tergantung di atas pintu terdengar nyaris ke seluruh penjuru ruangan. Hal itu mengalihkan fokus sosok wanita muda berambut sebahu kearah pintu masuk kafe, berharap orang yang masuk tadi adalah seseorang yang telah membuatnya menunggu selama nyaris tiga puluh menit. Ia sudah mulai bosan. Ia menghela nafas lega saat orang yang di tunggunya akhirnya tiba. Sosok yang berjenis kelamin fleksibel itu—sebenarnya adalah perempuan—memindai seluruh pengunjung kafe dan akhirnya berjalan mendekat ke arah Petra—wanita muda berambut sebahu—yang bahkan tidak ada niat untuk sekadar melambaikan tangannya mempermudah menemukan dimana ia duduk.
"Kau telat." Sungut Petra sambil mengaduk minumannya dengan sedotan. Wajahnya merenggut.
"Maaf, maaf. Tadi ada pasien kecelakaan di unit gawat darurat. Jadi aku harus menanganinya." Hange duduk dihadapan Petra sambil mengusap kedua tengkuknya. Petra hanya menghela nafas mendengar jawaban perempuan di hadapannya.
"Baiklah aku mengerti, dr. Hange Zoe." Petra melirik pramusaji yang mendekat dan memberikan daftar menu kepada sosok perempuan berkuncir satu didepannya.
"Lalu? Bagaimana pekerjaanmu? Ngomong-ngomong kita sudah lama tidak bertemu." Hange bertanya kepada Petra dan selanjutnya ia menyebutkan pesanan tanpa membuka buku berisi daftar menu. Petra bisa melihat sahabatnya itu tersenyum kecil sambil tangannya mengembalikan daftar menu ke pramusaji. Pramusaji melenggang pergi.
"Sekarang aku melatih grup vokal dan juga paduan suara, dan kupikir semua berjalan lancar." Petra meminum minumannya. "Bagaimana denganmu?"
"Yah, kupikir pekerjaan ku sebagai dokter juga berjalan lancar, walaupun kadang aku harus terbangun tengah malam dan pergi ke rumah sakit secara mendadak."
"Itu kan memang tuntutan profesi." Hange tertawa mendengar pernyataan dari perempuan yang lebih muda darinya itu.
Hange menopang dagunya di kedua punggung tangannya, lengannya ia posisikan siku. Ia menatap Petra menyelidik.
"Kenapa?"
"Petra, kau sedang memikirkan sesuatu ya? Seperti hal yang bisa membuatmu uring-uringan misalnya."
"Ha? Siapa yang bilang?" Petra mengernyitkan dahinya.
"Wajahmu yang mengatakannya." Hange bergumam. "Tunggu. Kau masih bersama si boncel itu kan?"
Petra mendengus. Boncel apanya? Bahkan dirinya sendiri lebih pendek dari orang yang Hange sebutkan boncel.
"Iya." Perempuan berambut coklat terang sebahu itu menjawab sekenanya, entah ia mengiyakan yang mana. "...dan lagi ia tidak boncel. Aku saja lebih pendek darinya."
"Kau itu imut, mungil, dan manis. Kalau lelaki seperti Rivaille sih, pantasnya ku sebut boncel. Haha."
Pesanan Hange telah tiba, membuat obrolan mereka tertunda sementara. Tak lama, pada akhirnya mereka berbincang kembali.
"Lalu? Apa kau ada masalah dengan Rivaille? Ekspresimu suram, tidak seperti biasanya."
"Sebenarnya tidak bisa disebut masalah juga, tapi tetap saja aku bingung."
"Kenapa memang?"
"Rivaille mengajakku untuk sparring." Kalimat yang dilontarkan Petra membuat Hange tersedak minumannya.
"HAH!? Serius!? Sparring bela diri?" Hange menatap Petra tidak percaya, ia tak habis pikir. Sebenarnya apa yang diinginkan lelaki berpostur pendek itu?
.
.
.
Flashback on
Sepasang insan berbeda jenis kelamin itu berjalan santai berniat melewati jembatan penyebrangan dengan latar langit jingga menandakan sang surya akan menenggelamkan dirinya dan akan segera digantikan oleh rembulan yang akan direngkuh oleh langit malam.
Lelaki berambut hitam itu berniat mengantar kekasihnya dengan mobil, tetapi perempuan itu meminta agar mereka berjalan kaki saja, sembari mengobrol ringan lagipula rumahnya itu tidak terlalu jauh dengan tempat ia bekerja. Rivaille menyetujui begitu saja, karena ia pikir itu merupakan ide yang tidak buruk.
Petra melirik ke arah lelaki yang lebih tua darinya itu, dan mendapati warna khas lembayung bak menubruk paras minim ekspresi tapi rupawan milik kekasihnya, dan lagi helai surai kelamnya bergerak lembut diterpa angin. Pemandangan itu lantas terpantul pada netra perempuan berambut sebahu itu, ia mengagumi salah satu keindahan Tuhan yang hakiki.
Lembayung ditambah paras Rivaille sama dengan lukisan. Begitulah pikir sosok Petra Ral.
Petra lekas mengalihkan pandangannya dan sibuk bersemu. Hal itu tak luput dari pandangan lelaki disampingnya, tangannya bergerak bebas mengelus sekilas bagian belakang kepala kekasihnya.
"Petra."
"Hm?" Gumaman itu diikuti oleh kepala yang menoleh ke lelaki disampingnya.
"Kudengar kau menguasi bela diri, benarkah?"
Petra berjengit mendengar pertanyaan dari Rivaille. "Eh, itu." Ia menyelipkan surainya ke belakang telinga. "Bisa dibilang iya. Tentu saja, kemampuanku jauh di bawahmu." Petra menatap ujung sepatu yang ia kenakan. "...dan lagi itu sudah lama sekali."
"Tangan kosong atau dengan senjata?" Rupanya yang masuk ke pendengaran lelaki berkulit pucat itu hanya pengonfirmasian bahwa Petra bisa melakukannya. Petra menoleh dan membulatkan matanya.
"Eh? Kan sudah kubilang—"
"Jawab saja."
"Tangan kosong dan senjata, mungkin." Petra menggumam di akhir. Sedangkan Rivaille nyaris saja tersenyum, wajahnya terlalu kaku untuk tersenyum dengan lebar.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Kapan terakhir kali kau menggunakannya? Atau minimal melatih tubuhmu?"
"Rivaille! Jawab dulu pertanyaanku." Petra memekik gemas dan mencebikkan bibirnya. Rivaille memutar tubuhnya untuk menghadap perempuan bersurai coklat yang sekarang tepat dihadapannya. Sebelah tangannya ia letakkan di saku, sedangkan netranya bertubrukan dan memakukan pandangannya pada Petra yang menatap balik dirinya.
"Kubilang jawab saja." Rivaille mengikis jarak sedangkan Petra tergugu.
"Te—terakhir kali ya?" Petra berdesis kecil kemudian bergumam berpikir. "Kalau tidak salah, aku mulai berhenti ketika memasuki semester tiga."
"Kenapa? Cidera?"
"Bukan."
"Kalau begitu. Petra kita sparring!"
"EH!? Sparring!? Denganmu!? Dengan anggota keluarga Ackerman!?" Petra tertawa terpaksa. "Jangan bercanda. Aku bisa mati, huhu."
"Kau juga akan menjadi anggota keluarga Ackerman, ngomong-ngomong." Rivaille menjauhkan wajahnya tetapi kalimat itu sukses membuat Petra bersemu mendengarnya. Perempuan itu bahkan tidak bisa membayangkan mereka berdua akan membentuk sebuah keluarga, ia pikir hubungan mereka tidak seserius itu. Walaupun ia ingin sih.
"Pokoknya ku tunggu di taman dekat rumahku lima hari kedepan pukul empat sore." Rivaille berbalik memunggungi Petra yang sekarang masih dalam mode tercengang. "...dan juga tenang saja disana rumputnya cukup empuk, jadi kalau aku membantingmu mungkin bisa meminimalisasi cidera."
Petra bergidik ngeri. "Rivaille, sepertinya kau memang berniat membunuhku ya." Lelaki yang sekarang membelakanginya itu mengendikkan bahunya acuh. Inner Petra histeris meminta pertolongan pada siapapun di dunia ini.
"Ayo pulang, langit sudah mulai gelap." Rivaille melangkah mendahului kekasihnya
"Rivaille! Kalau aku tidak datang?" Pertanyaan lantang itu membuat Rivaille menghentikan langkahnya dan berbalik setengahnya.
"Kalau kau tidak mau tetapi kau memenuhinya aku akan menghargai itu, tetapi kalau kau tidak datang..." Rivaille menjeda ucapannya. "Kau akan menyesal."
Petra mengerjap mendengar jawaban yang sangat Rivaille sekali, terlebih lagi pandangannya sangat intens dan serius. Yah, walaupun ia tidak terlalu mengerti sih. Ia tersadar dari lamunannya ketika Rivaille mulai melangkahkan tungkainya, segera ia menyamakan langkahnya dengan Rivaille.
"Oh iya aku lupa. Bawa seorang temanmu juga."
"Kenapa?"
"Berjaga-jaga saja."
"Rivaille! Kau malah membuatku semakin ngeri untuk datang!" Petra memekik protes.
Flashback off
.
.
.
"Petra. Apakah kau serius?" Hange menatap sahabat yang sudah ia anggap adik sendiri itu dengan pandangan khawatir. Terlihat perempuan berambut sebahu itu sedang melakukan stretching pada tubuhnya. Dirasa cukup ia ikut mendaratkan bokongnya dirinya di sebelah perempuan berkuncir satu yang sedari tadi menatap khawatir ke arahnya.
"Kau sudah menanyakan itu berkali-kali, Hange. Aku serius kok, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali." Petra merogoh saku celananya berniat mengambil kunciran rambut dan mulai menggelung rambutnya tetapi tetap menyisakan poni halus miliknya terurai. Hange hanya menghela nafas pasrah.
Mereka berdua mengalihkan pandangan saat merasa ada seseorang (...atau dua orang) yang mendekat ke arah mereka berdua. Netranya menangkap seorang lelaki berkulit pucat dengan minim ekspresi dan seorang gadis bersurai pendek sekelam malam bahkan wajahnya sama datarnya dengan lelaki yang lebih pendek darinya.
"Rivaille! Eh, dan... Mikasa?" Petra bertanya ragu saat melihat wajah yang familiar di samping kekasihnya. Mikasa membungkuk kecil menyapa dirinya. Rupanya budaya Jepangnya masih menjadi kebiasaan.
"Kau datang untuk menolak atau menyanggupi?"
"Aku menyanggupinya, Rivaille!" Petra menjawab dengan sungguh-sungguh, membuat perasaan Rivaille nyaris bergetar. Sekali saja ia boleh berlebihan kan?
"Ohh. Not bad. Kalau begitu kita mulai saja." Rivaille menyeringai kecil, hal itu tak luput dari pandangan Petra membuat perempuan itu sedikit banyak menyesal.
"Kak Petra. Kalau si pendek ini sudah berlebihan, kau bisa berhenti dan jika kau terluka kami akan merawatmu. Tapi, kalau si pendek itu yang terluka sih biarkan saja." Rivaille mendelik ke arah Mikasa yang ternyata adalah adiknya itu.
"Kami?" Hange bertanya bingung sedangkan pertanyaan Petra terwakili oleh sahabatnya itu.
"Aku, kak Hange, dan Eren." Mikasa menunjuk mansion Ackerman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
'Sial, aku lupa! Ini juga kan milik keluarga Ackerman. Pantas saja Rivaille memilih tempat ini." Rutuk Petra dalam hati
Rivaille berjalan menuju tengah taman yang cukup jauh dari pandangan Mikasa dan Hange. Petra mengikutinya dan mereka berdua berdua berdiri agak berjauhan.
"Mikasa!" Gadis cantik yang di sebut namanya itu mengangguk kecil.
"Satu!—"
"Huaa. Tunggu Rivaille. Aku gugup." Petra berjongkok sembari menutup wajahnya. Rivaille menatapnya datar.
"Oi. Kau bisa menolak, ku bilang."
"Tidak!" Petra bangkit dan berdiri dengan mantap kemudian. "Ayo mulai."
"Petra, ini freestyle. Kerahkan semua kemampuanmu."
"Satu! Dua!." Mereka berdua mulai memasang kuda-kuda. "Fight!"
Aba-aba tersebut menandakan sparring mereka dimulai. Petra terlihat bergerak lebih dulu. Rivaille tersenyum kecil ia akan melihat sejauh mana Petra sanggup melawannya.
20%
Rivaille kagum terhadap gerakan kekasihnya itu. Ia bahkan menangkis seluruh gerakan yang berbahaya bagi dirinya. Kesimpulannya Rivaille sedikit kewalahan.
30%
Ia menatap ekspresi Petra yang begitu serius dan terlihat begitu memikat di matanya. Gerakan kuncian yang akan ia lancarkan berhasil di tepis oleh Petra.
"Oh! Kau cukup kuat ternyata." Rivaille berbicara saat Petra berhenti bergerak untuk mencari celah.
Jangan lupakan Hange melongo melihat sahabatnya, sedangkan Mikasa terlihat menikmati tontonan di depannya.
40%
Rivaille mulai serius. Serangan tangan kosong Petra ia tahan dan gerakan berikutnya berhasil mendorong Petra kebelakang cukup jauh.
"Belum cukup! Apakah hanya segitu saja?"
Petra mendengus. Nafas lawannya itu bahkan tidak terengah sama sekali. Petra berpikir bahwa lelaki itu bahkan tidak menggunakan setengah kemampuannya.
"Rivaille, kau tidak serius ya dengan sparring ini?" Sungut perempuan berambut coklat itu.
"Oh, kau mau aku serius? Baiklah."
50%
Mereka imbang. Kadang Rivaille lengah dan Petra nyaris menjatuhkannya. Tapi detik berikutnya lelaki itu bisa mengimbanginya kembali. Keringat mulai menetes di pelipis perempuan yang lebih pendek dari lelaki itu.
Dari persentase yang ada Rivaille sepertinya menggunakan setengah kekuatannya lebih lama dari yang lain. Bukan bermaksud sombong atau bagaimana, karena ia sangat jarang sekali menggunakan seluruh kemampuannya. Paling tidak ia menggunakannya adalah ketika dibutuhkan saat latihan dengan pelatihnya di keluarga Ackerman atau jika sesuatu yang buruk terjadi.
Rivaille ingin bermain lebih dengan perempuan dihadapannya.
65%
Petra berkali-kali menubruk tanah berlapis rumput dengan keras. Latih tanding ini terlihat menjadi tidak imbang dengan kemampuan Petra. Gadis cantik itu masih belum menyerah ia menatap lelaki di hadapannya itu, tatapan Rivaille entah kenapa lebih bengis dari sebelumnya. Pertandingan masih berlangsung. Petra kewalahan, ia hanya bisa menahan gerakan dari Rivaille tanpa ada kesempatan membalas. Berkali-kali ia terhuyung.
Hange berdiri dari duduknya.
"Oi! Mikasa! Kakakmu itu mulai keterlaluan."
"Mungkin ini juga rencananya."
"Rencana apa maksudmu!? Petra bisa babak belur!" Hange gemas dengan spesies serupa dengan lelaki pendek di sana. Ia menoleh ketika mendengar Petra mengaduh keras. Perempuan berambut sebahu itu terengah hebat, keringat membajiri tubuhnya, dan jangan lupakan wajahnya sudah memerah.
"RIVAILLE SIALAN! SUDAH CUKUP!" Hange memekik. Sedangkan lelaki itu tetap abai. Rivaille menatap kekasihnya yang bahkan sudah berdiri kembali bersiap menyerangnya.
Rivaille memejamkan mata dan menghela nafas, sudah cukup rupanya. Ia merogoh sakunya. Di depannya terlihat Petra berlari memiliki niat melawannya. Dengan mudah lengan itu ia tangkis dan ia menjatuhkan Petra lumayan keras ke tanah
"Oi! Rivaille! Jangan—" Pekikan Hange terputus ketika melihat mereka berdua dengan posisi tubuh Rivaille di atasnya dan Petra telentang dibawahnya. Petra tertegun.
"Sudah cukup." Nadanya begitu rendah menggelitik indra pendengarannya. Perempuan di bawahnya itu hanya bisa terengah dan memejamkan matanya.
"Rivaille kau tega segala padaku. Sudah ku bilang kan kemampuanku jauh sekali di bawahmu. Aku yakin tadi kau tidak mengerahkan semuanya. Sebenarnya kau melakukan ini untuk apa?" Petra membuka kelopak matanya dan menatap ke dalam netra kelam milik Rivaille dan berhasil memerangkapnya lebih dalam lagi.
"..untuk apa?" Petra mengulang pertanyaannya, dan entah kenapa air matanya keluar begitu saja. Ia merasa sangat kesal.
"Petra kenapa kau menangis? Aku belum mengatakan apapun." Rivaille mengusap air mata Petra yang mengalir keluar ke pelipisnya.
"Huh?"
"Tidak ku sangka kau cukup tangguh. Tidak, maksudku kau tangguh. Aku berharap bukan hanya fisikmu yang tangguh tapi mental juga bisa menghadapi segala macam masalah untuk kedepannya." Rivaille menatap kedalam netra perempuan di bawahnya. Petra mulai salah tingkah.
"Rivaille apa maksudmu?"
"Sparring tadi sebagai simbolis bahwa aku layak melindungimu seterusnya." Petra masih saja kebingungan. Ia tidak bisa menangkap apa sebenarnya yang sedang dikatakan oleh kekasih datarnya itu.
"Petra Ral! Menikahlah denganku. Aku akan melindungimu dan anak-anak kita dimasa depan sepenuhnya"
Petra mengerjapkan matanya. "EH!?" Petra luar biasa terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Mulutnya masih senantiasa menganga. Ia tergugu.
"Ri—Rivaille." Pada akhirnya netra cantiknya tak sanggup membendung air mata. Ia terisak kecil.
"Jangan menangis, Petra." Rivaille berbisik di depan bibirnya.
"Apakah tidak apa-apa? Maksudku, keluargamu sepertinya tidak begitu menyukaiku."
"Tch." Rivaille berdecih. "Kau sering berpikiran buruk tentang dirimu sendiri, Petra. Bukankah waktu itu mereka semua menyambutmu dengan baik?" Rivaille menyingkirkan surai wanitanya yang menghalangi kening. Petra hanya menatap Rivaille.
"Jadi apa jawabanmu?"
"A—aku me—menerimanya, Rivaille" Petra memejamkan matanya erat menghilangkan gugup serta malu yang luar biasa. Sayang sekali ia tidak bisa melihat senyuman tipis calon suaminya. Detik berikutnya ia bisa merasakan sesuatu yang lembut menubruk bibirnya dengan lembut pula, belum cukup sampai disitu, ia juga merasakan sebuah logam dipasangkan pada jari manis tangannya. Petra sama sekali tidak pernah membayangkan seseorang melamarnya setelah calon suaminya sendiri nyaris membuatnya babak belur, dan berakhir mereka berpagutan lembut serta dalam di tengah taman beralaskan tanah berumput
Sama sekali tidak pernah.
Untung saja taman tersebut adalah area pribadi yang sudah disterilkan dari orang-orang.
Hanya Rivaille yang mampu mengguncang fisik sekaligus batin seorang Petra Ral, yang tentunya tak lama lagi akan berubah menjadi nyonya Ackerman.
.
.
.
Mikasa menghela nafas sedangkan Hange melongo.
"Mikasa, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?"
"Si Pendek itu sedang melamar kak Petra." Mikasa menjawab lempeng.
"Oh." Hange terdiam sejenak. "EH!?"
.
.
.
END
Selesaaaaii..
Jadi begitulah Rivaille melamar Petra wkwk. Maafkan atas segala kekurangan dari chapter ini. Cukup sedih juga sih, sepertinya penumpang kapal Rivetra ini jarang. (...btw aku sendiri shipper EveryonexEveryone sih nyahaha :v)
Walaupun pengen terus berlanjut kayanya diri ini jadi ga semangat gitu buat ngelanjutinnya :''(
Kalau begitu terima kasihhh semua. Aku sadar kok fanfic ini banyak kekurangan :'
Ditunggu feedbacknya berupa kritik, saran, komentarnya di kolom Review. :')
